Jumat, Desember 09, 2005

Biarkan Dunia bicara


Kau tatap mataku,lalu aku tertawan
biar saja dunia bicara
tentang kita yang sama-sama makan apel
hanya saja bila kau tanya
kenapa tanganku bersembunyi di belakang kepala
itu pertanda aku lebih tahu bagaimana menikmati hidup
dan baju merah ini dalah gairah
juga api
suatu saat aku akan membakar semuanya
dengan mimpi-mimpi
tentang adam yang menari telanjang di depan matamu

Membaca diri

musti ada waktu tuk menghitung
seberapa banyak hari tertiti
seberapa banyak malam termimpi
Dan pagi itu
saat tuk mengawinkan hari dan malam
bermimpi tentang hari yang meniti malam

pabila ketakadilan membayangi jiwa
seperti puisi si idealiskah,
seperti kemarahan dewakah,
kulawan dengan tangan yang kupakai
tuk melukis sorga

aku bukan orgasme
dari sumpah serapa ibuku
juga air seni ayahku
aku sebuah gambar yang sudah seharusnya ada
aku lahir,
membentuk dimensi keberadaan
dengan tangan terbuka
bukan kepal perlawanan!

Minggu, Desember 04, 2005

cerpen 3

BURUK MUKA, TV DIBELAH(Seorang Lelaki Di Sebelah Cermin)

Lelaki tua itu telah menghilang. Hanya ada cermin besar di sebelah sofa yang didudukinya.

Tadi si tua itu duduk tak jauh di sebelahnya. Diam saja mulanya, lalu mulai terkekeh ketika ia menekan tombol on di remote yang menyalakan televisi di hadapannya.
“Mau numpang nonton, orang tua? Boleh.. boleh..”
Televisi besar berukuran 29 inchi itu mulai menampakkan gambar-gambar hewan ganjil bertubuh besar.
"Ah, ini acara tentang Dinosaurus.."

Lelaki itu menekan tombol pembesar volume. Terdengar nama-nama yang asing setiap visualisasi rekaan mahluk-mahluk ajaib itu. “Brachiosaurus yang hidup di akhir Jaman Jurassic dan masa awal jaman Cretaceous, berleher panjang seperti jerapah, dengan tubuh bulat dan kaki-kaki yang besar. Walaupun panjang tubuhnya mencapai 25 hingga 30 meter, tetapi monster besar ini termasuk jenis herbivor yang memakan tumbuh-tumbuhan.”
Hewan di depannya berganti dengan gambaran yang lebih akrab di benaknya. Ia ingat hewan satu ini sempat begitu terkenal, ketika difilmkan oleh sutradara Holywood yang terkenal itu. Sulih suara di televisi mengingatkan ia akan nama hewan itu. “Tyranosaurus, Dinosaurus pemakan daging yang paling fenomenal dari monster jaman Cretaceous. Diperkirakan hidup…”

Lelaki tua di sebelahnya terkekeh. Mungkin merasa lucu mendengar nama-nama asing itu.
“Lucu? Hh.., bagaimana dengan yang ini.” Gambar di televisi berganti lagi. “Albertosaurus, adalah versi yang lebih kecil dari Tyranosaurus. Bila T-rex bisa mencapai panjang 12 hingga 14 meter, maka Albertosaurus ini hanya sekitar 8 meter panjangnya. Diperkirakan hidup di masa akhir jaman Cretaceous.”
“Alberto.. seperti nama salah seorang temanmu? Hh…, Coba kau dengar ini..”

Suara di televisi terdengar lagi, “Chinshakiangosaurus chuhghoensis, ditemukan dalam bentuk rangka yang tidak lengkap di Provinsi Dianzhong Bazin, Cina, pada tahun 1975.”
“He-he-he…,” kekehan tawanya semakin keras.
“Seperti nama pemain bulu tangkis hah?”, tangannya membesarkan lagi volume suara satu tingkat. Kamar itu jadi seperti dipenuhi suara dari speaker televisinya. "Zigongosaurus fuxiensis, adalah hewan lain yang ditemukan di provinsi
Sichuan, oleh tiga peneliti China, Hou, Chao, dan Chu."
Zigong…, lebih lucu lagi kata itu buatmu…?”

Seperti menjawab pertanyaannya, suara tawa lelaki tua itu terdengar semakin keras, sehingga ia merasa sebal sendiri. Lebih menyebalkan lagi melihat tubuhnya yang berguncang-guncang karena geli. Ia mengumpat kesal, “Brachio, Tyrano, Alberto, Chinshah King Kong atau apalah tadi. Pokoknya semua yang nggak keurus - nggak keurus lainnya. Ah, pokoke aku ora urus.”

Ia memindahkan channel dengan remote di tangannya. Lelaki tua itu terdiam. Tapi seringai senyum yang menjijikkan kembali terlihat ketika layar televisi menayangkan gambar tubuh-tubuh kerdil botak dalam sinetron komedi. “Gagal maning.., gagal maning Son.. “ dua tokoh di tayangan itu terlihat gosong sekujur tubuhnya seperti adegan di film kartun.

