Rabu, Mei 06, 2009

Jalan - Jalan Ke Santorini (Yunani)


SANTORINI:
DIKALA KATA DIBUNGKAM KEINDAHAN

Lembaran copy Reiseführer kugapit erat. Preambulenya begitu menggoda: Pulau Santorini, berjuta sunset, berjuta memori, berjuta degup jantung. Colours of blue,white, red & gold streaking the sky…Poets have written about it, artists attempt to capture its beauty. Nothing can quite describe….The unsurpassed magic of Santorini.

Swiss Air baru saja melegahkan terbangku selama 1 ½ jam dari Jerman ke Zürich, plus 2 jam dari Zürich ke Athena. Itu sudah netto, tidak termasuk waktu transit. Hangatnya musim semi di Yunani seperti yang sudah diimpi-impikan mulai terasa ketika melangkahkan kaki ke Eleftherios Venizelos, international airportnya kota Athena. Rasa itu akan semakin tergenapkan karena untuk ke Santorini saya memilih menjangkaunya lewat laut. 

Kata para pendahulu, sentuhan emosional ketika berlayar menujuh Santorini tak bisa diukir dengan kata-kata. Apalagi kalau bukan karena legenda Atlantis, misteri sebuah benua yang hilang lenyap!! Jika Hawa mangut terbujuk rayuan Iblis, saya tersihir kata - kata Plato, salah satu filsuf putera bumi Yunani. Dan tentu saja saya ingin membawa diriku kesana, seolah-olah tersemangati untuk merasakan sisa-sisa aroma lama benua Atlantis “yang berada di seberang pilar-pilar Herkules, yang angkatan lautnya menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9500 tahun SM, yang tenggelam ke dasar samudra hanya dalam waktu satu hari satu malam,” begitu urai Plato.

Semalam Di Piraeus: Merambah Nadi Sang Helipedon
Sebagai orang asing, sama sekali tidak sulit menemukan transport dari airport ke Piraeus harbour, tempat nanti saya memulai berlayar menujuh Santorini. Di depan pintu keluar sudah berdiri kios bercat biru, tempat penjualan karcis Express Airport Bus. Kita pun tidak perluh pontang-panting mencari yang mana busnya, semua tertera dengan jelas disana. Dengan karcis seharga 3,20 € saya bersama turis-turis lain pun menyusuri jalanan kota Athena menujuh Piraeus. Mengingat jauhnya jarak serta lamanya perjalanan (2 jam), rasanya harga karcis tadi lumayan murah (untuk ukuran Eropa).

Bus berhenti tepat di samping gerbang dermaga. Inilah Piraeus, kota pelabuhan yang penduduk kotanya dibilang terpadat ke-tiga di Yunani. Alih-alih membayangkan seperti apa ferry yang akan saya tumpangi (tipikal orang dari negara ketiga nih, begitu dengar Ferry kebayang kapal berukuran kecil, produk tahun sekian, penumpangnya berjejal tidak kebagian tempat hahahaha....), saya malah dihidangkan pemandangan pelabuhan yang buat geleng-geleng kepala. Ternyata begitu banyak ferry yang cantik-cantik, gemuk-besar bertampang Cruise ship itulah yang “normalnya” tiap hari mengangkut penumpang dari dan menujuh pulau-pulau negeri Yunani. Jelas, saya merasa miris dan kecil hati mengingat situasi transportasi laut tanah air tercinta. 

Menyandang status sebagai negara kepulaun terbesar, selayaknya seperti ini pulalah pemandangan angkutan laut di Indonesia. Tidak ada penumpang yang berebutan tempat, tidak seperti lagi mengungsi. I beg your pardon, sama sekali tidak bermaksud menjelekkan negara sendiri, tapi itulah kenyataannya. Entah kenapa dari dekade ke dekade tidak berubah. Ada yang menyebut bahwa biang kerok semaputnya angkutan laut karena budget flight yang murah. Murah??? Hah…paling untuk wilayah barat Indonesia, sementara yang timur, Dewi Yull berdendang terus…Mimpikah Diriku.?? Tapi pikir-pikir ada benarnya juga sebab flight murah itu, apalagi dipanasi headline: Everybody Can Fly, maka berlombah-lombahlah orang meninggalkan dermaga beralih ke lapangan terbang, sambil mendengungkan lagunya R. Kelly yang I believe I Can Fly itu barangkali....

