Minggu, Mei 19, 2019

Jalan - Jalan ke Seram/ Ora Beach

Seram
Yang Menenteramkan

DI UTARA AMBON, SEBUAH PULAU MENUNGGU UNTUK DICUMBU



I
ded Latuconsina menepuk pundak saya, “Oke, sobat. Saya hanya bisa antar sampai di sini. Nikmati perjalananmu ke Ora. Mudah-mudahan cuaca selalu cerah dan semua berlangsung lancar.” Kami pun berjabatan tangan serta berpelukan. “Terima kasih,” kata itu saya ucapkan berulang. 

Perkenalan saya dengan Ided baru terjadi beberapa jam lalu, namun seolah-olah kami telah menempuh perjalanan sekian hari bersama. Saya nyaris saja ketinggalan kapal dari Ambon ke Seram, bila saja seseorang tidak meneriaki nahkoda dan menjulurkan lagi kayu titian agar saya bisa melompat masuk. Sesaknya penumpang ‘Cantika Torpedo’ di akhir pekan menjelang Lebaran menguapkan harapan untuk mendapatkan tempat duduk, tapi keberuntungan berlanjut manakala seorang pria menawarkan dudukan lowong di sampingnya. Dialah Ided, dan selama dua jam di atas lautan, ayah muda yang bekerja di sebuah instasi pemerintah itu membeberkan keindahan Seram serta seluk beluk pulau di utara Ambon tersebut.

Ketika kapal merapat di dermaga Amahai, Ided bersedia mencarikan saya ojek, mengekori sampai ke pusat kota Masohi, hingga mendapatkan mobil sewaan untuk perjalanan lanjutan ke Saleman, Sawai. Saya bukan pejabat, bukan juga pesohor. Dan ini pun bukan rute ringkas sederhana. Bagaimana saya tak bersyukur dengan persahabatan yang terjalin cepat dan tulus ini?

Ided Latuconsina, orang baik yang saya jumpai. 

Salah satu fantasi tentang Pulau Seram.


Mobil sewaan saya ke Saleman, sebuah sedan, berkapasitas 5-6 orang, per orang dikenai tarif Rp.100.000. Selepas kota Masohi yang datar, saya dibawa meliuk-liuk pada lekukan jalan berundak. Kiri kanan dijejali hutan rimbun, teramat subur, sehingga hampir semua pohon yang tinggi dililit tanaman sulur menjuntai. Lembah dan ngarai sempit muncul silih berganti. Aroma tetumbuhan menebar dimana-mana. Sebentar-sebentar panorama terhidang, ditimpali bayang-bayang lapisan bukit nun jauh. Saya bisa mendengar jelas kicau aneka unggas hutan, juga lengkingan serangga Garengpung menyadarkan bahwa musim hujan sesungguhnya telah berlalu.

Diamati secara estetis, bagi mereka yang menyukai tur dengan sepeda motor, rute begini termasuk rute ideal. Hanya saja, harus membawa bekal bensin secukupnya serta sang pengendara patutlah yang mahir memperbaiki sepeda motor, sebab sepanjang perjalanan tak sekalipun kami berpapasan dengan pos tambal ban atau penjual bensin eceran. Tak ada kampung. Padahal dari Masohi ke Saleman butuh waktu empat jam. Mungkinkah penduduk masih dihantui keyakinan akan adanya Orang Bati, monster hutan setempat yang konon menyerupai Batman tapi doyan menculik anak-anak? Cerita tentang Orang Bati saya dengar dari sopir kami. Katanya pula, nama pulau Seram muncul karena sosok Orang Bati itu. Saya pikir ketakutan demikian tetap akan terpelihara selama kabel listrik cuma menjangkau beberapa wilayah Seram. Di jaman sekarang komunitas manusia akan tumbuh bila ada dukungan infrastuktur. Kasak-kusuk tentang hantu maupun monster biasanya langgeng di daerah yang tak terkena terang listrik dan ‘keajaiban’ perangkat elektronik. Siapa melihat hantu di bawah cahaya? Batman sekalipun baru muncul kala gelap.

