Jumat, Maret 29, 2019

Jalan - Jalan ke Larantuka (Flores Timur) Part 1


Alun Tepian
Waibalun

Di kaki Gunung Ile Mandiri, warisan sejarah terjaga
berapit nusa mungil dan bening lautan Flores Timur.



T
ersisih beberapa kilometer dari pusat kota Larantuka, pintu sebuah kapela di Waibalun terbuka menyambut kedatangan saya. Nama kapela ini Nuestra Senhora de Esperansa, berdinding putih agak kusam berukuran rawit dan tampak sudah sangat uzur. Seorang pria paru baya datang menyalami saya, dan menerangkan ikhwal kapela. “Usianya sudah empat abad lebih,” katanya seraya menunjukkan angka 1599 pada dinding kapela yang nyaris tersembunyi di balik kotak patung kuno.

Kapela adalah versi mini dari gereja, bisa untuk umum bisa juga milik pribadi atau kelompok. Di Flores Timur, kapela-kapela seperti Nuestra Senhora de Esperansa ini lebih dikenal dengan sebutan Tori. “Ada belasan jumlahnya. Hampir semua berusia sama, didirikan pada abad Pertengahan seiring meluasnya pengaruh agama Katolik ke Kerajaan Larantuka waktu itu. Tori-tori ini adalah milik suku-suku lokal. Nuestra Senhora de Esperansa ini empunya kami dari suku Lamakera,” lanjutnya lagi.

Saya menemukan sejumlah relik berupa patung para santo-santa Katolik warisan leluhur Lamakera. Terbuat dari kayu, sangat khas peninggalan berabad-abad lampau. Pernah saya melihat patung-patung dengan langgam seperti ini di Noemuti, sebuah kampung koloni Portugis di dekat Kefamenanu-Timor, yang juga dijaga oleh suku-suku setempat sebagai benda suci. Sudah menjadi catatan sendiri bahwa agama Katolik masuk ke Flores Timur kemudian ke Timor oleh bangsa Portugis dan keturunan mereka dari Malaka. Kelompok yang dalam buku-buku sejarah acapkali diidentifikasi sebagai orang-orang Mestizos atau kaum Mardikas tersebut membawa serta patung-patung kayu bermacam ukuran.

Waibalun dapat disebut sebagai gerbang masuk kota Larantuka dari arah barat, jika kita datang dari Maumere atau Ende. Berada di tumit gunung Ile Mandiri langsung mencium laut Sawu. Pesisirnya tenang lantaran berbentuk seperti teluk yang cukup lebar dan panjang.

Selain mendatangi tori-tori historis, saya juga menyenangi cengkerama dengan warga yang begitu mudah menjalin persahabatan. Sore hari banyak penduduk memancing di perairan mereka yang teduh. “Saya pakai bulu ayam sebagai umpannya,” kata John Kleden, warga yang gemar memancing. “Tapi saya paling senang saat Hetont, yakni berburu ikan malam hari ketika bulan purnama. Lautnya surut sehingga kami bisa berjalan jauh dengan senter untuk mencari gurita atau cumi-cumi. Seruh!,” katanya antusias di sela kicau burung-burung laut yang memecah kesyahduan Waibalun jelang terbenam matahari.

Dulu, kenang John, wilayah ini sangat ramai karena menjadi pelabuhan kapal ke berbagai kota dan pulau. Sebelum pesawat terbang menjadi moda popular kini, orang-orang naik ferry ke Kupang atau ke berbagai pulau di Nusa Tenggara Timur dari pelabuhan Waibalun. Betul, tahun 90-an hingga awal 2000 keluarga saya masih sering berangkat dari sini jika hendak ke Kupang.

Tampak depan tori Nuestra Senhora de la Esperansa, kapela milik suku Lamakera
yang menyimpan patung-patung tua abad Pertengahan.

Potret senja pelabuhan Waibalun. Para penggemar foto lansekap akan menyukai tempat ini.

