Senin, Januari 16, 2017

Jalan - Jalan ke Ayutthaya (Thailand)

Alur Kaya
Ayutthaya
Menelisik sisa pusat sebuah kerajaan tua yang telah lenyap sembari berkontemplasi antara stupa-stupa kuil merah dan patung-patung Buddha. 

Di musim hujan, rerumputan di sekitar candi akan tergenang air karena daerah ini berada pinggiran sungai

KERETA API WARNA KREM LARIK UNGU berdesis panjang manakala hendak berhenti di stasiun. Bunyi mesinnya mulus, namun tidak bisa menyamarkan usia badan kereta yang saya tafsir sama dengan kereta api jalur Medan-Pematang Siantar. Tapi kendati telah berumur, kondisi keretanya terawat, bersih, serta nyaman. Para penjaja makanan melintas di lorong bangku penumpang tanpa terkesan mengibah  agar jualannya dibeli. Tak ada pengamen, tak ada peminta-minta, tak perlu ada tentara berlaras panjang saat pemeriksaan tiket lintas kota.

Tiba di stasiun Phra Nakhon saya melompat turun dari kereta, menyusul sekawanan Biksu berjubah oranye yang masing-masing menenteng kantung cokelat tua. Dua jam perjalanan dari Bangkok ke Ayutthaya tidak terlalu membuat badan penat. Barangkali karena rasa antusias, atau mungkin lantaran roman adem para Biksu yang mengisi separu dari ruang dimana saya menumpang tadi.

Kanal-kanal air yang masih berfungsi memantulkan bayangan kuil saat senja

Ayutthaya menjadi satu dari tempat paling penting dalam daftar perjalanan saya ke Thailand. Ketertarikan saya pada daerah yang berjarak 76 km dari Bangkok ini dipicuh oleh novel besutan Voicu Mihnea Simandan berjudul Buddha Head, bertutur tentang pencarian harta karun yang terpendam oleh puing-puing kuil suci, mimpi seorang pemuda akan sebuah kota masa lalu, dan perjuangan untuk melindungi warisan leluhur. Ketika saya mencoba mencari foto-foto Ayutthaya sebagai referensi, depiksi kepurbaan kota ini langsung menawan minatku. Apalagi setelah tahu bahwa Ayutthaya juga merupakan cikal bakal lahirnya film serial laga Mortal Kombat yang amat tersohor di era 90-an.

USAI MENDAPATKAN TEMPAT INAP, saya langsung menyewa sepeda motor, moda yang acapkali jadi andalan saat saya bertualang sendirian. Di Ayutthaya, tempat penyewaan sepeda motor langsung berada di samping stasiun kereta. Harganya 150 Bath per hari atau jika di-Rupiahkan kira-kira Rp. 55.000. Tanpa perluh SIM Internasional, cukuplah Paspor sebagai jaminan. Cara lain mengeksplor Ayutthaya yakni menyewa Tuk Tuk, kendaraan serupa Bajaj. Tuk Tuk di Ayutthaya mirip oplet empunya Mandra dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Pengunjung Wat Chaiwatthanaram naik turun tangga demi mendapatkan pemandangan bagus

Wat Chaiwatthanaram yang berstupa tinggi menjulang dan super besar

Ayutthaya atau disebut juga Ayudhya berada di tepi Sungai Chao Phraya yang mengalir hingga ke Bangkok. Kanal-kanal aliran sungainya membawa kesuburan tanah sekitar. Menurut catatan sejarah, kota ini merupakan pusat Kerajaan Siam. Sebuah kerajaan besar yang namanya melambung hingga ke Eropa selama lebih dari empat abad, mulai dari tahun 1350 sampai 1767.  Bahkan pelautnya tersebar ke Aceh, Jawa, dan Bugis lalu menetap dari generasi ke generasi. Nama Ayutthaya berasal dari Bahasa Sansekerta, bermakna ‘Kota Tak Terkalahkan,’ dan dibangun oleh Raja Siam U-Thong setelah wabah penyakit mematikan menyerang pusat kerajaan terdahulu di Lobhuri.

