Jalan - Jalan ke Jatiluwih (Bali)

Jatuh Hati Pada
JATILUWIH

Salah satu kawasan World Heritage Site di Indonesia, tempat elok untuk menyongsong pagi di antara teras-teras padi menghijau sembari belajar memahami sistem irigasi lokal Bali.



D
itingkahi gerit serangga malam, alunan lembut instrumen “Melody of Peace” gubahan Gus Teja terdengar menentramkan dari pemutar musik di penginapan sederhana yang saya datangi. Pekat telah menyelimuti jagat raya sesampainya saya di Jatiluwih. Udara yang dingin segar menebar ke segala arah mata angin. Saya menarik selimut, namun tetap mendengarkan satu demi satu lantunan lain dari musik Gus Teja. Ada kedamaian tersirat dari tiap nadanya.
           
Bumi Bali memang spesial. Selain budayanya yang unik, pulau seluas 5,780.06 km2 ini pun diberkahi alam permai. Lihat saja, mulai dari kedalaman laut, pantai, hingga gunung, Bali sanggup memikat siapa saja untuk mengabadikannya. Tak ayal, para seniman lokal maupun internasional menjadikan nusa yang penduduknya mayoritas beragama Hindu ini sebagai sumber inspirasi.

Persawahan merupakan satu dari aspek yang membuat Bali indah dipandang mata dan bagus secara sinematografis. Ketika film Holywood Eat,Pray,Love yang dibintangi Julia Roberts diambil gambarnya di Bali, rekaman pemandangan persawahan cukup mencuri perhatian. Begitupun halnya film klasik Bali Paradise karya James Fitzpatrick buatan tahun 1932 yang tergadang sebagai film asing pertama yang menampilkann keeksotisan Bali. 

Mengambil bibit padi
Layer pada sawah menciptakan keindahan sendiri
Sebagai daerah yang pada mulanya menyandarkan hasil agraris untuk penopang hidup, Bali telah lama mengembangkan sistem persawahan. Malah, masyarakatnya menetapkan pola penerapan irigasi unik bernama ‘Subak’ yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Dari Subak inilah kebijakan pengaturan irigasi untuk keuntungan bersama dikembangkan. Kendati kini jumlah lahan persawahan kian menyusut oleh kebutuhan pemukiman atau pengembangan wisata, namun masih banyak orang Bali yang patuh dan mempertahankan sawah mereka. 

KEISTIMEWAAN JATILUWIH
Wilayah Bali yang lahannya cukup besar terisi oleh persawahan adalah Kabupaten Tabanan. Daerah yang berada di sisi barat pulau ini dikenal juga sebagai lumbung beras bagi Bali. Satu dari sekian desa yang terisi oleh persawahan di Tabanan yakni desa Jatiluwih.

Keistimewaan persawahan Jatiluwih terletak pada topografinya yang berlekuk-lekuk, sawah bertingkat, kemudian disempurnakan oleh latar belakang barisan pegunungan. Dari Jatiluwih dengan jelas mata bisa menangkap bayangan Gunung Agung dan Gunung Batukaru. Atas alasan estetis itulah makanya saya mendatani Jatiluwih.

Plakat UNESCO World Heritage Site

Pura Batukaru
Tempat ini menyajikan panorama yang istimewa lantaran areanya lumayan luas, tidak seperti persawahan berundak di sekitar Tegalalang, dekat Ubud, yang tak seberapa ukurannya. Selain itu aktifitas para petani lebih mudah dijumpai. Di Jatiluwih orang-orang dapat melakukan trekking menyusuri pematang sawah dengan bebas. Selain itu sejumlah tur dengan mobil antik semisal Volkswagen Tour yang beratap terbuka juga telah menjadikan rute Jatiluwih sebagai destinasi wajib.

Saya begitu berhasrat untuk memotret persawahan Jatiluwih saat pagi hari, tepatnya momen matahari terbit di samping Gunung Agung. Berada di tengah sawah dengan vista demikian, apalagi suasana yang begitu hening, merupakan pengalaman menentramkan sekaligus ajaib.

