Senin, September 02, 2019

Jalan - Jalan ke Bali (Part 1)

Lambai Pantai
Padangbai
PESISIR TENGGARA PULAU DEWATA 
YANG MASIH MENGGENGGAM PAMORNYA SEBAGAI DESTINASI BAHARI



D
ari ketinggian restoran Helix 64 yang berbentuk sirkel, terbentang luas pemandangan Teluk Manggis hingga Candidasa. Saya, seperti seekor burung yang hinggap di sarang tinggi, menatap tanpa terhalang ke segala penjuru; laut berkilau mengayun-ayunkan jukung nelayan, kendaraan bergerak dinamis dari dua arah bagai semut, dan punuk-punuk perbukitan Karangasem begitu syahdu menyimpan kesenyapan. 

“SEBENTAR MALAM kita akan menyelam di bawah sini. Namanya Tanjung Jepun. Apakah kamu siap?” tanya Wayan Darta sembari menunjuk ke arah rusuk kanan restoran. Tepat di bawah tebing. “Tentu, sudah tidak sabar, Bli,” jawab saya sumringah bersamaan dengan tuntasnya hidangan Pan sauteéd mahi mahi di atas meja kami.

Saya telah mengontak Wayan seminggu silam agar diajak ikut menyelam. Ia pemilik dive shop di Padangbai yang sudah saya kenal lama. Dulu, ketika masih bermukim di Bali, saya kerapkali datang ke Padangbai, sekadar untuk bersnorkeling atau menumpang kapal ke Lombok. Perkenalan dengan Wayan terjadi saat seorang teman kantor bernazar ingin belajar menyelam. Kami mencari instruktur dan akhirnya bertemu Wayan.

“Syukurlah, tamu masih lancar datang menyelam bersama saya, walau sekarang banyak lokasi penyelaman di luar Bali bermunculan, khususnya di daerah kalian, Indonesia timur,” kata Wayan. Tidak dimungkiri, soal bawah laut, kawasan timur negeri punya segudang tempat penyelaman yang kaya dan alami. Namun, Bali yang telah puluhan tahun makan garam soal pariwisata masih mampu menarik peminat aktivitas bahari. Kemudahan  akses, ketersediaan fasilitas,  dan profesionalisme layanan menjadi kunci menahan orang supaya tak berpaling dari Pulau Dewata ini.

Wayan memiliki beberapa kapal penyelaman. Sebagian dipakai untuk melayani tamunya, sebagian disewakan ke operator lain. “Walau kita punya aset, punya perusahaan sendiri, tapi tidak bisa menutup diri, musti berkolaborasi dengan pengusaha lain yang bergerak di bidang yang sama. Situasi saling membutuhkan itu menimbulkan rasa senasib sepenanggungan. Bersama menetapkan harga agar adil, membuat kebijakan operasional sehingga tidak ada konflik, dan kalau ada masalah kita punya pendukung untuk menghadapi situasi,” urainya bijak.

Jelang sore, saya menelusuri daerah Padangbai guna mengamati perubahannya. Kawasan penginapan masih berkonsentrasi di sisi timur pelabuhan, di mana pantainya berlabuh banyak sampan nelayan berbaur kapal penyelaman. Pengunjung dari berbagai negeri bermalam di penginapan sepanjang Jalan Silayukti dan lorong-lorong cabangnya. Daerah Padangbai tidak rata, topografinya berapit bukit lapis demi lapis sehingga ada banyak teluk dan tanjung kecil di pesisirnya. 

Bentang panorama ketinggian tersaji di Resto Helix 

Hidangan Mediterania pesanan saya di Resto Helix 64

SESUAI KESEPAKATAN, saya bergabung dengan Wayan malam hari untuk menyelam di Tanjung Jepun. Selain saya, ada juga empat wisatawan asing asal Swiss yang ikut. “Negara kami tak punya pantai, tak punya laut. Hanya gunung bersalju. Saya suka mendaki gunung tapi menyelam masuk ke dasar laut selalu memberi sensasi yang berbeda, sesuatu yang surreal,” ujar Marlon, salah satu dari mereka.

Cuaca malam itu cerah meski agak berangin. Wayan mewanti-wanti salah satu dive master bahwa kemungkinan arus laut agak kencang nanti. Semua peserta harus dijaga dan ditandemi. Kapal kemudian meluncur di bawah pijar gemintang, lantas berputar ke timur setelah mencapai ujung tanjung. Samar-samar saya menangkap bayangan atap bertingkat Pura Tanjung Sari.

Di perairan di sekitar Padangbai terdapat enam lokasi penyelaman. “Ada yang namanya Tanjung Bungsil, Blue Lagoon, Tanjung Jepun, Mimpang, Tepekong, dan Biaha,” urai Wayan. Tiga nama yang disebutkan pertama letaknya dekat dan tidak begitu dalam. Itu menjadi tujuan penyelaman kami. Sedangkan Mimpang, Tepekong, dan Biaha berada pada pulau karang berhadapan dengan Candidasa. “Arus di situ kencang dan sering muncul tiba-tiba. Tidak cocok untuk penyelam pemula,” tambahnya. Kami melewati Blue Lagoon dan langsung ke Jepun sebagai titik pertama, keduanya bersisian terpisahkan oleh sebuah tanjung mungil. Lokasi Jepun berada di kaki tebing. 

