Selasa, Juli 23, 2013

Jalan - Jalan Ke Alor




Harta Karun
Bumi Alor

Teronggok di ujung tenggara Nusantara, ia seakan terlupakan. Namun siapa sangkah, dalam kebersahajaannya ia ternyata menyimpan selaksa pesona terpendam. Bukit berderet melintang indah, kampung tradisional dengan budaya yang purba, peninggalan sejarah tak ternilai, dan bawah laut memukau adalah seberkas harta Bumi Kenari. Mari berkemas, sebab Alor telah memanggil.

Tugu pahlawan dan nameplate kota Kalabahi

Gerak kaki rancak menghentak bumi. Tangan-tangan ulet berpelukan membentuk lingkaran. Para pria menantang sangar, para wanita menatap tegas dengan rambut lepas tergerai. Tari Lego-Lego pun dipertontonkan. Itulah despiksi awal tentang Alor yang saya saksikan lewat layar kaca televisi. Lucunya, program dokumenter itu ditayangan di negara asing, bukan di Tanah Air. Sebegitu jauhkah Alor untuk digapai oleh warga bangsanya sendiri sehingga kemolekannya tidak jua kondang?

Pertanyaan itu tersimpan di otakku dan saya tahu suatu saat tentu menuntut realisasi. Negeri sebesar Indonesia ini sayang untuk dilewati jengkal demi jengkalnya. Maka ketika mendapatkan kesempatan, saya pun memutuskan untuk ke Alor, ingin menatapnya langsung, merasakan denyutnya.

Dari Denpasar, saya menumpang pesawat Merpati tujuan Kupang. Kemudian lanjut ke Kalabahi, ibukota Alor. Saya memang sengaja memilih Merpati karena maskapai ini satu-satunya yang melayani rute tembusan Denpasar sampai Kalabahi sehingga tidak repot, cukup mencari jadwal hari yang tepat. Oya, Merpati juga terbang dari Jakarta. Jadi Anda yang datang dari ibukota, bisa langsung mencapai Alor dalam sehari penerbangan tanpa harus pindah-pindah maskapai. Namun seandainya tidak bisa memperoleh tiket Merpati, dari Kupang wisatawan dapat menggunakan Trans Nusa. Maskapai ini terbang 6 kali seminggu, sedangkan Merpati cuma 3 kali. Rata-rata penerbangan dari Kupang ke Kalabahi dilaksanakan siang hari dengan durasi waktu satu jam. Saya memanfaatkannya untuk tidur karena bangun pagi-pagi di Denpasar dan selama dalam pesawat dari sana ke Kupang, saya terus ngobrol dengan seorang turis asing.

Begitu mendengar pengumuman dari pengeras suara bahwa beberapa menit lagi pesawat akan mendarat di bandara Mali, saya terjaga dan spontan terbelalak melihat pemandangan elok dari udara. Pulau-pulau kecil berceceran membentuk gunungan. Bayangan tentang Alor yang saya kira tandus mendapat pukulan telak. Ternyata ia dijejali hutan yang rimbun menghijau!



Nelayan muda di laut Alor

Anak perempuan dari suku Abui yang mencuri perhatian saya

Secara geografis, Alor merupakan salah satu kabupaten di propinsi Nusa Tenggara Timur. Terdiri atas 2 pulau besar yakni Alor dan Pantar serta 12 pulau kecil. Tidak semua pulau dihuni manusia. Dari kumpulan pulau-pulau ini menjadikan luas wilayah Alor mencapai  2.864,60 Km2 . Mali adalah bandaranya Alor, berukuran sangat kecil dan sederhana. Letaknya di bibir laut dengan pemandangan Saya langsung menumpang taksi seharga Rp. 25.000 per orang menujuh pusat kota. Seperti pengalaman bepergian ke sejumlah kota kecil lainya di Indonesia, yang dimaksud taksi disini yaitu mobil sedan seperti avanza atau innova. Penumpangnya bisa perorangan, bisa juga keroyokan. Sopir taksi saya, Om Patris Sasi (kontak +6285238405311) berstatus sebagai sopir resmi taksi bandara dan dia tahu semua hotel di Kalabahi yang saya sebutkan. Dengan baik hati, ia bersedia mengantarkan ke hotel-hotel tersebut untuk  saya pilih mana yang cocok. Oh, hati saya pun lega.

