Minggu, November 26, 2006

Flores


FLORES


Cukup pinta ayahmu
perbaiki jalan menujuh rumah
Kan kutundukkan mereka di bawah kakimu
wajah-wajah dari berbagai warna

Masih tertidur engkau
padahal aduhai....
buah dadamu
dengan susu-susunya!


Sabtu, September 23, 2006

Mutterland


Insel Flores


Zitiert aus dem Buch "Als der Himmel den Menschen einmal nah war..." von Katharina Sommer, Orginalausgabe 1993 Indonesien, "Land der tausend Inseln". Die Menschen dort sagen, sie seien wie Perlen im Meer, umschlungen von einem smaragdgrünen Band, von den Tiefen des eitlen Meeres heraufgeholt. "Kap der Blumen" nannten die Portugiesen die Insel Flores, als sie um das Jahr 1512 an ihrer Küste Entlangsegelteen und später ihre erste Niederlassung in Sikka, in Mittelflores, gründeten...

Berge, noch mit Urwald bewachsen, stehen neben den hohen Vulkanen, und manchmal kreist sie ein Ring von weißen Wolken ein, wobei ihre Gipfel über der Erde zu schweben scheinen. Die beiden Vulkane im Larantuka-Gebiet, der mächtige Vulkan Egon bei Maumere und der Ineri im Ngada-Gebiet gehören zu den höchsten noch tätigen Vulkanen auf Flores. ...

Die hohen Berge, die weiten Ebenen, bewachsen mit allerlei Strauchwerk oder artenärmerem Sekundärwald, die bis in einer Höhe von 600 m wachsenden Kokospalmen mit ihren dunkelgrünen Kronen, prägen ebenso die Landschaft wie der Terrassenanbau mit den Lamtorohecken im Sikkagebiet......

Die kleinen, einsamen und verwunschenen Buchten und Küstenzonen, das klare Wasser des Meeres, die Berge und hohen Vulkane, die einfachen Bambushütten mit ihren Grasdächern in den Tälern und Ebenen und die Dörfer, die sich an den Rücken der Berge schmiegen, die Urwüchsigkeit und Verschiedenheit der Menschen, die unbekümmerten Kinder, die grazilen und anmutigen Frauen mit ihren selbstgewebten Ikat-Sarongs sind es, die den Reiz und die Schönheit der Insel ausmachen. Auf einem Raum von 15.600 Quadratkilometern entdeckt man eine nie enden wollende Vielfältigkeit. Die reiche Vegetation der Landschaft aber täuscht über die tatsächlichen Lebensbedingungen der Menschen hinweg.

Ganz einfach leben die Menschen in ihren Dörfern und kleinen Städten für den westlich geprägten Menschen, der mit der Vorzügen und zugleich schädlichen Einflüssen seiner Zivilisation lebt, und staunend die Frau, die auf der Erde sitzt, beobachtet, wie sie das Tongefäß mit ihren Händen formt, es klopft und knetet, denn die Töpferscheibe, obgleich schon viele tausend Jahre alt, ist ihr nicht bekannt. Im Gegensatz hierzu, obwohl immer noch selten, steht die Fernsehantenne auf dem Dach einer Hütte an der Küste. ....

Industrien sind hier unbekannt. Handwerk ist nur schwach entwickelt und wird vorwiegend von den Missionaren gefördert. Der Landwirtschaft sind, bedingt durch die achtmonatige Dürreperiode, mit einem föhnartigen Trockenwind, ‚Borok' genannt, sowie durch die geringen Niederschlagsmengen, enge Grenzen gesetzt.

Bewässerungsmöglichkeiten sind kaum gegeben. Die Folgen sind fatal: Dazu gehören sporadisch auftretende Hungersnöte, viele Krankheiten und hohe Kindersterblichkeit. Hinzu kommen schlechte Eßgewohnheiten. Es wird gerade das gegessen, was da ist, und die Menschen wissen nicht, welche Nahrungsmittelzusammenstellung richtig ist. Die Abwanderung zu anderen Inseln ist sehr groß. Die besten, heißt es, verlassen die Insel und suchen anderswo eine Existenzmöglichkeit. Was können sie hier schon anfangen? ...

Senin, September 04, 2006

Cerpen 5


Lelaki Gunung

terimalah selembar laut, seberkas daun kering
dan pintu segala penjuru. kumaknai luka
tanpa airmata, dan kubiarkan perjalanan menyanyikan
batu karang. jalan-jalan semakin sulit kupahami
1)

Tapi aku lelaki gunung, Marina. Sering merenung di taman yang dirubung ilalang dan rerumputan. Di gunung aku telah tumbuh seperti burung yang menciptakan sarang kebebasan dari dahan dan daun-daun. Berkicau setiap melihat kesetiaan matahari pada pagi, saat muncul dari balik rerimbun pohon-pohon yang telah ditumbuhi kabut. Dengan bahasa lelaki, aku mengepakkan sayap-sayap kecilku di sepanjang lereng yang gersang. Sebab langit senja selalu melukisnya dengan cahayanya yang jingga. Maka aku pun menjadi lelaki petualang yang sering singgah dari kampung ke kampung dari kota ke kota dari pulau ke pulau. Sampai suatu ketika aku merindukan persinggahan terakhir di rembang usia.

Perempuan bermata embun itu terus menatapku. Lentik bulu matanya seperti ingin memantik api yang terus menyala di keremangan petang. Aku masih terdiam, sambil mempelajari setiap gerak bintang yang menebarkan cahayanya di atas langit-langit kamar. Sementara sebagian wajahnya masih bersembunyi di balik layar monitor. Di antara ribuan file yang berserakan, aku masih bisa menyaksikan aura kelembutan yang menggulung seperti ombak di pantai. Namun setiap saat mungkin juga akan menjadi badai-seperti tsunami misalnya.

"Kamu lelaki gunung, petualang yang kutemui tergeletak di atas rak di antara tumpukan buku-buku dan koran minggu. Apakah kamu akan selalu menjadi pencerita yang setiap tengah malam mengirimiku sajak-sajak cinta?" Dia mengajakku bercakap-cakap sambil menyanyikan Did You Ever Love Somebody-nya Jessica Simpson di bawah gerimis yang menciptakan denting irama melengking-lengking.

Aku selalu tersesat di rimba cerita, Marina. Sebuah rimba yang membuat hidupku begitu bergairah untuk sekadar mengatakan gelisah. Ughh.., setiap pagi subuh selalu saja ada sentuhan dingin yang mengurai percikan makna dari mimpi-mimpi yang kuciptakan tadi malam. Lalu sepasang bintang dan sepasang bulan yang kau kirim sebagai pengganti sajak-sajak cintaku mulai tumbuh menjadi sepasang sayap yang akan mengajariku terbang. Sungguh indah bukan? Terbang di rimba cerita dengan sepasang sayap yang terus menyala. Lalu aku akan merangkai irama dari setiap kepakan sayap itu menjadi sajak-sajak cinta baru, yang akan kukirimkan kembali kepadamu agar aku terus mendapat cahaya untuk membawaku terbang.

