Jumat, September 09, 2011

Jalan - Jalan ke Bajawa (Flores)

Menantang Dinginnya

BAJAWA

Hasil bumi melimpah, alam nan elok, tradisi lestari,

ditimpali keramahan penduduk: berkah bagi

sebuah kota mungil di Flores yang hari-harinya senantiasa terselimuti kabut.

SATU HAL BAIK tentang musik adalah ketika ia menyinggahimu, seketika itu pula rasa sakitmu hilang. Demikianlah kalimat yang terbaca dari punggung kaos seorang pemuda berambut gimbal saat saya menggigil masuk ke Lucas’ Café & Resto. Saya tersenyum kepada kaos bertuliskan kata-kata indah itu, entah kebetulan atau tidak, petikan kalimat raja reaggae Bob Marley tersebut rasanya ditujukan untukku. Maklum, badan saya remuk redam setelah seharian bersepeda sendirian dari Riung. Pegal, jelas. Di atas kertas tertulis jarak Riung-Bajawa ‘sekedar’ 76 km, yang saya duga sebelumnya akan sanggup saya tempuh maksimal satu setengah jam. Nyatanya, alamak, malah jadi dua kali lipat melampaui waktu estimasiku.

Perjalanan yang melelahkan, bisa dikatakan begitu. Di satu sisi harus kuakui bahwa saya sangat menikmatinya pula. Dan setelah membaca tulisan dari punggung kaos pemuda barusan, ditambah secangkir kopi hangat di depanku, dan tentu saja musik, maka rasa sakitku pun menguap. Siluet lubang-lubang menganga sepanjang jalan berliku dari Riung ke Bajawa beserta tebaran kerikil yang berhasil menumbang-jatuhkanku di atas aspal dengan bonus dua luka goresan di dengkul berubah sensasional, seolah-olah hal yang saya alami itu merupakan salah satu adegan film Motorcycle Diaries; konyol namun heroik dengan bumbu lansekap yang eksotis.

LAYAR PONSELKU menunjukkan angka 19:45 , petang yang amat dingin di Bajawa, ibukota kabupaten Ngada, Flores. Sebagai kota yang terletak di ketinggian lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut dan di kelilingi bukit serta gunung, hari-hari di Bajawa adalah kehidupan yang bergerak menyusup di balik percintaan antara dingin dan kabut. Untungnya di Lucas’ Café & Resto saya memperoleh kehangatan. Selain dari kopi dan disusul sup sayurannya, rasa hangat pun turut diciptakan oleh arsitektur restoran yang sebagian besar berbahan alami. Dinding kayu, lantai kayu, dan ornamen- ornamen ringan bernuansa etnis. Beberapa iklan akomodasi serta jasa pariwisata seantero Flores mudah ditemukan disini. Restoran ini terletak berseberangan dengan hotel Edelweiss tempatku menginap, menjadi semacam treffpunk para turis. Mungkin disebabkan letaknya yang strategis, atau gara-gara bangunan berbahan kayunya yang menarik untuk disinggahi, atau karena dialah satu-satunya restoran yang terkesan ‘disiapkan khusus’ menjamu wisatawan. Apapun itu, jelas restoran imut ini membantu mengendorkan saraf sebelum petualangan saya hari berikutnya.

Saya mengeluarkan sehelai kertas dari saku ransel. Kertas berlipat-lipat yang telah saya selipkan sebelum meninggalkan rumah. Disitu tergores rencana tripku di Bajawa. Meski hanya oret-oretan tanpa keterangan detail, namun saya butuh itu demi mempertegas visi. Saya tidak membawa buku panduan apa pun.

