Senin, Januari 17, 2011

Jalan-jalan Keliling Flores (Maumere-Part 4)


Gunung Egon


===================================================================

Pulang kampung dan tanpa pekerjaan itu menyedihkan! Terlebih lagi bila salah satu impian besar Anda dibuat beku oleh kejadian di luar ekspetasi. Sadar bahwa masih ada terlalu banyak hal di sekitar yang bisa dialami dan dinikmati selama menyusun Plan B, saya melakukan petualangan keliling Flores dan mengunjungi pulau-pulau di sekitarnya, seperti Lembata, Adonara, dan tentu saja Komodo. Dari usaha meraih puncak gunung hingga menyusup lautan biru, ditemani sepeda motorku “Schnelli” (Kau hebat, Sayang!).

Pahit manis perjalanan juga sedikit permenungan coba kutulis dengan perspektif naifku, seorang Flores yang berusaha bersikap netral. Sunggu maaf, jika kata-kataku dalam kisah berikut menyinggung perasaan atau terbaca ironi atau dirasa menyepelekan beberapa hal yang dikultuskan di Flores. Hanya debulah aku!

============================================================================


Disini Skype belum begitu terkenal. Teknologi ini ternyata ada manfaatnya. Selain bisa chatting lancar walau koneksi internet lelet, bisa juga dipakai untuk mencari kenalan. Katakanlah aku pemain baru di Skype. Maka iseng kucari tahu berapa banyak orang Flores memakai jasanya. Pencarian dimulai. Kuketik Flores di kolom pencarian pengguna. Tentu tidak lupa menyertakan Indonesia karena sadar bahwa Flores terpakai juga sebagai nama wilayah di negeri latin seperti Uruguay, Argentina, Guatemala, Costa Rica, dan tentu saja the Godfather Portugal . Dari pencarian ini tidak begitu banyak nama muncul. Dua orang menarik perhatianku. Gabriela Zimmermann dan G. Kirchbecker. Terasa sangat Jerman. Sebelum menulis sesuatu ke mereka, aku meng-copy pastekan ke Google. Cara yang kerapkali mengungkap identitas seseorang. Google menolongku. Kusingkirkan nama G. Kirchbecker. Dia memang Jerman tapi seorang rohaniawan Katolik. Nanti saja, bila mengalami krisis hidup yang berat, aku akan coba kontak dia. Suatu saat. Tapi mudah-mudahan tidak sama sekali. Gabriela Zimmermann. Bukan biarawati. Puji Tuhan. Disebutkan ia berada di Labuan Bajo. Nama sebuah perusahaan penyelaman menyertai profilnya. Ia tentu seorang penyelam. Dekat dengan laut. Pencinta alam. Itu bayanganku. Layak bukan? Baiklah kutinggalkan beberapa kalimat dalam bahasa Jerman kepadanya. Berharap ketika ia online, kelak akan merespon.

Nyatanya Gabi, nama panggilannya, bukanlah penyelam aktif. Setelah beberapa kali bersua di Skype, kukenal Gabi dengan lebih jelas. Dia itu freelance marketing untuk perusahaan dive yang punya cabang di Labuan Bajo selain Bali dan Papua. Lucunya, Gabi tinggal di Sanur dan baru Labuan Bajo-lah bagian dari Flores yang dia singgahi. Banyak hal ringan yang kami bicarakan. Bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari. Hingga suatu saat ia memperkenalkan aku pada dua orang Belgia, Frank dan Ellen. Dua orang dengan profesi yang berbeda. Nah, soal Ellen, dia akan datang ke Flores dalam waktu dekat untuk memimpin sebuah rombongan wisatawan Belgia. Gabi menghubungkan aku dengan Ellen. Kami lantas berkomunikasi via e-mail juga Skype. Singkatnya Ellen mengajakku menemani rombongannya mendaki gunung Egon. Aku sudah barang tentu mengiyakan ajakan itu. Egon. Ke Egon loh! Sewaktu ke pulau Pangabatang dengan Smith kali lalu, sempat kami terpesona memandang bumbungan asap gunung ini. Waktu itu aku bertanya dalam hati, kapan mendaki Egon setinggi 1,703 itu? Smith menolak dengan berbagai alasan. Yang kutanggkap, ia tidak suka mendaki gunung. Hal yang berbalikan dengannku. Aku cinta gunung, bukit, tempat yang tinggi.

Rombongan Ellen datang seminggu kemudian. Setibanya di Maumere, kami langsung bertemu di Sea World Resort tempat mereka menginap. Tentu Schnelli yang membawaku. Kinclong ia hari ini, kemarin menjalani check up bulanan di Raja Jaya Motor disusul mandi busa di kali Batikwair. Bagusnya semalam sempat gerimis, jadinya hari ini debu Maumere belum melekat pada body Schnelli.