Kapal penyelam dan kapal penumpang di hadapan Blue Lagoon, sebelah kiri adalah Tanjung Jepun

Pengunjung bersnorkeling di laut Blue Lagoon. Visibilitas airnya cukup bagus.

Wayan dan para dive master mempersiapkan dan memakaikan perlengkapan penyelaman kepada kami. Seperti biasa, kami mengikuti setiap aba-aba yang diberikan Wayan, lalu melompat masuk ke dalam laut. Ini adalah pengalaman pertama saya menyelam malam hari, rasanya sangat berbeda begitu senter menyalah dalam air, sekelilingnya gelap misterius, seolah kami sedang melakukan sebuah misi rahasia.

Tanjung Jepun dikenal bagi mereka yang suka mengamati hewan-hewan laut berukuran super kecil (macro) seperti Nudibranch, Frogfish, Pygmy Seahorse, Amphipod, Box fish, Jawfish. Dua teman Marlon begitu khusuk memotret makluk-makluk renit berwujud aneh-aneh itu, sedangkan saya hanya memandang dengan takjub sambil berharap ada Hiu bersirip putih muncul, katanya mudah dijumpai.

Setelah cukup lama di situ, kami naik kapal lagi lalu pindah ke Blue Lagoon di sebelahnya. Di Blue Lagoon ada tebaran koral, dan ikan-ikan lebih aktif. Saya belum juga bertemu Hiu sirip putih namun sangat senang manakala melihat Pipefish dan Octopus di sela karang. Tidak hanya kapal kami yang menyelam di situ, ada tiga kapal lain juga. Sinar senter para penyelam yang benderang hilang muncul sili berganti dalam air menciptakan efek seperti iluminasi atau atraksi cahaya. Tak ada hal lain yang saya pikirkan saat berada dalam laut, perhatian tercurah pada makluk yang dicari dan diamati.

BLUE LAGOON tidak cuma untuk menyelam. Pantai di tepiannya pun menarik lantaran berpasir putih. Saban hari selalu ada wisatawan datang mandi serta berjemur. Ukurannya yang tak seberapa luas memberi kesan privat.

Selain Blue Lagoon, pantai lain di Padangbai yang juga memiliki pasir putih yakni Pantai Bias Tugel. Tidak sampai 1 kilometer dari pelabuhan ke arah barat, melewati bukit. Dulu, akses ke pantai ini cukup menyulitkan karena harus menerobos semak. Sekarang sudah berubah, bahkan ada petugas penjaga khusus yang menyambut dan memberikan karcis sebelum masuk. 

Pura Tanjung Sari yang berada di tanjung sebelah timur pelabuhan Padangbai

Sisi barat Pantai Bias Tugel

Keesokannya, saya kembali menyambangi Wayan. Hendak pamit. Ia berdiri di pantai, menunjukkan kapalnya yang baru direnovasi. Hari ini cuaca mendung dan berangin. Tapi kata Wayan ia ingin mencoba kapalnya segera. “Tunggu saja mungkin sore atau besok. Kapalmu akan selalu aman di dermaga ini,” kata saya.

“Kapal memang aman kalau berada di dermaga, tapi bukan untuk itu kapal dibuat, melainkan untuk membelah lautan, berhadapan dengan arus dan gelombang, lalu pulang dengan cerita baru,” kata Wayan mantap sebelum melompat naik ke atas kapalnya. 

Saya menatapnya hingga lambaian tangannya hilang di ujung tanjung, kemudian giliran saya menghidupkan motor, meninggalkan Padangbai menuju tempat berikutnya di sudut Bali yang lain. Seperti kapal yang dibuat untuk berlayar, demikian kiranya saya, terlahir bukan untuk aman di satu tempat, tapi untuk terus bepergian, supaya pulang membawa cerita. 
Termasuk cerita ini. 

Fajar menyingsing dari ufuk timur perbukitan Karangasem

Jukung yang dipakai untuk mengangkut perlengkapan dive

**
Follow Instagram saya DI SINI
#valentinoluis #travelwriterindonesia #trippadangbai #traveljournalist #travelphotographyindonesia

Tulisan ini dipublikasikan di majalah pesawat LIONMAG (Lion Air) edisi bulan September 2019. Foto saya dipilih sebagai foto cover majalah. Untuk membaca versi PDF online, silahkan klik foto berikut ini. TERIMA KASIH.

Artikel LIONMAG tentang Padangbai

Sabtu, Agustus 31, 2019

Jalan - Jalan ke Rote (Part 1)

Singgah di Laguna
Oelangga

PADA CELAH TEBING KARANG TEPIAN PULAU ROTE,
TELAGA BIRU BERBINAR CEMERLANG DALAM LENGANG





A
da keraguan muncul manakala mengekori langkah Deni Ndolu memanjati batu karang hitam besar bergerigi. Rasanya ada yang salah. Begitu kami menjejaki bagian batu yang agak rata, keraguan saya benar-benar jadi kenyataan. “Ini bukan lokasi seperti dalam foto yang kita lihat,” kata saya akhirnya, tak mampu menahan rasa kecewa. “Tapi di sinilah Oelangga,” balas Deni beradu suara ombak. Celakanya, saya tidak menyimpan foto-foto Oelangga untuk membandingkannya, dan kawasan ini pun tidak terjangkau signal ponsel. Apakah Deni sedang menjebak atau menipu saya?