Dalam kertas oretanku, terdapat empat lokasi di sekitar Bajawa yang memikat saya: Kampung tradisional Bena, air terjun Ogi, kawah vulkanis Wawomuda, dan pemandian air panas Manggeruda. “Bena is awesome, its picture looks like Machu Piccu. The hot spring Manggeruda was extreme hot for me, but yeah..you should try,” tukas Janice Yeoh, turis asal Korea yang duduk di sebelahku. Kami bercakap akrab. “And how about Wawomuda crater and Ogi waterfall?” serga saya tiba-tiba, seolah baru saja menemukan satu peta wisata di mata belonya. “Oh, I never heard about Ogi. And Wowumuda…mmm..I have no idea yet, I plan to visit this place tomorrow” balasnya tersipu. Antusiasmeku separu terbentur. Ya, hanya separu, sebab mungkin ini pertanda baik, ada kesempatan mengajaknya pergi bersama. Seperti demam yang kini melanda bebagian besar orang Indonesia, saya pun lagi suka-sukanya nonton film Korea. Nah, sekarang ada cewek Korea, meski bukan Han Ga In tapi sebandinglah cantiknya. Saya tak butuh terbang jauh-jauh ke Korea kan?

JANICE tertarik dengan ajakanku untuk pergi bersama. Bak memperoleh tambahan nutrisi, saya sigap menjemputnya pagi-pagi di tempat penginapannya, biara susteran Karmel. Padahal dingin bukan main. Kami sepakat mendaki Wawomuda pagi ini. Bajawa hanyalah kota kecil, tak butuh banyak waktu untuk mengenali pembagian tata ruang kota yang pada mulanya dikembangakan Belanda di tahun 1915 sebagai kawasan rehat bagi petinggi-petingginya ini. Sebelum singgah di biara susteran Karmel, saya melewati beberapa rumah tua bernuansa kolonial. Rata-rata tak begitu diperhatikan, padahal jika dibersihkan saja, dicat baru, rumah-rumah demikian bisa jadi aset wisata sekaligus memberi warna sejarah bagi Bajawa.

Sejengkal keluar dari pusat kota, kami langsung tenggelam dalam senyap pagi jalan. Jemari tanganku kaku menggenggam setang sepeda motor, lagi-lagi karena dingin yang menusuk. Lampu sepeda motor turut saya nyalahkan karena kabut mengaburkan pandangan. Untuk mencapai Wawomuda kami melewati kampung Booripo menyusul kampung Watujaji dengan satu lagi biara Karmel berdinding merah. Biara yang satu ini dihuni bukan oleh para suster melainkan para calon pastor, isinya laki-laki saja.

Laiknya kota-kota di seantero Flores, Bajawa pun jadi basis tempat tinggal biarawan-biarawati Katolik. Janice mengaku, di Flores, ia sengaja memilih menginap di biara. Bukan lantaran dia Katolik, tapi karena ia menyukai atmosfer dalam biara yang teramat tenang, kontemplatif dan syahdu. Janice juga bilang, hampir semua biara di Flores memiliki sentuhan Eropa, jika bukan dari arsitektur, maka penataan bangunan serta sistem kesehariannya memakai standar Belanda atau Jerman.

Kami berpapasan dengan warga yang setiap kali bertemu muka selalu menyungging senyum dan menganggukan kepala. Dengan gaya sarkasme Janice berujar bahwa Tuhan itu gila, menciptakan hal-hal kontras. ”Jiwa orang-orang Flores ternyata berseberangan dengan tampang mereka yang sangar. Sekali mereka tersenyum, kita langsung kehilangan neraka.” Saya mengangguk, tersenyum karena rasa gelitik dari ucapannya . Di lain tempat orang menghambur-hamburkan uang untuk tampil memikat, lupa bahwa seulas senyuman adalah cara paling murah mengubah penampilan. Penduduk pedesaan memiliki cara paling murah tersebut, dan lucunya mereka tak sadar itu harta, menebar gratis senyumnya. Tuhan memang gila.

MESKI CUMA sekitar enam kilometer dari pusat kota Bajawa dan keadaan aspalnya mulus, jalur menujuh kawah Wawomuda awalnya agak membingungkan. Setelah melalui gapura bertuliskan ucapan selamat datang ke kampung Wawomuda dalam bahasa Inggris, tak ada lagi petunjuk ke arah mana harus bergerak. Tak ada seorang pun untuk dimintai petunjuk atau minimal papan-papan kecil dengan tulisan semisal “ ± 1 km ke kawah” atau “ belok disini.”

Jalanan yang semula aspal, menyempit jadi setapak. Dalam rupa yang sama antara satu setapak dengan setapak yang lain, kami harus menebak yang manakah akan kami pilih. Dalam keadaan demikian, ternyata cara agar tak tersesat adalah memberanikan diri untuk tersesat terlebih dahulu. Andalan saya semata intuisi: kawah selalu berada di atas ketinggian di balik gunung, sehingga kalau ada jalan setapak mendaki maka itulah yang harus saya ikuti.

Kami menemukan arah yang benar. Ketika baru memulai beberapa meter ke kiri pada arah yang benar itu, saya mematikan mesin sepeda motor. Janice sigap melompat turun dari boncengan. Bukan karena setapak itu rusak tapi karena di samping kami terbentang pemandangan yang menggiurkan.

Kami berada di tempat terbaik untuk memandang kota Bajawa dari ketinggian. Dan coba tebak, kota kecil ini masih terbuntal kabut, padahal langit sudah membiru dan matahari terang benderang. Kami mengulur waktu hingga kabut menampakan wajah kota. Kurang lebih empat menara berwarna belang merah-putih milik sebuah perusahan profider selular menjadi bangunan tertinggi di Bajawa, sedangkan gereja katedral adalah gedung yang paling cepat dikenali. Namun yang membuat gambaran menawan pagi ini mengenai Bajawa bukanlah bangunan tinggi rancangan manusia itu, melainkan keanggunan gunung Inerie yang berdiri tepat di sisi kanan. Saya menyukai bentuk kerucut dengan sedikit ketidaksempurnaan di puncaknya.

Setelah rehat sejenak itu, kami lanjut menapaki bukit. Sekitar lima belas menit, jenis tetumbuhan berganti rupa. Dari rumput dan tanaman perkebunan berubah menjadi semak serta pepohonan khas dataran tinggi seperti pohon runjung dan ekaliptus. Kontur tanah rapuh, keadaan yang mau tak mau memaksa kami untuk memarkir sepeda motor lantas memutuskan untuk trekking saja. Hebat, dengan berjalan kaki seperti inilah saya bisa merasakan keajaiban-keajaiban kecil dari alam. Contohnya, tetumbuhan alang setinggi mata kaki yang bulir-bulirnya memutih termahkotai embun. Di mataku mereka tiba-tiba tampak bak pucuk bunga Edelweiss di pegunungan Alpen yang tersirami salju pertama musim dingin. Lenguhan kawanan sapi cokelat, cicit burung, dan wangi dedaunan pinus liar turut memberi kesan. Suasana begitu tenang, teduh menyegarkan. Dua lereng bukit kami sisiri, seperti huruf ‘S’ kira-kira formasi perjalanan kami sejak memutuskan ber-trekking. Janice mengartikan formasi ‘S’ itu dengan ‘Searching’. Boleh juga.

Tiba di bukit kedua, kami melongok ke dalam cekungan. Saya melempar pandangan ke rimbunan pinus, di saat bersamaan itu Janice berteriak kencang, “ here.., the craters are down here!!”

Kawah Wawomuda berbentuk bak kubangan lumpur. Kawah-kawah yang semula berwarna merah darah itu sekarang berubah cokelat susu. Yang awalnya empat kawah kini tersisa dua. Bau belerang samar saja terendus, bau itu berhasil dikalahkan oleh aroma pinus yang pohonnya tumbuh jangkung-jangkung. Bila di awal menjelang pendakian kami menikmati kota Bajawa dengan gunung Inerie, disini kami mendapati kawah Wawomuda bernaung bayangan gunung Ebulobo nun jauh. Janice ingin lebih lama berada disini, saya mengatakan bahwa kami masih memiliki satu target lagi untuk didatangi bersama, yakni air terjun Ogi. Maka kami kembali menuruni bukit, mengitari lereng, membentuk hurus ‘S’ lagi.

