Selasa, Oktober 23, 2007

Jalan- Jalan Ke Pulau Rote

Rote : The Island of The Breeze

Anak Timor main Sasando,
dan bernyanyi Bolelebo…
Rasa girang dan
berdendang
Pulang e…e..”

Itu lagu rakyat yang hampir semua anak NTT tahu. Mmmm…ya,mungkin sekarang ngga bisa dibilang begitu lagi ya? Oke, katakanlah lagu itu jadi lagu rakyat angkatan saya dan mereka yang lahir sebelum tahun 2000.

Yang bikin aku penasaran adalah lirik lagunya. Benar ngga sih Anak Timor main Sasando? Apa bukan Anak Rote-lah yang main Sasando? Soalnya, saya merasa Sasando lebih identik dengan Rote ketimbang Timor. Sayangnya, ketika saya dolanan ke Rote, saya ngga lihat orang memainkan alat musik itu. Musik khas itu hanya kudapati dalam bentuk souvenir berupa gantungan kunci, sedangkan topi khas Rote “Tii Langga” juga sekedar jadi hiasan di dinding beberapa rumah penduduk. Padahal, topi itu rasanya pas sekali untuk dipakai dimusim kemarau. Matahari di Rote menyengat banget. So, topi yang lebarnya mirip topi Meksiko itu kayaknya jadi pelindung kepala yang nyaman.

Wes, berhentilah meributkan ikhwal Sasando sama topi Tii Langga. Bukankah saya kudu mulai menceritakan pahit-manis (waduh…..bahasanya) petualanganku disana?

Berulang kali saya kesal sama penerbangan domestik. Heran, kok nyaris semua penerbangan yang aku pakai selalu ngga on-time??!!! Delay terus-terusan…..
Aku terbang dari Denpasar ke Kupang jam 12 siang dari seharusnya terbang jam 10 pagi. Kesal, karena jika tahu gini aku bisa kuliah dulu hari ini. Dua mata kuliah yang kelar belum sampai jam 11 dapat saya ambil.
Waktu tempuh Denpasar – Kupang adalah 11/2 jam.
Mendekati pulau Timor terlihat dari atas beberapa gugusan pulau kecil. Saya menebak-nebak sendiri pulau-pulau apakah itu. Semuanya dikitari oleh pasir putih. Cantik sekali.

Turun dari pesawat kami memesan taksi di loket depan. Harganya 100.000 dari airport El Tari ke Tenau. Rencanya mau cari penginapan di dekat pelabuhan Tenau. Tapi nyatanya sial, ngga ada satu penginapan pun disana, padahal pikirku jika di dekat pelabuhan, tentu setidaknya ada penginapan sederhana. Mau balik ke kota Kupang lagi, wah nggak ah, akhirnya kami ke pelabuhan Bolok,kata sopir ada penginapan disana. Tapi kami musti bayar tambah lagi bila mau ke Bolok. Oke,bayar lagi.

Kami menemukan bangunan yang sama sekali ngga ada tanda-tanda bahwa itu penginapan. Yang pasti memang karena dia adanya langsung di depan belokan menuju pelabuhan dan dialah satu-satunya penginapan disitu. Kami mendapakan sebuah kamar seharga 30.000 semalam, dua buah tempat tidur tapi cuma satu yang berkasur,satunya sekedar rangka,tanpa alas,tikar,apalagi kasur. Kamar mandinya ngga berpintu,dan ngga ada kran air. Sebuah bak plastic diisikan air setengah oleh dua gadis remaja. “Nanti ambil lagi di keran sana,”kata salah satunya seraya menunjuk ke bak penampungan di halaman samping rumah induk. Ngga apa-apa,kataku,yang penting dapat tidur. Tapi saat rasa lapar datang, kami kelimpungan. Disana sama-sekali ngga ada warung makan yang buka. Katanya ada satu,tapi lagi tutup karena pemiliknya puasa. Gadis remaja tadi memberitahukan dengan ringan saja,kalau mereka bisa menyediakan makan tapi harus besok pagi. Ha….??? Akhirnya kami membeli satu-dua snack,air mineral,dan masing-masing dapat satu mie gelas. Malamnya,aduh…susah tidur,selain gerah karena suhu yang panas, nyamuk-nyamuk pun tak hentinya berdengung di telinga. Sengsara…..,mungkin malam itu cuma satu atau dua jam aku benar-benar tidur.