Remaja Waibalun yang saban hari gemar bermain loncat-loncatan di sekitar dermaga

TAK ADA yang bisa memalingkan wajahnya dari sebuah pulau mungil yang tersedak di tepian Waibalun. Kendati sangat kecil namun letak pulau ini seolah nyaris menyentuh bibir pantai, berwujud bukit, dan sama sekali tidak tersembunyi. Ia marka identik bagi Waibalun, apalagi dihiasi oleh patung Yesus berukuran gigantis yang berdiri menggenggam tongkat seolah mengawasi semua aktifitas yang terjadi di kampung, dermaga, dan jalan raya. 

Setiap kali memandanginya, saya bertanya-tanya sendiri, apakah pulau itu bisa dikunjungi? Adakah pemiliknya? Bagaimana rasanya berdiri di kaki patung Yesus lalu menatap seantero Waibalun dari sana?

“Ya, tentu, kamu bisa kesana. Pulau Waibalun secara adat merupakan milik suku kami. Jika kamu mau, hari ini kita kesana bersama. Itu tempat bermain saya semasa kecil,” Antonius Hadjon menanggapi sukacita pertanyaan saya yang muncul tiba-tiba. Oh! Hati saya bersorak senang! Hari yang cerah dan ini seperti satu skenario sempurna yang telah diatur Tuhan,

Menumpang kapal motor, kami mencapai Pulau Waibalun dalam hitungan kurang dari sepuluh menit. Diiring desau angin, Antonius, yang saya tafsir masih berumur di bawah lima puluh tahun itu, mengisahkan kenangan masa kecilnya. “Dulu sepulang sekolah, saya dan teman-teman berenang menggunakan batang pisang untuk mencapai pulau ini,” katanya menerawang.

Kapal bersandar di dermaga kayu nan artistik yang baru selesai dibangun, menghadirkan perpektif lain Waibalun berlatar lancip gunung Ile Mandiri di sisi utara sedangkan di sisi selatannya menyebul sepasang gunung Lewotobi. Air laut di sekeliling pulau berwarna biru pirus, begitu jernih laiknya kaca. It’s a postcard picture!

Kapal mendekati pulau, tampak air laut yang bening mengajak untuk menceburkan badan.

Dermaga kayu di pulau Waibalun yang dibangun dengan formasi yang artistik, menambah kesan fotogenik pulau ini.


KAMI LANTAS mendaki tangga-tangga menuju ke puncak pulau. Saya takjub manakala mendapati fakta bahwa pulau imut ini ternyata memiliki hutan yang rimbun teduh, pohonnya tinggi dan kokoh. Padahal bila dipandang dari daratan seberang sana tampak kering kerontang. Barangkali ini termasuk ilusi optik atau sight trick. 

Patung Yesus pun ternyata cukup jangkung, sekitar 13 meter, ditemani patung-patung domba putih. Saya melihat sisa-sisa lelehan lilin, pertanda tempat ini kerap didatangi orang untuk berdoa. Cicit burung riuh rendah sesekali diselingi suara kawanan monyet yang berayun di cabang-cabang pohon. “Monyet itu dulu dibawa kemari sepasang, sekarang sudah banyak. Sepertinya harus dikurangi agar populasinya tidak berlebihan,” Antonius bertutur. 

Teduhnya puncak bukit Pulau Waibalun dengan pohon hijau, tak disangka kalau dilihat dari jalan raya.

Aerial view patung Yesus Gembala Baik dengan domba-domba putih. Memotret pagi atau sore jelang terbenam matahari mungkin lebih menawan warnanya.

Jika dilihat dari bawah, cukup jangkung patungnya.

Dari kaki patung Yesus pengunjung bisa menyaksikan aktifitas nelayan

Syahdan, menurut Antonius, pulau ini dulunya lazim disebut Nuha, dan leluhur mereka suku Hadjon sempat ‘menumpang’ tinggal di sini sebelum beralih ke daratan. Sejatinya pulau ini dihuni oleh koloni ular laut yang mereka sebut Harin. Bagi suku Hadjon ular laut  atau Harin tersebut telah dianggap makluk totem. “Acapkali Harin datang ke rumah keturunan Hadjon bila ada kejadian-kejadian penting. Biasanya diantar pulang lagi kesini,” terang Antonius. Saya agak bergidik, tapi ditimpalinya dengan kalem, “Tenang saja, yang penting pengunjung pulau ini tidak melakukan hal-hal yang buruk, merusak karang, atau menebang hutan sembarangan.”

