Minggu, Januari 24, 2016

Jalan - Jalan ke Raja Ampat (Papua Barat)

Rapsodi 
RAJA AMPAT


Stand here, dude, before you die.
Aktifitas pasar kecil di tenggara Waisai telah bubar. Pada jam 7 malam seperti ini, hanyalah aroma sayuran, bawang, siri pinang, amis ikan-ikan yang tersisa. Tali perahu nelayan ditambatkan di pepohonan dimana serangga Tonggeret bergerit memecah sunyi. 

Ini ronde ketiga saya mampir ke pasar yang sama, sejak tadi setelah tiba dari Sorong. Kegelisahan saya sekarang  beradu dengan harapan yang terpelihara, untuk satu misi penting: dapatkan kapal join trip island hopping hari ini, atau saya akan terlunta keesokannya. 

Beberapa saat menjelang tiba dari Sorong ke Waisai. 
Seorang perempuan berkerudung muncul dari gelapnya pasar, dan saya tidak ragu memberitahukan kegelisahan saya. “Oh, kakak saya biasa membawa grup ke pulau. Ayo, Dik, kita ke rumah saja. Di depan gerbang pantai WTC itu,” tunjuknya ke arah barat. “Siapa tahu ada tamu besok, kamu bisa ikut,” katanya. Santai sekali, seolah itu hal teramat biasa. Dia tak tahu betapa beruntungnya saya mendengarkan ajakan ramahnya.

Bertualang sendirian atas keputusan spontan dengan tujuan ke Raja Ampat yang digadang sebagai destinasi super mahal, sama halnya perjuangan seorang Ninja amatir. Jika tak sukses, berujung Harajuku, seperti bunuh diri. Tapi saya telanjur menganggap diri  bagai Despereaux, si tikus kecil yang memelihara kenaifan, khilaf, dan tidak punya apa-apa tapi dicengkeram hasrat berkelana begitu kuat sehingga hidup dalam zona nyaman terasa dipasung, terasa hambar datar. Saya tak akan mengelak karena memang, berada dalam sebuah perjalanan di tempat asing sebagai pejalan tunggal selalu membuat kita betul-betul ‘hidup’. Beda dengan bertualang dalam kelompok atau didampingi seseorang. Kita akan merasakan bagaimana indra-indra aktif berjaga; mata  merekam apapun yang terlihat, hidung antusias mengendus mengenali semua bau khas, telinga menangkap segala bunyi asing, tangan dan kaki menuntun badan ke tempat yang sekiranya aman. Otak akan terus dipenuhi pertanyaan, tebakan, ekspetasi, spekulasi, membuat konklusi, hingga meralat rangkaian stereotipe  yang didengar sebelumnya. Kita akan menghafal roman muka warga setempat, gang-gang kecil, nama-nama restoran, bangunan unik atau pemandangan elok yang ditemukan secara tak terduga. Seperti bayi baru lahir dan langsung mawas, semua hal yang terjadi di sekeliling menjadi amat berarti, sebab asyik tidaknya perjalanan dan kelangsungan perjalanan itu -juga tentunya nyawa kita-  tergantung pada bagaimana kita mengenali lingkungan dimana kita berada, bagaimana intuisi kita bekerja. Sepanjang perjalanan kita akan terus mengobarkan keyakinan; bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan akan bertemu orang-orang baik pula. Senyuman dan sapaan hangat, menjadi sangat bernilai, seolah diberikan  signal “tenanglah, kamu aman.”  

Senja di Waisai

Mini Eiffel Tower?? Tidak begitu yakin...hehe

Pohon kelapa yang menjulang tinggi-tinggi
Pak Umar kakak dari perempuan berkerudung yang baik hati itu, menyambut saya dengan bermacam kisah yang ia kumpulkan selama mengantar orang ke pulau-pulau karst Raja Ampat. Tapi perihal mungkin tidaknya saya bergabung dalam trip ternyata belum jelas, lantaran ia masih menunggu kabar dari grup yang kemarin mengontaknya. Anehnya, saya tidak merasa gagal. Saat pulang ke penginapan yang bersebelahan dengan masjid hijau bermenara  kue tart, saya justruh membeli bermacam penganan, namun tidak ingin mengicip satu pun hingga malam mengundang mimpi. Sekitar jam 12 malam ponsel bordering, “Dik, besok bangun jam 5 ya? Kita jadi berangkat. Nanti dijemput di penginapan,” suara Pak…dari seberang.  Oh, saya melonjak girang dan tidak lagi tenang melanjutkan tidur setelahnya!

Air bersih bening bagai kristal. Segeerrrrr....!!

