Selasa, Agustus 16, 2011

Road Less Traveling: Air Terjun Murusobe - Maumere (Flores)

A Hidden Gem Named
"MURUSOBE WATERFALLS"


MATA anak-anak muda itu mengarah ke sepeda motor Honda Beatku. "Sulit....sulit sekali," kata salah satu dari mereka. Saya menatap matanya, mencari kira-kira seberapa dalam keraguan disana. "Motor kakak tidak sanggup menempuh perjalanan ke sana. Terlalu kecil, jalanan berlubang," akhirnya begitu kalimat pemungkasnya. Sudah kutebak, mereka menyepelehkan sepeda motor imutku.

Saya melempar pandangan ke sekitar. Pasar Tanawawo cukup bergeliat riuhnya. Perempuan-perempuan dengan sarung gelap bermotif kuning kecoklatan hilir mudik. Tampilan mereka lebih teratur dibanding para pria. "Itukah jalan cabang ke Wolofeo?," tanya saya selanjutnya, melirik satu trek kecil di sebelah kanan pasar. "Ya, benar. Setelah itu kakak akan terus mendaki, melewati jalur yang hanya pas untuk satu sepeda motor dengan bongkahan batu atau lubang menganga dimana-mana."

"Saya akan melewati jalan itu," guman saya tak mau memposiskan diri sebagai pecundang. Apakah saya akan memilih mundur gara-gara ocehan anak-anak muda ini? No way! Saya sudah kepalang menghabiskan satu setengah jam berkendaraan kesini, tak ingin saya pulang dengan tangan hampa. Meski sadar, kata-kata mereka bukan sekedar gongongan untuk menakut-nakuti saya. Saya percaya mereka benar, tapi mungkin mereka salah menakar saya.

Mesin motor saya hidupkan lagi, senyum optimis kusunggingkan, " saya coba saja." Seorang lelaki tua yang sedari tadi hanya menonton kami dari belakang, menerobos kerumuman anak-anak muda itu, menggapai sepeda motorku dan berkata, " Memang kondisi jalan jelek, tapi saya kira boleh dicoba. Kalau berhasil, kamulah orang pertama yang sanggup mencapai Wolofeo dengan skuter."

SATU JAM sesudahnya saya seumpama peserta kompetisi motocross AMA Pro Racing tour. Tubuh saya terguncang terus menerus dengan rute tanjakan dan turunan ekstrim berbumbu batu gelondongan, kerikil, lubang sisa erosi, dan pastinya debu. Saya kesetanan, jika tanjakannnya panjang saya menarik gas kuat, pabila menghadapi turunan yang curam dan lama maka saya memencet rem seperti melarikan sebagian besar energi saya ke kedua telapak tangan.

Jawaban " Wolofeo masih jauhh.. ke atas" dari segelintir orang yang berpapasan di sepanjang jalan membuatku gelisah. Sampai kapan saya harus merelahkan kondisi saya terobang-ambing sendirian seperti ini? Saya beberapa kali menghentikan sepeda motor, merenggangkan badan sejenak. Di saat-saat seperti itu, berada dalam rangkulan alam, kutipan petuah-petuah pemacuh semangat dari banyak buku yang kubaca rasanya sangat menolong. Saya tentu terlecutkan gairahku. Ambil contoh mendengungan kembali kalimat ajaib Leo Buscaglia: The person who risks nothing, does nothing, has nothing, is nothing, and becomes nothing. He may avoid suffering and sorrow, but he simply cannot learn and feel and change and grow and love and live, membuatku merasa telah melakukan hal yang benar. Sakit di badan sepadan nikmatnya dengan menemukan bukit berwarna-warni. Saya menjadi-jadi jatuh cinta pada keliaran alam.

PENUNJUK waktu di layar ponselku menampilkan angka 12:21 ketika saya berhenti di depan sebuah bangunan sekolah; SD Inpres Detunaka-Wolofeo. Sampai juga akhirnya. Semestinya air terjun Murusobe terletak di sekitar sini. Saya mencoba menemukan bunyi desau air, berharap saya sudah tak perluh jauh-jauh lagi memacuh sepeda motorku.

Segerombolan bocah mendekati saya, melepaskan begitu saja kesibukan mereka bermain lempar-lemparan bola. Dengan lugu dan ceriahnya mereka mengatakan bahwa saya telah sampai di tujuan pencarian saya. "Sudah, berhenti disitu..!!!," seruh mereka serempak ketika saya meluncurkan motorku menuruni jalan rabat yang kelihatan masih baru. "Motornya di parkir disitu saja. Om harus jalan kaki melewati jalur sebelah kiri ini untuk mencapai air terjun," anak perempuan yang paling dewasa menjelaskan rute menujuh air terjun Murusobe. Tangannya menunjuk pada sebuah path kecil. Wah, baik hati sekali anak-anak ini.

Demi melindungi sepeda motor dari terik matahari langsung, saya berbalik kembali ke sekolah, masuk halamannya, menemukan tempat teduh lantas memarkir sepeda motorku. Menelusuri setapak kecil yang diarahkan anak perempuan tadi, saya semata bisu. Entah kemana suara-suara anak-anak itu, bayangan mereka sama sekali tak kelihatan saat saya menuruni bukit hingga berdiri di tepi sungai. Hanya terdengar riak sungai lalu ditimpali derik ranting maupun dedaunan yang jatuh luruh. Aneh, para bocah itu raib!

Insting menuntun saya mencari jalan sendiri. Sungai yang saya jejaki rasanya bukan sungai yang berhulu pada air terjun. Feeling itu datang begitu saya sehingga saya melewati sungai lalu masuk ke ladang seberangnya. Gemeretak ranting-ranting patah muncul terus. Di tengah hari seperti ini dan berjalan senidirian sebagai orang asing agaknya sedikit membuatku risau, jangan-jangan tempat ini ada 'apa-apa'nya!

Ujung dari ladang ini mempertemukan saya dengan jalan setapak baru. Terdengar gemericik sungai lagi dan saya yakin sekali inilah sungai yang berpangkal pada air terjun Murusobe. Saya berjalan di bawah rindangnya rumpun bambu, menelusuri setapak dengan kemiringan yang membawa saya pada petualangan agrowisata. Pohon-pohon kopi dengan buah yang telah berubah warna memberi keteduhan dan suasana adem. Sekali saya dikejutkan oleh suara 'bisik-bisik' disusul dahan yang bergoyang. Saya mencari bunyi dan gerakan aneh tersebut. Uh, ternyata hanya monyet-monyet hutan tengah berlompat-lompatan di sebuah pohon besar. Saya berharap mereka tidak agresif dan menyerang saya. Apa mata monyet melek terhadap warna merah seperti banteng matador? Mudah-mudahan tidak, saya mengenakan jacket berwarna merah terang soalnya....

LETAK air terjun masih berjarak. Sudah 500 meter sejak menyusuri setapak di lereng kebun kopi tapi ia belum muncul juga. Saya meniti dua bila bambu, seperti jembatan sepanjang sepuluh meter, setelahnya bermain lompat-lompatan dari satu batu ke batu yang lain. Ini ibarat melakonkan adegan serial tv kesayanganku waktu kecil dulu, Wiro Sableng. Biasanya dalam serial itu para pendekarnya melompat-lompat dari satu batu ke batu besar lainya. Kali ini anggap saja saya berperan sebagai salah satu pendekar dengan backpack di punggung. Jika ada skenarionya, mungkin kisahnya tentang seorang pemuda yang hendak bersemedi di gua air. Tapi saya menepis skenario itu, menganggapnya kekanak-kanakan.
Dan taktala menemukan ceruk berbentuk piala dengan dua larik putih di kiri-kanannya, tahulah saya bahwa disanalah air terjun itu. Larik putih yang saya maksud, tak lain-tak bukan merupakan aliran air yang jatuh dari atas tebing. Saya berdiri terpaku diam. Ini pemandangan yang melumerkan semua pengorbanan yang saya pertaruhkan sedari tadi.

Ceruk tebing yang berbentuk piala itu melontarkan saya pada kisah sensasional Dan Brown "da Vinci Code". Barangkali sutradara Ron Howard tak tahu bahwa di Maumere sini terdapat air terjun yang di sembunyikan oleh dinding tebing berwujud mirip Holy Grail.

Air terjun Murusobe adalah air terjun kembar. Saya taksir tingginya nyaris 100 meter. Di musim kemarau seperti ini debit airnya masih lumayan banyak, pastinya dua kali berlimpah apabila musim penghujan. Airnya ternyata sangat dingin. Membasuh wajah dan kaki serta merta menghapus penatku. Karena saya termasuk petualang yang tak cepat puas, saya biasanya suka berlama-lama di obyek yang saya kunjungi. Hal ini berlaku juga di Murusobe, bahkan karena suasana sejuk dan mistisnya membuat saya tidak hanya lahap menyantap bekal tapi juga diberondong kantuk yang luar biasa. Ya, saya pun hanyut dibuatnya. Memejamkan mata dan terlelap selama 45 menit. Benarlah ucapan Leonardo da Vinci, " Water is the driver of Nature."
Saya membuat banyak foto. Walaupun tanpa membawa tripod, saya berupaya menyeimbangkan kemampuan hand-heldku. Untuk menciptakan efek long exposure pada air tanpa dibekali ND Filter, saya menurunkan brightness lalu menyetel speed beberapa kali hingga saya anggap cukup.

SETELAH puas menikmati Murusobe, saya pun meninggalkan lembah sejuk ini. Sesampainya di sekolah, tempat saya memarkir sepeda motorku, bocah-bocah tadi berlarian muncul. Mereka tadinya hendak menemani saya, tapi lantaran saya lama memarkir sepeda motorku, niat mereka pun berubah. Tak apa, toh begitulah anak-anak.

Pulang ke kota Maumere, saya memilih rute yang berlawanan. Setali tiga uang dengan rute kedatangan, kondisi jalannya sama-sama bobrok. Dua kali saya harus melepas sepatu karena harus menyeberangi sungai. Namun saya cukup bangga, ternyata dengan sepeda motor kecilku, saya sanggup menggapai Murusobe.
Mau ikut gila dan nekad menikmati Murusobe? Cukup ikuti kata hatimu...

--------------------------------------------------------
AYO KE MURUSOBE

Hal umum:
Air terjun Murusobe terletak di Kecamatan Tanawawo, Wolofeo. Berada di bagian barat, kira-kira 45 km dari Maumere, ibukota kabupaten Sikka.
How to Go: Dari Maumere dengan mobil/sepeda motor, pilih rute trans Flores ke arah Ende. Sampai di Lekebai (Kec. Mego), anda akan menemukan jembatan ramping panjang bernama jembatan Kaliwajo. Lewati jembatan itu dan langsung berbelok ke kanan jalan.
Terdapat dua rute pilihan: 1. Rute ke pasar Tanawawo. Ini hanya bisa diakses dengan sepeda motor. 2, Rute desa Bhera, sedikit lebih lama treknya tapi kondisi jalan bisa dilalui oleh mobil.
Need to Bring: Bekal makanan.
More Info: Area air terjun tidak terjangkau sinyal ponsel. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah musim kering.



WARNING:
semua Foto adalah produk pribadi. Pemanfaatan untuk kepentingan publisitas komersial tidak diijinkan tanpa pemberitahuan. Thanks.

7 komentar:

Anonim mengatakan...

wah, kirain Maumere cuman punya taman laut! Ada air terjun kembar juga toh....sedeeep! Dah 3 tahun di Maumere taunya cuma tanjung doang hehe
Mas, foto-fotonya keren bener. Tajem banget. Itu foto yg terakhir, gimana sih tekniknya ampe bisa ngambil dari atas ke bawah gitu?? (penasaran mode on).

BTW, salut deh buat jiwa tualangnya. Infonya juga menolong. Kapan2 jalan bareng.
Thanz. Wahyu Aditya.

BERNARD LAZAR mengatakan...

terimakasih kaka infonya,,saya pasti akan kesana . tenkyu . great adventure. hehe

valentino babaputra mengatakan...

@ Wahyu:

Foto terakhir saya buat dengan 11 frame lalu diblend jadi satu.
Kalau Bro punya waktu luang, silahkan kontak saya via email: valentino_mendez@hotmail.com
Senang bisa jalan bareng.

@ Bernard:

Semoga infonya bisa menginspirasi. Terima kasih.

Ricky Mitang mengatakan...

Penasaran sama air terjunnya, tapi level kesulitannya agak menciutkan nyali nih. Kalau bermobil, yang dimaksud itu jalur ke desa Wolodesa?

Ridwan Adoer Kahardian mengatakan...

NGILER, bung memang memiliki jiwa tualang. Rela keluar masuk tempat tersembunyi, nekad, sendirian pula!
Salut dah.

Andy Schichtel mengatakan...

Greetings from Germany/France: Very hard to translate the text but it works. Very interessting words and beautifull pictures. Ure buddy Andy

Ronald Ardyan mengatakan...

thank very much for information and me permission to take some pictures, ....