“Hehehe… ini lucu.. ini lucu..”
Merasa sebal melihat lelaki tua itu terkekeh lagi, tangannya cepat memindahkan chanel ke saluran sebelumnya. Kali ini sebuah nenek moyang cucakrawa yang besarnya tak kepalang memenuhi tabung kaca. Suara di televisi kembali terdengar, “Pteranodon, adalah…” Jarinya menekan tombol lain di remotenya, ia bergumam sendiri dalam rasa kesalnya, “Pteranodon… ora urus juga Son!”

Lelaki tua itu terdiam sejenak. Sinar matanya meredup, mungkin malu juga ia dengan tingkahnya sendiri. tapi tak lama sinar matanya kembali bergairah..

“Ah.. ini saja, Universitas Fantasi. Nyanyi…, nyanyi… ”
Ia mendengus, “Penyanyi-penyanyi karbitan dengan suara pas-pasan begini jadi tontonan..? Nyanyi…? Hh..., ini sih jualan cerita fantasi basi.” Jarinya bergerak cepat, televisinya berkedip menghapus tayangan itu dan berganti ke chanel lain.

“Ah.. ini Idola
Indonesia… Lebih bagus nyanyinya..., Ndak basi-ndak basi.. ”
Kata-kata itu membuatnya melotot, suaranya semakin terdengar jengkel, “Apanya yang nggak basi? Karuan cuman njiplak orang punya kok nggak basi.. Aku nggak mau nonton yang nggak ada manfaatnya kayak gini! Idola-idola.. cuma bikin silau remaja-remaja saja!” Ia mengomel sambil --lagi-lagi-- memindah acara dengan kotak kecil di tangan kanannya.

“Hii… buaya! Itu… ! Wah, ada ular juga…! Asyik ini…, ini saja ya..?”
Ia menjamah tabloid di pangkuannya, menunjukkan lembaran dalam tabloid itu yang memuat daftar acara televisi dalam seminggu. “Nih lihat ! Nggak bosen seminggu nonton beginian terus? Seminggu bersama ularrr dan buayaa… luarrr biasa…bosennya!” Ia kini terkekeh sendiri. Lucu juga ia merasakan rima dalam kata-katanya.

Lelaki tua itu terdiam lagi. Agak cemberut, karena ketertarikannya pada setiap acara tampaknya tidak disetujui siempunya kotak ajaib itu. Sebuah tombol lain ditekan, dan acara berganti pada tayangan berita kriminal.
“Haa… Kriminal. Berita orang jahat dan nakal. Ini perlu.. perlu.. “
“Perlu apa?” suaranya kini terdengar mengejek. Lalu ia menirukan jargon yang seing terdengar “Waspadalah…, waspadalah…! Kejahatan bukan hanya terjadi karena adanya NIAT! Tapi karena ada CONTOH! Tontonlah.. tontonlah.. “ Ia kembali terkekeh merasa lucu dengan jargon gubahannya. Tapi lalu ia melotot dan berkata gusar, “ Goblok..! Yang begini ngga bisa bikin penjahat jadi nggak kerasan muncul di tengah masyarakat, tapi malah bikin anak-anak jadi biasa melihat darah dan kekerasan! Makin banyak bibit kriminal dengan tontonan model begini. Sontoloyo!“

Lelaki tua itu mulai sebal juga melihat si pemilik tv begitu ngotot menolak setiap acara. Tangan kirinya merebut pengontrol dari tangan kanannya, dan menekan sembarang tombol, “Ya, sudah…, ini saja. Coba apa ini..? Weleh… Bincang-bincang Pulitik. Hehe…, ayo kita lihat apa kata ibu calon presiden kita..”

Ia mencoba merebut kembali remote itu. “Nggak bisa! Nggak mau aku kau paksa menelan omong-omong kosong. Sudah cukup aku lihat begitu banyak kebohongan. Presiden, menteri, ketua itu, ketua ini.. semua sama saja.. cuma pedagang SAPI!!”, ia membentak keras. Tapi usahanya merebut remote itu gagal, karena lelaki tua itu menjauhkan tangan kirinya.
“Ya sudah…, tenang… tenang. Nah ini saja, mau? Acara dakwah Kyai terkenal. Kata-katanya sueeejuk tenan…Bagus ini buat hatimu yang penuh amarah itu”
Ia memperhatikan sejenak gambar di televisinya. Suara kyai itu terdengar lembut dan mengalun bersahaja, “Hanya orang-orang yang bersih hatinya, yang sanggup membersihkan dirinya sendiri dan lingkungannya. Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…”

“Lhaa.. habis. Wah telat kita ya… ? Nah ini ada lagi.” Saluran di televisi berganti lagi, dan kali ini menayangkan gambar orang-orang yang tengah terisak. Lantunan zikir terdengar di latar belakang.
“Ini bagus juga…, Zikir bersama ustad anu…, Bisa membawa teduh hatimu dengan menyebut asma Allah. Lihat itu orang-orang pada menangis menyesali…”

