TOUR FOR BALI - JAWA - LOMBOK - FLORES - TORAJA - e-mail us: travel.lara@yahoo.com.PT. LARA TRAVEL - Our Service: Tour, Hotel Reservation, Ticketing, Rent Car - DENPASAR Bali

Sabtu, Juni 27, 2009

Jalan - Jalan Ke Loire (Perancis)


Rabu, Mei 06, 2009

Jalan- Jalan Ke Santorini (Yunani)


SANTORINI:
DIKALA KATA DIBUNGKAM KEINDAHAN


Lembaran copy Reiseführer kugapit erat. Preambulenya begitu menggoda: Pulau Santorini, berjuta sunset, berjuta memori, berjuta degup jantung. Colours of blue,white, red & gold streaking the sky…Poets have written about it, artists attempt to capture its beauty. Nothing can quite describe….The unsurpassed magic of Santorini.

Swiss Air baru saja melegahkan terbangku selama 1 ½ jam dari Jerman ke Zürich, plus 2 jam dari Zürich ke Athena. Itu sudah netto, tidak termasuk waktu transit. Hangatnya musim semi di Yunani seperti yang sudah diimpi-impikan mulai terasa ketika melangkahkan kaki ke Eleftherios Venizelos, international airportnya kota Athena. Rasa itu akan semakin tergenapkan karena untuk ke Santorini saya memilih menjangkaunya lewat laut. Kata para pendahulu, sentuhan emosional ketika berlayar menujuh Santorini tak bisa diukir dengan kata-kata. Apalagi kalau bukan karena legenda Atlantis, misteri sebuah benua yang hilang lenyap!! Jika Hawa mangut terbujuk rayuan Iblis, saya tersihir kata - kata Plato, salah satu filsuf putera bumi Yunani. Dan tentu saja saya ingin membawa diriku kesana, seolah-olah tersemangati untuk merasakan sisa-sisa aroma lama benua Atlantis “yang berada di seberang pilar-pilar Herkules, yang angkatan lautnya menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9500 tahun SM, yang tenggelam ke dasar samudra hanya dalam waktu satu hari satu malam,” begitu urai Plato.

Semalam Di Piraeus: Merambah Nadi Sang Helipedon

Sebagai orang asing, sama sekali tidak sulit menemukan transport dari airport ke Piraeus harbour, tempat nanti saya memulai berlayar menujuh Santorini. Di depan pintu keluar sudah berdiri kios bercat biru, tempat penjualan karcis Express Airport Bus. Kita pun tidak perluh pontang-panting mencari yang mana busnya, semua tertera dengan jelas disana. Dengan karcis seharga 3,20 € saya bersama turis-turis lain pun menyusuri jalanan kota Athena menujuh Piraeus. Mengingat jauhnya jarak serta lamanya perjalanan (2 jam), rasanya harga karcis tadi lumayan murah (untuk ukuran Eropa).

Bus berhenti tepat di samping gerbang dermaga. Inilah Piraeus, kota pelabuhan yang penduduk kotanya dibilang terpadat ke-tiga di Yunani. Alih-alih membayangkan seperti apa ferry yang akan saya tumpangi (tipikal orang dari negara ketiga nih, begitu dengar Ferry kebayang kapal berukuran kecil, produk tahun sekian, penumpangnya berjejal tidak kebagian tempat hahahaha....), saya malah dihidangkan pemandangan pelabuhan yang buat geleng-geleng kepala. Ternyata begitu banyak ferry yang cantik-cantik, gemuk-besar bertampang Cruise ship itulah yang “normalnya” tiap hari mengangkut penumpang dari dan menujuh pulau-pulau negeri Yunani. Jelas, saya merasa miris dan kecil hati mengingat situasi transportasi laut tanah air tercinta. Menyandang status sebagai negara kepulaun terbesar, selayaknya seperti ini pulalah pemandangan angkutan laut di Indonesia. Tidak ada penumpang yang berebutan tempat, tidak seperti lagi mengungsi. I beg your pardon, sama sekali tidak bermaksud menjelekkan negara sendiri, tapi itulah kenyataannya. Entah kenapa dari dekade ke dekade tidak berubah. Ada yang menyebut bahwa biang kerok semaputnya angkutan laut karena budget flight yang murah. Murah??? Hah…paling untuk wilayah barat Indonesia, sementara yang timur, Dewi Yull berdendang terus…Mimpikah Diriku.?? Tapi pikir-pikir ada benarnya juga sebab flight murah itu, apalagi dipanasi headline: Everybody Can Fly, maka berlombah-lombahlah orang meninggalkan dermaga beralih ke lapangan terbang, sambil mendengungkan lagunya R. Kelly yang I believe I Can Fly itu barangkali....

Piraeus yang berfungsi sebagai ibukota propinsi Attica memiliki untaian kisah masa lampau yang panjang. Pada masa permulaan kota ini yakni 26 SM, ia dipenuhi oleh karang dan menjadi tempat penambakan garam. Dari situlah di masa Yunani kuno Piraeus disebut Helipedon, berarti ladang garam. Lalu lintas kapal dagang mulai hilir mudik disini dan kota ini pun berkembang sebagai kota pelabuhan penting. Menjelang akhir perang Pellaponesia, ketika Athena diagresi Sparta (ingat istilah Polis Sparta-Polis Athena nih..), Piraeus dibakar karena enggan berada di genggaman Sparta. Bahkan dilupakan. Setelah demokrasi berkumandang di Yunani (orang Yunani mengenal demokrasi sejak tahun 300 SM!!!!!), kota ini kembali dibangun. Nama Helipedon telah terlupa, seribu tahun setelahnya orang memanggil dengan ”Porto Leone,“ atau Pelabuhan Singa, merujuk ke patung Singa yang berdiri di pintu masuk pelabuhan.



Sebenarnya hari itu ada beberapa ferry ke Santorini, tapi jalannya rata-rata diatas jam 5 sore. Artinya perjalanan lebih banyak didominasi oleh kegelapan malam (6 jam dari Piraeus ke Santorini) Sementara saya sudah punya cita-cita maha mulia untuk menikmati laut Aegean plus merasakan legenda Atlantis itu!!! Garing kalau gelap-gelapan. Maka kuputuskan berangkat besok pagi-pagi. Hellenic Seaways , high speed ferry mewujudkan cita-cita saya. Berangkat jam 7.30 pagi, mantap! Saking ngos-ngosan mencari penginapan murah sambil pikul backpack, saya putuskan untuk mengisi perut di Mc D*****. Di Piraeus, begitu masuk hotel kita dihadapkan dengan tangga-tangga menujuh meja reception. Jelas pegal. Dasar tukang jalan, habis makan saya mengitari Piraeus tanpa rasa ngantuk. Padahal dari Jerman keluar rumah jam 4 pagi, manalagi mata saya tidak bisa terpejam kalau terbang di atas pegunungan Alpen yg berlumur salju, katrokkk……Tapi jika tidur,artinya saya tidak bisa merambah nadi Sang Helipedon. Jangan salah, perkara leisure and entertainment, Piraeus juga cukup punya nama. Secara berkala digelar fesfival music dan film bertaraf International. Di Piraeus pula pertama kali saya mengenal istilah Taverna, sebutan Yunani untuk open air restaurant. Salah satu typical Yunani. Jangan lupa, kita berada di negeri tua yang beradabannya berkembang lebih dulu dari kita, so museum sudah pasti ada dimana-mana,bukan? Sebelum menghimpun tenaga di kasur hotel untuk perjalanan besoknya, saya menikmati senja dengan riak-riak laut keemasan di harbour. Ah…, begitu banyak kapal…begitu luas dermaganya….

Sail Away

Ferry berwarna merah dengan tulisan Vodafone besar-besar sudah membuka bokongnya. Pagi riuh semarak di Piraeus. Menjelang naik ferry saya membeli 2 buah Psomi, rotinya orang Yunani, sarapan pagiku. Ramai benar tetapi semua berjalan teratur hingga ferry bergerak pergi.

Santorini masuk dalam gugusan kepulauan Cyclades di perairan Aegean Sea dan dia letaknya paling selatan. Jika berniat berlayar turun lagi, kita akan menjangkau Pulau Kreta. Karena posisinya yang terbawah itulah maka suguhan pulau-pulau besar kecil jadi jaminan perjalanan yang menyenangkan. Saya mengamini apa yang telah dikatakan orang, ke Santorini lewat laut memang lebih dapat ‘feel’nya. Decak kagum datang bertubi-tubi, bukan
dari saya tapi pulahan penumpang lainnya taktala ferry mulai melintas di antara pulau-pulau kecil. Tiang-tiang kuil kuno yang tertanam di pulau karang sempit, rumah-rumah berbentuk kotak di dinding-dinding tebing atau gereja yang berdiri dalam kesendirian di tepi laut silih berganti hadir seumpama slide show. Diantara haru biru itu saya mengingat-ingat lagi nama para dewa Yunani kuno: Zeus, Poseidon, Hestia, Hermes, Hera, Athena, Artemis, Ares, Apollo, Aprodithe yang saya kenal dari buku-buku jaman kecilku dulu. Atau para pahlawan tangguh semisal Achilles, Herakles, Odysseus, dan Pandora. Dan tentu saja tak lupa para ahli pikir serta ilmuwannya: Herodotus, Pythagoras, Socrates, Plato, Hippocrates, Aristoteles, dan Archimedes. Semua nama muncul sepenggal-sepenggal, sama seperti panorama yang cepat berganti (kita pakai high speed ferry,Om!). Seperti ingin melompat turun saja saat ferry sejenak (tidak sampai 15 Menit) memuntahkan penumpang di Pulau Paros, lah..di dermaganya saja berdiri sebuah kincir angin cantik! Kemudian di Pulau Naxos, saya kejang-kejang mau menyentuh gereja putih yang amat mungil di dermaga. Coba kalau ferry stop 30 Menit!! Hahaha…mau tidur semalam di laut,Bos? Kita masih separuh perjalanan!

Legenda Atlantis: Once Upon A Time…

Separuh penumpang ferry tiba-tiba seperti dikomando keluar memenuhi bagian belakang dan atas dek ferry. Apa pasal? Ternyata samar-samar sudah tampak garis tebal, bangunan-bangunan putih yang bertengger di atas tebing. Inikah tempat yang disebut orang Surga Di Ketinggian 300 Meter itu?…Takjub saya, kok ada yang mau membangun rumah di bibir tebing yang curam dan tinggi? “That is Santorini, take a look..!!!,” kata seorang ayah kepada putranya yg berusia sekitar 2-3 tahun. Sang anak menatap antusias mengikuti arahan tangan ayahnya. Begitu pun saya. Ah…spontan terkenang ayahku, …pemandangan menakjubkan di depan mata dan semangat ayah dengan anaknya di sampingku, membawa kembali ingatan akan masa kecil. Ayah sering mengajak kami mengunjungi tempat-tempat sampai pelosok, hingga bau garam tak bisa tercium, hingga saya mencak-mencak minta pulang karena merasa sudah terlalu jauh…Saya tersenyum sendiri, sekarang saya dikerubuti bau garam dan tidak mau pulang meskipun begitu jauh dari rumah!!!o:p>

Rupanya Pak kapten memahami keinginan penumpang, atau mungkin telepati saya tertangkap dengan baik (pakai radar soalnya tuh Kapten hahaha…). Beliau seperti asisten sutradara (siapa sutradaranya, ayo?), membantu agar view lebih dramatis: Menggerakan ferry secara slow motion, mengarahkan kami memasuki perairan yang dulunya adalah kawah gunung berapi! Alamakk….itu kawah ternyata masih aktif pula dan terkadang mengeluarkan asap.

Once Upon A Time, Santorini adalah sebuah pulau gunung berapi berketingan 1.000 meter. Di kitaran tahun 1627 – 1600 SM gunung berapi ini meletus dengan amat dasyatnya dan tercatat sebagai letusan gunung berapi paling hebat sepanjang sejarah dunia. Bukan hanya menghancurkan kehidupan di pulau ini sendiri tapi tsunami yang dihasilkan menggulung lenyapkan peradaban Minoan (Minoan civilization) di Pulau Kreta -letaknya 110 km selatan Santorini- yang pada masa itu sedang berada pada puncak kejayaan. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai The Minoan eruption of Thera, atau Santorini Eruption. Ada yang mengungkapkan bahwa kejadian ini berkaitan dengan perubahan iklim dunia, tandusnya benua Afrika, dll. Bahkan lebih seruh lagi ada ilmuwan Amerika, Dr. Hans Goedicke (Paman Gudik, begitulah saya menyebutnya, bahh..sok kenal), mengaitkannya dengan isi Alkitab. Paman Gudik menghubungkan kisah Nabi Musa membelah air laut dengan peristiwa letusan besar di Santorini. Dasar teorinya, kedua peristiwa ini terjadi pada masa yang berdekatan plus diperkuat lagi oleh bukti-bukti penemuan bebatuan yang didapatkan di Pulau Kreta dan di Laut Tengah. Jadi kesimpulannya: letusan gunung Santorini mencapai Mesir dan berdampak pada kejadian terbelahnya Laut Merah. Nah loh..!!!!

But, Whatever...kenyataanya tidak sedikit kisah serta mitos muncul dilatarbelakangi letusan gunung Santorini ini. Contohnya, ya.. legenda Atlantis yang dikisahkan Plato itu. Padahal sang filsuf membangun kisah ini sebagai sebuah perumpamaan saja demi menjelaskan pemikirannya tentang politik. Berhubung saya sendiri amat tertarik dengan kisah ini (gara-gara waktu SD sempat baca artikelnya di Majalah Bobo hahaha…), ada baiknya saya petik penggalan kisahnya Plato yang tertuang dalam buku Timaeus dan Critias:

"Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut. negara besar yang mempunyai peradaban tinggi itupun lenyap dalam semalam."


First Sight Santorini

Merapatlah kami ke Ormos Athinios, dermaga utama Pulau Santorini. Tidak begitu luas, hanya beberapa meter saja lebarnya. Disitu selain kios, cafe, ada juga sejumlah tourist information yang menawarkan trip, hotel booking, hingga penyewaan kendaraan. Seperti umumnya tempat wisata, kita diserbu tawaran yang datang dari beberapa orang. Sekonyong saya menatap sambil geleng-geleng kepala ketika menyaksikan tanjak serta berlikunya jalan menuju ke atas. Manalagi tanahnya kosong melompong tanpa pohon, tanpa pembatas jalan. Damm! Pikirku tak bakalan sedratis ini. Otomatis saya pilih jalan aman, begitu datang tawaran hotel yang harganya jauh lebih murah daripada hotel tempat saya menginap semalam di Piraeus, saya pun terima sambutan itu. Katanya lagi, saya boleh lihat-lihat dulu hotelnya kalau kurang berkenan tidak masalah jika mau cari penginapan lain. Okelah, saat ini yang penting saya bisa dapat tumpangan sampai ke Fira, pusat kota. Jarak antara kedua lokasi ini dalam buku tertera cuma 6 km tapi malah nyaris sejam perjalanannya. Dan saya yakin setengah jam lebih dihabiskan hanya untuk menanjak dari dermaga ke atas. Hahaha…..





Sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan khas seperti yang saya lihat di majalah-majalah; landscape dengan padang luas berbukit-bukit, rumah-rumah berasitektur unik berwarna putih, gereja bertebaran dimana-mana dengan paduan cat biru-putih. Dan this is Spring time, walhasil padang-ladang bertebaran bunga-bunga perdu layaknya permadani. Bunga Camille berwarna putih (lagi-lagi putih) paling mendominasi. Sebagai orang yang suka photography, kayaknya ini pulau paling pas untuk buat photo pre-wedding. Tak sabar saya ingin menyentuh semua yang saya lihat itu. Ending perjalanan panjangku dari Piraeus ke Santorini bermuara di Blue Horison Hotel. Hotel yang ditawarkan orang itu fisiknya masih baru, letaknya strategis, sangat nyaman dan luas, jauh dari bising, ditambah asyiknya view balkon yang mengarah ke lautan. Dari jarak beberapa ratus meter ada satu kincir angin. Sempurna sudah! Dugaan bahwa nanti mungkin saya harus mencari lagi penginapan lain karena tak cocok pun akhirnya batal.

