Kamis, Juni 26, 2008

Jalan - Jalan Ke Dresden (Jerman)


















DRESDEN:

Susahnya Menampik Godaan
Si ElbFlorenz...!

Millions uncounted in fallen formation
yet all justified.
The crux of it--Deep, then, in the darkness of your Dreaming…
remember that center-flower, then--
even when you in your loveliness look alone,
somehow it goes beyond sieges, Plans,
decrypting messages and Fate.
enterprising young man,
never before…yet now. Like all that softness and over still.
My Dresden


SEBUAH paragraph pernah tertulis begini: ….”With a pleasant location and a mild climate on the Elbe, as well as Baroque-style architecture and numerous world-renowned museums and art collections, Dresden has been called "Elbflorenz" (Florence of the Elbe)”……….

Mungkin pabila Bos membaca kalimat ini, Bos akan mengerti kenapa saya memberi judul travel report ke kota ini dengan julukan ‘Si Elbflorenz’. Sejujurnya gelar itu sudah berkumandang puluhan bahkan ratusan tahun sebelum saya lahir.

Ini bukan imajinasi saya.

Saya bukanlah pribadi pertama dan satu-satunya. Seorang penyair bernama Herder-lah yang pertama menghembuskan julukan itu: Florenz di Elbe. Memang tak perluh diperdebatkan lagi julukan demikian sudah pantas disandang kota yang di lidah orang Ceko menyebutnya Drážďany dan orang Polandia menyebutnya dengan Drezno ini. Orang akan mengingat sebuah kota hebat di Toskana, Italia sana. Dimana tempat lahirnya seniman-seniman besar negara Azzuri itu ( lebih tentang Florenz, baca tulisanku sebelumya: Jalan-jalan ke Italia).












ELBE adalah sungai besar yang melewati kota Dresden. Yang jika menelusuri alirannya, setelah Dresden, sungai ini akan membelah diri menjadi tiga, pertama ke sebelah timur Ore Mountains yang nantinya terus menujuh selatan. Belahan kedua sungai ini yakni ke lembah curam Lusatian yang akan terus menujuh utara. Dan belahan ketiga ke Elbe Sandstone Mountains yang bakal bersusur menujuh timur.

Well, Apa saja yang bisa Bos nikmati di kota yang berjarak 200km dari Berlin ini?

Mari ikuti saya, kita jalan – jalan ke Dresden…

SEBAGAI kota terbesar ke-empat di Jerman (setelah Berlin, Hamburg, dan Köln), Dresden mengklaim diri sebagai salah satu kota terhijau di Eropa. Ini karena ia memiliki kawasan hijau kota sepanjang 50km dan diberi nama Dresdner Heide.


Dari Hannover saya meluncur jam 3 sore.

Planning akan menginap di daerah luar kota. Namanya juga backpacker. Tapi tempat menginap saya cuma 15 menit kok dari pusat kota. Buat saya, ini sebuah kemudahan, selain tentu saja biayanya jadi billiger, ketenangan juga dapat dirasakan. Terus terang, walau masih muda tapi saya bukan type orang yang suka berada di lingkungan yang hiruk-pikuk seakan tak pernah mengenal tidur. Tiba di Dresden sudah gelap, kira-kira jam 9 malam.

Gara-gara sempat terjebak macet, apalagi kalau keluar rumah jam 3 sore adalah jam pulang kantor, bertepatan lagi akhir pekan dimana hampir semua orang mau menghabiskan waktu untuk pergi berlibur di luar kota. Itulah Jerman, negara yang penduduknya gemar melakukan perjalanan. Setelah sampai di pension, saya pun istirahat sambil bembolak-balik beberapa majalah tentang kota Dresden.


PAGI-PAGI benar jam 6 saya sudah siap ke kota. Hari cerah, udara cukup hangat. Saya yakin akan sangat menyenangkan hari ini. Bagi saya waktu pagi-pagi adalah saat yang tepat untuk datang ke sebuah kota yang sudah terkenal dengan wisatanya. Soalnya, jika kita datang pagi-pagi, gerak kita lebih leluasa, tempat-tempat masih sepih dari tumpah rua pengunjung. Dan dengan suasana pagi yang cerah, rasanya sangat cocok pula untuk mengambil banyak foto.



FRAUENKIRCHE.

Memang benar, mobil langsung ke kawasan kota tua. Saya sudah sumringah dengan beberapa bangunan di depan mata saya. Kebetulan mobil kami parkir di dekat gereja Frauenkirche. Wah, asyik nih, masih sepih betul. Gereja ini amat cantik di pagi hari dengan bangunannya yang tertimpa cahaya matahari pagi keemasan. Masih terasa baru setelah rekonstruksi yang selesai tahun 2005 lalu, satu tahun sebelum Dresden merayakan ulang tahunnya ke-800. Ini merupakan an impressive symbol setelah rekonsiliasi paskah PD II.

Konsekrasi bangunan ini menarik minat seluruh dunia. Tercatat setelah kembali berdiri dari puing-puing kehancuran, Frauenkirche telah dikunjungi (pengunjung yang masuk ke dalam gereja) lebih dari 2 juta orang. Awal berdirinya gereja ini pada tahun 1726 seturut design George Bähr. Domenya yang berkarakter ‘Stone bell’ yang roboh pada tanggal 15 February 1945 dibawah hujan bom PD II. Sayangnya, hari itu pengunjung tidak bisa menikmati keindahan interior gereja yang amat penting bagi umat Protestant Jerman karena gereja dipakai untuk pernikahan. Tapi, saya tetap tidak menyesal karena dengan ticket seharga 5 Euro saya bisa naik ke atas menara dan menikmati kota Dresden dari atas kubah. Nah, pas turun dari kubah, saya sempat melongok interior bangunan ini. Karena dibatasi kaca, saya sempatkan mengambil foto sebagian ornamen ceiling gerejanya.

BAGUSNYA lokasi ini dikitari oleh banyak sekali bangunan bersejarah yang bagus. Di belakang kanan gereja terdapat pasar souvenir dan kafe yang menarik. Lalu terus berjalan ke belakangnya ada bangunan yang dindingnya penuh dengan lukisan yang indah berwarna kuning-abu-hitam. Lukisan bercerita tentang masa-masa kerajaan jaman dulu. Augustustrasse, di mana mural porselain bernama ‘Procession of Princess’ berdiri megah sepanjang 102 meter.


CATEDRAL DRESDEN. Dikenal juga dengan Dresdner Dom, tempat ibadat umat Katolik ini kental bernuansa Barok yang diotaki oleh seniman Italia, Gaetano Chiaveri dari tahun 1738-1754. Sekaligus menjadi gereja terbesar di negara bagian Saxony. Memasuki bagian dalam gereja ini, saya begitu terkesima dengan ornament hiasan yang mewah, sebut saja Mimbar Roccoto yang dibuat Balthasar Pelmoser, organ indah karya Silberman Gottfried, serta Pieta Dresden gaya China yang adalah buah cipta Friedrich Press. Di bagian bawah tanah, kita bisa menemukan sarkofagus kaum Wettins lalu sebuah kotak yang katanya berisikan jantung raja Augustus.