Kapal dari Saleman ke Ora PP - teluknya menawan dengan udara yang sejuk dan damai

Gambar ideal sebuah loka bertetirah, bukan?


KURANG LEBIH 15 km menjelang Saleman, jalan beraspal digantikan oleh alur tanah berbatu. Mobil kami tergoncang berkali-kali. Anehnya, saya antusias sebab di depan mata terhidang view pegunungan kapur, persis seperti merambah satu sisi bukit barisan Dalmatian, di Kroasia. Kata sopir, di belakang gunung itulah Ora berada.

Tiba di Saleman, saya diturunkan di pintu rumah Pak Udin, warga yang tiap hari menyeberangkan pengunjung ke Ora. Alih-alih langsung dibawa ke sampan, keluarga Pak Udin malah menjamu saya dengan makanan, meski sudah saya tampik, mengingat mereka sedang berpuasa dan belum saatnya ‘berbuka’. Ketika kemudian sampan bergerak meninggalkan Saleman bersama lambaian tangan istri dan anak Pak Udin, saya bertanya-tanya sendiri: berkat macam apa yang sedang saya dapatkan di Seram ini? Orang- orang begitu baik.

Sore jam 5 adalah waktu yang adem untuk meluncur di atas laut bening tenang. Kawanan burung melesat dari lereng yang puncaknya tersaput kabut. “Itu burung Lusiala,” kata Pak Udin. “Mereka hanya muncul saat-saat menjelang magrib.”

Saya percaya pada kejelian mata saya. Pepatah ‘Love at the first sight’ berlaku untuk relasi antara saya dengan alam. Jadi, meski terdengar agak klise, tapi ini bukan ungkapan ‘exaggeration’ bila saya menyebut panorama teluk Saleman memang permai, saya seperti diajak berpelesir ke Eden. 

Tentu saja nyebur! Air sebening ini dgn ikan dan koral, siapa menolak?

Aksi seorang tetamu bermain-main dengan kawanan ikan yang jinak

Saking beningnya, koral di bawah lautnya keliatan jelas dari tepi pantai


Pantai Ora yang berpasir putih semakin jelas terlihat. Lambaian nyiur serta ikon pantai tersebut, yakni sebuah resort dengan deretan rumah-rumah inap terapung kian mendekat. Di sanalah saya menginap. Setelah menjejaki dermaga kayunya barulah saya tersadar, bahwa segala kepenatan, rasa jemu akibat perjalanan panjang telah hilang.


Ora jauh dari kesan mewah, namun istimewa. Ia lebih menawan dari resort-resort mahal karena struktur maupun topografi alamnya memukau, mendamaikan. Tak terlihat cacat celah di sini. Koral yang membentang di pinggir pantai seakan baru selesai diciptakan Tuhan, membebaskan mata untuk mengenal setiap biota yang hidup di dalam air. Menggoda untuk lekas-lekas mencelupkan diri.

Saat senja, rona merah menyelubungi cakrawala, dan bola api bulat turun pelan-pelan ke balik bukit sebelah barat. Penggantinya adalah konstelasi bintang yang bertahan hingga dini sebelum disingkirkan oleh semburat kemuning terbit Matahari. Tamu resort akan segera melupakan mall, kantor, kesibukan urban, atau ribut gaduh massa. Orang tua mengajak anak-anak kecil mereka bersnorkeling bersama, pasangan kekasih berasyik masyuk berdua di bawah tudung pepohonan, pejalan tunggal tidur bermalasan-malasan di beranda penginapan atau menuntaskan buku yang dibawa dari rumah.

Temperatur udara di sini sejuk, kamar tak butuh pendingin, tak juga perlu selimut hangat. Saya memaklumi masakan yang standar, racikan bumbu seadanya. Letak mereka toh jauh dari pasar, lagipula selama ikan melimpah, tak terlalu penting menggerutu. Obati saja dengan alunan gitar yang dimainkan para pemuda malam-malam sembari menyanyikan kidung asmara khas Indonesia Timur. Suara mereka tak ada yang sumbang. Hei, ini Maluku, daerah yang penduduknya teraliri darah musikalitas tinggi!

