Jumat, Maret 11, 2016

Jalan - Jalan ke Lembata (NatGeo Traveler)


Galur Pitarah
Semesta Lembata


D
i kaki bukit sabana Waijarang, kira-kira sepuluh kilometer arah barat kota Lewoleba, Vincent Halimaking memandu saya menyibak tangkai-tangkai ilalang kering yang tingginya melampaui pangkal paha. Matahari musim kemarau memaparkan bias kemuning sore pada punuk bukit, lalu perlahan merambat turun memercikan sinar silau di tiap pucuk ilalang. Tempat ini sepertinya dilingkupi kesenyapan perenial sehingga satu lengkingan burung Nazar yang melintasi lazuardi langsung serta merta membangkitkan aura enigmatik. 

Padang dan bukit sabana Waijarang, versi panorama. Di sebelah kanannya masih berbaris bukit pula.

Padang sabana Wairang, close up.

“Dulu, di sekitar perbukitan ada banyak rusa, Bang,” kata Vincent ketika kami menemukan titik yang pas untuk berpijak. “Leluhur kami, klan Paji adalah empunya sebagian besar lahan ulayat disini. Kelihaian mereka yakni berburu hewan liar, termasuk rusa. Biasanya di musim kering seperti sekarang.” Sejurus kemudian pria muda yang berprofesi sebagai guru itu bergumam lirih, “Sayang sekali, populasi rusa menghilang di akhir tahun sembilan puluhan, seiring datangnya kelompok polisi yang menembaki rusa sebagai luapan hobi. Mereka menggasak semuanya tanpa pandang usia, tanpa sisa.”

Sembari menunggui saya memotret, Vincent mengisahkan hikayat leluhurnya. Sampai kami berpindah lokasi ke tanjung berpanorama lautan yang dinamai Bukit Cinta pun ia tetap semangat bercerita.

Sudah seminggu saya di Lembata, dan hampir tiap hari ada saja kisah-kisah menarik mengenai sejarah leluhur atau cikal bakal progeni yang dituturkan penduduk. Sering itu membuat saya tercengang, karena koleksi hikayat mereka tak hanya rapi tersimpan dalam memori, tapi mudah sekali dinarasikan ulang. Di dunia masa kini, dengan berkali-kali migrasi yang dialami manusia, kehilangan jejak kampung asal - akibat bencana, perang, maupun pencarian penghidupan - acapkali menerbitkan rasa hampa pada generasi sesudahnya, ketiadaan jawaban untuk pertanyaan ‘dari mana dan dari siapa kita berasal’, juga ketidaktahuan akan alur-alur Pohon Keluarga.

Tapi orang-orang Lembata, sungguh, berbanggalah mereka karena mengenal akarnya dengan baik. 

Tebaran koral di perairan dangkal Lewo Lein

Pemancing di Kuma Resort
“UNTUK ITULAH kenapa ada tahap Penu Koke Bale dalam ritual Pesta Kacang kampung adat kami. Selain  menyatukan semua anak cucu turunan, kesempatan ini dipakai pula oleh para tetua untuk memberi wejangan, juga mengisahkan kembali sejarah para leluhur,” tutur Bapak Mikael bersemangat.  “Anak-anak harus tahu dari mana asalnya, supaya bisa saling menghargai satu sama lain antar suku. Termasuk kemudian hari, jika bepergian jauh, mereka tetap sadar siapa mereka,” urainya lagi.

Saya menjumpai Bapak Mikael di kampung adat Lewohala, dalam kunjungan untuk menghadiri Pesta Kacang, sebuah tradisi tahunan untuk merayakan panen dari dua suku utama yang berdiam bersama di sisi selatan lereng Gunung Ile Ape. Ritual ini, kendati prosesnya sama, namun tidak dilakukan serentak untuk satu kampung, melainkan bergantian dari satu kelompok suku kemudian kelompok suku yang lain, dengan ritme serupa dan berulang.

Puluhan rumah suku di Lewohala beratap pelapah, berapitan menempati lereng, menghadap ke Teluk Jontona. Pagi-pagi atmosfer memikat hadir manakala fajar menerobos kisi rumah. Namun lebih sinematik pada jam empat hingga enam sore, saat tarian perang digelar di pekarangan kampung. Terpentaskan semata untuk ritual, bukan pameran bagi pejabat atau turis. Dua pasukan anak-anak menari berlawan-lawanan. Diiringi rancak gong, mereka mengekpresikan diri penuh penghayatan. Hentakan kaki yang lincah menerbangkan debu. Begitu Matahari menebar sorot keemasan dari balik pohon besar, semua elemen dalam tarian tak ubahnya pertunjukan kolosal. 

Tarian Perang yang dipertontonkan anak-anak saat matahari sore menyorot dari barat

Di rumah sukunya, keluarga Bapak Mikael menyimpan pusaka berupa gading Gajah yang panjangnya dua meter. Saking panjangnya, pikiran saya langsung terhubung pada sosok Manfred, Mamut berbulu dalam film Ice Age.

Di samping itu ada pula peti kayu lapuk, berukir kembang delapan arah mata angin yang ditempeli butiran kristal kecil. Dalam peti tersimpan piring-piring lebar serta mangkuk porselen, juga bermotif bunga, warna marun. Beberapa rumah suku di kampung Lewohala ini memiliki pusaka yang sama. Saya pernah ke India, dan corak pada peti maupun porselen ini amat kental dengan India. Adakah penjelasan sehubungan dengan migrasi etnis atau ekskursi niaga masa lampau, sehingga benda-benda ini bisa ada di Lembata?