SATU lagi gereja di Dresden yang sudah sangat popular di Jerman adalah gereja KREUZKIRCHE, yang bernuansa perpaduan gaya Barok terakhir dan gaya Clasistik permulaan. Dibangun pada tahun 1764-1800, Kreuzkirche punya reputasi bagus dengan paduan suara anak-anak dan remaja “Kreuzchor.” Bagi anak-anak Dresden, menjadi anggota paduan suara ini adalah sebuah prestasi luar biasa, apalagi jika terpili menjadi solois. Sebuah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari 700 tahun.

Petunjuk lain bahwa Dresden punya nama besar di bidang musik gereja adalah relief sandstone di Wedding Chapel yang melukiskan potret Heinrich Schütz, toko yang disebut-sebut sebagai ‘Father of German Music.’ Beliau adalah seorang Hofkapellmeister, ( pemimpin musik orkestra gereja) selama 55 tahun di Dresden. Oya, sama halnya dengan Frauenkirche, dari menara gereja ini kita bisa melihat kota Dresden dari atas.

MASIH di Altstadt, bagian kota tua, saya menemukan satu lagi mascot kota Dresden. Apalagi kalau bukan SEMPEROPER HAUSE. Halaman depannya berdiri patung kaisar dengan kuda tunggangannya. Bangunan ini amat lekat dengan kota Dresden. Nyaris, nama besar Dresden cukup diwalikan oleh gedung pertunjukkan musik opera ini. Semperoper adalah salah satu dari 5 gedung opera terbaik di dunia. Dibangun pada tahun 1838-1941 oleh Gottfried Semper, mengertilah kenapa gedung ini diberi nama SemperOper. Bangunan indah ini sempat pula dihanguskan api pada tahun 1869 lantas rebuilt lagi dari tahun 1871-1978 seturut gaya High Renaissance’s Gottfried oleh putra Gottfried sendiri, Manfred Semper.

TETANGGA dekat Semperoper adalah Der ZWINGER. Oleh Pöppelmann, bangunan luar biasa ini dibangun selama 18 tahun, dari tahun 1710 hingga 1728. Saking senangnya dan mau merekamnya dalam video, saya gelagapan setengah mati begitu tahu kaset Handycam-ku tidak ada yang kosong. Pontang-pantinglah saya mencari toko yang menjualnya. Sampai masuk ke Neustadt pun tidak ketemu, kebiasaan, kalau akhir pekan hampir semua toko pada tutup. Susur punya susur, adalah satu supermarket yang justruh amat dekat dengan lokasi kami sebelumnya. Wuih..hhh, tahu begini, kenapa mau mutar kota berlama-lama?

Bekerja sama dengan pemahat Permoser, Pöppelmann pada mulanya mendesain tempat ini sebagai sebuah orangery dan tempat perhelatan berbagai festival.

Kemudian hari menjadi tempat exhibition. Halaman dalamnya cukup lapang dan bagus untuk bersantai-santai. Lalu sebuah gapura di barat didesain serupa mahkota raja. Mewah dan anggun. Der Zwinger disebut-sebut sebagai contoh sempurnah arsitektur Late Baroque di Jerman. Sesuai dengan fungsinya kini sebagai tempat exhibition, tempat ini memiliki gallery dan museum, seperti Old Master Pictures Gallery, Armoury (Rüstkammer), Porcelain Collection, Zoological Museum, dll.


KOTA yang kini berpopulasi lebih dari 5000 jiwa itu, didirikan oleh bangsa Slavia yang mendiami sebelah timur Jerman dari abad ke-7 sampai abad ke-10. Kaum bangsa Sorbia yang sekarang tinggal di sekitar daerah sini, masih merupakan keturunan langsung bangsa Slavia yang pernah berkuasa di sini. Kota Dresden sendiri konon didirikan pada tahun 1206. Pada tanggal 26 dan 27 Agustus 1813 kota ini merupakan ajang pertempuran sengit pasukan Napoleon dari Perancis melawan pasukan Austria. Lalu pada Perang Dunia II, pada 13 Februari 1945, kota ini dibom secara dahsyat oleh pasukan Sekutu dengan hasil 135.000 jiwa penduduk kota ini tewas. Pusat kota historis juga hancur, antara lain gedung-gedung kuno.

SIAPA sangkah jika seorang pelukis kenamaan Indonesia, Raden Saleh, pernah menetap di kota Dresden. Tapi jika menilik pada sejarah seni di kota ini, tidak heran jika Raden Saleh memilihnya untuk tinggal. Di kota Dresden ini terdapat banyak sekali karya lukis berharga dan terkenal, misalkan saja karya Raphael (Madonna di San Sisto), Correggio (La Notte, Mary Magdalena), Titian (Tribute, Venus), Paul Veronese (The Adoration, Marriage in Cana), Rembrant (Self Portrait), dan masih banyak lagi pelukis lampau dan masa kini.

MASIH banyak lagi tempat-tempat yang menarik disini. Semua punya keistimewaan dan sejarah yang panjang. Seperti BRÜHLSCHE TERRASSE, yang merupakan promenade cantik dengan deretan kafe romantic yang menawarkan pemandangan Sungai Elbe. GRUNE GEWOLBE (Green Vault), museum perhiasan bernuansa hijau dengan koleksi terbesar di Eropa, yang baru dibuka kembali pada bulan September 2006 lalu, terletak tidak jauh dari Zwinger. Ada lagi ROYAL PALACE, first mention of a castle some 700 years ago. Istana dengan 4 sayap yang dibangun pada abad ke-15, mengalami beberapa masa suram, mulai dari terbakar hingga pengrusakan tapi justruh setiap rekonstruksinya memberi gaya baru. NEW SYNAGOGA juga patut dipantau kendati bentuk bangunan umat yahudi ini keliatan agak aneh dalam nuansa modern. Dibilang bahwa bangunan ini mengambil contoh biara orang Israel permulaan. Satu gudang tembakau yang mengecoh saya adalah YENIDZE, pertama melihatnya saya mengira ini adalah mesjid karena arsitekturnya demikian. Feeling saya melayang ke negeri Turky, ketika membaca nama Yenidze ini. Nyatanya saya salah. Dengan gaya Neo-Oriental, tempat ini kini bukan hanya jadi kantor tapi juga restaurant. Sementara di bagian kota modern atau Neustadt, dimana memajang sisi modern kota Dresden. Langkah kaki kita kesana dimulai dari Neustädter Markt dimana terdapat patung emas kaisar Augustus dengan kudanya, ‘Golden Horseman.’

Jika sudah begitu, benar kan kataku? Susahnya menepis godaan Si Elbflorenz!

Anda patut datang dan menikmatinya. Apalagi kota ini terkenal dengan kue khasnya,"Eiershecke."


valentino for http://anakflores.blogspot.com

Rabu, Juni 18, 2008

Jalan - Jalan Ke Praha (Czech Republic)


PRAHA :
Kota
Fairytale Yang Sesungguhnya

















Sapphire light mingles with deep red violet
Rolled out behind the spiky black twin towers
Like a futuristic vision.
My neck aches from bending backwards
My soul leaps forward to embrace them.
Evening comes to Prague

Like a dark,
warm wool blanket

That wraps a weary traveler's body
At the end of a long journey.