Posisi paling ideal yaitu di kawasan yang terdapat monumen plakat UNESCO. Mungkin belum banyak yang tahu, sistem irigasi serta tata alam Bali telah berpredikat World Heritage Site sejak tahun 2012. Jadi, tentu saja sebuah keistimewaan bila datang dan memotret di Jatiluwih.


Organic Food at Waka Restaurant

Puas mengabadikan persawahan dan saat- saat terbitnya matahari, giliran restoran-restoran lokal menghidangkan menu santap siang organik. Andalan disini adalah nasi dari beras merah. Pilihannya bisa langsung ke jejeran resto di pinggir sawah atau jika mau yang lebih alami dan tersembunyi. Lengkapi juga dengan kunjungan ke Pura Batukaru yang berada di tengah hutan terdekatnya.

MENUJU KE SANA

Ada dua pilihan untuk ke Jatiluwih, tergantung dari mana kita datang. Jika dari area Kuta dan sekitarnya, tinggal mengambil jalur menuju Tabanan yakni ke kota Tuban (satu arah ke Gilimanuk), kemudian berbeloklah ke kanan sesuai petunjuk arah. Kira-kira dua jam. Jika dari Ubud atau Bedugul, dapat mengikuti jalur ke Mengwi. Durasinya kurang lebih satu jam.

Hot & Cold collide 
Di Jatiluwih terdapat sejumlah penginapan, dengan harga variatif mulai dari Rp.100.000 hingga vila dengan kamar senilai 1 jutaan. Tinggal pilih berdasarkan kebutuhan dan selera. Untuk saya pribadi, masalah akomodasi bukanlah hal serius. Yang penting bersih dan aman, sudah cukup.

Tidak jauh dari persawahan, terdapat pemandian air panas Jasrih. Letaknya di lereng bukit. Pemandian ini lumayan terawatt, dihiasi sawah bertingkat juga. Selain sebuah kolam di samping air pancuran, juga terdapat bilik-bilik khusus dengan kondisi yang bersih. Sangat cocok berendam disini satu dua jam melawan suhu yang cenderung dingin.

Bali tak melulu debur ombak, hiruk pikuk kawasan belanja, atau destinasi-destinasi yang ramai. Bertandanglah ke Jatiluwih, menginaplah barang semalam dan banun pagi-pagi untuk menyongsong Sang Surya. Saya yakin Anda akan jatuh cinta pada tempat ini. 

Teks & Photo : Valentino Luis

Artikel ini dimuat di LIONMAG edisi Februari 2016





Coconut Garden Beach Resort Maumere (Hotel Review)


Coconut Garden Beach Resort
'an oasis of serenity'

An oasis of serenity

“ Saya ingin tiap orang yang datang, langsung merasa bahagia berada di tempat ini,” ujar Andrej Zorko. Pria berwarganegara Slovenia ini adalah pemilik Coconut Garden Beach Resort, sebuah akomodasi pinggir pantai yang baru hadir di Kabupaten Sikka, sekitar 10 km arah timur dari pusat kota Maumere, 15 menit dari Frans Seda Airport.

Andrej mengaku langsung jatuh cinta pada Flores begitu datang berkunjung pertama kali. “Pulau kalian ini masih sangat natural, punya keindahan dari gunung hingga bawah laut yang menawan. Dan yang istimewa adalah banyak dari keindahan ini masih tersembunyi, tidak dengan gampang ditemukan, cocok untuk petualang. Ini yang bikin Flores priceless, tidak murahan,” ujarnya ramah bersemangat. Andrej takjub menemukan pantai di Maumere yang dipenuhi pepohonan kelapa nan rimbun. “Rasanya seperti di Carribean,” kenangnya. 

