Jalan - Jalan ke Portugal (Obidos)


Mabuk Ginja di
ÓBIDOS


“T
urunlah kemari, di situ bahaya,” teriak Marina. Gadis mungil enam tahun itu melambaikan tangannya dari tangga depan kastil Pousada do Castelo. Saya dan Antonio, paman Marina, sudah lebih dari dua jam berbincang santai seraya memandang gereja kecil Nossa Senhora do Carmo yang sendirian di tengah ladang terkerubuti rumput liar, lansekap luar benteng yang tampak keemasan tertimpah matahari pagi. Kami bergayut, seperti menunggang kuda, pada pundak lempengan pagar benteng sebelah kiri paling ujung yang membatasi antara bagian pekarangan kastil dengan bagian rumah-rumah penduduk Óbidos.

Tembok benteng tersebut tingginya lima meter, melingkari Óbidos, dan agak berbahaya sebenarnya bila tak hati-hati berada di atasnya. Namun saya dan Antonio bukan anak ingusan, keselamatan tak perlu dirisaukan, meski saya paham, ketidakacuan kami pastilah berbeda bila mengikuti pola pikir anak sepolos Marina.

“Ayo, lekaslah, avô menunggu kalian.” Beberapa menit kemudian Marina berteriak lagi. Kali ini ia sudah sewot. Pita merah pemberian Antonio kemarin sebagai hadiah untuk penghias ekor kudanya menambah rona kekesalannya. Antonio menatap keponakannya lantas menyahut, “Ya, ratu kecilku, bilang ke avô-mu kami segera datang..” Avô adalah kata dalam bahasa Portugis yang berarti kakek. Marina mendowerkan kedua bibirnya dan bercekak pinggang, tak puas, tapi segera pula ia menuruti kata Antonio, berbalik ke arah yang sama seperti arah sebelum ia datang. Sejurus saya melihat seorang pria memperhatikan gerak-gerik Marina dari kastil Pousada do Castelo, sedikit misterius.

“Dia tentu salah satu turis yang menginap di kastil,” ujar Antonio yang rupanya menyadari kehadiran pria itu pula. “Kita bisa melihat isi kastil nanti," tambahnya. Saya mendelik, seolah bola mataku terisi tanya ‘memangnya boleh masuk ke dalam kastil yang kau bilang usianya telah melampaui 1290 tahun itu, huh?’  Antonio bergerak menuruni tembok, saya menyusulnya. “Oh, memang Pousada do Castelo tak boleh dikunjungi orang sesuka hati sejak resmi jadi hotel tahun 1950an. Tapi jangan kuatir, saya kenal baik hampir semua pegawai di sana.”

Bagian Obidos yang dikepung tembok benteng

Pousada do Castelo yang dulunya dihuni keluarga raja kini beralih menjadi hotel

SAYA BARU
semalam di Óbidos, datang bersama Antonio sehari sebelumnya dari Lisbon. Antonio de Abreu, nama lengkap bujangan asli Óbidos ini, bekerja di Lisbon sebagai staf Welcome Center de Lisboa, yang kalau di Indonesia kita menyebutnya pusat informasi pariwisata. Jadi perkara seluk beluk tempat wisata sekitar Lisbon, sahabat saya ini bolehlah dibilang masternya. Jarak ibukota negara Portugal tersebut dengan Óbidos 80 km. Dengan mobil hanya menghabiskan waktu sejam, jalanannya pun jarang berkelok-kelok.

Toh, Antonio tak tiap akhir pekan mudik ke kampung halamannya. Sekali sebulan, jadwalnya. Bukan karena ia lebih suka pada gemerlap yang ditawarkan Lisbon, melainkan ia punya kelompok musik yang manggung tiga kali seminggu di Alfama, bagian dari pusat kota Lisbon yang identik dengan permainan Fado, musik khas Portugis nan melankolis. Selain memenuhi panggilan jiwa untuk melestarikan musik tanah airnya, Antonio bercita-cita, kelak tabungan dari gaji kantor serta bayaran manggung, ditambah jaringan pertemanannya bisa dipakai merealisasikan mimpinya.

Menjadi penyuplai Ginja besar, setidaknya di negaranya. Begitu impian Antonio. Ia sudah merintis jalan ke arah perwujudan cita-cita tersebut. Bermula kejadian kehabisan pasokan Ginja pada salah satu restoran terkenal di Lisbon tempat grup musik Fado-nya manggung perdana. Ia lalu spontan menawarkan jalan keluar dengan mendatangkan Ginja dari daerahnya. Lambat laun, dari satu restoran menjadi beberapa restoran, mempercayakan urusan Ginja mereka kepada Antonio. Suatu peristiwa di luar dugaan yang dari situlah terbaca kesempatan untuk menjadi distributor Ginja.  

Manalagi Ginja dari Óbidos terkenal sebagai satu dari sedikit daerah penghasil Ginja tradisional terbaik. Keluarga Antonio, terkhusus sang ayah, pandai meramunya. “Sederhana sekali resepnya, anakku. Sekarang banyak orang menambahkan satu dua bahan atau sekedar mempercantik kemasan luarnya lalu berkata mereka menemukan ramuan baru. Tak apa, setidaknya minuman kaum jelatah ini sampai juga ke negeri-negeri seberang. Pada ujungnya toh kebesaran nama bangsa kamilah (Portugis) yang disebut,” gelak ayah Antonio menyingkapi pertanyaan saya tentang klaim Ginja terbaik dari beberapa produsen.

Ayah Antonio melangkah menyusuri lorong rumah

Gang-gang sempit yang diisi para pengunjung Obidos

ÓBIDOS tak cuma mencakup area di dalam benteng tapi juga perkampungan yang mengitarinya. Rumah keluarga Antonio berada di dalam benteng, tepatnya di sudut kanan bawah bersebelahan dengan kastil sekaligus hotel Pousada do Castelo. Masuk akal pabila Antonio mengenal baik para pegawainya. Saya yakin sekali sewaktu kecil ia pasti suka bermain di alun-alun dekat pintu gerbang kastil, di mana terdapat menara tua Torre Albarǎ dan pos polisi. Lalu jika pegawai-pegawai hotel lewat, mereka akan menyapanya dan tak pelak ada yang ‘menyeludupkannya’ masuk ke dalam kastil.