Kemudian hujan semakin menderas. Perempuan itu mencibir ketika aku mulai menghentakkan tombol-tombol keyboard sambil menyeruput segelas kopi panas. Kunyalakan sebatang rokok, dan dia menyibakkan asapnya yang mengepul di celah-celah aroma kopi yang melindungiku dari dingin. Matanya melotot dan berusaha meniup bara yang menyala di ujung tembakau yang sebagian telah menjadi abu.

"Matikan sebelum mengoyak jantungmu!," hardiknya sambil terus meniup dengan hembusan napasnya yang memendarkan aroma kembang. Percakapan belum berhenti. Sesekali dia menebarkan senyuman dari wajahnya yang letih karena selama berjam-jam tidak beranjak dari tempatnya. Aku merenung sejenak dan berusaha mengingat-ingat setiap kejadian yang kulalui ketika menjelajahi gunung-gunung dan sungai sampai ke pulau-pulau dan lembah. Aku lelaki petualang yang ingin singgah dan membangun sarang abadi di rimba terakhir yang kutemui. Dia seperti membaca pikiranku.

"Apa kita seperti sepasang kupu-kupu?" katanya membuyarkan renunganku.
"Mungkin..."
"Kok mungkin!"
"Kita berdua?"
"Ya!"
"Tapi kupu-kupu yang sedang belajar merangkai wanginya kembang," aku mengulang penggalan sajak yang pernah kuselipkan di antara lembaran mimpinya beberapa malam silam.
"Kata-kata itu lagi. Apa tidak ada yang lain?"
"Yup! Daripada kamu bilang membual."
"Dasar! Hehehe...."

Kemudian perempuan itu berlalu setelah meninggalkan sepasang bintang sebasang bulan, menjelang tengah malam. Sejenak aku melupakan tugas-tugasku yang masih menumpuk di atas meja. Buku-buku masih berserakan dan beberapa majalah tercerabut dari tempat persembunyiannya yang pengap. Bising suara televisi dari sebelah memberitakan ketegangan di perbatasan Malaysia-Indonesia, masalah status Blok Ambalat di Laut Sulawesi, mulai mempengaruhiku. Mendengar cerita lautan aku jadi teringat dengan batu karang. Apakah sebagai lelaki petualang aku akan seteguh batu karang? Sebagaimana nenek moyangku yang setegar gunung-gunung? Ah, aku begitu menyukai lautan terutama yang luas dan lepas. Hanya ada lengkung langit sebagai pembatas. Hanya ada warna pelangi sebagai penghias.

Laut telah mengajarkanku banyak hal. Sejak sepuluh tahun silam ketika aku pertama kali mengenal gemuruh gelombang di Samudera Hindia. Hamparan pasir putih yang memanjang di pantai yang sebagiannya dialiri sungai-sungai. Tapi untuk bertualang aku tidak memerlukan ombak, aku tidak memerlukan angin, aku tidak memerlukan gelombang lautan yang tinggi di mana para petualang dari berbagai penjuru bumi biasa terbang di atas buih memutih bagaikan dewa-dewa laut yang muncul tiba-tiba dari dasar samudera.2) Aku hanya memerlukan sebuah perahu untuk menyeberangi tujuh samudera sebagaimana Christopher Columbus, Vasco Da Gama, atau Marcopollo menemukan persinggahan terakhir dalam petualangannya. Tidak dari kayu yang rapuh, aku memerlukan perahu dari pahatan batu karang yang tetap tegar bila diterjang gelombang. Dengan sepasang cadik dan sepasang dayung yang akan kukayuh menyeberangi siang menyeberangi malam.

Tuhan menciptakan bumi ini dua pertiganya adalah lautan, Marina. Meskipun daratan tetap menjadi tempat persinggahan yang mengasyikkan. Namun daratan tidak pernah bisa mengeringkan laut, tidak seperti laut yang dengan kelembutannya mampu menenggelamkan daratan. Seperti cerita Nabi Nuh yang berlayar di atas daratan yang menjelma menjadi lautan. Dengan perahunya yang seteguh batu karang. Mengelilingi gunung-gunung yang tegar dihempas gelombang pasang. Namun ketahuilah gunung juga bisa memperluas lautan. Seperti cerita Krakatau yang membelah sebuah pulau, menciptakan selat yang setiap saat dilalui orang-orang yang bertualang. Dari sanalah aku belajar bahwa kelembutan dan ketegaran sama-sama mampu menjadi sumber kekuatan. Lalu mungkinkah aku menggabungkan sepasang kekuatan dalam petualanganku menuju persinggahan terakhir? Aku sebenarnya masih ingin bercakap-cakap lebih jauh. Namun kamu telah pulang ke balik singgasana malam. Dan aku kembali sendiri dalam kesunyian. Sebuah sajak dengan sepasang sayap yang bercahaya selesai kutulis, saat malam menunjukkan keteguhannya.

***

Bulan sabit diapit sepasang awan di langit....
Dari balik jendela aku menyaksikan kunang-kunang meliuk di atas setangkai kembang. Malam melempar pesan dengan jemarinya yang dingin. Sebuah musim telah menandai setiap perubahan yang diawali dengan pergantian matahari dan rembulan. Waktu terus berputar dalam rotasinya mengelilingi lingkaran tata surya yang sengaja diciptakan untuk menandai setiap pertemuan dan perpisahan. Tetapi akhirnya akan kembali lagi setelah semuanya berjalan dalam petualangan yang indah, menyeberangi siang menyeberangi malam.

Marina, sekali waktu aku ingin menjelma menjadi kunang-kunang. Sebagaimana aku juga pernah ingin menjelma menjadi kupu-kupu. Lalu kita akan membuat sebuah dunia yang hanya ada di malam hari. Kau sebagai setangkai kembang yang mekar saat bintang-bintang merayakan keindahan alam yang ditandai dengan hembusan angin yang dingin. Selepas senja mengelupaskan warnanya di balik reruntuhan cahaya matahari yang pelan-pelan menyinari belahan bumi yang lain. Dan aku akan menyinari kesendirianmu yang paling sendiri. Maka dunia kita akan menjadi dunia yang paling romantis dari segala dunia yang pernah ada.

Kemudian aku hanya mencium semerbak wewangi sambil menyaksikan kuncupmu mulai mekar perlahan-lahan. Sebab cahayaku hanya cukup untuk menyinari kelopakmu saja, Marina. Biarkanlah kembang-kembang yang lain menemukan cahayanya sendiri. Dan malam penantian itu menjadi suatu malam yang tiada tergantikan. Sepasang sayapku akan mendendangnya irama mengiringi sajak-sajak yang kunyanyikan seperti sebuah tembang sepanjang malam. Tapi sudahlah, biarkan aku terus bercerita sendiri di akhir petualangan ini. Meskipun aku tidak tahu apakah kamu bahagia mendengar cerita ini.