Kami (terpaksa) menginap karena fery cepat Bahari Express dari Kupang ke Rote hanya satu, berlayar pagi hari, dan berangkat satu kali saja sehari. Ada dua sebenarnya kapal, satu, fery lambat yang bertolak dari pelabuhan

Bolok tempat kami menginap dan satunya fery cepat yang berangkat dari pelabuhan Tenau.
Fery lambat menghabiskan waktu 4 jam di laut dengan ticket 25.000,turun di dermaga Pantai Baru yang jaraknya jauh lagi dari Baa,ibu kota kabupaten Rote (sejam lebih bisa jadi). Dengan fery cepat, memakan waktu 2 jam, ticket 75.000,turun langsung di dermaga Baa. Jadi,tidak perlu naik angkutan umum lagi.

Kebetulan kakakku yang sulung bertugas di Rote, jadi selama di Rote,khususnya di Baa, kami banyak mendapat bantuan. Hampir tiap hari selalu ada wisatawan asing yang keluar masuk dermaga. Umumnya berasal dari Australia, tapi selama saya di Rote saya juga bertemu dengan peselancar dari berbagai belahan dunia.

Rote penuh dengan pohon lontar. Dari pohon itulah diproduksi gula air atau gula lempengan yang lebih dikenal dengan sebutan “gula Kupang” (yang buat orang Rote tapi namanya gula Kupang he..he…). Saya sempat

mampir ke sebuah tempat pembuatan gula lempeng, sejenak menyaksikan proses pembuatannya.

Kabupaten Rote Ndao adalah kabupaten hasil pemekaran dari kabupaen Kupang dengan jumlah kecamatannya sebanyak 8. Wilayah kabupaten ini terdiri dari pulau Rote serta dikitari pulau-pulau kecil sebanyak 103 buah pulau,6 buah pulau berpenghuni yakni: Rote,Ndao,Nuse,Landu,Nusa Manuk,dan Usu. Menurut legenda, pulau ini mendapat nama secara kebetulan dari seorang pelaut Portugis, yang ketika tiba dan menanyakan nama pulau itu,penduduk yang ngga ngerti hanya berucap “Rote”. Nah, pada masa kedudukan Belanda lebih sering disebut “Roti”

Jika anda pencinta pantai, aku bisa bilang bahwa Rote-lah surga pantai yang sesungguhnya bagi anda. Pulau ini dikelilingi oleh pantai berpasir putih bersih yang lebar-lebar. Pokoknya luar biasa. Bahkan saya yang sudah lama di Bali, belum menemukan pantai yang lebih bagus dari pantai di Rote. Bali hanya unggul di pengelolaan saja. Kalau dari alam,sebenarnya ngga seberapa. Tapi saya suka di Bali karena transport dan akomodasinya lebih lancar,lebih mudah, lebih murah.
Tapi jika anda berjiwa petualang,ya, daerah-daerah NTT memang pilihan yang tepat.

Di Baa,kota kabupaten yang lebih mirip kota kecamatan saking kecilnya. Lucu, karena punya banyak rambu-rambu larangan untuk belok dengan tulisan : ‘”dilarang masuk/belok kecuali kendaraan dinas”. Emangnya jalan dibangun buat rakyat atau pejabat sih? Ada lokasi pantai yang cukup terkenal di kota Baa ini, namanya Batu Termanu. Ada dua Batu Termanu yakni Batu Hun dan Batu Suelay. Dua batu ini merupakan simbol laki-laki dan perempuan lantaran (katanya) berbentuk seperti kelamin laki-laki dan perempuan. Aku melihatnya ngga mirip kok.Tapi,bila anda kesana silahkan menyimpulkannya sendiri. Apalagi dibilang bahwa batu Termanu ini bisa berpindah-pindah,makanya dianggap batu keramat.







