Selasa, Agustus 23, 2011

Jalan - Jalan ke Le Gouffre - Plougrescant (Perancis)


LE GOUFFRE
MISTISME SEKEPING SURGA
DI UJUNG UTARA PERANCIS


(Artikel ini dimuat di Majalah INTISARI edisi bulan Juli 2011. Demi etika jurnalisme, saya baru menampilkannya disini sebulan setelah diterbitkan INTISARI, editing saya lakukan seperluhnya agar sedikit berbeda dari versi majalah.)


MANA bisa secepat itu pulang ke Paris? Ini sudah di Bretagne, tinggal beberapa puluh kilometer saja hasratku untuk mengunjungi satu area kecil di ujung utara Perancis akan terwujud. Le Gouffre, nama tempat itu. Ia sebuah situs bernuansa mistis, dimana rumah-rumah mungil dibangun pada himpitan batu-batu besar, sensasi alam serta cuaca yang unik melingkupinya. Beberapa saat saja disana konon bisa membuat Anda merenungkan banyak hal.

Itulah sebabnya, diam-diam kurencanakan semuanya sebelum meninggalkan Paris. Kunjunganku ke Saint Brieuc untuk bertemu Frank, seorang sahabat lama, hendak kumanfaatkan pula untuk mengakhiri rasa penasaranku pada Le Gouffre. Ya, Le Gouffre merupakan salah satu tempat impiannku yang belum kukunjungi di Perancis. Namanya pertama kali kukenal sewaktu menonton program wisata di stasiun televisi Jerman, Phoenix. Saya rasa nama Le Gouffre tidak begitu familiar di telinga wisatawan luar Eropa yang berdatangan ke negeri biru. Orang hanya mengenal daerah selatan hingga bagian tengah Perancis. Dalam hati saya malah bersyukur jika kenyataannya demikian, karena itu artinya tak akan ada banyak orang disana. Saya terlanjur berekspetasi bahwa Le Gouffre menghadirkan kesyahduan, bukan kerumunan pengunjung yang melahirkan hiruk pikuk. Mudah-mudahan harapanku tak meleset. 






















Jarak dari Saint Brieuc ke Le Gouffre hanya 98 km. Dengan mengendarai mobil sesuai standar kecepatan berlalu lintas yang ditetapkan, waktu tempunya dua jam atau lebih sedikit. Saya berangkat bersama sahabatku, memakai mobilnya, berdua dengan setumpuk perlengkapan camping memenuhi ruang belakang mobil. Rencananya memang hendak berkemah agar atmosfer kealamiaannya lebih terasa. Selain itu dari Trequier ke Le Gouffre tak ada kereta, yang ada hanya bus umum. Dengan mobil pribadi kan juga berarti bisa stop dimana pun kami mau. Wilayah utara Perancis sudah terkenal akan keindahannya. Walaupun saya fokus ke Le Gouffre tapi terbuka kemungkinan untuk menilik obyek lain.


Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang menyenangkan karena terus melewati daerah pesisir berpemandangan indah, sampailah kami di Plogrescant. Ini adalah kampung yang menjadi pintu gerbang menujuh Le Gouffre. Suasana desa di sekitar sini kental dengan budaya Celtic. Tak dipungkiri, memang penduduk wilayah Bretagne memiliki kaitan erat dengan Celtic, mereka adalah penghuni Bretagne yang cikal bakalnya merupakan komunitas yang berhijrah dari selatan Inggris dan Irlandia. Masyarakat disini memiliki kisah yang panjang sampai akhirnya tunduk dalam kedalautan Perancis. Agama yang dianut memang Katholik Roma tapi spiritualitas mereka memiliki ciri khas tersendiri. Tak heran mereka memiliki banyak sekali orang suci (santo dan santa) yang tak dikenal atau tak diakui oleh Vatican. Contohnya di Plogrescant ini. Ada sebuah gereja berumur ratusan tahun yang arsitekturnya ‘nyeleneh.’ Menara dari gereja yang bernama St. Gonéry tersebut membengkok secara sengaja, bagaikan bangunan dalam cerita-cerita komik yang miring dan bengkok kiri-kanan itu. Lukisan dalam gereja pun ke-komik-komikan. Terkesan jenaka tapi di sisi lain amat mistis. Ditambah hadirnya sebuah tengkorak kecoklatan yang oleh penduduk setempat diyakini sebagai tengkorak St. Gonéry, pelindung rumah ibadat itu. Karena hari sudah sore dan harus menemukan tempat berkemah, kami tak bisa berlama-lama di Plougrescant.

