Senin, Januari 09, 2012

Jalan-Jalan Ke Sumba (Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)


SUMBA
DAN RINDUKU
AKAN SABANA SERIBU KUDA





SETELAH TERPESONA aura magis kampung-kampung adat Sumba Barat, giliran bayangan bentang bukit padang Sumba bagian timur merayuku. Bahkan lebih dari itu, sesungguhnya dadaku sudah disesaki oleh rindu teramat dalam akan Sumba yang eksotis.
Meski Waikabubak dan kampung-kampungnya rimbun menghijau terselingi lenguhan sapi merah mudanya, tapi rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda, yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh, sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua. Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh. Rinduku seperti rindu Taufik Ismail, puisi tahun 1970nya yang bertajuk “Beri Daku Sumba” itu ibarat pecahan magnet dalam rangkai kata.

Memang, di antara semua hewan di muka bumi, kuda adalah kecintaanku paling ulung. Dan sebagai pemuja kesyahduan alam, padang berbukit sepi merupakan satu destinasi paling membuatku addicted. Lansekap demikian kian membuncahkan gelora perjalananku. Jadi, Sumba dengan sabana dan kudanya jelas-jelas masuk dalam kategori “must visited places before I die.”

MENGAWALI PERJALANAN ke Waingapu, saya dan Cabralles terlebih dahulu ‘berjumpah fans’ di terminal pasar Waikabubak. Saya katakana jumpah fans, karena begitu melihat kami memasuki terminal, para sopir maupun kondektur berebutan menyongsong. Secara agresif mereka menarik tangan kami, mendorong, merampas ransel, malah ada yang memotret pake camera ponsel segalah. Sungguh sebuah ketidaknyamanan yang lucu. Saya menganggapnya sebagai awal yang ceria dalam perjalanan menujuh timur pulau yang dulu berjuluk Nusa Cendana ini .

Satu setengah jam berselang, aroma padang pun mulai membumbung. Lepas dari naungan teduh hutan Luku Melolo. Perbukitan nampak berlapis-lapis, timbul tenggelam, yang jauh letaknya terlihat membiru. Gambaran alam berbeda tersebut, melepaskan raga juga atma saya dari wilayah yang sebelumnya penuh nuansa “bernyawa” ke wilayah yang “lengang.” Bus yang kami tumpangi meliuk di lereng bukit, sendiri, menembus angin yang entah dari mana arah datangnya. Kami seolah ‘in the middle of nowhere’, dikelilingi padang semata bahkan burung-burung pun tak kelihatan sama sekali.

Namun ketakbernyawaan itu sesekali dihidupkan oleh kuda-kuda yang, amboi,..begitu menikmati keheningan merumput, melangkah antara lereng berbatu, berkejaran di dekat telaga penggembalaan. Dan gila! Mereka tak bertali, tak berkekang! Bebas begitu saja.
Andaikata saya boleh menghentikan sejenak laju bus ini, berlari ke bukit-bukit dimana kuda-kuda itu berdiri, merabah punggung juga kulit liatnya….

Bisa dibayangkan, saat senja mengambang di bukit-bukit ini, bola matahari menyiratkan kilau emasnya atas pucuk-pucuk ilalang..dan kuda-kuda itu, kawan…kuda-kuda itu, yang hitam buluhnya akan berkilau, yang cokelat buluhnya akan memerah padam, yang putih buluhnya akan menguning…lalu kita tertidur membenamkan tubuh di antaranya…memandang semesta temaram..


“PSSTT…..kita hampir sampai. Lihatlah gerbang menujuh kota yang tinggi itu. Coba tengok di bawah sana, rumah-rumah kota Waingapu tampak bagai ceceran biji perak,” Cabralles berbisik membuyarkan lamunan khas ‘country boy’ku.

Dalam tampilan fisik, Waingapu lebih ‘modern’ ketimbang Waingapu. Lebih kentara menyangkut perbedaan keduanya adalah hawa udara, begitu menyengat disini. Tuntas membayar harga tumpangan bus sebesar 15.000 per orang (nyaris dipalak untuk bayar lebih mahal karena Cabralles yang ‘turis’ katanya), kami berlabuh di penginapan sederhana Hotel Sandlewood yang letaknya tak berjarak dengan pasar kota dan terminal bus. Sebenarnya saya mengapal nama akomodasi lain, Hotel Merlin, namun begitu melihat model luarnya yang ‘worn out’, saya menyeret Cabralles untuk beralih ke Sandlewood.

