Rabu, Mei 10, 2006

Let's make this world full of smile



Jika kita penuhi hari-hari dengan senyuman tulus,
sesungguhnya kita telah menggenggam SURGA
so
let's make this world full of smile

Puisi

Pada Engkau yang Memujah Merah

Aku bertekuk lutut dengan biruku

Pada engkau yang memujah merah
Telah kau tanami ragaku
Biji - bijian yang akhirnya aku ketahui namanya adalah kasih

Lewat bibirmu

yang meranggas leher,telinga, hingga sekujur tubuh ini

Dan GAJAHMU yang kau kerahkan tuk menyusup masuk

Dalam gua yang telah kau cukuri duri hutannya

Menemukan mata air yang akhirnya aku ketahui namanya adalah asmara

Aku bertekuk lutut dengan biruku

Pada engkau yang memujah merah

Telah kau sirami jiwaku

Air matamu suatu malam sebelum pergi yang akhirnya aku ketahui namanya adalah harapan

Lewat nafasmu

Yang melancarkan aliran darah, mengiramakan denyut jantung ini

Dan MAGNITMU yang kau lekatkan pasangannya

Untuk mengarahkan pandangan hanya padamu

Mataku tertawan yang akhirnya aku ketahui namanya adalah setia

Aku bertekuk lutut dengan biruku

Pada engkau yang memujah merah

Telah kita beri

Apa yang kita punya yang akhirnya aku ketahui namanya adalah arah ke masa mendatang

Berdua, kau dan aku.

Senin, Mei 08, 2006

Cerpen


PRINSEJA

Seharusnya ketika aku masuk dan mencelupkan tanganku kedalam mangkuk air berkat, ia telah berlutut pada tempat dimana setiap pagi ia memilih duduk.

Selalu di bagian sudut bangku depan blok kiri. Dan seperti kemarin-kemarin jika misa belum dimulai, aku akan melihat bibirnya komat kamit dengan rosario berjuntai di tangan dan mata tertutup. Kadang-kadang ia menatap lurus ke depan kepada salib besar yang terpasang di belakang altar. Sekali-kali ia meraba tatakan rambut putih kuningnya. Mungkin lenggeng1annya kurang kuat lantaran rambut itu sudah terlampau tipis atau mungkin heging2 peraknya tak mampu lagi menopang seperti dulu. Aku memuji ketahanannya berlutut, perempuan seuzur dia tentu tak kuat lagi menopang beban tubuh di lutut, bukankah bagian tubuh manusia yang itu jadi tempat bersarangnya sakit ngilu-ngilu, encok.

Hari ini Sabtu pertama, pekan pertama dalam bulan. Jadi, bangku-bangku lebih terisi dari hari-hari biasa. Tapi pagi ini ia tak kelihatan di bangku dimana ia biasa duduk. Mataku sudah mencari mengitari seluruh ruangan, tak ada.

Tiba-tiba aku merasa pagi ini tak sempurnah, tiba-tiba aku merasa kehadirannya begitu penting penting. Bagian sudut bangku depan blok kiri itu harus diisi seseorang dan harus dia. Ia suka memakai baju merah atau setidaknya baju dengan corak berwarna kemerahan. Selain Minggu, jika hari- hari istimewa seperti Jum’at dan Sabtu pertama, ia menumpuki baju merahnya dengan dong3 dari beludru hitam, menghiasi kedua pergelangan tangannya dengan gelang-gelang perak yang diselingi dengan tiga gelang gading. Ya, aku hafal betul, aku pernah mengitungnya.

Aku melirik ke arlojiku, dua menit lagi Pastor dan misdinarnya muncul dari pintu sakristi4. Ah, dimana dia? Kenapa belum muncul? Kudengar bunyi lonceng dari arah sakristi, kami semua berdiri karena itu pertanda misa segera dimulai. Pastor dengan kasula5 putih didahului dua misdinarnya melangkah ke altar. Aku mengikuti ibadat sambil melirik ke sudut bangku depan blok kiri, siapa tahu dia terlambat datang. Sayang, sampai kumandang lagu penutup selesai dan satu persatu orang beranjak mengosongkan ruangan itu, ia benar-benar tak ada.

Sorenya aku ke gereja lagi, latihan koor untuk Minggu besok. Dan kulihat dia tengah membersihkan sebuah kuburan di samping gereja tua kami. Di kampungku, setiap warga yang meninggal akan dikuburkan di sekitar pekarangan gereja. Biasanya menjelang Paskah ada ibadat khusus senja hari untuk mengenang para arwah, jadilah sekeliling gereja kami diliputi cahaya lilin. Benderang indah sekali. Kami betah berlama-lama disitu sembari mengenang keluarga yang meninggal lewat cerita orang tua kami.