Piraeus yang berfungsi sebagai ibukota propinsi Attica memiliki untaian kisah masa lampau yang panjang. Pada masa permulaan kota ini yakni 26 SM, ia dipenuhi oleh karang dan menjadi tempat penambakan garam. Dari situlah di masa Yunani kuno Piraeus disebut Helipedon, berarti ladang garam. Lalu lintas kapal dagang mulai hilir mudik disini dan kota ini pun berkembang sebagai kota pelabuhan penting. Menjelang akhir perang Pellaponesia, ketika Athena diagresi Sparta (ingat istilah Polis Sparta-Polis Athena nih..), Piraeus dibakar karena enggan berada di genggaman Sparta. Bahkan dilupakan. Setelah demokrasi berkumandang di Yunani (orang Yunani mengenal demokrasi sejak tahun 300 SM!!!!!), kota ini kembali dibangun. Nama Helipedon telah terlupa, seribu tahun setelahnya orang memanggil dengan ”Porto Leone,“ atau Pelabuhan Singa, merujuk ke patung Singa yang berdiri di pintu masuk pelabuhan.



Sebenarnya hari itu ada beberapa ferry ke Santorini, tapi jalannya rata-rata diatas jam 5 sore. Artinya perjalanan lebih banyak didominasi oleh kegelapan malam (6 jam dari Piraeus ke Santorini) Sementara saya sudah punya cita-cita maha mulia untuk menikmati laut Aegean plus merasakan legenda Atlantis itu!!! Garing kalau gelap-gelapan. Maka kuputuskan berangkat besok pagi-pagi. Hellenic Seaways , high speed ferry mewujudkan cita-cita saya. 

Berangkat jam 7.30 pagi, mantap! Saking ngos-ngosan mencari penginapan murah sambil pikul backpack, saya putuskan untuk mengisi perut di Mc D*****. Di Piraeus, begitu masuk hotel kita dihadapkan dengan tangga-tangga menujuh meja reception. Jelas pegal. Dasar tukang jalan, habis makan saya mengitari Piraeus tanpa rasa ngantuk. Padahal dari Jerman keluar rumah jam 4 pagi, manalagi mata saya tidak bisa terpejam kalau terbang di atas pegunungan Alpen yg berlumur salju, katrokkk……Tapi jika tidur,artinya saya tidak bisa merambah nadi Sang Helipedon. Jangan salah, perkara leisure and entertainment, Piraeus juga cukup punya nama. Secara berkala digelar fesfival music dan film bertaraf International. 

Di Piraeus pula pertama kali saya mengenal istilah Taverna, sebutan Yunani untuk open air restaurant. Salah satu typical Yunani. Jangan lupa, kita berada di negeri tua yang beradabannya berkembang lebih dulu dari kita, so museum sudah pasti ada dimana-mana,bukan? Sebelum menghimpun tenaga di kasur hotel untuk perjalanan besoknya, saya menikmati senja dengan riak-riak laut keemasan di harbour. Ah…, begitu banyak kapal…begitu luas dermaganya….


Sail Away
Ferry berwarna merah dengan tulisan Vodafone besar-besar sudah membuka bokongnya. Pagi riuh semarak di Piraeus. Menjelang naik ferry saya membeli 2 buah Psomi, rotinya orang Yunani, sarapan pagiku. Ramai benar tetapi semua berjalan teratur hingga ferry bergerak pergi.

Santorini masuk dalam gugusan kepulauan Cyclades di perairan Aegean Sea dan dia letaknya paling selatan. Jika berniat berlayar turun lagi, kita akan menjangkau Pulau Kreta. Karena posisinya yang terbawah itulah maka suguhan pulau-pulau besar kecil jadi jaminan perjalanan yang menyenangkan. Saya mengamini apa yang telah dikatakan orang, ke Santorini lewat laut memang lebih dapat ‘feel’nya. 

Decak kagum datang bertubi-tubi, bukan dari saya tapi pulahan penumpang lainnya taktala ferry mulai melintas di antara pulau-pulau kecil. Tiang-tiang kuil kuno yang tertanam di pulau karang sempit, rumah-rumah berbentuk kotak di dinding-dinding tebing atau gereja yang berdiri dalam kesendirian di tepi laut silih berganti hadir seumpama slide show. Di antara haru biru itu saya mengingat-ingat lagi nama para dewa Yunani kuno: Zeus, Poseidon, Hestia, Hermes, Hera, Athena, Artemis, Ares, Apollo, Aprodithe yang saya kenal dari buku-buku jaman kecilku dulu. Atau para pahlawan tangguh semisal Achilles, Herakles, Odysseus, dan Pandora. Dan tentu saja tak lupa para ahli pikir serta ilmuwannya: Herodotus, Pythagoras, Socrates, Plato, Hippocrates, Aristoteles, dan Archimedes. Semua nama muncul sepenggal-sepenggal, sama seperti panorama yang cepat berganti (kita pakai high speed ferry,Om!). 

Seperti ingin melompat turun saja saat ferry sejenak (tidak sampai 15 Menit) memuntahkan penumpang di Pulau Paros, lah..di dermaganya saja berdiri sebuah kincir angin cantik! Kemudian di Pulau Naxos, saya kejang-kejang mau menyentuh gereja putih yang amat mungil di dermaga. Coba kalau ferry stop 30 Menit!! Hahaha…mau tidur semalam di laut,Bos? Kita masih separuh perjalanan!


Legenda Atlantis: Once Upon A Time…
Separuh penumpang ferry tiba-tiba seperti dikomando keluar memenuhi bagian belakang dan atas dek ferry. Apa pasal? Ternyata samar-samar sudah tampak garis tebal, bangunan-bangunan putih yang bertengger di atas tebing. Inikah tempat yang disebut orang Surga Di Ketinggian 300 Meter itu?…Takjub saya, kok ada yang mau membangun rumah di bibir tebing yang curam dan tinggi? 

“That is Santorini, take a look..!!!,” kata seorang ayah kepada putranya yg berusia sekitar 2-3 tahun. Sang anak menatap antusias mengikuti arahan tangan ayahnya. Begitu pun saya. Ah…spontan terkenang ayahku, …pemandangan menakjubkan di depan mata dan semangat ayah dengan anaknya di sampingku, membawa kembali ingatan akan masa kecil. Ayah sering mengajak kami mengunjungi tempat-tempat sampai pelosok, hingga bau garam tak bisa tercium, hingga saya mencak-mencak minta pulang karena merasa sudah terlalu jauh…Saya tersenyum sendiri, sekarang saya dikerubuti bau garam dan tidak mau pulang meskipun begitu jauh dari rumah!!!

Rupanya Pak kapten memahami keinginan penumpang, atau mungkin telepati saya tertangkap dengan baik (pakai radar soalnya tuh Kapten hahaha…). Beliau seperti asisten sutradara (siapa sutradaranya, ayo?), membantu agar view lebih dramatis: Menggerakan ferry secara slow motion, mengarahkan kami memasuki perairan yang dulunya adalah kawah gunung berapi! Alamakk….itu kawah ternyata masih aktif pula dan terkadang mengeluarkan asap.

Once Upon A Time, Santorini adalah sebuah pulau gunung berapi berketingan 1.000 meter. Di kitaran tahun 1627 – 1600 SM gunung berapi ini meletus dengan amat dasyatnya dan tercatat sebagai letusan gunung berapi paling hebat sepanjang sejarah dunia. Bukan hanya menghancurkan kehidupan di pulau ini sendiri tapi tsunami yang dihasilkan menggulung lenyapkan peradaban Minoan (Minoan civilization) di Pulau Kreta -letaknya 110 km selatan Santorini- yang pada masa itu sedang berada pada puncak kejayaan. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai The Minoan eruption of Thera, atau Santorini Eruption. Ada yang mengungkapkan bahwa kejadian ini berkaitan dengan perubahan iklim dunia, tandusnya benua Afrika, dll. Bahkan lebih seruh lagi ada ilmuwan Amerika, Dr. Hans Goedicke (Paman Gudik, begitulah saya menyebutnya, bahh..sok kenal), mengaitkannya dengan isi Alkitab. Paman Gudik menghubungkan kisah Nabi Musa membelah air laut dengan peristiwa letusan besar di Santorini. Dasar teorinya, kedua peristiwa ini terjadi pada masa yang berdekatan plus diperkuat lagi oleh bukti-bukti penemuan bebatuan yang didapatkan di Pulau Kreta dan di Laut Tengah. Jadi kesimpulannya: letusan gunung Santorini mencapai Mesir dan berdampak pada kejadian terbelahnya Laut Merah. Nah loh..!!!!

