Minggu, Juni 08, 2008

Jalan -Jalan ke Paris (Perancis)

PARIS:
C'est la ville
de l'amour












"Salut - comment allez-vouz?
tres bien merci, je m’appelle Edgar

comment ca va?
Je suis faché
Pourquoi?
parce que je t’aime, je t’aime. Je t’aime encore"

Demikianlah cuplikan puisi karya Edgar John Jackson. Ikhwal pertemuannya dengan seorang wanita di kota Paris itu dituangkannya dalam puisinya Love in Paris.

Cihuii…iiii….PARIS!!!!!
Saya yang sedari tadi terkantuk-kantuk di atas mobil sontak gelagapan girang. Bagaimana tidak, setelah menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer, akhirnya saya melihat bayangan menara Eiffel dari kejauhan. Dari atas bukit mobil kami perlahan turun. Waktu itu mulai senja tapi warna langit tidak kemerahan. Putih dan hitam bercinta jadi abu-abu. Dan ramalan cuaca mengatakan Paris akan berawan bahkan mungkin juga hujan besoknya. Musim panas, tapi cuaca tetap tak sepenuhnya cerah.. Tapi itu bukan masalah buatku. Kota ini, Paris, adalah impianku. Setelah sekian lama hanya bermimpi lewat buku, majalah, tv, pada saatnya, kini saya bisa menatapnya langsung. Face by face.

Sebenarnya niat semula bermalam di daerah luar kota, kalau bukan Auxerre ya di Sens, ntar besok paginya baru ke Paris. Itu plan yang direncanakan jika keburu kemalaman di jalan, biar tidak pusing nyari penginapan. Tapi rupanya perjalanan berlangsung sangat mulus, sehingga tiba di Paris belum gelap. Jam 9 malam. Begitulah, yang namanya musim panas, jam 9 malam itu terangnya sama seperti jam 5 sore di Indonesia. Kesimpulannya, musim panas itu memiliki siang yang panjang.

Hati saya sudah gelisah, ngebet mau langsung aja ke kota, ke Eiffel. Pokoknya excited abis gara-gara waktu turuni bukit tadi, saya sudah liat beberapa bangunan yang saya kenal lewat foto-foto di majalah. Tapi eitt…tt sabar, saya harus pintar, Bos. Bahwasannya saya harus menemukan dulu penginapan yang pas sebelum menikmati keindahan kota Paris. Dan, sebagai backpacker, aturannya adalah cari yang hemat n murah. First, no hotel before get a camping place. So, kudu cari tempat camping dulu!!!!
Dari hasil browsingan di internet saya dapat sebuah tempat camping yang strategis, tidak jauh dari pusat kota. Namanya Les Camping D’ile de France – Camping du Bois de Boulogne, yang punya website di www.campingparis.fr dan beralamat di: 2 Allée du Bord de l’eau.
Seturut namanya, lokasi camping ini berada di daerah Bois de Boulogne, kawasan hutan kota Paris dekat gerbang kota Porte Maillot. Stt..t… saya kaget loh waktu tahu daerah itu. Itu adalah kawasan hijau yang terkenal di Paris karena jadi lokasi mangkal para pelacur dan pengguna obat terlarang. Daerahnya yang remang penuh pohon (apalagi musim panas) menjadi tempat begituan. Coba tengok film Da Vinci Code, ketika lari dari Museum Louvre, Dr Robert Landon (Tom Hanks) dan Agent Sophie Neveu (Audrey Tautou) masuk ke kawasan Bois de Boulogne. Perhatikan scene film yang diambil di daerah ini, dimana ada pemakai narkotik serta pasangan yang sedang ahoi-ahoi di semak-semak hehehe…. SENSOR. Stop, jangan panic. Saya juga tidak mau camping di tempat itu buat ngintip orang beradegan gituan hahaha..ha. Lagi pula lokasi campingnya tidak menyeramkan, lapang, aksesnya bagus dan tidak sepi-sepi amat. Karena saya membawa tenda sendiri , jadi saya hanya membayar lahan serta fasilitas pendukungnya (listrik,air,km/toilet,dll). Termasuk pajak senilai 1.20 Euro, per malam saya bayar hampir 15 Euro lah. Di dalam camping place ini sudah tersedia dengan restaurant, mini market, dan bar. Sehingga tak perluh bingung kalo butuh sesuatu. Selain lahan untuk yang bawa tenda sendiri, mereka juga menyewakan tenda mereka. Selain itu ada pilihan lain lagi berupa mobil-homes.

Bangun pagi, berbekal petunjuk-petunjuk (berupa brosur, map, dll) yang saya dapat semalam dari meja reservation dan memperhatikan lagi beberapa keterangan penting yang ditempel di papan pengumuman, saya bergegas menujuh halte bus nomor 244 yang akan membawa penumpang ke stasiun kereta underground di Porte Maillot, lalu naik Metro (kereta) lini 1 menujuh pusat kota. Asyiknya kereta lini 1 ini endingnya langsung di stasiun yang letaknya 100 meter di bawah kaki menara Eiffel. Pas banget kan?






Saya dari Porte Maillot langsung pilih turun di Arc de Triomphe, nama stasiunnya Charles de Gaulle Etoile. Nongol-nongol eh…Arc de Triomphe sudah di hadapan. Senang bukan kepalang. Begitu ticket naik ke Arc de Triomphe-nya dibuka, saya langsung serbu. Di dalam bangunan setinggi 164 kaki itu sendiri ada museum berisikan koleksi batu-batu dan pahatan-pahatan jaman dulu, dan setelah melihatnya beberapa saat saya menuju ke atap, ke puncak Arc de Triomph. Bagian teratas bangunan yang awalnya dibangun oleh Napoleon I demi merayakan kemenangan sekaligus memotivasi semangat juang para prajuritnya ini menawarkan pemandangan kota Paris yang luar biasa. Karena ketinggiannya yang pas membuat mata kita bisa melihat dengan detail setiap bangunan juga mobilitas manusia yang bergerak di kota Paris, memandangi para pejalan kaki yang wara-wiri di sekitar jalan utama Champs Elysees, pusat belanja ngetop yang konon katanya dagangan disini sering menjadi incaran para selebritis dunia. Nyatanya, selama di kota Paris saya tidak bertemu siapa pun. Padahal setidaknya bertemu Anggun, sudah puas tuh (dimana ya rumah Anggun di Paris?). Atau kurang beruntung ya? Nasib….nasib….

Saking sukanya dengan suasana tenang dan indahnya jalanan di kota Paris, saya lanjut ke Place de la Concorde, menara yang berasal dari Mesir tetapi diambil dan dialihkan ke kota Paris oleh orang-orang Perancis.Terus saya belok lagi ke Petit Palais, Galleriee Nat. du Grand Palais hingga hingga nyosor ke Pont Alexander III. Saya lalu jatuh cintrong sama jembatan ini. Bagaimana tidak? Jembatan yang dibangun pada tahun 1896-1900 ini sangat terkenal dengan lampu-lampu Art Nouveau. Bagian-bagian bawahnya yang melengkung, dihiasi dengan dekorasi yang menawan bak jembatan negeri dongeng, Patung-patung malaikat kecil yang berwarna hitam kecoklatan sangat indah karena posenya yang lucu menggemaskan. Bagian depan-belakang jembatan ini ditaruh patung peri dengan kuda bersayap berwarna emas.

Lurus kedepan jembatan ada Place de Invalides, ada Museum Army, dan hotel de Invalides di belakangnya. Bangunannya megah dengan kubah berhiasakan warna-warna emas. Dari sini saya berputar menujuh ke Saint Germain des Pres lalu lanjut ke Katedral Notre-Dame. Tak ada kata-kata selain takjub dan syukur ketika masuk ke halaman tempat sembayang penganut Katolik yang telah berusia ratusan tahun ini. Katedral ini merupakan salah satu katedral tercantik di Eropa. Memiliki menara yang dramatis, dan ukiran-ukiran di pintu depan yang luar biasa. Saya pun rela antri demi masuk ke dalam bangunan yang sudah saya impikan sejak dulu ini. Salah satu pengunjung asing berkata padaku: Climbing the North tower to see Paris from the hunchback Quasimodo's vantage is essential, too. You'll soon understand why Notre Dame is one of Paris' top attractions.” Tapi karena untuk naik ke atasnya lagi harus antre, saya pun urung. Waktu yang ada saya pakai untuk mengitari bagian dalam katedral, mengagumi frame kaca bergaya gothicnya, mencium aroma tua bangunan ini. Saya melihat begitu banyak umat yang datang untuk berdoa, memasang lilin, dan terpaku dalam keheningan pribadi. Walau hanya 5 kali Salam Maria dan 1 kali Bapa kami di depan patung St Theresia Lisieux tapi saya toh sempatkan untuk berdoa. Selanjutnya saya hanya membuat tanda salib di setiap simbol yang saya jumpai. Keluar dari katedral saya setengah hati juga beranjak, masih mau berlama-lama. Saya tertarik kepada burung-burung merpati yang jinak-jinak di sekitar katedral. Lebih terpesona lagi ketika menyaksikan seorang laki-laki paru baya yang dengan santainya dikerubuti ratusan burung gereja. Saya hanya melihat dia menggenggam remah-remah roti di tangannya, begitu tangan itu diangat burun-burung pun datang langsung ke telapak tangannya. Bergegas saya membeli stengah porsi pizza di kafe sebelah kiri katedral. Tapi aneh, kenapa burung-burung gereja itu tidak datang ke telapak tanganku?, jangankan ke telapak tangan, ke arahku pun enggan. Saya jadinya hanya menabur serpih-serpih pizza itu ke kawanan merpati yang juga cuma datang malu-malu, sudah bosan, pizza pun saya lahap semuanya hahaha….

Lepas dari Notre-Dame, kemudian saya menyusuri tepi sungai Seine yang tenang. Sesekali sungai itu beriak ketika kapal-kapal tourist melintas. Sepanjang tepi sungai berbarislah para pedagang kaki lima. Tapi pedagang kaki lima disini unik dan bersih. Dagangan mereka berupa postcard, poster, dan buku-buku bertemakan kota ini baik Paris pada abad pertengahan hingga abad 21. Semua dagangan mereka dipajang rapi disebuah peti kayu lebar setebal 20-40 cm. Kalau sudah malam, peti-peti itu tinggal digembok dan tak tampak sama sekali mengganggu pemandangan. Sewaktu melewati barisan kaki lma ini, saya lantas tertarik kepada poster Che Guavara, begitu melihat gambar revolusioner asal Cuba ini, saya teringat saudara saya yang suka sekali dengan Che Guavara. Dengan 2 Euro, poster merah hitam itu pun pindah ke tanganku.


Menyeberangi Pont Royal, saya diantar ke Museum Louvre. Museum ini namanya jadi kian popular setelah buku karya Dan Brown ‘Da Vinci Code’ laris manis menyusul filmnya dengan judul serupa. Gila, kompleks museum ini besar sekali, Bos. Setelah sampai ke tengah kompleks, berdirilah piramida kaca. Sudah banyak banget pengunjung yang berada di sekitar piramida itu. Otak saya sudah penuh dengan gambaran kisah buku Dan Brown juga gambar-gambar dari filmnya. Ini toh tempat yang menyimpan lukisan Monalisa itu? Untuk masuk pintu piramida itu tidak perlu membayar tiket. Setelah di dalam, saya menemui banyak sekali orang-orang yang mengantri untuk membeli tiket. Pertama-tama saya mengambil boklet informasi untuk mengetahui peta seluruh museum. Nah, tiketnya dibeli dari mesin mesin automaat. Museum Louvre dibagi menjadi tiga bagian dan setiap bagian mempunyai pintu masuk masing-masing (Access). Richelieu Access, Sully Access dan Denon Access adalah ketiga pintu utama. Nah, lukisan Monalisa itu adanya di Denon Access. Ditiap-tiap access diisi berbagai koleksi, mulai dari Oriental antiquites, Egyptian Antiquites, Greek - Etruscan - Roman Antiquites, Lukisan-lukisan, Patung-patung, benda-benda seni Middle Age dan Renaissance, Arts of Islam (dari Iran,Asia Tengah dan India),serta benda seni dan bersejarah lainnya. Setelah Louvre saya ke taman Luxembourg. Bangunannya lumayan sedap dan halamannya menjadi tempat nongkrong yang lumayan ramai.

Ketika mulai senja saya bergegas ke menara Eiffel. Tempat ini diluar ekspetasi saya loh. Kirain ada jalan buat kendaraan yang lewat di antara kaki-kaki menaranya, ternyata bukan seperti itu walaupun jika dirasa-rasa emang bisa dilalui mobil di antara kaki-kakinya. Paris, dengan julukannya sebagi kota cinta nyata sekali terlihat ketika hari mulai senja. Pasangan dari berbagai usia keliatan berasyik mesra. Mmmm..mm jadi pingin,hehehe….Sementara di taman Champ de Mars yang ada di kaki menara Eiffel menjadi tempat tongkrongan yang asyik bagi yang bercinta, bisa tidur-tiduran, duduk berpelukan mesrah sambil menatap Eiffel, pas bener...! Setelah dibuat iri sama beberapa pasangan itu, saya nyebrang ke Chaillot yang menyempurnahkan keindahan Eiffel dengan kolam dan air mancurnya. Sempurnah. Tambah lagi pas malam dan tiba-tiba cahaya berkelap-kelip di badan menara Eiffel, saya seraya mimpi. Glek…kok begini ya? Ternyata menara Eiffel diterangi oleh 352 projektor 1.000 watts dan berkedip setiap sengah jam pada malam hari dengan 20.000 bola lampu dan 800 lampu disko. Supaya membuat menara kelihatannya lebih hidup, 4 lampu laser xenon yang berkekuatan 6.000 watts berputar secara permanen di puncak menara. Sampai jam 12 malam saya masih berada disana, dan ketika pulang, karena jam segitu Metro sudah tak beroperasi lagi, jadinya jalan kaki saja pulang. Lumayan jauh tapi karena suasana kota dengan bangunan-bangunan cantiknya yang diterangi cahaya lampu membuat rasa capek tak berpengaruh, toh saya sempatkan juga masuk ke Mc Donald dan menikmati McChicken favoritku. (Jujur nih,Bos, kalo ke luar negeri dan lapar yang ada di otak saya adalah segera cari Mc Donald, biar kata orang Jerman “Mc Doof” (makanan bodoh/sampah), who cares? Saya memang sering tak enak benar kalo nyoba makanan baru. Dimana-mana rasanya aneh di lidah. Saya pernah nyoba Pizza di Roma, pikirnya pasti enaklah apalagi langsung di negeri asalnya, tahunya buarrrr..rrrr… kok rasanya bikin hilang selerah??? Jujur nih, selama ini di Jerman juga saya ogah makan Wurst (sosis), roti, sup cs. kalau bukan karena terpaksa. Mending ke toko Asia: ada beras, tahu, Indomie, toge, ikan teri juga ada. Ndeso……

Naik Menara Eiffel
Besok paginya saya ke Eiffel lagi. Ha???!! Lagi?? Ya iyalah,Bos…..loe pikir ke Eiffel tanpa naik ke puncaknya itu sudah cukup??? Tidakkkkk!!!
Maka pagi-pagi lepas jam 9 saya sudah turun dari Metro di stasiun Bir Hakeim yang cuma 100 meter dari Eiffel. Lalu dengan mempersiapkan kesabaran saya pun masuk dalam antrean. Anjrittt….sudah sejam kok blum naik-naik juga ? Kaki sudah kesemutan duluan.

Dari sebelum datang saya sudah siapkan Pasport, kata teman, biasanya beberapa obyek wisata memberikan harga diskon pembelian ticket, bisa berdasarkan usia atau berdasarkan status pelajar. Di Eiffel ini saya dapat diskon berdasarkan usia, tiap pengunjung yang berusia dibawah 26 tahun cuma bayar 4 Euro. Tinggal tunjuk tanggal lahir di Pasport kita. Setelah menggenggam ticket di tangan saya pun mencoba berfantasi dengan naik ke lantai dua lewat anak tangga yang jumlahnya sebanyak 1.665. Di lantai dua ini ada café dan beberapa toko souvenir. Namun saya lanjut terus mau ke bagian teratas ke puncaknya. Naik setingkat lagi baru menujuh lift. Dinding lift yang transparan membuat kita serasa berada dalam tabung kaca sebuah slow roket. Sesampainya di atas, pemandangan kota Paris dari sudut ke sudut hingga ke batas langit siap menghipnotis kita. Sedikit mengulas sejarahnya, menara ini dibangun oleh Gustave Eiffel, Maurice Koechlin dan Emile Nouguier serta diarsiteki oleh Stephen Sauvestre. Dibangun dalam rangka pekan Pameran Dunia dan perayaan Revolusi Perancis, menara dengan bendera berkibar di puncaknya. Diresmikan pada tanggal 31 Maret 1889. Meskipun kecaman dan protes yang keras dari penduduk Paris dan kalangan intelektual selama pembangunan, kerangka besi ini menjadi simbol kota Paris dan menarik lebih dari 6 juta pengunjung setiap tahun. Rencana proyek dimulai tahun 1884. Dengan iringan irama protes, pembanguanannya dimulai pada tahun 1887 dan selesai 26 bulan kemudian pada tahun 1889. Berdasar rencananya menara ini akan dirobohkan setelah berlangsungnya pekan Pameran Dunia 1900. Akan tetapi, keberhasilan percobaan transmisi radio yang dikendalikan oleh Angkatan Bersenjata Perancis sebelum hari pemugaran akhirnya menyelamatkan menara Eiffel. Menara Eiffel dibangun dengan jeruji bak sangkar, persis seperti pada struktur tulang paha manusia. jeruji tersebut disusun sepanjang garis gaya yang dapat mengurangi dampak beban atau tekanan. Terdapat 18.038 jeruji yang diperkuat dengan 2.500.000 paku. Kerangka dari karya Tuan Gustave Eiffel ini tahan angin dan walaupun bahannya dari besi, berat menara hanya 7.300 ton.
Dari tanah sampai tiang bendera, tingginya 312.27 meter pada tahun 1889, sekarang 324 meter dengan antenanya. Saat ini, berbagai perusahaan televisi Perancis memasang antena mereka di puncak Menara Eiffel. Dimiliki oleh Pemerintah Daerah Paris dan dikelola oleh perusahaan swasta, "Société Nouvelle de l'Exploitation de la Tour Eiffel", kerangka besi ini direnovasi setiap 7 tahun sekali dan dicat dengan 50 ton cat. Renovasinya digarap olah pekerja yang manguasai olah raga alpinis dan akrobatis.
Di bagian atas ini kita juga bisa mengetahui posisi berbagai Negara di dunia dari menara Eiffel. Ada ratusan bendera negara, dengan melihat bendera itu kita tahu dimana negaranya berada. Yang buat saya bingung, letak bendera Indonesia ada di bagian timur tapi bendera Timor Leste kok di sebelah utara ya?

Waktu terus berjalan, dan harus turun juga dari Eiffel.
Target berikutnya adalah ke Montmartre. Ada apa gerangan disana? Kalau dari pusat kota daerah ini bisa dilihat karena letaknya di ketinggian, maskotnya adalah sebuah gereja basilica berwarna putih yakni Sacre Coeur. Kesana, saya kembali naik Metro. Seharusnya jika ingin lebih dekat dengan Sacre Coeur, kita turun di stasiun Anvers atau di stasiun Chateau Rouge tapi saya memilih turun di Blanche yang lebih jauh. Rahasianya, karena saya mau lihat Moulin Rouge yang letaknya persis di pintu stasiun Blanche. Itu, Bos, sebuah bangunan berbentuk kincir angin yang dicat merah. Moulin Rouge menjadi simbol kehidupan malam dan sex kota Paris. Konon dari sinilah lahir tarian-tarian erotis yang menyebar ke seluruh jagat. Salah satunya adalah tarian Qudrille dengan ciri gerakan angkat rok. Di sekitar Moulin Rouge ini lantas berkembang mejadi kawasan ‘merah’ dengan berbagai sex shop, sex cinema, museum sex dan hal-hal esek-esek lainnya. Ingat kan sebuah film berjudul Moulin Rouge, yg dimainkan dengan bagus oleh Nicole Kidman dan Ewan McGregor? Tapi saya cuma mengambil beberapa foto saja, tidak masuk ke salah satu bangunan disitu (sumpah!).

Jalan mendaki dan berbelok-belok pun ditempuh untuk sampai ke basilica Sacre Coeur.
Dan tak mengecewakan ternyata, bangunan putih yang terletak di atas bukit ini ternyata amat indah. Ada sebuah legenda unik dari bukit Montmartre ini. Alkisah di tahun 287 M, pendeta pertama Paris yang bernama St Denis dipenggal lehernya oleh orang-orang Romawi di bukit itu. Kemudian dengan tenangnya, sang pendeta berjalan menenteng kepalanya yang telah dipenggal tadi ke bawah bukit hingga sampai ke tempat yang sekarang menjadi gereja St Denis. Bukit itu awalnya diberi nama Mons Martyrium dan kini dikenal sebagai Montmartre. Dari kisah tersebutlah kebanyakan masyarakat percaya dari mana nama bukit itu berasal. Basilika ini sendiri dibangunsebagai pelindung kota Paris. Saya tidak masuk ke dalamnya karena begitu banyak orang, tambah lagi dilarang motret di dalam. Maka saya hanya hilir mudik di halaman depannya saja, apalagi dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Paris.

Pulang dari Basilika Sacre Ceour, saya mampir ke pertokoan souvenir, awalnya hanya mau liat-liat. Tertarik ke beberapa baju kaos tapi langsung suka begitu melihat sepasang syal dan topi berwarna merah-hitam dengan tulisan Paris. Saya akhirnya membelinya. Pikirku, buat oleh-oleh setelah jalan-jalan ke Paris. Tapi, saya kemudian merasa geli bercampur kecewa setelah menemukan tulisan Made in China, bukan Made in France yang saya harapkan….hahaha…

PARIS, EST Á VOUS! Begitulah judul cover guide book yang saya peroleh secara cuma-cuma di pos informasi wisata kawasan Champs Elysees. Jika kita memiliki waktu yang cukup lama berada di Paris, setidaknya kita bisa menelusuri Paris lebih detail lewat panduan dari guide book ini. Dari buku yang sambutannya diisi oleh Bertrand Delanoë itu, dituliskan bahwa kota Paris ini punya julukan bejibun, yakni Ville monumentale, ville culturelle, ville romantique, ville gastronomique, ville de la mode et de la creation, Paris est aussi une ville qui bouge, une ville qui ose. Nah, dari buku ini pula, pemerintah kota telah memetakan obyek-obyek wisata berdasarkan nilai dan lokasinya. Ada 12 pilihan, wah…wah……
Mau saya sebutkan satu-satu? Oke;

  • Paris Seine, yang masuk dalam kategori ini adalah bangunan-bangunan yang berada di jalur sungai Seine, yakni jembatan-jembatan (Pont de Bercy, pont d’ Auterlitz, pont de Sully, pont Neuv, pont des Arts, pont du Carrousel, pont royal, passerelle solverino, pont de la concorde,dll), Piscine J baker,Port de Arsenal, Jardin Tino-Rossi.

  • Paris Intemporel, kategori ini diisi oleh Notre-Dame de Paris, Les iles de la Cite et Saint-Louis, Pantheon, Quartier latin, La Sainte- Chapelle, dan Conciergerie.

  • Paris Tendance. Place des Vosges et maison de Victor Hugo, Centre Pompidou, Hotel de Ville, Musee Picasso, Musee Carnavalet, Hotel de Sully, Place du Chatelet, Musee des Art et Metiers, Musee d’Art et d’Histoire du Judaisme, dll dikelompokkan kesini.

  • Paris Vitrine, untuk kelompok ini ada Palais Garnier, Eglise de la Madeleine, PlaceVendome, Place des Victoires, Grand Rex-Les Etoiles du Rex, Palais Royal, Comedie-Francaise, Grevin, Musee Maxim’s, Musee parfum Fragonard, Portes Saint-Denis et Saint Martin.,dll

  • Paris Village, ada Butte Montmartre, Basilique du Sacre-Coeur, Place du Tertre, Moulin-Rouge, Pigalle, Cimetiere de Montmartre, Jardin sauvage Saint-Vincent, Musee Gustave-Moreau, Museum de l’Erotisme, Musee de la Vie romantique, Eglise de la Sainte-Trinite,dll.

  • Paris Artiste, ada Musee d’Orsay, Saint-Germain-des-Pres, Jardin et muse du Luxembourg, Odeon,Tour Montparnasse et Jardin Atlantique, Eglise Saint-Sulpice, Cimetiere du Montparnasse,dll

  • Paris Monumental, versi ini termasuk di dalamnya yakni Champ-de-Mars et tour Eiffel, Trocadero, Invalides, Musee du Quai-Branly, CineAqua-l’aquarium du Trocadero,dll

  • Paris Chic, diisi oleh Bois de Boulogne, Hippodromes d’ Auteuil et de Longchamp, Musee Marmottan-Monet, Musee Dapper, Fondation Le Corbusier, Rue de Passy, Jardin du Ranelagh,dll.

  • Paris Mythique, Arc de Triomphe et tombe du Soldat inconnu, Champs-Elysees, Musee du Louvre, Place de la Concorde, Jardin des Tuileries, Galeries nationals du Grand Palais, Petit Palais-musee de Beaux-Arts de la Ville de Paris, Musee de l’Orangerie, Musee de Jeu de paume, Musee Jacquemart-Andre, Palais-Bourbon, Les Arts decoratifs, Palais de la Decouverte, Parc Monceau,dll

  • Paris Insolite, Bois de Vincennes, Parc Floral de Paris, Chateau de Vincennes, Cinematheque francaise-musee du Cinema, Parc de Bercy,dll

  • Paris Cosmopolite, La Vilette, Parc de la Villette, Canal saint-Martin,Le Plateau-centre d’art contemporain,dll

  • Paris Populaire, Place de la Bastille, Opera Bastille, Place de la Republique, Musee du Fumeur,dll.













4 komentar:

zerlin mengatakan...

kota impian jutaan orang haha. sudah liat monalisa juga donk? kayak gimana sih? boleh ambil foto ga d situ?

valentino babaputra mengatakan...

ngga liat monalisanya,Mbak. Terlalu banyak yg antre soale. Setahuku dilarang moto di gambar monalisa.

Anonim mengatakan...

Hey, I am checking this blog using the phone and this appears to be kind of odd. Thought you'd wish to know. This is a great write-up nevertheless, did not mess that up.

- David

vimax mengatakan...

keren