Ada yang menarikku untuk menjumpainya. Kudekati dia. Tangannya menjulur menabur guntingan bunga-bunga yang dicampur dengan plastik mengkilat warna-warni ke atas sebuah nisan. Nisan terbesar dari semuanya. Pancangan lilin tenang menyala di tiap sisinya. Aku tahu kubur siapa itu, juga dia. Setidaknya dia keturunan bangsawan.

“ Nenek tidak misa tadi pagi?” Ia tersenyum.

“Tadi pagi saya misa tapi di Maumere. Tadi siang baru kesini”

“O..o..”

“ Ini makam tiu6 saya, raja Sikka”

Aku membaca nama yang tertera disana. Nama yang panjang sementara yang sanggup diingat olehku cuma bagian ‘da Silva’nya saja. Memang nama itu hanya digunakan kaum bangsawan suku kami.

“Tiu saya senang sekali Toja Bobu.”

“Toja Bobu?”

“Ah, kalian anak sekarang telah melupakan tradisi sendiri.” Ia berkata tanpa menatapku, seolah mengeluhkan hal itu kepada orang yang terkubur di bawahnya.

“Nenek bisa ceritakan buatku?”

“Percuma, pertunjukan itu tak ada lagi sekarang”

“Tapi aku mau dengar dari nenek. Bisa?”

Ia menjatuhkan badannya ke atas sebuah nisan lain di samping nisan tiunya, melempar pandangan ke halaman depan gereja.

“Dulunya kami memainkan pertunjukan itu disana. Aku sebagai Prinseja, seorang putri yang dilamar oleh banyak pria.” Kalimat itu diucapkannya dengan wajah berseri. Wajahnya, kudapati sisa pesona waktu lampau di wajahnya. “Prinseja dipaksa orang tuanya untuk memilih seorang lelaki sebagai mempelainya. Dihadapan orang tuanya, Prinseja menyatakan keinginannya. Para pelamar itu akan menyampaikan persembahan mereka dan membanggakan kehebatan masing – masing.”

“Berapa pria yang melamar Prinseja,Nek?”

“Ada delapan, pertama Pintur seorang pelukis, Pidagu pria bangsawan, Piloto penerbang, Grande Brebu pemabuk besar, Oriwis si tukang emas, Jugador penjudi, Grandi Kondi pangeran besar, lalu Maschador seorang pedagang.”

“Siapa yang dipilih?”

“Maschador. Dialah yang berhasil menawan hati Prinseja. Kamu mau tahu kenapa?”

“Ya” Kuanggukan kepala. Aku memang mau tahu kenapa Prinseja tak memilih yang lain. Seorang pelukis dan tukang emas kan lumayan, apalagi Pidagu atau Grandi Kondi. Kalau Jugador penjudi bersama Grande Brebuh tukang mabuk itu pasti tak bakalan. Siapa yang mau?

“Sokero marendo komunto dinjeru parwo rengalho.” Ia mengucapkannya lancar dengan intonasi yang memukauku.

“Nenek masih hafal?” Berbinar-binar matanya.

“Bukankah sebagai Prinseja aku harus mengingatnya? Anjo da Guarda,7 sampai mati pun saya tak melupakannya.”

“Kalimat tadi artinya apa?”

“Saya cuma menginkan seorang suami dengan banyak uang demi kesenanganku. Saat mengajuhkan diri, Maschador memang menjanjikan kekayaan serta masa depan yang lebih baik buat Prinseja”

“Wah, cewek matre…”

“Apa katamu?”

“Matre, Nek. Itu julukan buat perempuan yang matanya hijau kalau lihat duit.”

“Duit?, apalagi itu? Bahasa apa yang kalian pakai sekarang?”

Aku terbahak.

“Dari Jakarta sana, Nek.”

“Rupa-rupa saja kalian.”

“Ah, Nenek..”

“Patutnya kalian belajar tradisi sendiri, sejarah. Cobalah selami kekayaan nenek moyang kalian.”

“O iya, Nek, jika Toja itu artinya tarian, terus Bobu itu apa?”

“Nah, saya bilang juga apa. Kasihan, kalian sudah tidak kenal akar sendiri. Bobu itu artinya badut. Begini, lakon tadi diselingi dengan tarian dan nyanyian. Ada arak-arakannya yang didahului oleh para Bobu yang menari-nari tadi.”

“Wah, pasti ramai ya.. Nenek pasti bangga jadi Prinseja”

“Tentu saja, itu peran yang istimewa. Kami, aku, saudari-saudariku serta gadis-gadis disini amat menginginkannya. Kami berlatih di pendopo pastoran. Saya memainkannya beberapa kali sebagai hiburan Natal, tiap tanggal dua puluh enam setelah misa.”

“Kenapa sekarang tak ada lagi?’

“Entahlah, saya sendiri tak mengerti. Kalianlah yang hidup sekarang, tugas kalian meneruskan itu, bukan?”

Aku terdiam, memasukan kata-katanya dalam hati. Rasannya kami terlampau terlempar jauh sekali dari masa silam. Aku mengamati nisan itu, membaca lagi nama yang tertera: ‘da Silva’, menatap lenggengan rambut si nenek, menelusuri bangunan gereja tua peninggalan Portugis di sampingku dari bawah hingga ke bubungan tempat lonceng gereja berdendang. Sekonyong-konyong aku melihat gambaran samar kehidupan jaman dulu. Kemudian aku sadar, aku jadi takut apa yang kulihat sekarang tak bakal disaksikan lagi oleh anakku kelak.

“Saya kembali dulu,Nak.”

“Iya, Nek. Terima kasih ceritanya.”

Ia mengangguk, lantas melangkah lambat. Aku melihat bayangan Prinseja tapi ia dengan pungguk bungkuk dan langkah tertatih keluar dari pekarangan gereja. Ia menoleh padaku.

“Besok pagi, Nek, di bagian sudut bangku depan blok kiri. Aku akan berlutut juga disana. Ajari aku berdoa dengan bahasa Portugis,” kataku dalam hati. Aku masuk gereja sambil mengingat-ingat nama-nama hari dalam bahasa Potugis yang kerap diucapkan almarhum kakekku; Segunda, Tersa, Kuarta, Kinta, Sexta, Sabado, Domingu.

Teman-temanku telah banyak berdatangan. Sekarang latihan koor, siapa tahu Natal mendatang kami memainkan Toja Bobu di depan gereja. Aku akan minta saran dari nenek itu, kira-kira siapa yang pantas menjadi Prinseja?

Denpasar 2006

valentino_mendez@hotmail.com

Keterangan:

  1. Lenggeng : Model konde rambut perempuan Sikka (Maumere-Flores)
  2. Heging : Tusuk konde.
  3. Dong : Kain seukuran sarung tapi dikenakan

Perempuan Sikka sgb pelapis luar setelah baju.

4. Sakristi :Ruang dalam gereja untuk Pastor dan petugas ibadat mempersiapkan diri sebelum upacara.

5. Kasula : Pakaian Pastor yg dikenakan setelah jubah, ada beberapa warna tergantung kepentingan.

6. Tiu : bhs Sikka, Paman. Asalnya dr bah. Portugis: Tio

  1. Anjo da Guarda : bhs Portugis, Malaikat Pelindung. Ungkapan lisan dalam masyarakat Sikka.

8. Segunda, Tersa, Kuarta, Kinta, Sexta, Sabado, Domingu: Hari Senin- Minggu.


Cerpen

Natal, Jangan Tiba Begitu Cepat

Kenangan Natal di Dusun yang Kecil1)

Obet mendengarnya sewaktu jeda makan siang kemarin dari balik pagar parkiran pusat perbelanjaan Matahari. Lebih tepatnya saat seiris tipis tempe berbunyi kriuk-kriuk dalam mulutnya. Sepiring nasi putih yang basah oleh kuah santan sayur singkong,ditambah seekor kecil ikan jangki, sepotong tahu, sesendok teh sambal terasi, siap-siap berserah diri pula tuk diisi ke perut.

Obet hafal benar syair lagu itu. Seandainya ia bukanlah satu-satunya orang yang ‘bertanda salib’ disitu, pasti ikut ia berdendang. Ia agak sungkan memberi sinyal kekatholikannya di antara orang, kecuali tanda salib yang refleks dibuatnya.

Selalu Obet makan cepat-cepat. Dan selalu ia merasa belum cukup kenyang setelahnya. Perempuan setengah baya penjual nasi itu hafal betul pada Obet. Bukan lantaran ia pelanggan tetap, tapi karena dulu Obet senantiasa minta ditambah nasinya.

“Berapa,Bu?”

“Empat ribu”

“Bukanya tiga setengah?”

“Memang tiga setengah. Tapi adik kan minta ditambahin nasinya tadi.”