Perhatikan sepatu anda. Jangan-jangan pelindung kaki anda itu bermerek Bata.
Lihat botol kaca minuman anda. Jika tidak salah, bir yang anda minum adalah bir bertitel Pilsener.
Kalo boleh tanya, kristal apa yang paling tersohor? Kemungkinan besar jawabannya adalah Kristal Bohemia.
Dan, apakah Anda penggila sepak bola? Kalau begitu, sudah tentu Anda tahu siapa Pavel Nevded, atau Peter Czech.

Ya, anda mungkin tak asing lagi dengan nama-nama yang bercetak miring di atas.
Tapi tahukah Anda dari negara mana mereka berasal?
Jawabannya: Czech.
Atau pabila anda anda masih merasa baru dengan nama itu, bagaimana dengan Ceko?
Yup, Czech Republik atau Republik Ceko adalah satu dari dua negara pecahan Cekoslovakia, yakni Ceko/Czech dan berikutnya Slovakia.

Praha yang adalah ibukota Czech, dulunya ia juga jadi ibu kota Cekoslovakia. Kota ini pun punya banyak nama seturut lidah siapa yang mengucapkannya. Ada yang bilang Praha, ada pula yang sebut Prag, yang lain memanggilnya Prague, tapi ada juga bilang Praga.

Kota bermoto Praga Caput Rei publicae ini, seperti halnya ibu kota negara-negara di benua lainnya, ia telah melewati beberapa jaman dan revolusi. Apa yang ada pada dirinya sekarang adalah akumulasi dari serangkaian pahit-manis sejarah negaranya. Mulai dari 200 tahun sebelum Masehi ketika kota ini sudah jadi incaran beberapa ras besar masa itu seperti Celts-Arya Jerman-Slavs-Avars Eurasia, Kepemimpinan kaum Bohemia (Charles-Wenceslas), Perang 30 tahun, PD I - Berdirinya Rep Cekoslovakia, PD II-Nazi, Perang Dingin-Revolusi Velvet, hingga wajah Praha abad 21 ini.

***

Siapa menduga saya akan menginjakkan kaki ke Praha? Kota yang tak pernah terlintas di benak. Bahkan sebelumnya tak pernah pula terdengar namanya. Nasib memang tak disangka membawa kemana kita melangkah. Harus kuakui, di antara ibu kota negara-negara yang pernah saya kunjungi, barangkali Praha-lah yang paling menarikku untuk mendatanginya lagi dan lagi. Lupakan Roma, kendati saya pernah melempar koin pengharapan di kolam Fontana di Trevi. Singkirkan Paris, walau kerlap-kerlip lampu Eiffelnya membuatku relah ketinggalan kereta. Tepiskanlah Amsterdam, betapun kilau air dari kanal-kanalnya memberi ilham untukku menciptakan selaksa puisi. Inilah Praha, kesahajaannya, siapa pun akan melekatkan hatinya disini.

Berikut adalah kisahku, jalan-jalan ke Praha….ayo,Bos…


Seperti yang kutulis di atas, Praha itu asing buatku. Nama kota Praha baru terngiang-ngiang (ciehh….) di telingaku ketika satu dari temanku ( sesama orang Maumere, sebut donk, penting tuh.. ) menyambangiku di Bali. Dia bilang: “ Kamu harus coba ke Praha, kota itu sangat bagus…” Temanku itu punya kerabat, seorang pastor yang pernah singgah di Praha, dari cerita pastor itulah temanku jadinya bersemangat memberiku rekomendasi, hehehe...though he couldn’t gave me any kind of illustrations about this city at all...,
“ Pokoknya kota ini bagus. Nanti kamu check sajalah di internet,” demikian katanya lagi. Maka saya pun berminat untuk mengechecknya suatu saat. Memang saya menemukan banyak gambar bagus tapi karena bagiku kota ini tidak begitu popular, maka saya pun adem-ayem saja. Bahkan melupakannya dan berpikir untuk ke kota lain saja. Ke London, misalnya..hehe…
Dan memang ketika balik ke Hanover, saya dan familyku berencana ke London, sialnya dari fernsehapparat tersiar kabar bahwa minggu-minggu ini kota London dihantam badai angin topan. Lalu, sontak terpikirlah saya akan kota Praha. Untuk perjalanan kali ini saya ingin memakai bus wisata saja (istilah lainnya Jalan Darat, gitu..) langsung dari Hannover ke Praha dan dalam perjalanan yang cukup jauh dan akan membelah malam itu, penumpang bakalan sekali menginap di Dresden, kota di Jerman yang berbatasan dengan Czech (dulunya Cekoslovakia). Wes, mengutip sepenggal ayat dalam Kitab PL Kejadian bab I: maka jadilah petang dan pagi hari, bus pun tereservasi. Namun….saat mendekati hari H, saya dapat e-mail dari travel bus itu, katanya penumpang dari Hannover hanya diriku seorang (bahh…’diriku seorang’, sok puitis loe…), so bus tidak akan datang ke Hannover, saya pun disuruh ke Leipzig. Ha?? Gila apa?!! Saya sudah bayar, masa, saya ke Leipzig lagi pakai biaya transport sendiri?? Berapa ratus kilometer? Überhaupt Nicht. Nein Nein Nein, Vielen dank. Keluargaku pun lebih memilih agar uang dikembalikan. Saya batal pakai bus dari travel itu.
Terus??? Apakah kota Praha tak jadi saya kunjungi? (...Mmmmm…otak kerbau, kalo tak jadi ke Praha, mana mungkin artikel ini nongol?. Gobl** ).

Bertemu Polisi yang Baik Hati

Keputusannya saya tetap jadi jalan-jalan ke Praha. Dan pakai mobil.
Begitu keluar dari Dresden, nuansa Eropa Timur mulai terasa, walau negara Chezh sendiri mati-matian menyebut diri mereka Eropa Tengah. Apa bedanya? Toh situasi alam, infrastruktur, bangunan amat mirip dengan gambaran negara- negara Eropa Timur. Kami pun mendekati kota Praha.
Sekarang mata mulai mencari-cari petunjuk ke mana arah menuju hotel yang saya booking via internet. Dari keterangan yang ditulis di internet kami harus mencari daerah bernama Vasatkova. Sudah keliling semua bahkan masuk ke pusat kota, sama sekali tidak ketemu petunjuknya. Teringatlah saya akan sebuah pepatah: malu bertanya sesat di jalan. Jadi akhirnya saya pun beberapa kali menghentikan mobil dan menanyakan alamat hotel. Anehnya, orang-orang malah menyebut satu nama baru. Bukan Vasatkova tapi Cerny Most. Hotel itu adanya di wilayah Cerny Most. Kami pun ikut. Ujung-ujung bingung. Buntu. Wah, bagaimana ini?. Mana lagi tidak ada plang dari hotel itu, dan rasanya saya sudah tidak kenal lagi posisi kami berada pada arah yang mana dari pusat kota. Disaat bingungnya, saya melihat sebuah adegan (film kaleee….) di perempatan jalan, dimana seorang tua dituntun menyeberang jalan oleh dua polisi yang rela turun dari mobil patrolinya. Otakku langsung berpikir positif. Jika kelakuan polisi sebegini baiknya, barangkali kami bisa ditolong. Dengan harapan itu kami mendatangi polisi tadi. Dan, benar saja. Mereka bukan sekedar menunjukkan tempatnya, tapi dengan rela hati akan menuntun kami hingga ke hotel. Saya senang bukan kepalang. Jelas…Polisi-polisi yang baik. Seandainya di semua tempat sikap aparatur negara seperti ini. bayangkan, indahnya hidup. Akhirnya kami pun digiring seolah tamu terhormat. Nyatanya Vasatkova itu nama jalan bukan nama wilayah. Sampai di halaman samping hotel Bridge (http://www.praguehotelsonline.eu/de/Hotel-Bridge.html), mereka pun pamit.
Terima kasih, Pak Polisi….