“Kami, saya dan kakakku, bebas keluar masuk kastil karena ibu bekerja disitu dulunya. Ya, tidak sama sekali bebas sesuka hati sih, lebih sering di dapur. Hanya kalau lagi ada pesta seperti Natal, Paskah, dan perayaan besar lainnya baru kami bisa melihat ruang makan kerajaan. Pernah sekali saya dan kakakku menyelinap ke sebuah kamar yang kasurnya begitu empuk. Saya berguling-guling di atasnya. Sementara kakak saya takjub pada satu benda berbentuk daun yang ada lubang di tengahnya. Belakangan kami tahu kalau itu kamar Ratu Urraca dan benda berbentuk daun yang dia kagumi lubangnya itu ternyata sebuah kloset. Hahaha…gila kan, untuk buang hajat saja klosetnya terbuat dari emas mengkilap,” cerita Antonio mengenang masa kecilnya.

Pousada do Castelo sesungguhnya kastil yang dibangun orang-orang Moor, kelompok Muslim dari wilayah utara Afrika, yang berjaya serta hidup menyebar hingga ke semenanjung Iberia, mencakup Portugal dan Spanyol. Diperkirakan kastil ini didirikan mereka tahun 714 di dalam areal yang merupakan rongsokan kota tua  Romawi bernama Eburobrittium.

“Nama Óbidos berasal dari kata Oppidum, dalam bahasa Latin Romawi artinya benteng. Nah, saat Reconquista berkobar dan kekristenan di semenanjung Iberia kembali dominan, kejayaan orang Moor turut runtuh. Kastil pun diambil oleh Afonso Henriques, raja pertama Portugal. Seratus tahun kemudian, raja kedua memberikan kastil kepada permaisurinya sebagai hadiah pernikahan mereka. Perlakuan terhadap kastil ini sebagai hadiah pernikahan raja bagi permaisurinya terus berulang, semacam tradisi hingga abad ke-19. Bisa dibilang, Óbidos adalah kota kecil yang paling sering dikunjungi ratu. Ujung-ujungnya menjadi masyur dan dijuluki sebagai Vila das Rainhas, Kota Para Ratu,” urai Antonio.

Saya melihat pohon bugenfil memekarkan bunganya di mana-mana. Ada juga kembang geranium. Kedua bunga ini mengisi Óbidos, menghias lorong-lorong sempitnya. Tetapi yang paling saya sukai dari Óbidos adalah rumah-rumahnya yang khas. Atap genteng natural, dinding berlabur cat putih dengan ornamen garis biru, merah, atau kuning. Satu rumah memakai dua warna. Putih sebagai warna dasar lalu salah satu dari tiga warna tadi menjadi warna sekunder. Pada abad Pertengahan penggunaan warna sekunder merupakan sebuah simbol. Warna kuning berarti kemakmuran, biru lambang sukacita, merah maknanya pengusir roh jahat. Terus terang, daya tarik Óbidos di mata saya lebih dikarenakan pemandangan santun bersahaja rumah-rumah penduduknya, bukan pada kastil. Menemukan kastil Pousada do Castelo sekedar kejutan tambahan dari Óbidos. 

Seorang oma merajut taplak meja sebagai souvenir Obidos. 

Genteng alamiah berlumut sebagai atap rumah menambah kesan teduh dan rustik

Jejeran kartu pos yang dipajang di depan kios cenderamata Obidos

SORE HARI kami duduk mengelilingi meja makan. Rencananya saya akan diajarkan bagaimana membuat Ginja sederhana. Selain orang tuanya, hadir pula kakak perempuan Antonio, Isabel, beserta putrinya Marina. Mereka datang dua hari sebelumnya dari rumah mereka di Nazare. “Papa sedang di Braga, jadi Mama dan saya kemari,” celoteh Marina sambil mengunyah potongan kecil Lombinho, variasi sandwich berisi daging babi. Saya mengamati isi rumah sambil terus meneguk Ginja.

Ginja, meski bernama mirip, tapi tak punya keterkaitan dengan Ganja. Baik ditinjau dari asal-usul ataupun bentuk. Kecuali satu hal, keduanya sama-sama bisa membuat kita mabuk kepayang! Ketika pertama kali datang ke Portugal dan mendengar kata Ginja, pikiran saya langsung mengarah kepada ganja atau minuman olahan opium. Manalagi ada satu merek terkenal yang namanya ‘menyerempet’ ke arah sana, Oppidum. Nyatanya Ginja tak lain tak bukan hanyalah minuman sekelas liqueur. Rasa manis serta kadar alkoholnya beragam, membuat saya yang tidak terbiasa minum alkohol pun tak menampik. Bahan dasar buah cerry asamnya kurang lebih sama dengan Griottes, liqueur yang dikonsumsi di sekitar Dordogne, Perancis.  

Di hadapan saya tersedia semangkuk besar buah cherry, bulat-bulat sekecil kelereng. Yang terbaik adalah buah yang merah cerah, masih keras, tidak terlalu ranum. Kemudian bahan berikutnya yakni gula berwarna kekuningan, kayu manis, dan cairan berbau alkohol yang disebut aguardente. Isabel meletakan satu gentong kecil terbuat dari tanah liat. Proses pembuatannya singkat.

Mula-mula saya menuangkan cherry ke dalam gentong, Menyusul taburan gula. Kayu manis dibagi beberapa potong, ditanam di atas taburan gula tersebut. Aguardente dituangkan hingga mendekati bibir gentong. Selesai. “Jangan diaduk…!!,” Isabel tiba-tiba menyelah seraya melepaskan tawanya saat melihat saya mengambil senduk kayu panjang. Niat saya memang ingin mengaduk isi gentong. Saya ikutan tertawa menyadari ketidaktahuanku. “Cherry harus selalu berada di lapisan terbawa.” Isabel lalu mengambil secarik kertas, menulis sejenak di atasnya lantas merekatkannya pada gentong dengan isolasi bening, “GINJA VALENTINO,” demikian tulisannya. Hah, saya tersenyum senang, ini Ginja buatan saya.