Kami berada di pulau ini cukup lama, nahkoda kapal membakar ikan tangkapan mereka untuk dinikmati bersama. Saya asyik memotret pulau ini dari udara yang hasilnya sepintas menyerupai gambar pulau di Danau Bled nan jauh di Slovenia sana.

Sementara itu, Antonius meminjam sampan kayu seukuran kano, mengayuhnya sendirian ke ujung pulau, dan tampak larut dalam kenangan masa kecilnya.  Beberapa nelayan yang melaju, mengenali Antonius lalu menyalaminya, membuat saya tersadar hari ini saya ternyata menghabiskan waktu bersama seorang bupati!

Oh, begitulah, saya lupa, saking pikiran terbuai oleh alun tenang tepian Waibalun. 

Antonius Hadjon di sela rimbun pepohonan Pulau Waibalun. "Kayu dari pohon-pohon ini kualitasnya bagus
untuk komponen kapal," ujarnya.

Sampan kecil yang kerap digunakan anak-anak Waibalun untuk memancing atau menyelam. Tampak belakang adalah gunung Ile Mandiri.
Ikan yang ditangkap nahkoda kapal kami, jenis coral reef fish yang menandakan formasi pulau dari karang.



------
*Glosarium:
Rawit : Kecil, imut, mungil

*Tulisan ini dipublikasikan di inflight magazine LIONMAG (Lion Air) edisi April 2019 dengan perubahan seperlunya. Bisa dibaca versi PDF online majalahnya - klik di sini

PANDUAN PEJALAN

Karena langsung berapitan dengan pusat kota Larantuka, Waibalun dapat didatangi kapan pun. Penginapan atau hotel bisa didapatkan di pusat kota, tapi jika mau benar-benar  mengalami suasana Waibalun, bisa bermalam di penginapan sederhana tapi cukup bersih dekat pelabuan, yakni Penginapan Budi Luhur atau Homestay milik penduduk seperti Homestay Pak Stafanus Kromen (082237590856).

Untuk mengunjungi Pulau Waibalun dengan praktis, tumpangi sampan atau kapal motor kecil di dermaga mungil di sisi timur pelabuhan Waibalun. Ongkos menyebrang dengan sampan Rp. 20.000 PP (maksimal 2 penumpang), dengan kapal Rp. 40.000 PP (harga bukan per orang tapi per kapal, jadi bisa menumpang sekitar 4-6 orang tergantung kesediaan daya muat. Jaga keselamatan ya).

Jangan buang sampah apapun di pulau! Jika temui sampah, kumpulkan dan bakar di tempat sampah (pastikan apinya padam sebelum meninggalkan pulau). Bawa bekal makanan/minuman sendiri.

FESTIVAL BALE NAGI yang dihelat bulan April bisa menjadi momen untuk menikmati Waibalun serta destinasi-destinasi menarik lainnya di Flores Timur. Berlangsung selama sebulan, Festival Bale Nagi bisa juga memberi kesempatan untuk mengenal budaya Lamaholot (budaya asli Flores Timur). Ayo, ke Larantuka.


#festivalbalenagi #balenagi #larantuka #waibalun #pulauwaibalun


Kamis, Maret 28, 2019

Jalan - Jalan ke Mollo, TTS (Timor)


Tambo Janabijana
Mollo




R
umput-rumput desa Taiftob di pegunungan Mollo masih kuyup berembun ketika saya mengekori langkah Fun Oematan menuruni lereng bukit di belakang rumahnya. Bocah itu berjalan tanpa banyak bicara, sedangkan ayahnya, Willi Oematan, asyik berkisah tentang mendiang kakek-neneknya yang legendaris. Selain kami bertiga, Dicky Senda, yang juga warga desa Taiftob pun turut serta. Kami sedang mencari ‘harta karun.’

“Saya dapat!!,” tiba-tiba Fun berteriak sembari menunjuk ke bawah belukar. Mata kami terarah dengan segera. Oh! Harta pertama kami, Favolus tenuiculus, sekumpulan jamur putih dengan topi melebar yang termasuk dalam jenis Polypores tak beracun. Diserahkannya jamur itu ke tangan saya. “Dalam bahasa Dawan jamur disebut Pu’u. Yang ini namanya Pu’u Paku,” urai Willi Oematan.