But, Whatever...kenyataanya tidak sedikit kisah serta mitos muncul dilatarbelakangi letusan gunung Santorini ini. Contohnya, ya.. legenda Atlantis yang dikisahkan Plato itu. Padahal sang filsuf membangun kisah ini sebagai sebuah perumpamaan saja demi menjelaskan pemikirannya tentang politik. Berhubung saya sendiri amat tertarik dengan kisah ini (gara-gara waktu SD sempat baca artikelnya di Majalah Bobo hahaha…), ada baiknya saya petik penggalan kisahnya Plato yang tertuang dalam buku Timaeus dan Critias:


"Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut. negara besar yang mempunyai peradaban tinggi itupun lenyap dalam semalam."


First Sight Santorini
Merapatlah kami ke Ormos Athinios, dermaga utama Pulau Santorini. Tidak begitu luas, hanya beberapa meter saja lebarnya. Disitu selain kios, cafe, ada juga sejumlah tourist information yang menawarkan trip, hotel booking, hingga penyewaan kendaraan. Seperti umumnya tempat wisata, kita diserbu tawaran yang datang dari beberapa orang. Sekonyong saya menatap sambil geleng-geleng kepala ketika menyaksikan tanjak serta berlikunya jalan menuju ke atas. Manalagi tanahnya kosong melompong tanpa pohon, tanpa pembatas jalan. Damm! Pikirku tak bakalan sedratis ini. Otomatis saya pilih jalan aman, begitu datang tawaran hotel yang harganya jauh lebih murah daripada hotel tempat saya menginap semalam di Piraeus, saya pun terima sambutan itu. Katanya lagi, saya boleh lihat-lihat dulu hotelnya kalau kurang berkenan tidak masalah jika mau cari penginapan lain. Okelah, saat ini yang penting saya bisa dapat tumpangan sampai ke Fira, pusat kota. Jarak antara kedua lokasi ini dalam buku tertera cuma 6 km tapi malah nyaris sejam perjalanannya. Dan saya yakin setengah jam lebih dihabiskan hanya untuk menanjak dari dermaga ke atas. Hahaha…..



Sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan khas seperti yang saya lihat di majalah-majalah; landscape dengan padang luas berbukit-bukit, rumah-rumah berasitektur unik berwarna putih, gereja bertebaran dimana-mana dengan paduan cat biru-putih. Dan this is Spring time, walhasil padang-ladang bertebaran bunga-bunga perdu layaknya permadani. Bunga Camille berwarna putih (lagi-lagi putih) paling mendominasi. Sebagai orang yang suka photography, kayaknya ini pulau paling pas untuk buat photo pre-wedding. Tak sabar saya ingin menyentuh semua yang saya lihat itu. 

Ending perjalanan panjangku dari Piraeus ke Santorini bermuara di Blue Horison Hotel. Hotel yang ditawarkan orang itu fisiknya masih baru, letaknya strategis, sangat nyaman dan luas, jauh dari bising, ditambah asyiknya view balkon yang mengarah ke lautan. Dari jarak beberapa ratus meter ada satu kincir angin. Sempurna sudah! Dugaan bahwa nanti mungkin saya harus mencari lagi penginapan lain karena tak cocok pun akhirnya batal.

