Rabu, September 14, 2011

Jalan - Jalan ke Riung (Flores)


Meradung Riung
-->
Mendulang Riang

Bentangan padang rumput dan perbukitan eksotis, pulau-pulau kecil dengan pasir putih dan laut bening kaya biota,
Tempat yang mampu menjadikan kita menyatu dengan semesta,merasakan alam, merasakan petualangan


DUA JAM SUDAH lepas dari Ende dan sekarang saya harus berhenti disini, bertanya memastikan arah. Sepeda motorku parkir tepat di depan sebuah kedai sederhana. Seorang ibu dengan bibir merah belepotan sirih pinang memandangku dari sela-sela jejeran toples plastik berisi makanan ringan jualannya.
“Oh, ke Riung? Disini kampung Aegela, Nak. Langsung belok kanan saja. Kira-kira 45km lagi sampai Riung,” jawabnya. “45km lagi? Wah, bakalan lama nih,” keluh saya. “Tidak. Rutenya hanya menurun, tak ada banyak belokan seperti dari Ende kesini tadi.”

Di Flores yang topografinya penuh gunung dan perbukitan, jarak demikian bisa memperpanjang durasi perjalanan. Apalagi seandainya bertemu jalur penuh lubang, apeslah kita. Jadi, meskipun si ibu mengatakan tak jauh, saya tetap risau karena waktu sudah di ambang sore sementara saya belum tahu mau menginap dimana nantinya.

Tapi mau tak mau, saya toh menuruti kata ibu itu juga. Kembali mesin sepeda motorku mengaum. Saya melewati pundak bukit dengan pemandangan padang rumput dimana-mana. Jalanan memang semata menurun dengan kondisi aspal baik, cuma sesekali saya harus menepi sejenak gara-gara truk dan bus besar yang lewat, mereka mengambil hampir seluruh badan jalan. Tak masalah, justruh saya memperoleh kesempatan untuk merenggangkan kaki. Atau bila lokasinya bagus, tak segan saya menghabiskan beberapa menit untuk memotret sabana yang diselingi pepohonan. Saat-saat demikian saya merasa terlempar ke dunia lain.

-->
Aspal mulus berakhir taktala saya memasuki wilayah Mbai. Jalanan mulai memaparkan kontrasi menyolok antara debu kesoklatan yang beterbangan dengan sawah-sawah nan teduh dan hijau. Saya berhenti dan bertanya beberapa kali kepada penduduk sekitar, maklum tak ada marka petunjuk arah. Peribahasa ‘malu bertanya sesat di jalan’ muncul terus di benak saya. Saya tak bisa untuk tak bersyukur, semenjak memilih menjadi backpacker, keenggananku untuk berkomunikasi, sifat pemaluku, maupun ketidakacuanku terhadap orang lain pelan-pelan tergerus. Saya yang dulunya suka memilih ‘yang aman-aman’ kini telah terbiasa menghadapi resiko dan bertaruh dengan nasib. Baik di negeri orang, baik di negeri sendiri.




Lepas dari Mbai, ban sepeda motorku bergelinjang di jalanan berbatu. Bisa dibilang inilah ‘Via Dolorosa’ menuju surga bernama Riung. Kurang lebih 15km saya musti merelakan badan saya terombang-ambing. Anehnya, bukannya stress, saya malah tertawa kegirangan. Barangkali andrenalin petualanganku termuntahkan disini. 

Dalam kondisi yang dramatis seperti itu, saya dianugerahi pemandangan eksotisme alam. Bukit-bukit kecil indah bersapukan rerumputan pendek pada kakinya, ilalang seakan terpatri rimbun beserta pohon yang meranggas kekurangan daun. Saya menjejaki padang, berlari bagaikan koboi kehilangan kuda. Sewaktu nafasku tersenggal dan tubuhku terkapar di atas rerumputan, saya bertanya dalam hati ”apakah saya sedang berada di padang New Mexico Amerika atau Heysen Trail Australia?”