Itu kejadian kali pertama ia makan disitu. Obet dongkol. Nasi yang ditambah tidak seberapa,eh…harganya sudah berubah. Di kampungnya, lelaki seusia dia mana cukup hanya makan sepiring, walau badan mereka seceking Obet. Di kampungnya, sesuka hati ia menentukan kapan waktunya makan. Di kampungnya, tak pernah dipikirkannya soal makanan, sebab ibunya sudah menyediakan tepat sebelum bayangan mentari melewati ubun.

Tapi Obet tidak jera makan disitu. Sekarang ia tidak perluh minta tambah,ibu itu sudah mengerti. Nasi membukit buat Obet. Sungguh baik hatikah ia? Mungkin ya, mungkin tidak. Obet dititipi pesanan dari teman-teman sekerjanya. Tiap hari belasan bungkus nasi. Barangkali itulahlah ibu itu mau bermurah hati. Tapi entahlah….

Kenangan Natal di Dusun yang Kecil.

Semasa SD dulu, bersama anak-anak seusianya di sekolah minggu,Obet diajarkan lagu itu. Pada awal-awal bulan desember. Tahu-tahu, lagunya dipersiapkan buat pementasan merayakan Natal. Dari pendengarannya Suster Agatha, pengajar mereka, ditunjuk tiga anak untuk menyanyikannya. Salah satunya Obet. Kata suster, suara Obet bening. Kalau sampai pada nada-nada tinggi, seolah asap pendupaan saja suaranya, membumbung ke langit-langit gereja.

Mengenang perihal tersebut membuat Obet tersenyum.

Sudah lama sekali tapi bayang mungil tubuhnya, berbaju putih-putih dengan lilin menyala di tangan, berdiri di atas panggung sebelah rumah pastoran, ditatap banyak orang termasuk ibunya, tidak lekang dari ingatan.

“Wah, Si Obet dapat jilidan banyak nih…” Sapaan dari Komang membuyar pikirannya.

“Biar bonusnya gede……hik..hik…,” timpal Kadek si imut yang sedari tadi serius mengonsep sampul. Gadis itu mulai ceria lagi setelah sebulan lalu ketiban sial, musti mengganti kerusakan akibat salah mengkonsepsi lima puluh buku. Konsumennya ngamuk, tidak terima. Warna cover tidak sesuai pesanan, judulnya juga disusun terbalik.

Perusahaan tidak mau rugi. Kadek dituntut memperbaiki kesalahan dengan membayar bahan yang telah terpakai : lima puluh lembar kertas Omega 40, seratus lembar kertas quarto, lima puluh kawat spiral tipe 1/2, dan seratus lembar plastik laminating. Waktu itu Kadek sangat terpukul, apalagi statusnya masih training.

“Jadi pulang ke Flores kan, Bet?” tanya Komang seraya mengamat-amati kerja Obet.

Obet menatap,lalu mengangguk. Dirapikan meja kerjanya. Pisau cutter khusus tangan, patahan-patahan mata pisaunya, lem kuning, batu spasi, penggaris, juga remah- remah kertas yang bertebaran disingkirkannya. Sesudah semua tersingkir, giliran Obet menggosok keramik, alas permukaan meja kerjanya dengan bensin. Ceceran lem kuning tergulung dengan mudah.

Ndak diselesaikan sekarang kan,Bet? Sudah jam dua belas, lapar nih” Kadek menghampirinya.

“Nanti, setelah makan”

Tiang2) nitip ya? Hei…,semua, ayo nitip-nitip” Kadek berlagak seperti mandor, memberitahu teman-temannya. Satu- satu merogoh saku.

“Seperti biasa, Bet !” teriak yang berdiri di pojok

“Nasi ikan buatku”

“Ayam goreng…”

“Punyaku pakai hati sama empela”

“Jangan pakai sambal kayak kemarin, kepedisan tuh..”

“………………..”

“………………..”

Tiap orang menyodorkan menunya. Sebanyak itu tapi buat Obet tak masalah. Ia hafal selera masing-masing mereka.

Kenangan Natal di Dusun yang Kecil.

Obet menyanyikannya seirama ayunan kaki. Obet senang-senang saja menenteng kresek berisi bungkusan nasi titipan teman-temannya.

Ia menghitung-hitung, masih bisa uangnya buat makan sampai tanggal kepulangannya ke Flores. Ia kas bon lagi minggu kemarin. Gajinya bulan lalu ludes cepat dan Obet tak tahu untuk apa saja uang itu mengalir.

Aneh, kenapa kebijaksanaan terbang tak tersisa taktala uang ratusan ribu bertengger pada telapaknya.