Sayangnya, untuk memperoleh rasa terbaik, Ginja saya harus didiamkan paling singkat selama setahun. Begitu mendengar bahwa saya masih lama di Portugal, Ibu Antonio, dengan penuh cinta, memboyong gentong Ginjaku ke gudang penyimpanan mereka. Ia mengangkat kedua tangannya begitu keluar dari gudang, kemudian mengatupkan telapaknya, gaya khas ibu-ibu ketika baru saja menyelesaikan sebuah pekerjaan. “Beres. Anakku, kamu hanya perlu sedikit bersabar hingga umurmu bertambah satu angka lagi. Ginjamu aman di sini.” 

Buah cherry-bahan utama Ginja

Karyawati hotel Pousada de Castelo bercanda sembari menikmati Ginja dalam wadah cokelat

Manisnya Ginja dalam wadah mungil berbahan cokelat

SEBELUM makan malam, saya dan Antonio mengunjungi kastil Pousada do Castelo untuk melihat isinya. Kami terlebih dahulu menyinggahi dapur, di mana perempuan-perempuannya bergegas serempak menciumi Antonio begitu mereka melihatnya muncul. Yang tua-tua mengusap wajahnya, yang muda menepuk legannya. Ia bak pangeran saja di sini. Kami memasuki kamar tidur yang katanya cocok untuk satu keluarga tapi bagiku rasanya terlalu sempit. Ruang-ruang kastil dekorasinya sederhana namun kental dengan nuansa abad Pertengahan. Mungkin bagian terbaik adalah berdiri di jendela-jendelanya dan memandang matahari terbit atau terbenam.

Makan malam kami lakukan beramai-ramai di restorante Zina, kira-kira dua kilometer di luar benteng Óbidos. Makanannya enak, masing-masing gelas kami tertuang Ginja, kecuali gelas milik Marina. Ia tampaknya cukup senang memperoleh setengah lusin mangkok kecil yang terbuat dari cokelat. Mangkok-mangkok tersebut seukuran tutupan jerigen dan sebenaranya berfungsi sebagai wadah Ginja.

Ide menjadikan cokelat sebagai wadah Ginja diperkenalkan oleh Dário Albano Pimpão, pendiri perusahaan Ginja Oppidum pada permulaan tahun 2000an. Óbidos adalah tempat pertama Dário memperkenalkan cara barunya itu. Kini gaya menyajikan Ginja dalam wadah cokelat sudah menyebar ke seantero Portugal. Antusias konsumen sangat tinggi, terpanas-panasi lagi dengan desas-desus bahwa minum Ginja bercampur cokelat mampu meningkatkan vitalitas seksual. Saya pikir, bukan pada vitalitas tapi lebih tepatnya sensasi seksual. Bayangkan, asyiknya bercinta diselingi manisnya liqueur dan aroma cokelat!

Malam itu, saking banyaknya meneguk Ginja, langkah saya terhuyung-huyung keluar dari restoran. Saya mabuk Ginja. Rupanya yang kami minum tadi memiliki kadar alkohol tinggi. Anehnya, saya bersuka cita, sungguh-sungguh gembira oleh kehangatan keluarga dari Óbidos ini. 

Mencicipi Ginja murah di sekitar rumah-rumah penduduk Obidos


**
*Tulisan ini pernah dimuat di majalah National Geographic Travel Indonesia. Versi lain dengan perubahan seperlunya dimuat di majalah Batik Air – inflight magazine.

#inflightmagazine #majalahpesawat #valentinoluis #penulisperjalanan #traveljournalist #penulisntt #penulisflores

Jalan - Jalan ke Bajawa - Part 2


Magi Arunika
Maghilewa

SYAHDU SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL
DI LERENG SELATAN GUNUNG INERIE - FLORES.


T
ernyata pagi telah didupai aroma kopi ketika saya terjaga. Dari balik dinding papan rumah adat Sa’o Ne Wue yang saya inapi, suara air panas yang tertuang pada gelas-gelas beradu gurau Mama Ella dan beberapa tetangga. Saya menyibak tirai yang menutupi Bheja one, balai depan rumah adat, dan mendapati langit di sisi timur kampung berona merah. Sebentar lagi arunika, momen terbitnya matahari.

Dengan segera saya bergegas keluar, lalu berdiri di pekarangan kampung tepat di bawah Ngadhu, tiang kayu berukir dan beratap alang-alang simbol kehadiran roh leluhur pria Maghilewa. Dari situ saya memandangi binar-binar kuning munculnya Sang Surya yang menerobos pepohonan. Sebagian cahaya terpapar ke lancip gunung membentuk garis cahaya paralel bagaikan laser, sebagian lagi menyentuh bubungan rumah-rumah adat di sebelah timur.

“Suasana pagi seperti inilah yang selalu muncul setiap saya mengingat Maghilewa,” kalimat Agustinus Thuru terdengar pelan di hadapan saya. Lelaki berkacamata itu muncul dari rumah adat Sa’o Ne Ledo, selang satu rumah dari Sa’o Ne Wue. Tiap rumah adat di kampung ini memiliki nama sendiri-sendiri.

