Tabir Keindahan
KUPANG
Belum banyak yang tahu pesona
Kota Karang.
Hal-hal memikatnya memang masih tersembunyi,
dan butuh taktik untuk
menyingkap serta menikmatinya.
![]() |
Warna cerah Pohon Flamboyan - Kupang |
Ada yang beda bila ke Kupang di penghujung tahun. Kota di atas karang ini berubah ceria manakala pohon-pohon Flamboyan memekarkan bunganya. Warna merah menyolok dari kembang-kembang itu berpadu kontras dengan langit biru. Bila melintas di bawah pohonnya, seolah ada pesona aneh menguar.
“Sayangnya mereka tumbuh secara acak. Coba, jika ada pihak yang tanggap dengan keistimewaan ini, lalu menanam pohon Flamboyan kiri-kanan di salah satu ruas jalan khusus, semacam koridor Flamboyan. Sehingga pas musimnya berbunga, keindahnya lebih kentara, lebih apik tertata. Itu bisa jadi festival musiman dan maskot kota ini, menjembatani wisata yang lain, momentum untuk ‘menjual’ destinasi-destinasi daerah,” kata Indri Juwono, travel blogger sekaligus arsitek yang gemar bepergian ke berbagai daerah di Indonesia.
![]() |
Pantai Tablolong di waktu senja menjelang - Kupang |
![]() |
Suasana Dermaga Kupang, tampak pabrik Semen Kupang |
“Benar. Jepang punya festival Sakura yang memancing orang untuk
kesana. Tentu Kupang juga bisa. Alam sudah menyediakan, tinggal dioptimalkan.
Bikin sesuatu yang otentik, yang berasal dari daerah sendiri. Ketimbang
membangun monumen dari beton, mending
nanam pohon, lihatnya berbunga bikin hati adem dan membantu menyaring udara,
membuat sejuk Kupang,” timpal Dea Sihotang, juga seorang travel blogger.
Saya, Indri, Dea, serta sembilan travel blogger lainnya datang ke Kupang untuk melakukan trip
Explore Timor, diundang oleh Association of The
Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) NTT. Trip ini bertujuan
untuk menyingkap tabir keindahan pulau Timor yang belum banyak diketahui
publik, mengenalkannya lewat tulisan serta foto. Inisiatif Asita NTT memang
jitu. Harus diakui, media sosial masa kini adalah alat yang tepat untuk
mempromosikan wisata. Disitulah peran travel
blogger, travel writer serta travel
photographer dibutuhkan. Termasuk mengangkat hal-hal kasat mata yang
sebetulnya menarik tapi luput dari perhatian, misalnya soal Kupang dengan bunga
Flamboyan tadi.
![]() |
Warna-Warni Grafitti Kota Tua Kupang |
![]() |
Kuburan Belanda - Kupang |
KUPANG “MUST SEE”
Pantai Tablolong adalah tempat elok pertama yang kami datangi usai
check-in hotel. Pasirnya yang putih bersih, laut biru yang teduh tenang,
dipuncaki momen matahari terbenam, adalah prolog yang baik bagi permulaan
perjalanan kami. Saya sebetulnya sudah sering ke Kupang, tapi nama Pantai
Tablolong ini baru terngiang kali ini. Disini saya menyadari bahwa seberapa
sering kita pergi ke sebuah daerah, jika hanya berkutat di obyek yang itu-itu
saja, jelas bukan jaminan seberapa
banyak yang bisa kita ketahui.
Bukan hanya soal seberapa sering kita mengeksplor, namun juga soal
seberapa lihai kita memperhitungkan waktu yang tepat. Oleh karena itu,
sepatutnya kita tahu kapan waktu terbaik mengunjungi sebuah destinasi.
Contohnya, kunjungan kami ke Gua Kristal. Kami harus melakukannya dua kali,
lantaran kunjungan pertama sebelumnya
kami tiba sore hari, dimana cahaya matahari telah berkurang, membuat gua
berair biru itu tidak secemerlang seperti seharusnya. Waktu terbaik ke Gua
Kristal memang musti tengah hari, antara jam 11 sampai jam 14 siang.
Menceburkan diri ke dalam airnya yang diterangi oleh sinar alami adalah sensasi
istimewa.
![]() |
Air Terjun Oanesu - Kupang |
![]() |
Gua Kristal - Kupang |
Demikianpun bila mendatangi Air Terjun Oenesu. Perluh mengatur timing yang tepat. Ketika saya
menunjukkan foto air terjun ini yang tampak berkelimpahan air serta rimbun
menghijau, ada teman yang bingung, sebab katanya saat dia berkunjung kesana
debit airnya sedikit, pepohonan meranggas. Saya jelaskan, Air Terjun Oenesu itu
bagusnya didatangi musim penghujan, antara Februari hingga Mei. Berkunjunglah
pagi-pagi sekali saat sinar matahari tidak terlalu kuat, sehingga aura
mistisnya tampak. Hindari pula datang saat hari libur atau akhir pekan, sebab
akan ada banyak orang disana. Selain merusak kesan sunyi, kunjungan yang ramai
juga membawa banyak sampah plastik.
Saya selalu memegang pedoman ini: ‘Every place has its special moment.
Setiap tempat punya momen istimewanya sendiri-sendiri’. Jadi, jika kecewa pada
sebuah lokasi yang tidak sesuai ekspetasi, jangan serta merta menyalahkan
tempatnya, siapa tahu kitalah yang salah karena tak pandai memahami momen
istimewa tempat itu.
SEMAU NAN MEMUKAU
Kebahagiaan lain dalam trip Explore Timor saya rasakan manakala
diberi kesempatan menjenguk Pulau Semau. Bagi saya perjalanan menyambangi pulau
seluas 143 km2 ini sungguh sebuah petualangan funki; menyenangkan
tapi dalam konsepsi yang ganjil.
![]() |
Pantai Onanbalu - Pulau Semau |
![]() |
Pantai Otan - Pulau Semau |
![]() |
Dermaga Pulau Semau |
Berangkat dari pelabuhan Tenau di pagi berlaut teduh, kami
menyeberang dengan kapal kayu kecil selama 30 menit menuju Onan Batu,
kuala berair kehijauan yang menjadi
pelabuhan Pulau Semau. Kami membawaserta sepeda motor dari Kupang lantaran
transportasi darat di pulau bernama asli Nusa Bungtilu ini belum memadai,
begitupun kondisi jalannya. Iring-iringan sepeda motor kami melindas jalan
berbatu di bawah terik Surya sembari ditatapi dengan pandangan aneh oleh
penduduk setempat.
Incaran kami adalah pantai-pantai molek di pesisir barat, dan demi
itu kami butuh sedikit perjuangan melawan kejemuhan akibat suhu panas serta
jarak yang agak jauh. Namun ganjarannya adalah pertemuan dengan satu per satu
pantai berpasir putih dengan komposisi maupun gradasi warna laut yang seduktif.
Pantai Otan, Pantai Onanbalu, Pantai
Uimake, dan Pantai Uitiuhtuan sambung menyambung memunculkan decak kagum.
![]() |
Sunset Bukit Liman - Pulau Semau |
Menjelang senja, kami tiba di Bukit Liman yang tak cuma diapit dua
pantai amat panjang dan lapang, namun juga menghidangkan panorama kelas wahid.
Ini bisa jadi tempat yang paling menawan dalam wilayah Kupang-Semau yang saya
jumpai. Rupa bukit yang semata ditutupi rumput tipis, memudahkan kami
menjangkau puncaknya dengan sepeda motor. Sulit menguraikan keindahan yang saya
temukan di atas Bukit Liman ini. Dua pantai yang mengapitnya memiliki lebar
serta panjang pasir putih yang menghipnotis. Saat bola bulat matahari hilang
pelan di ujung kaki langit dalam balutan warna merah angkasa, sesuatu yang intoxicate seakan menyusupi indra
penglihatan saya.
“Sebagian tabir keindahan telah tersingkap. Kupang hingga Semau tiada
bedanya kembang Flamboyan liar. Memesona, namun menanti hati yang tergerak
menata dan mendayaupayakan potensinya, ” kata Dea saat kami pelan beranjak
meninggalkan Bukit Liman.
Ayo, ketong beking Kupang
bagus,kaka!