Kebesaran Ayutthaya diperoleh antara lain lewat penaklukan sejumlah kerajaan terdekat kemudian menjalar ke wilayah nan jauh yang lebih dulu eksis, semisal Khmer (kini Kamboja), Lavo (sekarang Laos). Daerah-daerah taklukannya tetap diberi hak otonomi untuk mengatur tata kehidupan sendiri, sehingga lebih menyerupai sekutu dengan pola “Mandala” atau dikenal dengan istilah Circle of Power, sebagaimana yang diterapkan pula oleh Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

Pada permulaan abad ke-XV, perdagangan ke dunia luar menarik minat raja Ayutthaya sehingga masuklah pengaruh Portugis dalam kerajaan, menyebabkan perdagangan lewat jalur sungai dan laut diprioritaskan. Hal yang menguntungkan namun sekaligus menyulut perpecahan antar sekutu. Ujungnya, kerajaan ini babak belur ketika diserang oleh Burma (Myanmar). Pusat kerajaan luluh lantak dan kejayaan Ayutthaya memudar secara perlahan.

Siap eksplor dengan skuter ini. Kompleks candi yang sangat luas akan lebih efisien dikunjungi dengan kendaraan.

Kalau mau lebih berasa lokal, naik 'Oplet mandra' ini, boleh juga

MESKI KEBERAADAAN KERAJAAN SIAM tinggal sejarah, namun budaya maupun peninggalan-peninggalannya tetap lestari. Area pusat kerajaan yang terkitari kanal serta sungai tetap menyisahkan aura masa silam yang kentara lewat kompleks candi-candi yang luar biasa indah.

Terdapat puluhan kompleks candi kuno. Berukuran besar maupun kecil, terletak saling berdekatan. Butuh waktu dua sampai tiga hari agar benar-benar bisa menikmati dengan baik, kendati tidak semuanya. Karena sejumlah lahan kosong diisi oleh kantor dan pemukiman, berkendaraan dari satu kompleks ke kompleks lainnya bersifat mutlak. Sebagian pengunjung menikmati kunjungan mereka dengan mengowes sepeda, tapi cara ini agaknya hanya cocok dilakukan pagi dan sore. Setelah jam 10 pagi, suhu udara di Ayutthaya meningkat drastis dan baru agak sejuk setelah jam 5 sore.

Ayutthaya telah diterahkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO sejak tahun 1991. Dari sekian banyak candi-candi yang bertebaran disana, terdapat setidaknya lima atau enam candi yang wajib didatangi karena keunikannya. Semua candi di Ayutthaya dibuat dari batu bata merah dan apabila disorot sinar lampu, situs-situs ini demikian fotogenik.

Patung kepala Buddha di pohon ini paling banyak diincar kamera

Salah satu puing kuil yang masih digunakan untuk berdoa

Dua wisatawan asing melintas dengan sepeda sewaan

Mula-mula saya ke Wat Mahathat yang berada paling depan.  Kompleksnya seluas Candi Prambanan belum termasuk taman di luar tembok. Jumlah candinya ada belasan dan rata-rata berposisi miring karena kondisi tanah lembek. Yang paling dicari di Wat Mahathat yaitu batung kepala Buddha di batang pohon beringan.

Di samping kompleks Wat Mahathat, berdiri kompleks Wat Burana yang terpisahkan oleh jalan beraspal. Saya melihat banyak patung-patung Buddha yang patah serta hancur. Kendati demikian stupa-stupa disini meruncing jangkung sempurna. Saya lantas beralih ke Wat Raha Si Sanphet yang punya tiga stupa raksasa berwarna putih pucat. Setelah itu dibuat terkagum-kagum oleh Wat Lokayasuttharam, dimana sebuh patung Buddha dalam posisi tidur berukuran gigantis membuat saya merasa sungguh kecil. Patung ini diakui sebagai patung Buddha tidur di tempat terbuka yang paling besar di dunia. Usianya sudah beratus-ratus tahun disana, bermandi hujan dan matahari.

