Rabu, Februari 17, 2016

Jalan - Jalan ke Kupang (Timor)

Tabir Keindahan
KUPANG

Belum banyak yang tahu pesona Kota Karang. 
Hal-hal memikatnya memang masih tersembunyi,
dan butuh taktik untuk menyingkap serta menikmatinya.

Warna cerah Pohon Flamboyan - Kupang

Ada yang beda bila ke Kupang di penghujung tahun. Kota di atas karang ini berubah ceria manakala pohon-pohon Flamboyan memekarkan bunganya. Warna merah menyolok dari kembang-kembang itu berpadu kontras dengan langit biru. Bila melintas di bawah pohonnya, seolah ada pesona aneh menguar.

“Sayangnya mereka tumbuh secara acak. Coba, jika ada pihak yang tanggap dengan keistimewaan ini, lalu menanam pohon Flamboyan kiri-kanan di salah satu ruas jalan khusus, semacam koridor Flamboyan. Sehingga pas musimnya berbunga,  keindahnya lebih kentara, lebih apik tertata. Itu bisa jadi festival musiman dan maskot kota ini, menjembatani wisata yang lain, momentum untuk ‘menjual’ destinasi-destinasi daerah,” kata Indri Juwono, travel blogger sekaligus arsitek yang gemar bepergian ke berbagai daerah di Indonesia.

Pantai Tablolong di waktu senja menjelang - Kupang

Suasana Dermaga Kupang, tampak pabrik Semen Kupang

“Benar. Jepang punya festival Sakura yang memancing orang untuk kesana. Tentu Kupang juga bisa. Alam sudah menyediakan, tinggal dioptimalkan. Bikin sesuatu yang otentik, yang berasal dari daerah sendiri. Ketimbang membangun monumen dari beton, mending nanam pohon, lihatnya berbunga bikin hati adem dan membantu menyaring udara, membuat sejuk Kupang,” timpal Dea Sihotang, juga seorang travel blogger.

Saya, Indri, Dea, serta sembilan travel blogger lainnya datang ke Kupang untuk melakukan trip Explore Timor, diundang oleh Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) NTT. Trip ini bertujuan untuk menyingkap tabir keindahan pulau Timor yang belum banyak diketahui publik, mengenalkannya lewat tulisan serta foto. Inisiatif Asita NTT memang jitu. Harus diakui, media sosial masa kini adalah alat yang tepat untuk mempromosikan wisata. Disitulah peran travel blogger, travel writer serta travel photographer dibutuhkan. Termasuk mengangkat hal-hal kasat mata yang sebetulnya menarik tapi luput dari perhatian, misalnya soal Kupang dengan bunga Flamboyan tadi. 

Warna-Warni Grafitti  Kota Tua Kupang

Kuburan Belanda - Kupang

KUPANG “MUST SEE”
Pantai Tablolong adalah tempat elok pertama yang kami datangi usai check-in hotel. Pasirnya yang putih bersih, laut biru yang teduh tenang, dipuncaki momen matahari terbenam, adalah prolog yang baik bagi permulaan perjalanan kami. Saya sebetulnya sudah sering ke Kupang, tapi nama Pantai Tablolong ini baru terngiang kali ini. Disini saya menyadari bahwa seberapa sering kita pergi ke sebuah daerah, jika hanya berkutat di obyek yang itu-itu saja, jelas  bukan jaminan seberapa banyak yang bisa kita ketahui.

Bukan hanya soal seberapa sering kita mengeksplor, namun juga soal seberapa lihai kita memperhitungkan waktu yang tepat. Oleh karena itu, sepatutnya kita tahu kapan waktu terbaik mengunjungi sebuah destinasi. Contohnya, kunjungan kami ke Gua Kristal. Kami harus melakukannya dua kali, lantaran kunjungan pertama sebelumnya  kami tiba sore hari, dimana cahaya matahari telah berkurang, membuat gua berair biru itu tidak secemerlang seperti seharusnya. Waktu terbaik ke Gua Kristal memang musti tengah hari, antara jam 11 sampai jam 14 siang. Menceburkan diri ke dalam airnya yang diterangi oleh sinar alami adalah sensasi istimewa.

Air Terjun Oanesu - Kupang

Gua Kristal - Kupang

Demikianpun bila mendatangi Air Terjun Oenesu. Perluh mengatur timing yang tepat. Ketika saya menunjukkan foto air terjun ini yang tampak berkelimpahan air serta rimbun menghijau, ada teman yang bingung, sebab katanya saat dia berkunjung kesana debit airnya sedikit, pepohonan meranggas. Saya jelaskan, Air Terjun Oenesu itu bagusnya didatangi musim penghujan, antara Februari hingga Mei. Berkunjunglah pagi-pagi sekali saat sinar matahari tidak terlalu kuat, sehingga aura mistisnya tampak. Hindari pula datang saat hari libur atau akhir pekan, sebab akan ada banyak orang disana. Selain merusak kesan sunyi, kunjungan yang ramai juga membawa banyak sampah plastik. 