Romantisme Kota Dongeng Ada Disini

Hari telah berangsur gelap, kamar saya tidur berada di lantai 10 dengan jendela lebar dan view yang terasa nyata dari ketinggian. Cerny Most adalah bagian kota yang menjadi pusat hunian masyarakat. Disini banyak sekali apartment-apartment. Mengetahui kenyataan bahwa posisi hotel ternyata cuma dua ratus meter dari stasiun kereta, dan bahwa dari hotel ke kota hanya memakan waktu 15 menit pakai kereta, saya pun antusias. Tidak pakai istilah capek, cukup melepas lelah beberapa menit kami cabut ke pusat kota.

Lebih senang lagi ternyata harga ticket keretanya murah. Bukan hanya ticket, harga hotel kami pun terbilang murah untuk penginapan di dekat jantung kota. Nilai mata uang Czech, Krone, ternyata dibawah Euro. Baguslah, tapi sayang, satu-dua tahun ke depan Czech akan mengganti Krone dengan Euro, negara ini memang sudah bergabung dalam Uni Eropa sejak tahun 2004, hanya saja selama ini mereka masih memakai mata uang mereka.

Masuk ke kota dan menyaksikan keindahan tata kota dan bangunan-bangunan tuanya, terutama saya cukup terpesona dengan tower-tower tua yang ada di jalan-jalan kota. Dimana kendaraan melewati lubang antara kakinya. Pantaslah kota ini dijuluki "City of 100 towers". Kota ini juga dikenal dengan sebutan “The Heart of Europe” karena pada masa jayanya kota ini mengundang minat banyak bangsa di Eropa, bahkan Praha pada awal abad 20 menjadi kota yang paling pesat pembangunan ekonominya. Ada lagi julukan lain, yakni “Kota Emas,” itu pun tak lepas dari kejayaannya. Jual beli barang berharga amat marak di era pertengahan. Hingga kini pemandangan sebagai kota emas itu masih bisa kita temui karena Praha menjadi kota yang paling banyak memiliki toko perhiasan, keramik, porselen. Dimana-mana di pusat kota etalase-etalase toko bertaburan emas-intan-berlian. Sejarahnya memang luar biasa, di kawasan bukit Hradcany /Hradschin, di belakang cathedral Vitus dalam naungan Prazsky Hrad ( Benteng ), terdapat gang kecil yang disebut Golden Line atau jalan emas karena dulu disini bermukim para pedagang dan pengarajin emas.

Praha adalah salah satu kota tua di Eropa yang sebagian bangunannya masih asli dari abad ke-14, bahkan ada juga yang sudah berumur lebih dari 700 tahun. Negara ini bisa disebut beruntung karena sebagian besar bangunan bersejarahnya tidak rusak saat pecah Perang Dunia II sehingga tempat ini menjadi salah satu pusat kebudayaan arsitektur Eropa yang tidak ada bandingannya.

Perkembangan zaman dan modernisasi juga tak lantas membuat bangunan kuno di Praha dihancurkan untuk diganti dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjadi ciri khas kota metropolitan dunia. Bahkan pusat kotanya yang berupa bangunan bersejarah dari abad pertengahan dilindungi oleh UNESCO.

Salah satu bagian kotanya adalah Staré Mesto (kota tua) yang pusatnya berupa alun-alun kota atau lebih dikenal di sini sebagai Staromestké námestí. Di sekitar alun-alun ini terdapat beberapa bangunan klasik yang unik. Saya suka tempat ini, apalagi ketika ada perayaan-perayaan besar atau keagamaan (mayoritas Katolik), warga berkumpul untuk menyaksikan beragam hiburan, menikamati berbagai jajanan. Mmmm…ngomong-ngomong masalah jajanan disini, saya punya pengalaman jelek yakni ditipu orang. Ceritanya, saya tergoda sama daging sapi panggang yang dijual disini. Setelah pesanan saya jadi, eh..tiba-tiba harganya jadi lain, padahal terang-terang saya baca kalau harganya tidak 2 kali lipat. Syukur, dagingnya enak, walaupun dongkol karena ditipu saya cuma mengumpat dalam hati. Mudah-mudahan suatu saat dia dibalas 10 kali lipat! Sialan!

Di antaranya jam kota (Orloj na Staromestkém námestí) yang sudah berumur lebih dari 600 tahun dan masih berfungsi sampai sekarang. Anda boleh menghabiskan waktu kemana pun di kota, tapi jangan bingung ketika jam 6 sore orang-orang berbondong ke alun-alun tepatnya ke depan sebuah jam dinding klasik bernama jam astronomi. Pada jam 6 sore, jam kebanggaan warga Praha yang dibangun bergaya Gothic ini memiliki patung 12 Rasul Kristus yang bergerak berputar bergantian. Lucunya, kejadian ini berlangsung amat singkat, cuma 7 menit. Di sekitar sini menjadi tempat tongkrongan yang asyik. Alun-alun kota. Ada beberapa gereja serta sinagoga spanyol. Sebut saja, Týnský Chrám, yang memiliki menara kembar dan terlihat begitu indah di malam hari, serta pintu masuk kota yang masih terawat seperti Prašná Brána.


Praha kota romantis, selevel Paris. Keindahannya mengundang Anda untuk melabuhkan diri kesini. Mungkin bersama pasangan tercinta, Anda bisa merayakan serta menemukan kesempurnaan cinta disini. Seperti kebanyakan kota-kota utama di daratan Eropa, sungai dan bangunan bersejarah warisan masa lalu merupakan pilar utama yang membingkai pesona sebuah kota. Maka jika Paris punya sungai Seine, Roma dialiri Tiber, London ada Thames serta Budapest ditembus Danube, maka Praha dilalui Vltava. Apalagi bila menemukan jembatan seindah Charles Bridge yang berhiaskan puluhan patung-patung. Anda akan berlama-lama disini, dan kendati Anda sudah menginjakkan kaki untuk kesekian kali di tempat yang sama, Anda akan ingin lagi. Suasana Jembatan Charles, yang khusus untuk pejalan kaki sepanjang 514 meter dengan lebar tujuh meter yang dibangun paruh kedua abad 14, sangatlah hidup. Para penjual cenderamata, seperti gantungan kunci dan lukisan dan drawing berjajar di sepanjang sisi kiri dan kanan jembatan. Mereka akan berdiri dengan tenang, tidak akan merecoki kita dengan rayuan atau paksaan yang bikin mangkel. Kerap kali grup musik pengamen bermain disini, sekelompok laki-laki dengan alat-alat musiknya akan menghibur serta memperdalam haru - biru disini dengan musik instrument khas Czech.






