Senin, Oktober 06, 2008

Jalan - Jalan ke Montecarlo dan Cannes (Perancis)

Montecarlo & Cannes:

Dua Permata dari Selatan Perancis



Dua kota yang sudah sangat popular. Kendati beratus-ratus kilometer jauhnya dari sang bunda, Paris, tetapi nyatanya mereka mampu menyedot perhatian jagat. Katakan saja orang-orang mungkin banyak belanja kota-kota besar dunia, tapi uang mereka pasti jadi lebih tak bernilai jika memasuki dua kota ini.

Montecarlo dan Cannes, di ujung selatan negeri biru, keduanya saling bahu membahu mengambil perhatian para superstar, melonggarkan saku para jutawan.

Bila suatu saat anda datang kesini, temukan diri anda sebagai bagian dari mereka. Walau cukup memandangi deretan kapal mewah atau kelap-kelip lampu casinonya, saya yakin anda pun serasa turut menjadi bintang. Jika tidak bagi dunia, setidaknya buat diri anda sendiri.

***



DULU, dulu sekali…. saya tidak yakin, kota yang letaknya di lereng bukit seperti Montecarlo ini ternyata lebih punya gengsi ketimbang Las Vegas. Begitu pun Cannes yang mungil, sulit meyakini bahwa disinilah tolak ukur sebuah film berkualitas dinilai, film-film sarat makna dan pesan, yang bercerita banyak dan humanis, tidak seperti Hollywood yang penuh fiksi, dar-dir-dor dan hanya mengejar duit.

Berikut adalah sedikit ceritaku, jalan-jalan ke Montecarlo-Cannes….

Monte Carlo

Mataku menalar lagi papan-papan petunjuk berwarna hijau yang mulai sering muncul. Yakinlah, kendaraan saya memang menujuh ke kota Montecarlo. Semenjak keluar dari wilayah Ventimiglia - Italia, rupa-rupanya jalanan tidak seberapa jauh dari laut walau tidak bisa juga dibilang di pinggir pantai. Topografi lintas batas selatan Italia dan Perancis memang penuh dengan pegunungan kapur tinggi-tinggi. Makanya jangan heran kalau kita kerap keluar masuk terowongan. Nyali sedikit ciut, lantaran terowongan-terowongannya rata-rata lumayan panjang, kendaraan kurang sekali hilir mudik. Beginilah, kalau terjadi apa-apa, apakah saya akan mengalaminya jauh dari jangkaun?? Tambah pula rute terus menyisir lereng-lereng yang terjal, melewati jembatan antara satu lereng ke lereng berikutnya yang ternyata membentang bergantungan setinggi sekian ribu kaki.


Mujurlah, seiring munculnya satu per satu bangunan, serta kota-kota kecil komunitas manusia, kekuatiran humane-ku perlahan berkurang. Ya…kita manusia, Bos. Seberani-beraninya kita, keder juga nyali kalau mengalami hal seperti ini.


Dan ketika mataku samar menerawang bangunan-bangunan putih bertingkat di lereng bukit pantai, sadarlah saya bahwa inilah Montecarlo. Kota dibawah kaki lintasan pegunungan Maritime Alps. Untuk masuk ke kota ternyata kita harus menuruni jalanan berbelok-belok yang cukup membuat kepala pening. Rasa-rasanya kok rute seperti ini mirip arena balap Formula 1 ya? Dan perasaan ku itu ternyata benar,Bos. Jalur kota yang menurun berbelok-belok ini masuk ke dalam rute balapan. Jalur ini akan diblokir bila perlombaan adu mobil tercepat itu digelar. Sirkuit Monaco ini merupakan salah satu sirkuit terpanjang dan paling berisiko. Rally mobil yang digelar di Monte Carlo adalah rally awal, sebelum Formula One melakukan tur ke kota-kota lain. Jadi Monte Carlo berposisi sebagai start. Wah, jadi bangga juga nih, walau kecepatan mobil kami tak sebanding tapi serasa pembalap juga hehehe….. tancap gas! Kejar itu ……



Montecarlo (atau kerap ditulis terpisah “Monte Carlo”), punya sebutan lain juga yakni Montcarles. Ini berlaku bagi kaum Occitan. Sementara ras Monéqasque memanggilnya Monte-Carlu. Tidak terlalu significant beda panggilannya. Kepeleset sedikit-sedikit lah…..Tapi nama-nama itulah kita bisa temukan kunci dari mana nama kota ini bersasal. Baik sejarah maupun literal, jelas sekali nama Monte Carlo datang dari Italia, negara tetangga. Lidah Inggris menyebutnya “ Mount Charles” atau jika di-bahasa Indonesiakan menjadi “Gunung Charles”. Nama yang disebut untuk merujuk pada daerah yang masa itu dipimpin oleh seorang raja bernama Charles III of Monaco.


Karena kemakmuran dan popularitasnya, Montecarlo kadang-kadang dipahami secara salah sebagai ibu kota dari negara kerajaan Monaco. Jujur saja, saya pun begitu sebelumnya. Tidak terpikirkan jika mereka adalah satu kesatuan dalam negara Perancis. Tapi rada bingung juga nih, kata orang lagi Monte Carlo itu sama halnya dengan Vatican. Dia disebut sebagai the second smallest independent state in the world setelah Vatican. Nah loh!!!


Anyway, bisa dibilang Monaco ini kalau di Indonesia sama seperti “Daerah Istimewa (DI)” Yogyakarta atau Aceh. Bedanya di Eropa, jika sebuah wilayah disebut istimewa itu artinya mereka punya otonomi sendiri, punya hak-hak istimewa. (Misalnya: Saya kira, embel-embel DI yang diberikan untuk Yogya dan Aceh selama ini bisa jadi cuma pemanis. Maaf, Pak Presiden kalau salah. Ini kan berdasarkan penglihatan saya. Kalau sekarang di negara kita ramai terdengar istilah otonomi, pertanyaannya: seperti apa bentuknya? Realisasinya? Dan ujungnya, apa yang bisa dicapai atau dihasilkan dengan pemberian otonomi itu? Perubahan seperti apa? Wess wes…., jadinya kok membicarakan politik?? -Rapat selesai, forum ditutup.-)


Populasi kota Monte Carlo sendiri diperkirakan tidak begitu banyak, sekitar 3000-3500 penduduk. Seperti yang sudah kita ketahui, Monte Carlo sangat terkenal berkat bisnis casino, perjudian, hal-hal berbau glamour, serta disini kita bisa melihat orang-orang terkenal (swear..!!). Kota Monte Carlo sendiri bukan hanya pusat kotanya saja tapi sudah termasuk bagian seperti Larvotto, Saint Michael, dan Saint Roman.



Monaco mungkin satu-satunya negara di dunia yang tak memiliki masalah lingkungan. Mulai dari situs CIA hingga ke catatan PBB, negara ini tak terdokumentasikan bermasalah dengan polusi apapun. Bahkan asap knalpot pun tak tercium disini. Meski dengan GDP perkapita US $ 30 ribu, penduduk negara Grimaldi tersebut dijamin mampu memiliki kendaraan pribadi.

Jalan-jalan di Monte Carlo, Monaco memang mulus tanpa retakan sedikit pun. Namun tetap saja jarang mobil terlihat di sana. Bahkan dalam jam-jam sibuk sekalipun, penduduknya terlihat lebih senang berjalan kaki. Mengikis jejak emisi karbon yang biasanya banyak dihasilkan dari kendaraan bermotor di kota-kota dunia. Para pejalan kaki memang dimanja disini.

Monaco telah lama dikenal sebagai negara Eropa yang pro lingkungan. Tata kota dengan jalan sempit berkelok diimbuhi tata kota yang apik, membuat penduduknya lebih senang berjalan kaki. Berbanding terbalik dengan biaya hidup yang tinggi, tarif transportasi umum Monaco justru murah. Hanya dengan 1 Euro saya sudah dapat berkeliling negara ini bahkan menyeberang ke Nice, Prancis.Kenyamanan ini berasal dari kebijakan Pemerintah Monaco memberikan subsidi tinggi pada tarif angkutan umum. Hasilnya terlihat pada 2007, saat jumlah pengguna transport umum negara itu meningkat hingga 20 %.

Kebijakan pro lingkungan Monaco juga berlaku lewat peraturan Haute Qualite Environnementale alias Kualitas Tinggi Lingkungan Hidup. Kebijakan ini mengharuskan setiap bangunan di Monaco menghemat 10 persen dari energi yang digunakan. Penghematan ini dihitung terutama lewat pemakaian energi listrik dan konsumsi air. Contoh paling nyata terlihat lewat Gedung Forum Grimaldi tempat konferensi UNEP diselenggarakan. Semua keran air disini bersifat otomatis, yang langsung berhenti saat tangan diangkat dari wastafel. Manajemen antisipasi bencana juga terlihat lewat infrastruktur yang menguatkan tembok-tembok batu karang di seluruh Monaco.

Secara sejarah, Monaco yang dikuasai Dinasti Grimaldi memang dekat dengan isu penyelamatan lingkungan. Pangeran Albert I terkenal aktif dalam pencegahan penangkapan ikan berlebih. Sementara Pangeran Albert II yang kini berkuasa kerap mengunjungi Kutub Utara guna mengecek langsung dampak pemanasan global. Kesadaran lingkungan berpadu dengan kekuatan dana, telah membuat udara, air dan tanah Monaco hampir sebersih hutan perawan.

Well, yang musti dilakukan kalau bertandang ke kota berbendera merah-putih ini (sama seperti warna bendera kita), adalah:

- Pastikan untuk bisa nyelonong ke Casino de Paris (Grand Casino) di gedung Place du Casino. Arsitektur dan dekorasi bagian dalamnya dasyat abis ! Syaratnya umur harus diatas 18 tahun,dan casino ini buka jam 2.00 pagi teng. Trus, dilarang pakai jacket dan ngga boleh buat foto. Pokoke masuk aja walau ngga ada niat buat gambling. Hitung-hitung liat suasananya juga ketimbang cuma liat di TV doang kan ?? PLUS Banyak perempuan cuantikk….

- Pagi-pagi datanglah ke Palais du Prince (Prince Place). Berada di kawasan kota tua, setelah puas liat bangunan yang indah tertimpah cahaya matahari pagi, kita bisa liat proses pergantian penjaga istana atau istilahnya Carabiniers pada jam 12 siang.

- Mau lihat lebih dari 4000 jenis ikan tanpa nyemplung ke dasar laut ? Singgalah ke Oceanographic Museum and Aquarium. Tempat yang sangat bagus buat kita untuk lebih tau fauna air, mulai dari yang kecil-kecil, tuna, dan ada piranha. Mas Tukul pasti ada..hehehe…

- Jardin Exotique (Exotic Gardens). Mampir kesini will make you blue !

Eit…t..jangan ngeras dulu,Bos. Ini adalah taman yang menampilkan berbagai jenis bunga dari seluruh pelosok bumi. Letaknya di ketinggian sehingga kita bisa menikmati indahnya tanaman-tanaman dengan view kota juga tepi pantainya yang ada di bawah. Blue !


- Mau taman yang ada tebing-tebingnya ? Nah, ke Saint Martin aja. Tempat ini punya venue yang bagus untuk liat cliff-side garden yang menawan. Nah tempat ini sudah dekat sama Catedral Monaco. Bisa masuk untuk liat interior bangunan yang dibangun akhir abad 19 ini.

- Berhubung Monte Carlo sangat populer dengan wisata pantainya, maka keterlaluan kalau Bos berada jauh-jauh dari laut. Pelototi berjenis-jenis kapal pesiar mewah dengan design serta karakternya yang bikin diri melamun jadi jutawan !

- Kalau lagi ada perhelatan seperti balap F-1, pastikan dapat tempat yang pas buat mengamati seruhnya lomba kejar-mengejar mobil itu. Tempat yang lebih tinggi, lebih baik.

Cannes

Mendengar nama kota berjulukan "Côte d'Azur" ini serta merta akan membuatku membayangkan anggunnya langkah-langkah para bintang film, kiblatan cahaya ratusan ribu kamera, penghargaan film bermutu, dan….indahnya kota tepi pantai.





















Sebagai focal point for festivals throughout the world and a cultural melting pot, Cannes dengan senyum dan tangan terbuka menyambut anda. Orang-orang sudah lama jatuh cinta pada kota ini dengan vibrant, colourful town and its peaceful way of life. Mulai dari bangsa Roma, Napoleon, Cocteau dan banyak lagi yang lainnya. Mereka menyangjungnya dengan menyebut: ‘bahkan dalam mimpi pun anda tak mampu mendapati kota seindah surga seperti Cannes ini.’


150 tahun yang lampau Cannes hanyalah sebuah kampung nelayan yang tak penting dibahas. Kala itu nama kampung ini belumlah Cannes tapi Canua, yang merujuk pada sejenis rumput liar. Dalam bahasa Occitan : Canas. Namun menjelang abad 20, tempat ini bermunculan hotel serta penginapan mewah, sebut saja nama dua diantaranya, Miramar dan Martinez.








(foto: Hotel Miramar & Martinez)



Kota ini kemudian semakin berkembang dengan ditambahkan sarana publik lainnya seperti sports center, jalur jalan, dana lain-lain yang mennyebabkan kota ini kemudian menjadi tempat peristirahatan yang pas bagi tentara Perancis setelah Perang Dunia I. menyusul menjadi tempat relaksasi bagi mereka yang sebelumnya terlibat dalam perang seperti tentara Jerman, Inggris, lalu kemudian Amerika. Kunjungan demi kunjungan pun meramaikan daerah ini. Dari musim ke musim, winter, summer, autumm, spring. Dan konstruksi-konstruksi gedung penghilang stress serta mesin duit seperti casino pun dibangun di sekitar Palm Beach.



