Rabu, Maret 29, 2017

Jalan - Jalan ke Wakatobi (Kaledupa)

Mulia Belia
Kaledupa



Leggo.. Leggo!
Leggo paka koada..!

TERIAKAN ITU MEMBAHANA dari depan losmen tetirah kami. Teriakan yang telah kami tunggu sebenarnya. Saya, Ryan ‘Supir PetePete’ Hidayat, dan Fatris, sontak meraih kamera lalu lari berhamburan keluar dari kamar. Penginapan kami, sebuah rumah panggung dari kayu, berdebuk-debuk oleh derap langkah seisi penghuni. Pasalnya, yang menginap disitu bukan hanya kami bertiga tapi juga jurnalis dari beberapa media. Semua menunggu teriakan serupa.

“Leggo! Leggo…!,” kami menyahut. Sekelompok pria memanggul tandu dengan empat perempuan cilik di atasnya telah berlalu mendekati jalan raya. Ah, kami terlambat. Tapi sejurus kemudian di belakang kami, pada lorong yang sama, muncul lagi kelompok tandu berikutnya. Mereka baru tiba.

Tak hanya anak perempuan, tapi anak laki-laki pun berjuntai banyak perhiasan

Tandu diletakkan di pintu rumah. Dari jarak dekat saya melihat usungannya, dibuat dari sambungan besi, dudukan berlapis bantal terpasang berhadapan. Hiasan warna-warni dari kertas juga kain bercorak cerah ditambahkan. “Tandu dalam bahasa kami disebut Kansoda’a,” kata Asrul salah satu pemikul usungan. “Ada yang terbuat dari kayu atau bambu. Kami pakai besi karena pertimbangan untuk digunakan lagi tahun-tahun mendatang. Besi bukanlah material modern, sudah dipakai berabad-abad oleh leluhur,” terangnya lagi. Saya tidak menepis penjelasannya yang terakhir. Kaledupa adalah satu dari rangkaian kepulauan Wakatobi. Sebelum terbentuk otonom menjadi kabupaten, gugusan nusa-nusa ini lebih dikenal dengan sebutan Kepulauan Pandai Besi, tempat hidup para pelaut sekaligus penempah logam handal.

Dua anak perempuan, berusia sekitar empat atau lima tahun dibopong ke kansoda’a. Keduanya tampak antusias, mungkin ini pengalaman pertama mereka ditandu. Dandanannya semarak. Baju berwarna merah berjuntai manik-manik, serta perhiasan emas. Bawahannya kain panjang juga tiada kurang kilaunya.

Bagian terunik dari riasan mereka yakni rambut. Lihatlah, tatanan poninya, Hebindu, sepintas seperti payes pengantin Jawa namun tidak dilukis melainkan rambut asli mereka yang dipotong demikian. Ada pula Hepupu, konde kerucut yang membumbung, dilengkapi tiga tusuk rambut, Panto namanya. Lalu rambut pada pelipis yang dibuat kaku menjulur bagai lidah, berujung agak melengkung yang mereka sebut Sanggi-sanggi. Ada ornamen titik-titik pada tepinya bersumber dari cairan lengket putih.

Beberapa jam lalu saya diperkenankan melihat seorang gadis dirias. Rambut bagian depan dan pelipis musti digunting sedemikian rupa, lalu dibentuk pipih tipis, melekat tiap helai rambut. Saya tak yakin hal tersebut rela dilakukan gadis yang bukan penduduk setempat. Berjam-jam sang gadis menunggu hingga rekatan rambutnya kuat, barulah wajahnya didandani.