Fira: Jantung Yang Tak Pernah Henti Berdegup

Dimana - mana putih! Ya rumah, ya gereja, ya hotel…Edan nih pulau. Kalau putih jadi warna primer, maka biru jadi warna sekunder. So, jika atap dan dinding dicat putih giliran jendelanya dikasih warna biru. Pokoknya dua warna itulah yang terpopuler di pulau-pulau Yunani. Kenapa ya putih-biru yang dipakai? Umumnya orang mengaitkannya dengan warna bendera negara mereka. Sehingga kalau ditanya, jawabannya: Karena warna benderanya putih biru. Masa hanya itu alasannya? Jawaban yang lebih rasional ternyata kedua warna ini membuat suhu rumah lebih sejuk di waktu musim panas (Tau sajalah Yunani itu gersang dan panas menyengat). Selain itu warna putih ini secara tradisional dipakai sebagai plester tembok dari bahan calcium carbonate yang sudah pasti gampang diperoleh di Yunani, lantas fungsi warna biru bukan pula hanya pemanis tapi warna ini sanggup “mengademkan” silaunya warna putih tadi.

Fira, sebagai ibu kota sudah pasti jadi tempat paling ramai se-pulau. Banyak sekali bar dan kafe yang letaknya berhiruk pikuk dengan restaurant, toko souvenir, atau gallery. Lagi low season seperti sekarang saja sudah susah bernafas karena lorong-lorong kotanya yang sempit, apalagi jika pas high season,pas musim panas? Tambah lagi kota ini berada pada kemiringin, sehingga bisa bikin otot paha kencang karena harus naik turun tangga terus. Yang paling seruh tentu saja berada pada tepian kaldera di ketinggian 300 meter. Memandang luas ke lautan yang birunya sungguh-sungguh biru, sambil merasa romantis sendiri saking bagusnya sunset serta artistiknya cafe dan hotel yang bergantungan di tebing. Ini pulau memang paling cocok untuk sayang-sayangan sepertinya. Jadi mujurlah bagi yang datang berpasangan, kalau yang jombloh atau tak bawa pasangan cukup menghayal saja sambil makan hati karena lihat adegan romantis yang muncul non stop.





Hari kedua, saya bangun pagi sekali soalnya pas Minggu Paskah, niatnya mau ikutan misa di gereja Katolik. Sudah masuk ke kapela milik biarawati Dominikan, sudah ikutan ibadat pagi, ee…taunya pas Misa mau dimulai suster-suster kok membagikan daun palma ke umat. Bingunglah saya, lantas Pastornya kasih pengumuman singkat bahwa di Yunani walaupun gerejanya Katolik tapi Paskahnya mengikuti kalender Ortodoks, walhasil Paskahnya harus tunggu minggu depan lagi. Wah…kami umat yang hampir semuanya turis cuma bisa tersenyum pandang-pandangan. Sudah cita-cita mau Paskah di Santorini tapi malah diundur? Pulang dari gereja langsung terbersit keinginan untuk mulai keliling. Soal transport jelas saya pilih rental sepeda motor, harganya murah:10€ per hari, tinggal tunjukin SIM International, sudah bisa nancap gas. Transport tertenar dan paling asyik di Santorini sebenarnya ATV atau nama lainnya Quad, kira-kira hasil kawin campur antara gokart and motorbike-lah. Cocok sama topografi Santorini. Tapi saya merasa tidak pede secara fisik, badan saya yang kecil tidak matching dengan kendaraan gemuk itu...wakakakkk…

Mencicipi Santorini dari Ujung ke Ujung

Well, tripku maunya bisa melihat semua tempat di Santorini. Enam hari itu cukuplah untuk mengalahkan pulau berukuran 17 x 6 km ini. Maka menderuhlah sepeda motorku ke tempat paling selatan yakni Faros, dimana sebuah Lighthouse menjadi bangunan paling terselatan Santorini. Sejarah keberadaan lighthouse ini dimulai tahun 1892 oleh perusahaan mercusuar Perancis dan masih berfungsi hingga kini dan sunset di kaki mercusuar ini pun jadi salah satu moment paling baik di Santorini. Di bagian kanan belakang mercusuar ini kita bisa melongok jauh ke sebuah gereja, Messa Pigadia, menyepi sendiri di atas tebing kapur.



Akrotiri dan Red Beach. Letak keduanya tidak berjauhan. Akrotiri, adalah nama yang cukup besar di jaman perunggu Yunani dulu. Tempat ini adalah kota purba Santorini. Akibat letusan gunung, Akrotiri terkubur sehingga jika ingin melihatnya kita seperti berada di ruang dalam tanah. Kini dalam proses renovasi jadinya pengunjung tidak diperkenankan masuk. Lanjut ke Red Beach, ini adalah salah satu object ternama di Santorini, apalagi buat orang muda. Sebelum mencapai lokasi, ada gereja kecil yang letaknya persis di bawah tebing. Kontras warna putihnya dengan tebing di belakang yang berwarna merah. Red Beach memang pantai yang sungguh berpasir merah. Jadi tempat berjemur yang dicari, bahkan pilihan nomor satu kaum nudis. Sampai ke pantai ini saya cuma melongok dari atas, tak termotivasi untuk turun ke bawah karena toh sampai di bawah pun paling cuma nonton kan? Tapi lumayan betah juga loh memandangi orang ber-topless.











Vlichada, kampung nelayan ini menjamin enaknya menikmati seafood khas Mediterania. Yang paling top sudah pasti melahap Kalamari, ikan gurita digoreng pakai tepung, di bawah naungan atap biru open restaurant sambil menatap lautan Aegean dan dermaga nelayan yang bentuknya melengkung indah. Tentu bukan hanya Kalamari. Yunani punya menu seafood bejibun, Bung. Nama-nama unik semisal Arxaios ksifias me kolokythakia kai manitaria (Swordfish dgn zucihini dan mushroom), Fileta tonou sti katsarola (Tuna fish), Arxaies garides me glaso meliou (Shrimps with honey), atau Karavides ladolemono (Crayfish with lemon) . Apapun makananya, orang Yunani selalu mengawali santapan dengan Horiatiki, salat spezial Yunani berbalut minyak zaitun dan taburan keju putih kotak-kotak. Karena biasanya orang Yunani selalu makan ditemani roti termasuk saat makan salat, saya diberi trik asyik oleh empunya Taverna Vlichada-Dimitris: tuangkan minyak zaitun ke piring mulanya lalu ambil sepotong roti, dibasahkan ke minyak zaitun tersebut (seperti orang mencelupkan roti ke kopi). Rasanya maknyos …!!(dgn ekspresi mirip Pak Bondan Winarno). Di Vlicada ini ada pantai yang ajaib benar, bisa dibilang salah satu keajaiban alam. Ini pantai berhadapn dengan tebing dan yang buat ajaib yakni dinding tebing sepanjang 2 km itu berkontur artistik. Seperti mini Grand Canyon. Berkapur, merah dan dramatis. Kontan saya pun tanpa malu minta diprotret dengan gaya seperti fotografer-fotografer National Geographic...



Emporio, inilah desa terbesar di Santorini. Dari namanya sudah ketahuan jika desa ini dulu terkenal sebagai pusat perdagangan. Di tempat inilah, dengan sedikit fantasi kita bisa membayangkan bagaiman wajah desa di Santorini di abad pertengahan. Seperti yang sudah-sudah, rumah mungil berdinding putih dengan tata ruang yang tak beraturan membuat kita seperti berada di sebuah dunia lain. Begitu hening tempat ini. Sebuah kastil, Goulas, dengan menara lonceng di belakangnya hampir menjebak saya untuk berlama-lama disitu. Ada sisi lain Emporio yang menarik untuk disinggahi, Gavrilou Hill, di bukit ini berjejeran kira-kira 6 kincir angin. Hanya saja kincir angin ini cuma tersisa badannya saja alias tidak utuh . Pertama kali melihatnya saya duga ini semacam pos meriam, gara-gara rangkah kincirnya yang mirip meriam. Di Gavrilou Hill juga saya benar-benar menemukan ” Authentic Greeks Spring”. Bagaimana tak takjub jika menemukan sebuah padang yang penuh bunga Poppy berwarna merah??. Wah, dasyat luar biasa. Naluri fotografer saya melonjak: Seandainya punya model cewek.....



Perissa Beach & Kamari Beach, katanya kedua ini pantai adalah Santorini Best Beaches. Anehnya, sampai ke lokasi perasaan saya malah biasa-biasa saja. Lah…dua-duanya mah mirip, masih bagusan pantai di kampung saya hahahaha…Berpasir hitam, kebanyakan turis berusia muda tumpah rua disini. Saya kira mungkin adem kalau pas sore-sore mejengnya. Bedanya di kampung saya tak ada payung-payungnya…tak ada bule terdampar di pasir tengah hari (Habis,….mana ada orang di kampung yang mau berjemur siang bolong?). Tambahan lagi, pantai bukan tempat favorit saya. …



Megalochori, suasananya mirip-mirip Emporio. Lumayan cantik khas desa Yunani. Beberapa rumah dicat multicolor, kontras antara satu dinding dengan yang lain.



Ancient Thira, tempat yang wajib dikunjungi jika anda ingin melacak jejak kekunoan Santorini. Pagi-pagi saya menujuh lokasi ini, pas jam 8 pagi saya sudah berdiri di kaki gunung Mesa Vouno yang tingginya hampir 400 meter dari permukaan laut. Dan artinya saya harus mendaki. Wah…pagi-pagi…dan saya adalah pendaki pertama loh (buka jam 8 soalnya). Sebenarnya untuk sampai ke puncak gunung bisa pakai kendaraan, hanya saja ada perbaikan jalan dan selain itu saya juga rupanya punya semangat tinggi. Akibatnya tersenggal-senggallah saya mengitari jalanan berbelok-belok itu. Tapi, Bos, harus saya katakan: Feel-nya dapat benar!!! Separuh jalannya adalah benar-benar tua, dan kiri-kanan jalan dipenuhi pinus,dan zaitun. Trus di depan kita itu terbentang lautan luas. Singkatnya, berada di jalan ini membawa saya ke film-film kolosal. Tiba di atas ternyata lokasi Ancient Thera harus tambah ke atas lagi…!!! Bah, keselek saya…tapi harus maju terus pantang mundur. Hasilnya….luar biasa..walaupun tersisa puing-puing tapi lokasinya bisa dikenali dengan baik karena terpetakan. Setidaknya kita bisa mengenal bagaimana orang kuno membagi tata ruang kota mereka. Beberapa simbol pemujaan masih nyata seperti relief lumba-lumba (Poseidon) atau Elang (Zeus). Demi perindungan, sebagian besar patung-patung yang lumayan utuh disimpan di Archaeological Museum di pusat kota, Fira.



Pirgis & Profitis Ilias, Pirgos ini adalah ibukota pertama Santorini sebelum pindah ke Fira. Karena letaknya pada ketinggian, bangunan kota ini sangat mencolok, bisa dilihat dari kejauhan. Setelah mengalahkan gunung Mesa Vouno, saya terilhami untuk menaklukan gunung Profitis Ilias. Ini adalah gunung tertinggi di pulau Santorini (567 m). Jalan menujuh ke gunung ini lumayan curam tambah lagi hawa dingin yang menyengat dan kabut yang kadang-kadang bikin keder nyali. Di atas gunung Profitis Ilias ( artinya Nabi Elia) bertengger satu gereja tua kecil milik biarawan Ortodoks. Sayangnya hari itu gereja ini tidak bisa dikunjungi dan dia dikitari tembok tinggi. Akan tetapi view dari sini amat menakjubkan. Saya selalu merasa takjub setiap kali berada di puncak gunung. Mungkin karena itulah saya lebih menyukai pegunungan ketimbang pantai.

Monolithos, saya berkunjung ke Pantai ini karena tergoda foto sunrise pada brosur restoran di Fira. Impian saya adalah membuat foto-foto Sunrise, setidaknya tidak semua melulu Sunset di memory card saya. Jam ½ 5 pagi saya sudah meninggalkan kamar hotel, motor sewaanku kembali menderu di kesenyapan pagi. Momentnya sungguh tidak mengecewakan untuk dijepret. Malangnya, saking sibuknya saya menyelinap di antara bebatuan, tanpa sadar satu filter graduated camera saya jatuh disana. Sia-sia saya berusaha menemukannya, padahal tuh filter baru saya beli 2 minggu lalu dan itu special saya siapkan untuk dibawah ke Santorini….



Oia Village. Sudah hukum wajib bahwa setiap orang yang datang ke Santorini tentu pasti menyempatkan diri ke Oia. Bisa dibilang Oia adalah daya tarik terbesar di Santorini. Alasanya simple: Oia menjanjikan view Sunset yang menakjubkan. Malah jadi “One of The Most Beautiful” Selain itu komposisi bangunan yang bergelantungan di dinding kalderanya lebih artistik ketimbang di Fira atau tempat lain. Boleh saja Fira coba-coba merayu turis dengan cable car atau keledainya, tapi Oia dengan anak-anak tangganya lebih jadi alasan utama kenapa orang datang ke pulau ini. Sumpah, setiap foto di postcard/kalender/buku tentang Santorini dijamin ada foto dari Oia atau bahkan jadi foto yang paling cantik. Letaknya berada di ujung paling utara pulau, tempat ini bikin saya keletar-keletar sampai harus bela-belain datang dua kali. Hari pertama saya sudah terbayang-bayang pesonanya, sudah dengan spirit luar biasa datang dari Fira, pakai lari-lari pula dari tempat parkir ke lokasinya…eh..pas sudah pede-nya mau jepret, cameranya tidak berfungsi..!! Cek..tau-taunya batereinya ketinggalan di kamar hotel karena tadi siang sy nge-charge. Merasa diri paling goblok sedunia waktu itu, pas mataharinya sudah mulai merona pula. Anjrittt….. lantaran cameranya bukan pakai baterai A3, saya cuma bisa mengutuk diri sendiri. Tapi berhubung tempatnya terlalu indah, segerah mungkin pikiranku ternetralisir. Hitung-hitung pengenalan lokasi, hiburku. Toh besok bisa datang lagi (mudah-mudahan cuacanya bagus tentu saja). Besoknya, syukur benar, saya sempat kuatir karena selama setengah hari langit ketutup birunya. Untunglah matahari muncul, saya tentu saja tidak mau terulang lagi kejadian dungu sebelumnya ( tripod saya pun pernah ketinggalan di kaki gunung Mesa Vuono, sehabis turun dari Ancient Thera lantaran diajak ngobrol sama orang. Baru kaget setelah setengah jam perjalan pulang. Terpaksa balik lagi, dan untung saja Tripodnya masih ada , bersandar manis di dinding tebing..)



Hari terakhir saya menjajal Cable car, turun dari atas menujuh pelabuhan tua Limani Skala. Lumayan cakep viewnya pas di bawah. Baliknya saya memacuh jantung dengan menaiki ratusan anak tangga menujuh ke atas, beberapa kali berpapasan dengan rombongan turis yang asyik-masyuk di punggung keledai atau sama sekali cuma ketemu keledainya tok sambil mencet hidung karena parfum cap ‘kencing keledai’ bertebaran dimana-mana. Gantenng..gg…sudah bermandi peluh, bau pula…!!


Genap seminggu saya di Santorini, dengan berat hati saya meninggalkan pulau ini. Tergoda untuk merayakan Paskah yang tertundah. Mencium aroma Tsoureki dan Melitinia, dua ragam dessert yang hanya khusus dihidangkan menjelang Paskah. Atau ke Pirgos, pas malam Jum’at Agung seluruh kota akan dikitari cahaya lampu minyak. Terbayang indahnya seperti apa, sayang….waktu jualah yang harus membatasi…saya harus meninggalkan Santorini hari Jum’at subuh. Berlayar lagi membela lautan, memandang ‘surga’ yang pelan-pelan kabur. Tapi biru-putih masih bermain-main. Biru-putih gulungan ombak. Biru-putih langit dan awan. Biru-putih hatiku

(Semua foto di atas adalah produk pribadi.)