Rattan chairs in the front of the room

Look like giant Mushrooms under the coconut trees

Konsep eco-friendly  adalah trend yang berkembang akhir-akhir ini, sejalan dengan kesadaran manusia bahwa modernitas perluh diseimbangkan dengan alam, karena bila tidak maka kerusakan bumi tidak akan terhindarkan. Global warming atau pemanasan global adalah salah satu efek dari terlalu banyaknya aplikasi bahan-bahan yang sulit didaur ulang oleh bumi. Kita seakan lupa bahwa bahan-bahan alami justruh lebih ‘bersahabat’ bagi manusia. Lagipula, bila dikreasikan dengan jeli, kayu atau bambu tidak hanya sekedar dijadikan material hunian sederhana tapi bisa berubah jadi ‘wah’ serta istimewa.

“Disadari atau tidak, kita akan merasa lebih earthy, lebih down to the earth bila berada di hunian berbahan natural, ketimbang dalam gedung yang terbuat dari beton,” ungkap pria murah senyum ini. Agaknya kami sepaham. Sebagai Traveler, saya pun merasa lebih nyaman-simple-cocok-sehat-dan diterima ketika berada di alam, daripada di kota. Itulah sebabnya saya cenderung memilih masuk ke pedalaman daripada ke kota besar (Well, I’ve tried to be a city-scene guy but it didn’t work. If you ask me to describe how I feel, I will name it as: ‘Blank Space’. It sounds cruel isn’t?? ). 

Almost finished. Only need few stuffs.

Andrej terilhami oleh sejumlah akomodasi yang sudah lebih dahulu memakai bambu sebagai bahan utama. Namun, ia malah ingin 100% bangunan dibuat dari bambu. Agak nyeleneh sih, tapi keinginannya toh terungkap dengan bagian atap penginapan yang juga dari bambu - padahal kebanyakan orang memakai alang-alang atau ijuk.

Pengerjaan bangunan Coconut Garden Beach Resort Maumere telah dimulai pertengahan tahun 2015 silam, dan kini telah rampung dengan menghadirkan 8 bungallow utama, 1 dive center, 1 fitness center, dan 1 café.

Besarnya ruangan bungalow adalah 50m2 (termasuk teras dan toilet), masing-masing memiliki open air toilet and shower, lantai dari kayu, tempat tidur serta perabot dari bambu. Tiap kamar mengusung warna putih sebagai warna primer, ditimpali oleh beberapa warna sebagai ornamen. Dilengkapi dengan AC dan kipas angin. Teras depan masing-masing bungalow dipasangi hammock (ayunan) untuk tidur bersantai. Coconut Garden Beach Resort Maumere sungguh-sungguh ingin menciptakan kesan rileks namun spesial. Oya, ada pula kamar khusus bagi budget travelers/backpackers.

Romantic Sunset

Dive Center Coconut Garden Beach Resort Maumere dilengkapi alat-alat diving maupun snorkeling. Selain itu juga menyediakan Kayak, sehingga bila ingin sesuatu yang rekreatif sembari menyusuri perairan, para tamu bisa mendayung Kayak, ditemani oleh salah satu staff terlatih, agar bisa membantu mengenali pergerakan arus laut.

Satu sarana yang menambah nilai lebih dari Coconut Garden Beach Resort Maumere yakni Horse riding. Bila sudah snorkeling, sudah kayaking, bisa pula menunggang kuda melipir pantai. Apalagi pas cuaca cerah, apalagi sore hari menjelang sunset. Andre memang memilih lokasi yang fotogenik untuk peninapannya.

Soal Horse Riding ini, Andrej punya alasan sendiri.  “Saya dari Slovenia. Negara kami sangat identik dengan kuda. Semua orang yang paham soal kuda, tentu tahu kuda Lizzipan dari Slovenia yang terkenal. “

“Tapi bukan hanya karena saya dari Slovenia, lantas ada kuda disini. Orang Flores, khususnya Maumere pun sangat dekat dengan kuda, bahkan bagi mereka kuda adalah simbol harga diri pria Sikka. Kalau mau menikah, harus bawa kuda. Itulah kenapa kuda gampang ditemui di Maumere. Nah, itu juga yang menimbulkan kesan ‘similar/kemiripan’ antara negara Slovenia dan kabupaen Sikka,” jelas Andrej lagi.