Ia berlagak memperhatikan tayangan itu, lalu tiba-tiba tangannya dengan cepat meraih remote yang dipegang si lelaki tua. “Ha! kena sekarang!” katanya puas. Ia melihat tayangan itu sebentar lalu menekan tombol off dengan raut wajah senang.
“ Hehehe… Kau katakan mereka menangis karena menyesali? Satu-satunya yang mereka sesali, adalah sesudah acara ini, mereka kembali bergelimang dosa-dosa mereka. Hah! Itulah! Mestinya mereka gantung diri saja, kalau benar-benar menyesal. Sudah ! Bosan aku menonton acara-acara yang nggak mutu begini. Aku mau berhenti nonton, dan terpaksa kau juga orang tua.. hehehe… karena tivi ini milikku!” Ia tertawa puas hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.

Mata lelaki tua itu kini menyipit. Menunjukkan raut wajah yang berubah menjadi geram. Suaranya terdengar lebih berat dan lebih serius dari sebelumnya.
“Kau..! Kau adalah si bodoh…! Kau tak mau menonton acara tivi karena semua acara bercerita tentang dirimu. Ya! Tentang kebodohan dirimu! Dan kau ingin orang lain tidak menonton acara-acara itu hanya agar tidak melihat kebodohan dirimu” Napas lelaki tua itu tersengal-sengal menahan amarahnya.

“Heh!? Berani-beraninya kau katakan aku begitu? Ini tivi milikku! Adalah hakku mematikan atau menghidupkannya. Aku bisa berbuat apa saja terhadap barang milikku. Kau atau orang lain tidak bisa protes, karena tivi ini milikku! Kalau aku mau aku bisa menghancurkan tivi ini.” Ia bangkit berdiri, lalu menumpangkan sebelah kakinya di atas televisinya. Sambil menoleh pada lelaki tua itu berkat dengan keras, “Seperti Ini!” Televisi itu terguling ke belakang, membentur sisi meja kecil tempat televisi itu diletakkan, berguling lagi jatuh dengan tabung kacanya menghadap ke lantai, dan kontan jadi pecah berantakan.
Ia duduk kembali di sofanya, dan memandangi lelaki tua itu dengan sinis, menunggu komentarnya atas apa yang baru saja dilakukannya.

Tapi lelaki itu tidak bereaksi seperti yang diharapkannya. Ia malah berkata renyah, dan melagukan kata-katanya hingga mirip bersenandung.
“Hai.. tua bangka yang picik. Hewan purba menunjukkan kebesaran Allah dan keagungan ciptaanNya. Namun bagimu hanya terasa seperti hewan buruk rupa, usang dan terlupakan, seperti terjadi pada tubuh rentamu. Ditinggal anak dan istri, saudara dan saudari. Mereka yang meneliti sejarah masa lalu, bersusah payah mencari bukti keagungan Illahi. Tapi bagi benak picikmu, masa lalumu lebih buruk dari rupa hewan itu, hingga melupakan adalah satu-satunya keinginanmu.”
“Hai.. tua bangka renta. Berlomba adalah semangat muda. Berusaha membuktikan yang terbaik yang mampu dilakukan, karena hidup ini adalah ujian. Saat muda kau tak mau menantang dunia, lebih memilih berdiam dalam temaram gelap gubukmu. Menyongsong tantangan kau anggap bualan, seakan surga bisa dicapai tanpa perjuangan”
“Hai.. kau lelaki jahanam. Segala kekerasan dunia tak lebih keras dari hatimu yang membatu. Hingga lantunan asma Allah pun tak membuatmu berniat melunakkan itu. Kebohongan dunia tak lebih busuk dari setiap nafas yang kau hembuskan. Karena kebesaran-Nyapun selalu kau ingkarkan..”
“Tengoklah semua acara…Hai kau yang melihat tapi buta. Dalam setiap detik hidupmua ada hikmah di dalamnya. Melihat yang najis, adalah berkah. Melihat yang zahir adalah anugrah. Dalam najis ada kesempatanmu untuk mengucap ampun pada Yang Kuasa. Dalam zahir terbuka peluang bersyukur atas Rahmat-Nya”
“Lihatlah kau.. lelaki tua. Buruk mukamu… tivi dibelah”

Lelaki tua itu kini benar-benar menghilang. Hanya ada cermin besar di sebelah sofa yang didudukinya.