Sudah puas di Charles Bridge, naiklah ke bukit, ke kawasan Hradcany /Hradschin.
Eit…Anda akan menemukan kenapa kota ini saya sebut dengan kota negeri dongeng.
Jalan-jalan kecil mendakinya yang beralaskan bebatuan kuno, kesenyapan yang terkunci pada lorong-lorongnya, lampu-lampu pada dinding bangunan yang sinarnya berpendar remang, itulah yang akan menuntun kita pada baying-bayang negeri dongeng.

Bangunan utama bersejarah lain yang menjadi ciri khas kota Praha adalah Pražský Hrad (Istana Praha) yang saat itu merupakan kompleks pusat pemerintahan kerajaan terbesar di Eropa. Bangunan yang terletak di atas sebuah bukit ini sekarang digunakan sebagai istana kepresidenan. Di dalam lingkungan istana negara ini kita temui gereja tua yang berdiri dengan megah. Bangunan yang dinamakan Chrám Svatého Víta (Katedral Santo Vitus) ini dibangun pada abad ke-10 dan baru selesai sekitar 600 tahun kemudian. Kawasan dalam lingkungan istana ini penuh dengan berbagai bangunan bersejarah yang menarik untuk ditilik. Di tempat ini pula menjadi tempat yang paling tepat untuk melihat kota Praha dari atas. Luar biasa indahnya..

Hampir semua bangunan utama atau bangunan penting di kota Praha merupakan bangunan tua bersejarah yang cantik dan masih terawat dengan baik. Termasuk juga gedung pusat kesenian dan museum pusatnya juga tidak kalah menarik. Národní Divadlo (Teater Nasional), Stavovské Divadlo (Teater Profesional), ataupun Národní Muzeum (Museum Nasional) juga merupakan bangunan dengan arsitektur klasik.
Kesenian khas Eropa seperti teater, opera, balet disajikan secara rutin. Begitu juga pertunjukan teater boneka yang menampilkan dongeng klasik Eropa seperti Pinokio, Cinderella, Romeo dan Juliet, Danau Angsa, dan sebagainya. Jadi, rasanya sayang sekali jika datang ke Praha tanpa menyempatkan waktu menyaksikan pementasan aneka kesenian khas Eropa di kota yang merupakan salah satu pusat kebudayaan Eropa.

Saya, dalam keterbatasanku, tak sanggup menjelaskan satu persatu. Jika seandainya kujelaskan, mungkin ini akan menjadi travel report terpanjang saya hehehe….

(Valentino Mendez for http://anakflores.blogspot.com)






Minggu, Juni 08, 2008

Jalan -Jalan ke Paris (Perancis)

PARIS:
C'est la ville
de l'amour












"Salut - comment allez-vouz?
tres bien merci, je m’appelle Edgar

comment ca va?
Je suis faché
Pourquoi?
parce que je t’aime, je t’aime. Je t’aime encore"

Demikianlah cuplikan puisi karya Edgar John Jackson. Ikhwal pertemuannya dengan seorang wanita di kota Paris itu dituangkannya dalam puisinya Love in Paris.

Cihuii…iiii….PARIS!!!!!
Saya yang sedari tadi terkantuk-kantuk di atas mobil sontak gelagapan girang. Bagaimana tidak, setelah menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer, akhirnya saya melihat bayangan menara Eiffel dari kejauhan. Dari atas bukit mobil kami perlahan turun. Waktu itu mulai senja tapi warna langit tidak kemerahan. Putih dan hitam bercinta jadi abu-abu. Dan ramalan cuaca mengatakan Paris akan berawan bahkan mungkin juga hujan besoknya. Musim panas, tapi cuaca tetap tak sepenuhnya cerah.. Tapi itu bukan masalah buatku. Kota ini, Paris, adalah impianku. Setelah sekian lama hanya bermimpi lewat buku, majalah, tv, pada saatnya, kini saya bisa menatapnya langsung. Face by face.

Sebenarnya niat semula bermalam di daerah luar kota, kalau bukan Auxerre ya di Sens, ntar besok paginya baru ke Paris. Itu plan yang direncanakan jika keburu kemalaman di jalan, biar tidak pusing nyari penginapan. Tapi rupanya perjalanan berlangsung sangat mulus, sehingga tiba di Paris belum gelap. Jam 9 malam. Begitulah, yang namanya musim panas, jam 9 malam itu terangnya sama seperti jam 5 sore di Indonesia. Kesimpulannya, musim panas itu memiliki siang yang panjang.

Hati saya sudah gelisah, ngebet mau langsung aja ke kota, ke Eiffel. Pokoknya excited abis gara-gara waktu turuni bukit tadi, saya sudah liat beberapa bangunan yang saya kenal lewat foto-foto di majalah. Tapi eitt…tt sabar, saya harus pintar, Bos. Bahwasannya saya harus menemukan dulu penginapan yang pas sebelum menikmati keindahan kota Paris. Dan, sebagai backpacker, aturannya adalah cari yang hemat n murah. First, no hotel before get a camping place. So, kudu cari tempat camping dulu!!!!
Dari hasil browsingan di internet saya dapat sebuah tempat camping yang strategis, tidak jauh dari pusat kota. Namanya Les Camping D’ile de France – Camping du Bois de Boulogne, yang punya website di www.campingparis.fr dan beralamat di: 2 Allée du Bord de l’eau.
Seturut namanya, lokasi camping ini berada di daerah Bois de Boulogne, kawasan hutan kota Paris dekat gerbang kota Porte Maillot. Stt..t… saya kaget loh waktu tahu daerah itu. Itu adalah kawasan hijau yang terkenal di Paris karena jadi lokasi mangkal para pelacur dan pengguna obat terlarang. Daerahnya yang remang penuh pohon (apalagi musim panas) menjadi tempat begituan. Coba tengok film Da Vinci Code, ketika lari dari Museum Louvre, Dr Robert Landon (Tom Hanks) dan Agent Sophie Neveu (Audrey Tautou) masuk ke kawasan Bois de Boulogne. Perhatikan scene film yang diambil di daerah ini, dimana ada pemakai narkotik serta pasangan yang sedang ahoi-ahoi di semak-semak hehehe…. SENSOR. Stop, jangan panic. Saya juga tidak mau camping di tempat itu buat ngintip orang beradegan gituan hahaha..ha. Lagi pula lokasi campingnya tidak menyeramkan, lapang, aksesnya bagus dan tidak sepi-sepi amat. Karena saya membawa tenda sendiri , jadi saya hanya membayar lahan serta fasilitas pendukungnya (listrik,air,km/toilet,dll). Termasuk pajak senilai 1.20 Euro, per malam saya bayar hampir 15 Euro lah. Di dalam camping place ini sudah tersedia dengan restaurant, mini market, dan bar. Sehingga tak perluh bingung kalo butuh sesuatu. Selain lahan untuk yang bawa tenda sendiri, mereka juga menyewakan tenda mereka. Selain itu ada pilihan lain lagi berupa mobil-homes.

Bangun pagi, berbekal petunjuk-petunjuk (berupa brosur, map, dll) yang saya dapat semalam dari meja reservation dan memperhatikan lagi beberapa keterangan penting yang ditempel di papan pengumuman, saya bergegas menujuh halte bus nomor 244 yang akan membawa penumpang ke stasiun kereta underground di Porte Maillot, lalu naik Metro (kereta) lini 1 menujuh pusat kota. Asyiknya kereta lini 1 ini endingnya langsung di stasiun yang letaknya 100 meter di bawah kaki menara Eiffel. Pas banget kan?