Kurang lebih 30 menit berkendaraan, sampailah kami ke jantung Kalabahi. Suasana kota ini mirip sekali dengan kota Ende di Flores. Sama-sama menghadap selatan, dibayangi perbukitan sebelah utara. Setelah singgah ke beberapa hotel, akhirnya terpililah Hotel Melati (kontak +6238621073) sebagai penginapan saya. Alasannya, selain tampak bersih, penginapan ini berdampingan dengan pelabuhan dan taman kota. Harga inap hotel di Kalabahi rata-rata mulai Rp.100.000 dan kondisi semuanya masih standar.

Untuk mengeksplorasi Alor saya berencana menggunakan sepeda motor. Beruntung, karyawan hotel mau meminjamkan sepeda motornya dengan kesepakatan harga Rp.60.000 per hari. Dari dia pula saya mendapat bocoran tempat makan malam yang enak, yaitu di Pantai Reklamasi. Andalan disana adalah ikan bakar. Saya penggila seafood, mana bisa berpikir dua kali? Maka seusai berkeliling kota sejenak, saya langsung merayakan malam pertama di Alor dengan menikmati ikan kakap merah segar.


MOKO, SI PENAKAR HARGA DIRI
Saya punya satu kebiasaan setiap kali berpelesir ke tempat baru, yakni mendatangi kantor Dinas Pariwisata. Bisa dibilang itulah satu-satunya instansi pemerintah kesukaan saya. Walau sudah melengkapi diri dengan sejumlah catatan yang saya kumpulkan dari internet, tapi datang ke kantor Dinas Pariwisata saya memperoleh informasi up to date dan detail. Pernah sewaktu ke Sumba Barat, saya dikasih sejumlah buku tentang sejarah dan budaya Sumba yang bagus sekali. Begitupun saat ke Belitung, brosurnya super lengkap juga peta eksklusif. Nah, di Alor ini saya ditunjukkan letak masing-masing destinasi karena pulau ini belum dilengkapi dengan papan petunjuk obyek wisata. Kebayang kan galaunya seorang  solo traveler di daerah minim fasilitas pendukung dan penduduknya belum sadar wisata?


Panorama Kalabahi dari bukit sebelah utara, beberapa ratus meter sebelah atas Kantor Pariwisata

Setelah mendapatkan peta dari kantor, saya pun melajuhkan sepeda motor ke bukit sebelahnya. Dari ketinggian inilah terpapar indahnya teluk Kalabahi. Pagi masih menyisahkan kabut di antara sela-sela lereng perbukitan sebelah selatan teluk. Jika diamati dari ketinggian, persis seperti berada di tepi Danau Toba sebab teluk Kalabahi ini melintang panjang dan tersisi air laut tanpa ombak.

Saya turun lagi ke kota dan melanjutkan eksplorasi. Tujuan saya yakni ke Museum 1000 Moko. Ini merupakan satu-satunya museum di Alor, mengkoleksi benda-benda pra historical, dan sangat terkenal di kalangan arkeolog juga pencinta sejarah. Barang-barang yang dimiliki di museum yang berlokasi di Jalan Diponegoro ini awalnya adalah koleksi pribadi seorang kolektor seni lokal bernama Toby Retika. Ketika ia memutuskan untuk pindah ke lain daerah, benda-benda simpanannya dihibahkan kepada pemerintah Alor, termasuk koleksi Moko berjumlah puluhan buah. Dari sanalah asal didirikannya museum.

Benda purbakala Kapal Dongson di Museum 1000 Moko Kalabahi

Deretan Moko berumur ratusan tahun
Alor tak bisa dipisahkan dari Moko. Ibarat petunjuk identitas, ia memainkan peranan penting dalam pembabakan sejarah serta alur mata rantai budaya masyarakat di wilayah kepulauan berjuluk Negeri Seribu Moko tersebut. Tapi apa sebenarnya Moko? Menurut penelitian, benda perunggu berbentuk mirip lesung atau cawan raksasa ini adalah produk budaya Dongson dari Vietnam Utara. Lebih umum dikenal dengan sebutan Nekara, Moko diperkirakan tiba di Alor melalui jalur pelayaran kuno ribuan tahun silam.


