Sabtu, Agustus 31, 2019

Jalan - Jalan ke Rote (Part 1)

Singgah di Laguna
Oelangga

PADA CELAH TEBING KARANG TEPIAN PULAU ROTE,
TELAGA BIRU BERBINAR CEMERLANG DALAM LENGANG





A
da keraguan muncul manakala mengekori langkah Deni Ndolu memanjati batu karang hitam besar bergerigi. Rasanya ada yang salah. Begitu kami menjejaki bagian batu yang agak rata, keraguan saya benar-benar jadi kenyataan. “Ini bukan lokasi seperti dalam foto yang kita lihat,” kata saya akhirnya, tak mampu menahan rasa kecewa. “Tapi di sinilah Oelangga,” balas Deni beradu suara ombak. Celakanya, saya tidak menyimpan foto-foto Oelangga untuk membandingkannya, dan kawasan ini pun tidak terjangkau signal ponsel. Apakah Deni sedang menjebak atau menipu saya?

Tapi tidak mungkin pria Rote itu berniat buruk. Beberapa hari lalu dialah yang menjemput saya dari Bandar udara D. C. Saundale kemudian mengantarkan ke Nemberala. Hari ini dia pula bersedia membawa saya dari Nemberala ke Oelangga. Bukan jarak yang dekat, rute yang kami tempuh dengan sepeda motornya melewati beberapa bukit serta lembah yang belum diaspal. Deni telah menjadi teman ngobrol yang santai. Jadi, saya tidak yakin dia punya niat buruk.  Hanya saja tempat ini, jelas bukan seperti tempat yang ingin saya tuju.

Sekitar sepuluh menit kami termangu memandangi ombak. Lalu sekonyong suara Deni memecah kecanggungan, “mungkin lokasinya nun di balik tebing-tebing itu. Lihatlah, sepertinya ada jalur bagi pejalan kaki melalui perbukitan. Ayo kita susuri.” Kalimat itu tidak hanya memberi pengharapan tapi juga mengembalikan pikiran baik terhadap Deni. Saya tak jadi jatuh ke dalam purbasangka.

KAMI MELOMPATI batu demi batu mencari jalur trekking yang tepat. Deni mengakui bahwa ia belum pernah sampai ke laguna yang saya maksud tapi menegaskan bahwa kawasan ini adalah benar Oelangga. “Tidak ada tempat lain di Rote bernama Oelangga, selain tempat ini,” katanya, seolah memberi pemahaman.

Rote merupakan pulau terselatan Indonesia. Kampung halaman musisi lawas Obbie Messakh dan sastrawan legendaris Gerson Poyk. Daratannya seluas 1,200 km2 didominasi oleh tanah berkapur, tak ada gunung vulkanik, hanya bukit-bukit bersabana ditingkahi pohon lontar. Perjalanan mengitari pulau ini di puncak musim kemarau seperti sekarang menempatkan saya pada bertala-tala sengat matahari, tempelan debu, dan terpaan angin.

Terakhir kali saya mengunjungi Rote sekitar enam tahun lalu. Hanya mengetahui segelintiran tempat, selain karena akses yang belum terbuka, pariwisata pun belum jadi tema yang menarik diperbincangkan waktu itu. Loka seperti Nemberala bertumbuh dengan sendirinya lantaran memiliki peminat khusus yakni para peselancar. Kini, dengan terbukanya informasi, satu demi satu bagian tersembunyi pulau ini pun bermunculan. Salah satunya Oelangga, yang saya idamkan

Setelah menemukan jalur trekking, Deni dan saya bergegas menapaki bukit karang. Siang itu sangat sunyi, hanya kami berdua. Kendati matahari amat terik dan bercucur peluh, hembusan angin membuat kulit terasa sejuk. Di sisi bukit, tebing terjal membentang sepanjang bibir laut, seakan-akan kami sedang berada di ujung dunia.

Beberapa batu karang di jalur trekking membentuk formasi-formasi unik di antara tumbuhan perdu. Jalur ini -kendati tanpa berhiaskan mercusuar atau kastil- tampak menyerupai rute-rute trekking Cap Frehel di Bretagne, propinsi pesisir utara Perancis. Saya yakin, jika menelusuri bukit ini pagi atau sore bakal lebih atraktif ketimbang siang hari.  