Fira: Jantung Yang Tak Pernah Henti Berdegup
Dimana - mana putih! Ya rumah, ya gereja, ya hotel…Edan nih pulau. Kalau putih jadi warna primer, maka biru jadi warna sekunder. So, jika atap dan dinding dicat putih giliran jendelanya dikasih warna biru. Pokoknya dua warna itulah yang terpopuler di pulau-pulau Yunani. Kenapa ya putih-biru yang dipakai? Umumnya orang mengaitkannya dengan warna bendera negara mereka. Sehingga kalau ditanya, jawabannya: Karena warna benderanya putih biru. Masa hanya itu alasannya? Jawaban yang lebih rasional ternyata kedua warna ini membuat suhu rumah lebih sejuk di waktu musim panas (Tau sajalah Yunani itu gersang dan panas menyengat). Selain itu warna putih ini secara tradisional dipakai sebagai plester tembok dari bahan calcium carbonate yang sudah pasti gampang diperoleh di Yunani, lantas fungsi warna biru bukan pula hanya pemanis tapi warna ini sanggup “mengademkan” silaunya warna putih tadi.

Fira, sebagai ibu kota sudah pasti jadi tempat paling ramai se-pulau. Banyak sekali bar dan kafe yang letaknya berhiruk pikuk dengan restaurant, toko souvenir, atau gallery. Lagi low season seperti sekarang saja sudah susah bernafas karena lorong-lorong kotanya yang sempit, apalagi jika pas high season,pas musim panas? Tambah lagi kota ini berada pada kemiringin, sehingga bisa bikin otot paha kencang karena harus naik turun tangga terus. Yang paling seruh tentu saja berada pada tepian kaldera di ketinggian 300 meter. Memandang luas ke lautan yang birunya sungguh-sungguh biru, sambil merasa romantis sendiri saking bagusnya sunset serta artistiknya cafe dan hotel yang bergantungan di tebing. Ini pulau memang paling cocok untuk sayang-sayangan sepertinya. Jadi mujurlah bagi yang datang berpasangan, kalau yang jombloh atau tak bawa pasangan cukup menghayal saja sambil makan hati karena lihat adegan romantis yang muncul non stop.



Hari kedua, saya bangun pagi sekali soalnya pas Minggu Paskah, niatnya mau ikutan misa di gereja Katolik. Sudah masuk ke kapela milik biarawati Dominikan, sudah ikutan ibadat pagi, ee…taunya pas Misa mau dimulai suster-suster kok membagikan daun palma ke umat. Bingunglah saya, lantas Pastornya kasih pengumuman singkat bahwa di Yunani walaupun gerejanya Katolik tapi Paskahnya mengikuti kalender Ortodoks, walhasil Paskahnya harus tunggu minggu depan lagi. Wah…kami umat yang hampir semuanya turis cuma bisa tersenyum pandang-pandangan. Sudah cita-cita mau Paskah di Santorini tapi malah diundur? 

Pulang dari gereja langsung terbersit keinginan untuk mulai keliling. Soal transport jelas saya pilih rental sepeda motor, harganya murah:10€ per hari, tinggal tunjukin SIM International, sudah bisa nancap gas. Transport tertenar dan paling asyik di Santorini sebenarnya ATV atau nama lainnya Quad, kira-kira hasil kawin campur antara gokart and motorbike-lah. Cocok sama topografi Santorini. Tapi saya merasa tidak pede secara fisik, badan saya yang kecil tidak matching dengan kendaraan gemuk itu...wakakakkk…

Mencicipi Santorini dari Ujung ke Ujung
Well, tripku maunya bisa melihat semua tempat di Santorini. Enam hari itu cukuplah untuk mengalahkan pulau berukuran 17 x 6 km ini. Maka menderuhlah sepeda motorku ke tempat paling selatan yakni Faros, dimana sebuah Lighthouse menjadi bangunan paling terselatan Santorini. Sejarah keberadaan lighthouse ini dimulai tahun 1892 oleh perusahaan mercusuar Perancis dan masih berfungsi hingga kini dan sunset di kaki mercusuar ini pun jadi salah satu moment paling baik di Santorini. Di bagian kanan belakang mercusuar ini kita bisa melongok jauh ke sebuah gereja, Messa Pigadia, menyepi sendiri di atas tebing kapur.