Tapi tidak mungkin pria Rote itu berniat buruk. Beberapa hari lalu dialah yang menjemput saya dari Bandar udara D. C. Saundale kemudian mengantarkan ke Nemberala. Hari ini dia pula bersedia membawa saya dari Nemberala ke Oelangga. Bukan jarak yang dekat, rute yang kami tempuh dengan sepeda motornya melewati beberapa bukit serta lembah yang belum diaspal. Deni telah menjadi teman ngobrol yang santai. Jadi, saya tidak yakin dia punya niat buruk.  Hanya saja tempat ini, jelas bukan seperti tempat yang ingin saya tuju.

Sekitar sepuluh menit kami termangu memandangi ombak. Lalu sekonyong suara Deni memecah kecanggungan, “mungkin lokasinya nun di balik tebing-tebing itu. Lihatlah, sepertinya ada jalur bagi pejalan kaki melalui perbukitan. Ayo kita susuri.” Kalimat itu tidak hanya memberi pengharapan tapi juga mengembalikan pikiran baik terhadap Deni. Saya tak jadi jatuh ke dalam purbasangka.

KAMI MELOMPATI batu demi batu mencari jalur trekking yang tepat. Deni mengakui bahwa ia belum pernah sampai ke laguna yang saya maksud tapi menegaskan bahwa kawasan ini adalah benar Oelangga. “Tidak ada tempat lain di Rote bernama Oelangga, selain tempat ini,” katanya, seolah memberi pemahaman.

Rote merupakan pulau terselatan Indonesia. Kampung halaman musisi lawas Obbie Messakh dan sastrawan legendaris Gerson Poyk. Daratannya seluas 1,200 km2 didominasi oleh tanah berkapur, tak ada gunung vulkanik, hanya bukit-bukit bersabana ditingkahi pohon lontar. Perjalanan mengitari pulau ini di puncak musim kemarau seperti sekarang menempatkan saya pada bertala-tala sengat matahari, tempelan debu, dan terpaan angin.

Terakhir kali saya mengunjungi Rote sekitar enam tahun lalu. Hanya mengetahui segelintiran tempat, selain karena akses yang belum terbuka, pariwisata pun belum jadi tema yang menarik diperbincangkan waktu itu. Loka seperti Nemberala bertumbuh dengan sendirinya lantaran memiliki peminat khusus yakni para peselancar. Kini, dengan terbukanya informasi, satu demi satu bagian tersembunyi pulau ini pun bermunculan. Salah satunya Oelangga, yang saya idamkan

Setelah menemukan jalur trekking, Deni dan saya bergegas menapaki bukit karang. Siang itu sangat sunyi, hanya kami berdua. Kendati matahari amat terik dan bercucur peluh, hembusan angin membuat kulit terasa sejuk. Di sisi bukit, tebing terjal membentang sepanjang bibir laut, seakan-akan kami sedang berada di ujung dunia.

Beberapa batu karang di jalur trekking membentuk formasi-formasi unik di antara tumbuhan perdu. Jalur ini -kendati tanpa berhiaskan mercusuar atau kastil- tampak menyerupai rute-rute trekking Cap Frehel di Bretagne, propinsi pesisir utara Perancis. Saya yakin, jika menelusuri bukit ini pagi atau sore bakal lebih atraktif ketimbang siang hari.  

Jalur trekking menuju laguna


SETELAH SEKITAR 45 menit berjalan kaki, mata saya menangkap bayangan pasir putih di sudut tebing. Tidak salah lagi, itulah lokasinya! Saya yang sebelumnya berjalan di belakang Deni, spontan bergerak mendahului. Antusias ingin lekas sampai.

Berderet kepalan bebatuan besar menjadi bingkai pemandangan. Kami melompati satu demi satu batu untuk menemukan titik paling ideal guna memandangi laguna dari ketinggian. Beginilah panorama Oelangga yang saya idamkan itu: teluk-teluk kecil dan sempit saling bersisian, terisi oleh air laut bening yang tenang berwarna bak zamrud, pasir putih bersih membuatnya tambah cemerlang, dibumbui gelondong gigantis batuan. Sungguh, ini nirwana. Kalau ada film romantis atau petulangan yang membutuhkan lokasi syuting, maka Oelangga adalah lokasi tepat.

Cukup lama kami berada di ketinggian, tanpa henti berdecak kagum. Lantas, kami menuruni tebing. Tentu saja, saya ingin menyetuh air laguna itu dan berdiri di pasir putihnya. Untuk sampai ke bawah, kami melalui celah-celah tebing yang berbentuk gua. Memandang dari sudut mana pun, semuanya fotogenik, membuat saya terus menerus membidikan kamera, sementara Deni selalu mewanti-wanti, “awas terpeleset,” atau “hati-hati salah pijakan.” 