“Berdasarkan kisah turun-temurun, leluhur dari suku-suku di Lewohala tidak datang dari India, melainkan dari Seram, utara Maluku. Mereka meninggalkan Seram dan berlayar mengikuti arus laut, hingga akhirnya terdampar di Teluk Jontona. Membawa serta harta benda dan hasil barter dengan pedagang yang mereka temui. Mungkin gading serta peti porselen ini adalah hasil tukar-menukar, karena adapula Nekara serta kain-kain tenun kuno yang dimiliki kami. Konon, banyak orang meninggalkan Seram waktu itu karena serangan makluk aneh, ” tutur pria tua itu mengawang.

Saya tercengang pada bagian akhir penjelasannya. Dijalari perasaan ganjil, lantaran beberapa bulan sebelum ini saya pergi ke Seram. Disana saya mendengar legenda tentang makluk buas serupa manusia berbulu lebat. Orang Boti, demikian penduduk asli menyebutnya. Peminum darah yang menyebabkan banyak warga merengsek pergi dari pulau tersebut. Bisa jadi, itulah penyebab migrasi. Jika dalil itu benar, tak disangka, di Lembata ini, yang terpisahkan ribuan kilometer jauhnya dari Seram, saya menjumpai benang merah antara legenda tua Seram dengan asal muasal para progenitor Lewohala. Oh, menyelami perjalanan leluhur selalu bagaikan diseret menembus alur novel misteri!

Pagi menjelang di Lewohala

BILA PITARAH LEWOHALA diyakini datang dari Seram, beda lagi di Lamalera. Orang-orang yang dikenal sebagai suku cerdik pandai itu mengakui leluhur mereka adalah kaum pelaut ulung asal Luwuk, Sulawesi Selatan.

Lamalera yang kerontang terletak di pesisir selatan Lembata. Tempat ini memiliki drama tersendiri; antara mistisisme yang tersemai hingga ke sudut rumah  dengan panorama terbit-tenggelamnya sang Surya yang impulsif, antara cadasnya alam  dengan nama besar sebagai kampung para pemburu Paus.

Syahdan, ketika Majapahit meluaskan kekuasaanya hingga ke belahan timur Nusantara, banyak kerajaan dilebur untuk bersatu, termasuk Kerajaan Luwuk. Tentara-tentara setempat memperbanyak jumlah kaki tangan untuk propaganda Majapahit, diutus  menyebar ke berbagai penjuru. Salah satu kelompok tentara bahari berlayar mengarungi perairan, hingga pamungkasnya singgah ke Lamalera lalu menetap beranak pinak.

Syair penutur perjalanan nenek moyang Lamalera, Lia asausu,  selalu dinyanyikan setiap upacara kebesaran. Hingga kini termafhumi sebagai dokumen lisan tambo silsilah mereka. Konon, Mahapati Gajah Mada bahkan pernah bertandang ke Lamalera, meninggalkan sebilah keris pusaka, juga menasbihkan perburuan Paus dan mamalia laut sebagai sumber penghidupan bagi abdi-abdi yang tinggal di tanah gersang itu. Demikianlah Paus dipandang sebagai anugerah para leluhur yang dihadirkan demi menyelamatkan warga dari kelaparan, sebab potongan dagingnya sanggup bertahan sepanjang tahun dan lelehan minyaknya berkhasiat.

“Nenek moyang kami telah meletakkan dasar juga kiat bertahan hidup. Cara menghargainya adalah dengan menjaga apa yang telah diwariskan,” ujar Bapak Petrus Blikololong, seorang Ata Mola, ahli pembuat Peledang, sampan untuk berburu Paus.

Di cekungan pantai kecil Lamalera, berjejer pondok-pondok yang dibuat khusus sebagai garasi Peledang. Di sekitar sinilah denyut hayat Bapak Petrus dan para lelaki Lamalera bisa dijumpai. Saban hari mereka duduk di pantai, memperbaiki sampan atau mengerjakan kriya penopang hidup lainnya, sembari mengawasi bocah-bocah bermain air sekaligus berlatih menikam Paus dengan tongkat-tongkat kecil. Jika ada kerusakan pada Peledang, segera pula diperbaiki. 

Bapak Petrus Blikololong sedang bekerja memperbaiki bagian Peledang yang rusak

Tidak sulit mengenali kepemilikan Peledang, lantaran tiap sampan mempunyai nama sebagai simbol suku. Kerabat Bapak Petrus dari suku Blikololong dan Bataona misalnya, merupakan empunya Paledang terbanyak. Jafa Tena, Sikka Tena, Horo Tena, Sinu Sapang, Demo Sapang, dan banyak lagi namanya. Itu barulah satu suku, belum yang lain. Mereka juga menambahkan tulisan yang dikutip dari Injil pada sampan, rata-rata berbahasa Latin, seperti Tempora Mea (Nasibku dalam tangan-Mu), Ora et Labora (Berdoa dan bekerja), atau In Verbo Tuo (dalam perintah-Mu). Lengkap dengan lukisan-lukisan menawan.