Berbeda dengan saya yang benar-benar baru, Agustinus sesungguhnya salah satu keturunan asli Maghilewa. Hanya saja dia telah lebih dari dua dekade bermukim di Bali. “Jalan hidup membawa saya ke pulau itu. Namun Maghilewa yang senyap ini terus menarik saya kembali,” katanya lagi. Kami tiba bersamaan, meski dengan iktikad yang berbeda; dia ke sini karena terpagut rindu pada kampung halamannya, sedangkan saya datang lantaran  dihela rasa ingin tahu. 
Arunika. Pancar sinar matahari pagi menembus pohon dan memapar lereng Gunung Inerie

Jalan menuju Maghilewa melalui punggung bukit penuh pepohonan

Menuruni tangga-tangga terasering yang menghubungkan rumah-rumah adat

INI ADALAH HARI KEDUA saya di Maghilewa, sebuah kampung tradisional pada lereng  Gunung Inerie, Bajawa – Flores. Kampung syahdu ini dibekap rimbun pepohonan kemiri dan cengkeh, berhawa sejuk karena terletak di ketinggian. Meski begitu, jaraknya dengan Laut Sawu hanya terpisah tiga kilometer, sehingga dari balai Sa’o Ne Wue yang berada paling utara, mata saya sempat bisa mencuri pandang ke lautan.

Dibandingkan dengan kampung-kampung tradisional lain di Bajawa, nama Maghilewa belum begitu seterkenal Bena, Gurusina, atau Tololela. Namun justru inilah magnet yang melecut saya kemari. Ada perasaan istimewa manakala bisa mendatangi tempat-tempat yang belum masyur, mengindra, serta mengalami hal-hal yang masih otentik, masih apa adanya.

Kemarin sore, misalnya, bersama keluarga Mama Ella, saya dan Agustinus mengikuti ritual Ti’i Ka Puju Pia, semacam upacara penghormatan bagi leluhur. Dengan khusuk ritual dipimpin oleh dua penatua yang mengumandangkan syair-syair adat, lalu melakukan penerawangan terhadap nasib baik anggota keluarga suku. Pada lokasi yang bertabur bebatuan megalith diteduhi pohon-pohon cengkeh berembus wangi, ritual itu menghadirkan aura magi. Di seantero Flores dan hampir semua wilayah Nusa Tenggara Timur, leluhur yang telah lama meninggal sangat dihormati. Suku-suku lokal percaya, setelah kematian, roh-roh para karuhun masih tetap berdiam di sekitar mereka. 

Berhimpun di lokasi ritual untuk melakukan doa bagi leluhur

Temaram malam Maghilewa begitu syahdu dan damai

Anak-anak Maghilewa menghalau dingin dengan mengenakan sarung tenun hitam

KAMPUNG-KAMPUNG tradisional di Flores umumnya tidak hanya didirikan oleh satu suku, melainkan beberapa suku. Para arkeolog mengungkapkan bahwa kampung-kampung adat dibentuk oleh kelompok-kelompok kecil pengembara purbakala yang memiliki keserupaan visi atau bermigrasi karena alasan yang sama. Acapkali mereka datang dari arah yang berbeda, tapi mereka kemudian memufakati sistem yang satu. Di Maghilewa, peradaban diembuskan oleh empat suku: Turu Ebu Ruma, Kutu, Kemo, dan Boro.

Tidak diketahui pasti sejak kapan kampung ini dibangun. Yang dituturkan turun temurun hanyalah bahwa nenek moyang mereka berasal dari negeri nan jauh, berlayar menyinggahi pulau-pulau di barat Nusantara, mendarat di pesisir selatan Bajawa, kemudian membangun kampung-kampung di sekeliling kaki Gunung Inerie. “Penamaan kampung ini terilhami oleh pohon lontar menjulang yang dijumpai para leluhur tatkala membuka lahan untuk dijadikan kampung. Kata Maghi yang artinya lontar dipadukan dengan kata Lewa yang berarti tinggi,” urai Agustinus.

Maghilewa menerapkan pola tata ruang serta arsitektur khas etnis Ngada. Rumah-rumah adat dibangun mengitari pekarangan segi empat. Membujur dari utara ke selatan, pada lahan berundak-undak bagai teras sawah. Atap dari alang-alang ditopang oleh struktur kayu dan juga bambu. Rumah-rumah adat ini memiliki strata atau pangkat. Sa’o Saka Pu’u stratanya paling tinggi dan berperan sebagai rumah utama. Di atap bagian tengahnya dimahkotai sebuah miniatur rumah yang menegaskan posisinya sebagai induk. Ia kemudian diapit oleh rumah-rumah adat berstrata lebih rendah yakni Sa’o Saka Lobo serta Sa’o Sipe. 

Ukiran motif ayam pada dinding rumah lambang kemakmuran.

Jelang sore hari. Dipotret dari sisi barat rumah-rumah adat.

Kendati sepintas terlihat amat sederhana, rumah-rumah adat ini punya beberapa bagian yang tidak boleh sembarangan dimasuki. “Area yang paling lazim untuk menerima tamu yakni balai paling depan yang kami sebut Teda Moa,” Agustinus menjelaskan. “Jika sudah akrab dengan tuan rumah atau bila hendak menjamu makan, barulah diajak masuk ke balai tengah, Bheja One. Bagian paling dalam, One, hanya boleh diakses oleh keluarga suku. Di situ percakapan bersifat pribadi juga ritual keluarga diadakan,” lanjutnya.

Ketenangan adalah aksen sehari-hari di Maghilewa. Tidak ada ribut gadu. Gemeretak ranting pohon yang patah beradu dengking serangga serta desau angin dihayati sebagai kidung alam. Setelah matahari tenggelam dan makan malam usai, acapkali para pria pamit berburu hewan-hewan nocturnal di hutan. Entah apapun hasilnya, dapat atau tidak, senantiasa mereka pulang dengan cerita.

“Tapi Maghilewa terlalu senyap,” bisik Agustinus lirih. Ia sepertinya merasa bersalah meninggalkan kampung ini. Memang perkebangan jaman telah mendorong perpindahan penduduk ke dataran dekat pantai, juga keinginan untuk melihat sisi dunia yang lain. Tidak ada yang salah, sebab hasrat untuk berpindah-pindah ada dalam darah manusia. Penduduk yang bertahan tinggal berusaha menjaga kampung ini agar tetap memiliki denyut kehidupan, dan tiap pagi bangun menyambut magi arunika dengan kecintaan pada tanah leluhur mereka.