Moko ibarat harta. Masyarakat Alor menggunakan Moko sebagai mas kawin karena dipercaya dapat mengikat pasangan dan keluarga kedua pihak. Ibarat kata, ia menjadi penakar harga diri seseorang. Selain itu, ia juga digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Konon, pada masa penjajahan Belanda, Moko sempat diberantas karena peredarannya menimbulkan inflasi. Kini keberadaannya mulai langkah, belum lagi diuber-uber kolektor asing. Saya sempat merunut pasar antik dunia maya dan menemukan bahwa Moko telah dikonversi menjadi pajangan kelas eksklusif di Eropa, Amerika, dan Australia. Di situs www.easternserenity.com harga Moko dilabel 10 hingga 40 juta berdasarkan ukuran serta ornamennya.

Selain Moko, museum 1000 Moko menyajikan banyak benda purbakala lain. Sebut saja relik kapal Vietnam, samurai Jepang, pakaian perang dari kulit kerbau, tambur gendang, kotak penyimpan harta, kain tenun, dan banyak lagi lainnya.


ADA ‘THE FLINGSTONE’ DI KOPIDIL
Hari ketiga di Kalabahi, saya mulai akrab dengan seluk-beluk kota. Pagi-pagi saya mengunjungi pasar yang terletak di sebelah Taman Kota dan di pinggir Jalan Diponegoro. Sudah bukan rahasia lagi jika pasar tradisional adalah tempat terbaik untuk mengenal karakter penduduk lokal serta hasil bumi setempat. Sudah lama Alor terkenal dengan kacang Kenari, sampai-sampai dijuluki ‘Bumi Kenari.’ Di kedua pasar ini saya menemukan gundukan Kenari yang dijual dalam jumlah banyak. Selain itu ada pula ‘Jagung Titi’, yakni jagung yang dipipihkan tipis seperti Corn flakes. Gurih jika dicampur sedikit kacang tanah.
 
Kacang Kenari di pasar-pasar Kalabahi

Buah Kenari masih dengan kulitnya yang sudah tua


Selanjutnya saya beralih keluar dari kota menujuh desa Kopidil. Desa ini terletak di punggung bukit., sekitar 10km mendaki. Tidak lupa, saya membawa bekal makanan sebelum berangkat. Kondisi jalan beraspal baik. Sesampainya di sana, saya menemui Pak Telo. Beliau adalah pemimpin sanggar seni Kopidil yang terbilang unik. Pak Telo telah bertahun-tahun menggagas pelestarian budaya dengan mengembalikan eksistensi pakaian asli Alor jaman purba dari kulit kayu. Bayangkan, di tengah kegilaan orang pada hal-hal modern sekarang, ada orang yang berniat kembali ke Jaman Neolithikum.

Pakaian serba kulit kayu gaya The Flingstones di Kopidil

Pak Telo mengisahkan ikhwal munculnya ide untuk menggali adat leluhurnya. Ia juga membangun pondok-pondok tradisional di tengah kebun. Saya merasa beruntung melihat puluhan set pakaian kulit kayu buatan warga Kopidil. Entah kayu dari pohon apa yang dipakai, pastinya harus melalui proses pengolahan yang panjang. Pakaian dibuat berdasarkan jenis kelamin pemakainya. Untuk wanita bentuknya seperti gaun, sedangkan pria hanya memakai rok sebatas lutut dengan selempang, ikat kepala, dan sarung pisau serba kulit kayu. Ketika Pak Telo mengenakan pakaiannya, saya seperti tersedot oleh lorong waktu menujuh dunia masa lalu dan bertemu dengan The Flingstones!

Pulang dari Kopidil, saya sengaja melajuhkan sepeda dengan lamban, berharap mendapatkan panorama sunset Kalabahi dari ketinggian. Syukurlah alam lagi bersahabat, di satu tikungan kecil setelah keluar dari rimbunan pepohonan, mata saya menangkap bentangan landskap menawan, lengkap dengan warna langit yang memerah lembayung. Saya berhenti di sebuah huma reot, duduk santai memandangi pesona senja. Termos kecil seukuran gelas yang selalu saya bawa kemana-mana saya ceduki dengan kopi instant. Hhmm…nikmatnya ujung hari terasa mencapai kesempurnaan.