Saya suka pengusaha yang memahami kehidupan lokal, yang akulturatif, yang punya mata laiknya mata fotografer. Dengan begitu dia bisa mensinergikan apa yang dimiliki oleh daerah setempat dengan ide-ide dari otaknya. Agak aneh kalau Andrej memelihara Unta di Maumere, bukan?  

Hammock is waiting for you

So, jika ke Flores, jangan lupa ke Maumere. Dan kalau sudah di Maumere, nginaplah di Coconut Garden Beach Resort. Seperti kata Andrej, “tiap orang yang datang, langsung merasa bahagia berada di tempat ini.”

Don’t twink twice, think to book:
Price & detail infos “Coconut Garden Beach Resort Maumere”
Contact: +62 82 144 260 185 or +62 85 338 167 866
Website


Mejeng ahh...:) :) kamarnya belum dibenarin..

Jalan - Jalan ke Raja Ampat (Papua Barat)

Rapsodi 
RAJA AMPAT


Stand here, dude, before you die.
Aktifitas pasar kecil di tenggara Waisai telah bubar. Pada jam 7 malam seperti ini, hanyalah aroma sayuran, bawang, siri pinang, amis ikan-ikan yang tersisa. Tali perahu nelayan ditambatkan di pepohonan dimana serangga Tonggeret bergerit memecah sunyi. 

Ini ronde ketiga saya mampir ke pasar yang sama, sejak tadi setelah tiba dari Sorong. Kegelisahan saya sekarang  beradu dengan harapan yang terpelihara, untuk satu misi penting: dapatkan kapal join trip island hopping hari ini, atau saya akan terlunta keesokannya. 

Beberapa saat menjelang tiba dari Sorong ke Waisai. 
Seorang perempuan berkerudung muncul dari gelapnya pasar, dan saya tidak ragu memberitahukan kegelisahan saya. “Oh, kakak saya biasa membawa grup ke pulau. Ayo, Dik, kita ke rumah saja. Di depan gerbang pantai WTC itu,” tunjuknya ke arah barat. “Siapa tahu ada tamu besok, kamu bisa ikut,” katanya. Santai sekali, seolah itu hal teramat biasa. Dia tak tahu betapa beruntungnya saya mendengarkan ajakan ramahnya.

Bertualang sendirian atas keputusan spontan dengan tujuan ke Raja Ampat yang digadang sebagai destinasi super mahal, sama halnya perjuangan seorang Ninja amatir. Jika tak sukses, berujung Harajuku, seperti bunuh diri. Tapi saya telanjur menganggap diri  bagai Despereaux, si tikus kecil yang memelihara kenaifan, khilaf, dan tidak punya apa-apa tapi dicengkeram hasrat berkelana begitu kuat sehingga hidup dalam zona nyaman terasa dipasung, terasa hambar datar. Saya tak akan mengelak karena memang, berada dalam sebuah perjalanan di tempat asing sebagai pejalan tunggal selalu membuat kita betul-betul ‘hidup’. Beda dengan bertualang dalam kelompok atau didampingi seseorang. Kita akan merasakan bagaimana indra-indra aktif berjaga; mata  merekam apapun yang terlihat, hidung antusias mengendus mengenali semua bau khas, telinga menangkap segala bunyi asing, tangan dan kaki menuntun badan ke tempat yang sekiranya aman. Otak akan terus dipenuhi pertanyaan, tebakan, ekspetasi, spekulasi, membuat konklusi, hingga meralat rangkaian stereotipe  yang didengar sebelumnya. Kita akan menghafal roman muka warga setempat, gang-gang kecil, nama-nama restoran, bangunan unik atau pemandangan elok yang ditemukan secara tak terduga. Seperti bayi baru lahir dan langsung mawas, semua hal yang terjadi di sekeliling menjadi amat berarti, sebab asyik tidaknya perjalanan dan kelangsungan perjalanan itu -juga tentunya nyawa kita-  tergantung pada bagaimana kita mengenali lingkungan dimana kita berada, bagaimana intuisi kita bekerja. Sepanjang perjalanan kita akan terus mengobarkan keyakinan; bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan akan bertemu orang-orang baik pula. Senyuman dan sapaan hangat, menjadi sangat bernilai, seolah diberikan  signal “tenanglah, kamu aman.”  