Kami memang sedang berburu jamur, inilah harta karun pegunungan Mollo yang menyembul di musim penghujan. 

Favolus tenuiculus hampir sama dengan jamur tiram ini cepat sekali berubah warna dari merah mudah menjadi putih pucat

Fun Oematan bersukacita memamerkan jamur temuannya



Perkenalan saya dengan jamur di pegunungan Mollo terjadi sehari sebelumnya, saat Dicky membawa saya ke hutan pinus Fatukoto. Di dekat telaga yang bermandi kabut, kami bersua pria-pria penggembala yang menelusuri hutan itu mencari jamur. “Pu’u Ajaob,” kata mereka menerangkan nama jamur yang muncul di hutan pinus tersebut, satu varian Tricholoma dengan tongkol pendek - mungkin sama jenisnya dengan Jamur Matsutake yang tersohor di Jepang karena sama-sama tumbuh di hutan pinus yang sejuk. Setelah pertemuan itu, saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang jamur-jamur di daerah ini. Selain Pu’u Paku dan Pu’u Ajaob, ada pula Pu’u Maon Ana yang tumbuh di sekitar pohon kemiri dan Pu’u Atef yang muncul di padang pohon kayu putih. 

Hasil perburuan kami nikmati saat makan siang. “Saya ingin menulis cerita tentang jamur pegunungan Mollo,” Dicky berujar. “Boleh juga. Barangkali ada dongeng lokal terkait Pu’u-Pu’u ini,” balas saya. Dicky adalah penulis yang dalam buku-bukunya gemar mengangkat tema-tema lokal berbalut mitos maupun tambo. Beruntunglah dia tinggal di pegunungan Mollo. Orang-orang di sana memandang tiap elemen alam pegunungan mereka secara metafor.  Saya yakin, penulis aliran seperti dia tidak akan kehabisan materi cerita.

Membersihkan jamur yang kami dapatkan: Pu'u paku, Pu'u Ajaob, Pu'u Maon Ana

Rasa jamur hasil buruan kami tak kalah dengan di restoran, diolah Mama Fun tanpa perlu banyak bumbu


TIDAK ADA yang jauh berubah di Mollo. Akses jalan masih sederhana dan suasana hening masih menyelimuti hari, sebagaimana kunjungan pertama saya lima tahun lalu.  Jika kedatangan sebelumnya saya banyak menghabiskan waktu di Fatumnasi, kali ini saya lebih betah di kampung Dicky, Taiftob. Dicky mendirikan ‘Lakoat Kujawas,’ sebuah komunitas sosial pendidikan yang salah satu misinya yakni menggali ulang cerita-cerita rakyat setempat. Mollo tak ubahnya janabijana ideal bagi kisah-kisah mitologi, sebuah negeri di balik kabut yang menyimpan babad-babad keramat.

Suatu hari yang dibayangi gerimis, saya pergi ke kaki Fatu Nausus, gunung marmer yang kelihatan jelas dari penjuru Mollo. Hutan pohon Ampupu dan pinus saling bersisian di sela-selanya memberi panorama segar yang tidak butuh didandani monumen apa-apa. Di musim penghujan seperti sekarang ini, tiap dimensi alamnya tampak sentimentil.

Sebuah komplek penginapan etnik membuka gerbangnya untuk saya masuki. Rumah-rumah bundar beratap alang-alang berjejer dengan kebun sayuran dan murbei liar di buritan. Tidak ada suara ingar-bingar, hanya anjing penjaga yang menyalaki burung-burung Ara Timor (Timor Figbird) yang nakal.  Entah kenapa saya menyukai kesan ugahari dan agak telantar dari tempat ini.

Di depan mata saya gunung marmer Fatu Nausus terpapar nyata.  Tampuknya lancip cadas,  badannya putih pucat dan sebagian dikerubuni tumbuhan hijau bak gundukan sarang raksasa tawon hijau Agapostemon. Fatu Nausus melambangkan payudara, pemberi kehidupan. Itulah sebabnya batu ini dipandang keramat, tempat dilaksanakan ritual-ritual adat. Dicky pernah berujar bahwa bagi orang-orang Dawan di Mollo, setiap unsur-unsur alam menggambarkan anggota tubuh manusia; hutan serta pepohonan adalah rambut, sungai dan air adalah darah, tanah adalah daging, bebatuan adalah tulang. Oleh karenanya pemanfataan sumber daya alam musti dibarengi dengan kesadaran kosmologis. 