CAMPING du Gouffre menjadi pelabuhan kami mendirikan kemah. Kami membayar 12 Euro untuk menginap disitu permalam, harga yang tak mahal untuk lingkungan perkemahan yang nyaman dilengkapi penyokong listrik, mesin cuci, wc-kamar mandi bersih, tempat cuci piring, dan beberapa fasilitas lainnya. Saya memuji gaya tempat-tempat camping Perancis yang jelas diolah dengan professional. Selalu ada lokasi camping berfasilitas di titik-titik wisata, mau di kota atau di pedalaman sekalipun. Orang-orang Perancis, terlebih anak-anak remaja, gemar berada di alam terbuka. Tak heran bila menjumpai para juveniles, remaja belasan tahun, berkemah di hutan atau pantai. Meski jelas mereka tak lepas dari gaya trendy masa kini namun bila dibandingkan dengan remaja di negara-negara tetangganya, kaum muda Perancis lebih ‘ramah’ terhadap alam (sedangkan -menurut pengamatanku- bangsa petualang modern, Jerman, orang-orang mudanya baru tertarik kepada alam setelah melampaui usia 20-an).

Setelah kemah kami berdiri, saya langsung menyabet kamera dan kabur ke pantai. Sudah jelas, saya tak mampu menahan sabar. Langit luar biasa dramatis, jadi tak perluh tanya, saya ingin mengabadikannya. Namun, baru setengah perjalanan saya mengurungkan niat. Cepat sekali langit berubah jadi gelap. Sepertinya nyali saya agak keder. Lah, daerahnya sunyi bukan main! Yang ada hanya semak ilalang dan bebatuan besar yang membentuk karakter-karakter aneh. Dan jika angin bertiup maka ilalang-ilalang seperti berdesis. Tak ketinggalan burung-burung beterbangan kesana-kemari. Saya tak mengenali apa-apa, termasuk adanya rumah-rumah impian itu. Dimanakah mereka?

Kuceritakan itu kepada Frank, tapi dia malah terkekeh. “ Makanya, baca dulu buku ini.” Ia melemparkan buku panduan wisatanya kepadaku. ”Rumah-rumah itu tidak dihuni orang di musim seperti sekarang ini, jadi tak ada yang menyalahkan lampu. Perihal langit yang cepat gelap, daerah ini memang memiliki kekhasan yakni perubahan atmosfer yang cepat. Kalau beruntung, kita bisa menikmati hujan dan matahari berganti-gantian sepanjang hari.” Saya menyeritkan kening. “Maksudmu, hujan lalu cerah, lalu hujan lagi, kemudian cerah lagi?” Sahabatku itu mengangguk. Olala….

Dengan bantuan alarm dari handphoneku saya bangun subuh sekali. Jam 05.15 pagi dan cicit burung-burung kecil menyemarakan hari baru. Ketika keluar dari kemahku, tetangga sebelah menyapa seraya mengangkat gelas minuman hangatnya. Rupanya sepasang wisatawan muda dari Inggris. Saya melihat kode plat mobil mereka. Orang Inggris sangat jamak berseliweran di Bretagne. Umumnya datang dengan kendaraan mereka yang saya yakin pasti melewati tunnel panjang yang menghubungkan Perancis dan Inggris tersebut. Saya lalu sigap membasuh muka dan memanggul ransel. Di dalamnya telah ada perlengkapan foto, sebotol minuman, dan roti sandwich yang kukepak semalam sebelum tidur. Saya ingin menikmati sunrise di pesisir pantai, bertatapan muka dengan rumah-rumah idamanku.

Apa yang bisa kuungkapkan adalah keterpesonaanku. Le Gouffre menghadirkan view yang menggelora. Awan-awan membentuk formasi memayungi bebatuan yang masing-masingnya juga punya karakter. Langit kemerah-merahan pelan membuka rupa rumah-rumah ‘gila’ itu. Terutama di Castel Meur atau nama lainnya Pointe du Château, rumah yang sudah berkali-kali tampil di kartu pos. Dia sungguh-sungguh elok berada dihimpitan batu, di bawah langit yang bergelora, dan telaga tenang di hadapannya. Pada mulanya rumah ini milik nelayan tapi karena letaknya yang memikat akhirnya sering pindah-pindah pemilik. Terakhir ia akhirnya menjadi milik pemerintah dan jadi cagar budaya dan wisata. Rumah yang modelnya biasa tapi berubah jadi rumah primadona di Bretagne.

DAERAH Le Gouffre dan sekitarnya dihuni mula-mula pada abad ke-6 oleh pelaut imigran Inggris. Mereka hidup disini dan sangat terpengaruh pada Abad Kegelapan (Dark Ages). Hal- hal mistis melekat pada kehidupan mereka. Contoh yang mewakilkan Abad Kegelapan adalah gereja St. Gonéry di Plogrescant. Hingga kini pun mereka tetap mempertahankan mistisisme. Katanya, rumah-rumah batu itu memang sepatutnya tidak terlalu sering dihuni manusia sebab mereka ingin memberikan sebagian waktu bagi roh-roh untuk tinggal di dalamnya. Listrik dan penerangan yang gemerlapan ditabukan. Alasan kenapa rumah diselipkan di bebatuan ternyata bukan saja sebagai tempat perlindungan dari angin badai atau untuk menghemat bahan bangunan. 