Separuh dari tubuh patung Buddha yang melintang tidur. Bandingkan dengan badan saya.

Seorang ibu membawa anaknya menyentuh telapak kaki Sang Buddha

Menunggang gajah berkeliling kompleks candi yang luas, memberi sensasi tersendiri.

Sesudah melintasi jembatan, giliran kompleks Wat Chaiwatthanaram yang sungguh -sungguh menyihir saya lewat candi-candi nan besar, dengan anak tangga tinggi menjulang seumpama kuil bangsa Aztec. Lorong sempit bagaikan kubah katedral, dihiasi patung Buddha dalam rupa yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya terkenang Angkor Wat.

Selain candi-candi, Ayutthaya pun memiliki situs bersejarah berupa kampung tradisional Jepang, rentuhan biara para rahib serta gereja-gereja tua Portugis. Lebih afdol, lengkapi trip dengan menunggang gajah berkeliling Ayutthaya. Jangan tanya bagaimana rasanya duduk di punggung hewan raksasa ini sembari melintasi kanal yang dikitari puing-puing kuil yang syarat pesan. Kita seakan terserap masuk ke dalam kronik satu kerajaan yang hilang, menyusup alur-alur kekayaan Ayutthaya.


Kamis, Desember 22, 2016

Jalan-Jalan ke Blue Mountains (Australia)

Ngarai Biru
Blue Mountains

TAK SEPERTI KEBANYAKAN CANYON YANG CENDERUNG GERSANG, DESTINASI “MUST SEE” DI BENUA KANGURU INI MENAWARKAN PANORAMA NGARAI BERBATU NAMUN BERATMOSFIR SEJUK
NAN RINDANG.
Dua remaja putri duduk bersantai di bebatuan. Di bawah mereka adalah tebing terjal.

TIGA PULUH MENIT awal tibanya saya di Katoomba teralihkan oleh satu porsi roti isi daging dan segelas kopi panas yang dijajakan di pintu stasiun. Saya memang butuh pengganjal perut, namun waktu selama itu sebetulnya habis demi menunggu bus nomor 686 yang katanya khusus mengangkut pengunjung ke Blue Mountains. Hawa dingin menguar, dan stasiun berdinding kayu cat kuning ini membawa pikiran saya kepada  stasiun-stasiun kayu di daerah pegunungan Austria. Klasik serta natural. Hanya saja, di Katoomba tidak ada latar gunung jangkung dengan salju abadi.

Titik perhentian yang senantiasa dibuat di posisi yang fotogenik

Berfoto di sekitar Queen Elizabeth Lookout, tempat yang pernah didatangi oleh Ratu Elizabeth dari Inggris

Jembatan mungil menghubungkan batu satu dengan yang lain.

Stasiun Katoomba, bangunannya terbuat dari kayu dan telah berusia tua

“Hari ini bus 686 baru beroperasi jam 10. Kita datang terlalu pagi,” tiba-tiba suara  dua gadis pirang gaduh di samping saya. Uh, terlalu pagi? Padahal Matahari memancarkan sinar sempurna dan penduduk Katoomba sudah wira-wiri.

Saya mengecek peta kota, dan mengetahui bahwa jarak dari stasiun ke Blue Mountains tidak terlalu jauh. Jika sekedar satu dua kilometer berjalan kaki, sepertinya saya baik-baik saja melakukannya. Lagipula di tempat berhawa sejuk seperti ini, tak bakalan penat. Hitung-hitung olahraga.

Katoomba adalah sebuah kota kecil, lumayan elok dipandang karena berisikan bangunan-bangunan tua, berwarna ceria. Selain stasiun, masih banyak rumah bahkan hotel yang berdinding kayu. Lebih asyiknya lagi, kota ini berada pada kemiringan, sehingga saya hanya perlu berjalan menurun ke arah Blue Mountains di selatannya. Saya menemukan sejumlah halte bus lengkap dengan kotak telefon umum di pinggir jalan raya yang memberikan sarana Wifi cuma-cuma. Jadilah saya berhenti satu dua menit untuk berinternet setiap kali melintasi halte. Keisengan –lebih tepatnya, semacam penghalau sepi- bagi  pejalan tunggal seperti saya.