Senja di Waisai

Mini Eiffel Tower?? Tidak begitu yakin...hehe

Pohon kelapa yang menjulang tinggi-tinggi
Pak Umar kakak dari perempuan berkerudung yang baik hati itu, menyambut saya dengan bermacam kisah yang ia kumpulkan selama mengantar orang ke pulau-pulau karst Raja Ampat. Tapi perihal mungkin tidaknya saya bergabung dalam trip ternyata belum jelas, lantaran ia masih menunggu kabar dari grup yang kemarin mengontaknya. Anehnya, saya tidak merasa gagal. Saat pulang ke penginapan yang bersebelahan dengan masjid hijau bermenara  kue tart, saya justruh membeli bermacam penganan, namun tidak ingin mengicip satu pun hingga malam mengundang mimpi. Sekitar jam 12 malam ponsel bordering, “Dik, besok bangun jam 5 ya? Kita jadi berangkat. Nanti dijemput di penginapan,” suara Pak…dari seberang.  Oh, saya melonjak girang dan tidak lagi tenang melanjutkan tidur setelahnya!

Air bersih bening bagai kristal. Segeerrrrr....!!

Pulau Pasir Timbul
MELAMPAUI PULAU DEMI PULAU
Laut bergelombang menyambut kami di dermaga. Langit pun tak secerah kemarin. “Jangan kuatir. Paling juga sejam lagi semua akan normal. Bulan-bulan begini memang laut biasa berombak pagi hari,” Pak Umar menghalau risau. Grup kami adalah saya beserta sekelompok mahasiswa yang menjalani masa praktek sebagai guru wilayah Raja Ampat. Anak-anak muda ini merasa penempatan tugas di Raja Ampat adalah salah satu hal menakjubkan.

Kami mampir sejenak di Pulau Saunek yang berada tepat di depan Waisai. Pulau berpasir putih ini dulunya adalah pusat Raja Ampat yang sebenarnya sebelum beralih ke Waisai begitu Raja Ampat dijadikan sebuah kabupaten otonom tahun 2004. 

Pulau Saunek
Dari Pulau Saunek, kapal lantas membela lautan di selatan Pulau Waigeo yang sebagian besar tanahnya masih belum terjamah manusia sehingga tampaklah bagai taman Firdaus yang lebat menghijau. Lautan yang tak tercemar limbah menampilkan refleksi warna nan rupawan.

Whatever you name it. It's paradise.

Siapa yang tidak terpukau lihat beginian cuma dengan snorkeling di dermaga saja???

Menari bersama jutaan ikan
Kapal melaju lagi, kendati kami belum rela pergi dari kerumunan ikan-ikan di Arborek. Bayang-bayang pulau hilir mudik mengisi pandangan. Saya tak mungkin menghitung nusa-nusa kecil yang kami lalui. Mengetahui bahwa wilayah Raja Ampat mencakup lebih dari 1500 pulau sudah cukup menjadikan saya tertegun, benar bahwasanya Indonesia itu Raya, Indonesia itu Gadang. 

Para mahasiswa menembangkan rapsodi lagu-lagu nasional yang bertalu di tengah desau gelombang laut, membuat darah saya berdesir.

MAJESTIC HIKING PIANEMO

Velositas kapal berkurang, tereduksi oleh pemandangan baru yang telah kami tunggu-tunggu. Gugusan karst Raja Ampat yang adiwarna itu nyata-nyata hadir di depan mata. Tapi ini bukan Wayag. Ini adik kembarnya, bernama Pianemo. 

Karst - karst dengan formasi runcing dan tinggi

Trekking santai dari pulau ke pulau....
Agaknya saya butuh pemanasan sebelum Wayag. Lagipula Pianemo tak kalah indah, walau belum begitu popular. Pak Umar bilang, lusa ada grup baru ke Wayag, saya bisa ikut. Jadi, saya punya kemungkinan besar untuk menikmati keduanya sekaligus.

Arah perjalanan ke Pianemo berbeda dengan ke Wayang, dia di barat Pulau Gam sedangkan Wayag nun jauh di utara. Waktu tempuhnya pun berlainan, Pianemo hanya butuh dua jam dari Waisai. 

Star Lagoon, sebuah laguna berbentuk bintang. Warga menyebutnya Tanjung Bintang

View gahar macam ini, dilihat dengan mata langsung-bukan pakai Drone!
Masuk dalam celah-celah tebaran pulau karang Pianemo, mata saya tak ingin terpejam. Bila umumnya saya menyukai pagi dan senja, di Pianemo saya memuja pancaran penuh Sang Surya yang menebar tinta pirus pada laut, menampilkan benderang warna hijau dan biru. Sebelum singgah ke pulau-pulau yang menyediakan jalur hiking, kami terlebih dahulu melaporkan diri ke pos jaga, dimana pengunjung bisa juga menyewa Kano dan menginap. 

How beautiful our country!!!

Terserah,Om. Mau pakai boat, mau kayaking, mau sekalian berenang saja pun boleh, silahkan kelilingi pulau-pulaunya.
Hari itu kami melakukan tiga kali hiking di tiga pulau berlainan.  Saya tak bisa bilang mana yang paling bagus. Masing-masing memberikan persepsi visual yang berbeda. Begitu para mahasiswa berdendang lagi, saya memilih untuk ikut serta dalam rapsodi mereka, menyerukan lirik baru…Lahir di negeri sebesar Indonesia, kenapa takut bertualang…

(few) fans to meet up after the journey : ) at Domine Osok Airport-Sorong

Jalan - Jalan ke Candi Ijo (Yogyakarta)


Marka Abadiah
Candi Ijo


Di atas sebuah bukit berpanorama menawan, candi buatan abad-IX ini menyembul anggun, dan menguarkan sebuah kutukan!

Pintu candi yang masih perluh diperbaiki temboknya.
Hujan menyisahkan rinai-rinai terakhir ketika saya terbangun dari rehat siang di penginapan perbatasan kota Yogyakarta-Sleman. Setengah jam kemudian matahari kembali memancarkan sinarnya, mengembalikan warna langit dari kelabu menjadi biru. Saya selalu menyukai kecerahan cakrawala usai hujan, seakan-akan bumi dimandikan, segar dan beraroma tanah.

“Jadi ke Candi Ijo, mas?” tanya Ismanto resepsionis hotel.
“Ya. Keliatannya sunset bakalan bagus nih kalau berada disana,” jawab saya sekeluarnya dari kamar. Tadi pagi saya sempat bercakap dengan Ismanto dan mengutarakan nazar mengunjungi Candi Ijo. Ia bersedia menyewakan sepeda motornya untukku.

Kunjungan ke candi adalah salah satu aktivitas yang tak bisa dielakkan bila melancong ke Yogyakarta. Propinsi berstatus Daerah Istimewa ini memang memiliki segalah yang dibutuhkan untuk urusan pelesiran. Bagi saya, Yogyakarta itu seperti sumur, dan budaya kuno yang Hinduis adalah airnya. Di luar hanya terlihat percikan-percikannya karena tertutup oleh perubahan jaman, namun bila masuk lebih dalam, maka kita bisa menyelami sari-sari peradabannya.

Suasana senja di kompleks candi
Sebagaimana yang dituturkan sejarah, wajah masa silam Yogyakarta dan daerah sekitarnya adalah sebuah kerajaan Hindu-Buddha bernama kerajaan Mataram yang kulturnya tetap berpengaruh hingga kini. Petilasan-petilasan berupa karya seni, baik musik, tari, kriya, berakar pada filosofi Hindu-Buddha ini. Sedangkan candi-candi peninggalannya adalah marka abadiah bagi dunia.