Agustinus, saya yakin, akan selalu membawa Maghilewa dalam ingatannya. Sepekan setelah pulang, saya membaca puisi melankoli yang ditulisnya dalam sebuah portal;
“para leluhurku di kampung sunyi
kupercaya tidak pulas dalam sejarah
waktu yang terus mengalir
adalah jalan panjang bagimu berjaga
tak pernah lelah menyusupkan cinta
pada rentang kehidupan anak cucumu”

Tampilan depan Maghilewa dengan model terasering bertingkat

***      
Tulisan ini dipublikasikan di majalah pesawat BATIK AIR dan menjadi salah satu Top 10 cover Batik Air favorit saya. Klik untuk mengetahui Top 10 cover Batik Air DI SINI

Follow Instagram saya DI SINI
#valentinoluis #travelwriterindonesia #traveljournalist #travelphotographyindonesia #lionmag #lionair #inflightmagazine #batikair #batikairmagazine #majalahpesawat #penulisperjalanan #maghilewa #kampungtradisional

Inflight Magazine (Batik Air)


Valentino Luis & Inflight Magazine
Batik Air
My 10 Favorite Covers


B
ergabung menjadi penulis & fotografer sejak tahun 2014, awalnya saya belum tahu kalau Batik Air itu sister company-nya Lion Air. Setelah beberapa artikel saya terbit di LionMag (inflight magazine Lion Air), saya ditawari oleh tim redaksional Bentang Media Nusantara, perusahaan yang mempublikasi majalah-majalah Lion Group, untuk menulis tambah lagi artikel agar tidak hanya muncul di LionMag tapi juga di Batik. Otomatis saya harus menyiapkan lebih dari dua artikel. Tapi saya senang sekali waktu itu. Apalagi diberitahu bahwa konsep tulisan tidak perlu diubah, tekniknya sama dengan yang di LionMag, dan tetap menggunakan gaya tulis saya sendiri. “Pokoknya tulis dengan ciri khas kamu, tidak perlu lagi kami edit teksnya,” begitu kata Bang Risti, pengampuku. Selama ini memang semua artikel saya tidak diedit oleh tim redaksi, semua kata dan tanda baca yang muncul di majalah 100% dari saya, tanpa diubah-ubah lagi.

Artikel pertama saya untuk Batik Inflight Magazine muncul edisi bulan Maret 2014, berjudul “Menambat Hari di Split.” Kisah perjalanan ke kota Split, di Kroasia. Setelah artikel itu, menyusul artikel-artikel lain muncul regular di Batik Inflight Magazine. Bang Risti bilang bahwa untuk Batik Inflight Magazine, artikel dari saya lebih fokus untuk ceritakan destinasi-destinasi luar negeri.  Maka setelah artikel tentang Split (Kroasia), berturut-turut saya menulis tentang perjalanan ke tempat-tempat asing, seperti ke Los Glacaires (Argentina), Santorini (Yunani), Potosi (Bolivia), Siena (Italia), Lisbon (Portugal), Budapest (Hungaria), Sydney (Australia) dan seterusnya. Cukup banyak.

Namun kemudian artikel-artikel saya untuk Batik Inflight Magazine tidak melulu destinasi mancanegara, sesekali diselipkan cerita perjalanan di Indonesia, seperti ke Rinjani (NTB), Sumba (NTT), Amed (Bali), atau Buton (Sulawesi Tenggara). Tambah lagi setelah tiga tahunan lebih absen ke luar negeri dan kebanyakan assignment untuk majalah Colours Garuda Indonesia (nanti saya posting sendiri tentang Colours), jadilah artikel-artikel dalam negeri pun mendominasi.

Kalau dihitung-hitung, untuk Batik Inflight Magazine saya sudah menulis 60an artikel. Lumayan mumet ya kalau dipikirkan sekarang menulis 60an artikel, belum lagi untuk LionMag jumlahnya pun selisih sedikit. Ada cukup banyak foto saya menghiasi sampul depan Batik Inflight Magazine, jadi cover. Senang lihatnya setiap kali muncul edisi baru ada foto jadi sampul. Ada kebahagiaan tersendiri.

Dari foto-foto yang jadi sampul Batik Inflight Magazine tersebut, ada beberapa yang saya favoritkan. Bukan semata-mata karena enak dilihat oleh mata saya tapi juga karena cerita di balik pembuatan foto-foto itu. Ya, Behind the Scene (BTS) istilahnya. Setiap memandang fotonya, memori saya akan perjalanan ke sana muncul kembali dengan cepat. Itulah kekuatan media visual foto.

Berikut ini adalah 10 sampul favorit saya, My 10 Favorite Covers of Batik Air Inflight Magazine. Dimulai dari urutan 10 ya? 

10. SERENADE LOIRE VALLEY


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Januari 2015
Lokasi Pemotretan: Centre-Val de Loire, Perancis
Peta: Google Map

BTS: Rigny Usse adalah sebuah desa kecil di Centre-Val de Loire, Loire Valley, Perancis. Saya menginap di penginapan sederhana di sini setibanya semalam (tiba sudah gelap, dijemput pemilik penginapan di stasiun). Desa ini berjarak 500an meter dari Chateau d’Usse atau Kastil Usse, bangunan istana yang terkenal dengan dongeng Sleeping Beauty (Putri Tidur). Perjalanan saya ke sini adalah bagian dari menjelajahi Loire Valley, lembah yang penuh dengan kastil-kastil megah peninggalan para bangsawan serta raja-raja abad Pertengahan. Ada sekitar 300an kastil di Lembah Loire ini, waktu saya hanya satu minggu jadilah saya hanya mengunjungi kurang dari 10 kastil. Loire Valley is one of the most beautiful regions in France, for sure!