Pulau Pasir Timbul
MELAMPAUI PULAU DEMI PULAU
Laut bergelombang menyambut kami di dermaga. Langit pun tak secerah kemarin. “Jangan kuatir. Paling juga sejam lagi semua akan normal. Bulan-bulan begini memang laut biasa berombak pagi hari,” Pak Umar menghalau risau. Grup kami adalah saya beserta sekelompok mahasiswa yang menjalani masa praktek sebagai guru wilayah Raja Ampat. Anak-anak muda ini merasa penempatan tugas di Raja Ampat adalah salah satu hal menakjubkan.

Kami mampir sejenak di Pulau Saunek yang berada tepat di depan Waisai. Pulau berpasir putih ini dulunya adalah pusat Raja Ampat yang sebenarnya sebelum beralih ke Waisai begitu Raja Ampat dijadikan sebuah kabupaten otonom tahun 2004. 

Pulau Saunek
Dari Pulau Saunek, kapal lantas membela lautan di selatan Pulau Waigeo yang sebagian besar tanahnya masih belum terjamah manusia sehingga tampaklah bagai taman Firdaus yang lebat menghijau. Lautan yang tak tercemar limbah menampilkan refleksi warna nan rupawan.

Whatever you name it. It's paradise.

Siapa yang tidak terpukau lihat beginian cuma dengan snorkeling di dermaga saja???

Menari bersama jutaan ikan
Kapal melaju lagi, kendati kami belum rela pergi dari kerumunan ikan-ikan di Arborek. Bayang-bayang pulau hilir mudik mengisi pandangan. Saya tak mungkin menghitung nusa-nusa kecil yang kami lalui. Mengetahui bahwa wilayah Raja Ampat mencakup lebih dari 1500 pulau sudah cukup menjadikan saya tertegun, benar bahwasanya Indonesia itu Raya, Indonesia itu Gadang. 

Para mahasiswa menembangkan rapsodi lagu-lagu nasional yang bertalu di tengah desau gelombang laut, membuat darah saya berdesir.

MAJESTIC HIKING PIANEMO

Velositas kapal berkurang, tereduksi oleh pemandangan baru yang telah kami tunggu-tunggu. Gugusan karst Raja Ampat yang adiwarna itu nyata-nyata hadir di depan mata. Tapi ini bukan Wayag. Ini adik kembarnya, bernama Pianemo. 

Karst - karst dengan formasi runcing dan tinggi

Trekking santai dari pulau ke pulau....
Agaknya saya butuh pemanasan sebelum Wayag. Lagipula Pianemo tak kalah indah, walau belum begitu popular. Pak Umar bilang, lusa ada grup baru ke Wayag, saya bisa ikut. Jadi, saya punya kemungkinan besar untuk menikmati keduanya sekaligus.

Arah perjalanan ke Pianemo berbeda dengan ke Wayang, dia di barat Pulau Gam sedangkan Wayag nun jauh di utara. Waktu tempuhnya pun berlainan, Pianemo hanya butuh dua jam dari Waisai. 

Star Lagoon, sebuah laguna berbentuk bintang. Warga menyebutnya Tanjung Bintang

View gahar macam ini, dilihat dengan mata langsung-bukan pakai Drone!
Masuk dalam celah-celah tebaran pulau karang Pianemo, mata saya tak ingin terpejam. Bila umumnya saya menyukai pagi dan senja, di Pianemo saya memuja pancaran penuh Sang Surya yang menebar tinta pirus pada laut, menampilkan benderang warna hijau dan biru. Sebelum singgah ke pulau-pulau yang menyediakan jalur hiking, kami terlebih dahulu melaporkan diri ke pos jaga, dimana pengunjung bisa juga menyewa Kano dan menginap. 

How beautiful our country!!!

Terserah,Om. Mau pakai boat, mau kayaking, mau sekalian berenang saja pun boleh, silahkan kelilingi pulau-pulaunya.
Hari itu kami melakukan tiga kali hiking di tiga pulau berlainan.  Saya tak bisa bilang mana yang paling bagus. Masing-masing memberikan persepsi visual yang berbeda. Begitu para mahasiswa berdendang lagi, saya memilih untuk ikut serta dalam rapsodi mereka, menyerukan lirik baru…Lahir di negeri sebesar Indonesia, kenapa takut bertualang…

(few) fans to meet up after the journey : ) at Domine Osok Airport-Sorong

2 komentar:

Baktiar Sontani mengatakan...

Setiap tulisan pasti membuat aku tambah dosa karena timbul IRI... hadeh, tempat ini kayaknya mau diputerin satu tahun loncat2 pulau juga gak bosan-bosan.. atas bawah viewnya gila semua

hans-juergen hopp mengatakan...

memang surga ga bisa lebih indah ....