“Perhatikan Bukit Anjaf yang berada di tengah-tengah ini. Jika mujur, matamu bisa menangkap kelebat sosok kera putih, hewan sakral Fatu Nausus,” bisik pelan Nando, lelaki paru baya yang menemani saya hari itu. Gerimis membuat saya tertegun di bawah atap pondok, tapi mata saya terus menatap ke arah yang ditunjuk Nando. Setahu saya, pulau Timor identik dengan buaya sebagai totem etnik, kita bisa menemukan gambar buaya dimana saja dengan beragam kisahnya. Barulah di Fatu Nausus ini saya dikenalkan kera putih sebagai makluk sakral lainnya.

“Kera putih itu jelmaan leluhur, penjaga pegunungan Mollo. Bila alam tempat tinggalnya diusik, kemelaratan akan muncul,” ujar Nando lagi. Dia menunjuk sisi bukit yang terpotong, bekas penambangan marmer bertahun-tahun lampau. “Itu contohnya. Bukit-bukit di Mollo adalah bukit marmer, katanya salah satu marmer terbaik di dunia. Investor asing datang, lalu bukit-bukit dibela, marmer diangkut. Bencana kekeringan melanda pegunungan Mollo, karena mata air mengering. Beruntunglah kemudian warga sadar dan melakukan aksi penolakan tambang tanpa mempedulikan intimidasi,” lanjutnya. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Mama Aleta Baun (2013 Goldman Environmental Prize Winner), perempuan lokal yang gigih berjuang menyuarakan keadaan alam mereka. Saya melihat potongan-potongan batu marmer tersisa di kaki Fatu Nausus, jadi saksi tentang eksploitasi alam juga perlawanan orang Mollo.

Hingga gerimis usai berganti pelangi, sosok kera putih itu tidak jua nampak. Namun mitologinya yang berkesinambungan dengan peristiwa nyata di pegunungan ini merupakan narasi pembelajaran berhikmah. 

Rumah-rumah bundar beratap ilalang di dekat Fatu Nausus tampak sederhana namun selaras alam

Anjaf, bukit marmer yang berada di tengah-tengah ini pernah mengalami ekploitasi perusahan asing, kini kembali senyap



KETERIKATAN orang Mollo dengan batu-batu sangat kuat. Tiap klan-klan keluarga memiliki batu sakral. Untuk memulai hal-hal penting dalam hidup keluarga, batu-batu tersebut dikunjungi dan diupacarai. 

Batu-batu juga menjadi penjuru sebuah kampung, tengara persekutuan. Di Taiftob sendiri ada Fatu Napi, batu yang tebingnya berwarna merah, dijadikan sebagai penanda desa. “Dulu banyak kijang yang muncul secara ajaib di kaki bukit batu itu,” begitu Dicky dan Willi Oematan mengamini kisah yang sama tentang Fatu Napi. Saya mengenang kalimat Andy Goldsworthy, environmentalis asal Inggris, katanya, “Sebongkah batu mendarah daging dengan kenangan-kenangan geologis dan historis.” Di pegunungan Mollo ungkapan itu sangat kentara dihidupi oleh penduduknya. Pernah ketika saya di Fatumnasi sebelumnya, Mateos Anin, juru kunci Gunung Mutis, sempat pula berucap, “Batu adalah identitas kami. Jika batu-batu lenyap, kami tak tahu menyebut diri kami siapa.”

Ya, tanpa batu-batu, tambo janabijana Mollo tak akan ada. Tak ada burung-burung Ara, tak ada pinus, tak ada kayu putih, tak ada jamur.  


Dicky dengan kain tenun khas Mollo. "Merah adalah warna khas senantiasa ada di kain tenun kami," katanya.



--------------------------------------------------------------------
* Glossarium: 
Janabijana : negeri, tanah air.

**
Tulisan ini pernah dimuat di inflight magazine BATIK AIR edisi Februari 2019, dengan perubahan seperluhnya. Silahkan baca versi PDF majalahnya DI SINI.

Video Mollo