Foto ini saya potret pagi-pagi dari jendela penginapan. Saya dapat kamar di lantai dua, dengan jendela yang membentangkan pemandangan ke arah rumah-rumah dan gereja. Semua bangunan di desa ini (juga di seantero Loire Valley) didominasi oleh tembok berwarna krem dengan atap dicat abu-abu. Jarang sekali kelihatan mobil lewat dan agak sepih. Cuaca mendung pagi itu karena gerimis turun semalaman. Untungnya sekitar jam 10 pagi matahari muncul dan langit cerah, sehingga saya bisa jalan kaki mengunjungi kastil. 

Cerita tentang Loire Valley dan foto-fotonya bisa dibaca di link Batik Air (Klik di sini)

09. VALETTA NAN JELITA


Release: Batik Inflight Magazine, edisi April 2017
Lokasi Pemotretan: Valetta, Malta
Peta: Google Map

BTS: Kalau buka peta Eropa, pasti agak kesulitan menemukan lokasi negara Malta, sebab dia hanyalah sebuah negara kecil, berwujud pulau-pulau (yang juga kecil-kecil), dan terletak bagaikan  satu titik antara Pulau Sisilia (Italia) dengan Tunisia (utara Afrika). Ibukotanya adalah Valetta, kota di tepi laut penuh dengan benteng-benteng. Kota ini mencampurkan dua gaya, yakni Italia dan Arab. Kenapa Arab? Karena dulu pernah diduduki oleh bangsa Arab pada tahun 870-1050. Jadi banyak nama-nama jalan dan makanan berkarakter Arab. Kalau sudah berada di sekitar tanjung maupun teluk-teluknya, bakalan hektik sendiri bikin foto-foto karena angle-anglenya keren semua. Puyeng sendiri kita mau foto yang mana, lantaran setiap sudut di area dekat lautnya menawan sekali!

Foto cover ini saya buat di atas sebuah benteng juga bagus nian karena ada kanal air yang tinggi dan taman sisa-sisa Perang Dunia. Pemandangan dari sini menghadap ke Fort Saint Angelo (lagi-lagi benteng!) di seberang teluk sempit arah timur. Fort Saint Angelo ini berada di atas tanjung. Ada 4 tanjung bertetanggaan di sana, dan setiap tanjung ada bentengnya lagi loh! Foto ini saya potret sekitar jam 16.00 sore. Cuacanya bagus, cerah dan hangat tapi ada angin sembriwingnya, adem. Langitnya tidak ada awan sama sekali waktu itu. Biru bersih.

Cerita tentang Valetta dan foto-fotonya bisa dibaca di link Batik Air (Klik Di Sini)

08. MAGI ARUNIKA MAGHILEWA


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Januari 2020
Lokasi Pemotretan: Maghilewa, Flores, NTT
Peta: Google Map

BTS: Perjalanan ke kampung tradisional di Flores ini terjadi atas undangan dari salah seorang pengusaha yang tidak lain merupakan keturunan dari suku utama di kampung ini. Maghilewa berada di selatan Gunung Inerie, Bajawa, tidak jauh dari laut Sawu. Saya diajak untuk melihat kampung ini sekaligus berbagi cerita kepada warga beberapa desa di sana tentang wisata budaya dan konsep pengembangan community based tourism karena mereka ingin mengenalkan wilayah mereka dan sedang antusias menyambut siapa saja yang datang.

Saya menginap di rumah adat, ditemani keluarga suku utama. Setiap hari saya membuat foto dan video, mengabadikan ritual yang mereka gelar serta momen-momen kebersamaan kami. Malam sebelum tidur, alarm di handphone selalu saya aktifkan agar bangun sebelum matahari terbit, supaya saya bisa memotret suasana pagi. Termasuk untuk foto cover ini, saya terbangkan drone pagi hari sekitar jam 06.00, bermanuver di langit Maghilewa. Untuk menangkap view kampung yang lengkap dengan hutan, laut, serta paduan warna pagi yang hangat sendu, posisi drone saya terbangkan ke sisi utara kampung, naik-turun sampai memperoleh komposisi yang pas. Dapat peringatan low-bat, tapi lantaran saking asyiknya, saya baru memulangkan drone ketika baterai benar-benar sekarat. Alhasil, ketika sudah di posisi hendak turun, di ketinggian sekitar 300 meter, tiba-tiba drone hilang tenaga, lalu terjun bebas. Saya langsung gelagapan menangkapnya, kena di tangan tapi terlempar ke rumput-rumput. Untunglah rumputnya tebal, dan setelah dicek, keadaan drone baik-baik saja. Huft..! Sudah panik!

Cerita tentang Maghilewa dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Di Sini)

07. DUNIA KLASIK DUBROVNIK


Release: Batik Inflight Magazine, edisi September 2015
Lokasi Pemotretan: Dubrovnik, Kroasia
Peta: Google Map

BTS: Kalian penggemar serial ‘Games of Thrones’? Nah, Dubrovnik adalah salah satu lokasi utama syuting film tersebut. Kota di pesisir ini memang rupawan. Area Stari Grad dan benteng Lovrijenac Fortress memang sangat layak jadi latar film bertema Medieval. Eit, saya ke Dubrovnik sebelum film itu dibikin, jadi saat menjelajahi Dubrovnik otak belum tercampur dengan imajinasi dalam adegan-adegan Games of Thrones. Namun, ketika film itu tayang, saya justru merasa seolah jadi salah satu kru sinematografi. Soalnya saya hafal setiap angle tempatnya. Begitulah, kalau kita pernah kunjungi suatu tempat lalu tempat itu jadi lokasi film yang digandrungi, tatkala nonton filmnya kita tidak fokus lagi pada jalan cerita  melainkan  otak kita malah sibuk membayangkan hal-hal teknis syuting, misalnya kamera shoot dari arah mana, apakah pemainnya berdiri di titik yang dulu pernah kita berdiri, bagian mana yang asli-mana yang diberi tambahan efek digital, macam-macam. Ya, demikianlah sindrom traveling.