Sabtu, Februari 28, 2009

Jalan - jalan ke Burg Falkenstein (Jerman)


Rabu, November 05, 2008

Jalan-Jalan Ke Chateau de Chantilly (Perancis)



Kunjunganku ke tempat ini sebetulnya sebuah ide yang muncul belakangan ketika hendak meninggalkan kota Paris. Informasi mengenai kastil elok ini saya temukan taktala menyusuri taman dekat menara Eiffel.
Berhubung waktu liburkuku masih lumayan tersisa, apa ruginya meneguk keindahan rumah para bangsawan itu.
Kalau nyatanya tak sampai satu jam dari jantung kota Paris, why not?


Sekejap saya terbayang sekuel film James Bond tahun 1987 (jauh banget….). Serial dari buku karya Ian Fleming itu pernah mengambil setting di kastil Chantilly, judulnya "A View to a Kill" atau versi bahasa Perancisnya Dangereusement Vôtre diperankan Roger Moore.

Sinema-sinema lain pun turut memakai kastil ini sebagai background, beberapa diantaranya adalah Jefferson in Paris (1994), Ridicules (1995) dan Marie – Antoinette yang dimainkan oleh Kirsten Dunst (2006).


foto. Depan Kastil

Setelah keluar dari Paris, saya berada di jalanan sepi Chantilly. Sudah jamak di Eropa, sebuah kastil atau istana yang elok senantiasa dibangun tersembunyi di kepungan rimbah, atau di atas bukit. Demikian halnya Chateau de Cahntilly ini, ia disembunyikan berhektar-hektar hutan pepohonan hijau.
Jika kita muncul dari barat, pelan-pelan seperti menguak tabir, rasa penasaran akan naik. Dan…lihatlah! Alangkah eloknya pemandangan di depan mata…

Chateau di Chantilly begitu anggunnya menanti. Lokasinya ditata begitu teratur dan rupawan, menandakan ia dibangun dengan cita rasa seni tinggi. Padang rumput hijau membentang selayaknya lapangan golf. Jalan kecil yang dibuat berbelok, dipagari jajaran tiang besi beton setinggi setengah meter yang satu sama lainnya dikaitkan dengan rantai. Lalu kilatan cahaya matahari terpantul dari danau yang memberi batas sebuah dunia dongeng mini.

Belum menyentuhnya pun, saya sudah dialiri romantisme fairytale. Maka berlama- lamalah saya tertegun di depannya, memikirkan kalimat yang diucapkan sastrawati Perancis, Madame de la Fayette: De tous les lieux que le soleil éclaire, il n’y en a point de pareil à Celui-là ..” Segala tempat yang ada dibawah matahari, tak ada yang sebanding dengan Chantilly.
















foto. Bagian timur dan barat kastil

Untuk bisa lebih dalam mengenal kastil ini, saya membeli ticket masuk senilai 9 Euro. Sebuah patung raja dengan kuda tungangannya berwarna hijau kebiruan ditanam di depan, sepasang patung anjing pemburuh diletakan di kiri-kanan pintu. Anjing adalah binatang paling diperhatikan para pria bangsawan karena binatang ini menjadi teman terbaik saat berburu. Tak heran jika patung lazim didapati di berbagai kastil. Kadang juga sering raja dilukis bersama anjing kesayangannya.
















foto. Ticket masuk & Horse Museum (sebelah kanan kastil)


Sejarah keberadaan bangunan ini berhulu pada beberapa keluarga bangsawan, mulai dari keluarga Montmorency, Orgemont, Bourbon-Conde dan Orleans pada kitaran abad ke-14. Kini Chateau de Chantilly berada dalam wewenang Institut de France, dijadikan museum, setelah diserahkan oleh pemilik terakhir, Duc d’ Aumale. Saya tidak begitu tertarik dengan sejarah seluk beluk kepemilikan bangunan ini, yang menarik adalah kenyataan bahwa kastil ini adalah salah satu museum terlengkap yang mengkoleksi lukisan-lukisan bersejarah di seantero Perancis. Hal ini membuat posisi Chantilly berada satu tingkat di bawah museum Louvre.

Tercatat sekitar 1000 lukisan, 2500 gambar, serta 2500 grafis/sketsa yang dipajang di hampir tiap ruangan dalam bangunan magnificiant ini. Saya terus berdecak kagum. Bayangkan di setipa kamar dari bawah dinding sampai ke atasnya dipasang lukisan. Beberapa koridor menampilkan kolksi perangkat perjamuan makan para bangsawan, koleksi keramik dari Jepang buatan jaman Edo (1600-1800) -konon orang Jepang sudah sampai ke utara Perancis pada masa itu dengan kapal layar yang memakan waktu berbulan-bulan.



foto: Salah satu ruang penuh lukisan

Dan yang buat speechles yakni kamar perpustakaan mewah dengan berjejal buku dan manuskrip. Kira-kira 30.000 buku dan 1500 manuskrip ada disitu. Laksana sebuah surga bagi yang gemar membaca. Tampak jauh dari kesan pengap,romol atau tua dikarenakan penataan yang menciptkan ruang terasa lapang serta buku-bukunya diatur sangat apik.

Chateau di Chantilly juga punya kapela (gereja kecil) yang berhiaskan patung-patung malaikat dari granit hitam. Satu lagi yang memukau adalah tangga emas. Alamak, saya bolak-balik naik turun di tangga selebar hampir 2 meter ini dan membayangkan diri sebagai salah satu pangeran berdarah biru.. hehehe……


Mungkin karena ini pula, sehingga beberapa selebriti relah merogoh kocek milyaran demi merayakan pestanya disini. Sebut saja pesebak bola asal Brasil,Ronaldo, sempat membooking Chantilly untuk bersenang-senang dengan kekasihnya. Lalu bintang jelita dari serial Desperate Housewive, Eva Longoria, memilih Chateau de Chantilly sebagai tempat resepsi perkawinannya dengan pebasket Tony Parker.


foto: Tangga Emas

Kecuali hari Selasa, tiap hari tempat ini terbuka untuk dikunjungi umum. Chateau di chantilly juga punya taman yang super luas. Saking luasnya sampai-sampai saya berpikir barangkali butuh waktu beberapa hari agar bisa menikmati dengan leluasa. Atmosphere udara disini amat tenang dan relax. Aroma kesegaran alaminya benar-benar terasa. Banyak kolam yang memantulkan birunya langit serta taman-taman yang dibuat dengan tema sendiri-sendiri: English Garden, French Garden, Anglo-Chinese Garden, Garden of Voliere, Temple of Venus, Petit Parc dan lainnya. Yang paling ujung dari taman ini yakni Kangaroo Park, taman berisi kangguru yang didatangkan dari Australia. Karena dikelilingi rimbunan hutan, kerap kita jumpai hewan liar seperti kawanan rusa, kelinci, tupai,dll. Karena panjangnya lahan, egitu sampai di tempat ini, betisku pegal bukan main. Ah….,mungkin saya keliru. Semestinya jika tak ingin pegal, saya toh bisa ikut kereta mini yang mengantar pengunjung untuk menjelajahi area ini tanpa dibuat pegal. Hiks...Gobloknya diriku!!!

Padahal, betapa enaknya keliling lokasi ini sambil menikmati Whipped Cream. Jangan salah, Chantilly disebut-sebut sebagai tempat asalya fresh cream. Bahkan dalam kosa kata Perancis, nama Chantilly sendiri diartikan sebagai Fresh Cream. Mmm…lecker!!



foto: Dena lokasi Kastil & Chantilly Whipped Cream



Salam travelling!


Kamis, Oktober 30, 2008

Jalan-Jalan Ke Gunung Bromo




Stairway To Heaven
Adanya Di Timur Pulau Jawa!



Once upon a time, during the reign of the last king of Majapahit (13-14 century AD), Brawijaya, one of the King's wives gave birth to a girl, Roro Anteng. Later she got married to Joko Seger, from Brahman (priests) caste. Because of an unfortunate situation, they were forced to leave the kingdom. They settled an area in the mountain, named it "Tengger."
For years, they were unhappy because they didn't have a child. They climbed the peak of the mountain, prayed to gods. Betara Bromo (God of Fire) promised them many children, but
they have to sacrifice their youngest children.

They finally got 25 children, and they had to sacrifice the youngest, Kesuma, but they hid him. But an eruption happened and Kesuma fell into the crater. Then his voice heard: "I have to be sacrificed so that you will all stay alive.
From now on you should arrange an annual ceremony on the 14th of Kesodo."
***

Legenda itu sudah terpatri lekat dengan Bromo. Gunung di bibirnya daerah Tengger. Nama Tengger sendiri konon berasal dari gabungan kata Roro Anteng dan Joko Seger. Diyakini keturunan keduanya adalah cikal bakal keberadadan masyarakat Tenger kini. Entah benar atau bukan, itulah ceritanya. Jika demikian adanya, tentu Roro Anteng dan Joko Seger itu berperawakan mungil, kecil-kecil. Soalnya hampir semua orang-orang Tengger badannya kecil-kecil amat. Rumah mereka pun mungil benar dan memanjang ke belakang. Orang bilang rumah mereka dibuat sempit dan memanjang ke belakang lebih karena agar suhu dalam rumah hangat. Maklum, daerah Tengger berada pada ketinggian. Dingin. Mungkin benar begitu. Tak perlu juga sebegitu curiousnya. Ada yang punya versi lain. Terserah. Terima semuanya, nikmati saja kekayaan bangsa kita. Bukankah tanah air kita gema ripah lo jinawi? Termasuk kekayaan akan mitos serta legenda.

Cerita tentang indahnya view pegunungan Bromo di kala matahari terbit, menggodaku untuk melihatnya sendiri. Kebetulan kuliahku di Denpasar baru aja kelar, hitung-hitung sebagai rasa syukur. Naik gunung kayaknya asyik tuh, pas momentnya.


Saya berangkat dengan bus malam DAMRI dari Terminal Ubung Denpasar jam 8.00 malam. Dengan ticket seharga .....ke Probolinggo, kota yang paling dekat sama daerah tujuan saya. Ini kali pertama perjalanan menyeberangi pulau dengan bus malam. Sebelumnya saya selalu berpikiran negatif tentang perjalanan darat antar pulau, apalagi ke Pulau Jawa. Top reason adalah tentang security. Mungkin selama ini Cuma dengar yang buruk-buruk saja tentang lalu lintas di pulau padat penduduk itu. Saya malu sendiri saat seorang remaja SMU mengisahkan seringnya dia menyeberangi Sumatra-Jawa-Bali dengan bus tapi tetap baik-baik saja.

Lepas tiga puluhan menit, saya sudah terkantuk-kantuk. Sopir bus rupannya angkatan ‘Tembang Kenangan’ yang nggak doyan menghidangkan musik dandut di busnya. Gimana ngga cepat KO kalau lagu-lagunya seolah mengiring kita ke alam mimpi? Agak terganggu tidurku ketika bus terasa seperti berayun-ayun jalannya. Ah, rupannya kami tengah berada di perairan anatara Pulau Bali dan Jawa. Sebentar lagi sampai ke Pelabuhan Ketapang, pintu gerbang menujuh Java Dwipa (begitulah Jawa dulu dikenal karena jadi Island of Rice, Pulau Padi).

Sekitar jam 5 pagi kami berhenti di daerah Pasir Putih. Ternyata sarapan,Bos. Aha…kok?? Restaurannya lumayan cozy, prasmanan pula. Wah, saya seperti ditampar pikiran saya sendiri.


Tapi rasa senangku jadi berubah dongkol dot com ketika sudah di Probolinggo!

Edan…, saya diturunkan di pinggir jalan lalu disuruh nunggu bus lain….

!!!!!!……?????

????!!!!!…!

Alkisah, bus Damri yang saya tumpangi itu tujuannya Malang. Saya sudah tahu itu. Waktu di Denpasar kondekturnya bilang nanti saya akan diturunkan di Probolinggo. Tentu saja pikiran saya bakalan diturunkan di terminal Probolinggo. Nyatanya? bus ngga boleh masuk ke terminal. Kalau pun demikian, setidaknya diberitahu: “Penumpang tujuan Probolinggo turun di dekat terminal.” Kan bagus.. Ini ngga, bus jalan aja trus, sementara saya mulai bertanya-tanya sendiri. Pemandangan Probolinggo sebagai kota mulai larut, kembali sub-urban, keluar dari kota. Saya harus melakukan sesuatu, pikirku. Langsung saya tanya kondekturnya:

” Dimana nanti saya diturunkan? Saya tujuannya Probolinggo. Anda sudah tahu kan itu?”

„Probolinggo mana?“ Tanyanya kaget.

„Seharusnya di terminal, Mas”

Saya lihat roman mukanya berubah.

“Masnya mau kemana?”

“Saya mau ke Bromo.”

Kebetulan saya duduknya di dekat sopir. Dari awal saya buka bicara, sudah mulai kasak-kusuk. Tiba-tiba seorang penumpang berbisik. 50 meter lagi, ada pos polisi. Saya minta berhenti aja nanti. Katanya, langsung aja ke kantor polisi. Ha??? Ngapain? Saya ngga mau berurusan sama polisi. Mengeluhkan masalah ke polisi, maksudnya? Bah, malah bikin certa tambah panjang....

Belum sempat saya ngomong apa-apa, dia sudah minta sopir berhenti di depan kantor polisi. Saya bingung. “ Turun saja disini, Mas.” Saya menatap dia, lalu kondektur, terus ke penumpang lain. Aneh, seolah-olah semua wajah memerintah. Saya pun turun. Tak ada pilihan lain, saya masuk pekarangan kantor polisi. Dua polisi di ruangan itu. Saya menyalami mereka dan kata-kata pun meluncur keluar. Seorang bereaksi dengan bahasa lokal. Saya bisa menangkap sedikit maksudnya. Tapi ujarku kemudian:

Please, Pak. Pakai aja bahasa Sumpah Pemuda. Saya ngga tau bahasa Sumpah Palapa…”

Lalu kami sama-sama tertawa. Maksud saya ke polisi itu agar pakai bahasa Indonesia, jangan bahasa Jawa. Ternyata di sebelah kantor polisi ada pertigaan dimana angkutan umum biasanya mengangkut warga Tengger atau mereka yang mau ke Bromo. Beberapa menit kemudian saya sudah berada diantara penumpang menujuh Tengger. Plong……


Tiba di Ngadisari hampir jam 4 sore. Tapi saya ngga berhenti disana untuk bermalam tapi harus menujuh ke Cemara Lawang. Sebuah hotel, sesuai dengan rekomendasi teman, ada tepat di bibir lautan pasir menghadap langsung ke Bromo. Benar saja,menujuh ke penginapan itu saya langsung dibuat kagum dengan pemandangan di sebelah kanan saya. Anjo de Guarda! Yang saya inginkan sudah di depan mata !

Lava View Lodge, demikian penginapan yang saya maksud. Seakan hidangan utama di lodge itu adalah lava view Bromo. Penginapan ini menyediakan beragam tipe kamar, dari family room, bungalow, standard superior rooms dan standard junior rooms.

Arsitektur bangunan khas Indonesia (harga: http://www.globaladventureindonesia.com/lava%20view%20lodge.htm ). Punya restaurant sendiri yang kalau malamnya ada live band. Servisnya lumayan, selain breakfastnya pilih sendiri, juga ada free afternoon tea/coffee. Mmm…mm bayangkan, betapa asyiknya menyeruput secangkir kopi hangat sore-sore dengan view gunung Bromo di depan mata…Rasa penat karena perjalanan jauh sontak menguap bersama udara sore yang dingin. Kabut senja lumayan banyak di sekitar Bromo tapi untunglah saya bawa mini teropong, sehingga mata saya bisa meneruak bayangan anak-anak tangga di dinding luar kawah. Besok saya akan kesitu!