Di tengah-tengah jejeran pondok bagi Peledang, berdiri sebuah Kapel berwarna biru cerah, pusat kegiatan religius sebelum musim berburu Paus dimulai. Lokasi Kapel itu, dulunya adalah altar sesajen para leluhur yang masih animis, tempat tumpukan tengkorak manusia, namun diubah kekeramatnnya begitu agama Katolik diterima penduduk.

Aroma daging Paus akan tercium manakalah kaki melangkah ke sisi timur Kapel karena disitu memang daging-daging dijemur hingga mengeras. Tulang-tulang Paus yang telah kering dijadikan hiasan, terpajang di gang-gang kecil dan halaman rumah.  Demikian besar arti Koteklama (sebutan setempat untuk Paus) bagi orang Lamalera sehingga gambar mamalia raksasa ini pun ditampilkan pada motif kain tenunan mereka.

Bapak Petrus menjelaskan bahwa sekalipun dipandang sebagai berkah, tidak berarti Paus datang dengan mudahnya untuk ‘menyerahkan diri’. Taktik dan perjuangan menjadi bagian tak terpisahkan. Nyawa adalah taruhan. Apalagi aktifitas perburuan hampir sepenuhnya dilakukan secara konvensional. “Kami terikat peraturan adat. Tabu memakai senjata lain selain apa yang sudah diwariskan turun temurun,” kata lelaki ini arif.

Sisa tulang ekor Paus Biru

Peledang sedang dipasang layarnya.

Komponen utama Peledang berbahan kayu serta bambu. Termasuk layarnya pun terbuat dari anyaman daun Gebang. Besar kecilnya ukuran sampan disesuaikan dengan ukuran mangsa. Peledang pemburu Hiu Paus jelas lebih besar dari Peledang untuk menangkap mamalia kecil. Setiap bagian dari Peledang dibuat dengan fungsinya masing-masing, dan sampai sekarang konstruksinya tak ada yang berubah. Begitupun rentetan ritual yang musti dijalankan, dari awal hingga akhir perburuan. Tugas masing-masing personel sampan, sampai syarat pembagian hasil buruan.

Kenyataan ini membuat saya takzim dan merenung jauh. Sejujurnya, kedatangan saya ke Lamalera dibayangi polemik dalam hati. Terbiasa bersua makluk laut saat bersnorkeling membuat saya kontra dengan praktik perburuan Paus. Tapi di Lamalera, menghabiskan waktu beberapa hari disini akan mengubah pandangan kita, mengubah prejudis tentang barbarisme atau ketamakan, mengubah harga menjadi nilai. Tanpa diminta, tanpa dipaksa, kita akan meninggalkan Lamalera dengan pemahaman baru. Dan berpikir untuk kembali lagi kesini, semenjana apapun rupa kampung ini.

NAFAS SAYA TERSENGAL. Apa hendak dikata, saya harus tetap bergerak cepat. Bila tidak maka saya kehilangan momen Matahari terbit di kaldera Ile Ape.

Jarak tenda inap dengan tepi kaldera kelihatannya tidak jauh, namun bila menanjak seperti ini rasanya sulit dijangkau. Syukurlah, saya sampai juga, dan hanya sebentar menarik nafas, bola merah di ufuk timur memecah fajar. Saya menengadah, membiarkan seluruh kulit menyerap hangat Mentari. Kesegaran khas pegunungan menjalari, berbalur aroma belereng yang merongrong dari lubang-lubang kawah.

Retakan-retakan pada dinding gunung Ile Ape mengeluarkan asap dan belerang kuning terang

Ancala Ile Ape adalah mahkota Lembata yang dapat ditengarai dari mana saja. Gagah berdiri di jazirah dengan dua suak nan bestari: Teluk Lewoleba dan Nuhanera. Mendaki kesini sebaiknya dilakukan siang hari, karena detik-detik terbenamnya Sang Surya pun tak kalah menakjubkan. Gunung ini hanya dipisahkan sekian kilometer dari Gunung Ile Boleng di Pulau Adonara, nusa seberang utara. Jika datang ke Lembata dengan kapal laut, kesannya seolah-olah masuk ke sebuah ceruk  yang sedang diawasi oleh dua raksasa sekaligus!

Orang-orang yang berdiam di kaki gunung setinggi 1450 meter dpl ini lebih akrab menyebutnya Ile Lewotolok. Mereka percaya, penduduk asli Lembata berasal darinya.

Menuruni lereng kaldera Ile Ape. Gunung ini juga disebut Ile Lewotolok

“Dimana letak pemukiman leluhur kalian?” tanya saya sesampainya di tengah lapangan kaldera yang agak menyerupai Segara Wedi-nya Bromo. Yustan dan Vergi, dua remaja yang menemani saya mendaki saling menatap bingung. Sejurus kemudian keduanya  tersenyum berbarengan. Paham.

“Bukan di tengah kaldera ini, tapi di lereng, dekat jalur pendakian kita tadi pagi,” jawab Yustan. Ia lantas menjelaskan bahwa lubang kecil tepat di balik kaldera tak jauh dari lokasi kemah kami adalah tempat berdiamnya leluhur pemula. “Tanahnya landai dan ditumbuhi rumput seperti permadani.”  Saya menyeritkan kening. Bukankah itu ideal untuk berkemah?