Sebuah gereja kecil di kota Katoomba. Topografi kota ini berada di kemiringan.

Suasana kota Katoomba. Tidak banyak kendaraaan yang lalu lalang
karena sebagian besar penduduk lebih menyukai bus umum.

BLUE MOUNTAINS berstatus Taman Nasional, masuk dalam teritori negara bagian New South Wales. Di Australia, tiap negara bagian memiliki lebih dari dua puluh kawasan lindung yang diterakan sebagai Taman Nasional, dan lahannya sangat luas. 

Ambil contoh, di negara bagian New South Wales terdapat hampir 200 Taman Nasional. Bandingkan dengan Indonesia, tiap propinsi belum ada yang punya lebih dari lima Taman Nasional. Fakta seperti ini sering membuat saya kaget. Jika tidak bepergian ke negara asing, kita mengira negara kita sangat natural dan punya banyak lahan konservasi. Padahal tidak. Kebanyakan negara maju yang awalnya saya kira didominasi modernitas, justruh menaru kepedulian lebih terhadap alam.

Tebing-tebing di sisi barat

Pathway dari kayu jadi pelintasan teduh bagi siapapun yang berkunjung

Sungai dan tanaman rimbun tampak segar di jalur pejalan kaki sebelah barat

Katoomba Waterfalls, berada di tebing pada jalur trekking Blue Mountains

Nama Blue Mountains diperoleh dari efek biru mistis yang muncul, terutama pagi dan sore hari, berkat  udara yang mengambang pada lekuk-lekuk  palung dengan berjejal pepohonan. Pemandangan biru pada pagi hari seperti ini sebetulnya sangat lazim di dataran-dataran tinggi negara kita.  Apalagi Indonesia berada pada jalur ‘Ring of Fire,’ banyak gunungnya. Belakangan barulah berbondong orang kita tersadar, sensitif, dan tahu menikmati fenomena alam seperti ini, kendati rata-rata lantaran didorong oleh tren traveling yang terekspos lewat media sosial.

Sebutan ‘mountains’ pada nama Blue Mountains masih jadi perdebatan publik,  sebab kendati berada di ketinggian, kawasan ini sebetulnya merupakan rangkaian canyon atau ngarai, bukan deretan pegunungan menjulang.

Rangkaian canyon tersebut terbentuk selama jutaan tahun, diperkirakan akibat terjangan aliran sungai yang mengeruk tanah menjadi lembah lebar. Tiupan angin serta hujan turut andil sehingga lereng lembah memunculkan lapisan dinding batu keras. Setelah sekian abad, ngarai yang dulunya kosong ditumbuhi pepohonan Eucalyptus, tumbuhan Paku, serta semak, menciptakan kesejukan sekaligus rumah bagi burung-burung. Sungai mengalir, lalu jatuh melalui tebing curam menjadi Air terjun.

Jika datang pagi hari, cahaya matahari yang datang dari timur akan menjatuhkan bayangan batu Three Sisters.

Sedangkan jika sore hari, bebatuan Three Sisters lebih mencolok karena terpapar sinar kuning matahari sore.


PENGUNJUNG BLUE MOUNTAINS bisa memilih satu dari dua lokasi sebagai awal trekking. Di sebelah timur yakni di ke Echo Point atau di sebelah barat yaitu di Scenic World. Kedua lokasi ini punya keistimewaan masing-masing. Jika memulai di Echo Point, maka mata langsung berhadapan dengan Three Sisters, ikon Blue Mountains yang fotonya senantiasa muncul di brosur.