Pukul 04.30 pagi saya sudah bangun, beberapa menit kemudian bunyi mesin beberapa mobil hardtop terdengar di halaman Lava View Lodge. Kerumunan wisatawan sudah ada disana. Semalam saya sudah booking salah satu mobil via receptionist. Harganya sedikit mahal jika memesan lewat penginapan, tapi kita bisa memesan di beberapa pos di luar. Harganya bervariasi mulai Rp. 170.000-250.000. Bisa sharing dengan beberapa teman atau sesama tourist biar bayarnya lebih murah. Lantas setengah jam kemudian saya sudah terguncang-guncang di dalam hardtop, melintasi lautan pasir dalam gelap. Tapi pagi yang masih buta itu kami tak sendirian, di belakang dan di depan kami pun ada kendaraan yang punya tujuan sama, ke Penanjakan: disitulah tempat paling pas untuk melihat view Bromo secara utuh dalam balutan sunrise. Sesampainya di lokasi, banyak orang tumpah rua.



Dingin ternyata tak mampu mengalahkan semangat puluhan manusia untuk menaklukan imajinasi mereka akan Bromo. Kiri-kanan ada pedagang kaki lima: souvenir khas bromo dipajang disana dari t-shirt bergambar Bromo, topi, syal, hingga barang-barang imut lainnya. Tak mau ketinggalan pedagang minuman hangat, makanan ringan, hingga penjual baterai camera yang tetap aktif menawarkan dagangannya hingga di spot khusus untuk melihat view sunrise. Siapa tahu saking gilanya foto ada yang baterei cameranya kehabisan energi..hahaha.




Langit merah menyalah, oranye, garis-garis biru. Itulah warna pagi sebelum matahari terbit di belakang Bromo. Kiblatan blitz camera terus menerus berkelip. Hingga saat matahari mulai menyembul, semua orang berdecak kagum. Demikian pun saya. Tuhan Maha Kuasa!!! Di depan mata seperti lukisan. Berjejer Gunung Batok (2.470m) yang menonjol dengan garis-garis di tubuhnya, Bromo (2.392m) yang terus mengepulkan asap abadinya, Gunung Kursi (2,581m) Gunung Watangan (2.662m) dan Gunung Widodaren (2.650m) yang tampak malu-malu bercelana kabut. Lalu di belakang sana, yang menjulang dengan anggun serta bermahkotakan asap seumpama asap bom nuklir Hiroshima itu adalah Gunung Mahameru. Katanya gugusan gunung gemunung itulah penghantar menujuh nirwana. Dan Stairway to Heaven (tangga menujuh Nirwana) itu ada di antara salah satunya. Sepatutnya saya kesana. Harus. Lalu kendati dengan berat hati saya musti menyingkir turun dari Penanjakan. Demi menujuh Stairway to Heaven itu….

Tiang-tiang putih setengah meter berbaris rapi. Seperti pagar, pemberi arah biar tak sesat. Ringkik puluhan kuda disitu. Ada yang berdiri menunggu penumpang, ada yang berlari dengan naluri bagai mengejar matahari. Entah mereka yang mau atau tuannya yang ingin. Saya halus menampik tawaran tumpangan naik kuda. Alasan pertama karena saya anak kampung, bukan orang yang lahir di kota besar. Waktu kecil saya sering menghabiskan waktu di atas punggung kuda sepupuh-sepupuhku yang tinggal di gunung. Naik turun bukit hingga pantatku sakit bahkan memar lantaran tulang punggung binatang itu beradu dengan tulang pantatku. Alasan kedua karena hampir semua kuda-kuda yang ditawarkan rata-rata berbadan pendek. Satu juta persen ngga lucu, kakiku yang panjang tergantung dan tampar menampar dengan pasir berdebuh. Uhh…..kaki menerjang badai!!! Jagoan tolol.



Gunung Batok demikian dekatnya hingga alur-alurnya jelas tersusur. Eksotis.

Dan setelah mengarungi lautan pasir, saya (ngos-ngosan) berdiri di depan Stairway To Heaven. Ternyata tangga menujuh Nirwana itu adanya disini, di timur Pulau Jawa. Mungkinkah dongeng nenek saya tentang surga dan dunia yang dulunya hanya berjarak sekian meter itu ada hubungannya dengan gunung Bromo? Sayang, nenekku sudah keburu meninggal. Maunya kudengar lagi dongeng itu sepulang dari Bromo. Wajah nenekku kembali terbayang saat kukenal rangkain bunga Edelweiss-lah yang sedang di genggam dua perempuan di depan anak tangga. Mereka seperti dayang-dayang negeri anta beranta dari Mongolia. Nenekku punya liontin dengan bunga bunga Edelweiss di dalamnya. Bunga abadi, kata beliau. Bunga ini merupakan bunga yang populer dan disukai oleh orang-orang pegunungan Eropa. Nama edelweiss sendiri datang dari bahasa Jerman, Edel dan Weiss, si putih yang mulia. Sementara nama ilmiahnya Leontopodium.


Akhirnya saya merayapi anak tangga (spiderman?). Iseng mau hitung, tapi tanggung malas lagipula manusia hilir mudik naik turun. Kawah Gunung Bromo mengepul putih. Bau belerang tercium. Sampai disini saya diam.

Begitu banyak yang datang dan pergi. Di bawah sana bayangan pura Hindu berdiri sendiri dikepung angin lautan pasir. Nirwana ternyata tetaplah perasaan di relung jiwa. Sebagai salah satu masterpiece Tuhan, Bromo juga adalah sebagian keping nirwana.






















Senin, Oktober 06, 2008

Jalan - Jalan ke Montecarlo dan Cannes (Perancis)

Montecarlo & Cannes:

Dua Permata dari Selatan Perancis



Dua kota yang sudah sangat popular. Kendati beratus-ratus kilometer jauhnya dari sang bunda, Paris, tetapi nyatanya mereka mampu menyedot perhatian jagat. Katakan saja orang-orang mungkin banyak belanja kota-kota besar dunia, tapi uang mereka pasti jadi lebih tak bernilai jika memasuki dua kota ini.

Montecarlo dan Cannes, di ujung selatan negeri biru, keduanya saling bahu membahu mengambil perhatian para superstar, melonggarkan saku para jutawan.

Bila suatu saat anda datang kesini, temukan diri anda sebagai bagian dari mereka. Walau cukup memandangi deretan kapal mewah atau kelap-kelip lampu casinonya, saya yakin anda pun serasa turut menjadi bintang. Jika tidak bagi dunia, setidaknya buat diri anda sendiri.

***



DULU, dulu sekali…. saya tidak yakin, kota yang letaknya di lereng bukit seperti Montecarlo ini ternyata lebih punya gengsi ketimbang Las Vegas. Begitu pun Cannes yang mungil, sulit meyakini bahwa disinilah tolak ukur sebuah film berkualitas dinilai, film-film sarat makna dan pesan, yang bercerita banyak dan humanis, tidak seperti Hollywood yang penuh fiksi, dar-dir-dor dan hanya mengejar duit.

Berikut adalah sedikit ceritaku, jalan-jalan ke Montecarlo-Cannes….

Monte Carlo

Mataku menalar lagi papan-papan petunjuk berwarna hijau yang mulai sering muncul. Yakinlah, kendaraan saya memang menujuh ke kota Montecarlo. Semenjak keluar dari wilayah Ventimiglia - Italia, rupa-rupanya jalanan tidak seberapa jauh dari laut walau tidak bisa juga dibilang di pinggir pantai. Topografi lintas batas selatan Italia dan Perancis memang penuh dengan pegunungan kapur tinggi-tinggi. Makanya jangan heran kalau kita kerap keluar masuk terowongan. Nyali sedikit ciut, lantaran terowongan-terowongannya rata-rata lumayan panjang, kendaraan kurang sekali hilir mudik. Beginilah, kalau terjadi apa-apa, apakah saya akan mengalaminya jauh dari jangkaun?? Tambah pula rute terus menyisir lereng-lereng yang terjal, melewati jembatan antara satu lereng ke lereng berikutnya yang ternyata membentang bergantungan setinggi sekian ribu kaki.


Mujurlah, seiring munculnya satu per satu bangunan, serta kota-kota kecil komunitas manusia, kekuatiran humane-ku perlahan berkurang. Ya…kita manusia, Bos. Seberani-beraninya kita, keder juga nyali kalau mengalami hal seperti ini.


Dan ketika mataku samar menerawang bangunan-bangunan putih bertingkat di lereng bukit pantai, sadarlah saya bahwa inilah Montecarlo. Kota dibawah kaki lintasan pegunungan Maritime Alps. Untuk masuk ke kota ternyata kita harus menuruni jalanan berbelok-belok yang cukup membuat kepala pening. Rasa-rasanya kok rute seperti ini mirip arena balap Formula 1 ya? Dan perasaan ku itu ternyata benar,Bos. Jalur kota yang menurun berbelok-belok ini masuk ke dalam rute balapan. Jalur ini akan diblokir bila perlombaan adu mobil tercepat itu digelar. Sirkuit Monaco ini merupakan salah satu sirkuit terpanjang dan paling berisiko. Rally mobil yang digelar di Monte Carlo adalah rally awal, sebelum Formula One melakukan tur ke kota-kota lain. Jadi Monte Carlo berposisi sebagai start. Wah, jadi bangga juga nih, walau kecepatan mobil kami tak sebanding tapi serasa pembalap juga hehehe….. tancap gas! Kejar itu ……



Montecarlo (atau kerap ditulis terpisah “Monte Carlo”), punya sebutan lain juga yakni Montcarles. Ini berlaku bagi kaum Occitan. Sementara ras Monéqasque memanggilnya Monte-Carlu. Tidak terlalu significant beda panggilannya. Kepeleset sedikit-sedikit lah…..Tapi nama-nama itulah kita bisa temukan kunci dari mana nama kota ini bersasal. Baik sejarah maupun literal, jelas sekali nama Monte Carlo datang dari Italia, negara tetangga. Lidah Inggris menyebutnya “ Mount Charles” atau jika di-bahasa Indonesiakan menjadi “Gunung Charles”. Nama yang disebut untuk merujuk pada daerah yang masa itu dipimpin oleh seorang raja bernama Charles III of Monaco.


Karena kemakmuran dan popularitasnya, Montecarlo kadang-kadang dipahami secara salah sebagai ibu kota dari negara kerajaan Monaco. Jujur saja, saya pun begitu sebelumnya. Tidak terpikirkan jika mereka adalah satu kesatuan dalam negara Perancis. Tapi rada bingung juga nih, kata orang lagi Monte Carlo itu sama halnya dengan Vatican. Dia disebut sebagai the second smallest independent state in the world setelah Vatican. Nah loh!!!


Anyway, bisa dibilang Monaco ini kalau di Indonesia sama seperti “Daerah Istimewa (DI)” Yogyakarta atau Aceh. Bedanya di Eropa, jika sebuah wilayah disebut istimewa itu artinya mereka punya otonomi sendiri, punya hak-hak istimewa. (Misalnya: Saya kira, embel-embel DI yang diberikan untuk Yogya dan Aceh selama ini bisa jadi cuma pemanis. Maaf, Pak Presiden kalau salah. Ini kan berdasarkan penglihatan saya. Kalau sekarang di negara kita ramai terdengar istilah otonomi, pertanyaannya: seperti apa bentuknya? Realisasinya? Dan ujungnya, apa yang bisa dicapai atau dihasilkan dengan pemberian otonomi itu? Perubahan seperti apa? Wess wes…., jadinya kok membicarakan politik?? -Rapat selesai, forum ditutup.-)


Populasi kota Monte Carlo sendiri diperkirakan tidak begitu banyak, sekitar 3000-3500 penduduk. Seperti yang sudah kita ketahui, Monte Carlo sangat terkenal berkat bisnis casino, perjudian, hal-hal berbau glamour, serta disini kita bisa melihat orang-orang terkenal (swear..!!). Kota Monte Carlo sendiri bukan hanya pusat kotanya saja tapi sudah termasuk bagian seperti Larvotto, Saint Michael, dan Saint Roman.



Monaco mungkin satu-satunya negara di dunia yang tak memiliki masalah lingkungan. Mulai dari situs CIA hingga ke catatan PBB, negara ini tak terdokumentasikan bermasalah dengan polusi apapun. Bahkan asap knalpot pun tak tercium disini. Meski dengan GDP perkapita US $ 30 ribu, penduduk negara Grimaldi tersebut dijamin mampu memiliki kendaraan pribadi.

Jalan-jalan di Monte Carlo, Monaco memang mulus tanpa retakan sedikit pun. Namun tetap saja jarang mobil terlihat di sana. Bahkan dalam jam-jam sibuk sekalipun, penduduknya terlihat lebih senang berjalan kaki. Mengikis jejak emisi karbon yang biasanya banyak dihasilkan dari kendaraan bermotor di kota-kota dunia. Para pejalan kaki memang dimanja disini.

Monaco telah lama dikenal sebagai negara Eropa yang pro lingkungan. Tata kota dengan jalan sempit berkelok diimbuhi tata kota yang apik, membuat penduduknya lebih senang berjalan kaki. Berbanding terbalik dengan biaya hidup yang tinggi, tarif transportasi umum Monaco justru murah. Hanya dengan 1 Euro saya sudah dapat berkeliling negara ini bahkan menyeberang ke Nice, Prancis.Kenyamanan ini berasal dari kebijakan Pemerintah Monaco memberikan subsidi tinggi pada tarif angkutan umum. Hasilnya terlihat pada 2007, saat jumlah pengguna transport umum negara itu meningkat hingga 20 %.

Kebijakan pro lingkungan Monaco juga berlaku lewat peraturan Haute Qualite Environnementale alias Kualitas Tinggi Lingkungan Hidup. Kebijakan ini mengharuskan setiap bangunan di Monaco menghemat 10 persen dari energi yang digunakan. Penghematan ini dihitung terutama lewat pemakaian energi listrik dan konsumsi air. Contoh paling nyata terlihat lewat Gedung Forum Grimaldi tempat konferensi UNEP diselenggarakan. Semua keran air disini bersifat otomatis, yang langsung berhenti saat tangan diangkat dari wastafel. Manajemen antisipasi bencana juga terlihat lewat infrastruktur yang menguatkan tembok-tembok batu karang di seluruh Monaco.

Secara sejarah, Monaco yang dikuasai Dinasti Grimaldi memang dekat dengan isu penyelamatan lingkungan. Pangeran Albert I terkenal aktif dalam pencegahan penangkapan ikan berlebih. Sementara Pangeran Albert II yang kini berkuasa kerap mengunjungi Kutub Utara guna mengecek langsung dampak pemanasan global. Kesadaran lingkungan berpadu dengan kekuatan dana, telah membuat udara, air dan tanah Monaco hampir sebersih hutan perawan.

Well, yang musti dilakukan kalau bertandang ke kota berbendera merah-putih ini (sama seperti warna bendera kita), adalah:

- Pastikan untuk bisa nyelonong ke Casino de Paris (Grand Casino) di gedung Place du Casino. Arsitektur dan dekorasi bagian dalamnya dasyat abis ! Syaratnya umur harus diatas 18 tahun,dan casino ini buka jam 2.00 pagi teng. Trus, dilarang pakai jacket dan ngga boleh buat foto. Pokoke masuk aja walau ngga ada niat buat gambling. Hitung-hitung liat suasananya juga ketimbang cuma liat di TV doang kan ?? PLUS Banyak perempuan cuantikk….

- Pagi-pagi datanglah ke Palais du Prince (Prince Place). Berada di kawasan kota tua, setelah puas liat bangunan yang indah tertimpah cahaya matahari pagi, kita bisa liat proses pergantian penjaga istana atau istilahnya Carabiniers pada jam 12 siang.

- Mau lihat lebih dari 4000 jenis ikan tanpa nyemplung ke dasar laut ? Singgalah ke Oceanographic Museum and Aquarium. Tempat yang sangat bagus buat kita untuk lebih tau fauna air, mulai dari yang kecil-kecil, tuna, dan ada piranha. Mas Tukul pasti ada..hehehe…

- Jardin Exotique (Exotic Gardens). Mampir kesini will make you blue !