Di tengah kota (kayaknya aku berat banget nih bilang kota…he..he…),berdiri rumah peninggalan raja Rote.Bisa kok meminta masuk untuk melihat isinya. Letaknya langsung disamping lapangan. Lalu aku juga sempat terpana dengan sebuah ladang yang ditumbuhi tumbuhan perdu yang daunnya berwarna-warni bagus. Lokasinya di pinggiran jalan antara Baa ke Nemberala. Tanaman itu kuberi nama valentino babaputra. Idih…itu kan kerjaan ahli botanical buat ngasih nama tanaman! Narsis abis! He…he…he…

Surga Bagi Para Surfer

Pulau Rote memiliki banyak sekali spot bagi para peselancar. Sebut saja dua yang terkenal yakni Pantai Nemberala dan Pantai Bo’a. Disini ombaknya paling bagus di Indonesia,begitu ungkap para surfer. Soalnya, angin disini kenceng abis. Malahan, untuk Pantai Bo’a disebut sebagai lokasi dengan kekuatan angin paling kenceng se-Asia. Plus pantai berpasir putih bersihnya bisa menjadi tempak nongkrong disela-sela waktu anda memecah ombak. Dari pantai Bo’a ini kita bisa melihat Pulau Ndana yang menjadi sangketa RI dengan Australia. Di pulau ini terdapat danau juga satwa liar yang terlindung. Anda bisa memakai boat atau jika beruntung, mendapat tumpangan gratis dari nelayan.

Untuk Nemberala,anda bisa menginap di berapa penginapan yang ada. Hanya saja anda tidak akan menemukan gambaran sebuah lokasi tujuan wisata seperti tempat lain pada umumnya karena ngga ada hiruk-pikuk di desa Nemberala. Penginapan selalu ada di pesisir pantai, tapi walau dekat dengan jalan, anda ngga akan menemukan petunjuk pemandu dimana hotel terletak, misalnya:”Hotel anu 100 meter dari sini…” Petunjuk seperti itu ngga ada sama sekali. Jika ngga nanya dulu ke penduduk, anda bisa lewat terus. Kami juga mengalami hal itu. Pas masuk di desa Nemberala, aku menduga daerah itu bukanlah daerah yang kami tujuh karena ngga tanda apa-apa, kendati kami sudah melihat pantainya. Jika saja ban sepeda motor kami ngga kempes, kami pasti ngga akan menemukan pantai Nemberala. Setelah mendorong sepeda motor ke satu-satunya bengkel disana, kami baru tahu bahwa disitulah tujuan kami.

Kami menginap di pondok inap Anugerah,dengan bayaran 200.000 per malam. Lumayan mahal tapi memang umumnya kita ngga bakal bisa dapat penginapan yang lebih murah tapi bagus seperti di Bali. Untuk Rp. 200.000/malam di Anugerah dengan melihat kondisi dan segalah macam factor yang menghidupi sebuah penginapan memang masuk akal. Jarak yang lumayan jauh dari kota Baa, belanja kebutuhan penginapan, perawatan,dll. Kami untuk makan, kita memperoleh makanan prasmanan,makan sesuka kita dengan menu yang lumayan enak. Mungkin karena sebagian besar tamu adalah para surfer yang perlu energi, sehingga soal makanan jadi bagian yang menyenangakan di penginapan-penginapan di Nemberala. Di bibir pantai sudah terlihat bangunan - bangunan berupa villa pribadi atau yang masih berupa kapling. Mungkin, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan wajah pantai Nemberala akan berubah. Kelihatannya memang Nemberala menjadi surga baru wisata yang masih tersembunyi. Mungkin, itu menurutku.

Selain pantai-pantai yang disebutkan diatas, pantai -pantai dibawah ini juga cantik-cantik loh:
Pantai Leli, Pantai Oaseli, Pantai Viulain,Pantai Papela,Pantai Oebao,Pantai Mulut Seribu,dan masih banyak lagi.








Keterangan gambar:

- gambar pertama aku di Pantai Bo'a

- gambar ke-2: peta pulau Rote, Sunset di dermaga Baa,dan aku di dekat Batu Suelay

- gambar ke-3: pagar rumah di Rote yang umumnya memakai susunan batu, gula lempeng hasil dari sadapan lontar

- gambar ke-4: Batu Hun, bekas rumah raja, dan aku di ladang rumput berwarna

- gambar ke-5: semuanya di Pantai Nemberala. Bagus bukan?

- gambar ke-6: pantai Leli dengan pasir kecoklatan, pasir pantai Leli yang halus bagai debu. Sunsetnya bagus karena langitnya jingga.

Tips bepergian ke Rote dan sekitarnya:
- Penerbangan yang melayani rute ke Kupang adalah Merpati, Transnusa, Lion Air, Trigana.
- Anda harus nginap semalam di Kupang, karena kapal fery hanya berangkat pagi hari sekitar jam 8.300-10.30 dari pelabuhan Tenau atau pelabuahan Bolok ke Baa (Rote), ingat, ngga ada pesawat dari luar yang singga di Kupang pagi hari. Umumnya pesawat mendarat di El tari setelah jam 01.00 siang. Jadi anda tidak bisa dalam sehari langsung ke Rote. Info hotel-hotel di Kupang bisa dilihat di: www.kupangklubhouse.com
- Bila ingin langsung ke Nemberala,setibanya di pelabuhan Baa,silahkan mencari angkutan. Biasanya langsung menunggu di bibir dermaga. Ngga susah kok. Anda bisa menggandeng beberapa wisatawan yang memang tujuannya ke Nemberala. Jangan cemas, tiap hari selalu ada surfer yang mau ke Nemberala.
- Khusus di Nemberala, air kran dari beberapa penginapan baru hidup setelah jam 6 sore, kecuali satu atau dua penginapan seperti di Nemberala Beach Hotel atau villa-villa.Demikian pun hp anda hanya akan berfungsi untuk komunikasi setelah jam 6 sore karena listrik yg dipakai pemancar telkom hidup pada jam tersebut. Pakailah provider dari Telkomsel untuk kartu hp anda, karena cuma Telkomsel yang menjangkau wilayah timur Indonesia.
- Sewa sepeda motor di Rote seharga Rp.50.000/hari
- Internet di Kantor Telkom dan Wartel & Warnet “Ricky” (Rp.5000/30 menit
- Penginapan yang bisa anda gunakan di Rote:

* Hotel Ricky,Jl. Gereja Baa
* Hotel Grace, Jl Pabean No 12 Telp. (0380) 871055, Baa
* Anugerah Hotel, Desa Nemberala (0852 39162645)
* Tirosa Home Stay, Desa Nemberala
* Home Stay Talenta Mas, Desa Nemberala
* Nembarala Beach Resort, Desa Nemberala,
klik ke www.nemberalabeachresort.com




Sabtu, Oktober 06, 2007

Jalan - Jalan ke Kufstein & Thiersee (AUSTRIA)


-->
Kufstein-Tirol
Berkemah di Tepi Telaga

Kota Kufstein dengan kastilnya. Foto saya buat dari jembatan.

“Gruss Gott...!”
Jangan heran apabila Anda mendengarnya. Begitulah sapaan sekaligus jawaban dari penduduk setempat untuk ucapan Hallo. Pengertiannya kurang lebih sama dengan Selamat pagi,siang atau sore. 

Gruss Gott, secara literal, sebenarnya ditujuhkan untuk Tuhan (Gott). Namun dipahami serta diterima sebagai wujud syukur kepada Tuhan karena pertemuan dengan seseorang. Atau…barangkali esensinya lebih mendalam lagi yakni:”Salam bagi Tuhan yang berdiam dalam diri Anda.”  Terus terang, saya suka sekali dengan kalimat pendek itu. Singkat tapi bermakna bila direnungkan. 

Alam negeri Austria yang topografinya mengoleksi banyak perbukitan dan gunung, tidak jenuh memamerkan keindahan yang menakjubkan. Sisi kiri-kanan jalan diapit oleh bentangan gunung cadas ditimpali putihnya salju yang menyusup pada lereng-lerengnya serta sebagian besar terkapar agung di atas puncak-puncaknya. Saya tidak mau memejamkan mata selama perjalanan, meski sebetulnya diserbu kantuk.

Plang petunjuk arah lokasi camping sekaligus danau Thiersee

Target persinggahan saya adalah Kufstein, sebuah kota di propinsi Tirol-Austria. Saya penasaran dengan kota itu, yang pada siaran documenter di televisi kelihatan amat menawan dengan kastil di atas bukit. Namun, selain Kufstein, sasaran saya juga adalah ingin ke  Thiersee.  Letak Thiersee di pinggiran kota Kufstein. 

Dari beberapa info saya mendapatkan keterangan bahwa Thiersee tempat menarik untuk berkemah, sebuah kampung tenang dengan danau kecil di tengahnya. Ya, dari namanya juga bisa ditebak. Thiersee artinya Danau Thier (See,bah Jerman=danau). 

Untuk sampai di Thiersee sebelumnya saya harus terlebih dahulu mengitari bukit,berbelok-belok mendaki di antara hutan pinus. Jalannya sangat mulus, bersih, dan tidak ramai. Khas daerah Austria yang segar minim polusi dan tak mengenal kata macet kendati jalur destinasi wisata. Dari jalan utama, kendaraan berbelok menyusuri jalan biasa, kira-kira 15-an menit saya pun sampai kampung tersebut. Plang petunjuk ke arah lokasi berkemah memudahkan saya untuk menemukan lokasi, walau amat sangat baru dan tidak membuka peta.

Sewa lahannya sangat murah untuk berkemah.
Ada fasilitas WC/KM dll tapi ditata dengan apik sehingga kesan naturalnya tetap kuat. 

Air danau nan bening, aman untuk berenang. Ikan-ikan pun hidup dalamnya dengan bebas.

Dari situasi daerahnya, sudah tampak bahwa kampung ini sudah lama terkenal bagi pencinta rekreasi alam. Kendati pemukiman penduduk tidak seberapa banyak tapi fasilitas umumnya lengkap. Akomodasi pun lumayan banyak, mulai dari penyewaan lahan untuk camping, bungalow hingga villa dan resort. Diantara beberapa tempat camping, dua yang cukup popular adalah camping Rueppenhof dan Hiasenhof. 

Nama pertama itulah tempat pilihan saya mendirikan kemah. Disini kita bisa membawa perlengkapan kemah sendiri atau menyewah yang disediakan. Caravan pun banyak terlihat sini. 

Umumnya caravan yang saya temui adalah caravan permanent, maksudnya caravan itutidak berpindah-pindah tempat lagi. Pemiliknya adalah orang-orang yang secara regular mengunjungi danau ini tiap mendapat kesempatan libur. Mereka mengontrak sebidang tanah kecil lalu menempatkan caravannya disana. 

Bayarannya pertahun, kapan pun mareka mau menghabiskan waktu di Thiersee, tinggal datang saja. Makanya, tanah-tanah di sekeliling caravan dikapling, tampak seolah rumah pribadi yang mungil.

Jogging-jogging sebentar keliling danau:)


Sangat tenang dan menentramkan disini. Rerumputannya selalu hijau sepanjang tahun (kecuali musim dingin)

Rueppenhof, tempat dimana saya mendirikan kemah, letaknya langsung di bibir danau sebelah barat daya. Untuk camping dengan tenda sendiri, per malam kita dikenakan biaya 18 Euro, itu sudah termasuk pajak. Toilet, tempat cuci piring dan listrik adalah fasilitasnya. Ada juga toilet khusus untuk anjing peliharaan anda. Semuanya bagus-bagus. 

Air danau Thier berasal dari pegunungan Thierberg di sekelilingnya. Lebar danaunya tidak sampai satu kilometer, cukuplah untuk mengencangkan otot, membakar panas tubuh karena udaranya cukup dingin. Air danaunya bersih sehingga kita tidak perluh pikir dua kali jika mau berenang. 

Punya ide untuk memancing ikan-ikan di danau? Untuk hal ini sepertinya musti dibuang jauh-jauh deh, memancing tidak diperkenankan. Bila ikan berenang di dalam air, maka di atasnya mengapung bebek-bebek danau. Dengan bulu hijau-hitam, mereka seakan melayang di atas permukaan air dalam silentium, hening.

-->
Saat menjelang sunrise. Pegunungan nan jauh di belakang sana adalah Alpen.

Eh, rumah-rumah penduduk disini pun tidak mau kalah, indah-indah loh. Rumah orang Austria bagian ini sedikit unik. Ciri khasnya berlantai dua dengan balkon memanjang di depan lantai kedua, lalu hamper selalu ada nama pemilik rumah diukir indah pada dinding depanya, ditambah lagi hiasan seperti yang terdapat di ujung menara gereja-gereja yang tiang kecil bermotif lalu di ujungnya berbentuk ayam jantan. Warna-warni bunga menyemarakan halaman dan melengkapi keindahan balkon rumah. 

Malam hari begitu damai. Gampang ternyenyak hingga keesokannya suara kicauan burung membangunkan anda.Cukup nikmati kemerduan mereka sambil menatap mentari pagi yang membiaskan cahayanya dari ufuk timur, dari balik pegunungan Alpen nan anggun. 

--> --> --> --> -->