“Jangan, Bang. Menginap disana tidak akan tenang malam-malam,” sambungnya pelan. Ia membaca pikiran saya dengan jitu. Lalu seperti Vincent, Bapak Mikael, dan Bapak Petrus Blikololong, kedua teruna ini pun mengisahkan cerita berplot okultis, sejarah bahaduri leluhur mereka.

Angin mendesis, iring-iringan mega mendekati puncak Ile Ape, isyarat kami harus pulang. Saya menyukai Lembata, beserta segala yang ada di bawah duli semestanya. Saya tidak peduli perkara benar atau tidak, nyata atau fiktif, bagi saya kisah-kisah okultis sebuah daerah telah menjadi semacam benteng bagi peradaban lokal menjaga alam, menghadapi ketamakan kapitalis atau arogansi pikiran kaum mantik.

Saya ingin menggali galur pitarah Lembata lebih dalam, meski tahu bahwa tidak akan sampai ke tujuan semestinya, sebab seperti para pejalan lain, saya tidak pernah puas dan tidak bakalan betul-betul paham tatkala menyibak masa lalu, bahkan di titik dimana orang mungkin berpikir bahwa saya telah memahaminya. 

Senja di Pantai Waijarang, Gunung Ile Boleng (Adonara) terlihat dari kejauhan

Pondok tinggi di salah satu kebun warga, di belakang adalah bayangan Gunung Ile Ape


SELUK BELUK
Pai tite tai teti Lembata!

Dianugerahi alam yang menawan, dari gunung hingga dasar laut, Lembata mulai membuka tangannya untuk merangkul orang-orang yang datang hendak mengenal. Pulau di barisan timur NTT ini sangat ideal bagi mereka yang mendambah petualangan penuh. Mari, rasakanlah antusiasme dan keterbukaan warga.

AKSES MASUK
Melalui jalur udara, dengan terlebih dahulu transit di Kupang. Maskapai yang setiap hari beroperasi yakni Trans Nusa dan Susi Air. Sedangkan jalur laut dilayani oleh sejumlah armada, seperti Pelni KM Bukit Siguntang (0383 41521/41031) rute Makassar-Maumere-Lewoleba, Fery cepat Cantika Ekspres rute Kupang-Lewoleba setiap Rabu. Bisa juga dari Larantuka (Flores Timur) setiap hari, pagi dan siang, oleh KM Lewoleba Karya, KM Sinar Mutiara, Kapal cepat Fantasi Express, dan Ina Maria Ekspress.

WAKTU BERKUNJUNG
Masalah pelik di Lembata adalah infrastruktur jalan yang sebagian besar masih jelek. “Jalanan baru dibuka tapi pengerjaan yang buruk membuatnya cepat rusak dalam hitungan tahun,” keluh Sang Luge, pemuda lokal yang giat mempromosikan Lembata. Mungkin sebagian pejalan malah menyukai kondisi ini karena memang akan ada drama tersendiri saat melintasi jalan buruk namun kiri-kanan digoda oleh panorama memukau. Bagi yang ingin nyaman, hindari berkunjung di musim hujan, sebab jalanan akan berkubang dan licin berlumpur dimana-mana. Sekitar bulan Mei hingga November adalah waktu yang pas.  Pecinta lansekap, paling baik datang bulan Juni disaat rerumputan dan pohon dalam kondisi transisi warna. Ritual-ritual adat seperti Pesta Kacang dilakukan di bulan Oktober.

BERBAGI & BERTEMU KOMUNITAS ORANG MUDA
Tak ada salahnya membagi waktu untuk bertemu atau melakukan perjalanan bersama dengan komunitas orang muda Lembata. Satu dua komunitas mulai tumbuh dan mendambah kontak dengan pihak luar untuk berbagi ide dan pengalaman. Tebar semangat kreatif mereka untuk bergiat di sejumlah bidang yang Anda geluti, misalnya fotografi, film, pendidikan, atau kesehatan. Salah satu kelompok anak muda lokal, Pelangi Adventure adalah komunitas pecinta alam yang bersemangat mengenalkan alam, pantai, dan budaya Lembata. Begitupun taman baca sekaligus warung kopi Taman Daun yang bisa jadi oase untuk menimbah sejarah maupun cerita-cerita lokal.

WISATA BAWAH LAUT
Perairan Lembata kaya akan biota bawah laut. Berada pada kaki Laut Banda menjadikannya muara untuk ikan-ikan berbagai ukuran. Lembata juga berada pada jalur migrasi mamalia laut seperti Paus, Hiu, dan Lumba-Lumba. Bukan pemandangan asing lagi jika bersua hewan-hewan ini disana. Budaya penangkapan ikan yang masih alami menjaga kelestarian koral di sepanjang garis pantai, bahkan langsung di pinggir jalan raya! Temukan dan buktikan sendiri di sepanjang bibir Teluk Jontona, dari kaki Gunung Ile Ape sebelah selatan hingga ke Liwo Lein. Di seberangnya, lokasi yang sering direkomendasikan yakni Nuhanera. Dapat mengekslorasi bawah laut sekitar Kuma Resort.

EKSPEDISI ERUPSI BATUTARA
Di nusa imut bernama Pulau Komba, antara Lembata dan Solor, menyembul sebuah gunung berapi,  Batutara. Gunung ini sedang aktif, dan keistimewaan yang dipertontonkannnya adalah semburan lava menuju lautan. Terjadi setiap hari tanpa henti, tiap dua puluhan menit. Paling menakjubkan bila menyaksikannya malam hari disaat bunyi gemuruh, disambut letusan awan, kemudian diikuti pijar lahar tak ubahnya kembang api.