“Dasar lelaki tua bodoh! Berperibahasa pun salah. Buruk muka cermin dibelah !”
Dilemparkannya remote ditangannya sekuat tenaga.
Prang !
Catatan:

Ora urus = Tidak perduli
Karuan cuman = Jelas-jelas hanya
Nggak kerasan = tidak betah
Pulitik = Politik ; dialek daerah
Gagal maning = Gagal lagi
Rima = Bunyi yang senada, seperti bunyi akhiran kata dalam pantun
Najis = Kotor

Zahir = Lahir

Minggu, November 06, 2005

Cerpen

Sesapi Putih Tak Ada di Langit Rote

ADA TUBUH KECIL MENYEMBUL dari balik rimbunan ilalang. Lalu seperti matahari yang terbit, tubuh itu perlahan-lahan menampakkan dirinya utuh. Ia tak menyekah peluh yang menyembul bagai embun di dahi. Peluh yang bagaikan darah dari luka akibat tusukan mahkota duri seperti pada gambar Yesus di dinding setiap rumah penduduk. Ditariknya biji-bijian dari sejenis semak yang hinggap melekat dan sulit terlepas di rambutnya yang keriting kecil-kecil. Ada goresan pada lengan kirinya seperti baru usai dicambuk. Disitu, beberapa titik darah menyatuh bersama duri-duri tanaman Putri malu.

Ia memijakan kakinya di atas batu cadas hitam. Pandangan matanya tersebar ke tiap ujung batang lontar yang memenuhi bukit itu. Seseorang dicarinya. Tak tampak.
“Kakak…..!” Ia akhirnya berteriak.
“Kakak……..!” Sekali lagi lebih keras. Teriakannya mendengung terpantul di antara dinding bukit yang berhadap-hadapan. Ia seolah melihat sesuatu tergolek di akar pohon asam tua di ujung bukit itu. Maka ia pun menuju ke sana.

“Gabriel…! Saya disini…” Tiba-tiba ada suara lain membalas. Suara yang dicarinya. Gemanya datang dari sebelah kiri. Ia memacuh langkahnya mengikuti arah suara itu, melompati satu demi satu kumpulan semak berduri setinggih betis, sambil sesekali matanya tetap awas ke tiap ujung batang lontar.

Sekarang ia pelankan gerak, membiarkan angin melaju mendahului. Tidak digubrisnya tingkah seekor belalang padang yang tadi ikut berpacuh. Orang yang dicari telah ia dapatkan.

Ada apa,Gabriel..?” Suara itu jatuh dari atas pohon lontar. Wajah orang tersebut belum tampak karena sama sekali ia tak berpaling kepada Gabriel. Lagipula tinggi pohon itu kira-kira hampir mencapai tiga puluh meter. Gabriel mendongakan kepalanya.

Ada orang,mencari Kakak…”
“Siapa..?!”
“Turunlah dulu…”

Orang yang disebut kakak oleh Gabriel itu pun cepat merayap turun bak cecak di dinding lagi berjalan mundur, hanya saja ia menaruh kakinya pada tumpuan-tumpuan di sekujur batang pohon secara bergantian, yang membawanya semakin rendah, semakin jelas kelihatan.

Begitu menjejaki tanah,dikebas-kebaskannya kotoran serta debu dari kaos usang tipis penuh bolong-bolong kecil sana-sini itu. Sesaat diperhatikanya bayangan pepohonan. Belumlah setengah hari tapi panas begitu menyengat. Ia memicingkan mata, kemudian membawa dirinya ke bawah naungan pohon reo yang teduh. Gabriel mengikuti kakaknya dari belakang.

Tonio, nama pemuda itu. Kakak Gabriel. Tampan wajahnya. Tubuhnya tegap gagah. Meski agak dekil tapi warna kulitnya jauh lebih terang dari Gabriel. Ia seolah pernah melewati sebuah masa yang cukup lama, dimana dalam masa itu tak ada pohon lontar yang perluh ditaklukkan, tak ada bukit gersang dengan bebatuan cadas yang perluh didaki, tak da situasai yang membuatnya berdekil terpanggang mentari.

Gabriel memperhatikan kakaknya. Ada rasa sungkan dari balik tatapannya. Tali haik koneuk, wadah setengah lingkaran dari daun lontar sebagai tempat menyimpan air nirah, belum lepas dikalungi Tonio. Pada batas pinggangnya gantungan haik koneuk dari tanduk kerbau bergayut mantap.

“Siapa yang mencariku ?” Suaranya memecah bisu. Beberapa daun Reo yang tak sanggup lagi bertahan di rantingnya, meluncur di hadapan mereka.
Ada orang, kata Ine, datang dari Denpasar” 
Tonio agak tersentak mendengar kata Denpasar. Ditelannya air liur. Sekonyong-konyong ia seperti diisi tenaga baru.
“Siapa namanya?”
“Tidak tahu”
Tonio bangkit, membetulkan letak haik koneuk dan parang kecil di pinggangnya. Tak ada tanya apa-apa lagi bagi Gabriel.