Hammock yang saya bawah menjadikan sore lebih santai di pantai


Di balik dedaunan, kedamaian vista

Hangat mentari tropis. Surga!


KARENA KEALAMIAN Seram belum banyak terjamah, pulau ini menarik dieksplor. Terdapat Taman Nasional Manusela yang telah menjaga belasan satwa endemik semenjak 1972. Di sekitar Suleman pun ada kesempatan lain untuk mengenal kekayaan hayati pulau. Trekking ke hutan, masuk ke gua-gua, hingga mendaki ke bahu pegunungan karst.

Medan basah Sungai Salawai juga salah satu jalur baik untuk mempelajari alam.    Melintasi ruas sungai ini, selain mengenal tetumbuhan dan kejutan bertemu buaya, aktifitas warga membuat sagu pun nyaris dapat dijumpai setiap hari. Penjelajahan macam begini menyuntikan kesadaran baru untuk menghargai bumi, pun memahami cara menyambung hidup sesuai apa yang dihasilkan tanah dimana penduduk setempat tinggal.  

Kunjungan ke Seram memberi saya manfaat ganda, tak hanya menikmati indahnya alam saja, tapi menyadarkan bahwa ‘perbedaan itu sesungguhnya merupakan surga yang ada di bumi’, dan  ‘orang asing sebetulnya adalah  kerabat yang belum kita kenal,’ seperti yang diwakilkan oleh Ided Latuconsina serta Pak Udin. 

Kelompok pejalan asal Jakarta yang kemudian jadi teman - hingga kini! "Strangers are friends you don't know yet"

Senja sempurna yang datang setiap hari 


Oh, tak hanya mereka berdua saja, saya juga berkenalan dengan sekelompok pejalan asal Jakarta. Awalnya agak canggung, namun suasana akrab terjalin dengan cepat setelah terisi candaan. Bahkan saya ditawari untuk mampir ke rumah keluarga salah satu dari mereka di kota Ambon sekembalinya dari Seram.

Jadi, pulau di utara Ambon ini, cuma namanya saja yang Seram, kenyataannya ia malah menenteramkan hati. 


*

Tulisan ini dipublikasikan di LIONMAG, Inflight Magazine Lion Air – edisi September

Klik untuk membaca versi PDF - LionMag

Kamis, Mei 02, 2019

Jalan - Jalan ke Cinque Terre (Italia)


Cinta Terindah
Cinque Terre

Bila lima desa di tepian pantai Italia bersekutu dalam balutan nuansa
warna-warni cerah ditimpali lereng subur penuh anggur, 
bersiaplah untuk mabuk kepayang



D
alam tempo ralletando, seorang gadis berambut panjang sebahu menyudahi permainan saksofonnya. Notasi-notasi dari lagu Caruso usai diperdengarkannya  dengan apik, disambut tepuk tangan dari para audiens. Saya duduk di sela-sela penonton, pada puing kastil di ujung tanjung kecil, sembari menikmati senja menebar semburat jingga ke penjuru desa Vernazza. 

Di hadapan saya, di bawah tanjung ini, permukaan laut Liguria beriak-riak tersaput angin Mediterania. Sedangkan pada sisi kanan, tampak menara gereja Santa Margherita d’Antiochia menjatuhkan bayanganya antara bangunan berwarna cemerlang. Sore yang  begitu menawan.

Vernazza merupakan salah satu desa  Cinque Terre. Sebutan Cinque Terre atau “The Five Lands” sebenarnya tidak merujuk ke sebuah wilayah administratif-politik, melainkan ditujukan kepada lima desa di pesisir Liguria, yang memiliki kesamaan topografi serta gaya tata ruang pemukimannya.