Akrotiri dan Red Beach. Letak keduanya tidak berjauhan. Akrotiri, adalah nama yang cukup besar di jaman perunggu Yunani dulu. Tempat ini adalah kota purba Santorini. Akibat letusan gunung, Akrotiri terkubur sehingga jika ingin melihatnya kita seperti berada di ruang dalam tanah. Kini dalam proses renovasi jadinya pengunjung tidak diperkenankan masuk. Lanjut ke Red Beach, ini adalah salah satu object ternama di Santorini, apalagi buat orang muda. Sebelum mencapai lokasi, ada gereja kecil yang letaknya persis di bawah tebing. Kontras warna putihnya dengan tebing di belakang yang berwarna merah. Red Beach memang pantai yang sungguh berpasir merah. Jadi tempat berjemur yang dicari, bahkan pilihan nomor satu kaum nudis. Sampai ke pantai ini saya cuma melongok dari atas, tak termotivasi untuk turun ke bawah karena toh sampai di bawah pun paling cuma nonton kan? Tapi lumayan betah juga loh memandangi orang ber-topless.










Vlichada, kampung nelayan ini menjamin enaknya menikmati seafood khas Mediterania. Yang paling top sudah pasti melahap Kalamari, ikan gurita digoreng pakai tepung, di bawah naungan atap biru open restaurant sambil menatap lautan Aegean dan dermaga nelayan yang bentuknya melengkung indah. Tentu bukan hanya Kalamari. Yunani punya menu seafood bejibun, Bung. Nama-nama unik semisal Arxaios ksifias me kolokythakia kai manitaria (Swordfish dgn zucihini dan mushroom), Fileta tonou sti katsarola (Tuna fish), Arxaies garides me glaso meliou (Shrimps with honey), atau Karavides ladolemono (Crayfish with lemon) . 

Apapun makananya, orang Yunani selalu mengawali santapan dengan Horiatiki, salat spezial Yunani berbalut minyak zaitun dan taburan keju putih kotak-kotak. Karena biasanya orang Yunani selalu makan ditemani roti termasuk saat makan salat, saya diberi trik asyik oleh empunya Taverna Vlichada-Dimitris: tuangkan minyak zaitun ke piring mulanya lalu ambil sepotong roti, dibasahkan ke minyak zaitun tersebut (seperti orang mencelupkan roti ke kopi). Rasanya maknyos …!!(dgn ekspresi mirip Pak Bondan Winarno). Di Vlicada ini ada pantai yang ajaib benar, bisa dibilang salah satu keajaiban alam. Ini pantai berhadapn dengan tebing dan yang buat ajaib yakni dinding tebing sepanjang 2 km itu berkontur artistik. Seperti mini Grand Canyon. Berkapur, merah dan dramatis. Kontan saya pun tanpa malu minta diprotret dengan gaya seperti fotografer-fotografer National Geographic...

Tebing berkuntor unik di Vlichada
Sempat juga difotoin


Emporio, inilah desa terbesar di Santorini. Dari namanya sudah ketahuan jika desa ini dulu terkenal sebagai pusat perdagangan. Di tempat inilah, dengan sedikit fantasi kita bisa membayangkan bagaiman wajah desa di Santorini di abad pertengahan. Seperti yang sudah-sudah, rumah mungil berdinding putih dengan tata ruang yang tak beraturan membuat kita seperti berada di sebuah dunia lain. Begitu hening tempat ini. 

Sebuah kastil, Goulas, dengan menara lonceng di belakangnya hampir menjebak saya untuk berlama-lama disitu. Ada sisi lain Emporio yang menarik untuk disinggahi, Gavrilou Hill, di bukit ini berjejeran kira-kira 6 kincir angin. Hanya saja kincir angin ini cuma tersisa badannya saja alias tidak utuh . Pertama kali melihatnya saya duga ini semacam pos meriam, gara-gara rangkah kincirnya yang mirip meriam. Di Gavrilou Hill juga saya benar-benar menemukan ” Authentic Greeks Spring”. Bagaimana tak takjub jika menemukan sebuah padang yang penuh bunga Poppy berwarna merah??. Wah, dasyat luar biasa. 