Sekarang kira-kira apa makna ‘S’ itu? Janice membentang kedua tangannya, menghirup udara dalam- dalam dan mengembuskannya. “Now, S refers to Satisfied.’

MENUJUH AIR TERJUN Ogi, kami harus balik lagi ke kota, saya menganggap perjalanan ini bakalan enteng sebab jalan tak lagi mendaki. Semalam, dari karyawan hotel Edelweiss saya diberitahu, jika hendak ke air terjun Ogi, turuti saja lintasan ke arah pom bensin (SPBU). Karena itu satu-satunya SPBU di kota Bajawa, tak susah menemukannya.

Sesampainya di desa Ogi yang hanya berjarak 5 km dari pusat kota, lagi-lagi kasus ketidakadaan petunjuk menujuh obyek air terjun terulang. Untungnya, kampung seimut Ogi cukup hidup oleh lalu-lalang petani. Air terjun yang kami cari malah seperti ‘gajah di pelupuk mata yang tak tampak.’ Aneh, lokasinya berdekatan dengan bibir jalan tapi tak diberi tanda apa-apa.

Sepeda motor kemudian saya lajukan pelan-pelan melewati persawahan. Hijaunya rimbunan padi menjadi pengantar menujuh air terjun, sesekali capung-capung melintas tepat di depan mata. Janice mendendangkan lagu bernada riang, katanya itu adalah lagu tradisioanal Korea yang berkisah tentang kelincahan capung. Para petualang itu, kata orang Korea, ibarat capung. Bergerak cepat dan sigap, mencari tempat-tempat indah, bermata jeli dan bertubuh ramping.

Sesudah memarkir sepeda motor, kami berjalan kaki sejauh seratus meter untuk mencapai air terjun Ogi. Tempatnya sama sekali tidak tersembunyi. Saya mendengar gemuruh jatuhnya air dan tak menghiraukan gongongan anjing dari dua-tiga rumah di bibir air terjun.

Volume air yang jatuh dari tebing ternyata lumayan banyak. Hempasannya pun keras sehingga saya tak membawa kamera dekat-dekat. Bebatuan menghiasi aliran air, rumput-rumput hijau muda menempeli tanah. Saya tak habis pikir, dengan jarak sangat dekat dengan pusat kota, air terjun ini seharusnya lebih dioptimalkan. Kabupaten Ngada bisa dibilang salah satu kabupaten dengan hasil alam terkaya di Flores, pendapatan daerah pasti tak kecil. Mestinya ada perhatian untuk tempat-tempat indah seperti ini. Tidak harus dengan fasilitas hebat, dari hal yang kecil saja, contohnya pemasangan petunjuk arah ke obyek-obyek wisata, cukuplah. Lambat laun dengan seringnya pengunjung berdatangan, bisa pula memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar. Saya tak ingin bertanya kemana larinya uang serta kepercayaan rakyat, toh satu kalimat dari P.J. O’Rourke sudah bisa menjawab tanya itu: Giving money and power to government is like giving whiskey and car keys to teenage boys.

