Senin, Mei 08, 2006

Cerpen


PRINSEJA

Seharusnya ketika aku masuk dan mencelupkan tanganku kedalam mangkuk air berkat, ia telah berlutut pada tempat dimana setiap pagi ia memilih duduk.

Selalu di bagian sudut bangku depan blok kiri. Dan seperti kemarin-kemarin jika misa belum dimulai, aku akan melihat bibirnya komat kamit dengan rosario berjuntai di tangan dan mata tertutup. Kadang-kadang ia menatap lurus ke depan kepada salib besar yang terpasang di belakang altar. Sekali-kali ia meraba tatakan rambut putih kuningnya. Mungkin lenggeng1annya kurang kuat lantaran rambut itu sudah terlampau tipis atau mungkin heging2 peraknya tak mampu lagi menopang seperti dulu. Aku memuji ketahanannya berlutut, perempuan seuzur dia tentu tak kuat lagi menopang beban tubuh di lutut, bukankah bagian tubuh manusia yang itu jadi tempat bersarangnya sakit ngilu-ngilu, encok.

Hari ini Sabtu pertama, pekan pertama dalam bulan. Jadi, bangku-bangku lebih terisi dari hari-hari biasa. Tapi pagi ini ia tak kelihatan di bangku dimana ia biasa duduk. Mataku sudah mencari mengitari seluruh ruangan, tak ada.

Tiba-tiba aku merasa pagi ini tak sempurnah, tiba-tiba aku merasa kehadirannya begitu penting penting. Bagian sudut bangku depan blok kiri itu harus diisi seseorang dan harus dia. Ia suka memakai baju merah atau setidaknya baju dengan corak berwarna kemerahan. Selain Minggu, jika hari- hari istimewa seperti Jum’at dan Sabtu pertama, ia menumpuki baju merahnya dengan dong3 dari beludru hitam, menghiasi kedua pergelangan tangannya dengan gelang-gelang perak yang diselingi dengan tiga gelang gading. Ya, aku hafal betul, aku pernah mengitungnya.

Aku melirik ke arlojiku, dua menit lagi Pastor dan misdinarnya muncul dari pintu sakristi4. Ah, dimana dia? Kenapa belum muncul? Kudengar bunyi lonceng dari arah sakristi, kami semua berdiri karena itu pertanda misa segera dimulai. Pastor dengan kasula5 putih didahului dua misdinarnya melangkah ke altar. Aku mengikuti ibadat sambil melirik ke sudut bangku depan blok kiri, siapa tahu dia terlambat datang. Sayang, sampai kumandang lagu penutup selesai dan satu persatu orang beranjak mengosongkan ruangan itu, ia benar-benar tak ada.

Sorenya aku ke gereja lagi, latihan koor untuk Minggu besok. Dan kulihat dia tengah membersihkan sebuah kuburan di samping gereja tua kami. Di kampungku, setiap warga yang meninggal akan dikuburkan di sekitar pekarangan gereja. Biasanya menjelang Paskah ada ibadat khusus senja hari untuk mengenang para arwah, jadilah sekeliling gereja kami diliputi cahaya lilin. Benderang indah sekali. Kami betah berlama-lama disitu sembari mengenang keluarga yang meninggal lewat cerita orang tua kami.

Ada yang menarikku untuk menjumpainya. Kudekati dia. Tangannya menjulur menabur guntingan bunga-bunga yang dicampur dengan plastik mengkilat warna-warni ke atas sebuah nisan. Nisan terbesar dari semuanya. Pancangan lilin tenang menyala di tiap sisinya. Aku tahu kubur siapa itu, juga dia. Setidaknya dia keturunan bangsawan.

“ Nenek tidak misa tadi pagi?” Ia tersenyum.

“Tadi pagi saya misa tapi di Maumere. Tadi siang baru kesini”

“O..o..”

“ Ini makam tiu6 saya, raja Sikka”

Aku membaca nama yang tertera disana. Nama yang panjang sementara yang sanggup diingat olehku cuma bagian ‘da Silva’nya saja. Memang nama itu hanya digunakan kaum bangsawan suku kami.

“Tiu saya senang sekali Toja Bobu.”

“Toja Bobu?”

“Ah, kalian anak sekarang telah melupakan tradisi sendiri.” Ia berkata tanpa menatapku, seolah mengeluhkan hal itu kepada orang yang terkubur di bawahnya.

“Nenek bisa ceritakan buatku?”

“Percuma, pertunjukan itu tak ada lagi sekarang”

“Tapi aku mau dengar dari nenek. Bisa?”

Ia menjatuhkan badannya ke atas sebuah nisan lain di samping nisan tiunya, melempar pandangan ke halaman depan gereja.

“Dulunya kami memainkan pertunjukan itu disana. Aku sebagai Prinseja, seorang putri yang dilamar oleh banyak pria.” Kalimat itu diucapkannya dengan wajah berseri. Wajahnya, kudapati sisa pesona waktu lampau di wajahnya. “Prinseja dipaksa orang tuanya untuk memilih seorang lelaki sebagai mempelainya. Dihadapan orang tuanya, Prinseja menyatakan keinginannya. Para pelamar itu akan menyampaikan persembahan mereka dan membanggakan kehebatan masing – masing.”

“Berapa pria yang melamar Prinseja,Nek?”