Eit…t..jangan ngeras dulu,Bos. Ini adalah taman yang menampilkan berbagai jenis bunga dari seluruh pelosok bumi. Letaknya di ketinggian sehingga kita bisa menikmati indahnya tanaman-tanaman dengan view kota juga tepi pantainya yang ada di bawah. Blue !


- Mau taman yang ada tebing-tebingnya ? Nah, ke Saint Martin aja. Tempat ini punya venue yang bagus untuk liat cliff-side garden yang menawan. Nah tempat ini sudah dekat sama Catedral Monaco. Bisa masuk untuk liat interior bangunan yang dibangun akhir abad 19 ini.

- Berhubung Monte Carlo sangat populer dengan wisata pantainya, maka keterlaluan kalau Bos berada jauh-jauh dari laut. Pelototi berjenis-jenis kapal pesiar mewah dengan design serta karakternya yang bikin diri melamun jadi jutawan !

- Kalau lagi ada perhelatan seperti balap F-1, pastikan dapat tempat yang pas buat mengamati seruhnya lomba kejar-mengejar mobil itu. Tempat yang lebih tinggi, lebih baik.

Cannes

Mendengar nama kota berjulukan "Côte d'Azur" ini serta merta akan membuatku membayangkan anggunnya langkah-langkah para bintang film, kiblatan cahaya ratusan ribu kamera, penghargaan film bermutu, dan….indahnya kota tepi pantai.





















Sebagai focal point for festivals throughout the world and a cultural melting pot, Cannes dengan senyum dan tangan terbuka menyambut anda. Orang-orang sudah lama jatuh cinta pada kota ini dengan vibrant, colourful town and its peaceful way of life. Mulai dari bangsa Roma, Napoleon, Cocteau dan banyak lagi yang lainnya. Mereka menyangjungnya dengan menyebut: ‘bahkan dalam mimpi pun anda tak mampu mendapati kota seindah surga seperti Cannes ini.’


150 tahun yang lampau Cannes hanyalah sebuah kampung nelayan yang tak penting dibahas. Kala itu nama kampung ini belumlah Cannes tapi Canua, yang merujuk pada sejenis rumput liar. Dalam bahasa Occitan : Canas. Namun menjelang abad 20, tempat ini bermunculan hotel serta penginapan mewah, sebut saja nama dua diantaranya, Miramar dan Martinez.








(foto: Hotel Miramar & Martinez)



Kota ini kemudian semakin berkembang dengan ditambahkan sarana publik lainnya seperti sports center, jalur jalan, dana lain-lain yang mennyebabkan kota ini kemudian menjadi tempat peristirahatan yang pas bagi tentara Perancis setelah Perang Dunia I. menyusul menjadi tempat relaksasi bagi mereka yang sebelumnya terlibat dalam perang seperti tentara Jerman, Inggris, lalu kemudian Amerika. Kunjungan demi kunjungan pun meramaikan daerah ini. Dari musim ke musim, winter, summer, autumm, spring. Dan konstruksi-konstruksi gedung penghilang stress serta mesin duit seperti casino pun dibangun di sekitar Palm Beach.



Lalu tentang Festival Film Cannes?

Membahas Cannes tanpa menyinggung perihal Festival Film rasanya lebih baik tak perlu menyebut Cannes sama sekali!

(foto :Theatre Claude deBussy, tempat Festival Film)


Dimulai tahun 1939, Festival Film Cannes merupakan salah satu festival film paling prestisius di dunia. Ia menjadi sejarah dan nadi Cannes. Selama 2 minggu penuh kota ini menjadi sorotan dan kampung para great filmmakers. Selama periode ini tema yang paling dibicarakan adalah film, film, dan film. Disini hadir bukan hanya superstar Hollywood tapi para penggiat indenpendent film pun jumlahnya sama banyak. Festival Film Cannes bahkan disebut-sebut sebagai granddaddy of all film festivals".


Datang ke Cannes pada bulan Mei, adalah saat yang tepat tetapi juga akan mencengangkan anda. Ya, karena pada bulan Mei lah perhelatan Festival Film itu berlangsung. Jangan kaget kalau sesuatu yang sebelumnya tanpa harga, tiba-tiba jadi punya nilai. Ini contohnya : di Hotel Cartlon Nice akan dikutip tarif lebih dari US$30 satu jam hanya untuk nongkrong di kursi pantai ! Emang rada susah dapat lokasi yang bagus tapi tanpa kena biaya pada bulan Mei ini.

Meskipun di sekitar pantai Croisette, bisa menikmati pantai berpasir putih dan bermain-main air, atau duduk-duduk menikmati matahari, tapi kita bakal agak puyeng karena daerah ini dipadati oleh pengunjung. Tapi Croisette bisa jadi incaran anda, ibarat paparazi atau seolah salah satu groupies, kita bisa hilir musik disini memata-matai para selebritis dunia, karena Croisette punya sejumlah cafe yang diminati selebritis.



Apakah Festival di Cannes cuma itu?

Ngga!!!!! Ada juga beberapa yang ngga kalah seruh.

Yakni :

Cannes Lions International Advertising Festival, dibilang sebagai satu-satunya perhelatan bagi kaum kreatif dunia periklanan. Tercatat lebih dari 10.000 delegasi dari 85 negara yang berpartisipasi disini tiap tahun. Dalam festival ini kita bisa menyaksikan lebih dari 28.000 karya iklan kreatif, bisa joinan di lebih dari 50 seminar tentang advertising, dan 25 workshop. So, bagi anda yang tertarik, berbakat, dan merasa hidup anda pantes mati-matian di bidang periklanan, Cannes sudah menunggu, Bos!!! (http://www.canneslions.com).

Carnival on the Riviera, atau dalam bahasa Perancisnya ‘Mardi Gras’ merupakan gelaran karnaval keliling kota. Dibuat untuk menyambut masa Pra- Paskah (Kristen). Banyak tampilan lucu dan unik di acara ini. Biasa diadakan kitaran bulan Februari atau Maret, menurut penanggalan liturgi gereja. Dalam edisi Inggris dibilang Shrove Tuesday atau lucunya diterjemahkan: Selasa Gemuk hahahaha……

The International Festival of Games, diadakan di bulan Februari, event dimana kita bisa menonton atau bahkan berpartisipasi dalam adu otak serta ketelitian semisal bermain kartu, belote, backgammon, catur, draughts, tarot dan permainan otak lainnya.

Festival de la Plaisance (www.salonnautiquecannes.com), adalah pameran/ show kapal-kapal pesiar. Bertempat di Vieux Port, yang paling antusias disini tentu saja para jutawan serta keluarganya. Berbagai perusahaan kapal pesiar mewah memarkir karya mereka disini. Moment ini pun digunakan sebagai ajang perniagaan, jual - beli kapal pesiar. Anda akan geleng-geleng kepala jika melongok satu persatu kapal yang dihadirkan disini.





Kendati berwisata disini agak menuntut biaya, kota kecil Cannes yang menyala saat festival film digelar atau Monte Carlo yang eksotis, bukanlah berat untuk 'ditaklukkan'. Setujuh ?


Salam!

Valentino babaputra

Kamis, Juni 26, 2008

Jalan - Jalan Ke Dresden (Jerman)


















DRESDEN:

Susahnya Menampik Godaan
Si ElbFlorenz...!

Millions uncounted in fallen formation
yet all justified.
The crux of it--Deep, then, in the darkness of your Dreaming…
remember that center-flower, then--
even when you in your loveliness look alone,
somehow it goes beyond sieges, Plans,
decrypting messages and Fate.
enterprising young man,
never before…yet now. Like all that softness and over still.
My Dresden


SEBUAH paragraph pernah tertulis begini: ….”With a pleasant location and a mild climate on the Elbe, as well as Baroque-style architecture and numerous world-renowned museums and art collections, Dresden has been called "Elbflorenz" (Florence of the Elbe)”……….

Mungkin pabila Bos membaca kalimat ini, Bos akan mengerti kenapa saya memberi judul travel report ke kota ini dengan julukan ‘Si Elbflorenz’. Sejujurnya gelar itu sudah berkumandang puluhan bahkan ratusan tahun sebelum saya lahir.

Ini bukan imajinasi saya.

Saya bukanlah pribadi pertama dan satu-satunya. Seorang penyair bernama Herder-lah yang pertama menghembuskan julukan itu: Florenz di Elbe. Memang tak perluh diperdebatkan lagi julukan demikian sudah pantas disandang kota yang di lidah orang Ceko menyebutnya Drážďany dan orang Polandia menyebutnya dengan Drezno ini. Orang akan mengingat sebuah kota hebat di Toskana, Italia sana. Dimana tempat lahirnya seniman-seniman besar negara Azzuri itu ( lebih tentang Florenz, baca tulisanku sebelumya: Jalan-jalan ke Italia).












ELBE adalah sungai besar yang melewati kota Dresden. Yang jika menelusuri alirannya, setelah Dresden, sungai ini akan membelah diri menjadi tiga, pertama ke sebelah timur Ore Mountains yang nantinya terus menujuh selatan. Belahan kedua sungai ini yakni ke lembah curam Lusatian yang akan terus menujuh utara. Dan belahan ketiga ke Elbe Sandstone Mountains yang bakal bersusur menujuh timur.

Well, Apa saja yang bisa Bos nikmati di kota yang berjarak 200km dari Berlin ini?

Mari ikuti saya, kita jalan – jalan ke Dresden…

SEBAGAI kota terbesar ke-empat di Jerman (setelah Berlin, Hamburg, dan Köln), Dresden mengklaim diri sebagai salah satu kota terhijau di Eropa. Ini karena ia memiliki kawasan hijau kota sepanjang 50km dan diberi nama Dresdner Heide.


Dari Hannover saya meluncur jam 3 sore.

Planning akan menginap di daerah luar kota. Namanya juga backpacker. Tapi tempat menginap saya cuma 15 menit kok dari pusat kota. Buat saya, ini sebuah kemudahan, selain tentu saja biayanya jadi billiger, ketenangan juga dapat dirasakan. Terus terang, walau masih muda tapi saya bukan type orang yang suka berada di lingkungan yang hiruk-pikuk seakan tak pernah mengenal tidur. Tiba di Dresden sudah gelap, kira-kira jam 9 malam.

Gara-gara sempat terjebak macet, apalagi kalau keluar rumah jam 3 sore adalah jam pulang kantor, bertepatan lagi akhir pekan dimana hampir semua orang mau menghabiskan waktu untuk pergi berlibur di luar kota. Itulah Jerman, negara yang penduduknya gemar melakukan perjalanan. Setelah sampai di pension, saya pun istirahat sambil bembolak-balik beberapa majalah tentang kota Dresden.


PAGI-PAGI benar jam 6 saya sudah siap ke kota. Hari cerah, udara cukup hangat. Saya yakin akan sangat menyenangkan hari ini. Bagi saya waktu pagi-pagi adalah saat yang tepat untuk datang ke sebuah kota yang sudah terkenal dengan wisatanya. Soalnya, jika kita datang pagi-pagi, gerak kita lebih leluasa, tempat-tempat masih sepih dari tumpah rua pengunjung. Dan dengan suasana pagi yang cerah, rasanya sangat cocok pula untuk mengambil banyak foto.



FRAUENKIRCHE.

Memang benar, mobil langsung ke kawasan kota tua. Saya sudah sumringah dengan beberapa bangunan di depan mata saya. Kebetulan mobil kami parkir di dekat gereja Frauenkirche. Wah, asyik nih, masih sepih betul. Gereja ini amat cantik di pagi hari dengan bangunannya yang tertimpa cahaya matahari pagi keemasan. Masih terasa baru setelah rekonstruksi yang selesai tahun 2005 lalu, satu tahun sebelum Dresden merayakan ulang tahunnya ke-800. Ini merupakan an impressive symbol setelah rekonsiliasi paskah PD II.

Konsekrasi bangunan ini menarik minat seluruh dunia. Tercatat setelah kembali berdiri dari puing-puing kehancuran, Frauenkirche telah dikunjungi (pengunjung yang masuk ke dalam gereja) lebih dari 2 juta orang. Awal berdirinya gereja ini pada tahun 1726 seturut design George Bähr. Domenya yang berkarakter ‘Stone bell’ yang roboh pada tanggal 15 February 1945 dibawah hujan bom PD II. Sayangnya, hari itu pengunjung tidak bisa menikmati keindahan interior gereja yang amat penting bagi umat Protestant Jerman karena gereja dipakai untuk pernikahan. Tapi, saya tetap tidak menyesal karena dengan ticket seharga 5 Euro saya bisa naik ke atas menara dan menikmati kota Dresden dari atas kubah. Nah, pas turun dari kubah, saya sempat melongok interior bangunan ini. Karena dibatasi kaca, saya sempatkan mengambil foto sebagian ornamen ceiling gerejanya.

BAGUSNYA lokasi ini dikitari oleh banyak sekali bangunan bersejarah yang bagus. Di belakang kanan gereja terdapat pasar souvenir dan kafe yang menarik. Lalu terus berjalan ke belakangnya ada bangunan yang dindingnya penuh dengan lukisan yang indah berwarna kuning-abu-hitam. Lukisan bercerita tentang masa-masa kerajaan jaman dulu. Augustustrasse, di mana mural porselain bernama ‘Procession of Princess’ berdiri megah sepanjang 102 meter.


CATEDRAL DRESDEN. Dikenal juga dengan Dresdner Dom, tempat ibadat umat Katolik ini kental bernuansa Barok yang diotaki oleh seniman Italia, Gaetano Chiaveri dari tahun 1738-1754. Sekaligus menjadi gereja terbesar di negara bagian Saxony. Memasuki bagian dalam gereja ini, saya begitu terkesima dengan ornament hiasan yang mewah, sebut saja Mimbar Roccoto yang dibuat Balthasar Pelmoser, organ indah karya Silberman Gottfried, serta Pieta Dresden gaya China yang adalah buah cipta Friedrich Press. Di bagian bawah tanah, kita bisa menemukan sarkofagus kaum Wettins lalu sebuah kotak yang katanya berisikan jantung raja Augustus.


SATU lagi gereja di Dresden yang sudah sangat popular di Jerman adalah gereja KREUZKIRCHE, yang bernuansa perpaduan gaya Barok terakhir dan gaya Clasistik permulaan. Dibangun pada tahun 1764-1800, Kreuzkirche punya reputasi bagus dengan paduan suara anak-anak dan remaja “Kreuzchor.” Bagi anak-anak Dresden, menjadi anggota paduan suara ini adalah sebuah prestasi luar biasa, apalagi jika terpili menjadi solois. Sebuah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari 700 tahun.

Petunjuk lain bahwa Dresden punya nama besar di bidang musik gereja adalah relief sandstone di Wedding Chapel yang melukiskan potret Heinrich Schütz, toko yang disebut-sebut sebagai ‘Father of German Music.’ Beliau adalah seorang Hofkapellmeister, ( pemimpin musik orkestra gereja) selama 55 tahun di Dresden. Oya, sama halnya dengan Frauenkirche, dari menara gereja ini kita bisa melihat kota Dresden dari atas.

MASIH di Altstadt, bagian kota tua, saya menemukan satu lagi mascot kota Dresden. Apalagi kalau bukan SEMPEROPER HAUSE. Halaman depannya berdiri patung kaisar dengan kuda tunggangannya. Bangunan ini amat lekat dengan kota Dresden. Nyaris, nama besar Dresden cukup diwalikan oleh gedung pertunjukkan musik opera ini. Semperoper adalah salah satu dari 5 gedung opera terbaik di dunia. Dibangun pada tahun 1838-1941 oleh Gottfried Semper, mengertilah kenapa gedung ini diberi nama SemperOper. Bangunan indah ini sempat pula dihanguskan api pada tahun 1869 lantas rebuilt lagi dari tahun 1871-1978 seturut gaya High Renaissance’s Gottfried oleh putra Gottfried sendiri, Manfred Semper.