Melalui cela-cela tebing yang bergua

Sisi pantai berpasir putih dengan apitan laut biru


Laguna Oelangga sungguh-sungguh bening. Mata saya bisa menakar hingga ke dasarnya, karena dangkal. Tidak ada hentakan pada permukaan air, sangat tenang bagai telaga, padahal di luar bebatuan yang memagarinya, ombak berdebur cukup keras. Saat mencecap airnya, terasa kadar garam yang tinggi. Itu artinya jika berenang, badan akan gampang terapung.

Saya memutari laguna, mencapai satu per satu pantai-pantai mungil berpasir putihnya, menatap detail lansekap. Kembali perasaan déjà vu datang lagi. Oelangga memang persis seperti alam pesisir Cap Frehel, di Bretange, utara Perancis. Agak janggal sekaligus lucu mendapati sebuah lokasi di daerah kita sendiri yang memiliki keserupaan dengan tempat di negeri asing nan jauh. Toh saya menikmati déjà vu tersebut, membuat saya merasa at the right place at the right time, berada pada tempat yang tepat di saat yang tepat pula. 

Mendekati laguna berwarna zamrud yang tenang

Menjelang sore kami meninggalkan Oelangga. Dalam perjalananan ke pusat kota Ba’a, kami berpapasan dengan pria-pria yang mengenakan Ti’i Langga, topi khas Rote yang lebar bagai sombrero berantena. Katanya, mereka baru menyelesaikan lomba pacuan kuda. Kami juga singgah di tempat pembuatan gula lontar, mencicipi manis gula yang diproduksi secara tradisional.

Sebelum mengantar saya ke penginapan, Deni membawa saya menatap senja di Batu Termanu yang tersohor. Saya menyampaikan permintaan maaf karena sempat berpraduga buruk saat pertama tiba di Oelangga. Pria itu tersenyum, dia juga meminta maaf untuk alasan yang sama. “Tapi semuanya berakhir manis, bukan?” katanya tergelak.

Lalu keping-keping gula lontar pun bergemeretak dalam mulut saya seiring pendar terakhir matahari. Manis, semanis vista pulau ini. 

Bulat Matahari sebentar lagi menyusup ke kaki langit

Deni Ndolu duduk di kaki Batu Termanu

**
Tulisan ini dipublikasikan di inflight magazine BATIK AIR edisi September 2019. Bisa dibaca versi PDF online majalahnya DI SINI. 

PANDUAN PEJALAN
Tidak ada warung makan di sekitar Oelangga, jadi bawa bekal makanan sendiri dari pusat kota Ba’a sebelum kemari. Pastikan air minum yang cukup untuk trekking di bukit sabana. Ingat, bawa pulang sampahmu atau jika terlalu banyak barang bungkusan yang dibawa, sebaiknya dibakar (dan dimatikan apinya) sebelum meninggalkan lokasi. Tempat ini sangat menawan tapi juga sangat berisiko hancur jika sampah dibuang sembarangan. CINTAILAH ALAM. 

#pantaioelangga #valentinoluis #traveljournalistindonesia #roteisland #pulaurote
Video Oelangga 

Sabtu, Juni 01, 2019

Jalan - Jalan ke Larantuka (Flores Timur) Part 3


Mekko
ASILUM BAGI HIU
PADA NUSA-NUSA KIRANA DI TIMUR ADONARA



D
ermaga Tobilota di sisi barat Adonara sangat lengang tatkala kapal motor yang kami tumpangi merapat pelan. Mungkin lantaran pagi itu penumpang kapal hanya segelintiran saja. Lagipula dermaganya amat kecil, bukan dermaga utama. Dengan sigap saya melompat keluar, menyusuli Berrye, Sutikno Bolang, dan Rizal Agustin, para tandem yang sudah menurunkan sepeda motor dari kapal. Kami berempat membawa sepeda motor dari Larantuka, agar lebih leluasa mengitari pulau ini.

Adonara adalah pulau yang berada di rusuk kota Larantuka, bagian timur Flores. Aktifitas penduduk di pulau ini bisa ditilik dengan jelas lantaran hanya terpisahkan oleh sebuah selat sempit. Jadi tak butuh waktu lama untuk menggapai tepian baratnya dengan kapal motor.

“Kita akan menyisir bagian barat ini kemudian memutar lewat utara.  Cukup jauh, tapi jalan beraspal bagus,” kata Berrye, pegawai di kantor Dinas Pariwisata Flores Timur, yang sudah seminggu ini menemani kami menjejelajahi daerahnya. Saya masih ingat jalur ini karena enam tahun lalu pernah menjelajahi Adonara, namun saat itu kondisi jalan masih darurat. Mendengar penjelasan Berrye bahwa infrastruktur sudah bagus, rasanya plong.

Kami lantas beriringan menyusuri jalan, melewati beberapa desa yang menghadap ke selat Gonzalu, seperti Wailebe, Wure, dan Waiwadan. Jalanan kemudian berkelok-kelok naik turun saat kami membelah wilayah tengah pulau yang berbukit dan penuh pepohonan kelapa, hingga mencapai desa Hinga dan Witihama yang menampakkan Gunung Ile Boleng dengan begitu gagahnya.

Tujuan perjalanan panjang ini yakni ke Mekko, sebuah loka bestari paling masyur di Adonara. Ibarat maskot wisata, kawasan ini tengah naik pamor dan digadang-gadang akan dikembangkan secara khusus. Saya ingin merekam memori tentang Mekko sebelum perubahan itu terjadi.

Sebenarnya untuk mencapai Mekko ada jalur yang lebih singkat ketimbang dari Tabilota, yakni lewat dermaga Waiwerang di sisi selatan. Namun kapal-kapal Waiwerang-Larantuka telah memiliki jadwal yang tak bisa diubah, sedangkan kami menginginkan waktu yang fleksibel. “Kalau lewat Tabilota, kita bisa dapat kapal kapan pun,” begitu kata Berrye.

Pemandangan bukit yang disaput tetumbuhan berwarna asfar tampak kontras dengan belau pada lautan saat sepeda motor kami merebas jalan tanah memasuki kampung Mekko. Samar-samar terendus aroma garam berbaur wangi daun-daun xerofil. 

Jalur di tepian barat Adonara melalui jalan yang diapit pepohonan nyiur yang padat menjulang

Pantai Watotena dapat disinggahi bila perjalanan diarahkan ke pelabuhan Waiwerang dari Larantuka. Tidak seberapa jauh letaknya dari jalan raya.

Pantai Ina Burak, sebelah timur Pantai Watotena ini menurut saya amat elok dengan taburan batuan magma
dan bentang pasir putih nan lapang

Sebagian kecil jalan yang masih kasar namun hanya 300-an meter menjelang kampung Mekko

KAMPUNG MEKKO tidaklah besar. Warganya adalah orang-orang Bajo yang bermigrasi lalu menetap di sini. Meskipun tetap menggantungkan hidupnya pada kebaikan samudra, mereka nampaknya telah meninggalkan salah satu habit khas Bajo karena rumah-rumahnya tak lagi berbentuk panggung. Hanya dua balai di dekat dermaga kecilnya berwujud sasana, tapi amat kentara masih anyar. “Ya, itu bangunan baru, dibuat tahun lalu untuk kebutuhan wisata serta perlindungan laut di Mekko,” terang Hen Rizal, lelaki 40-an tahun yang kami temui.

Agaknya kedua bangunan ini menjadi signal perubahan Mekko nanti. Yang satu digunakan untuk tempat inap bagi para tetamu, sedangkan lainnya untuk pusat konservasi. “Kita diajak pemerintah dan didukung oleh World Wide Fund for Natur (WWF). Perairan di Mekko ini adalah sarangnya hiu. Sudah lama juga sering terjadi penangkapan hiu liar dengan bom. Kadang kalau lagi musimnya, ledakan bom beruntun terjadi mirip seperti lagi perang,” Hen Rizal mengurai kisah kelam Mekko. “Tapi sekarang sudah tak ada. Warga sudah dibimbing dan diberitahu soal perlindungan alam serta hiu,” lanjutnya lagi berbinar.

Yang menggembirakan lagi, yakni munculnya gerakan kaum muda setempat bernama Bangkit Muda Mudi Mekko (BMMM) yang mengaktifkan remaja serta orang muda lokal untuk bersama-sama menjaga dan peduli pada ekosistem sekitarnya. Pelatihan, bimbingan, dan dukungan dikerahkan agar Mekko tak rusak. “Kalau mau menginap, kami siapkan rumah singgah itu. Pengunjung juga bisa berpartisipasi dengan membawakan buku bacaan bagi anak-anak, di sini ada taman baca,” timpal Palindo, pemuda Mekko yang kerap mengantarkan wisatawan berkeliling pulau.

Rumah singgah di kampung Mekko yang baru kelar dibangun, diperuntukkan bagi pengunjung yang berniat menginap.

Palindo, pemuda kampung Mekko yang menemani kami mengitari lautan dan pulau. "Saya tidak punya kapal, jadi saya ikut saja kapal orang sebagai ABK. Jika tidak, lebih sering saya melaut sendirian dengan sampan" katanya.

Gurita ( Octopus vulgaris) yang banyak dipanen di bulan April,
dan akan hilang di bulan Mei-Juni karena dihalau kawanan hiu

MEMILIKI KAPAL, Hen Rizal kemudian membawa kami mengunjungi kawasan laut yang diidamkan. Palindo turut serta jadi awaknya. Setelah kapal beringsut menjauhi mangrove, air laut berubah warnanya menjadi biru kelam, dan dengan segera pula terumbu-terumbu karang jelas kelihatan bertebaran tanpa cacat.

Kurang dari lima belas menit, tampaklah gundukan pasir putih menyembul di tengah samudra, dan warna laut berubah lagi menjadi biru muda, lalu benderang amat menawan bak kristal pirus Swarovski. Begitu bening!

“Pulau pasir Mekko ini selalu berubah bentuknya, tergantung pasang surutnya laut. Kadang lumayan memanjang, kadang hanya timbunan kecil. Di bulan Mei sampai Juni acapkali hiu-hiu mengitari pulau pasir ini karena musimnya mereka untuk kawin, ikan-ikan lain lari semua,” cerita Palindo menanggapi saya yang terus menerus memuji bening lautnya.

Berrye, Sutikno Bolang, dan Rizal Agustin lagi-lagi melompat duluan dari kapal. “Fotoin kami, ya?” teriak mereka kegirangan begitu menjejaki pasir putih. Uh, tempat-tempat molek acapkali sangat cepat mengubah perangi lelaki dewasa menjadi anak kecil kembali.

Menilik vista dari atas pulau pasir ini, Mekko bagaikan sekerat Taman Nasional Komodo yang terlempar ke timur Flores. Bukit-bukit savana yang kering di bagian barat, serta gugus pulau-pulau kecil yang juga didominasi oleh rumput ilalang.

Keunggulan Mekko yakni ia dikitari oleh tiga gunung berapi; Ile Boleng menyembul di barat, Ile Ape menatap congkak dari selatan, dan Batutara nun di timur jauh melirik. Meskipun pulau pasir putihnya kecil, tapi kehadiran tiga gunung yang mengitarinya itu menghasilkan foto-foto berlatar variatif.  

Yacht milik pengunjung asing pun mampir di perairan Mekko yang tenang

Tebaran karang meja (Acropora latistella) dalam laut Mekko yang aman subur lantaran berada di arus yang deras

Nelayan setempat mengayuh sampannya mendekati pulau pasir, berlatar Gunung Ile Boleng

Saat surut di waktu senja, bayangan gagah Gunung Ile Boleng nampak memukau

HEN RIZAL dan Palindo juga mengajak kami mendatangi pulau-pulau kecil terdekat. Di utara pulau pasir, dua pulau berdempetan; Keroko dan Watanpeni. Kata Palindo, jika lautnya surut kedua pulau tersebut akan tersambung. Ketika kapal kami mendekat, burung-burung liar aneka rupa bertengger di pohon-pohon. Lautnya juga terisi oleh terumbu karang yang subur.

Aura kedua pulau ini amat syahdu bagaikan asilum yang tidak pernah diganggu sama sekali. Konon, pulau Watanpeni punya legenda sendiri tentang seorang bayi yang dibuang keluarganya. Orang-orang di sekitar masih mewarisi legenda itu sehingga Watanpeni dipandang angker dan tidak boleh diusik.

Saya sebenarnya penasaran dengan isi pulau ini. Saya yakin alamnya masih sangat terjaga, sebab secara tak langsung legenda itu telah berperan menghindarkan Watanpeni dari tangan-tangan usil. Begitu juga tentang dua pulau kecil di selatan; Konawe dan Ipet, yang kabarnya jadi rumah kelelawar serta dihuni hantu.

Saya anggap upaya konservasi sebenarnya telah dimengerti oleh para leluhur Mekko ratusan tahun silam, lewat legenda dan mitos angker yang diciptakan mereka. Tanpa itu, barangkali laut Mekko sudah lama kehilangan hiu, dan warna airnya mungkin tak lagi sepirus kristal Swarovski. Perjalanan ini, telah memberi permenungan. 

Melintasi selat kecil yang memisahkan Pulau Watanpeni dengan Pulau Keroko.


Konawe dan Ipet, dua pulau di sebelah selatan pulau pasir Mekko


**
PANDUAN PEJALAN
Bisa melalui beberapa dermaga di Adonara. Ke Waiwerang, dermaga utama, bisa kunjungi beberapa pantai seperti Pantai Watotena dan Ina Burak sebelum lanjut ke Mekko. Jadwal kapal ke Waiwerang dari Larantuka umumnya pagi hari berangkat jam 07.00 Wita. Tau dermaga lain yang lebih kecil seperti Tobilota, dll dengan durasi perjalanan lebih lama mengitari Adonara

Belum ada warung makan tersedia di sekitar Mekko, jadi bila berangkat dari Larantuka, silahkan membawa serta bekal makanan. Atau bila ke Adonara melalui dermaga Waiwerang, bisa beli makanan di warung-warung Waiwerang sebelum lanjut ke Mekko.

Bisa menginap di kampung Mekko karena sudah tersedia rumah singgah bagi pejalan. Listrik belum masuk kampung ini, pastikan membawa senter atau powerbank yang telah dicharged full.

#adonara #mekko #pulaupasirmekko #ileboleng #larantuka #festivalbalenagi
           
 **         

Tulisan ini dimuat di LIONMAG, inflight magazine Lion Air, edisi Juni 2019. Klik di foto berikut untuk membaca versi PDF majalahnya. TERIMA KASIH

Klik untuk membaca tulisan versi PDF sebagaimana dipublikasikan majalah LIONMAG

Minggu, Mei 19, 2019

Jalan - Jalan ke Seram/ Ora Beach

Seram
Yang Menenteramkan

DI UTARA AMBON, SEBUAH PULAU MENUNGGU UNTUK DICUMBU



I
ded Latuconsina menepuk pundak saya, “Oke, sobat. Saya hanya bisa antar sampai di sini. Nikmati perjalananmu ke Ora. Mudah-mudahan cuaca selalu cerah dan semua berlangsung lancar.” Kami pun berjabatan tangan serta berpelukan. “Terima kasih,” kata itu saya ucapkan berulang. 

Perkenalan saya dengan Ided baru terjadi beberapa jam lalu, namun seolah-olah kami telah menempuh perjalanan sekian hari bersama. Saya nyaris saja ketinggalan kapal dari Ambon ke Seram, bila saja seseorang tidak meneriaki nahkoda dan menjulurkan lagi kayu titian agar saya bisa melompat masuk. Sesaknya penumpang ‘Cantika Torpedo’ di akhir pekan menjelang Lebaran menguapkan harapan untuk mendapatkan tempat duduk, tapi keberuntungan berlanjut manakala seorang pria menawarkan dudukan lowong di sampingnya. Dialah Ided, dan selama dua jam di atas lautan, ayah muda yang bekerja di sebuah instasi pemerintah itu membeberkan keindahan Seram serta seluk beluk pulau di utara Ambon tersebut.

Ketika kapal merapat di dermaga Amahai, Ided bersedia mencarikan saya ojek, mengekori sampai ke pusat kota Masohi, hingga mendapatkan mobil sewaan untuk perjalanan lanjutan ke Saleman, Sawai. Saya bukan pejabat, bukan juga pesohor. Dan ini pun bukan rute ringkas sederhana. Bagaimana saya tak bersyukur dengan persahabatan yang terjalin cepat dan tulus ini?

Ided Latuconsina, orang baik yang saya jumpai. 

Salah satu fantasi tentang Pulau Seram.


Mobil sewaan saya ke Saleman, sebuah sedan, berkapasitas 5-6 orang, per orang dikenai tarif Rp.100.000. Selepas kota Masohi yang datar, saya dibawa meliuk-liuk pada lekukan jalan berundak. Kiri kanan dijejali hutan rimbun, teramat subur, sehingga hampir semua pohon yang tinggi dililit tanaman sulur menjuntai. Lembah dan ngarai sempit muncul silih berganti. Aroma tetumbuhan menebar dimana-mana. Sebentar-sebentar panorama terhidang, ditimpali bayang-bayang lapisan bukit nun jauh. Saya bisa mendengar jelas kicau aneka unggas hutan, juga lengkingan serangga Garengpung menyadarkan bahwa musim hujan sesungguhnya telah berlalu.

Diamati secara estetis, bagi mereka yang menyukai tur dengan sepeda motor, rute begini termasuk rute ideal. Hanya saja, harus membawa bekal bensin secukupnya serta sang pengendara patutlah yang mahir memperbaiki sepeda motor, sebab sepanjang perjalanan tak sekalipun kami berpapasan dengan pos tambal ban atau penjual bensin eceran. Tak ada kampung. Padahal dari Masohi ke Saleman butuh waktu empat jam. Mungkinkah penduduk masih dihantui keyakinan akan adanya Orang Bati, monster hutan setempat yang konon menyerupai Batman tapi doyan menculik anak-anak? Cerita tentang Orang Bati saya dengar dari sopir kami. Katanya pula, nama pulau Seram muncul karena sosok Orang Bati itu. Saya pikir ketakutan demikian tetap akan terpelihara selama kabel listrik cuma menjangkau beberapa wilayah Seram. Di jaman sekarang komunitas manusia akan tumbuh bila ada dukungan infrastuktur. Kasak-kusuk tentang hantu maupun monster biasanya langgeng di daerah yang tak terkena terang listrik dan ‘keajaiban’ perangkat elektronik. Siapa melihat hantu di bawah cahaya? Batman sekalipun baru muncul kala gelap.

Kapal dari Saleman ke Ora PP - teluknya menawan dengan udara yang sejuk dan damai

Gambar ideal sebuah loka bertetirah, bukan?


KURANG LEBIH 15 km menjelang Saleman, jalan beraspal digantikan oleh alur tanah berbatu. Mobil kami tergoncang berkali-kali. Anehnya, saya antusias sebab di depan mata terhidang view pegunungan kapur, persis seperti merambah satu sisi bukit barisan Dalmatian, di Kroasia. Kata sopir, di belakang gunung itulah Ora berada.

Tiba di Saleman, saya diturunkan di pintu rumah Pak Udin, warga yang tiap hari menyeberangkan pengunjung ke Ora. Alih-alih langsung dibawa ke sampan, keluarga Pak Udin malah menjamu saya dengan makanan, meski sudah saya tampik, mengingat mereka sedang berpuasa dan belum saatnya ‘berbuka’. Ketika kemudian sampan bergerak meninggalkan Saleman bersama lambaian tangan istri dan anak Pak Udin, saya bertanya-tanya sendiri: berkat macam apa yang sedang saya dapatkan di Seram ini? Orang- orang begitu baik.