“Saya lebih dulu. Kamu, ambilah haik koneuk besar berisi air nirah yang saya taruh di pondok sana.” Ia menunjuk kearah kiri, memutar sekitar dua ratus meter lebih. 
Di tempat itu memang berdiri satu pondik kecil berpanggung, tempat orang biasa beristirahat. “Hati-hati, kemarin telah kau tumpahkan separuh,” diingatkannya pada Gabriel saat anak itu memutar langkah. “Sebentar…..,” Ia membuat langkah Gabriel terhenti lagi. “Ada banyak telur puyuh yang tadi saya dapatkan di semak. Itu buatmu.” 
Gabriel sumringah mendengarnya. Umpama kuda balapan, ia langsung berjingkit meninggalkan sang kakak. Tonio menuruni bukit, ringan langkahnya. Tapi dalam hati penuh tebakan dan tanya.

“Cepatlah, Nak.” Ibunya menyongsong dari pintu dapur. Dilepaskanya tali haik koneuk yang melingkari tubuh anak sulungnya. Sementara Tonio menyelipkan parangnya pada bila kayu yang melintang sepanjang dinding dapur.
“Handukmu sudah Ine gantung di kamar mandi.”
“Siapa yang datang, Ine?”
“Temanmu dari Denpasar”
“Terus, siapa yang temani di depan?”
Ama. Cepatlah, Amamu harus ke rumah Ba’i Samuel.”
“Memangnya ada apa dengan Ba’i Samuel? Ada yang mengamuk lagi tidak kebagian dana kompensasi BBM?”
“Tidak ada apa-apa, sekedar mematangkan rencana mereka. Ada pesanan tuak nasu, air gula, dari Kupang. Pemesannya minta banyak dan ingin diambil secepatnya. Sudah sana, mandi.”

Tonio pun melangkah ke tempat yang diarahkan ibunya. Sedang si ibu sendiri menyimpan haik koneuk ke tempatnya seperti biasa. Ia bangga pada putranya, walau sarjana dan sebentar lagi mengisi lowongan pada sebuah kantor di kota, ia tetap mau melakukan aktifitas seperti lelaki di kampungnya.

“BLI GEDE?!!”
Tonio terperanjat saat tahu siapa yang datang.

“Tonio?!” Sang tamu juga berlaku sama. Ia spontan mengulurkan tangan. Sekejab tangan mereka menyatuh.
 “Pasti gerah ya, Bli. Cukup melelahkan perjalanannya kan?” Tonio menemukan butiran keringat di wajah Gede Prastika, tamunya. Mereka sudah akrab selama Tonio di Denpasar. Semenjak ia magang di Kantor Pos Denpasar, tempat Gede Prastika bekerja hingga diwisuda. Tak ada yang tahu jika Tonio hampir saja jadi ipar Gede Prastika. Sikapnya yang luwes, sopan, dan tidak pura-pura itulah yang membuat Gede Prastika simpatik lantas menjodohkannya dengan Saraswati, adik perempuannya.

“Bli tahu darimana alamatku?”
“Alamat? Itu teramat gampang dilacak, apalagi buat orang yang bepekerjaan seperti kami.” Ia tersenyum, tapi Tonio sendiri bertanya-tanya apa tujuan Gede Prastika menemuinya.
“Jadi kau sudah lupa, kan dulu pernah kuceritakan kalau aku mau diangkat jadi kepala Kantor Pos pada salah satu kabupaten di NTT ? Maaf, tidak memberi kabar sebelumnya. Kamu sendiri tidak meninggalkan alamat buat kami. Ayah dan Ibu titip salam buatmu. Ada kiriman, tapi kau ambilah sendiri di kota. Kenapa kau tak pernah memberi kabar? Kau juga pergi diam-diam hanya pamit lewat surat.

Tonio tertunduk. Sejujurnya ia senang dikunjungi Gede Prastika tapi di lain pihak kedatangan orang itu juga membuka kain perkabungannya. Padahal, ia sudah ingin melupakannya, ia sudah iklas kehilangan. Tapi kenapa bayangan masa lalunya itu datang lagi, mengejarnya sampai ke pulau terselatan di Indonesia ini?

GEDE PRASTIKA menghabiskan harinya hingga sore di rumah Tonio. Dikisahkan segalah yang terjadi di Denpasar selama ini. Tentu saja sembari menikmati segarnya air nirah sadapan. Ternyata, banyak potensi yang ia temukan di daerah ini. Dikirannya tempat seperti ini tak menjanjikan.

“Air nira bisa sembuhkan mag. Bli bisa buktikan sendiri, kami orang Rote tak kenal penyakit yang menyerang lambung itu,” seloroh Tonio. Diuraikannya pula tentang berbagai hal seputar lontar dan proses pemanfatannya, mulai dari pembuatan gula air, gula lempeng, sopie, Ti’i langga, topi khas Rote, sampai Sasando. Tak lupa diselipkan janjinya untuk mengajak Gede Prastika mampir ke Pantai Nembrala yang ombaknya menggoda untuk berselancar.

Ketika ayam-ayam jantan kampungnya menandai kedatangan malam dengan kokokan mereka, ia mengantar Gede Prastika kembali ke kota. Di perjalanan, tiba-tiba Gede Prastika menanyakan suatu hal yang menggelitik hatinya,
“Sesuatu di rumahmu membuatku berpikir sepanjang perjalanan.”
“Tentang apa?”
“Tulisan di ruang tamu”
“Tulisan?”
TIMOR : Tanah Ini Milik Orang Rote. Itu maksudnya apa? Apa semacam klaim terhadap pulau Timor?”
“Ah, itu sekedar lelucon orang Rote di Kupang sana, biar mereka merasa seperti bumi sendiri.”
Malamnya, di rumah dinas Gede Prastika, Tonio tidak bisa memejamkan mata secepat malam-malam kemarin. Bayangan seorang perempuan Bali menari-nari dalam otaknya.

Terpaksa dikenangnya kembali kemesraanya dengan Saraswati. Gede Prastikalah mempertemukan mereka di rumahnya. Lalu kunjungan Tonio terus berlanjut. Lagi-lagi peran Gede Prastika amat besar.

Hanya sayang, dikala segalahnya mulai terajut indah, ketika orang tua Saraswati memberi lampu hijau bagi cinta mereka, bahkan mulai membicarakan perkawinan mereka, kekasihnya itu harus pergi tanpa mengatakan satu kata pun. Pergi tak untuk kembali. Ledakan di Kuta Square tidak hanya mengabil raga, tapi juga roh Saraswati.
Yang tersisa cuma kenangan. Ya, kenangan yang paling berbekas adalah ketika mereka menghabiskan sore di Taman Niti Mandala Renon. Sembari menatap megahnya bangunan di depan mereka, tempat sejarah masa lampau di salin ulang demi generasi muda. Waktu itu sore menjadi tambah indah dengan alunan lagu Widi Widiana, penyanyi pop Bali, tentang Sesapi Putih, walet putih yang terbang dan menjadi saksi pertemuan seorang pria dengan seorang dara,

Rasa tan sidi, ragan Beli pacang ngengsapang
Dugas Beli ketemu sareng Adi ring taman sari
Sesapi Putih mekeber ring taman sari
Ento pinaka saksi tresna Beline ken Adi.

“KAKAK…!!”
Tonio mendengar terang suara itu, Gabriel, adiknya. Dikucak-kucak matanya. Gabriel telah berdiri di hadapanya dengan nafas masih tersenggal.

“Kak,bangun. Ama ngamuk! Air nira yang semalam diminum kakak bersama pemuda dari kampung Oehandi ternyata pesanan dari Kupang!”

“Ha?! Aduh..!!” Ia terhenyak. Bentangan koran tentang kisah pilu para saksi korban Bom Kuta-Jimbaran yang ia gunakan sebagai alas tidur terlepas dari punggungnya. 

Semua yang baru saja dialaminya, tentang hidupnya di Denpasar, tentang Gede Prastika, tentang Saraswati dan Sesapi Putih, ternyata……

“Tonio..!,Tonio….!, Awas kau. Kerjamu hanya minum, kurang ajar!”
-->
“Kak, itu suara Ama. Lari Kak, lari……”



Cerpen 1

Semut

(I)

Rambutnya ikal. Kulitnya hitam. Roman mukanya benar-benar khas timur. Sebenarnya dia itu temanku. Hanya saja telah saking dekatnya, maka dia kuanggap sebagai pengganti saudaraku. Makanya aku tahu banyak tentang dia. Ia pernah bertutur padaku, pertama kali di sini bila hendak berkenalan, teman-temannya yang Bali mencoba menebak dari mana asalnya.
”Ambon?”
”Bukan”
”Papua?”
”Bukan (masa dari Papua badannya seceking ini). Saya dari Flores”
”Flores? Mana itu Flores?”
Mendengar itu ia kaget bukan kepalang. Memaki dalam hati,”Setan, Flores saja tidak tahu. Berapa jauhnya dari Bali? Belajar apa mereka di Geografi, sudah sampai mahasiswa tapi sama sekali tak kenal daerahku.” Namun ia menahan kalimat-kalimat itu dalam hati dan memilih menjelaskan pada mereka. Itu cara paling damai. Hasilnya, mereka bukan cuma manggut-manggut tapi kagum. Untung kalau kemana-mana, dalam tasnya selalu terselip gambar danau Kelimutu dan biawak Komodo. Terkadang, tetap saja ia dibuat kaget, selain mahasiswa ternyata masih banyak orang belum tahu dimana letak Flores. Mereka kerap mengaitkannya dengan Kupang, yang butuh semalam untuk digapai dengan kapal laut. Ya, sudahlah tak apa-apa, apabila kelak Flores jadi propinsi defenitif baru akan bisa dibedakan.