Dimuat di National Geographic Traveler – edisi Maret 2016 (dengan perubahan seperluhnya dari editorial NatGeo)








Rabu, Februari 17, 2016

Jalan - Jalan ke Kupang (Timor)

Tabir Keindahan
KUPANG

Belum banyak yang tahu pesona Kota Karang. 
Hal-hal memikatnya memang masih tersembunyi,
dan butuh taktik untuk menyingkap serta menikmatinya.

Warna cerah Pohon Flamboyan - Kupang

Ada yang beda bila ke Kupang di penghujung tahun. Kota di atas karang ini berubah ceria manakala pohon-pohon Flamboyan memekarkan bunganya. Warna merah menyolok dari kembang-kembang itu berpadu kontras dengan langit biru. Bila melintas di bawah pohonnya, seolah ada pesona aneh menguar.

“Sayangnya mereka tumbuh secara acak. Coba, jika ada pihak yang tanggap dengan keistimewaan ini, lalu menanam pohon Flamboyan kiri-kanan di salah satu ruas jalan khusus, semacam koridor Flamboyan. Sehingga pas musimnya berbunga,  keindahnya lebih kentara, lebih apik tertata. Itu bisa jadi festival musiman dan maskot kota ini, menjembatani wisata yang lain, momentum untuk ‘menjual’ destinasi-destinasi daerah,” kata Indri Juwono, travel blogger sekaligus arsitek yang gemar bepergian ke berbagai daerah di Indonesia.

Pantai Tablolong di waktu senja menjelang - Kupang

Suasana Dermaga Kupang, tampak pabrik Semen Kupang

“Benar. Jepang punya festival Sakura yang memancing orang untuk kesana. Tentu Kupang juga bisa. Alam sudah menyediakan, tinggal dioptimalkan. Bikin sesuatu yang otentik, yang berasal dari daerah sendiri. Ketimbang membangun monumen dari beton, mending nanam pohon, lihatnya berbunga bikin hati adem dan membantu menyaring udara, membuat sejuk Kupang,” timpal Dea Sihotang, juga seorang travel blogger.

Saya, Indri, Dea, serta sembilan travel blogger lainnya datang ke Kupang untuk melakukan trip Explore Timor, diundang oleh Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) NTT. Trip ini bertujuan untuk menyingkap tabir keindahan pulau Timor yang belum banyak diketahui publik, mengenalkannya lewat tulisan serta foto. Inisiatif Asita NTT memang jitu. Harus diakui, media sosial masa kini adalah alat yang tepat untuk mempromosikan wisata. Disitulah peran travel blogger, travel writer serta travel photographer dibutuhkan. Termasuk mengangkat hal-hal kasat mata yang sebetulnya menarik tapi luput dari perhatian, misalnya soal Kupang dengan bunga Flamboyan tadi. 

Warna-Warni Grafitti  Kota Tua Kupang

Kuburan Belanda - Kupang

KUPANG “MUST SEE”
Pantai Tablolong adalah tempat elok pertama yang kami datangi usai check-in hotel. Pasirnya yang putih bersih, laut biru yang teduh tenang, dipuncaki momen matahari terbenam, adalah prolog yang baik bagi permulaan perjalanan kami. Saya sebetulnya sudah sering ke Kupang, tapi nama Pantai Tablolong ini baru terngiang kali ini. Disini saya menyadari bahwa seberapa sering kita pergi ke sebuah daerah, jika hanya berkutat di obyek yang itu-itu saja, jelas  bukan jaminan seberapa banyak yang bisa kita ketahui.

Bukan hanya soal seberapa sering kita mengeksplor, namun juga soal seberapa lihai kita memperhitungkan waktu yang tepat. Oleh karena itu, sepatutnya kita tahu kapan waktu terbaik mengunjungi sebuah destinasi. Contohnya, kunjungan kami ke Gua Kristal. Kami harus melakukannya dua kali, lantaran kunjungan pertama sebelumnya  kami tiba sore hari, dimana cahaya matahari telah berkurang, membuat gua berair biru itu tidak secemerlang seperti seharusnya. Waktu terbaik ke Gua Kristal memang musti tengah hari, antara jam 11 sampai jam 14 siang. Menceburkan diri ke dalam airnya yang diterangi oleh sinar alami adalah sensasi istimewa.

Air Terjun Oanesu - Kupang

Gua Kristal - Kupang

Demikianpun bila mendatangi Air Terjun Oenesu. Perluh mengatur timing yang tepat. Ketika saya menunjukkan foto air terjun ini yang tampak berkelimpahan air serta rimbun menghijau, ada teman yang bingung, sebab katanya saat dia berkunjung kesana debit airnya sedikit, pepohonan meranggas. Saya jelaskan, Air Terjun Oenesu itu bagusnya didatangi musim penghujan, antara Februari hingga Mei. Berkunjunglah pagi-pagi sekali saat sinar matahari tidak terlalu kuat, sehingga aura mistisnya tampak. Hindari pula datang saat hari libur atau akhir pekan, sebab akan ada banyak orang disana. Selain merusak kesan sunyi, kunjungan yang ramai juga membawa banyak sampah plastik. 