Saya dari Porte Maillot langsung pilih turun di Arc de Triomphe, nama stasiunnya Charles de Gaulle Etoile. Nongol-nongol eh…Arc de Triomphe sudah di hadapan. Senang bukan kepalang. Begitu ticket naik ke Arc de Triomphe-nya dibuka, saya langsung serbu. Di dalam bangunan setinggi 164 kaki itu sendiri ada museum berisikan koleksi batu-batu dan pahatan-pahatan jaman dulu, dan setelah melihatnya beberapa saat saya menuju ke atap, ke puncak Arc de Triomph. Bagian teratas bangunan yang awalnya dibangun oleh Napoleon I demi merayakan kemenangan sekaligus memotivasi semangat juang para prajuritnya ini menawarkan pemandangan kota Paris yang luar biasa. Karena ketinggiannya yang pas membuat mata kita bisa melihat dengan detail setiap bangunan juga mobilitas manusia yang bergerak di kota Paris, memandangi para pejalan kaki yang wara-wiri di sekitar jalan utama Champs Elysees, pusat belanja ngetop yang konon katanya dagangan disini sering menjadi incaran para selebritis dunia. Nyatanya, selama di kota Paris saya tidak bertemu siapa pun. Padahal setidaknya bertemu Anggun, sudah puas tuh (dimana ya rumah Anggun di Paris?). Atau kurang beruntung ya? Nasib….nasib….

Saking sukanya dengan suasana tenang dan indahnya jalanan di kota Paris, saya lanjut ke Place de la Concorde, menara yang berasal dari Mesir tetapi diambil dan dialihkan ke kota Paris oleh orang-orang Perancis.Terus saya belok lagi ke Petit Palais, Galleriee Nat. du Grand Palais hingga hingga nyosor ke Pont Alexander III. Saya lalu jatuh cintrong sama jembatan ini. Bagaimana tidak? Jembatan yang dibangun pada tahun 1896-1900 ini sangat terkenal dengan lampu-lampu Art Nouveau. Bagian-bagian bawahnya yang melengkung, dihiasi dengan dekorasi yang menawan bak jembatan negeri dongeng, Patung-patung malaikat kecil yang berwarna hitam kecoklatan sangat indah karena posenya yang lucu menggemaskan. Bagian depan-belakang jembatan ini ditaruh patung peri dengan kuda bersayap berwarna emas.

Lurus kedepan jembatan ada Place de Invalides, ada Museum Army, dan hotel de Invalides di belakangnya. Bangunannya megah dengan kubah berhiasakan warna-warna emas. Dari sini saya berputar menujuh ke Saint Germain des Pres lalu lanjut ke Katedral Notre-Dame. Tak ada kata-kata selain takjub dan syukur ketika masuk ke halaman tempat sembayang penganut Katolik yang telah berusia ratusan tahun ini. Katedral ini merupakan salah satu katedral tercantik di Eropa. Memiliki menara yang dramatis, dan ukiran-ukiran di pintu depan yang luar biasa. Saya pun rela antri demi masuk ke dalam bangunan yang sudah saya impikan sejak dulu ini. Salah satu pengunjung asing berkata padaku: Climbing the North tower to see Paris from the hunchback Quasimodo's vantage is essential, too. You'll soon understand why Notre Dame is one of Paris' top attractions.” Tapi karena untuk naik ke atasnya lagi harus antre, saya pun urung. Waktu yang ada saya pakai untuk mengitari bagian dalam katedral, mengagumi frame kaca bergaya gothicnya, mencium aroma tua bangunan ini. Saya melihat begitu banyak umat yang datang untuk berdoa, memasang lilin, dan terpaku dalam keheningan pribadi. Walau hanya 5 kali Salam Maria dan 1 kali Bapa kami di depan patung St Theresia Lisieux tapi saya toh sempatkan untuk berdoa. Selanjutnya saya hanya membuat tanda salib di setiap simbol yang saya jumpai. Keluar dari katedral saya setengah hati juga beranjak, masih mau berlama-lama. Saya tertarik kepada burung-burung merpati yang jinak-jinak di sekitar katedral. Lebih terpesona lagi ketika menyaksikan seorang laki-laki paru baya yang dengan santainya dikerubuti ratusan burung gereja. Saya hanya melihat dia menggenggam remah-remah roti di tangannya, begitu tangan itu diangat burun-burung pun datang langsung ke telapak tangannya. Bergegas saya membeli stengah porsi pizza di kafe sebelah kiri katedral. Tapi aneh, kenapa burung-burung gereja itu tidak datang ke telapak tanganku?, jangankan ke telapak tangan, ke arahku pun enggan. Saya jadinya hanya menabur serpih-serpih pizza itu ke kawanan merpati yang juga cuma datang malu-malu, sudah bosan, pizza pun saya lahap semuanya hahaha….

Lepas dari Notre-Dame, kemudian saya menyusuri tepi sungai Seine yang tenang. Sesekali sungai itu beriak ketika kapal-kapal tourist melintas. Sepanjang tepi sungai berbarislah para pedagang kaki lima. Tapi pedagang kaki lima disini unik dan bersih. Dagangan mereka berupa postcard, poster, dan buku-buku bertemakan kota ini baik Paris pada abad pertengahan hingga abad 21. Semua dagangan mereka dipajang rapi disebuah peti kayu lebar setebal 20-40 cm. Kalau sudah malam, peti-peti itu tinggal digembok dan tak tampak sama sekali mengganggu pemandangan. Sewaktu melewati barisan kaki lma ini, saya lantas tertarik kepada poster Che Guavara, begitu melihat gambar revolusioner asal Cuba ini, saya teringat saudara saya yang suka sekali dengan Che Guavara. Dengan 2 Euro, poster merah hitam itu pun pindah ke tanganku.


Menyeberangi Pont Royal, saya diantar ke Museum Louvre. Museum ini namanya jadi kian popular setelah buku karya Dan Brown ‘Da Vinci Code’ laris manis menyusul filmnya dengan judul serupa. Gila, kompleks museum ini besar sekali, Bos. Setelah sampai ke tengah kompleks, berdirilah piramida kaca. Sudah banyak banget pengunjung yang berada di sekitar piramida itu. Otak saya sudah penuh dengan gambaran kisah buku Dan Brown juga gambar-gambar dari filmnya. Ini toh tempat yang menyimpan lukisan Monalisa itu? Untuk masuk pintu piramida itu tidak perlu membayar tiket. Setelah di dalam, saya menemui banyak sekali orang-orang yang mengantri untuk membeli tiket. Pertama-tama saya mengambil boklet informasi untuk mengetahui peta seluruh museum. Nah, tiketnya dibeli dari mesin mesin automaat. Museum Louvre dibagi menjadi tiga bagian dan setiap bagian mempunyai pintu masuk masing-masing (Access). Richelieu Access, Sully Access dan Denon Access adalah ketiga pintu utama. Nah, lukisan Monalisa itu adanya di Denon Access. Ditiap-tiap access diisi berbagai koleksi, mulai dari Oriental antiquites, Egyptian Antiquites, Greek - Etruscan - Roman Antiquites, Lukisan-lukisan, Patung-patung, benda-benda seni Middle Age dan Renaissance, Arts of Islam (dari Iran,Asia Tengah dan India),serta benda seni dan bersejarah lainnya. Setelah Louvre saya ke taman Luxembourg. Bangunannya lumayan sedap dan halamannya menjadi tempat nongkrong yang lumayan ramai.