Duduk di pondok menikmati view Tanjung Kalabahi

Tanjung Kalabahi sekitar jam 6.20 petang




TAKPALA, KAMPUNG ADAT BERSAHAJA
“Ke atas terus, Kak..,” seru anak kecil muncul dari balik pagar rumah, belakang papan putih bertulis Welcome to Takpala. Saya tersenyum lalu merogoh beberapa butir permen dari kantung ransel. Ia menerimanya dengan sukacita. Hari ini saya ingin ke Takpala, sebuah kampung tradisional penduduk asli Alor, Suku Abui. Untuk menggapainya, saya bersepeda ke arah bandara Mali kemudian berbelok ke kanan. Selang enam kilomenter sepanjang garis pantai, saya bersua papan putih tadi. Sekarang saya harus mendaki dengan konsentrasi penuh sebab pemandangan ke arah lautan cukup menggoda, padahal jalanannya berkerikil dan tebing di sisinya tanpa pembatas.

Tiba di tempat parkir, saya menarik napas lega. Kini saya tak usah was-was, tempat ini pun menawarkan panorama bebas ke laut. Angin sepoi berembus, menerbangkan wangi ikan panggang dari kampung Takpala. Sebuah lorong berbatu diteduhi deretan pohon Angsana menjadi pengantar selanjutnya ke lokasi pemukiman tradisional tersebut. Kedatangan saya disambut dengan sapaan ramah sekelompok pria yang sedang memperbaiki bangku bambu. Oh, kampung ini sangat otentik dan bersahaja.

Ibu dan anak dari Takpala yang saling bercanda

Lantai pertama rumah tradisional Takpala untuk memasak dan menerima tamu


Pak Martinus, petugas penerima tamu, mempersilahkan saya melihat-lihat konstruksi tempat tinggal mereka. Semua rumah di Takpala berpanggung rendah, satu sama lain berdiri berdampingan. Bahan utamanya dari bambu dan alang-alang kering terpakai untuk atap dibentuk bak piramida. Saya menyukai model rumahnya yang imut, lantai pertama dimanfaatkan sebagai dapur dan tempat berkumpul, lalu lantai kedua untuk tidur.

Kampung Takpala sudah menjadi kampung wisata umum. Tidak heran, penduduknya mengembangkan seni kerajinan tangan untuk diperdagangan. Ada kain tenun, kalung manic-manik, gelang kaki dari perak, perlengkapan makan dari kelapa dan kayu. Mereka juga menyewakan pakaian tradisional bagi pengunjung yang ingin berfoto. Saya lebih tertarik untuk memotret mereka dalam balutan busana itu. Lebih natural, lebih etnik, lebih matching. Ketika hendak pamit, seorang ibu memberikan sebatok jagung muda rebus tanpa mau dibayar. “Ambil saja, Nak. Buat makan di jalan,” ujarnya.

Gereja putih di Pulau Pura

Dua nenek bercerita sambil menganyam bakul



MENYENTUH ALQURAN TERTUA SE-ASIA
Jauh sebelum agama Kristen Protestan masuk dan dianut mayoritas masyarakatnya, Islam ternyata merupakan agama Samawi pertama yang menyentuh Bumi Kenari. Hubungan perdagangan laut antara kerajaan-kerajaan Islam di selatan Sulawesi dan Maluku dengan kerajaan-kerajaan lokal yang terjalin pada awal abad Pertengahan menjadi awal kontak Alor dengan Islam. Puncaknya saat Kesultanan Ternate di Maluku mencapai kejayaan dibawah kepemimpinan Babullah pada abad ke-16.

Saya sangat tertarik mengulik riwayat Islam disini karena terdapat sebuah peninggalan sejarah yang tidak didapatkan di tempat lain di Indonesia yang notabene lebih bergaung kehidupan iman Islamnya dibanding Alor nun jauh di NTT. Peninggalan sejarah itu adalah sebuah Alquran tua terbuat dari kulit kayu berusia melampaui delapan abad di desa Alor Besar. Kendati non-muslim, sebagai pejalan, saya telah terbiasa bergaul dengan masyarakat dari segala macam perbedaan latar belakang. Hikmah dari perjalanan telah banyak mengajarkan tentang toleransi, penerimaan akan perbedaan, keluar dari kerdilnya pemikiran, dan fanatisme sempit.