Saya selalu memegang pedoman ini: ‘Every place has its special moment. Setiap tempat punya momen istimewanya sendiri-sendiri’. Jadi, jika kecewa pada sebuah lokasi yang tidak sesuai ekspetasi, jangan serta merta menyalahkan tempatnya, siapa tahu kitalah yang salah karena tak pandai memahami momen istimewa tempat itu.

SEMAU NAN MEMUKAU
Kebahagiaan lain dalam trip Explore Timor saya rasakan manakala diberi kesempatan menjenguk Pulau Semau. Bagi saya perjalanan menyambangi pulau seluas 143 km2 ini sungguh sebuah petualangan funki; menyenangkan tapi dalam konsepsi yang ganjil. 

Pantai Onanbalu - Pulau Semau

Pantai Otan - Pulau Semau

Dermaga Pulau Semau
Berangkat dari pelabuhan Tenau di pagi berlaut teduh, kami menyeberang dengan kapal kayu kecil selama 30 menit menuju Onan Batu, kuala  berair kehijauan yang menjadi pelabuhan Pulau Semau. Kami membawaserta sepeda motor dari Kupang lantaran transportasi darat di pulau bernama asli Nusa Bungtilu ini belum memadai, begitupun kondisi jalannya. Iring-iringan sepeda motor kami melindas jalan berbatu di bawah terik Surya sembari ditatapi dengan pandangan aneh oleh penduduk setempat.

Incaran kami adalah pantai-pantai molek di pesisir barat, dan demi itu kami butuh sedikit perjuangan melawan kejemuhan akibat suhu panas serta jarak yang agak jauh. Namun ganjarannya adalah pertemuan dengan satu per satu pantai berpasir putih dengan komposisi maupun gradasi warna laut yang seduktif.  Pantai Otan, Pantai Onanbalu, Pantai Uimake, dan Pantai Uitiuhtuan sambung menyambung memunculkan decak kagum. 

Sunset Bukit Liman - Pulau Semau
Menjelang senja, kami tiba di Bukit Liman yang tak cuma diapit dua pantai amat panjang dan lapang, namun juga menghidangkan panorama kelas wahid. Ini bisa jadi tempat yang paling menawan dalam wilayah Kupang-Semau yang saya jumpai. Rupa bukit yang semata ditutupi rumput tipis, memudahkan kami menjangkau puncaknya dengan sepeda motor. Sulit menguraikan keindahan yang saya temukan di atas Bukit Liman ini. Dua pantai yang mengapitnya memiliki lebar serta panjang pasir putih yang menghipnotis. Saat bola bulat matahari hilang pelan di ujung kaki langit dalam balutan warna merah angkasa, sesuatu yang intoxicate seakan menyusupi indra penglihatan saya.

“Sebagian tabir keindahan telah tersingkap. Kupang hingga Semau tiada bedanya kembang Flamboyan liar. Memesona, namun menanti hati yang tergerak menata dan mendayaupayakan potensinya, ” kata Dea saat kami pelan beranjak meninggalkan Bukit Liman.

Ayo, ketong beking Kupang bagus,kaka!

Selasa, Februari 02, 2016

Jalan - Jalan ke Jatiluwih (Bali)

Jatuh Hati Pada
JATILUWIH

Salah satu kawasan World Heritage Site di Indonesia, tempat elok untuk menyongsong pagi di antara teras-teras padi menghijau sembari belajar memahami sistem irigasi lokal Bali.



D
itingkahi gerit serangga malam, alunan lembut instrumen “Melody of Peace” gubahan Gus Teja terdengar menentramkan dari pemutar musik di penginapan sederhana yang saya datangi. Pekat telah menyelimuti jagat raya sesampainya saya di Jatiluwih. Udara yang dingin segar menebar ke segala arah mata angin. Saya menarik selimut, namun tetap mendengarkan satu demi satu lantunan lain dari musik Gus Teja. Ada kedamaian tersirat dari tiap nadanya.
           
Bumi Bali memang spesial. Selain budayanya yang unik, pulau seluas 5,780.06 km2 ini pun diberkahi alam permai. Lihat saja, mulai dari kedalaman laut, pantai, hingga gunung, Bali sanggup memikat siapa saja untuk mengabadikannya. Tak ayal, para seniman lokal maupun internasional menjadikan nusa yang penduduknya mayoritas beragama Hindu ini sebagai sumber inspirasi.

Persawahan merupakan satu dari aspek yang membuat Bali indah dipandang mata dan bagus secara sinematografis. Ketika film Holywood Eat,Pray,Love yang dibintangi Julia Roberts diambil gambarnya di Bali, rekaman pemandangan persawahan cukup mencuri perhatian. Begitupun halnya film klasik Bali Paradise karya James Fitzpatrick buatan tahun 1932 yang tergadang sebagai film asing pertama yang menampilkann keeksotisan Bali. 

Mengambil bibit padi
Layer pada sawah menciptakan keindahan sendiri
Sebagai daerah yang pada mulanya menyandarkan hasil agraris untuk penopang hidup, Bali telah lama mengembangkan sistem persawahan. Malah, masyarakatnya menetapkan pola penerapan irigasi unik bernama ‘Subak’ yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Dari Subak inilah kebijakan pengaturan irigasi untuk keuntungan bersama dikembangkan. Kendati kini jumlah lahan persawahan kian menyusut oleh kebutuhan pemukiman atau pengembangan wisata, namun masih banyak orang Bali yang patuh dan mempertahankan sawah mereka. 