Baru saja check-in, kami bersua lagi dengan Linda dan Jeniffer, dua remaja Amerika-Austria tetangga kami di Hotel Aloha Waikabubak. Saya tidak melupakan perdebatan keduanya menyangkut agama Marapu Sumba; tentang eksistensi maupun convert issue tersebut.

“Kami akan meninggalkan pulau ini sejam lagi. Kemarin ada pegelaran festival seni. Pesertanya datang dari seantero kabupaten dalam wilayah Propinsi NTT, “ Linda bercerita.
“Fantastis…!! Tarian-tariannya menghentak semangat, dengan derap kaki dan ekspresi curai khas Timur Indonesia. Berbeda dengan tarian-tarian dari Jawa, Bali atau daerah Barat Indonesia yang umunya pelan serta ditampilkan khidmat,” timpal Jeniffer.

“Wah, kalau begitu kami terlambat kemari..,” sesal saya merespon binar mata kedua gadis itu.

Sebuah mobil pick-up masuk ke pekarangan hotel dan tiba-tiba bermunculan berombolan remaja dari dalam salah satu pintu hotel. Rupa-rupanya mereka adalah tim kesenian peserta festival itu, hari ini mereka turut pergi meninggalkan Sumba. Saya hanya menggigit bibir. menyadari bahwa satu dari hukum penting ber-traveling yang masih harus saya hafal yakni jangan pernah berhenti untuk bertanya event-event apa sajakah yang sedang digelar di tempat yang akan/sedang kita datangi.

Kami menelusuri jalanan pusat Waingapu hingga malam menjelang. Iseng menghitung-membandingkan berapa jumlah siri pinang dari satu penjual ke penjual lain di pasar kotanya, membeli jagung bakar yang rasanya sungguh enak tapi cuma dibandrol 1000 rupiah/tangkai, ikutan mejeng di taman kota berpatung para gadis yang siap menuang air (sayangnya tak ada air di kolam itu), kagum memandang patung Yesus Kristus berbalut kain tenun Sumba di depan gereja Katolik Sang Penebus, hingga capek sendiri berputar-putar mencari restoran.







PAGI MENYEBARKAN hangat dan menudungi cakrawala dengan biru benderang. Hari baru yang tampaknya layak diisi dengan menapaki jejak tempoe doeloe Waingapu. Saya dan Cabralles pun sepakat untuk mengunjungi Kampung Raja Prailiu dan Kampung Kelu. Lagipula cuma jalan kaki 10-15 menit dari penginapan, agak di bukit tapi sama sekali tak menanjak.
Pada dasarnya kami tidak begitu banyak mengalokasikan waktu untuk mengunjungi kampung-kampung adat di Sumba Timur karena berasumsi bahwa rupa kampungnya tak akan beda jauh dengan rupa kampung adat di Sumba Barat sana, - maksud kami rumah tradisionalnya-. Hanya saja, saya masih dihinggapi secercah ketidakpuasan manakala bertandang ke kampung-kampung di sekitar Waikabubak. Ini lantaran saya nyaris belum menemukan pahatan-pahatan pada kubur batu yang ‘wow.’ Makanya saya berharap bisa menemukannya disini. Berdasarkan petunjuk dari beberapa narasumber, disebutkan pahatan kubur batu Sumba bagian timur lebih ‘nyeni’ dan ‘berwujud’ ketimbang kubur batu di wilayah barat.
Benar saja. Rumah-rumah tradisionalnya tak beda, malahan yang di seputaran Waikabubak lebih sedap dipandang, termasuk tata ruang kampungnya. Baik Kampung Raja Prailiu maupun Kampung Kelu hanya terdapat segelintir rumah tradisional, itupun beratap seng. Termasuk rumah milik keluarga bangsawannya. Tak apa, orang bijak bilang: tiap lokasi punya sisi plus minus. Nah, di Kampung Raja Prailiu inilah sekeping ketidakpuasanku terobati. Di tengah kampung, sisi kiri jalan berhadapan dengan rumah raja, berdirilah kubur-kubur batu dengan pahatan-pahatan nan artistik dan sudah pasti penuh makna simbolik.