Terpaksa pula ia jual sarung tenunan ibunya. Komang memberitahu tempatnya. Ternyata harganya lumayan,sebesar gajinya malah. Sebenarnya ia sayang, sarung itu masih baru,pemberian ibunya. Tapi Obet ingin membelikan ibu dan adik-adiknya ole-ole.

“Kalau kepepet, tak apa-apa dijual,” kata Ibu saat mengeluarkannya dari peti kayu. Obet mencium bau kapur barus dari sana.

“Jangan lupa ke gereja. Ingat,kamu di tanah orang,tanpa saudara. Pucuk kelapa tanah ini nantinya hilang dari pandangan matamu. Jadi,perlakukan semua orang sebagai keluargamu. Ayah-ibu orang, jadikan orang tuamu juga. Saudara orang, anggaplah sebagai saudaramu…….”

Obet merasa geli waktu itu,ada pikiran nakal di otaknya. Ia menyela,

“Kalau istri orang? Kuperlakukan juga sebagai istriku,Bu?”

Ibunya langsung mendelik. Rambut Obet dijambak. Obet tertawa ngakak.

“Bu, jika Natal tiba, Obet pasti usahakan pulang. Ibu mau dibawakan apa dari Denpasar?”

“Aku mau kain Bali seperti yang dipakai bule-bule di tivi,” serga Lusia adik perempuannya

“Ibu mau dibawakan apa?,” tanya Obet sekali lagi. Perempuan tua itu masih diam.

“Bang, belikan saya seragam baru. Nih, lihat, celanaku dua-duanya tambalan semua.” Meteo, yang bungsu, masuk kamar tiba-tiba sambil menenteng celana merah dan cokelat tuanya.

“Ya, nanti abang bawakan buatmu”

“Janji ya?”

“Janji”

Kenangan Natal di Dusun yang Kecil

Obet mendengungkannya lagi. Ia sudah mendapat ide, hadiah apa yang bakalan ia bawa untuk ibunya. Ia ingat ibunya pagi-pagi, tidak hanya hari minggu, ke gereja dengan sandal jepit swallow. Ya, Obet ingin membelikan ibunya sandal baru yang kuat, yang bagus buat Natal ini. Biar ibunya tak perluh menyikat sandal jepitnya setiap kali mau ke gereja.

Obet memindahkan buku jilidan ke meja dekat mesin pemotong. Ditariknya gagang mesin potong ke atas, lantas tiga puluh buku dibaginya dua sejajar, ditaruh bersebelahan sesuai jangkauan pisau mesin pemotong. Tinggal hanya mengatur, menggeser beberapa centi kertas yang nanti dipotong.

Dua tumpukan buku itu belum diatur, ketika pintu samping diketuk. Obet berpaling : Pengantar air isi ulang berdiri disana. Obet melepas kerjaanya demi menyambut galon berisi air yang disodorkan orang itu. Tapi dinamo terlanjur dihidupkannya.

Diangkatnya galon itu tinggi-tinggi. Obet harus melewati lorong sempit antara meja mesin pemotong dengan dinding yang ditempeli dinamo penghidup mesin.

Obet buru-buru. Sempat ia bertanya, kenapa tempat galon itu musti ditaruh di belakang,di tempat sesempit itu? Tapi ia mencoba berhati-hati saja.

Tangan Obet yang kurus gemetaran. Galon itu licin. Dan terpeleset menghantam gagang mesin pemotong. Mesin itu berderit. Obet berhasil menahan galon itu. Namun ia mendengar suara kertas-kertas terpotong. Obet sadar, apa yang sudah terjadi!!

“Kenapa jadi begini,Bet?” Kadek bebisik tak percaya. Buku-buku itu terbelah sempurnah. Bunyi dinamo telah lenyap. Semua menjadi bisu di ruang kecil itu.

Obet linglung. Lemas. Gugup.

Tiga puluh buku. Dua ratus empat belas halaman dalam satu buku. Dua lembar quarto dan selembar kertas Omega untuk satu buku. Jadi, enam puluh lembar quarto dan tiga puluh lembar kertas Omega yang harus diganti, enam ribu empat ratus halaman harus difotocopy lagi. Tiga puluh buku yang harus dibuat ulang……Berapa biaya yang harus diganti, sementara ia juga punya kas bon….

Obet memekik dalam hati,

“Tuhan, tunda dulu Natal ini. Jangan biarkan Natal tiba terlalu cepat. Aku mau merayakannya bersama ibu dan adik-adikku….!”

Ia tertunduk lunglai. Sandal untuk ibu, kain Bali buat Lusia, seragam baru bagi Meteo. Ah…….