Alkisah, syiar Islam di Alor dilakukan oleh Iang Gogo, pelaut ulama Ternate. Bersama lima  saudaranya, Iang Gogo meluaskan ajaran Islam di Alor juga pulau-pulau sekitarnya berbekal pisau khitan dan Alquran. Uniknya, Alquran yang dibawa keenam bersaudara ini telah uzur dan terbuat dari kulit kayu. Ketika sepakat untuk berpencar, Iang Gogo memilih menetap di kampung Alor Besar, di barat laut Alor, sedangkan lima saudaranya berlayar dan menetap masing-masing di satu pulau. Keturunan Iang Gogo di Alor Besar hingga kini telah mencapai generasi ke-15.  

Alquran kulit kayu yang dibawa Iang Gogo masih awet terjaga higga kini. Lembaran-lembarannya masih bisa dibuka, dan ayat-ayat yang ditulis dengan tinta hitam merahnya juga masih dapat terbaca jelas. Setelah ratusan tahun tersimpan, Alquran yang beberapa kali selamat dari musibah kebakaran ini, sempat diboyong keluar dari Alor ke Ternate untuk dipajang saat perhelatan Festival Legu Gam Kesultanan Ternate bulan Maret 2011.

Menurut para sejarawan, Alquran kulit kayu tersebut telah melampaui usia 800 tahun dan diakui tak hanya sebagai Alquran tertua di Indonesia namun juga se-Asia. Saya yakin, jika saya yang bukan penganut Islam saja bisa takjub, tidakkah mereka yang Muslim tergerak hati untuk melihatnya juga?

Mesjid cantik di Alor Besar

Alquran tua dari kulit kayu


TAMAN KUNANG-KUNANG BERNAMA PULAU KEPA
Kala membuka mata, sepenuhnya saya sadar tengah berada di Pulau Kepa. Saya terjaga jam 5 subuh seiring kumandang syahdu adzan dari surau-surau pesisir barat Alor. Selimut kembali saya rapatkan ke tubuh sebab hawa sedikit dingin. Sepanjang malam saya lelap berayun di atas hammock.

Pulau Kepa hanya terpisahkan oleh selat tak lebih dari 200 meter lebarnya dari Pulau Alor. Dekat sekali memang, hanya saja beningnya air dengan gradasi pirus beserta hilir mudik ikannya sekedar jadi penggoda mata sebab deras arus laut memaksa siapapun untuk hati-hati saat menyeberang. Gaya berlayar kesana pun meniru gaya landing pesawat: bergerak melengkung, tak bisa ‘tembak’ lurus ke dermaga. Saya mengemudi selama 40 menit dari Kalabahi ke Alor Kecil untuk menyeberang kesana. Sepeda motor saya titipkan ke salah satu rumah yang terletak di dekat dermaga, kemudian menumpang sampan kecil berlayar menujuh Pulau Kepa.

Penginapan saya, Le Petite Kepa (kontak +6281339102403), adalah satu-satunya akomodasi di pulau mungil selebar tak lebih dari 500 meter ini. Diempunyai satu keluarga penyelam asal Perancis yang sungguh ramah. Penginapannya berupa jejeran bungalow bergaya lokal, bangunan panggung seperti rumah-rumah adat di Takpala. Sebenarnya tersedia pembaringan berkelambu di lantai dua. Tapi saya memutuskan untuk tidur di bawah saja, panggung terbuka. Alasannya bukan tak mau naik turun tangga tengah malam jika kebelet ke toilet, bukan pula karena tergila-gila pada hammock baruku yang berukuran jumbo. Sebuah keajaiban vista malamlah yang menawanku hingga tertidur disana.

Le Petite Kepa dinaungi semampai pohon-pohon bidara. Yang rimbun seberingin. Seusai hujan menyusul perginya matahari kemarin, Kunang-Kunang pun bermunculan. Kedap kedip cahaya mereka mengitari pohon-pohon itu, mendadak membawa nuansa negeri dongeng yang ajaib. Jumlahnya tak terhitung. Sekawanan Kunang-Kunang terbang mendekati ayunan. Tanpa kusentuh, dua diantaranya hinggap tepat pada lembaran majalah di atas dadaku. Nah, bagaimana bisa mangkir dari sana? Jadi kuputuskan tidur dan ‘menonton’ mereka sepanjang malam.

Kapal kayu di selat sempit ke Pulau Kepa

Teras samping restoran di La Petite Kepa Bungalow


Ternyata bukan saya saja yang kena sihir. Cerita soal Kunang-Kunang menjadi tema sarapan pagi segenap tetamu. “Saya terkenang kisah Pohon Juniper” begitu kesan Rosie McFarland pejalan asal Nottingham, Inggris. Sedangkan pasangan muda Guy dan Anne Legrand dari Belgia yang baru seminggu menikah, memamerkan rona sukacita mereka. ”Ini menjadi momen bulan madu yang memikat,” kata mereka. Masing-masing punya alasan kenapa memilih Alor sebagai tempat berlibur. Satu yang acapkali saya dengar adalah “datang ke Alor, ibarat mendarat di tanah impian kapten Jack Sparow. Tempat ini masih murni, jauh dari jangkauan, tapi memiliki segudang harta karun terpendam.”

Tamu pulau ini umumnya penyelam. Kesamaan minat menciptakan atmosfer menyerupai reuni keluarga. Apalagi penginapan menerapkan sistem makan bersama, tiga kali sehari semua tamu berkumpul di restoran, duduk mengelilingi meja kemudian saling berbagi hidangan dan cerita. Sungguh menyenangkan, suasana tidak kaku karena keadaan memotivasi siapapun untuk berkomunikasi satu sama lain. Luangnya waktu saya manfaatkan dengan menyusuri pantai berpasir putih halus di sisi barat pulau. Seraya memboyong hammock, saya tidur berayun di antara pepohonan rindang seharian. Menit-menit sunsetnya menakjubkan. Begitu pasang surut, nelayan datang berduyung berburu kerang dengan senter juga obor.  Sepertinya tak mau kalah dengan Kunang-Kunang, bersaing mencoba menerangi pulau.

Kepiting merah di pantai Kepa

Pemuda memancing ikan di bebatuan karang putih
SURGA BAWAH LAUT SESUNGGUHNYA
Dari Pulau Kepa saya menjajal wisata bawah laut Alor yang menjadi ‘hidden paradise’ bagi kalangan penyelam. Untuk telingah lokal, pamor Alor sebagai tempat menyelam tidak setenar beberapa tempat lain di Indonesia. Padahal, oleh banyak media asing, pesona taman laut Alor malah disebut yang terbaik se-Nusantara. Majalah ‘Tauchen,’ yang spesial membahas soal penyelaman menempatkan nama Alor di posisi pertama sebagai lokasi alami dasar laut paling fotogenik di Asia untuk underwater photography.

Cedric, pemilik bungalow, memimpin trip penyelaman. Terdapat dive shop untuk menyewa perlengkapan menyelam di tempatnya. Bagi yang hanya sekedar ikut untuk bersnorkeling, cukup menyewa satu set alat dan biaya join trip seharga total Rp. 100.000 saja. Seperti yang telah berlaku secara umum, biaya penyelaman terbagi  berdasarkan durasi, lokasi dan waktu selam (apakah siang hari ataukah malam).

Menceburkan diri untuk diving
Santai seusai menyelam
 Alih-alih ke tengah lautan, kapal justruh berhenti tepat di kaki Pulau Pura. Rasanya tidak percaya jika tempat penyelaman kami hanya berjarak selangkah dari pantai. Mula-mula kami menceburkan diri di Shark Galore. Sesuai namanya, tempat ini memacu andrenalin saya manakala tiga hiu kami temukan bersembunyi di bawah tebing. Dengan bantuan senter, saya bisa melihat gerigi tajamnya. Lokasi kedua yakni Paradise Point. Tapi saya memutuskan untuk bersnorkeling saja disini gara-gara Andrea, tamu asal Italia, menyebutkan bahwa terumbu di pesisir sangat memukau dan mempunyai karakter sarang ikan badut yang unik. Dan benar saja, karang-karangnya tumbuh seperti pohon besar dan ujungnya membentuk bak kelopak bunga berdiameter lebar dimana ikan warna-warni berkumpul di tengahnya. Ada pula terowongan karang panjang yang menciptakan kesan mistis saat saya menyusup ke dalam. Saya telah bersnorkeling di banyak tempat, tapi disini memberi sensasi tak terkira. Pantas saja, Riyani Djangkaru, presenter sekaligus penyelam Indonesia menjadikan Alor sebagai destinasi teratasnya.