Tengoklah, selain menampilkan wujud manusia, pahatan-pahatan elok di kuburannya menampilkan figur aneka satwa. Misalnya Babi, binatang ini bukan hanya sekedar lambang ternak tapi sekaligus harta. Sementara Ayam menjadi emblem kegagahberanian, Kakatua lambang hidup harmonis, Udang tanda keabadian, Anjing sebagai simbol kesetiaan dan loyalitas, lalu Buaya merepresentasikan kebesaran raja.

(Sampai di bagian buaya, saya sedikit berguyon, “Itu buaya bermakna ganda juga. Salah satunya mungkin sebagai pertanya sang raja termasuk ‘buaya,’ alias punya banyak selirnya.”) Disamping itu sejumlah benda yang dijumpai sehari-hari turut pula dimaknai penduduk lampau. Kelembutan perangi manusia terwakilkan oleh Bulan. Maklumat hal gaib disimbolkan dengan Gong, atau Pedang bermakna kesaktian pemiliknya.



Tak hanya pada kuburan, apresiasi seni kaya petuah tersebut di atas ikut diabadikan pada tenun ikat. Saya memuja kain tenun Sumba Timur (setelah kain tenun dari daerah saya Maumere-Flores, tentunya). Tenunan Sumba Timur berpola besar hingga kecil, mencolok namun menyiratkan keteduhan. Warnanya kontras antara merah, biru indigo, dan hasil percampuran keduanya (dalam takaran serta intensitas pewarnaan tertentu akan menghasilkan warna cokelat, ungu, maupun hitam).

Seorang pria yang hadir menemani kami, bernama Umbu, membentangkan kain tenun yang panjangnya tiga kali lipat dari tinggi badan saya. Luar biasa indahnya. Sungguh tak aneh jika para peneliti juga kolektor seni mancanegara memburunya. Kain tenun Sumba Timur disebut-sebut sebagai “one of the most sophisticated textile creating processes in the world”.

“Di satu kain sebesar ini, selalu ada narasi. Bisa menggambarkan proses tumbuh kembang manusia, salah satu peristiwa penting dalam hidup, maupun ritual agung misalnya Pasola atau penobatan/pernikahan raja,” jelas Umbu.

Ina Ruth, perempuan penenun yang sedari tadi hanya diam, turut membenarkan kata-kata Umbu. “Sehingga kisah yang tertuang di kain tenun menjadi kisah abadi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” pungkasnya. Sekali lagi saya berdecak kagum, kain tenun dipakai sebagai media untuk menyampaikan pesan lelulur bagi anak cucu, hebat kan ide demikian?
Bicara soal kriya, tak berhenti sampai di kain tenun. Sumba Timur juga kampiun dalam hal kerajinan emas perak. Meski usaha bidang ini tak sehidup Kota Gede di Yogyakarta atau Celuk di Bali -karena geliat koordinasi promo pariwisata yang mendukung- tetapi keberadaannya menandakan masih ajegnya seni tempah emas perak ‘made in’ Sandelhout Eiland (nama Sumba dalam versi Belanda). Buktinya, perhiasan bermotif etnik dari logam berharga tersebut gampang sekali ditemukan di Waingapu. Dijamin, antara jejeran kain tenun di tempat penjualan cenderamata pasti ada juga kilap kilaunya.

Perhiasan yang paling popular adalah Mamoli. Berbentuk bela ketupat dengan lubang di tengah, perhiasan ini bermakna kesuburan, dikenakan sebagai liontin. Perlu dipahami, meski terkesan sederhana dan tak begitu rumit dibanding hiasan lain, model bela ketupat bukanlah sembarangan bentuk. Tak tanggung-tanggung ini adalah replikasi Vulva perempuan: pencetus kehidupan- instigator kesuburan!