TETANGGA dekat Semperoper adalah Der ZWINGER. Oleh Pöppelmann, bangunan luar biasa ini dibangun selama 18 tahun, dari tahun 1710 hingga 1728. Saking senangnya dan mau merekamnya dalam video, saya gelagapan setengah mati begitu tahu kaset Handycam-ku tidak ada yang kosong. Pontang-pantinglah saya mencari toko yang menjualnya. Sampai masuk ke Neustadt pun tidak ketemu, kebiasaan, kalau akhir pekan hampir semua toko pada tutup. Susur punya susur, adalah satu supermarket yang justruh amat dekat dengan lokasi kami sebelumnya. Wuih..hhh, tahu begini, kenapa mau mutar kota berlama-lama?

Bekerja sama dengan pemahat Permoser, Pöppelmann pada mulanya mendesain tempat ini sebagai sebuah orangery dan tempat perhelatan berbagai festival.

Kemudian hari menjadi tempat exhibition. Halaman dalamnya cukup lapang dan bagus untuk bersantai-santai. Lalu sebuah gapura di barat didesain serupa mahkota raja. Mewah dan anggun. Der Zwinger disebut-sebut sebagai contoh sempurnah arsitektur Late Baroque di Jerman. Sesuai dengan fungsinya kini sebagai tempat exhibition, tempat ini memiliki gallery dan museum, seperti Old Master Pictures Gallery, Armoury (Rüstkammer), Porcelain Collection, Zoological Museum, dll.


KOTA yang kini berpopulasi lebih dari 5000 jiwa itu, didirikan oleh bangsa Slavia yang mendiami sebelah timur Jerman dari abad ke-7 sampai abad ke-10. Kaum bangsa Sorbia yang sekarang tinggal di sekitar daerah sini, masih merupakan keturunan langsung bangsa Slavia yang pernah berkuasa di sini. Kota Dresden sendiri konon didirikan pada tahun 1206. Pada tanggal 26 dan 27 Agustus 1813 kota ini merupakan ajang pertempuran sengit pasukan Napoleon dari Perancis melawan pasukan Austria. Lalu pada Perang Dunia II, pada 13 Februari 1945, kota ini dibom secara dahsyat oleh pasukan Sekutu dengan hasil 135.000 jiwa penduduk kota ini tewas. Pusat kota historis juga hancur, antara lain gedung-gedung kuno.

SIAPA sangkah jika seorang pelukis kenamaan Indonesia, Raden Saleh, pernah menetap di kota Dresden. Tapi jika menilik pada sejarah seni di kota ini, tidak heran jika Raden Saleh memilihnya untuk tinggal. Di kota Dresden ini terdapat banyak sekali karya lukis berharga dan terkenal, misalkan saja karya Raphael (Madonna di San Sisto), Correggio (La Notte, Mary Magdalena), Titian (Tribute, Venus), Paul Veronese (The Adoration, Marriage in Cana), Rembrant (Self Portrait), dan masih banyak lagi pelukis lampau dan masa kini.

MASIH banyak lagi tempat-tempat yang menarik disini. Semua punya keistimewaan dan sejarah yang panjang. Seperti BRÜHLSCHE TERRASSE, yang merupakan promenade cantik dengan deretan kafe romantic yang menawarkan pemandangan Sungai Elbe. GRUNE GEWOLBE (Green Vault), museum perhiasan bernuansa hijau dengan koleksi terbesar di Eropa, yang baru dibuka kembali pada bulan September 2006 lalu, terletak tidak jauh dari Zwinger. Ada lagi ROYAL PALACE, first mention of a castle some 700 years ago. Istana dengan 4 sayap yang dibangun pada abad ke-15, mengalami beberapa masa suram, mulai dari terbakar hingga pengrusakan tapi justruh setiap rekonstruksinya memberi gaya baru. NEW SYNAGOGA juga patut dipantau kendati bentuk bangunan umat yahudi ini keliatan agak aneh dalam nuansa modern. Dibilang bahwa bangunan ini mengambil contoh biara orang Israel permulaan. Satu gudang tembakau yang mengecoh saya adalah YENIDZE, pertama melihatnya saya mengira ini adalah mesjid karena arsitekturnya demikian. Feeling saya melayang ke negeri Turky, ketika membaca nama Yenidze ini. Nyatanya saya salah. Dengan gaya Neo-Oriental, tempat ini kini bukan hanya jadi kantor tapi juga restaurant. Sementara di bagian kota modern atau Neustadt, dimana memajang sisi modern kota Dresden. Langkah kaki kita kesana dimulai dari Neustädter Markt dimana terdapat patung emas kaisar Augustus dengan kudanya, ‘Golden Horseman.’

Jika sudah begitu, benar kan kataku? Susahnya menepis godaan Si Elbflorenz!

Anda patut datang dan menikmatinya. Apalagi kota ini terkenal dengan kue khasnya,"Eiershecke."


valentino for http://anakflores.blogspot.com

Rabu, Juni 18, 2008

Jalan - Jalan Ke Praha (Czech Republic)


PRAHA :
Kota
Fairytale Yang Sesungguhnya

















Sapphire light mingles with deep red violet
Rolled out behind the spiky black twin towers
Like a futuristic vision.
My neck aches from bending backwards
My soul leaps forward to embrace them.
Evening comes to Prague

Like a dark,
warm wool blanket

That wraps a weary traveler's body
At the end of a long journey.


Perhatikan sepatu anda. Jangan-jangan pelindung kaki anda itu bermerek Bata.
Lihat botol kaca minuman anda. Jika tidak salah, bir yang anda minum adalah bir bertitel Pilsener.
Kalo boleh tanya, kristal apa yang paling tersohor? Kemungkinan besar jawabannya adalah Kristal Bohemia.
Dan, apakah Anda penggila sepak bola? Kalau begitu, sudah tentu Anda tahu siapa Pavel Nevded, atau Peter Czech.

Ya, anda mungkin tak asing lagi dengan nama-nama yang bercetak miring di atas.
Tapi tahukah Anda dari negara mana mereka berasal?
Jawabannya: Czech.
Atau pabila anda anda masih merasa baru dengan nama itu, bagaimana dengan Ceko?
Yup, Czech Republik atau Republik Ceko adalah satu dari dua negara pecahan Cekoslovakia, yakni Ceko/Czech dan berikutnya Slovakia.

Praha yang adalah ibukota Czech, dulunya ia juga jadi ibu kota Cekoslovakia. Kota ini pun punya banyak nama seturut lidah siapa yang mengucapkannya. Ada yang bilang Praha, ada pula yang sebut Prag, yang lain memanggilnya Prague, tapi ada juga bilang Praga.

Kota bermoto Praga Caput Rei publicae ini, seperti halnya ibu kota negara-negara di benua lainnya, ia telah melewati beberapa jaman dan revolusi. Apa yang ada pada dirinya sekarang adalah akumulasi dari serangkaian pahit-manis sejarah negaranya. Mulai dari 200 tahun sebelum Masehi ketika kota ini sudah jadi incaran beberapa ras besar masa itu seperti Celts-Arya Jerman-Slavs-Avars Eurasia, Kepemimpinan kaum Bohemia (Charles-Wenceslas), Perang 30 tahun, PD I - Berdirinya Rep Cekoslovakia, PD II-Nazi, Perang Dingin-Revolusi Velvet, hingga wajah Praha abad 21 ini.

***

Siapa menduga saya akan menginjakkan kaki ke Praha? Kota yang tak pernah terlintas di benak. Bahkan sebelumnya tak pernah pula terdengar namanya. Nasib memang tak disangka membawa kemana kita melangkah. Harus kuakui, di antara ibu kota negara-negara yang pernah saya kunjungi, barangkali Praha-lah yang paling menarikku untuk mendatanginya lagi dan lagi. Lupakan Roma, kendati saya pernah melempar koin pengharapan di kolam Fontana di Trevi. Singkirkan Paris, walau kerlap-kerlip lampu Eiffelnya membuatku relah ketinggalan kereta. Tepiskanlah Amsterdam, betapun kilau air dari kanal-kanalnya memberi ilham untukku menciptakan selaksa puisi. Inilah Praha, kesahajaannya, siapa pun akan melekatkan hatinya disini.

Berikut adalah kisahku, jalan-jalan ke Praha….ayo,Bos…


Seperti yang kutulis di atas, Praha itu asing buatku. Nama kota Praha baru terngiang-ngiang (ciehh….) di telingaku ketika satu dari temanku ( sesama orang Maumere, sebut donk, penting tuh.. ) menyambangiku di Bali. Dia bilang: “ Kamu harus coba ke Praha, kota itu sangat bagus…” Temanku itu punya kerabat, seorang pastor yang pernah singgah di Praha, dari cerita pastor itulah temanku jadinya bersemangat memberiku rekomendasi, hehehe...though he couldn’t gave me any kind of illustrations about this city at all...,
“ Pokoknya kota ini bagus. Nanti kamu check sajalah di internet,” demikian katanya lagi. Maka saya pun berminat untuk mengechecknya suatu saat. Memang saya menemukan banyak gambar bagus tapi karena bagiku kota ini tidak begitu popular, maka saya pun adem-ayem saja. Bahkan melupakannya dan berpikir untuk ke kota lain saja. Ke London, misalnya..hehe…
Dan memang ketika balik ke Hanover, saya dan familyku berencana ke London, sialnya dari fernsehapparat tersiar kabar bahwa minggu-minggu ini kota London dihantam badai angin topan. Lalu, sontak terpikirlah saya akan kota Praha. Untuk perjalanan kali ini saya ingin memakai bus wisata saja (istilah lainnya Jalan Darat, gitu..) langsung dari Hannover ke Praha dan dalam perjalanan yang cukup jauh dan akan membelah malam itu, penumpang bakalan sekali menginap di Dresden, kota di Jerman yang berbatasan dengan Czech (dulunya Cekoslovakia). Wes, mengutip sepenggal ayat dalam Kitab PL Kejadian bab I: maka jadilah petang dan pagi hari, bus pun tereservasi. Namun….saat mendekati hari H, saya dapat e-mail dari travel bus itu, katanya penumpang dari Hannover hanya diriku seorang (bahh…’diriku seorang’, sok puitis loe…), so bus tidak akan datang ke Hannover, saya pun disuruh ke Leipzig. Ha?? Gila apa?!! Saya sudah bayar, masa, saya ke Leipzig lagi pakai biaya transport sendiri?? Berapa ratus kilometer? Überhaupt Nicht. Nein Nein Nein, Vielen dank. Keluargaku pun lebih memilih agar uang dikembalikan. Saya batal pakai bus dari travel itu.
Terus??? Apakah kota Praha tak jadi saya kunjungi? (...Mmmmm…otak kerbau, kalo tak jadi ke Praha, mana mungkin artikel ini nongol?. Gobl** ).

Bertemu Polisi yang Baik Hati

Keputusannya saya tetap jadi jalan-jalan ke Praha. Dan pakai mobil.
Begitu keluar dari Dresden, nuansa Eropa Timur mulai terasa, walau negara Chezh sendiri mati-matian menyebut diri mereka Eropa Tengah. Apa bedanya? Toh situasi alam, infrastruktur, bangunan amat mirip dengan gambaran negara- negara Eropa Timur. Kami pun mendekati kota Praha.
Sekarang mata mulai mencari-cari petunjuk ke mana arah menuju hotel yang saya booking via internet. Dari keterangan yang ditulis di internet kami harus mencari daerah bernama Vasatkova. Sudah keliling semua bahkan masuk ke pusat kota, sama sekali tidak ketemu petunjuknya. Teringatlah saya akan sebuah pepatah: malu bertanya sesat di jalan. Jadi akhirnya saya pun beberapa kali menghentikan mobil dan menanyakan alamat hotel. Anehnya, orang-orang malah menyebut satu nama baru. Bukan Vasatkova tapi Cerny Most. Hotel itu adanya di wilayah Cerny Most. Kami pun ikut. Ujung-ujung bingung. Buntu. Wah, bagaimana ini?. Mana lagi tidak ada plang dari hotel itu, dan rasanya saya sudah tidak kenal lagi posisi kami berada pada arah yang mana dari pusat kota. Disaat bingungnya, saya melihat sebuah adegan (film kaleee….) di perempatan jalan, dimana seorang tua dituntun menyeberang jalan oleh dua polisi yang rela turun dari mobil patrolinya. Otakku langsung berpikir positif. Jika kelakuan polisi sebegini baiknya, barangkali kami bisa ditolong. Dengan harapan itu kami mendatangi polisi tadi. Dan, benar saja. Mereka bukan sekedar menunjukkan tempatnya, tapi dengan rela hati akan menuntun kami hingga ke hotel. Saya senang bukan kepalang. Jelas…Polisi-polisi yang baik. Seandainya di semua tempat sikap aparatur negara seperti ini. bayangkan, indahnya hidup. Akhirnya kami pun digiring seolah tamu terhormat. Nyatanya Vasatkova itu nama jalan bukan nama wilayah. Sampai di halaman samping hotel Bridge (http://www.praguehotelsonline.eu/de/Hotel-Bridge.html), mereka pun pamit.
Terima kasih, Pak Polisi….

Romantisme Kota Dongeng Ada Disini

Hari telah berangsur gelap, kamar saya tidur berada di lantai 10 dengan jendela lebar dan view yang terasa nyata dari ketinggian. Cerny Most adalah bagian kota yang menjadi pusat hunian masyarakat. Disini banyak sekali apartment-apartment. Mengetahui kenyataan bahwa posisi hotel ternyata cuma dua ratus meter dari stasiun kereta, dan bahwa dari hotel ke kota hanya memakan waktu 15 menit pakai kereta, saya pun antusias. Tidak pakai istilah capek, cukup melepas lelah beberapa menit kami cabut ke pusat kota.

Lebih senang lagi ternyata harga ticket keretanya murah. Bukan hanya ticket, harga hotel kami pun terbilang murah untuk penginapan di dekat jantung kota. Nilai mata uang Czech, Krone, ternyata dibawah Euro. Baguslah, tapi sayang, satu-dua tahun ke depan Czech akan mengganti Krone dengan Euro, negara ini memang sudah bergabung dalam Uni Eropa sejak tahun 2004, hanya saja selama ini mereka masih memakai mata uang mereka.

Masuk ke kota dan menyaksikan keindahan tata kota dan bangunan-bangunan tuanya, terutama saya cukup terpesona dengan tower-tower tua yang ada di jalan-jalan kota. Dimana kendaraan melewati lubang antara kakinya. Pantaslah kota ini dijuluki "City of 100 towers". Kota ini juga dikenal dengan sebutan “The Heart of Europe” karena pada masa jayanya kota ini mengundang minat banyak bangsa di Eropa, bahkan Praha pada awal abad 20 menjadi kota yang paling pesat pembangunan ekonominya. Ada lagi julukan lain, yakni “Kota Emas,” itu pun tak lepas dari kejayaannya. Jual beli barang berharga amat marak di era pertengahan. Hingga kini pemandangan sebagai kota emas itu masih bisa kita temui karena Praha menjadi kota yang paling banyak memiliki toko perhiasan, keramik, porselen. Dimana-mana di pusat kota etalase-etalase toko bertaburan emas-intan-berlian. Sejarahnya memang luar biasa, di kawasan bukit Hradcany /Hradschin, di belakang cathedral Vitus dalam naungan Prazsky Hrad ( Benteng ), terdapat gang kecil yang disebut Golden Line atau jalan emas karena dulu disini bermukim para pedagang dan pengarajin emas.

Praha adalah salah satu kota tua di Eropa yang sebagian bangunannya masih asli dari abad ke-14, bahkan ada juga yang sudah berumur lebih dari 700 tahun. Negara ini bisa disebut beruntung karena sebagian besar bangunan bersejarahnya tidak rusak saat pecah Perang Dunia II sehingga tempat ini menjadi salah satu pusat kebudayaan arsitektur Eropa yang tidak ada bandingannya.

Perkembangan zaman dan modernisasi juga tak lantas membuat bangunan kuno di Praha dihancurkan untuk diganti dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjadi ciri khas kota metropolitan dunia. Bahkan pusat kotanya yang berupa bangunan bersejarah dari abad pertengahan dilindungi oleh UNESCO.