Selain itu ada pemujaan terhadap tokoh perempuan bernama Eliboubane, figur yang disangkutpautkan dengan St. Gonéry serta dipercaya sebagai ibu dari orang kudus lokal itu. Satu pulau kecil, Ile Loaven, kerap dikunjungi warga saat pasang surut untuk melakukan pemujaan terhadap Eliboubane. Fakta ini menunjukkan bahwa perubahan peradaban maupun pemikiran-pemikiran rasional belum melenyapkan keyakinan kuno di Eropa, terkhusus di Perancis yang dibilang negara maju dan modern.

Saya menghabiskan pagiku di pesisir Le Gouffre dan seketika kembali ke tenda, Frank tengah menikmati sup hangat. Aku menunjukkan foto jepretanku dengan antusias. Dia mengambil kameranya juga dan gantian memamerkan bidikannya. Kecolongan, kukira dia tidur pulas tadi pagi, ternyata Frank melakukan ekspedisi subuh juga ke pesisir. Ia malah beruntung bertemu dengan pemilik salah satu rumah batu lantas berkesempatan masuk ke dalam rumah itu. Menurut Frank, ruangan dalam rumah tak beda dengan ruang apartemen mungilnya. Tapi suhu dalam rumah sangat stabil, hangat dan dingin bercampur walau hanya punya jendela di satu sisi.

Menjelang tengah hari langit sekonyong-konyong mendung. Itu berlangsung cukup lama, setelah itu kembali matahari bersinar. Tapi saat kami berniat mengunjungi beberapa tempat lain sebelah Le Gouffre dengan harapan siapa tahu bertemu rumah batu unik lagi, mendadak hujan turun dengan deras, padahal langit terang benderang. Meskipun batal pergi, kami toh menyaksikan pelangi yang melengkung putus-putus. Tetangga kami, sepasang pengunjung dari Inggris itu, mengajak saya dan Frank untuk menikmati masakan mereka sambil menonton DVD mengenai pariwisata di Bretagne.

Hujan menyisahkan gerimis hingga hampir jam 5 sore. Menggenapkan apa yang sudah dikatakan orang, bahwa Le Gouffre menghadirkan fenomena cuaca yang unik. Padahal itu membuatku was-was karena saya masih ingin ke pesisir untuk menikmati sunset.

MEMANG benar adanya, situs rumah-rumah batu Le Gouffre berkawan dengan mistis. Bukan hanya mistis yang tercipta oleh kultus setempat tapi juga dari semesta. Semuanya berproses dalam keheningan, dalam ketiadaan. Telaga-telaga yang menggenang memantulkan bayangan benda di atasnya. Saya tak hendak meninggi-ninggikan, tapi Le Gouffre ibarat serpihan kecil pinggiran surga yang terlempar ke bumi dan tersisip di ujung utara Bretagne, utara Perancis. Sampai-sampai saya lupa akan banyak hal yang biasanya kupikirkan. Terbungkam begitu saja.

Meninggalkan Le Gouffre sesudah berkemah disana selama tiga malam rasanya sedikit berat. Tapi saya harus kembali ke jaring laba-laba rutinitas. Di bagian dunia lain yang susah menghadirkan keheningan aneh sebagaimana Le Gouffre. Tak apa, setidaknya saya telah mencicipi sekeping surga dan memberi satu lagi tanda rumput pada daftar Hidden Gem impianku.

***************************************
MAU MENYAMBANGI LE GOUFFRE?
FACT:Le Gouffre adalah sebuah areal kecil di pesisir Plougrescant, di region Cotes de Armor - Bretagne.
WHEN TO GO:Kecuali musim dingin tentunya. Musim semi akan memekarkan bunga-bunga, musim panas membawa kehangatan, atau musim gugur yang bakal mengubah tampilan warna dedaunan.
HOW TO GO:Dari Paris, bisa dengan pesawat maupun kereta. Pilih pesawat Paris-Saint Brieuc waktu tempuh setengah jam. Sampai di Saint Brieuc, pindah ke kereta tujuan Trequier-kota yang terdekat dengan situs Le Gouffre. Opsi lain, pesawat Paris-Lannion, lalu menumpang kereta ke Trequier. Mau berkereta saja dari Paris? Gunakan TGV berangkat dari Montparnasse, memakan waktu 3 jam.
WHERE TO SLEEP: Tidak ada hotel di Le Gouffre, hanya perkemahan dan penyewaan villa. Tapi meskipun namanya perkemahan, tidak hanya berarti tidur di tenda, terdapat bangunan semacam mini house yang bisa dipakai semalam hingga sebulan serta permanen caravan: Camping du Gouffre - Hent Crec'h Kermorvan, 12-14 Euro/malam, Tel. 0296920295. http://www.camping-gouffre.com/
LAIN-LAIN:Caution: Bawa jacket tahan hujan, mengingat fenomena perubahan cuaca di tempat ini.
MAP:
Lihat Peta Lebih Besar

Tidak ada komentar: