Kamis, Oktober 04, 2007

Jalan - Jalan ke Amterdam (Belanda)

AMSTERDAM

Siapa diantara orang Indonesia dewasa yang ngga kenal Belanda? Kalau tidak  kenal, keterlaluan itu orang! Ini dia oleh-oleh kunjunganku ke negeri Belanda. 
Sudah lama memang saya ingin melihat negara kompeni itu langsung, sekalian menikmati obyek-obyek wisata di Belanda.


Anyway, here are my footprints …..

Keluar dari Apeldoom-propinsi Gelderland, mobil kami langsung berseliweran ke pusat kota Amsterdam. Rencananya kami akan nginap di hotel di kawasan Vondelpark, tepatnya di tepi jalan Overtoom. Karena memang tujuan pertamanyanya harus dapat hotel dulu, jadi laju mobil memang tergesa-gesa. 

Tapi, saya sudah exited dan tidak sabaran untuk cepat-cepat menjelajahi isi kota ini. Bagaimana tidak, kotanya memang luar biasa! Hampir semua bangunan telah berusia ratusan tapi tetap kokoh, rapi berdiri menjatuhkan bayangan mereka ke atas permukaan kanal-kanal yang membelah kota. Kota ini seumpama koleksi mainan anak-anak yang terapung-apung. Dimana-mana air!



























Setibanya di Overtoom, hotel yang kami tuju ternyata sudah tidak beroperasi lagi. Ketika kami tanya ke orang-orang sekitar, yang kami dapat adalah ekspresi angkat bahu. Mereka tidak tahu. Wara-wirilah kami di seputaran kawasan itu. Masuk ke setiap hotel yang menempel tanda bintang, targetnya sih dari yang tidak berbintang sampai yang berbintang tiga saja, ngirit, karena Amsterdam terkenal sebagai salah satu kota yang cukup mahal di Eropa. Sialnya, semua incaran kami sudah pada penuh. Sekitar 3-4 hotel berbintang tiga yang kami datangi, mematok harga diatas 150-200an Euro per malam. Ngga deh….!

Hari sudah berangsur gelap, saya mulai cemas. Kalau sampai ngga dapat juga, dimana kami bakal nginap nih?. Saya sudah mengumpati diri sendiri. Kenapa sebelum berangkat tidak hunting dulu akomodasinya di internet? Kan tidak bakalan kelimpungan. Mana lagi harus perhatikan mobil yang kami parkir, karena parkir gratis ½ jam hanya berlaku sampai jam 7 malam. Setelah itu harus bayar 3.50 Euro per jam. Busyet, mahal amat. Pikir-pikir lama-lama bisa kaya juga pemerintah kota dari pembayaran untuk parkir ini. Dari semua kota di Eropa, katanya di Amsterdam-lah biaya parkirnya termahal. Mungkin karena menjanjikan pendapatan tersebut, tidak heran dimana-mana para polisi lalu-lalang memeriksa mobil-mobil yang diparkir orang. Sempat saya melihat seorang turis beradu mulut dengan polisi masalah tengat waktu parkir yang keburu lewat beberapa menit sebelum pemiliknya datang. Setan, jangan sampai kami juga mengalami hal itu!!!
Saya usul kami ke warnet yang mojok di dekat, coba cari di internet. Satu jam klik sana sini, tidak ketemu juga yang klop. Ada yang harganya pas tapi kejauhan dari pusat kota, ada yang strategis tapi kemahalan, full bookedlah, inilah-itulah.

Rasa pegal sudah ke ubun, keputusan terakhir adalah kami harus keluar dari pusat kota dan mencari di daerah sub-urban. Hanya berdasarkan instinct and feeling, akhirnya mobil keluar lagi dari kota. Dalam hati saya berharap  agar menemukan tempat untuk istirahat. Badan ini sudah penat lantaran perjalanan jauh dari Jerman. 