Kelima desa itu meliputi Monterosso, Vernazza, Corniglia, Manarola, dan Riomaggiore. Semuanya adalah desa nelayan, yang masing-masing tersembunyi di celah-celah teluk serta tanjung di bibir pantai. Tidak ada lahan datar, daerah ini berbentuk tanjakan, menyebabkan rumah-rumah dibangun tersusun pada lereng tebing. Kemolekan lima desa ini dipicu oleh kondisi alam berupa lereng tebing itu,  mengingatkan saya akan Santorini di Yunani. Bedanya, disini cat rumah didominasi oleh gradasi warna kuning dan merah, bukan warna putih. Begitupun model bangunananya, lebih menyerupai apartemen bertingkat ketimbang kotak-kotak kecil ‘dug house.’

Meski menyolok dan jadi tujuan wisata idaman, Cinque Terre tetap tampil sederhana dan bernuansa khas pedesaan. Maklum, sebagian besar penduduk bermatapencarian sebagai nelayan. Sebagiannya lagi adalah petani kebun anggur. Jangan kaget soal anggur ini, sebab kendati terletak tepat di tepi laut, Cinque Terre merupakan ladang yang cocok untuk ditanami anggur. Bahkan kondisi ini menyebabkan citarasa anggur mereka lebih kuat, katanya, akibat kadar yodium serta unsur hara tanah yang tinggi. Penduduk menanam jenis anggur lokal yang dijaga turun-temurun, misalnya Albarola, Bosco, Vermentino, juga anggur putih purbakala bernama SciachetrĂ . 

Desa Corniglia yang imut berada di tanduk bukit. Untuk mendapati posisi tengah foto ini, saya memutari lereng tebing berjalan kaki.

Jalur kereta dengan hiasan kebun anggur dan tebing. Pada musim panen anggur, biasanya bulan Oktober atau November, pengunjung Cinque Terre diperkenankan untuk ikut serta memanen dan mencicipi anggur warga

Patung Dewa Neptunus pada tebing pantai dibuat pada posisi yang kian melengkapi drama alam Cinque Terre


KARENA DATANG dari arah barat (yakni dari kota Genoa), sebelum sampai di Vernazza, saya terlebih dahulu mampir di desa Monterosso. Dia adalah desa Cinque Terre paling barat. Dimonopoli oleh lereng, menyebabkan transportasi antar desa mengandalkan moda kereta api melewati terowongan dan kapal laut. Mobilisasi dalam pusat desa umumnya dengan berjalan kaki.

Di Monterosso terdapat lebih banyak hotel, pantainya pun agak lebih luas. Pantai Monterosso berbentuk kurva, berhias pulau karang dan pasir dari butiran kecil bebatuan. Sepanjang tepian pantai berjejer café maupun restoran, selalu ramai dikunjungi. Saya menyukai bagian ujung barat dari pantai ini lantaran ada sebuah karya monumental, yakni patung Dewa Neptunus, berukuran besar, menghadap ke samudra namun seakan-akan kesakitan menahan tebing yang mau rubuh.

Usai Monterosso dan Vernazza, saya beranjak ke Corniglia. Jarak antar desa kurang dari lima kilometer, waktu tempuh dengan kereta api berkisar lima menitan. Desa Corniglia agak lain, sebab walaupun menghadap ke laut tapi tidak benar-benar di tepi pantai. Desa ini berada di ketinggian, dan akses kesana dari stasiun dengan mendaki 382 anak tangga berbentuk zig-zag yang dinamakan ‘Lardarina’. Sebenarnya ada jalan aspal, namun semua pengunjung lebih suka menapaki anak tangga ini. Pasti demi memperoleh sensasi berbeda. 

Vernazza sesaat setelah matahari terbenam. Satu demi satu lampu-lampu dinyalahkan membuat desa ini tampak kemerahan.

Suasana di jantung desa Monterosso. Rumah-rumah kotak yang jangkung memberi keteduhan.

Salah satu penginapan di Cinque Terre. Sebaiknya ke sini bawa ransel jangan bawa koper karena banyak tangganya.
Meskipun bertebing cadas namun transportasi dengan kereta api yang menembus terowongan.

