Jumat, Maret 11, 2016

Jalan - Jalan ke Lembata (NatGeo Traveler)


Galur Pitarah
Semesta Lembata


D
i kaki bukit sabana Waijarang, kira-kira sepuluh kilometer arah barat kota Lewoleba, Vincent Halimaking memandu saya menyibak tangkai-tangkai ilalang kering yang tingginya melampaui pangkal paha. Matahari musim kemarau memaparkan bias kemuning sore pada punuk bukit, lalu perlahan merambat turun memercikan sinar silau di tiap pucuk ilalang. Tempat ini sepertinya dilingkupi kesenyapan perenial sehingga satu lengkingan burung Nazar yang melintasi lazuardi langsung serta merta membangkitkan aura enigmatik. 

Padang dan bukit sabana Waijarang, versi panorama. Di sebelah kanannya masih berbaris bukit pula.

Padang sabana Wairang, close up.

“Dulu, di sekitar perbukitan ada banyak rusa, Bang,” kata Vincent ketika kami menemukan titik yang pas untuk berpijak. “Leluhur kami, klan Paji adalah empunya sebagian besar lahan ulayat disini. Kelihaian mereka yakni berburu hewan liar, termasuk rusa. Biasanya di musim kering seperti sekarang.” Sejurus kemudian pria muda yang berprofesi sebagai guru itu bergumam lirih, “Sayang sekali, populasi rusa menghilang di akhir tahun sembilan puluhan, seiring datangnya kelompok polisi yang menembaki rusa sebagai luapan hobi. Mereka menggasak semuanya tanpa pandang usia, tanpa sisa.”

Sembari menunggui saya memotret, Vincent mengisahkan hikayat leluhurnya. Sampai kami berpindah lokasi ke tanjung berpanorama lautan yang dinamai Bukit Cinta pun ia tetap semangat bercerita.

Sudah seminggu saya di Lembata, dan hampir tiap hari ada saja kisah-kisah menarik mengenai sejarah leluhur atau cikal bakal progeni yang dituturkan penduduk. Sering itu membuat saya tercengang, karena koleksi hikayat mereka tak hanya rapi tersimpan dalam memori, tapi mudah sekali dinarasikan ulang. Di dunia masa kini, dengan berkali-kali migrasi yang dialami manusia, kehilangan jejak kampung asal - akibat bencana, perang, maupun pencarian penghidupan - acapkali menerbitkan rasa hampa pada generasi sesudahnya, ketiadaan jawaban untuk pertanyaan ‘dari mana dan dari siapa kita berasal’, juga ketidaktahuan akan alur-alur Pohon Keluarga.

Tapi orang-orang Lembata, sungguh, berbanggalah mereka karena mengenal akarnya dengan baik. 

Tebaran koral di perairan dangkal Lewo Lein

Pemancing di Kuma Resort
“UNTUK ITULAH kenapa ada tahap Penu Koke Bale dalam ritual Pesta Kacang kampung adat kami. Selain  menyatukan semua anak cucu turunan, kesempatan ini dipakai pula oleh para tetua untuk memberi wejangan, juga mengisahkan kembali sejarah para leluhur,” tutur Bapak Mikael bersemangat.  “Anak-anak harus tahu dari mana asalnya, supaya bisa saling menghargai satu sama lain antar suku. Termasuk kemudian hari, jika bepergian jauh, mereka tetap sadar siapa mereka,” urainya lagi.

Saya menjumpai Bapak Mikael di kampung adat Lewohala, dalam kunjungan untuk menghadiri Pesta Kacang, sebuah tradisi tahunan untuk merayakan panen dari dua suku utama yang berdiam bersama di sisi selatan lereng Gunung Ile Ape. Ritual ini, kendati prosesnya sama, namun tidak dilakukan serentak untuk satu kampung, melainkan bergantian dari satu kelompok suku kemudian kelompok suku yang lain, dengan ritme serupa dan berulang.

Puluhan rumah suku di Lewohala beratap pelapah, berapitan menempati lereng, menghadap ke Teluk Jontona. Pagi-pagi atmosfer memikat hadir manakala fajar menerobos kisi rumah. Namun lebih sinematik pada jam empat hingga enam sore, saat tarian perang digelar di pekarangan kampung. Terpentaskan semata untuk ritual, bukan pameran bagi pejabat atau turis. Dua pasukan anak-anak menari berlawan-lawanan. Diiringi rancak gong, mereka mengekpresikan diri penuh penghayatan. Hentakan kaki yang lincah menerbangkan debu. Begitu Matahari menebar sorot keemasan dari balik pohon besar, semua elemen dalam tarian tak ubahnya pertunjukan kolosal. 