Tentu orang sudah akrab dengan nama-nama seperti Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, Plaosan, atau Pawon. Tapi itu hanyalah sejumlah candi yang popular, sebab nyatanya masih banyak candi yang belum terekspos dan tak kurang keindahannya. Salah satu yang patut diperhitungkan adalah Candi Ijo, sebuah candi Hindu yang berada di atas ketinggian dengan panorama elok. Dalam artikel Jogja’s Secrets yang ditulis oleh penulis Inggris, Emily Barr, pemandangan sore Candi Ijo disanjung dengan kalimat “a scenic hill from the past to the future”- sebuah bukit indah dari masa lalu ke masa depan. Oh, saya penasaran.

Arca lembu tunggangan Dewa Siwa
NAIK TURUN LERENG
Dari penginapan, saya melajuhkan sepeda motor mengikuti jalur jalan raya ke Candi Prambanan. Jalur ini adalah arah yang mengantar ke sejumlah candi, termasuk Candi Ijo. Jika sudah pernah ke situs Ratu Boko, maka haluan yang sama juga dipakai untuk ke Candi Ijo, yakni berbelok ke kanan, di persimpangan di seberang pintu masuk kawasan Candi Prambanan. Secara administratif berada di Desa Sambirejo. 

Bagian candi yang masih direnovasi

Pemandang ke ceruka-cerukan menuju ke candi. Jalan alternatif.
Sayangnya, jalan paling ringkas menuju bukit itu sedang ada proyek perbaikan. Terpaksa saya harus menempuh jalur lain yang lebih panjang. Namun saya tetap menyukainya sebab tampak banyak lahan kosong yang dijadikan sawah, membuat kesan alami amat kentara terasa. Saya berpapasan dengan orang-orang yang menggiring itik, memikul karung berisi rumput hijau pakan sapi, juga iring-iringan pengantin Jawa.

Matahari yang mulai menguning mendatangkan kekuatiran. Bagaimanapun, saya ingin tiba di bukit sebelum sunset. Jalan berubah mendaki, tapi tidak semata-mata mendaki, karena topografi perbukitannya naik turun, berliku. Sesudah melewati sebuah gapura, akhirnya saya melihat pucuk-pucuk candi, dan tahu bahwa sebentar lagi sampai. Bepergian sendiri memang menantang insting, namun senantiasa memberi saya pengetahuan geospasial yang lebih mumpuni. 

Tangga menuju ke candi utama. Warna kuning kemerahan ini karena efek lampu

Ukiran kepala Naga

KUTUKAN MISTERIUS
Dinamakan Candi Ijo, lantaran terletak di Bukit Ijo alias Gumuk Ijo. Penamaan ini seturut Prasasti Poh yang berumur 906 Masehi. Ketinggian Gumuk Ijo 410 meter dpl,  otomatis membuat candi yang berada disana terdaftar sebagai candi berposisi tertinggi di Yogyakarta.

Begitu masuk ke dalam kompleks paling, pengunjung langsung menyadari bahwa bagan candinya adalah teras-teras berundak. Teras-teras ini menghadap ke barat secara lapang terbuka, tanpa terhalang pohon atau bukit lain. Siapapun yang tiba di teras teratas  sore hari akan terpana oleh panorama yang terbentang di depan, apalagi bila cuaca cerah. Persawahan di bawah bukit, kampung-kampung, kota Yogyakarta, hingga Pantai Parangtritis bisa ditilik. Tidak cuma itu, aktifitas terbang dan mendaratnya pesawat di bandara Adi Sucipto juga jelas dipantau dari sini. 

Tiga candi perwara/ candi pengapit
Secara umum, kompleks candi terdiri atas 17 struktur bangunan yang menempati 11 teras berundak, kebanyakan melintang dari utara ke selatan. Namun belum semua teras diekskavasi. Teras yang ke-11 merupakan teras dengan kondisi bangunan paling baik karena sudah dipugar. Saat ini sedang berlangsung renovasi untuk bangunan pada teras ke-10.