Manfaat chatting dan webcam ternyata positif. Ellen seperti sahabat yang kembali kutemui setelah perpisahan lama. Postur tubuhnya lebih bagus dari yang kubayangkan. Menarik. Dan kuduga ia menyukaiku, “kulitmu bagus,” itu pertanda baik. Tak akan ada masalah dengan rombongan yang dipimpin Ellen, aku diperkenalkan sebagai teman dekat, bahkan Ellen mengibuli mereka bahwa kami telah bersua dua kali. Di Brussels. Edan, tapi aku tidak berkomentar apa-apa. Kalau pun ada diantara mereka yang menanyakan tentang ibu kota Belgia itu, aku siap. Sisi mempesona Brussels adalah arsitektur Art Neauveunya. Itu alasan kenapa tiga kali aku bertandang kesana. Jika lawan bicaraku paham tentang dunia arsitektur, tentu memberi input pengetahuanku.

Karena kami akan ke Egon pagi-pagi maka aku menginap di resort. Atas usaha Ellen, entah bagaimana caranya, aku mendapat kamar bagus juga tropikal prasmanan. Dinner di Sea World enak, dengan angin laut, dengan alunan pertunjukan musik etnis. Tapi breakfastnya Hotel Sylvia – yang di kota, yang baru, yang bintang tiga, yang kolam renangnya lapang, yang berlift, yang kamarnya tak punya lampu baca, yang serambi untuk duduk di luar kamar tak punya kursi- sedikit lebih baik.

kkk

Kendaraan pengangkut kami telat menjemput. Jam karet. Ini Indonesia, Bung. Bukan Eropa. Semestinya take it easy. Bedanya, setelah terbiasa hidup dengan semboyan Punklichkeit, tepat waktu, yang tertanam dalam-dalam seperti chip di otak setiap orang Jerman, maka di negaraku tercinta ini aku uring-uringan jika masalah perjanjian waktu disepelehkan. Ah, aku terus berkutat dengan sindrom Jerman. Tapi tengoklah, untuk Indonesiaku: angka 9 pada kertas Undangan umumnya dipahami sebagai jam 10 atau 11. Dan kata-kata semisal “nanti,” atau “sebentar” bisa berujung pada penantian yang panjang atau sebaiknya dilupakan saja!

Rombongan akhirnya berdiri di rute pendakian setelah berkendaraan selama setengah jam. Kami pun bergerak. Cuaca bagus. Awalnya aku berjalan di tengah-tengah rombongan, sementara Ellen di depan. Sebagai tour leader, meskipun tiga warga lokal juga bertindak sebagai guide tambahan, Ellen terus meracau beberapa hal, bertukar cerita, menyemangati rombongan dalam bahasa mereka, Flemish. Kendati berakar serupa bahasa Jerman, selama pendakian kosa katanya kupahami tidak lebih banyak dari jumlah sila-sila Pancasila. “Bahasa Flemish itu sama dengan Belanda”. Ellen membantah,”Tidak.” Kugoda lagi,”kalian juga serupa orang Belanda.” Dia melotot.”No way! Kami tak sekikir mereka.”

Sejam kemudian posisi kami bertukar. Setengah dari tamu mulai melambat. Maka dipecahkan rombongan menjadi dua, yang dirasa tangguh dan lebih muda usia bergerak lebih dulu bersamaku, sisanya bersama Ellen. Gerakan kami sempat terhenti sesaat guna melakukan ritual ‘tung piong’ atau sesajen bagi roh penghuni Egon. Diberondonglah aku dengan pertanyaan, kenapa praktek animisme masih dilakukan padahal kalian beragama? Bukankah itu menduakan Tuhan?

Dua tamu pria menyerah saat menyentuh batas akhir hutan Eucalyptus. Secara fisik keduanya overweight. Menurut Ellen, sudah ada peringatan sebelumnya bahwa berat badan mereka tak diijinkan untuk melakukan pendakian. Hanya saja mereka bersihkeras. Lelaki atau jantan, predikat jenis ini selalu merasa tertantang. Bahkan ketika ditolak, dilarang, dihentikan, malah kian terlecut.

Selama kuliahku di Denpasar aku nyambi kerja pada travel agency. Guna mempraktekkan bahasa asing sekaligus alternative untuk survive, manut pada prasasti “Bertahan hidup a la mahasiswa rantau” karangan tetangga kos, mahasiswa senior yang sepuluh tahun belum angkat kaki juga dari kampusnya. Dalam posisiku sebagai karyawan ‘all round’ di travel agency itu, sering sekali aku mendaki gunung. Hampir semua atas permintaanku sendiri. Pendakian Batur adalah pendakian gunung paling gampang menurutku. Tidak ada kesulitan apa pun. Gunung Bromo? Itu bukan sebuah pendakian jika ke Penanjakan memakai jeep dan 10 menit waktu terpakai untuk naik tangga ke bibir kawah. Jam terbangku masih belum seberapa. Aku berharap bisa naik Semeru dan Jayawijaya. Omong-omong, bagaimana dengan Gunung Rinjani? Trekking yang melelahkan, pemandangan bagus dan hutan kaya pepohonan tapi belum menjumpai ‘batas antara hidup dan mati’. Gunung Slamet di Jawa Tengah lumayan menggetarkan tapi belum begitu memacu adrenalin. Gunung Egon beda. Memang tak setinggi Slamet atau Rinjani tapi pendakian Egon bagiku tak cuma menguras fisik, tapi juga mental. Ada tiga level kesulitan yang dipunyainya, begini kesimpulanku :

· Level pertama, mulai dari awal rute hingga jajaran akhir pohon-pohon Eucalyptus. Menguras tenaga tetapi pas untuk pemanasan. Namun sampai disini sebaiknya membaca kemampuan fisik karena level berikutnya akan jauh lebih berat.

· Level kedua, selepas hutan Eucalyptus, mulai dari lereng tanpa pohon (hanya ditumbuhi Vaccinium Varingiaefolium dan segelintiran bunga Edelweiss pendek-pendek) hingga bahu lereng. Sengatan bau belerang jelas tercium disini. Kerasnya pendakian terasa bertambah kadarnya ketika naik ke bagian lereng yang sudah sama sekali tanpa tumbuhan. Yang ada hanya batu-batu rawan longsor. Bagian ini kita bakalan kerap meniru gaya Spider-Man alias merayap. Sungguh-sungguh merayap dengan ujung-ujung jari kaki dan tangan mencari topangan! Karena Egon adalah Stratovolcano, gunung berapi curam dan tanahnya merupakan lava dan abu vulkan, maka bila kena air akan licin - kena terik akan rapuh.

Jika sukses meraih bahu lereng, tersenyumlah sejenak karena telah melakukan kerja keras.

· Level ketiga, dari bahu lereng menujuh bibir kawah. Jarak kurang lebih 120 meter. Pendaki berada pada pilihan yang sulit: cukup puas untuk sampai disini atau lanjut. Yang akan di hadapi di depan adalah meniti jurang pada kemiringan 40 derajat. Mental baja paling diperluhkan. Karena bagian yang dititi hanya selebar 20 cm, salah langkah dan kehilangan keseimbangan adalah maut. Apalagi jika berkabut. Cuma sisi kiri jurang yang bisa disentuh tangan.

Posisi jurang yang menukik ke selatan, jelas menandakan arah longsororan ketika terjadi letusan. Aktifitas terakhirnya di awal tahun 2008 lalu memaksa ribuan penduduk sekitar gunung mengungsi, sedangkan empat tahun sebelumnya ia juga menghalau lebih dari enam ribuan jiwa. Tercatat pada tahun 1925 Egon meradang dasyat. Muntahan bebatuan ke pesisir utara, yang daerah itu kini dikenal dengan Wairita, adalah kenang-kenangan kedasyatan Egon.

Aku meniti terus, dan berusaha tak melempar pandangan ke jurang. “Tetaplah memandang ke depan, pusatkan perhatian pada tujuan anda” bunyi tips agar pendakian sukses. Tips yang benar. Pada akhirnya, begitu mata bertemu genangan cokelat kawah Egon, tahulah bahwa aku berhasil. Lalu semua level kesulitan pendakian di atas tersimpan dengan sendirinya dalam memori, tak serta merta lenyap bersama tiupan angin kencang yang menggetarkan kaki. Dalam senyap aubade semesta, nilai perjuangan selama pendakian ternyata lebih tinggi skornya dari pada kekaguman akan pencapaian yang diraih. Barang tentu benar kata orang, proses ternyata lebih kaya makna ketimbang hasil akhir. Gunung- gunung sepintas tak bernyawa tapi mereka menyimpan bara, menyimpan kekuatan, termasuk gunung tak berapi. Gunung tak untuk ditaklukan tapi untuk diraih puncaknya, aku setujuh kata-kata itu.

Lalu apa yang dilakukan orang setelah mencapainya? Hanya satu dambaan jua yang tersisa: turun kembali.



SEMUA FOTO ADALAH MILIK PENULIS
(baca juga kisah perjalanannku keliling Flores sebelumnya.Thanks)

Tidak ada komentar: