Jalan - Jalan ke Berlin (Jerman)

BERLIN

Ihr Völker der Welt,
schaut auf diese Stadt!















Sudah lama sekali mau ke Berlin, sebuah keinginan yang terus tertahan oleh beberapa sebab. Tapi akhirnya saat itu pun tiba. Aah….sekarang komplit sudah rasanya! Soalnya berada di Jerman tanpa melihat Berlin serasa timpang. Kurang maknyooo..sss!! Secara Berlin adalah ibukota Republik Federal Jerman gitu loh. Die Hauptstadt von Deutschland!

Selalu seperti yang sudah-sudah: Hal pertama yang harus diperhatikan adalah: where to stay, the road/city map, dan the weather. Lewat internet sudah booking sebuah pension di dekat pusat kota seharga 30 Euro per malam (including dapur dan toilet). Itu sudah murah, hari gini …paling bagus harganya, Om!


Hal kedua yakni peta jalur jalan, sudah oke (soalnya pakai mobil dan total keine Ahnung-lah sama jalur-jalur jalan menujuh Berlin dan yang ada di kota Berlin itu seperti apa).
Hal ketiga yakni soal cuaca, ini yang buat cemas, prakiraan cuaca mengatakan bahwa Berlin bakalan tidak cerah alias cuaca buruk plus angin kencang. Dasar keras kepala, suka bener main hitung-hitungan: “tidak 100% ramalan itu benar, bisa saja cerah kan?” Maka berangkatlah saya pas sorehnya dengan bekal makanan yang cukup (saya suka makan kalau dalam perjalanan, sudah kebiasaan….hehehe…lagian lebih baik memasukkan makanan ketimbang memuntahkannya toh?). 

Selama hampir 4 jam perjalanan, langit memang tidak cerah tapi tidak bisa juga dibilang buruk. Ya..berawan-berawanlah… dan radio mobil kembali memberitahukan cuaca buruk yang akan mengunjungi Berlin besoknya. Di antara lalu –lalang mobil lainnya yang berpelat B (pelat nomor kendaraan untuk Berlin), saya berguman: Cuek sajalah….! Apapun yang akan terjadi program jalan-jalan ke Berlin harus tetap jadi. Furchtbar….!!!!!!

Kota Berlin: Damai Dalam Pluralitas
Kota berlambang beruang ini diperkirakan berdiri pada awal abad ke-13, dan di penghujung Perang Dunia I tepatnya tahun 1918 di kota ini diproklamirkan berdirinya Republik Weimar, yakni sebuah negara yang menyatukan Berlin dengan kota dan desa-desa kecil di dekatnya.

Pada tanggal 30 Januari 1933 partai Nazi yang ditunggangi Adolf Hitler muncul. Nah, aturan partai Nazi ini adalah membinasakan penganut Yahudi yang pada tahun itu di Berlin berjumlah lebih dari 170.000 jiwa.

Jauh sebelum bertandang ke Berlin, saya kerap mendengar tentang isu rasial di kota ini, dikatakan bahwa Berlin adalah kantong rasisme terbesar di Eropa. Ya kira-kira tahun 80-90 -an dengung itu bukan hanya mampir ke telinga saya semata tapi ke seluruh penduduk dunia. 

Kenyataan kini? Warga Berlin yang cosmopolitan tampak adem-adem saja tuh dan cinta damai di tengah kebhinekaan latar belakangnya. Kita bisa menyaksikan sebuah restaurant yang jualan kebab Turki, diapit rumah makan Cina dan bistro penjual pizza ala Italia. Pemandangan seorang wanita berjilbab yang dengan akrabnya berinteraksi dengan biksu berjubah abu-abu, tak terusik oleh lalu lalang orang kulit putih atau hitam seraya menggandeng anjing dan kucing peliharaan. Melihat kenyataan seperti ini amatlah sulit mempercayai bahwa kota ini dihuni oleh kaum rasis.

Melongok beberapa obyek-obyek wisata Kota Berlin

Berlin dengan jumlah penduduk sebanyak 3,5 juta jiwa dalam tampilan kotanya kini sebagian besar dibaluri sejarah Jerman. Mulai dari Germany Empire tahun 1871, Weimar Republic, Nazi, Perpecahan Jerman, lantas reunifikasi pada tanggal 3 Oktober 1990 serta berbagai konflik lainnya. 

Dengan program konstruksi yang rada ambisius, berbagai site dibangun dan diperbaiki di kota ini dengan ciri khasnya sendiri-sendiri. Cita-cita untuk menghidupkan lagi kekayaan kota yang luluh lantak lantaran Perang Dunia II serta penghancuran kota baik di Berlin Barat maupun Timur berkawin pula dengan teknologi jaman kini. Sehingga kita bisa melihat dua sisi dalam tiap bangunannya, bangunan tua yang dipercantik oleh satu dua bentuk modern, sorotan lampu pijar yang mendramatisir bangunan pada malam hari. Yup…..tidaklah sulit, bagaimanapun Jerman adalah negara yang berjaya dalam bidang teknologi arsitektur.

So, mari kita melangkahkan kaki ke beberapa obyek wisata kota Berlin. Disini saya hanya meyampaikan beberapa contoh saja. Sorry Bos…just share. Lagian saya kan bukan pegawai departemen pariwisata hehehe……
  • Reichstag

Well, ternyata ramalan cuaca tidak meleset. Cuaca sudah buruk sejak pagi pertama di Berlin, dan anginnya dasyat benar. Nyaris-nyaris badan saya yang kecil ini terangkat terbang. Saya dan banyak orang lainnya seperti di video klipnya grup band apalah lupa namanya, yang berjalan menentang badai gitu dah hehehe….


But, saat tiba di Reichstag ini saya senang loh, soalnya inilah bangunan yang menurutku paling banyak ada tiang bendera dengan bendera Jerman yang berkibar-kibar. Konstruksi oleh Paul Wallot, pembangunan bermula pada 9 Juni 1884. Bangunan yang kini disebut juga dengan Bundestag ini awalnya dipakai sebagai gedung parlemen selama 39 tahun yakni dari tahun 1894 hingga 1933. Pada tahun 1933 bangunan ini terpaksa invalid karena kebakaran yang luar biasa. Diduga kuat seorang komunis Belanda bernama Marinus de Van Lubbe-lah biang keroknya ( Nah kan….udah dari kompeni, komunis pula, sempurna!!! Tidak cukup sepertinya hanya rusakin Indonesia tuh londo). Reichstag kemudian kembali berfungsi lagi tahun 1999 setelah rekonstruksi yang dipimpin oleh an international architect, Norman Foster.

Di halaman depan bangunan yang bertuliskan sebuah kalimat icon "DEM DEUTSCHEN VOLKE" yang artinya "To the German people" or "For the German people" ini saya berfoto (sudah wajib kan,Om? Permisi….). Pada masa Perang Dingin, bangunan ini physically berada di wilayah Berlin Barat tapi lokasinya cuma satu dua langkah saja dari garis Berlin Timur yang pada tahun 1961 dipagari oleh Tembok Berlin.


Di atas bangunan ini terdapat kubah kaca, dan ini adalah sebuah daya tarik yang besar dari Reichstag. Sebenarnya saya pingin sekali naik kesana tapi demi melihat antrian turis yang panjang di tangga depan, saya jadi urung, mending waktu dipakai buat liat-liat yang lain, Bos. Dari kubah kaca ini kita bisa melihat view kota Berlin dan semakin dipadati pengunjung pas malam hari.

Bagaimana tidak? Selain memiliki pandangan 360 derajat, dari kubah ini kita bisa melihat aula utama Reichstag dengan pengaturan cahaya alaminya yang luar biasa. Disini juga ada pengontrol sengatan matahari. So, walaupun berada di dalam kaca transparan kita tidak bakal kepanasan. Warranted!

Sekedar tambahan, pada tahun 1995, di Reichstag ini pernah mencatat cerita seruh. Sebelum dikonstruksi ulang, bangunan ini dibungkus dengan plastik oleh sepasang seniman asal Bulgaria, Christo dan sang istri Jeanne-Claude. (silahkan klik: Reichstag was wrapped)
  • Brandenburger Tor


Jika kita menonton berita tentang Berlin atau Jerman via televisi, maka kerapkali gambar Brandenburger Tor ini muncul. Brandenburger Tor atau versi Britishnya Brandenburg Gate ini memang sudah lama menjadi sebuah landmark bagi Berlin dan Jerman. Dan lagi, kalau kita menilik ke mata uang Euro, untuk koin pecahan 10 Cent / 20 Cent dan 50 Cent, disana juga terpampang gambar bangunan ini. Dari sebab itu, tiap orang yang datang ke Berlin pasti menyempatkan diri datang kesini. 

Di area ini ada beberapa perempuan imigran dari Eropa Timur yang saya tidak tahu apa maksudnya menanyakan ini - itu kepada para pengunjung. Tapi saya sebenarnya tidak kaget karena kerap menemui seperti ini di kota lain. Sedikit mengganggu, …seperti tingkah pedagang souvenir di Tanah Air yang agresif.


Letak Brandenburger Tor ini hanya 100 meter dari Reichstag, sebelah kanan tepatnya. Ini adalah satu-satunya gerbang kota Berlin yang tersisa. Diprakarsai pembangunannya oleh Friedrich Wilhelm II dan dibangun oleh Carl Gotthard Langhans sebagai symbol perdamain dari tahun 1788 sampai 1791. Terdiri dari 12 kolom Doric, yang masing masing sisi dibagi 6, membentuk 5 jalan masuk bagi mobilitas penduduk. 

Di atas gate ini terdapat patung dewi Victoria dewi kemenangan dalam mitos Yunani kuno yang mengendarai Quadriga. Didesain berdasarkan hikayat Propylaea menyerupai gerbang Acropolis di Athena. Ini sekaligus merupakan cerminan gaya arsitektur Jerman kuno.

  • Holocaust Monument
Melangkahkan kaki beberapa ratus meter ke arah kanan Brandenburger Tor kita akan menemui Holocaust memorial. Ini merupakan sebuah lahan seluas 19.000 m2 alias lebih sedikit dari setengah lapangan bola (lapangan yang ukuran international loh…,Bos) yang dimana dibuat kotak kotak kubus dari beton. Situs ini resmi dibuka pada Mei 2005, genap 60 tahun jatuhnya rezim Nazi. Permukaan tanah dibuat bergelombang, kian ke tengah kian dalam, sehingga kubus-kubus yang jumlahnya sebanyak 2700 itupun kian tinggi.

Saya terkesima dengan bentuk serta pola yang didesain oleh arsitek Peter Eisenmann asal Amerika ini. Lebih dari itu, ini adalah tempat dimana kita bisa mengenang, membayangkan sejenak seberapa kejinya Nazi dibawah kendalai Adolf Hitler mencabut lebih dari 6 juta nyawa kaum Yahudi di Eropa. Suasana yang lengang di atas tempat yang pernah menjadi bunker pembunuhan ini kian mengantarkan kita pada apa yang disebut “Hampa, Kematian, Ketiadaan, Kosong…”



















Posisinya di Tiergarten - Gross Stern, kurang lebih 500 meter, baik dari Brandenburger Tor maupun dari Reichstag. Siegessäule ini dibangun pada tahun 1873 sebagai sebuah peringatan akan kemenangan bangsa Prussia (Jerman) terhadap Denmark, Austria dan Perancis. Dan diatas monument ini berdiri sebuah patung perempaun emas bersayap, Victoria, dewi kemenangan. Makanya Siegessaule yang awalnya berlokasi tepat di halaman depan Reichstag ini dikenal juga dengan sebutan Victoria Collum atau bahasa kita menyebut Kolom Kemenangan. Dari atas monument ini kita bisa melihat pemandangan kota Berlin, yang dibuka selama bulan April hingga Oktober dari jam 9 pagi – jam 1 siang. Tiap tahun disini menjadi pusat Parade Cinta, Love Parade.















Sudah tau kan kalau kepala Negara Jerman adalah Presiden sementara kepala pemerintah adalah Kanselir?.
Yoi, kendati Kanselirnya lebih populer ketimbang sang presiden tapi jika berminat menyambangi tempat sang Presiden, mari kita ke Schloss Bellevue atau Istana Bellevue.

Sama seperti tempat-tempat penting lainnya di dunia, istana berdinding putih keabu-abuan yang posisinya bersebelahan dengan sungai ini dijaga ketat oleh para petugas keamanan.

Tinggal menyebut Spreeweg 1 (demikian alamatnya), maka kita akan menujuh ke istana dengan sebuah kotak surat berwarna merah di depannya ini. Diotaki oleh arsitek Philipp Daniel Boumann pada tahun 1786, aslinya istana bergaya neoclassical ini dibuat sebagai peristirahatan selama musim panas bagi Prince Ferdinand of Prussia adik dari raja Frederick II of Prussia.

Mau merasakan nuansa Berlin di masa Perang Dingin (Cold War)? Mampirlah ke lokasi yang dikenal dengan sebutan Checkpoint Charlie. Berlokasi di pertigaan antara Friedrichstraße dengan Zimmerstraße dan Mauerstraße ( lokasi ini lebih singkat dan keren dibilangWall Street), asal mula nama Checkpoint Charlie ini diberikan oleh Western Allies , kubu militer Amerika Serikat terhadap satu titik perbatasan Jerman Barat dan Jerman Timur (selanjutnya disebut Berlin Barat-Berlin Timur). 

Disini dulunya adalah pos pemeriksaan bagi orang-orang yang melintasi perbatasan Berlin Barat dan Berlin Timur. Amerika Serikat adalah salah satu kekuatan administrativ di wilayah Berlin Barat selain Inggris dan Perancis. Sementara bagi Uni Soviet yang menguasai Berlin Timur menyebutnya Friedrichstraße Crossing Point. Wah, pelik juga…..satu kota dikuasa banyak Negara, Bos!

Nama Charlie sendiri datang dari huruf C yang adalah satu dari fonetik milik NATO ( NATO phonetic alphabet ). So, tentu selain Checkpoint Charlie ada juga pos pemeriksaan lain, misalnya nih Checkpoint Alpha dan Checkpoint Bravo, keduanya di Helmstedt serta di Dreilinden. Cuman yang paling tersohor ya…Checkpoint Charlie ini. Kenapa??? Ini karena pada tanggal 27 Oktober 1961 titik perlintasan ini menjadi tempat tank-tank Uni Soviet berhadapan dengan tank-tank Amerika Serikat akibat suatu insiden diplomatic misunderstanding. Sangar kan..??!

Kendati yang namanya Tembok Berlin sudah cuma sedikit yang tersisah di Berlin (Jangan kira akan sepanjang beberapa puluh meter,Bos. Yang ada cuma sepanjang setengah sampai tiga meteran dan sudah tersebar dibeberapa titik) dan yang ada di Checkpoint Charlie ini hanya sebagian kepingan Berlin Wall atau di lidah orang Jerman menyebutnya Berliner Mauer, tapi pengunjung ramai datang ke tempat ini. Di sini selain ada museum Checkpoint Charlie, juga dijejali toko-toko souvenir Perang Dingin. 

Di tengah jalan masih terdapat pos jaga tentara Amerika dan ada sesi foto dengan beberapa model berbaju tentara AS. Setelah mengisi perut di restaurant yang ada di sampingnya, saya masuk ke salah satu toko dimana menjual postcard bergambar peristiwa peruntuhan Tembok Berlin Di postcard itu ditempeli juga hadiah berupa kepingan Tembok Berlin. Boro-boro beli, saya kepalang tidak percaya jika itu bekas tembok sungguhan. Ya, pikir-pikir namanya juga bisnis, siapa tau itu dibuat-buat saja…hehehe… interessant, aber tut mir leid, Ich liebe mein Geld. !

  • Berliner Dom (Katedral Berlin)













Dengan gaya Italian Renaissance, tempat ibadat ini menjadi gereja utama umat Protestant Berlin. Lucunya, waktu masuk saya tidak sadar membuat tanda salib, setelah itu baru ingat kalau ini bukan gereja Katolik, hehe….



Dibangun antara tahun 1893-1905 oleh Julius Raschdorff, katedral ini rusak total pada Perang Dunia II (1945), dan kini direstorasi secara keseluruhan. Waktu datang, dibagian kubah masih dalam pengerjaan. 




Interior katedral ini luar biasa! Amat artistic! Di ruang bawah tanahnya (Hohenzollern Crypt) terdapat banyak sekali peti berisi abu para bangsawan dulu, diantaranya Raja Frederick I, Frederick William II, dan Pangeran Louis Ferdinand. Rasanya campur-aduk melihat peti-peti mati yang telah berusia ratusan tahun ini. Kita juga bisa menikmati kota Berlin dengan mengitari kubah Katedral ini.








  • Postdamer Platz



































Postdam Square, begitulah versi English dari Postdamer Platz. Hanya berjarak 1 km dari Brandenburger Tor, menjadi square penting di jantung kota Berlin. Inilah tempat yang paling sibuk. Nama Postdam sendiri diambil dari Postdam, sebuah kota yang berjarak kurang lebih 25 km dari kotaBerlin. (Saya juga pernah bertandang ke kota ini, ceritanya entar,Bos..tenang..).

Postdamer Platz dulunya adalah pintu gerbang keluar-masuknya warga dari kota Berlin menujuh Postdam, demikianpun sebaliknya. Setelah seabad tempat ini pun berubah, dari sekedar sebuah persimpangan desa menjadi tempat tersibuk di Eropa.

Lokasi ini pun tidak luput dari terjangan Perang Dunia II dan berlanjut menjadi babak belur pada Perang Dingin ketika Tembok Berlin pun ikut nampang melintas disini. Makanya kini di tempat ini disisahkan eks-tembok Berlin sepanjang 5 meter. Kita bisa kembali mengenang masa lalu ditengah hiruk pikuk.

Setelah berakhirnya Perang Dingin tempat ini pun kembali memancarkan sinar jayanya sebagai tempat yang ramai dan menjadi simbol New Berlin.

Beberapa gedung berasitektur modern nangkring disini dan yang paling menyita perhatian adalah gedung Sony Center, milik perusahaan Sony. Masuk ke gedung ini memberi suasana modern yang luar biasa. Bagian tengah gedung memiliki ceiling yang menawan. Disini pengunjung dibuat berdecak kagum dengan pertunjukan-pertunjukan menarik mengenai dunia cinema. Bahkan disini terdapat elevator tercepat di Eropa tepatnya di Kollhoff Haus. Pokoknya hebat!

  • Kaiser-Wilhelm-Gedächtniskirche

Satu lagi landmark kota Berlin adalah Kaiser-Wilhelm-Gedächtniskirche atau Kaiser Wilhelm Memorial Church. Hancurnya tower gereja serta bagian lainnya menjadi saksi sejarah konflik masa lalu. Berlokasi di pusat komersial, Kudamm shopping street and Eropa Center

Awalnya gereja ini dibangun sebagai simbolisasi persatuan bangsa Prusia (Jerman) oleh Kaiser Wilhem II sekaligus juga sebagai penghormatan bagi sang ayahanda Kaiser Wilhem I pada tahun 1891 – 1895. Hanya tower bagian barat yang rusak itulah yang tersisa dari bom tak dikenal pada November 1943. Namun demikian kita bisa masuk ke bawah tower ini, dan menyaksikan sisa-sisa keindahan gereja ini, seperti mosaik-mosaik di dinding juga di lantai yang sempat selamat dari bom. Kini disamping bangunan ini dibangun kembali gereja dengan gaya modern berbentuk kotak yang berhiaskan kaca-kaca dinding kecil warna biru.

  • Schloss Charlottenburg













Berada di distrik Charlottenburg, area Wilmesdorf, istana ini adalah istana terbesar di Berlin. Dibangun dalam gaya Barogue Italia oleh Arnold Nering, pada awalnya bernama Lietzenburg. Setelah koronasi Frederick III serta istrinya Charlotte pada tahun 1701, Lietzenburg berada dalam dekapan sang Kaiser. 

Sama dengan Schloss Bellevue, istana ini pun awalnya berfungsi sebagai tempat retreat di musim panas. Oleh arsitek Eosander von Göthe, Lietzenburg dikembangkan lagi menjadi tempat yang indah. Setelah mangkatnya sang istri, Frederick menamainya Charlottenburg, sebagai bentuk kenangan bagi perempuannya. Akhirnya hingga kini istana ini bernama Charlottenburg. Karakter bangunan berubah pada tahun 1709 hingga 1712 dengan munculnya menara-menara kecil dan warna oranye pada dinding. Area terbuka dari istana ini kental bernuansa Perancis pada tahun 1700-an lewat sentuhan tangan Simeon Godeau kemudian berbaur lagi dengan naunsa Inggris pada tahun 1800-an.
  • The Olympic Stadium

Mmmm..mmm inilah gelanggang sepakbola yang menjadi saksi bisu bagaimana Gli Azzuri berjaya mengangkat trophy Piala Dunia untuk ke-4 kalinya di tahun 2006 kemarin. Bagaimana dunia menyaksikan insiden tandukan kepala seorang mega bintang Zinedine Zidane ke dada Marco Materazzi.

Dengan langkah yang amat ringan saya menjenguk stadion yang sekaligus menjadi kandang klub sepak bola ibu kota 'Hertha BSC Berlin', tentu setelah membayar karcis masuk senilai 4 Euro.

Kompleks stadion ini dibangun untuk Olimpiade tahun 1936 dan didesain oleh Wernen March. Sebuah Olimpiade pada bulan Agustus dari tanggal 1-16 yang diwarnai dengan nuansa propaganda, slogan-slogan anti Semitic. Moment yang dipakai oleh Hitler untuk mempromosikan wajah Jerman sesuai dengan cita-citanya kepada audiens international. Olimpiade ini berakhir dengan kemenangan Jerman yang meraih 38 medali emas, dan menjadi kali pertama serta satu-satunya kesempatan dimana Amerika Serikat diungguli di sebuah Olimpiade (tahun itu Amerika hanya memperoleh 24 medali emas).





Secara arsitektural, rupa-rupanya Grundwall di bagian barat istana Charlottenburg mengilhami dibuatnya bentuk oval pada stadion ini. Pokoknya dasyat bener, Bos. Lihat rumputnya saja sudah tidak bisa bilang apa-apa lagi. Speechless. Lebih detailnya bisa langsung klik ke: www.olympiastadion-berlin.de

Tidak ada komentar:

Jalan-Jalan ke Nagekeo (Part 1)

Hawa Legawa  Kawa   MERESAPI KEBERSAHAJAAN HIDUP  SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL  DI PUNDAK GUNUNG AMEGELU, NAGEKEO-FLORES P ...