Mobil belok ke daerah Zandaam setelah hampir sejam lebih bergerak. Daerah ini letaknya di sebelah barat daya Amsterdam. Puji Tuhan, waktu sudah nyaris menunjukkan angka 10 ketika kami berhenti di halaman depan Bastion Hotel. Harganya 80an Euro/malam, standard bintang 3. Memang lebih murah 2x lipat dari hotel-hotel di kota yang kami tanyai sebelumnya. Fasilitasnya sangat lumayan, plus tersedia internet gratis. Rujukan info tentang wisata negeri Belanda pun makin banyak kami dapat dari brosur-brosur yang nangkring di box pintu masuk. 

Setelah mandi, saya langsung mencari sesuatu untuk dinner. Karena letaknya di pusat kota sekaligus menjadi gerbang menuju Amsterdam, saya tidak kesulitan mencari makanan cepat saji. Lalu malam pertama di Belanda pun bisa saya lewati dengan tidur pulas. Hari-hari selanjutnya bakal menjadi hari-hari petualanganku yang baru.

Replika Kapal Dagang VOC : Jejak Sejarah Penjajahan Negeri



























Sebelum masuk ke kota Amsterdam, otomatis kita harus mampir atau melewati Cental Station atau stasiun pusat. 

Disitu nongkrong semua jasa transportasi dari dalam dan dari luar kota. Jika anda menekuri kawasan di sekitar central station ini, maka ada satu obyek yang wajib kita kunjungi sebagai orang Indonesia, yakni tempat mangkalnya replika kapal dagang VOC. Saya coba kita ingat-ingat pelajaran sejarah jaman SD dulu. Dengan kapal semacam inilah VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 melakukan monopoli perdagangan di Asia. Markas besar VOC adalah di Batavia or Jakarta sekarang. 

Walau cuma badan dagang tapi VOC memiliki hak istimewa karena mendapat fasilitas dan wewenang dari negara,semisal: memiliki tentara sendiri, bernegosiasi dengan negara lain, mengeluarkan mata uang sendiri, memungut pajak, mengadakan perang,dll. Bayangkan ya, dengan kapal sepanjang kira-kira 6 meteran ini, kekayaan Nusantara di boyong ke Belanda. Bayangin juga, gimana kapal-kapal ini beriringan muncul dari laut lepas jaman dulu.

Antara Belanda, Indonesia, dan Suriname

Terminalogi “Belanda” yang kita sebut ternyata diambil dari bahasa Portugis: Hollanda, yang lalu kepeleset menjadi Belanda. Mmmm…orang Indonesia memang kreatif ya…jago bikin nama-nama baru. 


Harafianya Belanda bernama “Koninkrijk der Nederlander”,atau Kerajaan Tanah-tanah Rendah. Seperti yang sudah tersirat ‘n tersurat dalam sejarah bangsa kita, Belanda adalah negara yang paling lama menduduki Indonesia (350 tahun - bahkan lebih kali yee…), dan baru mau mengakui kedalautan Nusantara tanggal 27 Desember 1949, namun kini akhirnya mengakui bahwa Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia adalah koloni Belanda yang paling termasyur, disamping Suriname

Mengenai Suriname, negara ini terletak di Amerika Selatan, bersebelahan sama Brasil dan Guyana. Kerap dipanggil dengan “ West part of Indonesia”. Punya hubungan sejarah yang erat sama Indonesia, khususnya sama saudara-saudara kita di pulau Jawa sono, soalnya penduduk Suriname ini berasal dari Jawa yang diboyong para londoh antara tahun 1890-1939. Sampai generasi sekarang pun, mereka mengakui benar kalau tanah leluhur mereka tuh adalah Indonesia. Nah loh, berapa kali sih orang Indonesia menyebut nama negara ini, atau berapa banyak orang kita yang tahu ikhwal Suriname?? Siapa tahu, masih saudaraan…..


Indonesisch Restaurant
Hadirnya restaurant masakan Indonesia di Amsterdam adalah satu dari representasi negara kita di Belanda. Restaurant-restaurant yang rata-rata semuanya memakai nama berbau Indonesia hadir di hampir semua penjuru kota. Sumpah saya shock, melihat list harga dari menu yang dioffer. Satu piring Nasi Goreng dihargai 14 Euro, itu sama dengan Rp. 154.000! Saya tidak bakal beli nasi sepiring dengan harga segitunya. 

Namun bila tetap ingin makan masakan Indonesia, saya saranin nih, kamu masuk saja ke restaurantnya orang Suriname. Dijamin tidak nyesal. 90% makanan yang mereka masak itu bercita rasa Indonesia, nama-nama masakannya pun pakai bahasa Indonesia, model restaurantnya pun serupa kayak warung jawa,dan muka mereka pun familiar, seolah makan di negeri sendiri, yang beda cuma mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. 

Kembali ke restaurant Indonesia nih, ketika saya melongo ke dalam memang saya lihat wajah-wajah pribumi, tapi sewaktu saya mengajak berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, tidak nyambung!! Mereka tidak  bisa berbicara “mother language”nya. Saya jelas heran, apalagi kebanyakan yang saya jumpai adalah orang-orang muda. Kemudian saya tahu mereka itu anak adopsi, sejak usianya masih amat kecil, mereka sudah dibawa ke Belanda. 


Museum Madame Tussaud
Saya merasa beruntung karena Amsterdam menjadi salah satu tempat parkirnya museum Madame Tussaud. 

Selain di Amsterdam, museum ini punya cabang di 6 kota lain di dunia yakni: London (Inggris), Las Vegas-New York-Washington DC (USA), Shanghai (China), dan Hongkong. Museum Madame Tussaud di Amsterdam ini cukup menghadirkan banyak patung dari orang-orang terkenal dunia. Walaupun tidak sebesar pusatnya di London tapi sosok-sosok dalam bentuk patung lilin dari para pemimpin negara,tokoh agama dan politik,seniman,bintang film,penyanyi,dan atlet lumayan banyak disini. Katanya Madame Tussaudnya Amsterdam lebih unik ketimbang yang lain, karena dia memiliki ruangan-ruangan yang berisi patung biorama kehidupan orang Belanda jaman dulu, terus ada lagi ruangan yang dibuat seperti lorong-lorong saja. Ruangan ini bisa dinamai ruang angker,soalnya pengunjung disuguhi patung-patung mengerikan, patung badan manusia penuh darahlah, yang badanya terpotong-potong,dan seruhnya lagi disana mojok pula oarng-orang benaran yang pura-puranya kayak patung. Terus, kita ditakut-takutin.Was-was juga saya….sudah gelap,dipasang sound mengerikan,eh..diganggu pula sama setan boongan.

Setelah dibuat deg-degan,barulah kita bisa bebas mencari patung-patung para seleb dunia. Jangan kuatir, patungnya boleh diapa-apain kok, asalkan niatnya tidak untuk merusak. So, mau memeluk patung idolamu, mau bereksperesi seolah bertemu langsung pun terserah. Gayamu suka-suka!

Isinya buannnyak sekali. Tidak bisa disebutkan satu per satu disini.





Amsterdam: Museum Hidup
Satu dari sedikit Negara yang amat konsen dalam pelestarian dan pemeliharaan bangunan tua adalah Belanda, khususnya untuk kota Amsterdam. Masuk kota ini seperti hidup kembali di masa lamapu, soalnya dari ujung ke ujung yang berdiri adalah bangunana yang berusia lebih dari 400-600 tahun. Imagine, menurut statistic pemerintah, sedtidaknya ada 8000 bangunan tua yang dilestarikan di kota ini. 

Pemerinah mengeluarkan kebijakan khusus demi melindungi mereka. Semua bangunana itu kini fungsinya macam-macam, ada yang tetap menurut fungsi awal pendiriannya tapi kebanyakan sudah beralih fungsi. Dari sekedar rumah tinggal,café,toko,restaurant,hingga dipakai untuk tempat prostitusi.







Red Light District: Perpaduan Sex & Marijuana
Langkahkan kaki ke De wallen,atau sering disebut Walletjes atau Rose Burt. Disinilah lokasi pelacuran ngetop di Amsterdam

Bahkan,disini pulalah pusat bisnis sex terbesar dan paling terbuka di dunia! Secara tempat yang sudah beroperasi sejak abad ke-14 ini terpajang perempuan berbikini seperti patung-patung di etalase toko gitu loh. Benar-benar kelihatan “jual badan”. 

Ada beberpa bagian dari Red Light District di Amsterdam dimana beberapa ratus ruangan sempit disewakan bagi perempuan penjajah sex dan lady boy: Oudezzijds Voorburgwall, Oudezidjs achterburgwal, serta Nieuwezijds Voorburgwal. Pada sisi kiri kanan kanal serta gang,kita menatap langsung tubuh mereka. 

Senyum, pandangan mata juga gerak tubuh yang genit diarahkan kepada mata yang memandangi bilik mereka. Lebih asyik lagi kalau sudah gelap, wah..,jalanan ramai oleh lalu lalang turis yang mau melihat. Saya harus mencuri-curi kesempatan untuk memotret karena dilarang memotret. Di depan bilik mereka,, di sudut atas kaca jendela tiap kamar, sudah ada sticker larangan tertempel
Terus, disela-sela kamar untuk prostitusi, berdirilah tempat bagi menikmat cannabis/marijuana. Disini dikenal dengan sebutan Coffe Shop. 

Di depan toko jenis ini ditaru juga tanaman segar marijuana. Bila yang berminat silahkan masuk,ya…sekedar mau lihat-lihat pun bolehlah. Untuk Belanda,perihal jual beli marijuana diperbolehkan,dengan beberapa syarat,misalnya tanpa iklan,tidak boleh dijual kepada orang dibawah 18 tahun,tidak boleh menjual lebih dari 5 gram dalam sekali transaksi,dll. Umumnya, coffe shop tersebut memakai warna-warna atau symbol Ethopia: Merah,Hijau,Kuning atau lambing lain dari Rastafari Movement.




Keju

Di Belanda ngga ada bukit,apalagi gunung. Yang ada adalah dataran yang rata dengan rumput-rumput yang menghijau. Barangkali karena landscapenya yang flat saja, usaha yang paling umum adalah memelihara ternak, such like sapi dan domba. Belanda adalah salah satu negara penghasil keju terbesar di jagat. Nah, dari susu hewan ternak itulah, keju dibuat. Ngerti ora son? Banyak kota kecil di Belanda yang bisa kita kunjungi untuk melihat proses pembuatan keju. Saya mengunjung Edam,ini dia daerah yang lumayan terkenal di Belanda untuk urusan keju-kejuan.

Sepatu Kayu

Klompen, begitu orang Belanda bilang. Sepatu kayu adalah ikon lain Belanda disamping Kincir angin, Kanal,Tulip, atau Keju. Benda penutup kaki yang dalam bahasa Inggrisnya Clogs ini, semenjak tahun 1270 sudah terkenal disana. Di Middle Age ,benda ini popular bukan hanya di kaki orang Belanda namun ke kaki buruh dan petani bangsa Eropa lainnya. Kakek nenek kita mongkin kenal kali dengan sepatu ini, jaman mereka disebut terompah kayu.

Oya, buat kamu yang berniat mengunjungi tempat pembuatan sepatu kayu Belanda, sekalian pabrik pembuatan keju, saya tahu satu tempat yang tepat untuk dua usaha ini sekaligus,yakni di Volendam, tepatnya di “Alida Hoeve” Mereka membuat keju bercita rasa khas Edam dengan resep aslinya. Memiliki dua bangunan utama yakni satu untuk keju dan sebelahnya lagi untuk sepatu kayu. 

Karyawan disini muda-muda dan ramah-ramah pula. Mereka akan menjelaskan proses pembuatan keju atau sepatu kayu berdasarkan bahasa yang anda pakai,but,sorry Sir, not include Bahasa Indonesia. Kita bisa mencapai lokasi ini dengan mengambil rute N247 dari Amsterdam, melewati Broek di wilayah Waterland,Monnickendam dan setelah 2 km belok kanan menujuh Volendam. Sesudah 1 km kita bakal menemukan papan petunjuk di sebelah kiri jalan “Alida Hoeve”. Masuk gratis. Dibuka setiap hari,termasuk hari Minggu. Info lanjut klik ke www.henriwillig.com





Kincir Angin

“Belanda negeri kincir,katanya…katanya…….”
Ingat tidak sama lagu anak-anak miliknya Trio Kwek-kwek jaman kecil dulu?
Memang benaran kok,Belanda memang negeri kincir. Hanya saja jumlah kincir anginnya sudah menyusut seiring makin berkurangnya penggunaan kincir angin tradisional ini. Padahal beberapa abad yang lalu Belanda memiliki sekitar 10.000an kincir angin, sekarang tinggal 1000 katanya.

Dari kecil di otak saya, Belanda=Kincir Angin. Sampai kini saya masih ingat judul buku serial petualangan (mirip agen James Bond gitu deh) yang saya suka sekali baca waktu saya masih duduk di bangku SD kelas 3. Judulnya: Rahasia Kincir Angin Tua. 

Makanya, mengunjungi tempat yang ada kincir anginnya menjadi agenda wajib buatku. Dua tempat yang terkenal sebagai obyek wisata Kincir Angin adalah di Zaanse Schans dan Kinderdijk. Dan saya memilih ke Zaanse Schans. Tempatnya unik, karena rumah-rumah disini berdinding kayu dan diberi cat hijau, sementara jendela dan bagaian-bagian ujung bangunan dicat putih. Lucu. Nah, di daerah ini kincir anginnya masih ada yang berfungsi,yang lain sekedar dipajang aja tapi baling-balingnya tetap berputar. 

Saya mampir ke salah satu kincir angina yang bernama “De Kat” alias Si Kucing. Ini adalah kincir angin yang berfungsi sebagai tempat penggilingan cat. Setelah dapat karcis masuk, kita diberi brosur penjelasan sejarah bangunan ini dan ….ada brosur berbahasa Indonesia! Info lanjut,klik ke www.zaanseschans.nl



Tulip

Jika datang ke Belanda di bulan Maret hingga Mei, kita bisa menikmati indahnya bunga tulip. Salah satu symbol negeri ini adalah Tulip. Bukan hanya BelandaIran dan Turki pun mengklaim Tulip sebagai bunga nasional mereka. Turki misalnya, telah mebudidayakan tanaman berumbi kayak bawang Bombay ini semenjak tahun 1000 ( Kita masih dimana ya waktu itu?). 

Sekedar menambah pengetahuan umum nih, tiap tahunnya Belanda ngirimin bunga Tulip untuk ditanam di Ottawa (Kanada) sebagai tanda terima kasih kepada negara di utara Amerika itu yang membebaskan Belanda dari Nazi Jerman dan sewaktu jaman pendudukan, Kanada berbaik hati menerima Ratu Juliana untuk bermukim disana (waktu itu sang ratu masih berstatus putri mahkota). Di pusat kota ada pasar bunga, kamu bisa melihat bukan hanya bunga tulip tapi juga bunga lainnya, disini sekalian juga dijual bibit bunga tulip.

Diposting @Oktober 2007 




2 komentar:

Anonim mengatakan...

asik sekali ceritanya tentang belanda, jadi pingin pergi nech...btw ada ngak yang gratisan untuk ke belanda?

valentino babaputra mengatakan...

ada,Mbak.
Jadian ama orang Belanda aja hehe..(just kidding). Coba surf di internet,kadang2 ada juga. Benar!