Salah satu bagian kotanya adalah Staré Mesto (kota tua) yang pusatnya berupa alun-alun kota atau lebih dikenal di sini sebagai Staromestké námestí. Di sekitar alun-alun ini terdapat beberapa bangunan klasik yang unik. Saya suka tempat ini, apalagi ketika ada perayaan-perayaan besar atau keagamaan (mayoritas Katolik), warga berkumpul untuk menyaksikan beragam hiburan, menikamati berbagai jajanan. Mmmm…ngomong-ngomong masalah jajanan disini, saya punya pengalaman jelek yakni ditipu orang. Ceritanya, saya tergoda sama daging sapi panggang yang dijual disini. Setelah pesanan saya jadi, eh..tiba-tiba harganya jadi lain, padahal terang-terang saya baca kalau harganya tidak 2 kali lipat. Syukur, dagingnya enak, walaupun dongkol karena ditipu saya cuma mengumpat dalam hati. Mudah-mudahan suatu saat dia dibalas 10 kali lipat! Sialan!

Di antaranya jam kota (Orloj na Staromestkém námestí) yang sudah berumur lebih dari 600 tahun dan masih berfungsi sampai sekarang. Anda boleh menghabiskan waktu kemana pun di kota, tapi jangan bingung ketika jam 6 sore orang-orang berbondong ke alun-alun tepatnya ke depan sebuah jam dinding klasik bernama jam astronomi. Pada jam 6 sore, jam kebanggaan warga Praha yang dibangun bergaya Gothic ini memiliki patung 12 Rasul Kristus yang bergerak berputar bergantian. Lucunya, kejadian ini berlangsung amat singkat, cuma 7 menit. Di sekitar sini menjadi tempat tongkrongan yang asyik. Alun-alun kota. Ada beberapa gereja serta sinagoga spanyol. Sebut saja, Týnský Chrám, yang memiliki menara kembar dan terlihat begitu indah di malam hari, serta pintu masuk kota yang masih terawat seperti Prašná Brána.


Praha kota romantis, selevel Paris. Keindahannya mengundang Anda untuk melabuhkan diri kesini. Mungkin bersama pasangan tercinta, Anda bisa merayakan serta menemukan kesempurnaan cinta disini. Seperti kebanyakan kota-kota utama di daratan Eropa, sungai dan bangunan bersejarah warisan masa lalu merupakan pilar utama yang membingkai pesona sebuah kota. Maka jika Paris punya sungai Seine, Roma dialiri Tiber, London ada Thames serta Budapest ditembus Danube, maka Praha dilalui Vltava. Apalagi bila menemukan jembatan seindah Charles Bridge yang berhiaskan puluhan patung-patung. Anda akan berlama-lama disini, dan kendati Anda sudah menginjakkan kaki untuk kesekian kali di tempat yang sama, Anda akan ingin lagi. Suasana Jembatan Charles, yang khusus untuk pejalan kaki sepanjang 514 meter dengan lebar tujuh meter yang dibangun paruh kedua abad 14, sangatlah hidup. Para penjual cenderamata, seperti gantungan kunci dan lukisan dan drawing berjajar di sepanjang sisi kiri dan kanan jembatan. Mereka akan berdiri dengan tenang, tidak akan merecoki kita dengan rayuan atau paksaan yang bikin mangkel. Kerap kali grup musik pengamen bermain disini, sekelompok laki-laki dengan alat-alat musiknya akan menghibur serta memperdalam haru - biru disini dengan musik instrument khas Czech.






Sudah puas di Charles Bridge, naiklah ke bukit, ke kawasan Hradcany /Hradschin.
Eit…Anda akan menemukan kenapa kota ini saya sebut dengan kota negeri dongeng.
Jalan-jalan kecil mendakinya yang beralaskan bebatuan kuno, kesenyapan yang terkunci pada lorong-lorongnya, lampu-lampu pada dinding bangunan yang sinarnya berpendar remang, itulah yang akan menuntun kita pada baying-bayang negeri dongeng.

Bangunan utama bersejarah lain yang menjadi ciri khas kota Praha adalah Pražský Hrad (Istana Praha) yang saat itu merupakan kompleks pusat pemerintahan kerajaan terbesar di Eropa. Bangunan yang terletak di atas sebuah bukit ini sekarang digunakan sebagai istana kepresidenan. Di dalam lingkungan istana negara ini kita temui gereja tua yang berdiri dengan megah. Bangunan yang dinamakan Chrám Svatého Víta (Katedral Santo Vitus) ini dibangun pada abad ke-10 dan baru selesai sekitar 600 tahun kemudian. Kawasan dalam lingkungan istana ini penuh dengan berbagai bangunan bersejarah yang menarik untuk ditilik. Di tempat ini pula menjadi tempat yang paling tepat untuk melihat kota Praha dari atas. Luar biasa indahnya..

Hampir semua bangunan utama atau bangunan penting di kota Praha merupakan bangunan tua bersejarah yang cantik dan masih terawat dengan baik. Termasuk juga gedung pusat kesenian dan museum pusatnya juga tidak kalah menarik. Národní Divadlo (Teater Nasional), Stavovské Divadlo (Teater Profesional), ataupun Národní Muzeum (Museum Nasional) juga merupakan bangunan dengan arsitektur klasik.
Kesenian khas Eropa seperti teater, opera, balet disajikan secara rutin. Begitu juga pertunjukan teater boneka yang menampilkan dongeng klasik Eropa seperti Pinokio, Cinderella, Romeo dan Juliet, Danau Angsa, dan sebagainya. Jadi, rasanya sayang sekali jika datang ke Praha tanpa menyempatkan waktu menyaksikan pementasan aneka kesenian khas Eropa di kota yang merupakan salah satu pusat kebudayaan Eropa.

Saya, dalam keterbatasanku, tak sanggup menjelaskan satu persatu. Jika seandainya kujelaskan, mungkin ini akan menjadi travel report terpanjang saya hehehe….

(Valentino Mendez for http://anakflores.blogspot.com)






Minggu, Juni 08, 2008

Jalan -Jalan ke Paris (Perancis)

PARIS:
C'est la ville
de l'amour












"Salut - comment allez-vouz?
tres bien merci, je m’appelle Edgar

comment ca va?
Je suis faché
Pourquoi?
parce que je t’aime, je t’aime. Je t’aime encore"

Demikianlah cuplikan puisi karya Edgar John Jackson. Ikhwal pertemuannya dengan seorang wanita di kota Paris itu dituangkannya dalam puisinya Love in Paris.

Cihuii…iiii….PARIS!!!!!
Saya yang sedari tadi terkantuk-kantuk di atas mobil sontak gelagapan girang. Bagaimana tidak, setelah menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer, akhirnya saya melihat bayangan menara Eiffel dari kejauhan. Dari atas bukit mobil kami perlahan turun. Waktu itu mulai senja tapi warna langit tidak kemerahan. Putih dan hitam bercinta jadi abu-abu. Dan ramalan cuaca mengatakan Paris akan berawan bahkan mungkin juga hujan besoknya. Musim panas, tapi cuaca tetap tak sepenuhnya cerah.. Tapi itu bukan masalah buatku. Kota ini, Paris, adalah impianku. Setelah sekian lama hanya bermimpi lewat buku, majalah, tv, pada saatnya, kini saya bisa menatapnya langsung. Face by face.

Sebenarnya niat semula bermalam di daerah luar kota, kalau bukan Auxerre ya di Sens, ntar besok paginya baru ke Paris. Itu plan yang direncanakan jika keburu kemalaman di jalan, biar tidak pusing nyari penginapan. Tapi rupanya perjalanan berlangsung sangat mulus, sehingga tiba di Paris belum gelap. Jam 9 malam. Begitulah, yang namanya musim panas, jam 9 malam itu terangnya sama seperti jam 5 sore di Indonesia. Kesimpulannya, musim panas itu memiliki siang yang panjang.

Hati saya sudah gelisah, ngebet mau langsung aja ke kota, ke Eiffel. Pokoknya excited abis gara-gara waktu turuni bukit tadi, saya sudah liat beberapa bangunan yang saya kenal lewat foto-foto di majalah. Tapi eitt…tt sabar, saya harus pintar, Bos. Bahwasannya saya harus menemukan dulu penginapan yang pas sebelum menikmati keindahan kota Paris. Dan, sebagai backpacker, aturannya adalah cari yang hemat n murah. First, no hotel before get a camping place. So, kudu cari tempat camping dulu!!!!
Dari hasil browsingan di internet saya dapat sebuah tempat camping yang strategis, tidak jauh dari pusat kota. Namanya Les Camping D’ile de France – Camping du Bois de Boulogne, yang punya website di www.campingparis.fr dan beralamat di: 2 Allée du Bord de l’eau.
Seturut namanya, lokasi camping ini berada di daerah Bois de Boulogne, kawasan hutan kota Paris dekat gerbang kota Porte Maillot. Stt..t… saya kaget loh waktu tahu daerah itu. Itu adalah kawasan hijau yang terkenal di Paris karena jadi lokasi mangkal para pelacur dan pengguna obat terlarang. Daerahnya yang remang penuh pohon (apalagi musim panas) menjadi tempat begituan. Coba tengok film Da Vinci Code, ketika lari dari Museum Louvre, Dr Robert Landon (Tom Hanks) dan Agent Sophie Neveu (Audrey Tautou) masuk ke kawasan Bois de Boulogne. Perhatikan scene film yang diambil di daerah ini, dimana ada pemakai narkotik serta pasangan yang sedang ahoi-ahoi di semak-semak hehehe…. SENSOR. Stop, jangan panic. Saya juga tidak mau camping di tempat itu buat ngintip orang beradegan gituan hahaha..ha. Lagi pula lokasi campingnya tidak menyeramkan, lapang, aksesnya bagus dan tidak sepi-sepi amat. Karena saya membawa tenda sendiri , jadi saya hanya membayar lahan serta fasilitas pendukungnya (listrik,air,km/toilet,dll). Termasuk pajak senilai 1.20 Euro, per malam saya bayar hampir 15 Euro lah. Di dalam camping place ini sudah tersedia dengan restaurant, mini market, dan bar. Sehingga tak perluh bingung kalo butuh sesuatu. Selain lahan untuk yang bawa tenda sendiri, mereka juga menyewakan tenda mereka. Selain itu ada pilihan lain lagi berupa mobil-homes.

Bangun pagi, berbekal petunjuk-petunjuk (berupa brosur, map, dll) yang saya dapat semalam dari meja reservation dan memperhatikan lagi beberapa keterangan penting yang ditempel di papan pengumuman, saya bergegas menujuh halte bus nomor 244 yang akan membawa penumpang ke stasiun kereta underground di Porte Maillot, lalu naik Metro (kereta) lini 1 menujuh pusat kota. Asyiknya kereta lini 1 ini endingnya langsung di stasiun yang letaknya 100 meter di bawah kaki menara Eiffel. Pas banget kan?






Saya dari Porte Maillot langsung pilih turun di Arc de Triomphe, nama stasiunnya Charles de Gaulle Etoile. Nongol-nongol eh…Arc de Triomphe sudah di hadapan. Senang bukan kepalang. Begitu ticket naik ke Arc de Triomphe-nya dibuka, saya langsung serbu. Di dalam bangunan setinggi 164 kaki itu sendiri ada museum berisikan koleksi batu-batu dan pahatan-pahatan jaman dulu, dan setelah melihatnya beberapa saat saya menuju ke atap, ke puncak Arc de Triomph. Bagian teratas bangunan yang awalnya dibangun oleh Napoleon I demi merayakan kemenangan sekaligus memotivasi semangat juang para prajuritnya ini menawarkan pemandangan kota Paris yang luar biasa. Karena ketinggiannya yang pas membuat mata kita bisa melihat dengan detail setiap bangunan juga mobilitas manusia yang bergerak di kota Paris, memandangi para pejalan kaki yang wara-wiri di sekitar jalan utama Champs Elysees, pusat belanja ngetop yang konon katanya dagangan disini sering menjadi incaran para selebritis dunia. Nyatanya, selama di kota Paris saya tidak bertemu siapa pun. Padahal setidaknya bertemu Anggun, sudah puas tuh (dimana ya rumah Anggun di Paris?). Atau kurang beruntung ya? Nasib….nasib….

Saking sukanya dengan suasana tenang dan indahnya jalanan di kota Paris, saya lanjut ke Place de la Concorde, menara yang berasal dari Mesir tetapi diambil dan dialihkan ke kota Paris oleh orang-orang Perancis.Terus saya belok lagi ke Petit Palais, Galleriee Nat. du Grand Palais hingga hingga nyosor ke Pont Alexander III. Saya lalu jatuh cintrong sama jembatan ini. Bagaimana tidak? Jembatan yang dibangun pada tahun 1896-1900 ini sangat terkenal dengan lampu-lampu Art Nouveau. Bagian-bagian bawahnya yang melengkung, dihiasi dengan dekorasi yang menawan bak jembatan negeri dongeng, Patung-patung malaikat kecil yang berwarna hitam kecoklatan sangat indah karena posenya yang lucu menggemaskan. Bagian depan-belakang jembatan ini ditaruh patung peri dengan kuda bersayap berwarna emas.

Lurus kedepan jembatan ada Place de Invalides, ada Museum Army, dan hotel de Invalides di belakangnya. Bangunannya megah dengan kubah berhiasakan warna-warna emas. Dari sini saya berputar menujuh ke Saint Germain des Pres lalu lanjut ke Katedral Notre-Dame. Tak ada kata-kata selain takjub dan syukur ketika masuk ke halaman tempat sembayang penganut Katolik yang telah berusia ratusan tahun ini. Katedral ini merupakan salah satu katedral tercantik di Eropa. Memiliki menara yang dramatis, dan ukiran-ukiran di pintu depan yang luar biasa. Saya pun rela antri demi masuk ke dalam bangunan yang sudah saya impikan sejak dulu ini. Salah satu pengunjung asing berkata padaku: Climbing the North tower to see Paris from the hunchback Quasimodo's vantage is essential, too. You'll soon understand why Notre Dame is one of Paris' top attractions.” Tapi karena untuk naik ke atasnya lagi harus antre, saya pun urung. Waktu yang ada saya pakai untuk mengitari bagian dalam katedral, mengagumi frame kaca bergaya gothicnya, mencium aroma tua bangunan ini. Saya melihat begitu banyak umat yang datang untuk berdoa, memasang lilin, dan terpaku dalam keheningan pribadi. Walau hanya 5 kali Salam Maria dan 1 kali Bapa kami di depan patung St Theresia Lisieux tapi saya toh sempatkan untuk berdoa. Selanjutnya saya hanya membuat tanda salib di setiap simbol yang saya jumpai. Keluar dari katedral saya setengah hati juga beranjak, masih mau berlama-lama. Saya tertarik kepada burung-burung merpati yang jinak-jinak di sekitar katedral. Lebih terpesona lagi ketika menyaksikan seorang laki-laki paru baya yang dengan santainya dikerubuti ratusan burung gereja. Saya hanya melihat dia menggenggam remah-remah roti di tangannya, begitu tangan itu diangat burun-burung pun datang langsung ke telapak tangannya. Bergegas saya membeli stengah porsi pizza di kafe sebelah kiri katedral. Tapi aneh, kenapa burung-burung gereja itu tidak datang ke telapak tanganku?, jangankan ke telapak tangan, ke arahku pun enggan. Saya jadinya hanya menabur serpih-serpih pizza itu ke kawanan merpati yang juga cuma datang malu-malu, sudah bosan, pizza pun saya lahap semuanya hahaha….

Lepas dari Notre-Dame, kemudian saya menyusuri tepi sungai Seine yang tenang. Sesekali sungai itu beriak ketika kapal-kapal tourist melintas. Sepanjang tepi sungai berbarislah para pedagang kaki lima. Tapi pedagang kaki lima disini unik dan bersih. Dagangan mereka berupa postcard, poster, dan buku-buku bertemakan kota ini baik Paris pada abad pertengahan hingga abad 21. Semua dagangan mereka dipajang rapi disebuah peti kayu lebar setebal 20-40 cm. Kalau sudah malam, peti-peti itu tinggal digembok dan tak tampak sama sekali mengganggu pemandangan. Sewaktu melewati barisan kaki lma ini, saya lantas tertarik kepada poster Che Guavara, begitu melihat gambar revolusioner asal Cuba ini, saya teringat saudara saya yang suka sekali dengan Che Guavara. Dengan 2 Euro, poster merah hitam itu pun pindah ke tanganku.