"Hentikan bualanmu, lelaki gunung!" tiba-tiba dia muncul ketika aku belum selesai menuliskan kalimat terakhir di halaman terakhir.
"Aku hanya bercerita."
"Tapi itu kan bualan!"
"Bukan! Tidak semua cerita itu bualan. Dalam Injil Yesus tidak pernah membual tentang BapaNya, diriNya, surga ataupun dunia.

"Tapi itu beda!"
"Memang beda, sebab aku bukan Yesus!"
Dia diam, karena merasa tidak akan pernah menang bila berdebat denganku. Kupandangi wajahnya yang sesejuk embun sedingin batu gunung. Lentik bulu matanya kembali memantik api yang menyala di celah-celah jantungku.
"Lalu kenapa kamu bercerita?" nada suaranya mulai melembut.
"Supaya kamu tidak larut dalam kesunyian."
"Aku tidak pernah kesepian."
"Memang. Tapi kamu selalu diam bila aku tidak bercerita."
"Maksud kamu?"

"Aku lelaki gunung. Aku mempunyai sejuta kisah yang selalu ingin kubagikan kepadamu. Bukankah kamu selalu datang bila aku mulai membuka halaman-halaman cerita? Aku ingin menceritakan kepadamu semua kisah yang kutemui dalam setiap petualanganku. Sebab bila aku mati nanti cerita-cerita itu ikut terkubur bersama jasadku yang sedingin kabut."

"Apa kamu merasa akan mati, lelaki gunung?"
"Semua yang hidup pasti akan mati sebagaimana yang datang pasti akan kembali. Tapi waktulah yang akan menentukan, sebab kita sendiri juga bagian dari cerita. Endingnya tidak akan pernah tahu, kecuali yang membuat cerita."
"Lalu kenapa kamu ingin menceritakan kisah-kisahmu kepadaku?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Mungkin itu bagian dari cerita."
"Aku jadi bingung!"
"Cerita memang selalu membuat bingung. Kalau tidak, namanya bukan cerita!"

Keningnya berkerut dan matanya menatap tajam ke arahku. Pupilnya berputar-putar seperti sedang mencari sesuatu. Namun aku yakin kalau dia tidak akan pernah menemukan jawaban sebelum menyelami setiap makna dari cerita yang kukisahkan kepadanya.
"Lalu apa lagi yang akan kauceritakan?"
"Aku menginginkan sampan dari batu karang. Dengan sepasang cadik dan sepasang dayung. Lalu ada seikat kembang di dalamnya, yang akan mewangikan petualangan terakhirku."
"Kok dari batu karang! Bukankah sampan biasanya dari kayu?"

"Biar tetap teguh ketika diterjang gelombang. Karena aku lelaki gunung, yang belum pernah mengarungi lautan luas. Selama ini aku hanya melihat dan mencoba menyelami beberapa selat, namun tak pernah sampai. Aku ingin mengarungi lautan luas untuk mencapai persinggahan terakhirku."
"Lalu apa yang akan kaulakukan setelah menemukan persinggahan terakhirmu?"
"Maka kubiarkan ombak menyampaikan salam dunia
pada menara usiaku
3)."
Perempuan itu diam. Aku juga diam. Tak ada lagi percakapan tak ada lagi cerita. Kami berdua hening dalam perenungan yang dingin.

Denpasar,September 2006
(Sebagai kado pernikahan bagi kakak sulungku)

Catatan:
1) dan 3) Mengutip sajak Jamal D. Rahman, "Kado Ulang Tahun", dalam buku Reruntuhan Cahaya (Bentang Budaya 2003).
2) Menggubah penggalan kalimat dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma "Peselancar Agung" dalam buku Sepotong Senja untuk Pacarku (Penerbit Gramedia, 2002).






Puisi

Karmel

Kudatangi kau kemarin
perawan yang rela tercabik tetapi tetap perawan
Debu dari tanah asing kukebas
Aku binatang cinta di belantara
kau seekor peri perut samudra
Kugembalakan cinta yang lapar
dan tersesat kedalaman rahasia.


Telah kuraba tengkuk hatimu
dan kau rajang birahi tanganku
Sudah kucakar kulit wajahmu
dan kau runcingkan kebekuanku.


Kumasuki nirwana tubuhmu
sejak cinta jadi bui setia yang tolol
Dan kupuja kau serupa neraka
saat haus dan ngilu menawanku.


Kutulis cinta di payudaramu
meski tahu hanya menghapus mimpi
Hingga tidur jadi awal kematian
menetek puting kelahiran tanpa akhir.


Hanya sekali aku jatuh cinta
tapi tak berniatku kembali kau dekap
Maafkan aku yang telah silau
entah, kuputuskan nanti saja.

Karmel 2

Ah, Manis..
tambah anggun kau kini
purnah karena cinta yang tak pernah habiskah?

Aku bertanya kenapa ikal rambutmu
mengundang kumbang dan serangga
taburan khayal dan warna
beberapa menggelung rambutmu semaunya
Apakah rambutmu negeri impian
yang dijaga malaikat pun siluman?
Pasti bukan kau yang memelihara nyamuk
tak bosan-bosanya beranak pinak
apakah binatang itu
terlahir dari sumpah serapah kumbang dan serangga
setengah tulus mencinta,
setengah hanya mau menghisap madu.

Sudalah, Manisku.. aku tidak lebih baik
Bukankah kau pernah bilang:

“di pundakku berjejak firasat cengkeram cakar lelaki

kugaruk seperti rasa gatal
campuran pedih dan nikmat”
Benarkah?
di batu-batu tak ada jawaban

di akar-akar sembunyi rahasia.
Ah, manis…. Kenapa diam saja?

Sabtu, September 02, 2006

Cerpen


Celana Dalam (Punya Siapa?)

Johor Baharu - Malaysia, Agustus 2006.

Merry menghela nafas. Cokelat, Krem, Putih, Putih lengan pendek, Biru tua, Biru muda, Hijau lumut, Putih lagi.
Baju-baju kantor milik majikan laki-lakinya sudah necis di hanger. Hari ini ia mengerjakan segalahnya dengan sukacita. Sempurnah. Merry tahu apa yang membuat perasaanya berbunga-bunga hari ini.
Baru saja colokan seterika dicabut, suara majikan perempuannya nyaring berkumandang dari arah halaman samping rumah, tempat dimana sehari-hari ia biasa mencuci dan menjemur pakaian.
“Liiiii!”
Merry menggulung kabel seterika dan meletakannya dibawah meja.
Suara yang lebih pantas disebut lolongan itu. Merry merungut. Seandainya majikannya ikut kontes nyanyi yang dibuat televisi-televisi di Indonesia sana, pasti sudah lama dieliminasi. Jelek sekali.
“Melliiiiiii! Melliiiiiii!”
“Ya, I am coming” Sulit bagi Merry mengganti kata “Ya” menjadi “Yes” kalau majikannya mencak-mencak seperti ini. Ia jadi gugup. Sesuatu yang luar biasa pasti tengah terjadi kalau namanya disebut selengkap itu. Merry telah paham tingkah pola kedua majikannya. Setengah tahun sebagai pembantu di rumah ini cukuplah buat dia untuk mengerti mereka. Ini kali yang kedua ia mendapatkan majikan orang Cina. Tidak seperti awal- awal kedatangannya di Malaysia ini dulu. Merry sempat kapok untuk bekerja sebagai pembantu karena merasa diperlakukan tidak adil. Ia lantas banting setir sebagai pemecah kakao di perkebunan selama dua tahun lebih. Ikut teman-teman dan kenalannya yang setanah air. Lima bulan lalu ia coba kembali lagi untuk bekerja di rumah, sebagai pembantu, memutuskan berhenti sebagai pemecah kakao, setelah menambah bekal pengetahuannya biar tidak bodoh dan ceroboh lagi, biar ia bisa berpanjang akal.

Mengenai kecerobohonnya itu ia punya koleksi ceritanya. Contohnya seperti ini; begitu berhasil mendapat kerja, ia diajari majikannya bagaimana mencuci pakaian yang sesuai dengan kehendaknya. Berapa takaran deterjen untuk lima baju, berapa takaran jika mencuci baju kain sutranya, bagaimana menguceknya, bagaimana menjemurnya, bagaimana ini, bagaimana itu….
Merry memasukan semuanya dalam otak. Lalu ia pun mencoba sehari sesudahnya tapi belum apa-apa, ”Liii..,Li..you stupid ya? Itu tepung untuk cake kamu kila deteljen ya? Tengoklah,bajuku tak ada busanya.” Majikannya tertawa terpingkal-pingkal. Merry cuma bisa tersenyum kecut,dongkol. Ia lupa mencermati perbedaan kedua serbuk itu lantaran sama-sama dibungkus plastik bening yang sama model dan ukuran.Kejadian menggelikan itu tak akan pernah dilupakannya.

Buru-buru Merry bergegas menemui majikannya.
“Tengok sini,” kata perempuan itu setibanya Merry di hadapannya. Dua bola mata Merry ikut saja.
“Tahu you..punya siapa nih?” tanyanya menunjuk pada sesuatu yang tergantung melambai sendirian di tempat jemuran. Merry tersenyum malu-malu.
“Li…punya siapa panty nih?” Muka Merry bersemu merah. Ah, nyonya, di rumah ini perempuan hanya kamu dan saya. Kalau bukan punyamu, terang saja punyaku, begitulah ujar Merry dalam hati.
“Punya saya,Mom”
Perempuan sipit itu menatapnya lurus tajam.
“Punya you??! Ini expensive,Li!
Merry masih tersenyum.
“Ini expensive. Mahal. You bilang gaji you nak kirim ke Indonesia.” Dia mencermati celana dalam warna merah muda itu. Tiba-tiba, “Tak mungkin punya you. Maling you ya?!”
Kress, kulit wajah Merry langsung tertarik. Mendengar itu senyum malu-malu Merry terbang semuanya. Ia tidak menduga majikannya akan berkata demikian.
“Tidak,Mom. Itu Merry beli.” Sergahnya. Ia tersinggung,sumpah!
“Tipu you.Maling...!You balik saja. Tak mau aku punya pembantu maling!” Lemaslah Merry. Celana dalam itu, merah muda, tadi pagi sungguh dengan berbinar-binar ia tatap sepulang dari kedai pakaian. Mahal sekali namun kainnya lembut selembut kepunyaaan majikan perempuannya. Berpita kecil di depannnya. Bermerek (Merry sulit mengejanya). Boros, mungkin, namun ini ia beli dari uang gaji. Paling tidak sebagai pernyataan bahagia, toh tidak ada salahnya (Biar ia punya kenangan sendiri, cerita sendiri bahwa ia, Merry, yang dari Kampung Kelapa, yang saban hari menghabiskan waktu berjam-jam di samping rumah berdinding bambu mengikat benang - menenun jadi kain – memasak - menenun lagi, bisa juga pada suatu saat menghabiskan beberapa pulu ringgit demi satu celana dalam).

Ah, celana dalam baru itu, sayang sekali tidak diterima oleh otak picik majikan perempuannya. Tidak percaya barangkali kalau seorang babu sanggup membeli kain sepotong nan mahal.

***

Orchard Road - Singapura,Agustus 2006.

Apa kira-kira yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam, dicobanya mengingat-ingat. Ia yakin semuanya berjalan baik-baik saja. Oleh sebab apakah suara Mom begitu keras memanggilnya tadi, itu yang membuatnya bingung.
“Ikut ke kamarku,now.” Perempuan kepala empat yang jadi majikannnya itu muncul dan berdiri di pintu dapur. Padahal, ia tahu pembantu yang dipanggilnya pasti datang tanpa perlu disusul.

Anamia. Pembantu rumah, gadis berbadan tangguh seperti tak pernah kekurangan darah itu terkesiap, nervous. Ia melihatnya, wajah Mom memang terus-terusan musam muram sekembalinya dari menjenguk putranya di Hongkong. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu disana, jangan-jangan ia menemukan putranya dalam keadaan tidak karuan. Dan sekarang ia mau mencurahkan isi hatinya pada Anamia. Maklum, tuan sedang ada urusan bisnis ke Jakarta dan di rumah itu tak ada orang lain yang bisa diajak ngobrol oleh nyonya selain dua ekor anjing bulldog dan dirinya. Hampir selalu ia hanya jadi pendengar. Lagipula nyonya rumah sering mengeluarkan kata-kata yang sulit dimengerti, tiba-tiba Mandarin, tiba-tiba Inggris. Dengan bekal bahasa asing yang susunannya kepala di kaki-kaki di kepala, ia tak bisa berbicara banyak.

Sebuah laci lemari yang isinya hanya pakaian dalam terbuka menyambut keduanya di kamar utama.
Look at there closer!” jemari telunjuk Mom menunjuk kepada laci terbuka tersebut. Anamia mendekat, menelisik. Semuanya baik-baik saja, teratur. Untuk beberapa saat Anamia diam saja. Bahkan sampai ketika tangan majikannnya menjepit sepotong celana dalam yang terlipat diantara pakaian dalam itu memakai ujung pinset pun ia tetap belum paham apa masalahnya.
Seraya mengarahkan ‘temuan’itu, dipelototinya Anamia.
“Bukankah ini punyamu?” Seolah tersedak, Anamia menarik lehernya. Mungkin saja ia sanggup mengumpulkan uang yang cukup, tapi apa ia mau menghabiskan dollar Singapuranya untuk ‘sekedar’ celana dalam sementara tiga adiknya di Indonesia amat bergantung pada bantuannya demi sekolah? “I never seen it before,” lanjut Mom. Nah loh, apalagi saya? (Anamia membatin). Ia merasa geli tapi tak bisa menunjukkan ekspresi.
“Mungkin Mom lupa. New panty,perhaps.”
No
Membisu sejenak
“So?!”
“It’s not mine,Mom.”