Saya dan Janice berdiskusi banyak hal. Tentang pengalaman-pengalaman kami mengunjungi berbagai negara, tentang perbandingan ekonomi sosial politik negara Korea Selatan dan Indonesia, tentang hal-hal lucu dan unik mengenai manusia, tak lupa tentang budaya pop Korea. Sampai akhirnya berakhir pada harapan-harapan baik untuk kehidupan kami selanjutnya, seperti harapan baik bagi petualangan Janice berikutnya ke wilayah barat Flores. Saya mengantar Janice ke terminal bus Ende-Ruteng, setelah kami makan siang bersama. Saya menyukai ke-Koreaan Janice, juga lelucon sarkatisnya. Tapi begitulah namanya perjalanan, bergulir sebagaimana hidup itu sendiri, hari ini saya semeja dengan orang asing, besok orang asing itu menjadi teman, sehari berselang teman itu pergi, dan saya mungkin akan semeja lagi dengan orang asing baru. Every goodbye makes the next hello closer, dude. Kok saya ikutan sarkatis?

SEBENARNYA saya mengantuk, tapi sebuah plang hijau mengenyahkan hasrat tidur siangku. Di dekat terminal bus Ende-Ruteng itulah kali pertama saya menemukan petunjuk arah menujuh obyek wisata. Kali ini tentu kantukku mendapat pukulan TKO karena pada plang tertulis jelas satu tempat impianku: Bena.

Baru 15 menit menderukan sepeda motor, saya terpikat pada satu tatanan perumahan tradisonal kampung Langa. Keadaan lokasinya lengang saat saya tiba. Rumah huni berbentuk panggung rendah berdiri berhadap-hadapan. Di halaman tengahnya tertanam batu-batu megalit dan pondok mirip rumah-rumahan. Formasi kampung tradisional Bajawa membentuk huruf ‘U’. Saya yakin, kalau Janice masih bersama saya, dia pasti punya tafsiran tentang formasi ‘U’ ini.

Sekonyong-konyong muncul seorang lelaki tua dari rumah panggung. “Selamat siang, bapa,” sapaku. Ia mendekat dan kami berjabatan tangan. Gurat-gurat keriput pada kulitnya amat jelas, ia sudah berangsur ringkih. “Mari, nak. Kita ke rumah saja,” lelaki tua itu memecah kebisuan kami. Sudah tengah hari, matahari cukup terik. Saya menuruti ajakannya. Begitu menghempaskan tubuh di atas panggung rumah kayunya, semilir angin datang merambat. Wah, mata saya langsung gloomy dan ingin sekali merebahkan diri.

Lelaki tua itu bernama Zakarias. “Bapa tinggal berdua saja disini dengan istri. Kami tidak punya anak.” Seolah tahu pertanyaan yang hendak kuajukan padanya. Saya memang merasa rumah ini terlingkupi keheningan yang teramat lama. “Terus tetangga-tetangganya kemana?”

“Ke kebun. Yang tinggal di kampung begini, biasanya orang tua saja. Anak-anak muda merantau semua.” Merantau? Di Bajawa yang kaya hasil bumi ini anak-anak mudanya masih ingin merantau? “Jaman sekarang, anak muda mana yang mau tinggal di rumah kayu seperti ini,” timpalnya. Lagi-lagi ia telah menjawab pertanyaan sebelum kuajukan. Pak Zakarias seperti mampu membaca pikiranku. “Tapi kampung kami akan ramai di bulan Januari tiap tahun”.

“Ya, liburan Natal dan Tahun Baru, kan?”

“Benar. Tapi kami juga punya perayaan Tahun Baru sendiri disini. Adat kami merayakan Tahun Baru setiap tanggal 15 Januari, bukan tanggal 1 Januari.” Saya terhenyak, mereka punya penanggalan sendiri? Pak Zakarias lantas mengurai cerita tentang apa saja yang dilakukan orang kampungnya saat merayakan Tahun Baru ala mereka. Orang-orang disini akan menari sepanjang hari mengunjungi satu kampung ke kampung lain. Acara tari-tarian ini dinamakan Menari Owi, menari secara massal.

Pak Zakarias memberitahuku bahwa suku-suku di sekitar Bajawa menganut sistem matrialkal, dimana pihak perempuanlah yang memegang tampuk tertinggi dalam klan. Perkawinan dilakukan berdasarkan garis kekerabatan pihak ibu. Klan baru terbentuk dari perkawinan kekerabatan ini. Setiap pembentukan klan ditandai dengan pendirian simbol keluarga pria dan wanita. Simbol diwujudkan dalam rupa rumah mini dan rumah payung. Rumah mini disebut Bagha mereprentasikan keluarga wanita, sedangkan rumah payung atau Ngadhu mewakili keluarga pria. Atap-atap rumah hunian para warga, pada bagian tengahnya terpasang pula ornamen. Atap rumah keluarga pria, Sakapu’u, terdapat ornamen patung pria mirip boneka, atap rumah keluarga wanita, Sakalobo, dipasang lagi model rumah super mini. Pesta adat di Bajawa selalu mengorbankan ternak, yang paling sering adalah kerbau dan babi. Tanduk kerbau di pajang di dekat pintu rumah, gerahamnya disangkutkan di salah satu kisi-kisi rumah.

Rasanya betah berlama-lama di rumah Pak Zakarias. Meski kerongkongan kami hanya tersegarkan segelas air putih, saya merasakan keramahan bersahaja. Tanpa sekat. Pembicaraan kami seolah percakapan antara seorang kakek dengan cucunya yang dipenuhi rasa ingin tahu. Saya pun pamitan. Pak Zakarias malahan melepas kepergian saya sampai di mulut kampung. “Datanglah lagi bulan Januari, menginap di rumah kami, ” seruhnya. Tak ada alasan bagi saya untuk tak terharu.

KEMBALI SAYA MELAJU, jalanan menurun berkelok. Saya melewati sebuah jalur sepanjang hampir 2 km penuh bambu dengan batang-batangnya hampir sebesar paha. Rindang menutupi langit. Kala saya keluar dari naungan jalur bambu itu, di depan mata saya langsung terhidang pemandangan gunung Inerie. Begitu dekat, tinggi membuncah luar biasa gagahnya. Rute menjadi lurus dan sepertinya diarahkan tepat ke inti gunung.

Mendekati kaki gunung Inerie, jalan berbelok ke kiri. Tiba di tikungan pertama, mataku menangkap satu papan hitam kecil di sudut dengan tulisan semacam undangan mampir. Kampung tradisional Luba namanya. Saya penasaran untuk singgah, ditambah rasa belum puas karena rumah-rumah di kampung tradisional Langa, kampung Pak Zakarias tadi, seperempatnya sudah beratap seng bahkan ada yang berlantai keramik.

Kampung Luba benar-benar menjawab keinginannku. Datang kesini seolah menemukan sebuah tempat rahasia, ia tersembunyi. Kelihatan bahwa belum lama dipugar. Atap semua rumah dari alang-alang. Hening, jauh dari ribut gaduh. Saya mengitari halaman tengah, tak bisa lama walau saya sungguh menyenanginya. Mengingat tujuan utama saya adalah Bena, maka saya pun meninggalkannya. Untuk ke Bena saya mengikuti jalur yang sama, tanpa harus kembali ke jalan raya. Hanya perlu setengah kilometer menuruni bukit dengan pelan.

Dan oh, Bena memang kampung yang indah. Janice benar, jika kita datang dari atas maka kampung tradisional ini kelihatan mirip Machu Pichu. Terletak di kemiringan, bagaikan tingkat-tingkat sawah. Masuk ke kawasan yang menjadi maskot Bajawa ini harus terlebih dahulu mengisi buku tamu. Khusus untuk Bena, satu fakta baik adalah sudah terbentuknya kelompok sadar wisata yang pelakunya tak lain warga Bena sendiri. Secara bergiliran, warga dibagi dalam grup-grup kecil untuk mengawasi keamanan, kebersihan dan keteraturan kampung. Donasi pengunjung, yang bersifat sukarela, dipakai untuk perbaikan-perbaikan bangunan yang rusak serta demi penataan lingkungan. Untuk sistem eco-tourism seperti ini patutlah diancungi jempol. Keterlibatan para warga artinya meletakan tanggung jawab kelestarian kampung tradisional pada tangan yang bersentuhan langsung. Disini mereka terlibat aktif, mampu swadaya, tak cuma jadi penonton atau menunggu bantuan. Apa yang dilakukan di Bena ini tampaknya harus ditiru oleh tempat-tempat lain di Flores. Pulau yang memiliki keelokan tak terperihkan, tapi penduduknya selama ini bertindak sebagai penonton atau obyek tontonan semata.

SATU TUJUAN terakhir adalah pemandian air panas Manggeruda. Tepatnya di Soa. Saya pernah kesana sebelumnya, tapi sudah lama sekali. Hampir lima belas tahun silam sewaktu pamanku berdiam di sekitar lokasi itu. Jadi, gambaran tentang pemandian air panas nyaris tak berbekas lagi di benakku.

Soa pun dekat saja dari pusat kota, 18km, dan saya merasa kecolongan begitu melintasi jalan ke arah sana. Masalahnya, kemarin dari Riung saya melewati jalan yang sama ini juga. Satu-satunya alasan kenapa saya tak memperhatikannya kemarin mungkin disebabkan papan petunjuk yang membelakangi arahku.

Kompleks pemandian air panas Manggeruda boleh dibilang telah tertata. Warga lokal membanjiri tempat ini. Airnya tak suam-suam kuku seperti yang saya bayangkan, tapi benar-benar panas. Beberapa pengunjung terlihat merebus telur. “Cukup lama, tapi kami toh bisa berendam selagi menunggunya matang,” ujar seorang ibu menanggapi pertanyaanku perihal aksi ‘perebusan alamiah’ itu. Ia juga memberiku tip mandi nyaman di pemandian ini. Bahwasanya celupan tubuh pertama umumnya terasa sungguh menyengat, namun bertahanlah untuk tetap dalam air sampai suhu tubuh beradaptasi dengan suhu air. Saya tergiur tip sang ibu. Kebetulan, dari kemarin saya belum mandi karena dinginnya air di hotel.

Karena seorang filsuf pernah berujar, nikmatilah selagi kamu bisa menikmati, menderitalah sewaktu kamu harus menderita, maka saya tak peduli betapa petang telah membayang. Saya siap menggigil kedinginan nanti asalkan merasakan kehangatan air saat ini. Saya ingin menyingkirkan debu perjalanan, meresapi pesona tiap tempat yang baru saya kunjungi. Apalagi sekelompok pemuda, dengan gambus kayu menemani saya seraya mendendangkan lagu-lagu daerah. Musik memang membuat rasa sakit hilang, saya merenungkannya disini, di Bajawa, sebuah tempat yang kehidupannya bergerak menyusup di balik percintaan antara dingin dan kabut.

MAU IKUT MENANTANG DINGIN DI BAWAJA?

FACT: Bajawa, -dari kata ‘Ba’ dan ‘Jawa’ artinya Mangkok dari Jawa-, adalah ibukota kabupaten Ngada, terletak di barat pulau Flores, NTT. Waktu GMT +8 atau menurut waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA). Kode area untuk menelefon dari luar Bajawa: 0384.

WHEN TO GO:Saat berkunjung terbaik mulai Juni hingga Oktober. Selain bulan-bulan tersebut, curah hujan di Bajawa sangat tinggi karena letaknya di gunung. Kontak bagian pariwisata setempat (alamat ada di bawah) untuk informasi festifal budaya atau pesta adat. Misalnya, setiap tanggal 15 Januari adalah perayaan Tahun Baru adat desa Langa, pertengahan bulan Juni digelar Tinju Adat desa Soa, 27 Desember upacara Reba di Bena, dll. Sekitar bulan Juni-Oktober pun biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk mengadakan pesta nikah, pentahbisan pastor, komuni pertama - jangan lewatkan karena sangat kental nuansa lokal.