KEISTIMEWAAN JATILUWIH
Wilayah Bali yang lahannya cukup besar terisi oleh persawahan adalah Kabupaten Tabanan. Daerah yang berada di sisi barat pulau ini dikenal juga sebagai lumbung beras bagi Bali. Satu dari sekian desa yang terisi oleh persawahan di Tabanan yakni desa Jatiluwih.

Keistimewaan persawahan Jatiluwih terletak pada topografinya yang berlekuk-lekuk, sawah bertingkat, kemudian disempurnakan oleh latar belakang barisan pegunungan. Dari Jatiluwih dengan jelas mata bisa menangkap bayangan Gunung Agung dan Gunung Batukaru. Atas alasan estetis itulah makanya saya mendatani Jatiluwih.

Plakat UNESCO World Heritage Site

Pura Batukaru
Tempat ini menyajikan panorama yang istimewa lantaran areanya lumayan luas, tidak seperti persawahan berundak di sekitar Tegalalang, dekat Ubud, yang tak seberapa ukurannya. Selain itu aktifitas para petani lebih mudah dijumpai. Di Jatiluwih orang-orang dapat melakukan trekking menyusuri pematang sawah dengan bebas. Selain itu sejumlah tur dengan mobil antik semisal Volkswagen Tour yang beratap terbuka juga telah menjadikan rute Jatiluwih sebagai destinasi wajib.

Saya begitu berhasrat untuk memotret persawahan Jatiluwih saat pagi hari, tepatnya momen matahari terbit di samping Gunung Agung. Berada di tengah sawah dengan vista demikian, apalagi suasana yang begitu hening, merupakan pengalaman menentramkan sekaligus ajaib.

Posisi paling ideal yaitu di kawasan yang terdapat monumen plakat UNESCO. Mungkin belum banyak yang tahu, sistem irigasi serta tata alam Bali telah berpredikat World Heritage Site sejak tahun 2012. Jadi, tentu saja sebuah keistimewaan bila datang dan memotret di Jatiluwih.


Organic Food at Waka Restaurant

Puas mengabadikan persawahan dan saat- saat terbitnya matahari, giliran restoran-restoran lokal menghidangkan menu santap siang organik. Andalan disini adalah nasi dari beras merah. Pilihannya bisa langsung ke jejeran resto di pinggir sawah atau jika mau yang lebih alami dan tersembunyi. Lengkapi juga dengan kunjungan ke Pura Batukaru yang berada di tengah hutan terdekatnya.

MENUJU KE SANA

Ada dua pilihan untuk ke Jatiluwih, tergantung dari mana kita datang. Jika dari area Kuta dan sekitarnya, tinggal mengambil jalur menuju Tabanan yakni ke kota Tuban (satu arah ke Gilimanuk), kemudian berbeloklah ke kanan sesuai petunjuk arah. Kira-kira dua jam. Jika dari Ubud atau Bedugul, dapat mengikuti jalur ke Mengwi. Durasinya kurang lebih satu jam.

Hot & Cold collide 
Di Jatiluwih terdapat sejumlah penginapan, dengan harga variatif mulai dari Rp.100.000 hingga vila dengan kamar senilai 1 jutaan. Tinggal pilih berdasarkan kebutuhan dan selera. Untuk saya pribadi, masalah akomodasi bukanlah hal serius. Yang penting bersih dan aman, sudah cukup.

Tidak jauh dari persawahan, terdapat pemandian air panas Jasrih. Letaknya di lereng bukit. Pemandian ini lumayan terawatt, dihiasi sawah bertingkat juga. Selain sebuah kolam di samping air pancuran, juga terdapat bilik-bilik khusus dengan kondisi yang bersih. Sangat cocok berendam disini satu dua jam melawan suhu yang cenderung dingin.

Bali tak melulu debur ombak, hiruk pikuk kawasan belanja, atau destinasi-destinasi yang ramai. Bertandanglah ke Jatiluwih, menginaplah barang semalam dan banun pagi-pagi untuk menyongsong Sang Surya. Saya yakin Anda akan jatuh cinta pada tempat ini. 

Teks & Photo : Valentino Luis

Artikel ini dimuat di LIONMAG edisi Februari 2016





Kamis, Januari 28, 2016

Coconut Garden Beach Resort Maumere (Hotel Review)


Coconut Garden Beach Resort
'an oasis of serenity'

An oasis of serenity

“ Saya ingin tiap orang yang datang, langsung merasa bahagia berada di tempat ini,” ujar Andrej Zorko. Pria berwarganegara Slovenia ini adalah pemilik Coconut Garden Beach Resort, sebuah akomodasi pinggir pantai yang baru hadir di Kabupaten Sikka, sekitar 10 km arah timur dari pusat kota Maumere, 15 menit dari Frans Seda Airport.

Andrej mengaku langsung jatuh cinta pada Flores begitu datang berkunjung pertama kali. “Pulau kalian ini masih sangat natural, punya keindahan dari gunung hingga bawah laut yang menawan. Dan yang istimewa adalah banyak dari keindahan ini masih tersembunyi, tidak dengan gampang ditemukan, cocok untuk petualang. Ini yang bikin Flores priceless, tidak murahan,” ujarnya ramah bersemangat. Andrej takjub menemukan pantai di Maumere yang dipenuhi pepohonan kelapa nan rimbun. “Rasanya seperti di Carribean,” kenangnya. 

