Sabtu, April 27, 2019

Jalan - Jalan ke Larantuka (Flores Timur) Part 2


Antara Teluk & Tanjung
Pantai Oa

Setitik loka di pesisir Flores Timur,
dengan serangkaian tawaran alam menawan.





G
emuruh tepukan tangan memungkasi atraksi teatrikal sekelompok remaja. Ini pementasan teater yang tak lazim; dilakukan di sebuah pantai tersembunyi dan ratusan penontonnya adalah warga yang sebagiannya adalah penduduk pesisir. Bagi saya ini hal sederhana namun impresif, lantaran teater yang kerapkali dianggap tontonan ‘berat’ itu dikonversi menjadi hiburan rakyat. 

“Apalagi narasi dalam teater diangkat dari kisah-kisah lokal seperti sejarah, mitologi, maupun situasi lingkungan setempat. Jika disandingkan dengan pariwisata - yang kini gencar berslogan ‘community based tourism’ - maka kehadiran teater yang merakyat ini merupakan paket ideal,” komentar seorang pejalan.

Saya berada di Pantai Oa, sebuah kampung kecil yang terpental di sudut selatan Flores Timur. Nama kampung ini memang terilhami oleh nama pantainya. Dan pementasan teater tadi adalah bagian dari Festival Bale Nagi yang berlokasi di sini. Bayangkan saja settingnya yang permai: pantai berpasir putih halus, lautan tenang bening berwarna pirus, pepohonan teduh, serta paparan gunung gemunung mengitari teluknya.

Pantai Oa terletak di tengah jalur pelintasan antara Maumere-Larantuka. Patokannya yakni di Wulanggitang, ke arah selatan, mengikuti ujung kaki gunung Lewotobi. Tak sulit mencapai tempat ini, meski jalur sepanjang jalan agak sepi,

“Dulu tempat ini tidak berpenghuni. Semata terisi ilalang. Pantai Oa baru ditempati awal tahun 1980-an, setelah bencana alam tahun1979 di sini jadi tempat relokasi. Puluhan keluarga diberikan lahan untuk tinggal, termasuk keluarga kami. Dari tahun itulah kami menanami kelapa-kelapa yang tumbuh rimbun sekarang,” terang Thomas Mukin, warga kampung.

Pohon-pohon rindang menjamin udara di Pantai Oa tetap sejuk meskipun panas menyengat

Teluk yang cukup besar dengan laut tenang terkitari gunung serta bukit


Saya sangat tergoda untuk bermalam di Pantai Oa. Niatnya ingin berkemah memandang gemintang serta mendengar suara ombak. Pertemuan dengan Thomas Mukin lantas mengubah nazar, tak jadi berkemah tapi diajak menginap di rumah beliau. Sungguh, keramahan yang tak bisa ditampik. Bersama saya, ada teman seperjalanan; Ambo Kerans, Risna Yuanita, Andre Kriting, NurKartika, Agung Anugrah, Jun Plue, dan Agustin. Jadilah kami berdelapan mengisi rumah Thomas dengan cerita serta candaan sepanjang malam. Thomas yang hidup sebagai nelayan mengisahkan beberapa cerita legenda terkait kampung mereka.

“Laut teluk kami ini dihuni gurita raksasa. Tidak sedikit kapal yang karam karena mencari ikan dengan cara yang keliru. Makluk bawah laut memiliki misteri kehidupan mereka sendiri, manusia tak boleh tamak,” katanya dalam remang malam, membuat saya membayangkan sekuel film Pirates of the Caribbean. 

Memasang hammock untuk tidur bersantai dibuai semilir angin

SEBELUM LELAP, kami bersepakat bangun subuh. Ini gara-gara cerita Thomas tentang Tanjung Makassar, sebuah tanjung di Pantai Oa yang konon dulunya pernah disinggahi Portugis pada abad Pertengahan. “Ada salib tua di sana, serta puing-puing benteng. Panoramanya juga bagus” ujarnya. Tak pelak uraian Thomas itu memberi kami imajinasi. “Mendaki Tanjung Makassar tidaklah sulit. Cuma lima menit,” pungkasnya. Lima menit? Terasa begitu mudah.

Sekitar jam lima pagi kami menerobos lereng bukit yang dijejali pohon-pohon lamtoro (Leucaena leucocephala), sempat kehilangan arah lantaran ada rute yang diblokade seseorang. Ternyata ‘lima menit’ waktu tempuh yang disebut Thomas tidaklah benar. Kami butuh satu jam mendaki. “Mungkin maksud beliau lima menit dari rumahnya menuju gerbang pendakian,” hibur Ambo Kerans.          

Selepas hutan lamtoro, kami berhadapan dengan lereng penuh ilalang. Langit perlahan terang dengan warna ungu kemerahan dari ufuk timur. Di jalur menuju puncak, saya melihat potongan susunan bebatuan menyerupai tembok, tak sampai satu meter tingginya, namun saya tak begitu yakin apakah itu yang dimaksud Thomas dengan puing-puing benteng Portugis.