Saya selalu memegang pedoman ini: ‘Every place has its special moment. Setiap tempat punya momen istimewanya sendiri-sendiri’. Jadi, jika kecewa pada sebuah lokasi yang tidak sesuai ekspetasi, jangan serta merta menyalahkan tempatnya, siapa tahu kitalah yang salah karena tak pandai memahami momen istimewa tempat itu.

SEMAU NAN MEMUKAU
Kebahagiaan lain dalam trip Explore Timor saya rasakan manakala diberi kesempatan menjenguk Pulau Semau. Bagi saya perjalanan menyambangi pulau seluas 143 km2 ini sungguh sebuah petualangan funki; menyenangkan tapi dalam konsepsi yang ganjil. 

Pantai Onanbalu - Pulau Semau

Pantai Otan - Pulau Semau

Dermaga Pulau Semau
Berangkat dari pelabuhan Tenau di pagi berlaut teduh, kami menyeberang dengan kapal kayu kecil selama 30 menit menuju Onan Batu, kuala  berair kehijauan yang menjadi pelabuhan Pulau Semau. Kami membawaserta sepeda motor dari Kupang lantaran transportasi darat di pulau bernama asli Nusa Bungtilu ini belum memadai, begitupun kondisi jalannya. Iring-iringan sepeda motor kami melindas jalan berbatu di bawah terik Surya sembari ditatapi dengan pandangan aneh oleh penduduk setempat.

Incaran kami adalah pantai-pantai molek di pesisir barat, dan demi itu kami butuh sedikit perjuangan melawan kejemuhan akibat suhu panas serta jarak yang agak jauh. Namun ganjarannya adalah pertemuan dengan satu per satu pantai berpasir putih dengan komposisi maupun gradasi warna laut yang seduktif.  Pantai Otan, Pantai Onanbalu, Pantai Uimake, dan Pantai Uitiuhtuan sambung menyambung memunculkan decak kagum. 

Sunset Bukit Liman - Pulau Semau
Menjelang senja, kami tiba di Bukit Liman yang tak cuma diapit dua pantai amat panjang dan lapang, namun juga menghidangkan panorama kelas wahid. Ini bisa jadi tempat yang paling menawan dalam wilayah Kupang-Semau yang saya jumpai. Rupa bukit yang semata ditutupi rumput tipis, memudahkan kami menjangkau puncaknya dengan sepeda motor. Sulit menguraikan keindahan yang saya temukan di atas Bukit Liman ini. Dua pantai yang mengapitnya memiliki lebar serta panjang pasir putih yang menghipnotis. Saat bola bulat matahari hilang pelan di ujung kaki langit dalam balutan warna merah angkasa, sesuatu yang intoxicate seakan menyusupi indra penglihatan saya.

“Sebagian tabir keindahan telah tersingkap. Kupang hingga Semau tiada bedanya kembang Flamboyan liar. Memesona, namun menanti hati yang tergerak menata dan mendayaupayakan potensinya, ” kata Dea saat kami pelan beranjak meninggalkan Bukit Liman.

Ayo, ketong beking Kupang bagus,kaka!

Selasa, Februari 02, 2016

Jalan - Jalan ke Jatiluwih (Bali)

Jatuh Hati Pada
JATILUWIH

Salah satu kawasan World Heritage Site di Indonesia, tempat elok untuk menyongsong pagi di antara teras-teras padi menghijau sembari belajar memahami sistem irigasi lokal Bali.



D
itingkahi gerit serangga malam, alunan lembut instrumen “Melody of Peace” gubahan Gus Teja terdengar menentramkan dari pemutar musik di penginapan sederhana yang saya datangi. Pekat telah menyelimuti jagat raya sesampainya saya di Jatiluwih. Udara yang dingin segar menebar ke segala arah mata angin. Saya menarik selimut, namun tetap mendengarkan satu demi satu lantunan lain dari musik Gus Teja. Ada kedamaian tersirat dari tiap nadanya.
           
Bumi Bali memang spesial. Selain budayanya yang unik, pulau seluas 5,780.06 km2 ini pun diberkahi alam permai. Lihat saja, mulai dari kedalaman laut, pantai, hingga gunung, Bali sanggup memikat siapa saja untuk mengabadikannya. Tak ayal, para seniman lokal maupun internasional menjadikan nusa yang penduduknya mayoritas beragama Hindu ini sebagai sumber inspirasi.

Persawahan merupakan satu dari aspek yang membuat Bali indah dipandang mata dan bagus secara sinematografis. Ketika film Holywood Eat,Pray,Love yang dibintangi Julia Roberts diambil gambarnya di Bali, rekaman pemandangan persawahan cukup mencuri perhatian. Begitupun halnya film klasik Bali Paradise karya James Fitzpatrick buatan tahun 1932 yang tergadang sebagai film asing pertama yang menampilkann keeksotisan Bali. 