Langit telah merona, pertanda petang membayang. Saya mendapati lagi jalanan dengan aspal yang landai dan mulus. Meski begitu, saya tak menghentak gas sepeda motorku keras-keras karena rute yang saya lewati pun sama sekali tak membebaskanku untuk berpacu secepat kumau. Disini banyak sapi dan kerbau yang gemar memotong jalan. Sisi jalan yang ditumbuhi alang setinggi badanku merupakan jebakan, dimana hewan-hewan tersebut bersembunyi lalu tiba-tiba meloncat keluar tanpa kendali. Sesekali petani melambaikan tangan ke arahku, melupakan beban yang menumpuk di bahu. Saya menyetel musik country kesukaaanku, pas rasanya melewati jalanan sepi ini, mendengarkan petikan gitar dan suara berat dari Willie Nelson “On The Road Again”:

and I can’t wait to get on the road again……
goin’ places that I’ve never been
-->
seein’ things that may never see again….



TEPAT JAM 6 SORE saya sampai di Riung. Sesudah melihat-lihat satu dua penginapan, akhirnya saya memilih melabuhkan diri ke penginapan Pondok SVD. Tempatnya sederhana namun cukuplah untuk bermalam. Saya berkeliling sejenak ke area sekitar penginapan hingga ke dermaga, semacam inspeksi singkat pengenalan lingkungan. 

Makan malam, saya dikejutkan oleh fakta bahwa makan di Riung tak hanya mahal tapi juga mempunya gaya penyajian yang aneh. Semua warung dan restoran sama. Di Riung, nasi ikan artinya semangkuk besar nasi putih dan ikan sepiring. Titik. Tanpa secuil sayur atau lauk lain seperti nasi ikan atau nasi campur yang biasa saya dapatkan di warung-warung umumnya. Jangan coba minta diberi kua, sebab yang datang pun bakalan kua semangkuk besar dan harganya beda lagi. Alhasil saat bon datang, saya terbelalak kaget.

Keesokannya saya bangun pagi-pagi lalu ke dermaga. Tujuan saya yakni mencari informasi perihal kapal motor untuk ekskursi mengunjungi kawasan wisata 17 pulau, jika dapat, niatnya sekalian tawar-menawar harga. Saya bertemu dan berkenalan dengan sepasang wisatawan asal Italia, tujuan kami sama. Melalui silat lidah yang jenaka, saya berhasil memperoleh harga yang pas ke salah satu pemilik kapal motor. Senangnya lagi, harga yang saya cetuskan dibayarkan semua oleh pasangan itu. Jadilah saya menumpang gratis. Oya, saya juga bebas bea masuk kawasan wisata. Saya tak tahu kenapa bisa. Mungkin, saya dikira guidenya pasangan Italia itu.

-->
Berdasarkan kesepakatan, kami mengunjungi lima pulau. Itu cukup untuk trip sehari, termasuk snorkeling di tengah laut. Pulau pertama yang kami singgahi adalah pulau kelelawar. Wah, saya takjub melihat ribuan binatang mamalia seukuran tikus kota ini bergelantungan di ranting pohon. Kedatangan kami yang senyap berubah menjadi pekik tak berkesudahan manakala juru mudi kapal menepukan tangannya. Hewan bernama latin Chiroptera tersebut pun berhamburan terbang kesana kemari.




Pulau kedua membuat saya bagaikan tengah berbulan madu. Pasirnya begitu putih bersih dengan lekukan yang bagus. Air lautnya berwarna biru hijau dibayangi koral. Saya iri bukan main melihat kemesraan kenalan saya pasangan Italia itu. Kami berleha-leha disana lantas lanjut ke pulau berikutnya yang juga menawarkan pasir putih dengan keteduhan pohon-pohon kelapa.

Kapal digerakan agak ke tengah laut, tak jauh dari pulau-pulau yang kami datangi sebelumnya. Saatnya kami snorkeling. Saya antusias karena ini pengalaman pertama. Dengan sabar dan telaten, juru mudi kapal kami mengajarkan cara penggunaan alat dan teknik bersnorkeling kepada saya. Awalnya saya kesulitan, tak terbiasa bernafas lewat mulut melalui selang, alhasil saya terus tersedak dan megap-megap kehabisan nafas. Dasar keras kepala, saya pantang menyerah mencoba menyesuaikan diri. Hingga akhirnya saya mampu melesat hilir mudik di dalam laut, meletupkan semangat serta terpesona pada kehidupan bawah laut. Ikan dan terumbu karang berwarna-warni. Sangat spektakuler.

-->
Di pulau keempat kami manfaatkan untuk makan siang. Saya yang baru saja merasakan keajaiban bawah laut, lagi-lagi menceburkan diri segera setelah makan. Bagusnya pulau ini dikelilingi koral, saya berkosentrasi mengamati rupa-rupa model ikan dan terumbu karang. Ya, namanya juga newbie, tentu saja semua terasa luar biasa bagiku. Terakhir di pulau kelima, setengah jam saja saya mencelupkan diri, selebihnya saya hanyut dalam mimpi siang, terbujur di atas pasir putih nan halus. Dalam belaian angin dan desir desau ombak, saya mendengar kidung rindu, nyanyian Riung yang memanggil anak cucu para pelaut ulung bangsa ini untuk mengunjunginya.






DUA JAM SUDAH lepas dari Riung, saya masih merasa perutku tak perluh diisi apa-apa dulu. Ya, sarapan pagiku tadi sedikit berbeda dari sarapan kemarin. Nasi goreng apa adanya berubah menjadi nasi goreng campur sari. Meski masih dalam porsi jumbo, tapi yang penting tak sekedar nasi yang dibaluri minyak. Sepulangnya dari eksursi di pulau-pulau kemarin sore, saya memang ‘curhat’ ke tukang masak penginapan perihal makanan.

-->
Saya tersenyum. Kini sepanjang jalan menuju Bajawa, giliran pohon-pohon bambu membungkukan badan, seolah memberi salam bagi setiap yang berlalu di bawahnya. Saya mengenang hari-hari sebelumnya, tentang perjalanan membela padang rumput, tentang tubuh yang tergoncang batu jalanan, tentang pulau-pulau dan laut mempesona. Saya telah merandung Riung, dan mendulang riang disana.




PS: baca juga kisah jalan-jalan ke kota Bajawa).

MARI MENDULANG RIANG DENGAN JALAN - JALAN KE RIUNG!
FAKTA: Kawasan wisata 17 Pulau Riung adalah gugusan kepulauan yang tak dihuni manusia dan dilindungi pemerintah. Terletak di pesisir utara Kabupaten Ngada- Flores, nama “17 Pulau” dipakai kawasan ini sebagai pengingat tanggal kemerdekaan Indonesia sebab jumlah pulau sesungguhnya melebihi 17 buah. Selain keindahan pantai dan biota bawah lautnya, beberapa pulau di kawasan ini juga menjadi tempat huni bagi reptil purba Komodo tapi ukurannya lebih kecil.
HOW TO GET THERE: Penerbangan domestik dari Jakarta menujuh bandar udara Ende maupun Bajawa. Kemudian dengan mobil atau sepeda motor dari kedua kota tersebut memakan waktu ± 3 jam ke Riung. Opsi perjalanan laut yakni dengan ferry Pelni tujuan pelabuhan Marapokot Mbai atau pelabuhan Ipi Ende (check www.pelni.com).
WHERE TO SLEEP: Penginapan Pondok SVD (mulai Rp. 150.000) kontak 081339341572/ 081339467082, Bintang Wisata Hotel & Restaurant (mulai Rp. 150.000) kontak 081339164404, Nirvana Bungalow (mulai Rp. 175.000).
LAIN-LAIN: Penyewaan kapal motor menujuh pulau-pulau bisa diperoleh di dermaga Riung. Lakukan negoisasi untuk harga yang bagus serta durasi trip (mulai Rp. 150.000/dua orang, tidak termasuk tiket ijin kapal dan makan siang, kontak Abry 082147742900). Tiket masuk kawasan wisata Rp. 2000/orang domestik, tiket ijin kapal Rp. 25.000/kapal.
Listrik di Riung hanya beroperasi jam 18 petang hingga subuh, manfaatkan itu untuk mencharge baterei ponsel atau kamera. Untuk komunikasi via ponsel, hanya aktif jika menggunakan kartu Telkomsel (AS atau Simpati).

- SEMUA PHOTO ADALAH PRODUK PRIBADI
-->