Untuk cover Batik Inflight Magazine ini, fotonya saya jepret dari bastion kota tua Stari Grad. Kota tua Dubrovnik dikitari oleh tembok kuno dengan begitu banyak menara pandang serta balkon view, sepuas-puasnya fotografer mau jepret di mana. Saya berdiri di menara bagian timur laut, menghadap ke timur menuju ke Old Harbour dan Lazareti. Foto ini dibuat setelah makan siang, agak-agak high exposure sehingga harus kurangi level eksposur pada kamera.

Cerita tentang Dubrovnik dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Di Sini)

06. SINGGAH DI LAGUNA OELANGGA


Release: Batik Inflight Magazine, edisi September 2019
Lokasi Pemotretan: Rote, NTT
Peta: Google Map

BTS: Bermula dari kiriman foto-foto melalui Whatsapp seorang kenalan, bernazarlah saya untuk kembali ke Rote dan menjadikan Oelangga sebagai target utama kunjungan. Pulau Rote merupakan pulau terselatan di Indonesia, dan sebelumnya sudah beberapa kali saya ke sana (kebetulan kakak sulungku bertugas di Rote), namun Oelangga belum saya kenal waktu itu lantaran dulu aksesnya masih sulit, jalanan masih darurat.

Ke Oelangga, saya ditemani oleh seorang tukang ojek yang saya mintai jasanya untuk antar-jemput selama di Rote. Ternyata, dia hanya paham lokasi desa Oelangga tapi belum tahu persis di mana letak pantai Oelangga yang saya maksud. Kami tiba Oelangga tapi tidak menemukan pantai pasir putih bertebing-tebing seperti dalam foto. Hampir sejam kami hanya terpekur diam saja (karena signal internet tidak terjangkau di Oelangga), lalu dia tiba-tiba mengusulkan untuk trekking ke perbukitan di sebelah selatan. “Siapa tahu pantainya ada di belakang tebing-tebing itu,” katanya. Meskipun mood saya kendor, tapi saya bertekad untuk menemukan pantainya hari itu. Jadilah kami menyusuri bukit savana di siang yang terik berdua. Selang 30 menit berjalan, munculah sepotong bayangan pasir putih pantai Oelangga, kami berdua berlari-lari kegirangan. Kami duduk-duduk berpuas hati memandang panorama dari atas tebing, kemudian turun dan singgah ke pantai serta laguna yang elok. Foto cover Batik Inflight Magazine ini saya potret dengan bantuan drone, diterbangkan dari pantai. Angin lumayan kencang siang itu, tapi drone cukup terjaga keseimbangan. Saya menargetkan komposisi dua teluk yang dipisahkan oleh segaris pantai. Saya suka tempat ini, seperti nirwana yang spektakuler tapi damai tersembunyi.

Cerita tentang Oelangga dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Di Sini)

05. NEGERI KAYA TRADISI


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Agustus 2017
Lokasi Pemotretan: Waerebo, Flores, NTT
Peta: Google Map

BTS: Foto Waerebo ini saya jepret tahun 2015, tapi tidak pernah saya munculkan. Memang saya menulis beberapa artikel tentang Waerebo tapi menggunakan foto dengan angle-angle yang lain. Barulah tahun 2017, saya sertakan saat menulis artikel untuk Batik Inflight Magazine, dan foto ini terpilih jadi covernya.

Tahun 2015 itu saya datang ke Waerebo menjelang musim hujan, dan jalan kaki mulai dari Sekolah Dasar Denge itu becek berlumpur semua. Berangkat jam 3 sore tiba di Waerebo jam 18.00, sudah diniatkan untuk bermalam. Kebetulan saya sudah kunjungi Waerebo sebelumnya yakni tahun 2012 saat tiga rumah adat baru selesai dibangun dan wisatawan belum terlalu banyak, sehingga penduduk masih hafal wajah saya ketika saya kembali tahun 2015 (saya bagikan foto mereka yang saya buat tahun 2012). Untuk foto cover ini, saya bangun pagi-pagi, kemudian mendaki lereng bukit sebelah timur ke Pondok Baca. Dari situ saya memotret suasana pagi kampung. Menarik sekali melihat matahari muncul lalu menimpah atap rumah-rumah kerucut yang menjatuhkan bayangannya ke halaman kampung. Lalu satu per satu warga keluar halaman menggelar tikar/karung bekas untuk menjemur biji kopi. 

04. DI ANTARA WADAS BASTEI


Release: Batik Inflight Magazine, edisi September 2018
Lokasi Pemotretan: Basteibrucke, Saxony, Jerman
Peta: Google Map

BTS: Idealnya kalau mau foto tempat ini adalah pagi hari pas matahari terbit karena bisa dapat warna langit kuning yang bagus, sinar matahari yang memapar tebing-tebing batu, dan kabut yang mengambang. Tapi sayangnya cuaca kurang bersahabat waktu itu, jadinya sekitar jam 10 barulah saya ke Bastei. Tempat ini bagi saya adalah destinasi wisata alam Jerman bagian timur yang menarik, hutan pinusnya berhektar-hektar dihiasi oleh bukit-bukit batu yang tinggi-tinggi. Suasananya seperti hutan dalam film Twilight.  Yang spesial lagi yakni adanya Basteibrucke, jembatan batu yang dibangun tahun 1824 di ketinggian tebing. Sangat fantastis laiknya jembatan Negeri Dongeng. Di balik batu-batunya panorama lembah dan sungai memanjakan mata. Pengelola tempat ini membuatkan tangga-tangga ke sejumlah bukit-bukit batu dengan view menakjubkan.

Untuk membuat foto cover Batik Inflight Magazine ini, saya memotret Basteibrucke dari bukit batu bernama Ferdinanstein (Batu Ferdinan), terletak di samping utara dekat restoran tebing. Ini salah satu titik paling pas (juga aman) untuk memotret jembatan batu tersebut karena posisinya cukup tinggi sehingga sejumlah komponen pendukung seperti hutan dan lembah yang jauh di belakang bisa masuk frame. Oya, kalau memotret disini perlu tripod yang steady jangan bawa tripod yang ringan karena sering angin kencang datang tiba-tiba, kalau tripod ringan bisa tertiup jatuh ke tebing (Saya mengalaminya, hiks. Untung pas kamera sedang saya pegang, kalau tidak pasti ikutan jatuh).