Mengambil bibit padi
Layer pada sawah menciptakan keindahan sendiri
Sebagai daerah yang pada mulanya menyandarkan hasil agraris untuk penopang hidup, Bali telah lama mengembangkan sistem persawahan. Malah, masyarakatnya menetapkan pola penerapan irigasi unik bernama ‘Subak’ yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Dari Subak inilah kebijakan pengaturan irigasi untuk keuntungan bersama dikembangkan. Kendati kini jumlah lahan persawahan kian menyusut oleh kebutuhan pemukiman atau pengembangan wisata, namun masih banyak orang Bali yang patuh dan mempertahankan sawah mereka. 

KEISTIMEWAAN JATILUWIH
Wilayah Bali yang lahannya cukup besar terisi oleh persawahan adalah Kabupaten Tabanan. Daerah yang berada di sisi barat pulau ini dikenal juga sebagai lumbung beras bagi Bali. Satu dari sekian desa yang terisi oleh persawahan di Tabanan yakni desa Jatiluwih.

Keistimewaan persawahan Jatiluwih terletak pada topografinya yang berlekuk-lekuk, sawah bertingkat, kemudian disempurnakan oleh latar belakang barisan pegunungan. Dari Jatiluwih dengan jelas mata bisa menangkap bayangan Gunung Agung dan Gunung Batukaru. Atas alasan estetis itulah makanya saya mendatani Jatiluwih.

Plakat UNESCO World Heritage Site

Pura Batukaru
Tempat ini menyajikan panorama yang istimewa lantaran areanya lumayan luas, tidak seperti persawahan berundak di sekitar Tegalalang, dekat Ubud, yang tak seberapa ukurannya. Selain itu aktifitas para petani lebih mudah dijumpai. Di Jatiluwih orang-orang dapat melakukan trekking menyusuri pematang sawah dengan bebas. Selain itu sejumlah tur dengan mobil antik semisal Volkswagen Tour yang beratap terbuka juga telah menjadikan rute Jatiluwih sebagai destinasi wajib.

Saya begitu berhasrat untuk memotret persawahan Jatiluwih saat pagi hari, tepatnya momen matahari terbit di samping Gunung Agung. Berada di tengah sawah dengan vista demikian, apalagi suasana yang begitu hening, merupakan pengalaman menentramkan sekaligus ajaib.

Posisi paling ideal yaitu di kawasan yang terdapat monumen plakat UNESCO. Mungkin belum banyak yang tahu, sistem irigasi serta tata alam Bali telah berpredikat World Heritage Site sejak tahun 2012. Jadi, tentu saja sebuah keistimewaan bila datang dan memotret di Jatiluwih.


Organic Food at Waka Restaurant

Puas mengabadikan persawahan dan saat- saat terbitnya matahari, giliran restoran-restoran lokal menghidangkan menu santap siang organik. Andalan disini adalah nasi dari beras merah. Pilihannya bisa langsung ke jejeran resto di pinggir sawah atau jika mau yang lebih alami dan tersembunyi. Lengkapi juga dengan kunjungan ke Pura Batukaru yang berada di tengah hutan terdekatnya.

MENUJU KE SANA

Ada dua pilihan untuk ke Jatiluwih, tergantung dari mana kita datang. Jika dari area Kuta dan sekitarnya, tinggal mengambil jalur menuju Tabanan yakni ke kota Tuban (satu arah ke Gilimanuk), kemudian berbeloklah ke kanan sesuai petunjuk arah. Kira-kira dua jam. Jika dari Ubud atau Bedugul, dapat mengikuti jalur ke Mengwi. Durasinya kurang lebih satu jam.

Hot & Cold collide 
Di Jatiluwih terdapat sejumlah penginapan, dengan harga variatif mulai dari Rp.100.000 hingga vila dengan kamar senilai 1 jutaan. Tinggal pilih berdasarkan kebutuhan dan selera. Untuk saya pribadi, masalah akomodasi bukanlah hal serius. Yang penting bersih dan aman, sudah cukup.

Tidak jauh dari persawahan, terdapat pemandian air panas Jasrih. Letaknya di lereng bukit. Pemandian ini lumayan terawatt, dihiasi sawah bertingkat juga. Selain sebuah kolam di samping air pancuran, juga terdapat bilik-bilik khusus dengan kondisi yang bersih. Sangat cocok berendam disini satu dua jam melawan suhu yang cenderung dingin.

Bali tak melulu debur ombak, hiruk pikuk kawasan belanja, atau destinasi-destinasi yang ramai. Bertandanglah ke Jatiluwih, menginaplah barang semalam dan banun pagi-pagi untuk menyongsong Sang Surya. Saya yakin Anda akan jatuh cinta pada tempat ini. 

Teks & Photo : Valentino Luis

Artikel ini dimuat di LIONMAG edisi Februari 2016