Kalau mau nyabu sepertinya gampang, tinggal nyunyah bunganya
Emporia dengan rumah-rumahnya yang berwarna krem
Jejeran kincir angin yang sudah rusak termakan usia

Perissa Beach & Kamari Beach, katanya kedua ini pantai adalah Santorini Best Beaches. Anehnya, sampai ke lokasi perasaan saya malah biasa-biasa saja. Lah…dua-duanya mah mirip, masih bagusan pantai di kampung saya hahahaha…Berpasir hitam, kebanyakan turis berusia muda tumpah rua disini. Saya kira mungkin adem kalau pas sore-sore mejengnya. Bedanya di kampung saya tak ada payung-payungnya…tak ada bule terdampar di pasir tengah hari (Habis,….mana ada orang di kampung yang mau berjemur siang bolong?). Tambahan lagi, pantai bukan tempat favorit saya. …



Megalochori, suasananya mirip-mirip Emporio. Lumayan cantik khas desa Yunani. Beberapa rumah dicat multicolor, kontras antara satu dinding dengan yang lain.




Ancient Thira, tempat yang wajib dikunjungi jika anda ingin melacak jejak kekunoan Santorini. Pagi-pagi saya menujuh lokasi ini, pas jam 8 pagi saya sudah berdiri di kaki gunung Mesa Vouno yang tingginya hampir 400 meter dari permukaan laut. Dan artinya saya harus mendaki. Wah…pagi-pagi…dan saya adalah pendaki pertama loh (buka jam 8 soalnya). 

Sebenarnya untuk sampai ke puncak gunung bisa pakai kendaraan, hanya saja ada perbaikan jalan dan selain itu saya juga rupanya punya semangat tinggi. Akibatnya tersenggal-senggallah saya mengitari jalanan berbelok-belok itu. Tapi, Bos, harus saya katakan: Feel-nya dapat benar!!! Separuh jalannya adalah benar-benar tua, dan kiri-kanan jalan dipenuhi pinus,dan zaitun. Trus di depan kita itu terbentang lautan luas. Singkatnya, berada di jalan ini membawa saya ke film-film kolosal. 

Tiba di atas ternyata lokasi Ancient Thera harus tambah ke atas lagi…!!! Bah, keselek saya…tapi harus maju terus pantang mundur. Hasilnya….luar biasa..walaupun tersisa puing-puing tapi lokasinya bisa dikenali dengan baik karena terpetakan. Setidaknya kita bisa mengenal bagaimana orang kuno membagi tata ruang kota mereka. Beberapa simbol pemujaan masih nyata seperti relief lumba-lumba (Poseidon) atau Elang (Zeus). Demi perindungan, sebagian besar patung-patung yang lumayan utuh disimpan di Archaeological Museum di pusat kota, Fira.




Pirgis & Profitis Ilias, 
Pirgos ini adalah ibukota pertama Santorini sebelum pindah ke Fira. Karena letaknya pada ketinggian, bangunan kota ini sangat mencolok, bisa dilihat dari kejauhan. Setelah mengalahkan gunung Mesa Vouno, saya terilhami untuk menaklukan gunung Profitis Ilias

Ini adalah gunung tertinggi di pulau Santorini (567 m). Jalan menujuh ke gunung ini lumayan curam tambah lagi hawa dingin yang menyengat dan kabut yang kadang-kadang bikin keder nyali. Di atas gunung Profitis Ilias ( artinya Nabi Elia) bertengger satu gereja tua kecil milik biarawan Ortodoks. Sayangnya hari itu gereja ini tidak bisa dikunjungi dan dia dikitari tembok tinggi. Akan tetapi view dari sini amat menakjubkan. Saya selalu merasa takjub setiap kali berada di puncak gunung. Mungkin karena itulah saya lebih menyukai pegunungan ketimbang pantai.