Tarian Perang yang dipertontonkan anak-anak saat matahari sore menyorot dari barat

Di rumah sukunya, keluarga Bapak Mikael menyimpan pusaka berupa gading Gajah yang panjangnya dua meter. Saking panjangnya, pikiran saya langsung terhubung pada sosok Manfred, Mamut berbulu dalam film Ice Age.

Di samping itu ada pula peti kayu lapuk, berukir kembang delapan arah mata angin yang ditempeli butiran kristal kecil. Dalam peti tersimpan piring-piring lebar serta mangkuk porselen, juga bermotif bunga, warna marun. Beberapa rumah suku di kampung Lewohala ini memiliki pusaka yang sama. Saya pernah ke India, dan corak pada peti maupun porselen ini amat kental dengan India. Adakah penjelasan sehubungan dengan migrasi etnis atau ekskursi niaga masa lampau, sehingga benda-benda ini bisa ada di Lembata?

“Berdasarkan kisah turun-temurun, leluhur dari suku-suku di Lewohala tidak datang dari India, melainkan dari Seram, utara Maluku. Mereka meninggalkan Seram dan berlayar mengikuti arus laut, hingga akhirnya terdampar di Teluk Jontona. Membawa serta harta benda dan hasil barter dengan pedagang yang mereka temui. Mungkin gading serta peti porselen ini adalah hasil tukar-menukar, karena adapula Nekara serta kain-kain tenun kuno yang dimiliki kami. Konon, banyak orang meninggalkan Seram waktu itu karena serangan makluk aneh, ” tutur pria tua itu mengawang.

Saya tercengang pada bagian akhir penjelasannya. Dijalari perasaan ganjil, lantaran beberapa bulan sebelum ini saya pergi ke Seram. Disana saya mendengar legenda tentang makluk buas serupa manusia berbulu lebat. Orang Boti, demikian penduduk asli menyebutnya. Peminum darah yang menyebabkan banyak warga merengsek pergi dari pulau tersebut. Bisa jadi, itulah penyebab migrasi. Jika dalil itu benar, tak disangka, di Lembata ini, yang terpisahkan ribuan kilometer jauhnya dari Seram, saya menjumpai benang merah antara legenda tua Seram dengan asal muasal para progenitor Lewohala. Oh, menyelami perjalanan leluhur selalu bagaikan diseret menembus alur novel misteri!

Pagi menjelang di Lewohala

BILA PITARAH LEWOHALA diyakini datang dari Seram, beda lagi di Lamalera. Orang-orang yang dikenal sebagai suku cerdik pandai itu mengakui leluhur mereka adalah kaum pelaut ulung asal Luwuk, Sulawesi Selatan.

Lamalera yang kerontang terletak di pesisir selatan Lembata. Tempat ini memiliki drama tersendiri; antara mistisisme yang tersemai hingga ke sudut rumah  dengan panorama terbit-tenggelamnya sang Surya yang impulsif, antara cadasnya alam  dengan nama besar sebagai kampung para pemburu Paus.

Syahdan, ketika Majapahit meluaskan kekuasaanya hingga ke belahan timur Nusantara, banyak kerajaan dilebur untuk bersatu, termasuk Kerajaan Luwuk. Tentara-tentara setempat memperbanyak jumlah kaki tangan untuk propaganda Majapahit, diutus  menyebar ke berbagai penjuru. Salah satu kelompok tentara bahari berlayar mengarungi perairan, hingga pamungkasnya singgah ke Lamalera lalu menetap beranak pinak.

Syair penutur perjalanan nenek moyang Lamalera, Lia asausu,  selalu dinyanyikan setiap upacara kebesaran. Hingga kini termafhumi sebagai dokumen lisan tambo silsilah mereka. Konon, Mahapati Gajah Mada bahkan pernah bertandang ke Lamalera, meninggalkan sebilah keris pusaka, juga menasbihkan perburuan Paus dan mamalia laut sebagai sumber penghidupan bagi abdi-abdi yang tinggal di tanah gersang itu. Demikianlah Paus dipandang sebagai anugerah para leluhur yang dihadirkan demi menyelamatkan warga dari kelaparan, sebab potongan dagingnya sanggup bertahan sepanjang tahun dan lelehan minyaknya berkhasiat.

“Nenek moyang kami telah meletakkan dasar juga kiat bertahan hidup. Cara menghargainya adalah dengan menjaga apa yang telah diwariskan,” ujar Bapak Petrus Blikololong, seorang Ata Mola, ahli pembuat Peledang, sampan untuk berburu Paus.

Di cekungan pantai kecil Lamalera, berjejer pondok-pondok yang dibuat khusus sebagai garasi Peledang. Di sekitar sinilah denyut hayat Bapak Petrus dan para lelaki Lamalera bisa dijumpai. Saban hari mereka duduk di pantai, memperbaiki sampan atau mengerjakan kriya penopang hidup lainnya, sembari mengawasi bocah-bocah bermain air sekaligus berlatih menikam Paus dengan tongkat-tongkat kecil. Jika ada kerusakan pada Peledang, segera pula diperbaiki. 

Bapak Petrus Blikololong sedang bekerja memperbaiki bagian Peledang yang rusak

Tidak sulit mengenali kepemilikan Peledang, lantaran tiap sampan mempunyai nama sebagai simbol suku. Kerabat Bapak Petrus dari suku Blikololong dan Bataona misalnya, merupakan empunya Paledang terbanyak. Jafa Tena, Sikka Tena, Horo Tena, Sinu Sapang, Demo Sapang, dan banyak lagi namanya. Itu barulah satu suku, belum yang lain. Mereka juga menambahkan tulisan yang dikutip dari Injil pada sampan, rata-rata berbahasa Latin, seperti Tempora Mea (Nasibku dalam tangan-Mu), Ora et Labora (Berdoa dan bekerja), atau In Verbo Tuo (dalam perintah-Mu). Lengkap dengan lukisan-lukisan menawan.

Di tengah-tengah jejeran pondok bagi Peledang, berdiri sebuah Kapel berwarna biru cerah, pusat kegiatan religius sebelum musim berburu Paus dimulai. Lokasi Kapel itu, dulunya adalah altar sesajen para leluhur yang masih animis, tempat tumpukan tengkorak manusia, namun diubah kekeramatnnya begitu agama Katolik diterima penduduk.

Aroma daging Paus akan tercium manakalah kaki melangkah ke sisi timur Kapel karena disitu memang daging-daging dijemur hingga mengeras. Tulang-tulang Paus yang telah kering dijadikan hiasan, terpajang di gang-gang kecil dan halaman rumah.  Demikian besar arti Koteklama (sebutan setempat untuk Paus) bagi orang Lamalera sehingga gambar mamalia raksasa ini pun ditampilkan pada motif kain tenunan mereka.

Bapak Petrus menjelaskan bahwa sekalipun dipandang sebagai berkah, tidak berarti Paus datang dengan mudahnya untuk ‘menyerahkan diri’. Taktik dan perjuangan menjadi bagian tak terpisahkan. Nyawa adalah taruhan. Apalagi aktifitas perburuan hampir sepenuhnya dilakukan secara konvensional. “Kami terikat peraturan adat. Tabu memakai senjata lain selain apa yang sudah diwariskan turun temurun,” kata lelaki ini arif.

Sisa tulang ekor Paus Biru

Peledang sedang dipasang layarnya.

Komponen utama Peledang berbahan kayu serta bambu. Termasuk layarnya pun terbuat dari anyaman daun Gebang. Besar kecilnya ukuran sampan disesuaikan dengan ukuran mangsa. Peledang pemburu Hiu Paus jelas lebih besar dari Peledang untuk menangkap mamalia kecil. Setiap bagian dari Peledang dibuat dengan fungsinya masing-masing, dan sampai sekarang konstruksinya tak ada yang berubah. Begitupun rentetan ritual yang musti dijalankan, dari awal hingga akhir perburuan. Tugas masing-masing personel sampan, sampai syarat pembagian hasil buruan.