Yang dimaksud dengan Three Sisters adalah formasi tiga batu pipih yang saling berapitan. Ada legenda menarik kenapa dinamakan demikian. Ceritanya, tiga batu ini adalah jelmaan putri-putri kepala klan Katoomba, salah satu suku Aborigin, yang kalah perang.

Di Echo Point tersedia anjungan bertingkat yang memberikan keleluasaan untuk berfoto. Tidak itu saja, tersedia jalur trekking Giant Stairway, yang menghantar pengunjung ke Three Sisters, bahkan masuk ke rongga batu paling utara.

Skyway baru meluncur meninggalkan tebing timur

Penumpang berdesakan dalam Skyway, siap turun
Selalu menyenangkan melihat alam yang luas, bersih, dan tidak diganggu oleh atribut/spanduk/iklan aneh-aneh

Lain lagi dengan di Scenic World. Ini merupakan tempat dimana pengunjung dapat memanjakan mata tapi dengan cara yang lebih asyik, yakni menumpang Sky Way, cable car berwarna kuning, melintasi jurang dengan hidangan pemandangan air terjun di bawahnya. Ada dua cable car, yang satunya lagi membawa pengunjung untuk menyinggahi dasar lembah Blue Mountains. Di bawah sana pun telah disediakan jalur trekking yang amat bagus, malah memberi kesempatan bagi pengguna kursi roda agar bisa bersentuhan dengan alam lebih dekat.

Jarak antara Echo Point dan Scenic World tidak jauh, hanya terpisah sekitar 2 km. Dengan berjalan kaki, keduanya terhubung. Tentunya melalui jalur trekking di sisi tebing yang memaparkan pemandangan molek. Jangan kuatir berdesak-desakan, sebab Blue Mountains bukanlah destinasi yang ramai, kecuali mungkin di musim panas (Dessember – Januari).

Sebetulnya saya tidak terlalu terpukau oleh pemandangan Blue Mountains. Yang mengusik pikiran saya yakni perhatian serta pengelolaan tempat ini yang begitu bagus. Selain akses gratis dan fasilitasnya baik, jalur-jalur trekking pun diperkaya oleh sejumlah Look Point (Gardu Pandang) yang posisi atau angle-nya amat fotogenik, sehingga siapapun yang beristirahat disana, fotografer amatiran sekalipun, akan mendapat gambar yang bagus.

Konsep pengelolaan destinasi wisata, khususnya wisata alam, yang ‘aware’ terhadap unsur-unsur estetik seperti ini sepatutnya ditiru di Indonesia yang jelas-jelas punya jutaan lokasi bervista spektakuler.  Pengelola taman nasional maupun tempat wisata alam harus punya sudut pandang laiknya seorang fotografer landscape: pandai menemukan sudut yang bagus sebagai titik untuk melihat pemandangan sekaligus membuat foto. Ya, kan?

Sepatu dilepas karena batunya licin. Tebingnya terjal, man.

sore memang lebih baik untuk foto..
Para manula pun tidak perlu kuatir, sebab jalur yang dibuat aman bagi siapa saja.

Little Tips:
1.    Berangkat pagi-pagi dari Sydney, pakai kereta dari Central ke Katoomba. Pilih yang berangkat sebelum jam 07.00 pagi. Gunakan kartu Opal, tidak perlu bayar lagi.
2.   Bawa botol air sendiri atau beli sekali saja air mineral. Tersedia air minum higienis gratis di lokasi parker Three Sister, cukup isi ulang di krannya.
3.  Gunakan alas kaki yang nyaman untuk jalan kaki, karena kawasan Blue Mountains adalah daerah wisata yang didesign untuk trekking, tidak cocok pakai sepatu berhak tinggi.
-->
4.  Jika lapar, sebaiknya beli makanan di Katoomba, sebab harga di resto sekitar area Blue Mountains lebih mahal. Di pusat kota Katoomba, saya merekomendasikan untuk beli makan siang di Poulets Chicken Express. Kafe kecil ini menjual ayam goreng dan French frites paling hemat tapi porsi besar.