“Lalu punya siapa?!!” Muka Mom memerah seperti gunung mau meletus. Matanya tak ubahnya anak panah yang melesat. Selang semenit saja sesenggukan lahir dari bibir perempuan blasteran Cina-Melayu itu. Pipinya berair, separuh bening separuh hitam karena eye linernya luntur. Mom menangis. Tangisnya semakin keras saja ketika ia ke kamar Anamia, membuka lemari plastik pembantunya, menggeledah semua isi dan mendapati beberapa celana dalam murahan tanpa label. Anamia tak tahu harus bagaimana.

Mom menolak lunch dan ia hanya di kamarnya setelah kejadian itu. Anamia melanjutkan pekerjaannya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa barusan. Malamnya ia lega karena Mom mau makan malam. Hingga besok pagi ia melihat majikannnya itu mengeluarkan sebuah travel bag besar, ia menganggap masalah telah selesai. Ia tahu Mom seorang yang cemburuan. Habis, tuan kan masih seger. Enam tahun lebih mudah dan tampan lagi. Tuan itu suami kedua Mom setelah yang pertama meninggal, kecelakaan (katanya). Jadi yang dijenguknya di Hongkong itu adalah anak dari suami pertamanya.

“Kamu disini. Pekan depan saya kembali.” Begitu pesan Mom singkat sebelum mempersilahkan Anamia menarik bawaanya ke sedan, kemudian meluncur pergi dengan pelan. Anamia merasa tenang.

Mom benar-benar pulang pekan depannya tapi tidak sendirian, tidak dengan tuan tapi dengan…
“Mr. Chang?” Anamia mengenali lelaki itu. Sejurus ia heran dan bertanya- tanya sendiri. Ada keperluan apa? Bukankah urusannya dengan agen penyalur tenaga kerja ini sudah beres?

Tidak sampai sejam, Anamia tahu untuk apa lelaki itu datang, ia telah mengerti semuanya. Ia melangkah gontai ke kamarnya sesudah lelaki itu pergi. Diapitnya sehelai tiket penerbangan tujuan Jakarta. Lalu selanjutnya hanya pipi dan bantalnya saja yang basah air mata. Walaupun selama ini pertengkaran sering terjadi lantaran kecemburuan Mom terhadap tuan, ia tak menduga kejadiannnya berujung seperti ini.

***

Changi International Airport – Singapura, September 2006.

“Ternyata seminggu itu Mom pergi untuk mengajukan cerai. Sekalian menemui agenku, Mr Chang. Pria itu bilang kalau aku masih mau kerja, musti menunggu setahun lagi sebelum ia mendapatkan majikan baru. Sebaiknya aku pulang dulu.” Anamia mengakhiri kisahnya. Tangannnya membolak-balik tiket.

“Gara-gara celana dalam, ha?” Suara perempuan yang bersebelahan dengannya terdengar lebih sebagai sebuah kesimpulan, bukan tanya. Ia tersenyum tiba-tiba, getir. “Lucu,” desahnya. “Sebenarnya celana dalam itu punya siapa sih?”
Anamia memalingkan wajahnya ke perempuan itu.
“Mana kutahu? Lah, untuk sekedar bedak saja saya ngirit, apalagi untuk itu.”
“Kok bisa ya, kita sama-sama dipulangkan karena celana dalam?” suara tanya perempuan itu lagi, ia seolah berbicara sendiri.
“Maksud kamu?”
“Ya, kamu tahu saya penumpang transit, kan? Begini nih nasib pekerja kayak kita, hanya bisa pasrah. Entah kita benar, atau tak tersangkut paut sama satu hal sekali pun, mana majikan mau peduli. Saya terpaksa tak bisa lama-lama di Malaysia juga karena sehelai celana dalam.”

Anamia menutup mulutnya tak percaya, ia mau bertanya, hanya saja suara dari speaker entah diletakan dimana dalam ruang tunggu itu sekonyong-konyong memberitahu jika pesawat dengan flight number sekian tujuan Jakarta akan segera berangkat, penumpang dimohon menujuh ke gate sekian.
Seat kita bersebelahan, bukan? Nanti saja di dalam pesawat ceritanya”
Anamia mengangguk. Mereka bangkit.
Perempuan yang jadi teman ngobrolnya itu berdiri pada antrean terakhir. Tangan kirinya menarik sebuah travel bag biru dengan tiket terjepit disana, sedangkan yang sebelahnya lagi menenteng tas warna senada. Yang pasti dalam tas di antara pakaiannya, terselip sebuah celana dalam warna merah muda miliknya, kainnya selembut kepunyaan majikan perempuannnya, dengan sebuah pita kecil di depannnya.

Denpasar, awal September 2006
(Berdoalah kalian, para penyumbang devisa yang mengenaskan!)

Rabu, Mei 10, 2006

Let's make this world full of smile



Jika kita penuhi hari-hari dengan senyuman tulus,
sesungguhnya kita telah menggenggam SURGA
so
let's make this world full of smile

Puisi

Pada Engkau yang Memujah Merah

Aku bertekuk lutut dengan biruku

Pada engkau yang memujah merah
Telah kau tanami ragaku
Biji - bijian yang akhirnya aku ketahui namanya adalah kasih

Lewat bibirmu

yang meranggas leher,telinga, hingga sekujur tubuh ini

Dan GAJAHMU yang kau kerahkan tuk menyusup masuk

Dalam gua yang telah kau cukuri duri hutannya

Menemukan mata air yang akhirnya aku ketahui namanya adalah asmara

Aku bertekuk lutut dengan biruku

Pada engkau yang memujah merah

Telah kau sirami jiwaku

Air matamu suatu malam sebelum pergi yang akhirnya aku ketahui namanya adalah harapan

Lewat nafasmu

Yang melancarkan aliran darah, mengiramakan denyut jantung ini

Dan MAGNITMU yang kau lekatkan pasangannya

Untuk mengarahkan pandangan hanya padamu

Mataku tertawan yang akhirnya aku ketahui namanya adalah setia

Aku bertekuk lutut dengan biruku

Pada engkau yang memujah merah

Telah kita beri

Apa yang kita punya yang akhirnya aku ketahui namanya adalah arah ke masa mendatang

Berdua, kau dan aku.

Senin, Mei 08, 2006

Cerpen


PRINSEJA

Seharusnya ketika aku masuk dan mencelupkan tanganku kedalam mangkuk air berkat, ia telah berlutut pada tempat dimana setiap pagi ia memilih duduk.

Selalu di bagian sudut bangku depan blok kiri. Dan seperti kemarin-kemarin jika misa belum dimulai, aku akan melihat bibirnya komat kamit dengan rosario berjuntai di tangan dan mata tertutup. Kadang-kadang ia menatap lurus ke depan kepada salib besar yang terpasang di belakang altar. Sekali-kali ia meraba tatakan rambut putih kuningnya. Mungkin lenggeng1annya kurang kuat lantaran rambut itu sudah terlampau tipis atau mungkin heging2 peraknya tak mampu lagi menopang seperti dulu. Aku memuji ketahanannya berlutut, perempuan seuzur dia tentu tak kuat lagi menopang beban tubuh di lutut, bukankah bagian tubuh manusia yang itu jadi tempat bersarangnya sakit ngilu-ngilu, encok.

Hari ini Sabtu pertama, pekan pertama dalam bulan. Jadi, bangku-bangku lebih terisi dari hari-hari biasa. Tapi pagi ini ia tak kelihatan di bangku dimana ia biasa duduk. Mataku sudah mencari mengitari seluruh ruangan, tak ada.

Tiba-tiba aku merasa pagi ini tak sempurnah, tiba-tiba aku merasa kehadirannya begitu penting penting. Bagian sudut bangku depan blok kiri itu harus diisi seseorang dan harus dia. Ia suka memakai baju merah atau setidaknya baju dengan corak berwarna kemerahan. Selain Minggu, jika hari- hari istimewa seperti Jum’at dan Sabtu pertama, ia menumpuki baju merahnya dengan dong3 dari beludru hitam, menghiasi kedua pergelangan tangannya dengan gelang-gelang perak yang diselingi dengan tiga gelang gading. Ya, aku hafal betul, aku pernah mengitungnya.

Aku melirik ke arlojiku, dua menit lagi Pastor dan misdinarnya muncul dari pintu sakristi4. Ah, dimana dia? Kenapa belum muncul? Kudengar bunyi lonceng dari arah sakristi, kami semua berdiri karena itu pertanda misa segera dimulai. Pastor dengan kasula5 putih didahului dua misdinarnya melangkah ke altar. Aku mengikuti ibadat sambil melirik ke sudut bangku depan blok kiri, siapa tahu dia terlambat datang. Sayang, sampai kumandang lagu penutup selesai dan satu persatu orang beranjak mengosongkan ruangan itu, ia benar-benar tak ada.

Sorenya aku ke gereja lagi, latihan koor untuk Minggu besok. Dan kulihat dia tengah membersihkan sebuah kuburan di samping gereja tua kami. Di kampungku, setiap warga yang meninggal akan dikuburkan di sekitar pekarangan gereja. Biasanya menjelang Paskah ada ibadat khusus senja hari untuk mengenang para arwah, jadilah sekeliling gereja kami diliputi cahaya lilin. Benderang indah sekali. Kami betah berlama-lama disitu sembari mengenang keluarga yang meninggal lewat cerita orang tua kami.

Ada yang menarikku untuk menjumpainya. Kudekati dia. Tangannya menjulur menabur guntingan bunga-bunga yang dicampur dengan plastik mengkilat warna-warni ke atas sebuah nisan. Nisan terbesar dari semuanya. Pancangan lilin tenang menyala di tiap sisinya. Aku tahu kubur siapa itu, juga dia. Setidaknya dia keturunan bangsawan.

“ Nenek tidak misa tadi pagi?” Ia tersenyum.

“Tadi pagi saya misa tapi di Maumere. Tadi siang baru kesini”

“O..o..”

“ Ini makam tiu6 saya, raja Sikka”

Aku membaca nama yang tertera disana. Nama yang panjang sementara yang sanggup diingat olehku cuma bagian ‘da Silva’nya saja. Memang nama itu hanya digunakan kaum bangsawan suku kami.

“Tiu saya senang sekali Toja Bobu.”

“Toja Bobu?”

“Ah, kalian anak sekarang telah melupakan tradisi sendiri.” Ia berkata tanpa menatapku, seolah mengeluhkan hal itu kepada orang yang terkubur di bawahnya.

“Nenek bisa ceritakan buatku?”

“Percuma, pertunjukan itu tak ada lagi sekarang”

“Tapi aku mau dengar dari nenek. Bisa?”

Ia menjatuhkan badannya ke atas sebuah nisan lain di samping nisan tiunya, melempar pandangan ke halaman depan gereja.

“Dulunya kami memainkan pertunjukan itu disana. Aku sebagai Prinseja, seorang putri yang dilamar oleh banyak pria.” Kalimat itu diucapkannya dengan wajah berseri. Wajahnya, kudapati sisa pesona waktu lampau di wajahnya. “Prinseja dipaksa orang tuanya untuk memilih seorang lelaki sebagai mempelainya. Dihadapan orang tuanya, Prinseja menyatakan keinginannya. Para pelamar itu akan menyampaikan persembahan mereka dan membanggakan kehebatan masing – masing.”

“Berapa pria yang melamar Prinseja,Nek?”

“Ada delapan, pertama Pintur seorang pelukis, Pidagu pria bangsawan, Piloto penerbang, Grande Brebu pemabuk besar, Oriwis si tukang emas, Jugador penjudi, Grandi Kondi pangeran besar, lalu Maschador seorang pedagang.”

“Siapa yang dipilih?”

“Maschador. Dialah yang berhasil menawan hati Prinseja. Kamu mau tahu kenapa?”

“Ya” Kuanggukan kepala. Aku memang mau tahu kenapa Prinseja tak memilih yang lain. Seorang pelukis dan tukang emas kan lumayan, apalagi Pidagu atau Grandi Kondi. Kalau Jugador penjudi bersama Grande Brebuh tukang mabuk itu pasti tak bakalan. Siapa yang mau?

“Sokero marendo komunto dinjeru parwo rengalho.” Ia mengucapkannya lancar dengan intonasi yang memukauku.

“Nenek masih hafal?” Berbinar-binar matanya.

“Bukankah sebagai Prinseja aku harus mengingatnya? Anjo da Guarda,7 sampai mati pun saya tak melupakannya.”

“Kalimat tadi artinya apa?”

“Saya cuma menginkan seorang suami dengan banyak uang demi kesenanganku. Saat mengajuhkan diri, Maschador memang menjanjikan kekayaan serta masa depan yang lebih baik buat Prinseja”

“Wah, cewek matre…”

“Apa katamu?”

“Matre, Nek. Itu julukan buat perempuan yang matanya hijau kalau lihat duit.”

“Duit?, apalagi itu? Bahasa apa yang kalian pakai sekarang?”

Aku terbahak.

“Dari Jakarta sana, Nek.”

“Rupa-rupa saja kalian.”

“Ah, Nenek..”

“Patutnya kalian belajar tradisi sendiri, sejarah. Cobalah selami kekayaan nenek moyang kalian.”

“O iya, Nek, jika Toja itu artinya tarian, terus Bobu itu apa?”

“Nah, saya bilang juga apa. Kasihan, kalian sudah tidak kenal akar sendiri. Bobu itu artinya badut. Begini, lakon tadi diselingi dengan tarian dan nyanyian. Ada arak-arakannya yang didahului oleh para Bobu yang menari-nari tadi.”

“Wah, pasti ramai ya.. Nenek pasti bangga jadi Prinseja”

“Tentu saja, itu peran yang istimewa. Kami, aku, saudari-saudariku serta gadis-gadis disini amat menginginkannya. Kami berlatih di pendopo pastoran. Saya memainkannya beberapa kali sebagai hiburan Natal, tiap tanggal dua puluh enam setelah misa.”

“Kenapa sekarang tak ada lagi?’

“Entahlah, saya sendiri tak mengerti. Kalianlah yang hidup sekarang, tugas kalian meneruskan itu, bukan?”

Aku terdiam, memasukan kata-katanya dalam hati. Rasannya kami terlampau terlempar jauh sekali dari masa silam. Aku mengamati nisan itu, membaca lagi nama yang tertera: ‘da Silva’, menatap lenggengan rambut si nenek, menelusuri bangunan gereja tua peninggalan Portugis di sampingku dari bawah hingga ke bubungan tempat lonceng gereja berdendang. Sekonyong-konyong aku melihat gambaran samar kehidupan jaman dulu. Kemudian aku sadar, aku jadi takut apa yang kulihat sekarang tak bakal disaksikan lagi oleh anakku kelak.

“Saya kembali dulu,Nak.”

“Iya, Nek. Terima kasih ceritanya.”

Ia mengangguk, lantas melangkah lambat. Aku melihat bayangan Prinseja tapi ia dengan pungguk bungkuk dan langkah tertatih keluar dari pekarangan gereja. Ia menoleh padaku.

“Besok pagi, Nek, di bagian sudut bangku depan blok kiri. Aku akan berlutut juga disana. Ajari aku berdoa dengan bahasa Portugis,” kataku dalam hati. Aku masuk gereja sambil mengingat-ingat nama-nama hari dalam bahasa Potugis yang kerap diucapkan almarhum kakekku; Segunda, Tersa, Kuarta, Kinta, Sexta, Sabado, Domingu.

Teman-temanku telah banyak berdatangan. Sekarang latihan koor, siapa tahu Natal mendatang kami memainkan Toja Bobu di depan gereja. Aku akan minta saran dari nenek itu, kira-kira siapa yang pantas menjadi Prinseja?

Denpasar 2006

valentino_mendez@hotmail.com

Keterangan:

  1. Lenggeng : Model konde rambut perempuan Sikka (Maumere-Flores)
  2. Heging : Tusuk konde.
  3. Dong : Kain seukuran sarung tapi dikenakan

Perempuan Sikka sgb pelapis luar setelah baju.

4. Sakristi :Ruang dalam gereja untuk Pastor dan petugas ibadat mempersiapkan diri sebelum upacara.

5. Kasula : Pakaian Pastor yg dikenakan setelah jubah, ada beberapa warna tergantung kepentingan.

6. Tiu : bhs Sikka, Paman. Asalnya dr bah. Portugis: Tio

  1. Anjo da Guarda : bhs Portugis, Malaikat Pelindung. Ungkapan lisan dalam masyarakat Sikka.

8. Segunda, Tersa, Kuarta, Kinta, Sexta, Sabado, Domingu: Hari Senin- Minggu.


Cerpen

Natal, Jangan Tiba Begitu Cepat

Kenangan Natal di Dusun yang Kecil1)

Obet mendengarnya sewaktu jeda makan siang kemarin dari balik pagar parkiran pusat perbelanjaan Matahari. Lebih tepatnya saat seiris tipis tempe berbunyi kriuk-kriuk dalam mulutnya. Sepiring nasi putih yang basah oleh kuah santan sayur singkong,ditambah seekor kecil ikan jangki, sepotong tahu, sesendok teh sambal terasi, siap-siap berserah diri pula tuk diisi ke perut.

Obet hafal benar syair lagu itu. Seandainya ia bukanlah satu-satunya orang yang ‘bertanda salib’ disitu, pasti ikut ia berdendang. Ia agak sungkan memberi sinyal kekatholikannya di antara orang, kecuali tanda salib yang refleks dibuatnya.

Selalu Obet makan cepat-cepat. Dan selalu ia merasa belum cukup kenyang setelahnya. Perempuan setengah baya penjual nasi itu hafal betul pada Obet. Bukan lantaran ia pelanggan tetap, tapi karena dulu Obet senantiasa minta ditambah nasinya.

“Berapa,Bu?”

“Empat ribu”

“Bukanya tiga setengah?”

“Memang tiga setengah. Tapi adik kan minta ditambahin nasinya tadi.”

Itu kejadian kali pertama ia makan disitu. Obet dongkol. Nasi yang ditambah tidak seberapa,eh…harganya sudah berubah. Di kampungnya, lelaki seusia dia mana cukup hanya makan sepiring, walau badan mereka seceking Obet. Di kampungnya, sesuka hati ia menentukan kapan waktunya makan. Di kampungnya, tak pernah dipikirkannya soal makanan, sebab ibunya sudah menyediakan tepat sebelum bayangan mentari melewati ubun.

Tapi Obet tidak jera makan disitu. Sekarang ia tidak perluh minta tambah,ibu itu sudah mengerti. Nasi membukit buat Obet. Sungguh baik hatikah ia? Mungkin ya, mungkin tidak. Obet dititipi pesanan dari teman-teman sekerjanya. Tiap hari belasan bungkus nasi. Barangkali itulahlah ibu itu mau bermurah hati. Tapi entahlah….

Kenangan Natal di Dusun yang Kecil.

Semasa SD dulu, bersama anak-anak seusianya di sekolah minggu,Obet diajarkan lagu itu. Pada awal-awal bulan desember. Tahu-tahu, lagunya dipersiapkan buat pementasan merayakan Natal. Dari pendengarannya Suster Agatha, pengajar mereka, ditunjuk tiga anak untuk menyanyikannya. Salah satunya Obet. Kata suster, suara Obet bening. Kalau sampai pada nada-nada tinggi, seolah asap pendupaan saja suaranya, membumbung ke langit-langit gereja.

Mengenang perihal tersebut membuat Obet tersenyum.

Sudah lama sekali tapi bayang mungil tubuhnya, berbaju putih-putih dengan lilin menyala di tangan, berdiri di atas panggung sebelah rumah pastoran, ditatap banyak orang termasuk ibunya, tidak lekang dari ingatan.

“Wah, Si Obet dapat jilidan banyak nih…” Sapaan dari Komang membuyar pikirannya.

“Biar bonusnya gede……hik..hik…,” timpal Kadek si imut yang sedari tadi serius mengonsep sampul. Gadis itu mulai ceria lagi setelah sebulan lalu ketiban sial, musti mengganti kerusakan akibat salah mengkonsepsi lima puluh buku. Konsumennya ngamuk, tidak terima. Warna cover tidak sesuai pesanan, judulnya juga disusun terbalik.