Manarola menjadi desa keempat yang saya kunjungi. Dia digadang sebagai desa paling tua. Mungkin karena itulah Manorala punya dialek sendiri, Manarolese, yang cukup unik. Dialek ini juga mencetuskan nama desa, yang semestinya Magna Rota tapi berubah menjadi Manarola (dibaca Manaea). Kata ini sendiri berarti ‘Roda yang besar’ merujuk pada roda kincir angin raksasa yang dulu ada di tengah-tengah desa. Manarola diberkahi topografi berbukit yang nyaris berdempetan. Sisi selatannya menghadap laut, terbentengi oleh bebatuan granit tebal. Ornamen alam yang menimbulkan kesan dramatis, terlebih saat matahari terbit maupun terbenam. Tak ayal, jauh sebelum kamera foto ditemukan, sejumlah  lukisan terkenal jaman dulu telah mengabadikan kepermaian desa ini. Sebut saja lukisan karya Llewelyn Lloyd ‘I ponti di Manarola (Jembatan Manarola)’ dan ‘Tramonto a Manarola (Sunset di Manarola)’.

Desa terakhir dari rangkaian Cinque Terre, yakni Riomaggiore. Lanskapnya menyerupai lembah kecil, berbentuk corong yang berujung ke laut. Dengan luas 11 km2, Riomaggiore tercatat sebagai desa paling luas se-Cinque Terre. Suasana disini lebih kalem, juga lebih sejuk menghijau. Cicit burung mudah didengar, pedestariannya bagus serta bersih. Via Colombo, jalan utama Riomaggiore diisi kafe, toko souvenir, juga penginapan yang hampir seluruhnya bernuansa klasik dan tidak superlatif ukurannya. Jika memilih salah satu desa di Cinque Terre untuk menetap, rasanya Riomaggiore cocok dengan saya. Atmosfernya lebih mirip tempat retreat. 

Manarola, desa di Cinque Terre yang terlindungi bebatuan granit. Tidak ada pasir di pantainya namun tetap fotogenik.



Gereja San Giovanni Batista di Riomaggiore, tempatnya sejuk dan adem


URUSAN PELESIRAN di Cinque Terre amat identik dengan Walking Trail atau jalur jalan kaki yang menghubungkan kelima desa. Bisa dibilang 80% wisatawan yang berpelesir ke Cinque Terre akan menjajal jalur-jalur jalan kaki ini. Karena telah menjadi tradisi dan terkenal, sejumlah media asing mengukuhkan Cinque Terre sebagai Best Coastline Hiking Trail inThe World.

Jalur trekking yang digunakan tak lain adalah jalur kuno yang sudah dipakai warga di masa lalu sebelum kereta api merambah Cinque Terre. Saya bisa membayangkan, bagaimana dulu orang-orang di lima desa bersilahturahmi. Karena Cinque Terre berada dalam kawasan Taman Nasional, maka kondisi jalurnya tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Diantara jalur-jalur itu, ada tiga yang paling diminati pengunjung, yakni Reggio Trail, Sentiero Azzuro Trail, dan Via dell’Amore Trail.

Jalur yang saya sebutkan terakhir, lebih spesial, dan digemari pasangan sejoli. Ya, nama Via dell’Amore berarti ‘Jalan Cinta.’ Panjangnya cuma 1 km tapi sajian viewnya amat menawan, menghubungkan Manarola dengan Riomaggiore. Ada bumbu-bumbu legenda romantis mewarnai jalur ini. Tak heran banyak orang mengatakan bahwa perjalanan cinta terindah mereka tercipta di Cinque Terre. Kalau sudah begini, saya hanya bisa menahan rasa iri karena datang sendirian. Duh!

Salah satu rute Walking Trail  berusia ratusan tahun untuk melihat panorama dari ketinggian




***
Tulisan dan foto-foto ini dimuat di Majalah BATIK, inflight magazine of Batik Air - Februari

Publikasi di Majalah inflight BATIK (Batik Air) - Klik link di atas untuk membaca versi PDF