Sukacita menyambut hangat pagi mentari

Ilalang yang tingginya mencapai pinggang

Detik-detik matahari terbit

Masing-masing tampak sibuk mengecek hasil foto pada kamera.

Lereng Tanjung Makassar yang sebelahnya ditumbuhi ilalang, sebelahnya lagi berjejal pohon lamtoro

Begitu kami mencapai titik puncak yang agak landai, matahari pagi pun memunculkan bola kuning bulatnya. Disongsong semilir angin, peluh setelah pendakian seolah luruh sejuk berbaur sukacita. Dari titik ini pandangan bisa terarah kemana-mana. Di sisi timur gunung Lewotobi tampak jangkung mengerucut. Pasir putih Pantai Oa agak tersembunyi rimbun pepohonan.

Sedangkan bagian barat, langsung memaparkan garis panjang Pantai Rako tanpa penghalang. Titik dimana kami berdiri sebenarnya lebih mengarah ke barat, sehingga saya yakin, pemandangan saat senja pun tak kalah memikatnya. Walau hanya terpisahkan sebuah tanjung, kondisi laut keduanya berbeda. Jika di Pantai Oa teramat tenang, di Pantai Rako ini gulungan ombaknya muncul berlapis-lapis dan tidak begitu aman untuk berenang. Namun keadaan ini menciptakan potensi sendiri, khususnya bagi pegiat selancar. Hari itu kami melihat beberapa pria berlalu sambil menjinjing papan selancar (surfing board).

Menatap ke kampung berpanorama luas

Nun jauh di timur, bayangan Gunung Lewotobi dan Pantai Oa yang tersembunyi

Bentang panjang Pantai Rako yang juga berpasir putih


KAMI BERADA di bukit Tanjung Makassar cukup lama. Salib tua peninggalan Portugis yang diceritakan Thomas tak kelihatan. Barangkali berada di kaki tanjung sebelah selatan yang sulit dilihat dari atas tebing. Setelah merasa cukup, kami pun turun kembali menuju ke rumah Thomas.

Saya masih memendam keinginan untuk berenang di Pantai Oa. Rupanya teman-teman pun tak relah meninggalkan kampung ini tanpa berenang. Kejutannya lagi, Thomas mengatakan bahwa keluarganya memiliki sebidang tanah tepat di pantai tersebut yang dapat kami pakai. Anak lelaki Thomas pun baru kembali melaut dengan hasil tangkapan berupa ikan kerapu segar. Kontan saja kami seakan memperoleh jackpot secara beruntun. Usai berenang langsung disambung dengan menyantap ikan bakar. Menantu Thomas membawakan nasi serta minuman dari rumah mereka. Hari itu benar-benar kesenangan besar!

Meninggalkan Pantai Oa sore harinya, saya terus membayangkan potensi kampung ini yang begitu menjanjikan. Alam yang elok dan penduduk yang bersahabat sudah cukup jadi modal untuk tumbuh. Pengelolaan yang bijak akan memberi dampak bagus. Tentu saja musti menempatkan warganya sebagai pelaku, bukan sebagai obyek. Saya ingin melihat keluarga Thomas terus tersenyum sebagaimana kampung mereka yang permai antara teluk dan tanjung. 

Warna biru pirus tak hanya pada lautnya, tapi juga pada cat sampannya

Sisi barat Pantai Oa dengan kapal-kapal nelayan


*
Tulisan ini dipublikasikan di inflight magazine LIONMAG (Lion Air) edisi Mei 2019 dengan perubahan seperlunya. Bisa dibaca versi PDF online majalahnyaDI SINI

PANDUAN PEJALAN:
Belum ada warung makan di sekitar Pantai Oa, jadi bila hanya berkunjung sehari, bawalah bekal makanan yang bisa dibeli & dibungkus di Boru (sebelum berbelok dari jalan raya ke selatan).

Untuk masuk ke Pantai Oa (area pantai pasir putih), dikenakan entry fee bagi kendaraan. Mohon sediakan uang ribuan. Bea masuk ini berguna untuk pemeliharaan lokasi, karena ada petugas kebersihan dan sudah termasuk penggunaan WC/ KM. Tersedia air bersih untuk bilas usai mandi di laut. Dibayar ya, agar warga desa mendapatkan sedikit dari kunjungan kita (Dikelola oleh Desa, bukan pribadi/perseorangan).

Bila minat berkemah atau bermalam di rumah warga, silahkan kontak penduduk. Jangan sungkan dan beradaptasilah dengan keadaan mereka.

Meskipun ada petugas kebersihan, tolonglah untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik. Bila sampah itu terbawa ke laut, akan rusak eksosistemnya. Mari menikmati alam dengan cara beradab.

#festivalbalenagi #balenagi #larantuka #pantaioa #pantairako

Video Pantai Oa & Tanjung Makassar