“Leggo! Leggo…!! Leggo paka koada..!,” sahutan itu diteriakan lagi. Dua anak perempuan tadi pun ditandu. Keduanya bagai putri raja. Saya mengikuti sampai ke jalan raya. Astaga, dari berbagai penjuru usungan para gadis ternyata bermunculan. Teriakan Leggo leggo menggema dari berbagai arah.
Juru rias memasangkan Panto, tiga tusuk rambut, pada konde kerucut yang disebut Hepupu

Kansoda'a siap mengangkut para gadis belia

LAPANGAN AMBEWA tumpah ruah oleh warga Kaledupa. Disanalah usungan para gadis berlabuh, diarahkan ke tenda beratap pelepah di tengah lapangan. Hujan yang sempat turun tidak mampu membuyarkan kerumunan massa. Setiap satu tandu masuk, pekik membahana lagi.

“Seruan Leggo bermakna lenggang atau berlengganglah. Semacam yel kebanggaan,” terang Nusi, salah satu personel IWG (Island Working Groups) yang mendampingi kami. IWG adalah pengkoordinasi pengembangan wisata tiap pulau di Wakatobi. Kunjungan kami ke Kaledupa diinisiasi oleh IWG yang bekerjasama dengan FTKP (Forum Tata Kelola Pariwisata) Wakatobi.

“Ritual Karia siap digelar. Para gadis belia yang diusung akan bergabung dengan bayi dan anak laki-laki. Bagi bayi, diadakan akikah. Untuk anak laki-laki dilakukan khitanan. Sementara para gadis menjalani pingitan tradisional serta perjodohan. Tapi perjodohannya tidak bersifat mengikat. Mereka akan memutuskan saat dewasa kelak.” Nusi mengurai panjang lebar. “Ritual Karia intinya untuk merayakan tahapan penting dalam kehidupan manusia, ritual yang memberi keistimewaan bagi para belia Kaledupa,” lanjutnya.

Hanya anak perempuan yang ditandu ke lapangan. Sedangkan anak laki-laki berjalan kaki diiring kerabatnya. “Gadis belia amat disanjung dalam keluarga Kaledupa. Mereka dimuliakan melebihi emas berlian. Dalam momen seperti ini, keluarga akan menunjukkan kebanggaan mereka terhadap anak gadisnya kepada khalayak ramai,” kali ini Nusi berkata dengan berapi-api. Saya melihat kebanggaan di matanya. Oh, mulialah para belia Kaledupa.
Ritual Karia yang dihelat merupakan bagian dari rangkaian Festival Barata Kahedupa. Kemarin kami terlebih dahulu diajak Mursiati dan rekan-rekannya menyaksikan acara pelantikan Lakina, kepala wilayah adat Kaledupa. Bertempat di Baruga Bente yang terapit oleh masjid kuno, pelantikan dihadiri oleh Sultan Buton, La Ode Muhammad Izat Manarfa, secara langsung.

Istilah Barata kurang lebih sama dengan Kecamatan di jaman sekarang, dan seorang Lakina tak berbeda dengan Camat. Tidak ada dualisme kepemimpinan, sebab baik pemerintah maupun adat berjalan seiring, saling melengkapi meski melewati koridor berbeda.

Pengaruh kesultanan Buton masih amat kuat di Kaledupa, begitupun pulau-pulau lain di Wakatobi. Saya menyaksikan sendiri bagaimana penduduk menaru takzim pada sultan. Tatkala bayi-bayi diakikah, satu demi satu orang tua meminta anaknya dijamah sultan, satu sentuhan di kening terasa amat berarti. Pemandangan humanis terpancar  melalui ekspresi sukacita mereka.

Dengan bangga seorang ayah menggendong putrinya yang lucu

Salah satu ulama memegang uang yang diserahkan oleh peserta acara.

Anak laki-laki usai dikhitan, duduk lengkap dengan pakaian tradisionalnya

SEMPAT SEJENAK menepi dari riuh Kaledupa, kami menyeberang ke pulau Hoga. Jarak antara kedua pulau tidaklah jauh namun kapal pengangkut kami memilih terlebih dahulu menyusuri pesisir Kaledupa sebelum berbelok ke dermaga Hoga. Laut surut menyebabkan kami musti berjalan kaki menyisir pantai dari dermaga menuju resort. Tak apa. Saya gemar berjalan kaki, tiga puluh menit tidaklah menjemuhkan, apalagi di bawah kerlip gemintang malam itu.