“Ada delapan, pertama Pintur seorang pelukis, Pidagu pria bangsawan, Piloto penerbang, Grande Brebu pemabuk besar, Oriwis si tukang emas, Jugador penjudi, Grandi Kondi pangeran besar, lalu Maschador seorang pedagang.”

“Siapa yang dipilih?”

“Maschador. Dialah yang berhasil menawan hati Prinseja. Kamu mau tahu kenapa?”

“Ya” Kuanggukan kepala. Aku memang mau tahu kenapa Prinseja tak memilih yang lain. Seorang pelukis dan tukang emas kan lumayan, apalagi Pidagu atau Grandi Kondi. Kalau Jugador penjudi bersama Grande Brebuh tukang mabuk itu pasti tak bakalan. Siapa yang mau?

“Sokero marendo komunto dinjeru parwo rengalho.” Ia mengucapkannya lancar dengan intonasi yang memukauku.

“Nenek masih hafal?” Berbinar-binar matanya.

“Bukankah sebagai Prinseja aku harus mengingatnya? Anjo da Guarda,7 sampai mati pun saya tak melupakannya.”

“Kalimat tadi artinya apa?”

“Saya cuma menginkan seorang suami dengan banyak uang demi kesenanganku. Saat mengajuhkan diri, Maschador memang menjanjikan kekayaan serta masa depan yang lebih baik buat Prinseja”

“Wah, cewek matre…”

“Apa katamu?”

“Matre, Nek. Itu julukan buat perempuan yang matanya hijau kalau lihat duit.”

“Duit?, apalagi itu? Bahasa apa yang kalian pakai sekarang?”

Aku terbahak.

“Dari Jakarta sana, Nek.”

“Rupa-rupa saja kalian.”

“Ah, Nenek..”

“Patutnya kalian belajar tradisi sendiri, sejarah. Cobalah selami kekayaan nenek moyang kalian.”

“O iya, Nek, jika Toja itu artinya tarian, terus Bobu itu apa?”

“Nah, saya bilang juga apa. Kasihan, kalian sudah tidak kenal akar sendiri. Bobu itu artinya badut. Begini, lakon tadi diselingi dengan tarian dan nyanyian. Ada arak-arakannya yang didahului oleh para Bobu yang menari-nari tadi.”

“Wah, pasti ramai ya.. Nenek pasti bangga jadi Prinseja”

“Tentu saja, itu peran yang istimewa. Kami, aku, saudari-saudariku serta gadis-gadis disini amat menginginkannya. Kami berlatih di pendopo pastoran. Saya memainkannya beberapa kali sebagai hiburan Natal, tiap tanggal dua puluh enam setelah misa.”

“Kenapa sekarang tak ada lagi?’

“Entahlah, saya sendiri tak mengerti. Kalianlah yang hidup sekarang, tugas kalian meneruskan itu, bukan?”

Aku terdiam, memasukan kata-katanya dalam hati. Rasannya kami terlampau terlempar jauh sekali dari masa silam. Aku mengamati nisan itu, membaca lagi nama yang tertera: ‘da Silva’, menatap lenggengan rambut si nenek, menelusuri bangunan gereja tua peninggalan Portugis di sampingku dari bawah hingga ke bubungan tempat lonceng gereja berdendang. Sekonyong-konyong aku melihat gambaran samar kehidupan jaman dulu. Kemudian aku sadar, aku jadi takut apa yang kulihat sekarang tak bakal disaksikan lagi oleh anakku kelak.

“Saya kembali dulu,Nak.”

“Iya, Nek. Terima kasih ceritanya.”

Ia mengangguk, lantas melangkah lambat. Aku melihat bayangan Prinseja tapi ia dengan pungguk bungkuk dan langkah tertatih keluar dari pekarangan gereja. Ia menoleh padaku.

“Besok pagi, Nek, di bagian sudut bangku depan blok kiri. Aku akan berlutut juga disana. Ajari aku berdoa dengan bahasa Portugis,” kataku dalam hati. Aku masuk gereja sambil mengingat-ingat nama-nama hari dalam bahasa Potugis yang kerap diucapkan almarhum kakekku; Segunda, Tersa, Kuarta, Kinta, Sexta, Sabado, Domingu.

Teman-temanku telah banyak berdatangan. Sekarang latihan koor, siapa tahu Natal mendatang kami memainkan Toja Bobu di depan gereja. Aku akan minta saran dari nenek itu, kira-kira siapa yang pantas menjadi Prinseja?

Denpasar 2006

valentino_mendez@hotmail.com

Keterangan:

  1. Lenggeng : Model konde rambut perempuan Sikka (Maumere-Flores)
  2. Heging : Tusuk konde.
  3. Dong : Kain seukuran sarung tapi dikenakan

Perempuan Sikka sgb pelapis luar setelah baju.

4. Sakristi :Ruang dalam gereja untuk Pastor dan petugas ibadat mempersiapkan diri sebelum upacara.

5. Kasula : Pakaian Pastor yg dikenakan setelah jubah, ada beberapa warna tergantung kepentingan.

6. Tiu : bhs Sikka, Paman. Asalnya dr bah. Portugis: Tio

  1. Anjo da Guarda : bhs Portugis, Malaikat Pelindung. Ungkapan lisan dalam masyarakat Sikka.

8. Segunda, Tersa, Kuarta, Kinta, Sexta, Sabado, Domingu: Hari Senin- Minggu.


1 komentar:

Anonim mengatakan...

Thanks For blog with beneficial informations.