Sore jam 5 adalah waktu yang adem untuk meluncur di atas laut bening tenang. Kawanan burung melesat dari lereng yang puncaknya tersaput kabut. “Itu burung Lusiala,” kata Pak Udin. “Mereka hanya muncul saat-saat menjelang magrib.”

Saya percaya pada kejelian mata saya. Pepatah ‘Love at the first sight’ berlaku untuk relasi antara saya dengan alam. Jadi, meski terdengar agak klise, tapi ini bukan ungkapan ‘exaggeration’ bila saya menyebut panorama teluk Saleman memang permai, saya seperti diajak berpelesir ke Eden. 

Tentu saja nyebur! Air sebening ini dgn ikan dan koral, siapa menolak?

Aksi seorang tetamu bermain-main dengan kawanan ikan yang jinak

Saking beningnya, koral di bawah lautnya keliatan jelas dari tepi pantai


Pantai Ora yang berpasir putih semakin jelas terlihat. Lambaian nyiur serta ikon pantai tersebut, yakni sebuah resort dengan deretan rumah-rumah inap terapung kian mendekat. Di sanalah saya menginap. Setelah menjejaki dermaga kayunya barulah saya tersadar, bahwa segala kepenatan, rasa jemu akibat perjalanan panjang telah hilang.


Ora jauh dari kesan mewah, namun istimewa. Ia lebih menawan dari resort-resort mahal karena struktur maupun topografi alamnya memukau, mendamaikan. Tak terlihat cacat celah di sini. Koral yang membentang di pinggir pantai seakan baru selesai diciptakan Tuhan, membebaskan mata untuk mengenal setiap biota yang hidup di dalam air. Menggoda untuk lekas-lekas mencelupkan diri.

Saat senja, rona merah menyelubungi cakrawala, dan bola api bulat turun pelan-pelan ke balik bukit sebelah barat. Penggantinya adalah konstelasi bintang yang bertahan hingga dini sebelum disingkirkan oleh semburat kemuning terbit Matahari. Tamu resort akan segera melupakan mall, kantor, kesibukan urban, atau ribut gaduh massa. Orang tua mengajak anak-anak kecil mereka bersnorkeling bersama, pasangan kekasih berasyik masyuk berdua di bawah tudung pepohonan, pejalan tunggal tidur bermalasan-malasan di beranda penginapan atau menuntaskan buku yang dibawa dari rumah.

Temperatur udara di sini sejuk, kamar tak butuh pendingin, tak juga perlu selimut hangat. Saya memaklumi masakan yang standar, racikan bumbu seadanya. Letak mereka toh jauh dari pasar, lagipula selama ikan melimpah, tak terlalu penting menggerutu. Obati saja dengan alunan gitar yang dimainkan para pemuda malam-malam sembari menyanyikan kidung asmara khas Indonesia Timur. Suara mereka tak ada yang sumbang. Hei, ini Maluku, daerah yang penduduknya teraliri darah musikalitas tinggi!

Hammock yang saya bawah menjadikan sore lebih santai di pantai


Di balik dedaunan, kedamaian vista

Hangat mentari tropis. Surga!


KARENA KEALAMIAN Seram belum banyak terjamah, pulau ini menarik dieksplor. Terdapat Taman Nasional Manusela yang telah menjaga belasan satwa endemik semenjak 1972. Di sekitar Suleman pun ada kesempatan lain untuk mengenal kekayaan hayati pulau. Trekking ke hutan, masuk ke gua-gua, hingga mendaki ke bahu pegunungan karst.

Medan basah Sungai Salawai juga salah satu jalur baik untuk mempelajari alam.    Melintasi ruas sungai ini, selain mengenal tetumbuhan dan kejutan bertemu buaya, aktifitas warga membuat sagu pun nyaris dapat dijumpai setiap hari. Penjelajahan macam begini menyuntikan kesadaran baru untuk menghargai bumi, pun memahami cara menyambung hidup sesuai apa yang dihasilkan tanah dimana penduduk setempat tinggal.  

Kunjungan ke Seram memberi saya manfaat ganda, tak hanya menikmati indahnya alam saja, tapi menyadarkan bahwa ‘perbedaan itu sesungguhnya merupakan surga yang ada di bumi’, dan  ‘orang asing sebetulnya adalah  kerabat yang belum kita kenal,’ seperti yang diwakilkan oleh Ided Latuconsina serta Pak Udin. 

Kelompok pejalan asal Jakarta yang kemudian jadi teman - hingga kini! "Strangers are friends you don't know yet"

Senja sempurna yang datang setiap hari 


Oh, tak hanya mereka berdua saja, saya juga berkenalan dengan sekelompok pejalan asal Jakarta. Awalnya agak canggung, namun suasana akrab terjalin dengan cepat setelah terisi candaan. Bahkan saya ditawari untuk mampir ke rumah keluarga salah satu dari mereka di kota Ambon sekembalinya dari Seram.

Jadi, pulau di utara Ambon ini, cuma namanya saja yang Seram, kenyataannya ia malah menenteramkan hati. 


*

Tulisan ini dipublikasikan di LIONMAG, Inflight Magazine Lion Air – edisi September

Klik untuk membaca versi PDF - LionMag