Menyeberangi Pont Royal, saya diantar ke Museum Louvre. Museum ini namanya jadi kian popular setelah buku karya Dan Brown ‘Da Vinci Code’ laris manis menyusul filmnya dengan judul serupa. Gila, kompleks museum ini besar sekali, Bos. Setelah sampai ke tengah kompleks, berdirilah piramida kaca. Sudah banyak banget pengunjung yang berada di sekitar piramida itu. Otak saya sudah penuh dengan gambaran kisah buku Dan Brown juga gambar-gambar dari filmnya. Ini toh tempat yang menyimpan lukisan Monalisa itu? Untuk masuk pintu piramida itu tidak perlu membayar tiket. Setelah di dalam, saya menemui banyak sekali orang-orang yang mengantri untuk membeli tiket. Pertama-tama saya mengambil boklet informasi untuk mengetahui peta seluruh museum. Nah, tiketnya dibeli dari mesin mesin automaat. Museum Louvre dibagi menjadi tiga bagian dan setiap bagian mempunyai pintu masuk masing-masing (Access). Richelieu Access, Sully Access dan Denon Access adalah ketiga pintu utama. Nah, lukisan Monalisa itu adanya di Denon Access. Ditiap-tiap access diisi berbagai koleksi, mulai dari Oriental antiquites, Egyptian Antiquites, Greek - Etruscan - Roman Antiquites, Lukisan-lukisan, Patung-patung, benda-benda seni Middle Age dan Renaissance, Arts of Islam (dari Iran,Asia Tengah dan India),serta benda seni dan bersejarah lainnya. Setelah Louvre saya ke taman Luxembourg. Bangunannya lumayan sedap dan halamannya menjadi tempat nongkrong yang lumayan ramai.

Ketika mulai senja saya bergegas ke menara Eiffel. Tempat ini diluar ekspetasi saya loh. Kirain ada jalan buat kendaraan yang lewat di antara kaki-kaki menaranya, ternyata bukan seperti itu walaupun jika dirasa-rasa emang bisa dilalui mobil di antara kaki-kakinya. Paris, dengan julukannya sebagi kota cinta nyata sekali terlihat ketika hari mulai senja. Pasangan dari berbagai usia keliatan berasyik mesra. Mmmm..mm jadi pingin,hehehe….Sementara di taman Champ de Mars yang ada di kaki menara Eiffel menjadi tempat tongkrongan yang asyik bagi yang bercinta, bisa tidur-tiduran, duduk berpelukan mesrah sambil menatap Eiffel, pas bener...! Setelah dibuat iri sama beberapa pasangan itu, saya nyebrang ke Chaillot yang menyempurnahkan keindahan Eiffel dengan kolam dan air mancurnya. Sempurnah. Tambah lagi pas malam dan tiba-tiba cahaya berkelap-kelip di badan menara Eiffel, saya seraya mimpi. Glek…kok begini ya? Ternyata menara Eiffel diterangi oleh 352 projektor 1.000 watts dan berkedip setiap sengah jam pada malam hari dengan 20.000 bola lampu dan 800 lampu disko. Supaya membuat menara kelihatannya lebih hidup, 4 lampu laser xenon yang berkekuatan 6.000 watts berputar secara permanen di puncak menara. Sampai jam 12 malam saya masih berada disana, dan ketika pulang, karena jam segitu Metro sudah tak beroperasi lagi, jadinya jalan kaki saja pulang. Lumayan jauh tapi karena suasana kota dengan bangunan-bangunan cantiknya yang diterangi cahaya lampu membuat rasa capek tak berpengaruh, toh saya sempatkan juga masuk ke Mc Donald dan menikmati McChicken favoritku. (Jujur nih,Bos, kalo ke luar negeri dan lapar yang ada di otak saya adalah segera cari Mc Donald, biar kata orang Jerman “Mc Doof” (makanan bodoh/sampah), who cares? Saya memang sering tak enak benar kalo nyoba makanan baru. Dimana-mana rasanya aneh di lidah. Saya pernah nyoba Pizza di Roma, pikirnya pasti enaklah apalagi langsung di negeri asalnya, tahunya buarrrr..rrrr… kok rasanya bikin hilang selerah??? Jujur nih, selama ini di Jerman juga saya ogah makan Wurst (sosis), roti, sup cs. kalau bukan karena terpaksa. Mending ke toko Asia: ada beras, tahu, Indomie, toge, ikan teri juga ada. Ndeso……

Naik Menara Eiffel
Besok paginya saya ke Eiffel lagi. Ha???!! Lagi?? Ya iyalah,Bos…..loe pikir ke Eiffel tanpa naik ke puncaknya itu sudah cukup??? Tidakkkkk!!!
Maka pagi-pagi lepas jam 9 saya sudah turun dari Metro di stasiun Bir Hakeim yang cuma 100 meter dari Eiffel. Lalu dengan mempersiapkan kesabaran saya pun masuk dalam antrean. Anjrittt….sudah sejam kok blum naik-naik juga ? Kaki sudah kesemutan duluan.

Dari sebelum datang saya sudah siapkan Pasport, kata teman, biasanya beberapa obyek wisata memberikan harga diskon pembelian ticket, bisa berdasarkan usia atau berdasarkan status pelajar. Di Eiffel ini saya dapat diskon berdasarkan usia, tiap pengunjung yang berusia dibawah 26 tahun cuma bayar 4 Euro. Tinggal tunjuk tanggal lahir di Pasport kita. Setelah menggenggam ticket di tangan saya pun mencoba berfantasi dengan naik ke lantai dua lewat anak tangga yang jumlahnya sebanyak 1.665. Di lantai dua ini ada café dan beberapa toko souvenir. Namun saya lanjut terus mau ke bagian teratas ke puncaknya. Naik setingkat lagi baru menujuh lift. Dinding lift yang transparan membuat kita serasa berada dalam tabung kaca sebuah slow roket. Sesampainya di atas, pemandangan kota Paris dari sudut ke sudut hingga ke batas langit siap menghipnotis kita. Sedikit mengulas sejarahnya, menara ini dibangun oleh Gustave Eiffel, Maurice Koechlin dan Emile Nouguier serta diarsiteki oleh Stephen Sauvestre. Dibangun dalam rangka pekan Pameran Dunia dan perayaan Revolusi Perancis, menara dengan bendera berkibar di puncaknya. Diresmikan pada tanggal 31 Maret 1889. Meskipun kecaman dan protes yang keras dari penduduk Paris dan kalangan intelektual selama pembangunan, kerangka besi ini menjadi simbol kota Paris dan menarik lebih dari 6 juta pengunjung setiap tahun. Rencana proyek dimulai tahun 1884. Dengan iringan irama protes, pembanguanannya dimulai pada tahun 1887 dan selesai 26 bulan kemudian pada tahun 1889. Berdasar rencananya menara ini akan dirobohkan setelah berlangsungnya pekan Pameran Dunia 1900. Akan tetapi, keberhasilan percobaan transmisi radio yang dikendalikan oleh Angkatan Bersenjata Perancis sebelum hari pemugaran akhirnya menyelamatkan menara Eiffel. Menara Eiffel dibangun dengan jeruji bak sangkar, persis seperti pada struktur tulang paha manusia. jeruji tersebut disusun sepanjang garis gaya yang dapat mengurangi dampak beban atau tekanan. Terdapat 18.038 jeruji yang diperkuat dengan 2.500.000 paku. Kerangka dari karya Tuan Gustave Eiffel ini tahan angin dan walaupun bahannya dari besi, berat menara hanya 7.300 ton.
Dari tanah sampai tiang bendera, tingginya 312.27 meter pada tahun 1889, sekarang 324 meter dengan antenanya. Saat ini, berbagai perusahaan televisi Perancis memasang antena mereka di puncak Menara Eiffel. Dimiliki oleh Pemerintah Daerah Paris dan dikelola oleh perusahaan swasta, "Société Nouvelle de l'Exploitation de la Tour Eiffel", kerangka besi ini direnovasi setiap 7 tahun sekali dan dicat dengan 50 ton cat. Renovasinya digarap olah pekerja yang manguasai olah raga alpinis dan akrobatis.
Di bagian atas ini kita juga bisa mengetahui posisi berbagai Negara di dunia dari menara Eiffel. Ada ratusan bendera negara, dengan melihat bendera itu kita tahu dimana negaranya berada. Yang buat saya bingung, letak bendera Indonesia ada di bagian timur tapi bendera Timor Leste kok di sebelah utara ya?

Waktu terus berjalan, dan harus turun juga dari Eiffel.
Target berikutnya adalah ke Montmartre. Ada apa gerangan disana? Kalau dari pusat kota daerah ini bisa dilihat karena letaknya di ketinggian, maskotnya adalah sebuah gereja basilica berwarna putih yakni Sacre Coeur. Kesana, saya kembali naik Metro. Seharusnya jika ingin lebih dekat dengan Sacre Coeur, kita turun di stasiun Anvers atau di stasiun Chateau Rouge tapi saya memilih turun di Blanche yang lebih jauh. Rahasianya, karena saya mau lihat Moulin Rouge yang letaknya persis di pintu stasiun Blanche. Itu, Bos, sebuah bangunan berbentuk kincir angin yang dicat merah. Moulin Rouge menjadi simbol kehidupan malam dan sex kota Paris. Konon dari sinilah lahir tarian-tarian erotis yang menyebar ke seluruh jagat. Salah satunya adalah tarian Qudrille dengan ciri gerakan angkat rok. Di sekitar Moulin Rouge ini lantas berkembang mejadi kawasan ‘merah’ dengan berbagai sex shop, sex cinema, museum sex dan hal-hal esek-esek lainnya. Ingat kan sebuah film berjudul Moulin Rouge, yg dimainkan dengan bagus oleh Nicole Kidman dan Ewan McGregor? Tapi saya cuma mengambil beberapa foto saja, tidak masuk ke salah satu bangunan disitu (sumpah!).

Jalan mendaki dan berbelok-belok pun ditempuh untuk sampai ke basilica Sacre Coeur.
Dan tak mengecewakan ternyata, bangunan putih yang terletak di atas bukit ini ternyata amat indah. Ada sebuah legenda unik dari bukit Montmartre ini. Alkisah di tahun 287 M, pendeta pertama Paris yang bernama St Denis dipenggal lehernya oleh orang-orang Romawi di bukit itu. Kemudian dengan tenangnya, sang pendeta berjalan menenteng kepalanya yang telah dipenggal tadi ke bawah bukit hingga sampai ke tempat yang sekarang menjadi gereja St Denis. Bukit itu awalnya diberi nama Mons Martyrium dan kini dikenal sebagai Montmartre. Dari kisah tersebutlah kebanyakan masyarakat percaya dari mana nama bukit itu berasal. Basilika ini sendiri dibangunsebagai pelindung kota Paris. Saya tidak masuk ke dalamnya karena begitu banyak orang, tambah lagi dilarang motret di dalam. Maka saya hanya hilir mudik di halaman depannya saja, apalagi dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Paris.

Pulang dari Basilika Sacre Ceour, saya mampir ke pertokoan souvenir, awalnya hanya mau liat-liat. Tertarik ke beberapa baju kaos tapi langsung suka begitu melihat sepasang syal dan topi berwarna merah-hitam dengan tulisan Paris. Saya akhirnya membelinya. Pikirku, buat oleh-oleh setelah jalan-jalan ke Paris. Tapi, saya kemudian merasa geli bercampur kecewa setelah menemukan tulisan Made in China, bukan Made in France yang saya harapkan….hahaha…

PARIS, EST Á VOUS! Begitulah judul cover guide book yang saya peroleh secara cuma-cuma di pos informasi wisata kawasan Champs Elysees. Jika kita memiliki waktu yang cukup lama berada di Paris, setidaknya kita bisa menelusuri Paris lebih detail lewat panduan dari guide book ini. Dari buku yang sambutannya diisi oleh Bertrand Delanoë itu, dituliskan bahwa kota Paris ini punya julukan bejibun, yakni Ville monumentale, ville culturelle, ville romantique, ville gastronomique, ville de la mode et de la creation, Paris est aussi une ville qui bouge, une ville qui ose. Nah, dari buku ini pula, pemerintah kota telah memetakan obyek-obyek wisata berdasarkan nilai dan lokasinya. Ada 12 pilihan, wah…wah……
Mau saya sebutkan satu-satu? Oke;

  • Paris Seine, yang masuk dalam kategori ini adalah bangunan-bangunan yang berada di jalur sungai Seine, yakni jembatan-jembatan (Pont de Bercy, pont d’ Auterlitz, pont de Sully, pont Neuv, pont des Arts, pont du Carrousel, pont royal, passerelle solverino, pont de la concorde,dll), Piscine J baker,Port de Arsenal, Jardin Tino-Rossi.

  • Paris Intemporel, kategori ini diisi oleh Notre-Dame de Paris, Les iles de la Cite et Saint-Louis, Pantheon, Quartier latin, La Sainte- Chapelle, dan Conciergerie.

  • Paris Tendance. Place des Vosges et maison de Victor Hugo, Centre Pompidou, Hotel de Ville, Musee Picasso, Musee Carnavalet, Hotel de Sully, Place du Chatelet, Musee des Art et Metiers, Musee d’Art et d’Histoire du Judaisme, dll dikelompokkan kesini.

  • Paris Vitrine, untuk kelompok ini ada Palais Garnier, Eglise de la Madeleine, PlaceVendome, Place des Victoires, Grand Rex-Les Etoiles du Rex, Palais Royal, Comedie-Francaise, Grevin, Musee Maxim’s, Musee parfum Fragonard, Portes Saint-Denis et Saint Martin.,dll

  • Paris Village, ada Butte Montmartre, Basilique du Sacre-Coeur, Place du Tertre, Moulin-Rouge, Pigalle, Cimetiere de Montmartre, Jardin sauvage Saint-Vincent, Musee Gustave-Moreau, Museum de l’Erotisme, Musee de la Vie romantique, Eglise de la Sainte-Trinite,dll.

  • Paris Artiste, ada Musee d’Orsay, Saint-Germain-des-Pres, Jardin et muse du Luxembourg, Odeon,Tour Montparnasse et Jardin Atlantique, Eglise Saint-Sulpice, Cimetiere du Montparnasse,dll

  • Paris Monumental, versi ini termasuk di dalamnya yakni Champ-de-Mars et tour Eiffel, Trocadero, Invalides, Musee du Quai-Branly, CineAqua-l’aquarium du Trocadero,dll

  • Paris Chic, diisi oleh Bois de Boulogne, Hippodromes d’ Auteuil et de Longchamp, Musee Marmottan-Monet, Musee Dapper, Fondation Le Corbusier, Rue de Passy, Jardin du Ranelagh,dll.

  • Paris Mythique, Arc de Triomphe et tombe du Soldat inconnu, Champs-Elysees, Musee du Louvre, Place de la Concorde, Jardin des Tuileries, Galeries nationals du Grand Palais, Petit Palais-musee de Beaux-Arts de la Ville de Paris, Musee de l’Orangerie, Musee de Jeu de paume, Musee Jacquemart-Andre, Palais-Bourbon, Les Arts decoratifs, Palais de la Decouverte, Parc Monceau,dll

  • Paris Insolite, Bois de Vincennes, Parc Floral de Paris, Chateau de Vincennes, Cinematheque francaise-musee du Cinema, Parc de Bercy,dll

  • Paris Cosmopolite, La Vilette, Parc de la Villette, Canal saint-Martin,Le Plateau-centre d’art contemporain,dll

  • Paris Populaire, Place de la Bastille, Opera Bastille, Place de la Republique, Musee du Fumeur,dll.