Monolithos, saya berkunjung ke Pantai ini karena tergoda foto sunrise pada brosur restoran di Fira. Impian saya adalah membuat foto-foto Sunrise, setidaknya tidak semua melulu Sunset di memory card saya. Jam ½ 5 pagi saya sudah meninggalkan kamar hotel, motor sewaanku kembali menderu di kesenyapan pagi. Momentnya sungguh tidak mengecewakan untuk dijepret. Malangnya, saking sibuknya saya menyelinap di antara bebatuan, tanpa sadar satu filter graduated camera saya jatuh disana. Sia-sia saya berusaha menemukannya, padahal tuh filter baru saya beli 2 minggu lalu dan itu special saya siapkan untuk dibawah ke Santorini….



Oia Village. Sudah hukum wajib bahwa setiap orang yang datang ke Santorini tentu pasti menyempatkan diri ke Oia. Bisa dibilang Oia adalah daya tarik terbesar di Santorini. Alasanya simple: Oia menjanjikan view Sunset yang menakjubkan. Malah jadi “One of The Most Beautiful” Selain itu komposisi bangunan yang bergelantungan di dinding kalderanya lebih artistik ketimbang di Fira atau tempat lain. 

Boleh saja Fira coba-coba merayu turis dengan cable car atau keledainya, tapi Oia dengan anak-anak tangganya lebih jadi alasan utama kenapa orang datang ke pulau ini. Sumpah, setiap foto di postcard/kalender/buku tentang Santorini dijamin ada foto dari Oia atau bahkan jadi foto yang paling cantik. Letaknya berada di ujung paling utara pulau, tempat ini bikin saya keletar-keletar sampai harus bela-belain datang dua kali. 

Hari pertama saya sudah terbayang-bayang pesonanya, sudah dengan spirit luar biasa datang dari Fira, pakai lari-lari pula dari tempat parkir ke lokasinya…eh..pas sudah pede-nya mau jepret, cameranya tidak berfungsi..!! Cek..tau-taunya batereinya ketinggalan di kamar hotel karena tadi siang sy nge-charge. Merasa diri paling goblok sedunia waktu itu, pas mataharinya sudah mulai merona pula. Anjrittt….. lantaran cameranya bukan pakai baterai A3, saya cuma bisa mengutuk diri sendiri. Tapi berhubung tempatnya terlalu indah, segerah mungkin pikiranku ternetralisir. Hitung-hitung pengenalan lokasi, hiburku. Toh besok bisa datang lagi (mudah-mudahan cuacanya bagus tentu saja). Besoknya, syukur benar, saya sempat kuatir karena selama setengah hari langit ketutup birunya. Untunglah matahari muncul, saya tentu saja tidak mau terulang lagi kejadian dungu sebelumnya ( tripod saya pun pernah ketinggalan di kaki gunung Mesa Vuono, sehabis turun dari Ancient Thera lantaran diajak ngobrol sama orang. Baru kaget setelah setengah jam perjalan pulang. Terpaksa balik lagi, dan untung saja Tripodnya masih ada , bersandar manis di dinding tebing..)



Hari terakhir saya menjajal Cable car, turun dari atas menujuh pelabuhan tua Limani Skala. Lumayan cakep viewnya pas di bawah. Baliknya saya memacuh jantung dengan menaiki ratusan anak tangga menujuh ke atas, beberapa kali berpapasan dengan rombongan turis yang asyik-masyuk di punggung keledai atau sama sekali cuma ketemu keledainya tok sambil mencet hidung karena parfum cap ‘kencing keledai’ bertebaran dimana-mana. Gantenng..gg…sudah bermandi peluh, bau pula…!!



Genap seminggu saya di Santorini, dengan berat hati saya meninggalkan pulau ini. Tergoda untuk merayakan Paskah yang tertundah. Mencium aroma Tsoureki dan Melitinia, dua ragam dessert yang hanya khusus dihidangkan menjelang Paskah. Atau ke Pirgos, pas malam Jum’at Agung seluruh kota akan dikitari cahaya lampu minyak. Terbayang indahnya seperti apa, sayang….waktu jualah yang harus membatasi…saya harus meninggalkan Santorini hari Jum’at subuh. Berlayar lagi membela lautan, memandang ‘surga’ yang pelan-pelan kabur. Tapi biru-putih masih bermain-main. Biru-putih gulungan ombak. Biru-putih langit dan awan. Biru-putih hatiku.

(Semua foto di atas adalah produk pribadi.)
Diposting @Mei 2009