Kenyataan ini membuat saya takzim dan merenung jauh. Sejujurnya, kedatangan saya ke Lamalera dibayangi polemik dalam hati. Terbiasa bersua makluk laut saat bersnorkeling membuat saya kontra dengan praktik perburuan Paus. Tapi di Lamalera, menghabiskan waktu beberapa hari disini akan mengubah pandangan kita, mengubah prejudis tentang barbarisme atau ketamakan, mengubah harga menjadi nilai. Tanpa diminta, tanpa dipaksa, kita akan meninggalkan Lamalera dengan pemahaman baru. Dan berpikir untuk kembali lagi kesini, semenjana apapun rupa kampung ini.

NAFAS SAYA TERSENGAL. Apa hendak dikata, saya harus tetap bergerak cepat. Bila tidak maka saya kehilangan momen Matahari terbit di kaldera Ile Ape.

Jarak tenda inap dengan tepi kaldera kelihatannya tidak jauh, namun bila menanjak seperti ini rasanya sulit dijangkau. Syukurlah, saya sampai juga, dan hanya sebentar menarik nafas, bola merah di ufuk timur memecah fajar. Saya menengadah, membiarkan seluruh kulit menyerap hangat Mentari. Kesegaran khas pegunungan menjalari, berbalur aroma belereng yang merongrong dari lubang-lubang kawah.

Retakan-retakan pada dinding gunung Ile Ape mengeluarkan asap dan belerang kuning terang

Ancala Ile Ape adalah mahkota Lembata yang dapat ditengarai dari mana saja. Gagah berdiri di jazirah dengan dua suak nan bestari: Teluk Lewoleba dan Nuhanera. Mendaki kesini sebaiknya dilakukan siang hari, karena detik-detik terbenamnya Sang Surya pun tak kalah menakjubkan. Gunung ini hanya dipisahkan sekian kilometer dari Gunung Ile Boleng di Pulau Adonara, nusa seberang utara. Jika datang ke Lembata dengan kapal laut, kesannya seolah-olah masuk ke sebuah ceruk  yang sedang diawasi oleh dua raksasa sekaligus!

Orang-orang yang berdiam di kaki gunung setinggi 1450 meter dpl ini lebih akrab menyebutnya Ile Lewotolok. Mereka percaya, penduduk asli Lembata berasal darinya.

Menuruni lereng kaldera Ile Ape. Gunung ini juga disebut Ile Lewotolok

“Dimana letak pemukiman leluhur kalian?” tanya saya sesampainya di tengah lapangan kaldera yang agak menyerupai Segara Wedi-nya Bromo. Yustan dan Vergi, dua remaja yang menemani saya mendaki saling menatap bingung. Sejurus kemudian keduanya  tersenyum berbarengan. Paham.

“Bukan di tengah kaldera ini, tapi di lereng, dekat jalur pendakian kita tadi pagi,” jawab Yustan. Ia lantas menjelaskan bahwa lubang kecil tepat di balik kaldera tak jauh dari lokasi kemah kami adalah tempat berdiamnya leluhur pemula. “Tanahnya landai dan ditumbuhi rumput seperti permadani.”  Saya menyeritkan kening. Bukankah itu ideal untuk berkemah?

“Jangan, Bang. Menginap disana tidak akan tenang malam-malam,” sambungnya pelan. Ia membaca pikiran saya dengan jitu. Lalu seperti Vincent, Bapak Mikael, dan Bapak Petrus Blikololong, kedua teruna ini pun mengisahkan cerita berplot okultis, sejarah bahaduri leluhur mereka.

Angin mendesis, iring-iringan mega mendekati puncak Ile Ape, isyarat kami harus pulang. Saya menyukai Lembata, beserta segala yang ada di bawah duli semestanya. Saya tidak peduli perkara benar atau tidak, nyata atau fiktif, bagi saya kisah-kisah okultis sebuah daerah telah menjadi semacam benteng bagi peradaban lokal menjaga alam, menghadapi ketamakan kapitalis atau arogansi pikiran kaum mantik.

Saya ingin menggali galur pitarah Lembata lebih dalam, meski tahu bahwa tidak akan sampai ke tujuan semestinya, sebab seperti para pejalan lain, saya tidak pernah puas dan tidak bakalan betul-betul paham tatkala menyibak masa lalu, bahkan di titik dimana orang mungkin berpikir bahwa saya telah memahaminya. 

Senja di Pantai Waijarang, Gunung Ile Boleng (Adonara) terlihat dari kejauhan

Pondok tinggi di salah satu kebun warga, di belakang adalah bayangan Gunung Ile Ape


SELUK BELUK
Pai tite tai teti Lembata!