Ketika mulai senja saya bergegas ke menara Eiffel. Tempat ini diluar ekspetasi saya loh. Kirain ada jalan buat kendaraan yang lewat di antara kaki-kaki menaranya, ternyata bukan seperti itu walaupun jika dirasa-rasa emang bisa dilalui mobil di antara kaki-kakinya. Paris, dengan julukannya sebagi kota cinta nyata sekali terlihat ketika hari mulai senja. Pasangan dari berbagai usia keliatan berasyik mesra. Mmmm..mm jadi pingin,hehehe….Sementara di taman Champ de Mars yang ada di kaki menara Eiffel menjadi tempat tongkrongan yang asyik bagi yang bercinta, bisa tidur-tiduran, duduk berpelukan mesrah sambil menatap Eiffel, pas bener...! Setelah dibuat iri sama beberapa pasangan itu, saya nyebrang ke Chaillot yang menyempurnahkan keindahan Eiffel dengan kolam dan air mancurnya. Sempurnah. Tambah lagi pas malam dan tiba-tiba cahaya berkelap-kelip di badan menara Eiffel, saya seraya mimpi. Glek…kok begini ya? Ternyata menara Eiffel diterangi oleh 352 projektor 1.000 watts dan berkedip setiap sengah jam pada malam hari dengan 20.000 bola lampu dan 800 lampu disko. Supaya membuat menara kelihatannya lebih hidup, 4 lampu laser xenon yang berkekuatan 6.000 watts berputar secara permanen di puncak menara. Sampai jam 12 malam saya masih berada disana, dan ketika pulang, karena jam segitu Metro sudah tak beroperasi lagi, jadinya jalan kaki saja pulang. Lumayan jauh tapi karena suasana kota dengan bangunan-bangunan cantiknya yang diterangi cahaya lampu membuat rasa capek tak berpengaruh, toh saya sempatkan juga masuk ke Mc Donald dan menikmati McChicken favoritku. (Jujur nih,Bos, kalo ke luar negeri dan lapar yang ada di otak saya adalah segera cari Mc Donald, biar kata orang Jerman “Mc Doof” (makanan bodoh/sampah), who cares? Saya memang sering tak enak benar kalo nyoba makanan baru. Dimana-mana rasanya aneh di lidah. Saya pernah nyoba Pizza di Roma, pikirnya pasti enaklah apalagi langsung di negeri asalnya, tahunya buarrrr..rrrr… kok rasanya bikin hilang selerah??? Jujur nih, selama ini di Jerman juga saya ogah makan Wurst (sosis), roti, sup cs. kalau bukan karena terpaksa. Mending ke toko Asia: ada beras, tahu, Indomie, toge, ikan teri juga ada. Ndeso……

Naik Menara Eiffel
Besok paginya saya ke Eiffel lagi. Ha???!! Lagi?? Ya iyalah,Bos…..loe pikir ke Eiffel tanpa naik ke puncaknya itu sudah cukup??? Tidakkkkk!!!
Maka pagi-pagi lepas jam 9 saya sudah turun dari Metro di stasiun Bir Hakeim yang cuma 100 meter dari Eiffel. Lalu dengan mempersiapkan kesabaran saya pun masuk dalam antrean. Anjrittt….sudah sejam kok blum naik-naik juga ? Kaki sudah kesemutan duluan.

Dari sebelum datang saya sudah siapkan Pasport, kata teman, biasanya beberapa obyek wisata memberikan harga diskon pembelian ticket, bisa berdasarkan usia atau berdasarkan status pelajar. Di Eiffel ini saya dapat diskon berdasarkan usia, tiap pengunjung yang berusia dibawah 26 tahun cuma bayar 4 Euro. Tinggal tunjuk tanggal lahir di Pasport kita. Setelah menggenggam ticket di tangan saya pun mencoba berfantasi dengan naik ke lantai dua lewat anak tangga yang jumlahnya sebanyak 1.665. Di lantai dua ini ada café dan beberapa toko souvenir. Namun saya lanjut terus mau ke bagian teratas ke puncaknya. Naik setingkat lagi baru menujuh lift. Dinding lift yang transparan membuat kita serasa berada dalam tabung kaca sebuah slow roket. Sesampainya di atas, pemandangan kota Paris dari sudut ke sudut hingga ke batas langit siap menghipnotis kita. Sedikit mengulas sejarahnya, menara ini dibangun oleh Gustave Eiffel, Maurice Koechlin dan Emile Nouguier serta diarsiteki oleh Stephen Sauvestre. Dibangun dalam rangka pekan Pameran Dunia dan perayaan Revolusi Perancis, menara dengan bendera berkibar di puncaknya. Diresmikan pada tanggal 31 Maret 1889. Meskipun kecaman dan protes yang keras dari penduduk Paris dan kalangan intelektual selama pembangunan, kerangka besi ini menjadi simbol kota Paris dan menarik lebih dari 6 juta pengunjung setiap tahun. Rencana proyek dimulai tahun 1884. Dengan iringan irama protes, pembanguanannya dimulai pada tahun 1887 dan selesai 26 bulan kemudian pada tahun 1889. Berdasar rencananya menara ini akan dirobohkan setelah berlangsungnya pekan Pameran Dunia 1900. Akan tetapi, keberhasilan percobaan transmisi radio yang dikendalikan oleh Angkatan Bersenjata Perancis sebelum hari pemugaran akhirnya menyelamatkan menara Eiffel. Menara Eiffel dibangun dengan jeruji bak sangkar, persis seperti pada struktur tulang paha manusia. jeruji tersebut disusun sepanjang garis gaya yang dapat mengurangi dampak beban atau tekanan. Terdapat 18.038 jeruji yang diperkuat dengan 2.500.000 paku. Kerangka dari karya Tuan Gustave Eiffel ini tahan angin dan walaupun bahannya dari besi, berat menara hanya 7.300 ton.
Dari tanah sampai tiang bendera, tingginya 312.27 meter pada tahun 1889, sekarang 324 meter dengan antenanya. Saat ini, berbagai perusahaan televisi Perancis memasang antena mereka di puncak Menara Eiffel. Dimiliki oleh Pemerintah Daerah Paris dan dikelola oleh perusahaan swasta, "Société Nouvelle de l'Exploitation de la Tour Eiffel", kerangka besi ini direnovasi setiap 7 tahun sekali dan dicat dengan 50 ton cat. Renovasinya digarap olah pekerja yang manguasai olah raga alpinis dan akrobatis.
Di bagian atas ini kita juga bisa mengetahui posisi berbagai Negara di dunia dari menara Eiffel. Ada ratusan bendera negara, dengan melihat bendera itu kita tahu dimana negaranya berada. Yang buat saya bingung, letak bendera Indonesia ada di bagian timur tapi bendera Timor Leste kok di sebelah utara ya?