Perusahaan tidak mau rugi. Kadek dituntut memperbaiki kesalahan dengan membayar bahan yang telah terpakai : lima puluh lembar kertas Omega 40, seratus lembar kertas quarto, lima puluh kawat spiral tipe 1/2, dan seratus lembar plastik laminating. Waktu itu Kadek sangat terpukul, apalagi statusnya masih training.

“Jadi pulang ke Flores kan, Bet?” tanya Komang seraya mengamat-amati kerja Obet.

Obet menatap,lalu mengangguk. Dirapikan meja kerjanya. Pisau cutter khusus tangan, patahan-patahan mata pisaunya, lem kuning, batu spasi, penggaris, juga remah- remah kertas yang bertebaran disingkirkannya. Sesudah semua tersingkir, giliran Obet menggosok keramik, alas permukaan meja kerjanya dengan bensin. Ceceran lem kuning tergulung dengan mudah.

Ndak diselesaikan sekarang kan,Bet? Sudah jam dua belas, lapar nih” Kadek menghampirinya.

“Nanti, setelah makan”

Tiang2) nitip ya? Hei…,semua, ayo nitip-nitip” Kadek berlagak seperti mandor, memberitahu teman-temannya. Satu- satu merogoh saku.

“Seperti biasa, Bet !” teriak yang berdiri di pojok

“Nasi ikan buatku”

“Ayam goreng…”

“Punyaku pakai hati sama empela”

“Jangan pakai sambal kayak kemarin, kepedisan tuh..”

“………………..”

“………………..”

Tiap orang menyodorkan menunya. Sebanyak itu tapi buat Obet tak masalah. Ia hafal selera masing-masing mereka.

Kenangan Natal di Dusun yang Kecil.

Obet menyanyikannya seirama ayunan kaki. Obet senang-senang saja menenteng kresek berisi bungkusan nasi titipan teman-temannya.

Ia menghitung-hitung, masih bisa uangnya buat makan sampai tanggal kepulangannya ke Flores. Ia kas bon lagi minggu kemarin. Gajinya bulan lalu ludes cepat dan Obet tak tahu untuk apa saja uang itu mengalir.

Aneh, kenapa kebijaksanaan terbang tak tersisa taktala uang ratusan ribu bertengger pada telapaknya.

Terpaksa pula ia jual sarung tenunan ibunya. Komang memberitahu tempatnya. Ternyata harganya lumayan,sebesar gajinya malah. Sebenarnya ia sayang, sarung itu masih baru,pemberian ibunya. Tapi Obet ingin membelikan ibu dan adik-adiknya ole-ole.

“Kalau kepepet, tak apa-apa dijual,” kata Ibu saat mengeluarkannya dari peti kayu. Obet mencium bau kapur barus dari sana.

“Jangan lupa ke gereja. Ingat,kamu di tanah orang,tanpa saudara. Pucuk kelapa tanah ini nantinya hilang dari pandangan matamu. Jadi,perlakukan semua orang sebagai keluargamu. Ayah-ibu orang, jadikan orang tuamu juga. Saudara orang, anggaplah sebagai saudaramu…….”

Obet merasa geli waktu itu,ada pikiran nakal di otaknya. Ia menyela,

“Kalau istri orang? Kuperlakukan juga sebagai istriku,Bu?”

Ibunya langsung mendelik. Rambut Obet dijambak. Obet tertawa ngakak.

“Bu, jika Natal tiba, Obet pasti usahakan pulang. Ibu mau dibawakan apa dari Denpasar?”

“Aku mau kain Bali seperti yang dipakai bule-bule di tivi,” serga Lusia adik perempuannya

“Ibu mau dibawakan apa?,” tanya Obet sekali lagi. Perempuan tua itu masih diam.

“Bang, belikan saya seragam baru. Nih, lihat, celanaku dua-duanya tambalan semua.” Meteo, yang bungsu, masuk kamar tiba-tiba sambil menenteng celana merah dan cokelat tuanya.

“Ya, nanti abang bawakan buatmu”

“Janji ya?”

“Janji”

Kenangan Natal di Dusun yang Kecil

Obet mendengungkannya lagi. Ia sudah mendapat ide, hadiah apa yang bakalan ia bawa untuk ibunya. Ia ingat ibunya pagi-pagi, tidak hanya hari minggu, ke gereja dengan sandal jepit swallow. Ya, Obet ingin membelikan ibunya sandal baru yang kuat, yang bagus buat Natal ini. Biar ibunya tak perluh menyikat sandal jepitnya setiap kali mau ke gereja.

Obet memindahkan buku jilidan ke meja dekat mesin pemotong. Ditariknya gagang mesin potong ke atas, lantas tiga puluh buku dibaginya dua sejajar, ditaruh bersebelahan sesuai jangkauan pisau mesin pemotong. Tinggal hanya mengatur, menggeser beberapa centi kertas yang nanti dipotong.

Dua tumpukan buku itu belum diatur, ketika pintu samping diketuk. Obet berpaling : Pengantar air isi ulang berdiri disana. Obet melepas kerjaanya demi menyambut galon berisi air yang disodorkan orang itu. Tapi dinamo terlanjur dihidupkannya.

Diangkatnya galon itu tinggi-tinggi. Obet harus melewati lorong sempit antara meja mesin pemotong dengan dinding yang ditempeli dinamo penghidup mesin.

Obet buru-buru. Sempat ia bertanya, kenapa tempat galon itu musti ditaruh di belakang,di tempat sesempit itu? Tapi ia mencoba berhati-hati saja.

Tangan Obet yang kurus gemetaran. Galon itu licin. Dan terpeleset menghantam gagang mesin pemotong. Mesin itu berderit. Obet berhasil menahan galon itu. Namun ia mendengar suara kertas-kertas terpotong. Obet sadar, apa yang sudah terjadi!!

“Kenapa jadi begini,Bet?” Kadek bebisik tak percaya. Buku-buku itu terbelah sempurnah. Bunyi dinamo telah lenyap. Semua menjadi bisu di ruang kecil itu.

Obet linglung. Lemas. Gugup.

Tiga puluh buku. Dua ratus empat belas halaman dalam satu buku. Dua lembar quarto dan selembar kertas Omega untuk satu buku. Jadi, enam puluh lembar quarto dan tiga puluh lembar kertas Omega yang harus diganti, enam ribu empat ratus halaman harus difotocopy lagi. Tiga puluh buku yang harus dibuat ulang……Berapa biaya yang harus diganti, sementara ia juga punya kas bon….

Obet memekik dalam hati,

“Tuhan, tunda dulu Natal ini. Jangan biarkan Natal tiba terlalu cepat. Aku mau merayakannya bersama ibu dan adik-adikku….!”

Ia tertunduk lunglai. Sandal untuk ibu, kain Bali buat Lusia, seragam baru bagi Meteo. Ah…….