HOW TO GO: Transportasi bisa melalui darat, laut, dan udara. Dari Jakarta, dengan pesawat perintis dan tiba di bandar udara Soa Bajawa atau Ende. Bisa pula terbang ke bandar udara Frans Seda Maumere dengan Lion Air dan Batavia Air, kemudian dengan bus/ mobil (orang Flores menyebut bus/mobil dengan “Auto” sama seperti orang Jerman, keren kan?hehe..).

Opsi lain, dengan kapal ferry PELNI ke pelabuhan laut Ipi Ende, Marapokot Mbay, Labuan Bajo, atau Laurens Say Maumere (jadwal kapal, kunjungi www.pelni.co.id). Untuk mengelilingi daerah sekitar Bajawa, cara paling baik adalah menyewa sepeda motor atau ojek.

WHERE TO SLEEP: Penginapan sederhana –basic accommodation- terdapat di sekitar Jl. Ahmad Yani, misalnya Hotel Edelweiss, Hotel Korina atau Dagalos. Area ini paling strategis sebab Lucas’ Café dan restoran Camelia, warnet, serta Pusat informasi wisata (tel. 0384-21554) juga terletak berdampingan di sekitarnya. Penginapan lain terdapat di Jl. Slamet Riyadi, yakni Hotel Anggrek, Kambera, dan Nusantara. Advice: Lihat dulu keadaan kamarnya ya?

LAIN-LAIN:

Money : ATM Bank BNI (Jl. Pierre Tendean), BRI

Souvenir : Kopi Bajawa (aromanya sedap, dapatkan di pasar), Kain tenun ( dijual di kampung tradisional. Walau motifnya tidak sekompleks dan seindah tenun Maumere atau tenun Ende, tapi saya menyukai monopoli warna kuning terangnya, kinclong!)

Try : Kalau pas musim buah, nikmati kelimpahan Markisa, Alpukat, dan Sawo di pasar Bajawa atau pasar dekat Mataloko. Rasa buahnya sangat kuat serta berukuran jumbo. Best in Flores. Lecker!

Caution : Jangan lupa jacket.

More info : Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada: Jl. Ade Irma 1, Tel. (0384) 2223785.

Tourism Map (klik foto untuk lihat ukuran besar):

8 komentar:

Herikson S.Sitompul mengatakan...

nice story... nice picture..heheee..
bro..bisa minta kode url musik blogx kow... kyakx bgs tuh trh d blog sy..hehe..epang gawang.

Claudia Nasemann mengatakan...

This travel story,though written in Bahasa but helps me so much to arrange my trip plan to Flores.
What an attractive blog.
Keep moving, keep writing.

Best wishes

Claudia Nasemann

Ananda Suciwati mengatakan...

Tempatnya indah luar biasa.
Subhanallah.......
Pingin sekali kesana.
Thanks telah berbagi kisah.

Sugito Mulyadi mengatakan...

KANGEN dengan Bajawa, sejuk dan mungil. Rindu keramahan penduduk dan pasti akan KOPI BAJAWA.

salam dari Jakarta

88fransiskus.nango@gmail.com mengatakan...

melihat dan membacanya, membuat aku ingin pulang... salam dari saya pendatang baru
(nango-tarawaja.blogspot.com)

Anonim mengatakan...

LIKKKKKKKKKKKKKEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE TTTTHHHHHHHHHIIIIIIIIIIIIIISSSSSSSSSSSSSSSSS,, JAAAAAAADDDDDDDDDDDDDDDDDIIIIIIIIIIIIIIII KANGEEEEEEEEEEEEEEEEEENNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN

Karyn Goda mengatakan...

Rindu Pulang Bajawa,, semoga semakin maju dan tetap menjunjung tinggi tradisi dan nilai budaya

itopartner mengatakan...

Bro, blog u jd ref trip sy akhir july ini
Thank you f sharing