Waktu terus berjalan, dan harus turun juga dari Eiffel.
Target berikutnya adalah ke Montmartre. Ada apa gerangan disana? Kalau dari pusat kota daerah ini bisa dilihat karena letaknya di ketinggian, maskotnya adalah sebuah gereja basilica berwarna putih yakni Sacre Coeur. Kesana, saya kembali naik Metro. Seharusnya jika ingin lebih dekat dengan Sacre Coeur, kita turun di stasiun Anvers atau di stasiun Chateau Rouge tapi saya memilih turun di Blanche yang lebih jauh. Rahasianya, karena saya mau lihat Moulin Rouge yang letaknya persis di pintu stasiun Blanche. Itu, Bos, sebuah bangunan berbentuk kincir angin yang dicat merah. Moulin Rouge menjadi simbol kehidupan malam dan sex kota Paris. Konon dari sinilah lahir tarian-tarian erotis yang menyebar ke seluruh jagat. Salah satunya adalah tarian Qudrille dengan ciri gerakan angkat rok. Di sekitar Moulin Rouge ini lantas berkembang mejadi kawasan ‘merah’ dengan berbagai sex shop, sex cinema, museum sex dan hal-hal esek-esek lainnya. Ingat kan sebuah film berjudul Moulin Rouge, yg dimainkan dengan bagus oleh Nicole Kidman dan Ewan McGregor? Tapi saya cuma mengambil beberapa foto saja, tidak masuk ke salah satu bangunan disitu (sumpah!).

Jalan mendaki dan berbelok-belok pun ditempuh untuk sampai ke basilica Sacre Coeur.
Dan tak mengecewakan ternyata, bangunan putih yang terletak di atas bukit ini ternyata amat indah. Ada sebuah legenda unik dari bukit Montmartre ini. Alkisah di tahun 287 M, pendeta pertama Paris yang bernama St Denis dipenggal lehernya oleh orang-orang Romawi di bukit itu. Kemudian dengan tenangnya, sang pendeta berjalan menenteng kepalanya yang telah dipenggal tadi ke bawah bukit hingga sampai ke tempat yang sekarang menjadi gereja St Denis. Bukit itu awalnya diberi nama Mons Martyrium dan kini dikenal sebagai Montmartre. Dari kisah tersebutlah kebanyakan masyarakat percaya dari mana nama bukit itu berasal. Basilika ini sendiri dibangunsebagai pelindung kota Paris. Saya tidak masuk ke dalamnya karena begitu banyak orang, tambah lagi dilarang motret di dalam. Maka saya hanya hilir mudik di halaman depannya saja, apalagi dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Paris.

Pulang dari Basilika Sacre Ceour, saya mampir ke pertokoan souvenir, awalnya hanya mau liat-liat. Tertarik ke beberapa baju kaos tapi langsung suka begitu melihat sepasang syal dan topi berwarna merah-hitam dengan tulisan Paris. Saya akhirnya membelinya. Pikirku, buat oleh-oleh setelah jalan-jalan ke Paris. Tapi, saya kemudian merasa geli bercampur kecewa setelah menemukan tulisan Made in China, bukan Made in France yang saya harapkan….hahaha…

PARIS, EST Á VOUS! Begitulah judul cover guide book yang saya peroleh secara cuma-cuma di pos informasi wisata kawasan Champs Elysees. Jika kita memiliki waktu yang cukup lama berada di Paris, setidaknya kita bisa menelusuri Paris lebih detail lewat panduan dari guide book ini. Dari buku yang sambutannya diisi oleh Bertrand Delanoë itu, dituliskan bahwa kota Paris ini punya julukan bejibun, yakni Ville monumentale, ville culturelle, ville romantique, ville gastronomique, ville de la mode et de la creation, Paris est aussi une ville qui bouge, une ville qui ose. Nah, dari buku ini pula, pemerintah kota telah memetakan obyek-obyek wisata berdasarkan nilai dan lokasinya. Ada 12 pilihan, wah…wah……
Mau saya sebutkan satu-satu? Oke;

  • Paris Seine, yang masuk dalam kategori ini adalah bangunan-bangunan yang berada di jalur sungai Seine, yakni jembatan-jembatan (Pont de Bercy, pont d’ Auterlitz, pont de Sully, pont Neuv, pont des Arts, pont du Carrousel, pont royal, passerelle solverino, pont de la concorde,dll), Piscine J baker,Port de Arsenal, Jardin Tino-Rossi.

  • Paris Intemporel, kategori ini diisi oleh Notre-Dame de Paris, Les iles de la Cite et Saint-Louis, Pantheon, Quartier latin, La Sainte- Chapelle, dan Conciergerie.

  • Paris Tendance. Place des Vosges et maison de Victor Hugo, Centre Pompidou, Hotel de Ville, Musee Picasso, Musee Carnavalet, Hotel de Sully, Place du Chatelet, Musee des Art et Metiers, Musee d’Art et d’Histoire du Judaisme, dll dikelompokkan kesini.

  • Paris Vitrine, untuk kelompok ini ada Palais Garnier, Eglise de la Madeleine, PlaceVendome, Place des Victoires, Grand Rex-Les Etoiles du Rex, Palais Royal, Comedie-Francaise, Grevin, Musee Maxim’s, Musee parfum Fragonard, Portes Saint-Denis et Saint Martin.,dll

  • Paris Village, ada Butte Montmartre, Basilique du Sacre-Coeur, Place du Tertre, Moulin-Rouge, Pigalle, Cimetiere de Montmartre, Jardin sauvage Saint-Vincent, Musee Gustave-Moreau, Museum de l’Erotisme, Musee de la Vie romantique, Eglise de la Sainte-Trinite,dll.

  • Paris Artiste, ada Musee d’Orsay, Saint-Germain-des-Pres, Jardin et muse du Luxembourg, Odeon,Tour Montparnasse et Jardin Atlantique, Eglise Saint-Sulpice, Cimetiere du Montparnasse,dll

  • Paris Monumental, versi ini termasuk di dalamnya yakni Champ-de-Mars et tour Eiffel, Trocadero, Invalides, Musee du Quai-Branly, CineAqua-l’aquarium du Trocadero,dll

  • Paris Chic, diisi oleh Bois de Boulogne, Hippodromes d’ Auteuil et de Longchamp, Musee Marmottan-Monet, Musee Dapper, Fondation Le Corbusier, Rue de Passy, Jardin du Ranelagh,dll.

  • Paris Mythique, Arc de Triomphe et tombe du Soldat inconnu, Champs-Elysees, Musee du Louvre, Place de la Concorde, Jardin des Tuileries, Galeries nationals du Grand Palais, Petit Palais-musee de Beaux-Arts de la Ville de Paris, Musee de l’Orangerie, Musee de Jeu de paume, Musee Jacquemart-Andre, Palais-Bourbon, Les Arts decoratifs, Palais de la Decouverte, Parc Monceau,dll

  • Paris Insolite, Bois de Vincennes, Parc Floral de Paris, Chateau de Vincennes, Cinematheque francaise-musee du Cinema, Parc de Bercy,dll

  • Paris Cosmopolite, La Vilette, Parc de la Villette, Canal saint-Martin,Le Plateau-centre d’art contemporain,dll

  • Paris Populaire, Place de la Bastille, Opera Bastille, Place de la Republique, Musee du Fumeur,dll.