Jalur trekking menuju laguna


SETELAH SEKITAR 45 menit berjalan kaki, mata saya menangkap bayangan pasir putih di sudut tebing. Tidak salah lagi, itulah lokasinya! Saya yang sebelumnya berjalan di belakang Deni, spontan bergerak mendahului. Antusias ingin lekas sampai.

Berderet kepalan bebatuan besar menjadi bingkai pemandangan. Kami melompati satu demi satu batu untuk menemukan titik paling ideal guna memandangi laguna dari ketinggian. Beginilah panorama Oelangga yang saya idamkan itu: teluk-teluk kecil dan sempit saling bersisian, terisi oleh air laut bening yang tenang berwarna bak zamrud, pasir putih bersih membuatnya tambah cemerlang, dibumbui gelondong gigantis batuan. Sungguh, ini nirwana. Kalau ada film romantis atau petulangan yang membutuhkan lokasi syuting, maka Oelangga adalah lokasi tepat.

Cukup lama kami berada di ketinggian, tanpa henti berdecak kagum. Lantas, kami menuruni tebing. Tentu saja, saya ingin menyetuh air laguna itu dan berdiri di pasir putihnya. Untuk sampai ke bawah, kami melalui celah-celah tebing yang berbentuk gua. Memandang dari sudut mana pun, semuanya fotogenik, membuat saya terus menerus membidikan kamera, sementara Deni selalu mewanti-wanti, “awas terpeleset,” atau “hati-hati salah pijakan.” 

Melalui cela-cela tebing yang bergua

Sisi pantai berpasir putih dengan apitan laut biru


Laguna Oelangga sungguh-sungguh bening. Mata saya bisa menakar hingga ke dasarnya, karena dangkal. Tidak ada hentakan pada permukaan air, sangat tenang bagai telaga, padahal di luar bebatuan yang memagarinya, ombak berdebur cukup keras. Saat mencecap airnya, terasa kadar garam yang tinggi. Itu artinya jika berenang, badan akan gampang terapung.

Saya memutari laguna, mencapai satu per satu pantai-pantai mungil berpasir putihnya, menatap detail lansekap. Kembali perasaan déjà vu datang lagi. Oelangga memang persis seperti alam pesisir Cap Frehel, di Bretange, utara Perancis. Agak janggal sekaligus lucu mendapati sebuah lokasi di daerah kita sendiri yang memiliki keserupaan dengan tempat di negeri asing nan jauh. Toh saya menikmati déjà vu tersebut, membuat saya merasa at the right place at the right time, berada pada tempat yang tepat di saat yang tepat pula. 

Mendekati laguna berwarna zamrud yang tenang

Menjelang sore kami meninggalkan Oelangga. Dalam perjalananan ke pusat kota Ba’a, kami berpapasan dengan pria-pria yang mengenakan Ti’i Langga, topi khas Rote yang lebar bagai sombrero berantena. Katanya, mereka baru menyelesaikan lomba pacuan kuda. Kami juga singgah di tempat pembuatan gula lontar, mencicipi manis gula yang diproduksi secara tradisional.

Sebelum mengantar saya ke penginapan, Deni membawa saya menatap senja di Batu Termanu yang tersohor. Saya menyampaikan permintaan maaf karena sempat berpraduga buruk saat pertama tiba di Oelangga. Pria itu tersenyum, dia juga meminta maaf untuk alasan yang sama. “Tapi semuanya berakhir manis, bukan?” katanya tergelak.

Lalu keping-keping gula lontar pun bergemeretak dalam mulut saya seiring pendar terakhir matahari. Manis, semanis vista pulau ini. 

Bulat Matahari sebentar lagi menyusup ke kaki langit

Deni Ndolu duduk di kaki Batu Termanu

**
Tulisan ini dipublikasikan di inflight magazine BATIK AIR edisi September 2019. Bisa dibaca versi PDF online majalahnya DI SINI. 

PANDUAN PEJALAN
Tidak ada warung makan di sekitar Oelangga, jadi bawa bekal makanan sendiri dari pusat kota Ba’a sebelum kemari. Pastikan air minum yang cukup untuk trekking di bukit sabana. Ingat, bawa pulang sampahmu atau jika terlalu banyak barang bungkusan yang dibawa, sebaiknya dibakar (dan dimatikan apinya) sebelum meninggalkan lokasi. Tempat ini sangat menawan tapi juga sangat berisiko hancur jika sampah dibuang sembarangan. CINTAILAH ALAM. 

#pantaioelangga #valentinoluis #traveljournalistindonesia #roteisland #pulaurote
Video Oelangga