Hari berikutnya saya bergabung dengan 5 penyelam untuk full day dive ke Pulau Ternate. Sebenarnya niat kami ke bagian selatan Alor yakni ke ‘The Catedral’ yang disebut memaparkan karang-karang terjal namun batal karena arus terlalu deras. Level kami belum sanggup untuk menghadapinya.

BERSUA ‘PACAR SYAHRINI’ NAN RAMAH
Ada yang unik dari isi bawah laut Alor. Selain terumbuh karang penuh ikan, sebuah benda lain yang telah menjadi ‘trade mark’ adalah Bubu.  Ini merupakan perangkap ikan yang dipasangkan para nelayan di dasar laut. Bubu dibuat dari anyaman bambu, membentuk keranjang, panjangnya kira-kira satu meter.

Tradisi berburu ikan dengan Bubu ini telah diwariskan secara turun temurun. Para nelayan cukup menyelam kemudian meletakkannnya di sela-sela karang tempat banyak ikan berkumpul. Dalam jeda waktu sehari atau dua hari mereka akan memeriksa, jika sudah ada ikan yang terperangkap maka Bubu akan ditarik keluar. Sistem ini sangat dipuji para pencinta alam sebab dianggap sebagai cara yang ramah terhadap kelangsungan ekosistem bahari. Meski tidak meraup banyak ikan, tapi warga telah peduli bahwa kelestarian bawah laut akan menunjang hidup generasi mendatang.

Keranjang artistik inilah dinamakan Bubu

Hadirnya Bubu di dalam laut Alor pun rupanya menarik perhatian para penggila fotografi. Di pandang dari sisi estetika, Bubu yang diletakkan di titik strategis memang memberi figuran ciamik untuk foto-foto underwater. Saya bertemu Wolfang Pƶlzer, seorang fotografer khusus bawah air yang jauh-jauh datang dari Jerman hanya untuk mengeksplor kekayaan laut Alor yang disandingkan dengan Bubu. Wolfgang bekerja sama dengan sejumlah nelayan tradisional menciptakan foto-foto sensasional. Saya sangat menyukai jepretannya yang menunjukkan seorang nelayan sedang menyelam membawa tombak dikerubuti ikan dengan pose seperti meluncur ke arah Bubu yang telah dipenuhi ikan. Luar biasa indahnya.

Kala pulang ke rumah dan mengisahkan pengalaman menyelam dan bertemu Bubu kepada keluarga, ibuku berkelakar, ”Pacar Syahrini keren juga, ya?” Kami semua bingung, namun kemudian terbahak setelah tahu maksud ucapannya. Oh, saya tidak akan melupakan ‘Mas Bubu’, dan berjanji akan kembali lagi ke Alor kelak.

(seperti dimuat dalam Majalah TRAVELXPOSE edisi Juli 2013)

Mari Menyibak Alor

Penerbangan komersil dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Kupang, dan Makassar menujuh Kupang dilanjutkan dengan maskapai Merpati Nusantara dan TransNusa ke Kalabahi setiap hari.  Alternatif jalur laut yakni dengan kapal PELNI KM Sirimau dari Tanjung Priok, Semarang, Makassar, Kupang, dan Larantuka, atau PELNI KM Awu dari Surabaya, Denpasar, Waingapu, Kupang, Larantuka, atau ASDP Fery dari Larantuka. Taksi berizin dari bandara Mali ke Kalabahi hingga ke dermaga Alor Kecil, hubungi Patris Sasi (T.+6285238405311). Akomodasi sekaligus layanan Diving seperti La Petite Kepa (kontak Anne Cedric, T.+6281339102403), atau Jawa Toda Dive Bungallow (T.+6281317804133). Penginapan sederhana di Kalabahi, Hotel Nusa Kenari (T.+62386212018), Hotel Melati (+6238621073), dan Pelangi Indah (T.+6238621073). Kampung adat Takpala (kontak Martinus, T.+6285338961723) dan Kopidil (kontak Moses Telo, T.+6281338619737). Makan malam dengan menu ikan bakar temukan di Sentra ikan bakar Pantai Reklamasi, dekat Pelabuhan Kalabahi. Oleh-oleh Jagung Titi atau Kacang Kenari dijual per kilo bisa ditemukan di pasar kota Kalabahi. Bank dan ATM hanya terdapat di pusat kota.