LEPAS DARI KUBUR BATU, kain tenun, dan buah tangan emas perak, pikiran saya kembali dihantui oleh bayangan kuda-kuda Sumba. Oh, saya ingin ke padang, saya ingin menghirup sensasi Angin Rumput Savanna (film karya Garin Nugroho bersetting Sumba).
Ketika kembali dari Kampung Raja Prailiu, kami melihat banyak kuda dierek masuk ke stadion olahraga kota Waingapu. Beberapa lagi ditunggangi bocah-bocah. Saya girang dan penasaran. Ada apa gerangan disana? Masuk ke stadion, telingah saya menangkap suara derap lari kuda, juga erangan para bocah. Ternyata anak-anak tengah berlatih memacuh kuda.

Jangan bayangkan anak-anak ini memakai penutup kepala beserta kostum seperti dikenakan atlet Larasati Gading. Berbaju apa adanya, tanpa pelindung kepala, bertelanjang kaki, begitu saja, alami. Suara nyaring tiap anak menggelegar bersama deru debu hentakan hewan tunggangan mereka. Ekspresi wajah apalagi, semata mengobarkan ketangguhan. Anak-anak ini, dengan kuda-kudanya, berpadu bagai bermain bersama belahan jiwa.
“Anak-anak kami harus pandai berkuda.” Ama Yeremiah berujar sembari bola matanya tetap awas pada laju tiga bocah. Satu dari tiga bocah itu adalah Robert, putranya yang berumur 11 tahun.

“Kenapa harus?” tanya saya.
“Sumba hanya punya tiga makluk yang tangguh: Manusia, rumput, dan kuda. Keterkaitan ketiganya ditakdirkan seperti piramida, manusia sebagai yang teratas. Bukan berarti hendak menguasai, kami menunggang kuda karena kami ingin memahami dan dipahami kuda.”
“Simbiosis?”
“Kuda-kuda kami bukanlah kuda manja. Kami pun bukan manusia manja. Tapi ketidakmanjaan juga tak datang sendiri.”
“Ini bentuk latihan sinkronisasi?”
“Entahlah kalian menamainya.” Ama Yeremiah menggendong Robert dari punggung kudanya. Anak itu telah berpacuh mengelilingi lapangan sebanyak yang dikehendaki sang ayah. “Lumayan, kalian semakin cepat sekarang, semakin konsen.”
Ayah beranak itu mengelus punggung kuda mereka, mengiringnya berlalu pergi, membiarkan saya yang langsam menarik sari ucapan Ama Yeremiah tadi. Ah, orang Sumba tak akan selambat ini memahaminya.














SAYA BELUM PUAS. Saya masih mau melihat kuda. Saya ingin berjalan di antara ilalang. Cabralles mengusulkan kami untuk keluar dari kota, mencari tempat yang membebaskan uap tubuh. Dengan menyewa ojek, kami minta diantar ke Londalima. Sepanjang perjalanan hidangan pemandangan rumah-rumah yang lebih sederhana antara belukar kering kecoklatan menghanyutkan saya dalam bayangan negeri para jiwa-jiwa kesepian. Kami berhenti tepat di samping sebuah petak taman ziarah yang didiami oleh sebuah patung perempuan berbusana tradisional, menggendong bayi dan sebelah tangan memegang tali gong. Saya mengindentifikasikan patungnya sebagai patung Bunda Maria menggendong bayinya Yesus. Entah benar atau salah, tak ada papan nama, saya hanya berpikir langsung ke patung di halaman gereja kota Waingapu. Duh, tempat ini membungkam siapa saja. Tempat ini pun seolah membungkam dirinya sendiri. Londalima tak menunjukkan diri sebagai tempat dengan pantai yang bagus untuk didatangi. Atau jangan-jangan kami datang di tempo yang kurang tepat. Ini kan pantai di pesisir timur, saat terbaik tentulah pagi hari menyaksikan mentari membiaskan kecemerlangannya.