Peristiwa lain terjadi di semester pertama kuliah. Dosen-dosennya mengira dia dari Timor Leste. Itu karena namanya: Godrico Luis Pareira. Dosenya heran. Lagi-lagi ia menjelaskan bahwa kampung Sikka tanah kelahirannya, dulu cukup lama didiami Portugis. Pengaruh bangsa itu menyebabkan namanya jadi demikian indah. Bila sudah begitu dosen-dosennya menyimpulkan,”Jadi kalian pernah dijajah Portugis” atau ”Imperialisme Portugis sampai juga di daerahmu,” atau ”Kalian budak Portugis, toh.” Segera ia membantah. Kata para tetua, orang Portugis yang datang ke daerahnya teramat beda bila dibandingkan dengan Belanda atau Jepang. Mereka tidak memerintah, tidak menjajah, tidak memperbudak. Mereka cuma menyebarkan agama Nasrani sembari mengajari nenek-moyangnya bertani, menenun, dan melaut dengan lebih baik. Nama pulau itu sendiri diberikan oleh Portugis. Katanya, sewaktu kapal mereka merapati daratan, yang dilihat oleh mata mereka adalah mekarnya berbagai bunga dipermukaan pulau. Dinamailah Cobo da Flores, pulau bunga.

(II)
Cerita itu dikisahkannya sepuluh tahun lalu.

Saya? Saya sendiri dulunya calon biarawan.  Itu bukan cita-cita masa kecilku. Bisa dibilang ’panggilan’ ke situ datang tiba-tiba. Semasa SD hingga SMU justruh saya tertarik menjelajahi dunia, kupikir saya terlahir sebagai petualang. Tapi seperti sudah saya katakan, ’panggilan’ itu tiba-tiba datangnya. Saya turuti saja kata hati, masuk biara sebuah ordo. Sulit memang menyesuaikan diri, seperti terlempar ke dunia lain. Keterbiasaan akan hingar-bingar harus ditransformasikan menjadi ’man of the desert’ manusia padang gurun, penyepi, silentium, meditatif, klausura dan hal lain lagi yang dirasa diri sebagai keterpasungan. Lama kelamaan seiring berjalanya waktu, saya jadi terbiasa dan mulai mencintai kehidupan demikian. 

Namun disaat keyakinan saya untuk melangkah mantap tumbuh, ada belati datang menebasnya, ”problem sanitas tak bisa membuatmu mengikrarkan kaul,” begitu ujar pastor pembina. Masalah kesehatan adalah salah satu momok menakutkan untuk calon gembala umat disamping sapienta dan sanctitas. Terpaksa saya mundur dengan air mata. Sejak itu saya merasa seperti prajurit yang terpukul gada. Dunia dengan hari-harinya menjadi penonton, menertawakan lakon heroik yang berubah jadi lelucon.

Tapi bukanlah saya jika ingin terus ditertawai. Kututup layar, keluar dari panggung itu, dan memutuskan pindah ke gedung teater lain, terdampar di pulau Dewata, bertemu Godrico, temanku itu.

Saya kisahkan tentang Godrico.
Tentang kuliahnya. Ah, sungguh sayang, tidak dituntaskan. Padahal tinggal menyusun dan mengajuhkan -lagi- proposal penelitian. Sebagai teman saya sudah berusaha mendorong, tapi tak ada lagi yang bisa kuperbuat selain tutup mulut saat ia sampai mengumpat, ”Saya sudah bosan! Lagi pula ini hidupku, kau mau apa?!” Memang proposal penelitiannya ditolak. Tiga kali, bayangkan. Tentu membuat stress. Secara pribadi saya tidak menduga bisa begitu (maksudku, kenapa bisa proposal ditolak tiga kali). Menurut saya otaknya tidak bebal, pengetahuannya luas, diajak diskusi apa saja klop. Uh.., kenyataan hidup seringkali mencengangkan kita.

Berhenti kuliah, bagi Godrico, bukan berarti menganggur. Kebetulan ada orang Sikka yang sukses jadi eksportir perhiasan perak. Punya beberapa kantung perusahaan yang berpusat di Sanur. Sebagian besar karyawanya adalah orang-orang sesuku juga. Godrico diterima kerja bagian pengawas. Saya ketiban rejeki pula, diberi orderan merangkai butiran permata dan perak jadi anting. Pokoknya, tak ada lagi istilah tanggal tua, orderan selalu lancar, kantong celana tak cuma berisi udara. Belum sampai setengah tahun dia ganti motor, kredit dengan uang muka separuh juta. Flat televisi terisi di kamarnya.
Bagaimana urusan rohani? Jangan tanya. Di tempat misa dia termasuk the ants, semut gereja. Bukanya bermaksud membusungkan dada, tapi mulai dari uskup, pastor paroki, dewan gereja hingga umatnya hampir delapan puluh lima persen milik wajah khas timur. Sebagai perantau, ikatan relasi dijaga baik. Saling bantu, saling kunjung dan berbagai hajatan disesaki banyak orang. Mereka juga selalu menjaga nama baik daerah.