Dianugerahi alam yang menawan, dari gunung hingga dasar laut, Lembata mulai membuka tangannya untuk merangkul orang-orang yang datang hendak mengenal. Pulau di barisan timur NTT ini sangat ideal bagi mereka yang mendambah petualangan penuh. Mari, rasakanlah antusiasme dan keterbukaan warga.

AKSES MASUK
Melalui jalur udara, dengan terlebih dahulu transit di Kupang. Maskapai yang setiap hari beroperasi yakni Trans Nusa dan Susi Air. Sedangkan jalur laut dilayani oleh sejumlah armada, seperti Pelni KM Bukit Siguntang (0383 41521/41031) rute Makassar-Maumere-Lewoleba, Fery cepat Cantika Ekspres rute Kupang-Lewoleba setiap Rabu. Bisa juga dari Larantuka (Flores Timur) setiap hari, pagi dan siang, oleh KM Lewoleba Karya, KM Sinar Mutiara, Kapal cepat Fantasi Express, dan Ina Maria Ekspress.

WAKTU BERKUNJUNG
Masalah pelik di Lembata adalah infrastruktur jalan yang sebagian besar masih jelek. “Jalanan baru dibuka tapi pengerjaan yang buruk membuatnya cepat rusak dalam hitungan tahun,” keluh Sang Luge, pemuda lokal yang giat mempromosikan Lembata. Mungkin sebagian pejalan malah menyukai kondisi ini karena memang akan ada drama tersendiri saat melintasi jalan buruk namun kiri-kanan digoda oleh panorama memukau. Bagi yang ingin nyaman, hindari berkunjung di musim hujan, sebab jalanan akan berkubang dan licin berlumpur dimana-mana. Sekitar bulan Mei hingga November adalah waktu yang pas.  Pecinta lansekap, paling baik datang bulan Juni disaat rerumputan dan pohon dalam kondisi transisi warna. Ritual-ritual adat seperti Pesta Kacang dilakukan di bulan Oktober.

BERBAGI & BERTEMU KOMUNITAS ORANG MUDA
Tak ada salahnya membagi waktu untuk bertemu atau melakukan perjalanan bersama dengan komunitas orang muda Lembata. Satu dua komunitas mulai tumbuh dan mendambah kontak dengan pihak luar untuk berbagi ide dan pengalaman. Tebar semangat kreatif mereka untuk bergiat di sejumlah bidang yang Anda geluti, misalnya fotografi, film, pendidikan, atau kesehatan. Salah satu kelompok anak muda lokal, Pelangi Adventure adalah komunitas pecinta alam yang bersemangat mengenalkan alam, pantai, dan budaya Lembata. Begitupun taman baca sekaligus warung kopi Taman Daun yang bisa jadi oase untuk menimbah sejarah maupun cerita-cerita lokal.

WISATA BAWAH LAUT
Perairan Lembata kaya akan biota bawah laut. Berada pada kaki Laut Banda menjadikannya muara untuk ikan-ikan berbagai ukuran. Lembata juga berada pada jalur migrasi mamalia laut seperti Paus, Hiu, dan Lumba-Lumba. Bukan pemandangan asing lagi jika bersua hewan-hewan ini disana. Budaya penangkapan ikan yang masih alami menjaga kelestarian koral di sepanjang garis pantai, bahkan langsung di pinggir jalan raya! Temukan dan buktikan sendiri di sepanjang bibir Teluk Jontona, dari kaki Gunung Ile Ape sebelah selatan hingga ke Liwo Lein. Di seberangnya, lokasi yang sering direkomendasikan yakni Nuhanera. Dapat mengekslorasi bawah laut sekitar Kuma Resort.

EKSPEDISI ERUPSI BATUTARA
Di nusa imut bernama Pulau Komba, antara Lembata dan Solor, menyembul sebuah gunung berapi,  Batutara. Gunung ini sedang aktif, dan keistimewaan yang dipertontonkannnya adalah semburan lava menuju lautan. Terjadi setiap hari tanpa henti, tiap dua puluhan menit. Paling menakjubkan bila menyaksikannya malam hari disaat bunyi gemuruh, disambut letusan awan, kemudian diikuti pijar lahar tak ubahnya kembang api.

Dimuat di National Geographic Traveler – edisi Maret 2016 (dengan perubahan seperluhnya dari editorial NatGeo)