Cerita tentang Bastei dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Di Sini)

03. PINTA TAK PUDAR PULAU PADAR


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Juni 2016
Lokasi Pemotretan: Pulau Padar, Flores, NTT
Peta: Google Map

BTS: Foto ini saya buat bulan Oktober 2014. Awalnya dipublish di LionMag bulan Desember 2014, selang 2 tahun kemudian (2016) dipublish lagi di Batik Air dan sekaligus jadi cover. Jadi usia foto ini sudah 6 tahun lebih (2014-2020). Enam tahun lalu Pulau Padar belum banyak dikenal, belum viral dan belum jadi Instagram target seperti sekarang. Pergi kesana pun sangat sulit, karena belum termasuk rute wisata. Semua kapal hanya ke Pulau Komodo-Rinca-Kanawa. Butuh dua minggu luntang-lantung cari kapal, kemudian nasib mujur mempertemukan saya dengan seorang pemilik kapal bernama Pak Mat. Sejak itu kami jadi seperti keluarga hingga kini.

Pak Mat antusias saat tahu saya juga suka mendaki-daki bukit terutama untuk sunrise dan sunset. Beliau doyan hiking rupanya. Kami berlayar 3 hari 2 malam dengan kapalnya, singgah di banyak pulau sebelum endingnya di Pulau Padar. Kami menginap semalam di Padar, dan mendapatkan momen sunset dan sunrise seperti dambaan kami. Padar sangat sepi waktu itu, hanya kapal kami yang mampir di sana, belum ada dermaga, semua masih murni alami, tidak ada secuil pun sampah (beda sekali dengan kondisi sekarang). Untuk foto ini, saya mendaki di bukit sebelah barat sekitar jam 16.00 sore, lalu berdiri di ujung lereng bagian bawah. Tripod saya letakkan sekitar 400 meter, dan saya masuk jadi model, selfpotrait memakai remote control. Sekarang kalau lihat kondisi Pulau Padar yang sudah banyak  berubah, rasanya mau nangis. Karena dulu itu sepih dan natural, pokoknya spektakuler. Sering sedih kalau tempat-tempat yang awalnya alamiah saja sudah luar biasa, tapi berubah gara-gara pariwisata 😥😥

Cerita tentang Padar dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Disini)

02. LUKISAN BESTARI LÜBECK


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Desember 2015
Lokasi Pemotretan: Lübeck, ‎Schleswig-Holstein, Jerman
Peta: Google Map

BTS: Lübeck ini kotanya tidak besar, tapi unik, terutama di kawasan Altstad Lübeck, yakni kota tua, lantaran dikelilingi oleh kanal-kanal air seperti di Belanda, dan bangunan-bangunan di sana didominasi oleh dinding bata merah. Kota ini berada di utara Jerman, berbatasan dengan Denmark dan Laut Baltik. Dibangun di atas tanah yang lembek, maka banyak bangunan tua yang tinggi-tinggi mengalami kemiringan. Jadinya, rata-rata gereja yang berumur ratusan tahun di kota ini menaranya tidak tegak. Seperti terlihat dalam foto ini.

Saya memotret di tepian timur danau kecil Mühlenteich yang begitu tenang bak kaca. Gereja di seberang danau ini adalah Dom zu Lübeck (Katedral Lübeck) yang dibangun tahun 1173 dan kedua menaranya mengalami kemiringan akibat tanah yang melempem. Refleksi bangunan pada permukaan danau amat sempurna, meskipun sebenarnya saya berharap ada seseorang mendayung kayak melintasi danau itu.

Cerita tentang Lübeck dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air berikut:KLIK

01. GOLDEN ROCK LEBIH DARI SEKADAR ESTETIKA


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Oktober 2014
Lokasi Pemotretan: Kyaiktiyo Temple, Myanmar
Peta: Google Map

BTS: Ini foto selalu punya tempat istimewa di hati saya karena saat memotret suasana di lokasi Golden Rock sangat enigmatik, penganut Budha datang berdoa dengan khusuk, lonceng genta dibunyikan, dan matahari senja menguning membuat kuil batu tampak gemilang. Saya mengalami semacam ‘trance’ saat itu karena situasi yang meditatif meski banyak sekali orang datang ke sana. Saya menunggu dari jam 16.00 sore demi mendapatkan momen ini. Foto dibuat sekitar jam 17.30 sore. Dan saya bertahan di sana sampai jam 21.00 malam, tertegun mengamati para biksu yang bersemadi dalam redup cahaya malam bertabur bintang. Dalam hati saya sempat berbisik sendiri "Kayaknya saya pingin masuk agama Budha." 

Datang ke tempat bernama lain Kyaiktiyo Pagoda ini saya butuh perjuangan. Sebelumnya menuju Kinpun, kota terdekatnya, saya berdesakan dalam pick-up melewati jalanan berlubang. Kemudian dari Kinpun menuju Golden Rock saya menumpang truk. Benar-benar petualangan sendirian dan menyadarkan keselamatan pada kebaikan-kebaikan orang. Saya mengalami banyak hal, banyak perubahan, tapi kenangan akan tempat-tempat yang saya datangi tetap abadi dalam ingatan. Seperti pepatah mengatakan “People Change, Memories Don’t”. 

**
Follow Instagram saya DI SINI
#valentinoluis #travelwriterindonesia #traveljournalist #travelphotographyindonesia #lionmag #lionair #inflightmagazine #batikair #batikairmagazine #majalahpesawat #penulisperjalanan 

Jalan-Jalan ke Nagekeo (Part 1)

Hawa Legawa  Kawa   MERESAPI KEBERSAHAJAAN HIDUP  SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL  DI PUNDAK GUNUNG AMEGELU, NAGEKEO-FLORES P ...