(III)
Con Brio, dengan semangat semut temanku menjalani hidup. Apalagi setelah ia menjumpai seorang perempuan, Arwini, Ni Ketut Arwini yang kini jadi mamanya Armando dan Claudia.

Tentu saya  harus menceritakan pertemuan mereka.

Walau ia sudah diwanti-wanti saudaranya yang sudah lebih dahulu jadi doktorandus,”kalau cocok, bawa pulang saja perempuannya,” sungguh, dia tidak menduga kalau akhirnya ia benar-benar mengawini perempuan Bali.

Mulanya ketika Arwini diterima kerja. Sudah baku dalam semua perusahaan jika karyawan baru wajib menjalani masa training, dan temankulah ditugaskan membimbing dan mengawasi. Arwini itu perempuan manis, masih pure lagi. Belum dicukuri alisnya, belum didempul bibirnya pakai lipstick. Temanku itu senang memandangi wajah Arwini.

Satu insiden kecil mempererat hubungan mereka. Senja hari temanku pulang kerja, sampai di tikungan masuk by pass Ngurah Rai, didapati Arwini berdiri mematung sendirian di pinggir jalan. Ban motornya gembos kena paku. Temanku tahu kalau dua ratus meter dari situ ada penambalan ban. Ditawarkannya bantuan, Arwini tentu welcome. Nyatanya ban motor membandel sehingga belum dapat dipakai senja itu juga. Arwini, kali ini yang meminta bantuan,”Lunas tulung,Bli.* Setopkan taksi.” Temanku menjawab, ” Biar saja saya antar pulang.” Berbelit-belit sebentar tapi hasil ujungnya Arwini duduk juga diboncengan motor temanku.

Tak tahu kenapa, semenjak kejadian itu, motor Arwini sering bermasalah. Tak tahu kenapa juga Arwini selalu minta diantar temanku. Selang seminggu, dari pulang semotor berdua, kemudian jadi makan siang semeja berdua. Kalau sempat mampir ke kos kami, kudengar suara Arwini kian hari kian mendayu pada temanku laksana buluh perindu. Aku senang saja menyaksikan hal itu, temanku dapat perempuan, sementara orderan pekerjaan dari perusahaan perak buatku pun semakin lancar.

Suatu waktu mereka minta pendapatku,”bagaimana kalau kami menikah?”

Apa yang salah? Kalau cocok, ya menikalah.

Suatu waktu lagi saya menguping pembicaraan mereka di teras,
”mari…”
”mau…,” lanjut Arwini
”Bisa. Kalau mau sekarang juga bisa.”
”Ayo”
”Tapi musti cium dulu”
”Mau”
”Tapi ciumannya musti di hadapan pastor, di depan altar,” kata temanku
”Ya, kita ke gerejamu sekarang.”
Ampun.., saya tertawa pelan. Arwini belum tahu amat pelik dan memakan waktunya jika ingin berciuman di depan altar, di hadapan pastor.

”Saya siap turuti agamamu,” Arwini berkata.
Arwini..,Arwini.., jadi Katolik itu tidak sekedar belajar sebentar lantas mengucapkan syahadat. Harus meyakinkan dulu, diteliti dulu, diajari dulu, dinilai apa sudah pantas apa belum.

Tapi tekad Arwini sudah bulat, ia siap menjalaninya. Tidak sulit bagi Arwini, toh banyak orang Bali yang Katolik. Kami mengenalkannya dengan basis-basis umat Katolik di seputar Denpasar, seperti Tuke, Jimbaran, Kuta.

Arwini dibabtis dengan nama permandian Veronika. Ia dan temanku kemudian bisa berciuman di hadapan pastor diiringi alunan Bridall Chorus.

(IV)
Kelender di dinding kamar kos beberapa kali berganti setelah pernikahan temanku. Mereka sudah menempati rumah sendiri pemberian ayah Arwini. Temanku yang dulu berbadan tipis itu kini ibarat tengah berbadan dua, gemuk sehat dan memutih kulitnya.
”Hokimu memang harus menikahi perempuan Bali,”godaku. ”Sekarang orang tak akan menduga-duga kamu itu Ambon, Papua atau bahkan Flores.”
”Makanya kamu menikalah. Kelamaan, daya tarikmu bisa hilang. Jangan gonta-ganti terus,bisa bosan juga perempuan melihatmu.”
”Ini hidupku,kau mau apa?”
”Sialan, kau ambil makianku. Semestinya kupatenkan.”





Puisi

Maaf (bila aku jujur) Kau biarkan aku mengendap-ngendap dalam hening
Kau biarkan aku melenggang dalam ramai
Tapi kau tak tahu apa yang kucari
Kau sunggingkan senyum pujian

Kau acungkan jempol
Tapi kau tak tahu siapa yang kucari
Kau kira kita searah
Kau duga kita sama
Tidak
Aku bukan seperti kalian
Bila bulu-bulu badanku rontok
kalian kan tahu kalau aku anjing
kalau aku mencari kotoran sepanjang jalan
siang dan malam