Rattan chairs in the front of the room

Look like giant Mushrooms under the coconut trees

Konsep eco-friendly  adalah trend yang berkembang akhir-akhir ini, sejalan dengan kesadaran manusia bahwa modernitas perluh diseimbangkan dengan alam, karena bila tidak maka kerusakan bumi tidak akan terhindarkan. Global warming atau pemanasan global adalah salah satu efek dari terlalu banyaknya aplikasi bahan-bahan yang sulit didaur ulang oleh bumi. Kita seakan lupa bahwa bahan-bahan alami justruh lebih ‘bersahabat’ bagi manusia. Lagipula, bila dikreasikan dengan jeli, kayu atau bambu tidak hanya sekedar dijadikan material hunian sederhana tapi bisa berubah jadi ‘wah’ serta istimewa.

“Disadari atau tidak, kita akan merasa lebih earthy, lebih down to the earth bila berada di hunian berbahan natural, ketimbang dalam gedung yang terbuat dari beton,” ungkap pria murah senyum ini. Agaknya kami sepaham. Sebagai Traveler, saya pun merasa lebih nyaman-simple-cocok-sehat-dan diterima ketika berada di alam, daripada di kota. Itulah sebabnya saya cenderung memilih masuk ke pedalaman daripada ke kota besar (Well, I’ve tried to be a city-scene guy but it didn’t work. If you ask me to describe how I feel, I will name it as: ‘Blank Space’. It sounds cruel isn’t?? ). 

Almost finished. Only need few stuffs.

Andrej terilhami oleh sejumlah akomodasi yang sudah lebih dahulu memakai bambu sebagai bahan utama. Namun, ia malah ingin 100% bangunan dibuat dari bambu. Agak nyeleneh sih, tapi keinginannya toh terungkap dengan bagian atap penginapan yang juga dari bambu - padahal kebanyakan orang memakai alang-alang atau ijuk.

Pengerjaan bangunan Coconut Garden Beach Resort Maumere telah dimulai pertengahan tahun 2015 silam, dan kini telah rampung dengan menghadirkan 8 bungallow utama, 1 dive center, 1 fitness center, dan 1 café.

Besarnya ruangan bungalow adalah 50m2 (termasuk teras dan toilet), masing-masing memiliki open air toilet and shower, lantai dari kayu, tempat tidur serta perabot dari bambu. Tiap kamar mengusung warna putih sebagai warna primer, ditimpali oleh beberapa warna sebagai ornamen. Dilengkapi dengan AC dan kipas angin. Teras depan masing-masing bungalow dipasangi hammock (ayunan) untuk tidur bersantai. Coconut Garden Beach Resort Maumere sungguh-sungguh ingin menciptakan kesan rileks namun spesial. Oya, ada pula kamar khusus bagi budget travelers/backpackers.

Romantic Sunset

Dive Center Coconut Garden Beach Resort Maumere dilengkapi alat-alat diving maupun snorkeling. Selain itu juga menyediakan Kayak, sehingga bila ingin sesuatu yang rekreatif sembari menyusuri perairan, para tamu bisa mendayung Kayak, ditemani oleh salah satu staff terlatih, agar bisa membantu mengenali pergerakan arus laut.

Satu sarana yang menambah nilai lebih dari Coconut Garden Beach Resort Maumere yakni Horse riding. Bila sudah snorkeling, sudah kayaking, bisa pula menunggang kuda melipir pantai. Apalagi pas cuaca cerah, apalagi sore hari menjelang sunset. Andre memang memilih lokasi yang fotogenik untuk peninapannya.

Soal Horse Riding ini, Andrej punya alasan sendiri.  “Saya dari Slovenia. Negara kami sangat identik dengan kuda. Semua orang yang paham soal kuda, tentu tahu kuda Lizzipan dari Slovenia yang terkenal. “

“Tapi bukan hanya karena saya dari Slovenia, lantas ada kuda disini. Orang Flores, khususnya Maumere pun sangat dekat dengan kuda, bahkan bagi mereka kuda adalah simbol harga diri pria Sikka. Kalau mau menikah, harus bawa kuda. Itulah kenapa kuda gampang ditemui di Maumere. Nah, itu juga yang menimbulkan kesan ‘similar/kemiripan’ antara negara Slovenia dan kabupaen Sikka,” jelas Andrej lagi.

Saya suka pengusaha yang memahami kehidupan lokal, yang akulturatif, yang punya mata laiknya mata fotografer. Dengan begitu dia bisa mensinergikan apa yang dimiliki oleh daerah setempat dengan ide-ide dari otaknya. Agak aneh kalau Andrej memelihara Unta di Maumere, bukan?  

Hammock is waiting for you

So, jika ke Flores, jangan lupa ke Maumere. Dan kalau sudah di Maumere, nginaplah di Coconut Garden Beach Resort. Seperti kata Andrej, “tiap orang yang datang, langsung merasa bahagia berada di tempat ini.”

Don’t twink twice, think to book:
Price & detail infos “Coconut Garden Beach Resort Maumere”
Contact: +62 82 144 260 185 or +62 85 338 167 866


Mejeng ahh...:) :) kamarnya belum dibenarin..