Komposisi pada teras ke-11 berupa pagar batu keliling (belum diperbaiki), delapan lingga patok, serta empat bangunan yakni satu candi utama dan tiga candi perwara. Masing-masing teras merepresentasikan tingkat kesakralan. Nah, teras ke-11 inilah yang paling sakral. 

Bagian paling belakang dari teras paling atas

Meskipun tidak memiliki relief-relief sedetail Candi Borobudur, namun Candi Ijo menarik juga untuk diamati struktur bangunannya. Dinding luar candinya menampilkan jendela-jendela lancung, bukan jendela benaran. Tangga di ambang pintu masuk ke ruang dalam dihiasi sepasang naga bermulut terbuka, dan bila dicermati seksama mulut naga tersebut terdapat burung kakatua. Sedangkan di atas pintu candi, dipahat relief kepala Kala Makara.

Di dalam salah satu candi perwara terdapat arca Nandi, yakni seekor lembu, binatang yang dipercaya sebagai tunggangan Dewa Siwa. Sebetulnya masih ada sejumlah arca lain, tapi atas alasan keamanan dipindahkan ke kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta. Beda lagi dengan isi candi utama, yaitu Lingga-Yoni, berukuran lumayan besar, lambang kesuburan, sekaligus pemujaan terhadap Dewa Siwa dan Parwati istrinya.

Dibalik nuansa religi dan hidangan pemandangan yang permai, Candi Ijo juga menyembunyikan sebuah misteri yang belum terpecahkan. Misteri ini tertuang dalam sebuah prasasti yang berisi kutukan mengerikan. Bahkan kutukan ini diseruhkan berulang-ulang. Itulah sebabnya candi ini dipandang angker. Prasasti itu seakan menjadi marka abadiah tentang sesuatu yang tak baik.

Saya pun sungkan berlama-lama berada disana. 
Masa lalu senantiasa menyimpan misteri!

Sesekali main BW, gan :)

TIPS UNTUK MENIKMATI CANDI IJO
  •  Timing sangat penting agar momen istimewa tempat ini bisa dinikmati secara maksimal. Jika dari pusat kota Yogyakarta, sebaiknya berangkat sekitar jam 14.00 siang. Jam ini sudah terhitung lamanya berkendaraan dan menghindari kemungkinan tersendat di jalan akibat macet atau jalan yang diblokir. Tiba di Candi Ijo pun tidak tergesa-gesa untuk mengejar sunset, ada waktu untuk eksplorasi dan memperhatikan detail-detail candi.
  • Jika hendak memotret, bidiklah interior candi terlebih dahulu yakni ruang di dalam candi. Ini semata-mata demi mendapatkan pencahayaan ruang yang memadai, ketimbang nanti bila keburu gelap pas sunset, gelap pastinya (sementara Anda pasti juga mencurahkan perhatian saat sunset itu, bukan?)
  • Akses di kompleks Candi Ijo ditutup jam 18.00 usai sunset. Jika masih ingin memotret, mintalah izin ke petugas penjaga. Anda bisa mendapatkan suasana yang syahdu serta mistis karena pengunjung lain sudah pergi.
  • Jangan datang pas weekend atau Hari libur, pasti pengunjung banyak. Datanglah di hari biasa, saat cuaca cerah dan wisatawannya sedikit.
  • Pedagang makanan & minuman ringan ada di luar pagar kompleks candi Ijo/ area parkir. Jadi, jangan kuatir bila kehausan. Belilah minuman disana sebelum masuk. Hitung-hitung Anda memberi sedikit keuntungan ekonomi bagi warga sekitar
Catatan: Tulisan & foto-foto tentang Candi Ijo, dimuat di Majalah BATIK (Inflight Magazine of Batik Air) - Januari 2015











Jalan-Jalan ke Nagekeo (Part 1)

Hawa Legawa  Kawa   MERESAPI KEBERSAHAJAAN HIDUP  SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL  DI PUNDAK GUNUNG AMEGELU, NAGEKEO-FLORES P ...