Kedua tukang ojek agaknya mengerti gundah kami. Dengan sopannya mengusulkan untuk menujuh ke Puru Kambera. Pasir putih, katanya, dan tak seberapa jauh juga. Bolehlah. Kami pun kembali memecah sepinya jalan dengan raungan mesin sepeda motor. Pemandangan sekeliling kian berubah dramatis. Rumah-rumah lenyap, yang berdiri hanya satu dua pohon hijau antara kepungan cokelatnya ilalang dari bukit hingga kaki pantai. Dan, olala…kuda-kuda muncul lagi. Dalam pose lebih menggetarkan lagi. Tak ayal saya meminta tukang ojekku beberapa kali berhenti demi menikmati kerinduan yang terwujud.
Kami sampai di Puru Kambera. Pasirnya sungguh putih dan laut yang sebening kristal. Saya bermain-main dengan ombak kecilnya. Tapi meski secara badaniah saya berdiri di pasir, mata saya tetap liar mencari-cari bukit cokelat. Juga kuda-kuda. Ya, bagaimana lagi? Sulit memungkiri, rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka, di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh. Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda, yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh….







SELESAI….
***
Catatan tambahan:
Dalam perjalanan dari Waingapu kembali ke Waikabubak, kami singgah sejenak di Anakalang- Kabupaten Sumba Tengah- dan mendapati kubur batu yang juga berukir indah. Meninggalkan Sumba di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya. Tambolaka lumayan bagus juga untuk disusuri, kami menghabiskan senja di dermaga Waikelo dan terpaksa menginap semalam lagi di Tambolaka gara-gara flight TransNusa membatalkan penerbangan dengan alasan yang aneh.



RINDU BELAIAN ANGIN SABANA DAN RINGKIK KUDA?
SUMBA TIMUR-WAINGAPU:
Facts: Pulau Sumba kini terbagi menjadi 4 Kabupaten (yang sebelumnya hanya 2). Untuk menelfon ke Waingapu, kode awal 0387. Waktu menurut WITA. How To Go: Kapal laut Pelni (KM Awu: www.pelni.co.id) atau ASDP (KM Ile mandiri, KM Umakalada, KM Cucut). Pesawat, Merpati Nusantara (Kantor waingapu T.038761323. Jl Ahmad Yani 75): Denpasar-Waingapu tiap Senin,Selasa,Kamis,Sabtu atau Batavia Air (kantor waingapu T. 038762633. Jl Ahmad Yani 81) Jakarta/Surabaya/Denpasar/Kupang-Waingapu tiap Senin, Rabu, Sabtu. When To Go: Idealnya bulan Februari-Maret agar sekalian bisa menyaksikan upacara Pasola. Tapi datang saat musim kemarau pun boleh demi memperoleh kesan eksotisnya Sumba Timur. Where To Sleep: Kalala Beach Resort (T.081337873589. Price: 250.000 low season-450.000 high season termasuk 3x makan). Kampung Raja Prailiu, nginap di kampung adat sekalian belajar proses menenun (T. 0387 61773. Price: 200.000 all season termasuk 3x makan). Hotel Sandlewood (T.038761187. Price: start 150-300.000 termasuk sarapan). Hotel Merlin (T.038761300. Price: start 100-250.000). Hotel Elvin (T.038761462. Price: Start 80-350.000 trmasuk sarapan). Where To Eat: Mr. Café Restaurant, Jl. UT Marisi 1 (T.038761605). Ini mungkin tempat makan paling happening. RM Anugerah, Jl. Jeruk 1 (T.038762887).
SUMBA BARAT DAYA – TAMBOLAKA:
Facts: Berpopulasi 285.144 jiwa, kabupaten pemekaran yang jadi pintu gerbang Sumba bagian Barat. How To Go: Informasi penerbangan ke bandar udara Tambolaka (T.03872524157) atau kontak dermaga ferry ASDP Waikelo (T.03872524053). Merpati Nusantara (T.03872524042 Jl.Saputara-Waitabula), Wings Air (T.03872524157. Jl.Bandar udara), TransNusa (T.038022563). Where To Sleep: Hotel Sinar Tambolaka, paling baru dan paling dekat bandara (T.03872524086. Jl. Radamata). New Sumba Resort (T.081339187077, Jl. Dermaga ferry). Oro Bungalow Beach (T.081339110068, Jl.Pantai oro, info@oro-beachbungalows.com).

DiPOSTING @ Januari 2012

KLIK KE SALAH SATU FOTO UNTUK MELIHAT DALAM UKURAN LEBIH BESAR. THANKS

1 komentar:

obat keputihan herbal mengatakan...

thanks informasix..