Lalu tentang Festival Film Cannes?

Membahas Cannes tanpa menyinggung perihal Festival Film rasanya lebih baik tak perlu menyebut Cannes sama sekali!

(foto :Theatre Claude deBussy, tempat Festival Film)


Dimulai tahun 1939, Festival Film Cannes merupakan salah satu festival film paling prestisius di dunia. Ia menjadi sejarah dan nadi Cannes. Selama 2 minggu penuh kota ini menjadi sorotan dan kampung para great filmmakers. Selama periode ini tema yang paling dibicarakan adalah film, film, dan film. Disini hadir bukan hanya superstar Hollywood tapi para penggiat indenpendent film pun jumlahnya sama banyak. Festival Film Cannes bahkan disebut-sebut sebagai granddaddy of all film festivals".


Datang ke Cannes pada bulan Mei, adalah saat yang tepat tetapi juga akan mencengangkan anda. Ya, karena pada bulan Mei lah perhelatan Festival Film itu berlangsung. Jangan kaget kalau sesuatu yang sebelumnya tanpa harga, tiba-tiba jadi punya nilai. Ini contohnya : di Hotel Cartlon Nice akan dikutip tarif lebih dari US$30 satu jam hanya untuk nongkrong di kursi pantai ! Emang rada susah dapat lokasi yang bagus tapi tanpa kena biaya pada bulan Mei ini.

Meskipun di sekitar pantai Croisette, bisa menikmati pantai berpasir putih dan bermain-main air, atau duduk-duduk menikmati matahari, tapi kita bakal agak puyeng karena daerah ini dipadati oleh pengunjung. Tapi Croisette bisa jadi incaran anda, ibarat paparazi atau seolah salah satu groupies, kita bisa hilir musik disini memata-matai para selebritis dunia, karena Croisette punya sejumlah cafe yang diminati selebritis.



Apakah Festival di Cannes cuma itu?

Ngga!!!!! Ada juga beberapa yang ngga kalah seruh.

Yakni :

Cannes Lions International Advertising Festival, dibilang sebagai satu-satunya perhelatan bagi kaum kreatif dunia periklanan. Tercatat lebih dari 10.000 delegasi dari 85 negara yang berpartisipasi disini tiap tahun. Dalam festival ini kita bisa menyaksikan lebih dari 28.000 karya iklan kreatif, bisa joinan di lebih dari 50 seminar tentang advertising, dan 25 workshop. So, bagi anda yang tertarik, berbakat, dan merasa hidup anda pantes mati-matian di bidang periklanan, Cannes sudah menunggu, Bos!!! (http://www.canneslions.com).

Carnival on the Riviera, atau dalam bahasa Perancisnya ‘Mardi Gras’ merupakan gelaran karnaval keliling kota. Dibuat untuk menyambut masa Pra- Paskah (Kristen). Banyak tampilan lucu dan unik di acara ini. Biasa diadakan kitaran bulan Februari atau Maret, menurut penanggalan liturgi gereja. Dalam edisi Inggris dibilang Shrove Tuesday atau lucunya diterjemahkan: Selasa Gemuk hahahaha……

The International Festival of Games, diadakan di bulan Februari, event dimana kita bisa menonton atau bahkan berpartisipasi dalam adu otak serta ketelitian semisal bermain kartu, belote, backgammon, catur, draughts, tarot dan permainan otak lainnya.

Festival de la Plaisance (www.salonnautiquecannes.com), adalah pameran/ show kapal-kapal pesiar. Bertempat di Vieux Port, yang paling antusias disini tentu saja para jutawan serta keluarganya. Berbagai perusahaan kapal pesiar mewah memarkir karya mereka disini. Moment ini pun digunakan sebagai ajang perniagaan, jual - beli kapal pesiar. Anda akan geleng-geleng kepala jika melongok satu persatu kapal yang dihadirkan disini.





Kendati berwisata disini agak menuntut biaya, kota kecil Cannes yang menyala saat festival film digelar atau Monte Carlo yang eksotis, bukanlah berat untuk 'ditaklukkan'. Setujuh ?


Salam!

Valentino babaputra

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Montecarlo: NGILER BANGET liatnya,Mas.
seberapa banyak sih casino disana?
Kelihatanya adem banget ya...