Pulau Hoga yang berukuran kecil dan tanpa bukit punya reputasi bagus perihal bawah lautnya. Tebing, lembah, pilar-pilar karang ditumbuhi koral. Selain itu ada pula burung serta hewan endemik yang memancing minat peneliti asing, seperti kelompok akademisi Operation Wallacea yang datang regular kesini.

Hoga Island Dive Resort, tempat kami bermalam, diempunyai seorang perempuan Belanda yang tak hanya jatuh hati pada pulau itu namun juga menyelenggarakan aksi  sosial bagi anak-anak pulau. Bungalow-bungalow berbahan kayu yang dibangunnya terlihat serasi dengan pepohonan rindang, gambaran ideal impian liburan tropis bagi orang Eropa. Selepas santap malam, kami menggelar permainan ‘Werewolf’ yang semestinya penuh intrik tapi narasinya malah senantiasa berubah konyol, meledakkan tawa.

Keesokan hari, sebelum kembali ke Kaledupa, kami menjajal bawah laut pulau Hoga. Waktu yang singkat membatasi kami cuma bersnorkel di seputaran dermaga. Koral-koral terbaik terlindungi arus. Saya menginginkan penyelaman, tapi impian itu harus ditahan hingga kami ke pulau Wangi-Wangi nanti.

Bungalow dari kayu dengan hammock di pendopo untuk bermalas-malasan.

Ryan "Supir Pete-Pete" melintas di dekat tulisan Hoga Island Resort

Cahaya malam menciptakan kehangatan tropis dengan pepohonan rindang di area resort

Free dive pada batas antara tebing dengan dataran di laut Pulau Hoga

SETELAH DUA HARI berturut ritual Karia digelar, giliran tari-tarian ditampilkan pada malam terakhir. Masih di lapangan Ambewa, saya menyukai tenda beratap pelepah nyiur yang ditebar interval, sehingga udara bebas bergulir dan kesan naturalistiknya kentara menyatu. Keuntungan lain dari tenda pelepah itu yakni berlimpahnya foto pancar matahari (ray of light) yang terekam kamera saya.

Seiring rancak gong dibunyikan, jejeran hidangan di tenda yang lain pun disibak. Olahan pangan lokal tersaji; kansenga, lapa-lapa, kano, tuku lamba, kentia dole. Andalan lainnya? Sudah pasti menu hasil laut; kepiting berbadan gadang, ikan karang aneka jenis, landak laut, dan cumi-cumi. Semuanya segar gurih tangkapan hari itu. Kami dipersilahkan mencicipi semuanya. Amboi, saya tidak peduli standar kelezatan a la Masterchef Gordon Ramsay. “Lupakan soal kolesterol,” canda Fatris.

Bulu babi (Echinoidea) yang rasanya gurih

Remaja putri kembali hadir, dengan riasan rambut dan pakaian tradisional sediakala. Tidak ada pengeras suara maupun dentum musik masa kini untuk memancing penonton. Lebih bagus memang meredam suara Justin Bieber dalam pentas budaya, dan menempatkan kidung-kidung arkais warisan leluhur di posisi terhormat.

Iamalahu aulah hura, buna iamalahu ura…
Bisa aidina lasulutanu, lambikulia ia saihuna abuduluka…
Etapene ilabana bente, etapene ilabana bente…
Ladaengkarae…
Betakamata…
Eee…kapala simpomoo omba…
Eee…kapala simpomoo omba…
-->
Ladaengkarae…musula mea…

“Lariangi sejatinya tarian klasik dalam istana kesultanan. Dipertontonkan bagi tamu-tamu kehormatan sultan. Segala unsur dalam tarian ini, mulai dari musik, syair, gerakan, hingga atribut kostum penarinya memiliki makna simbolik mengenai kesultanan Buton,” Nusi menjawabi pertanyaan saya. Pantas saja gerakan para penari begitu hikmat.

Tari Lariangi tercipta sekitar abad-14 Masehi. Saat penguasa masa itu, Sultan Wakaaka,  hendak dilawat rombongan dari China Tar-Tar dibawa pimpinan seorang laksamana bernama Chon Ha. Lariangi kemudian diajarkan kepada para gadis Kaledupa (saat itu disebut Barata Kahedupa) pada akhir tahun 1600-an. Kostum yang dikenakan adalah replika pakaian istri sultan. Lagu-lagunya merupakan syair nasihat, tentang percintaan, perantauan, perjanjian. Para penari juga ikut berdendang saat menari, kendati  mereka sendiri sulit memahami arti tiap lirik karena memakai bahasa kuno. “Baru-baru ini Lariangi diusulkan ke UNESCO agar dicantumkan sebagai Warisan Budaya Dunia,” pungkas Nusi.

Hingga malam semakin larut, tari-tarian terus berlanjut.

Kebasan kipas dalam gerak gemulai nan lembut menjadi ciri khas Tari Lariangi

KAMI MENINGGALKAN Kaledupa di waktu subuh. Kapal pengangkut sesak oleh penumpang. Rupanya banyak orang yang datang dari luar pulau untuk menghadiri Festival Barata Kahedupa. Ryan ‘Supir PetePete’ Hidayat dan Fatris lebih gesit bergelayut menuju dek atas kapal, mendahului saya yang sempoyongan karena masih separu mengantuk.

Saya berhasil mendapat tempat duduk, di atas dek juga. Di hadapan saya, seorang ayah merangkul putrinya yang menggemaskan. “Dia ikut ritual Karia kemarin. Maunya dia tetap bersama kakek neneknya, tapi kami harus kembali ke Wangi-Wangi, tempat saya kerja,” kata sang ayah. Dibelainya rambut anaknya, dikecupinya pada ubun-ubun. Saya membayangkan bagaimana mulia putrinya ditandu.

Matahari menyingsing di tepi horizon, muncul dari tengah samudra. Kemuning warnanya menerpa wajah saya, juga wajah dara belia sang ayah. Kapal kami ibarat kansoda’a raksasa, dan riak laut di bawahnya bersorak serupa ceria penduduk Kaledupa

“Leggo.. Leggo! Leggo paka koada..!”

Bias mentari pagi menerpa tubuh penumpang kapal meninggalkan Kaledupa.

Diposting @April 2017 – Valentino Luis
Tulisan ini merupakan naskah asli sebelum dipublikasikan di Majalah National Geographic Traveler (edisi Maret 2017), dengan beberapa penyuntingan oleh tim editorial.

Follow: Instagram atau Facebook

Artikel versi PDF dari National Geographic Traveler bisa dibaca dan diundu gratis disini

LOGISTIK KALEDUPA
Transport: Dari Wangi-Wangi ke Kaledupa, slow boat berangkat di dermaga Mola, jam 09.00 pagi dan jam 13.00 siang setiap hari. Kapal ini transit juga di Pulau Hoga, jadi kalau mau mampir terlebih dahulu di Hoga, boleh turun. Sewa boat Hoga-Kaledupa atau sebaliknya seharga mulai Rp. 50.000.
Akomodasi Kaledupa: Rata-rata penginapan di Kaledupa berupa rumah panggung. Madya Siru Inn (Jl. Poros. T.08219663825), Agung Inn (Kampung Sandi, Kaledupa Selatan, T.085394419844), Isma Inn (T.085656306413), Lyan Inn (T.085298321530).
Akomodasi Pulau Hoga: Penginapan sekaligus layanan diving, Hoga Island Dive Resort, atau Hoga Dive Resort.
Ekplore Lebih ke kampung Bajo Mola, sebuah kampung terapung dihuni suku Bajo, sebelah utara dekat dermaga ke Pulau Hoga. Cukup luas, dan menawan di saat senja.

Keep in Mind bahwa ATM masih sulit di Kaledupa, sehingga bawa uang tunai sangat direkomendasikan.