Jalan - Jalan ke Larantuka (Flores Timur) Part 3


Mekko
ASILUM BAGI HIU
PADA NUSA-NUSA KIRANA DI TIMUR ADONARA



D
ermaga Tobilota di sisi barat Adonara sangat lengang tatkala kapal motor yang kami tumpangi merapat pelan. Mungkin lantaran pagi itu penumpang kapal hanya segelintiran saja. Lagipula dermaganya amat kecil, bukan dermaga utama. Dengan sigap saya melompat keluar, menyusuli Berrye, Sutikno Bolang, dan Rizal Agustin, para tandem yang sudah menurunkan sepeda motor dari kapal. Kami berempat membawa sepeda motor dari Larantuka, agar lebih leluasa mengitari pulau ini.

Adonara adalah pulau yang berada di rusuk kota Larantuka, bagian timur Flores. Aktifitas penduduk di pulau ini bisa ditilik dengan jelas lantaran hanya terpisahkan oleh sebuah selat sempit. Jadi tak butuh waktu lama untuk menggapai tepian baratnya dengan kapal motor.

“Kita akan menyisir bagian barat ini kemudian memutar lewat utara.  Cukup jauh, tapi jalan beraspal bagus,” kata Berrye, pegawai di kantor Dinas Pariwisata Flores Timur, yang sudah seminggu ini menemani kami menjejelajahi daerahnya. Saya masih ingat jalur ini karena enam tahun lalu pernah menjelajahi Adonara, namun saat itu kondisi jalan masih darurat. Mendengar penjelasan Berrye bahwa infrastruktur sudah bagus, rasanya plong.

Kami lantas beriringan menyusuri jalan, melewati beberapa desa yang menghadap ke selat Gonzalu, seperti Wailebe, Wure, dan Waiwadan. Jalanan kemudian berkelok-kelok naik turun saat kami membelah wilayah tengah pulau yang berbukit dan penuh pepohonan kelapa, hingga mencapai desa Hinga dan Witihama yang menampakkan Gunung Ile Boleng dengan begitu gagahnya.

Tujuan perjalanan panjang ini yakni ke Mekko, sebuah loka bestari paling masyur di Adonara. Ibarat maskot wisata, kawasan ini tengah naik pamor dan digadang-gadang akan dikembangkan secara khusus. Saya ingin merekam memori tentang Mekko sebelum perubahan itu terjadi.

Sebenarnya untuk mencapai Mekko ada jalur yang lebih singkat ketimbang dari Tabilota, yakni lewat dermaga Waiwerang di sisi selatan. Namun kapal-kapal Waiwerang-Larantuka telah memiliki jadwal yang tak bisa diubah, sedangkan kami menginginkan waktu yang fleksibel. “Kalau lewat Tabilota, kita bisa dapat kapal kapan pun,” begitu kata Berrye.

Pemandangan bukit yang disaput tetumbuhan berwarna asfar tampak kontras dengan belau pada lautan saat sepeda motor kami merebas jalan tanah memasuki kampung Mekko. Samar-samar terendus aroma garam berbaur wangi daun-daun xerofil. 

Jalur di tepian barat Adonara melalui jalan yang diapit pepohonan nyiur yang padat menjulang

Pantai Watotena dapat disinggahi bila perjalanan diarahkan ke pelabuhan Waiwerang dari Larantuka. Tidak seberapa jauh letaknya dari jalan raya.

Pantai Ina Burak, sebelah timur Pantai Watotena ini menurut saya amat elok dengan taburan batuan magma
dan bentang pasir putih nan lapang

Sebagian kecil jalan yang masih kasar namun hanya 300-an meter menjelang kampung Mekko

KAMPUNG MEKKO tidaklah besar. Warganya adalah orang-orang Bajo yang bermigrasi lalu menetap di sini. Meskipun tetap menggantungkan hidupnya pada kebaikan samudra, mereka nampaknya telah meninggalkan salah satu habit khas Bajo karena rumah-rumahnya tak lagi berbentuk panggung. Hanya dua balai di dekat dermaga kecilnya berwujud sasana, tapi amat kentara masih anyar. “Ya, itu bangunan baru, dibuat tahun lalu untuk kebutuhan wisata serta perlindungan laut di Mekko,” terang Hen Rizal, lelaki 40-an tahun yang kami temui.

Agaknya kedua bangunan ini menjadi signal perubahan Mekko nanti. Yang satu digunakan untuk tempat inap bagi para tetamu, sedangkan lainnya untuk pusat konservasi. “Kita diajak pemerintah dan didukung oleh World Wide Fund for Natur (WWF). Perairan di Mekko ini adalah sarangnya hiu. Sudah lama juga sering terjadi penangkapan hiu liar dengan bom. Kadang kalau lagi musimnya, ledakan bom beruntun terjadi mirip seperti lagi perang,” Hen Rizal mengurai kisah kelam Mekko. “Tapi sekarang sudah tak ada. Warga sudah dibimbing dan diberitahu soal perlindungan alam serta hiu,” lanjutnya lagi berbinar.

Yang menggembirakan lagi, yakni munculnya gerakan kaum muda setempat bernama Bangkit Muda Mudi Mekko (BMMM) yang mengaktifkan remaja serta orang muda lokal untuk bersama-sama menjaga dan peduli pada ekosistem sekitarnya. Pelatihan, bimbingan, dan dukungan dikerahkan agar Mekko tak rusak. “Kalau mau menginap, kami siapkan rumah singgah itu. Pengunjung juga bisa berpartisipasi dengan membawakan buku bacaan bagi anak-anak, di sini ada taman baca,” timpal Palindo, pemuda Mekko yang kerap mengantarkan wisatawan berkeliling pulau.

Rumah singgah di kampung Mekko yang baru kelar dibangun, diperuntukkan bagi pengunjung yang berniat menginap.

Palindo, pemuda kampung Mekko yang menemani kami mengitari lautan dan pulau. "Saya tidak punya kapal, jadi saya ikut saja kapal orang sebagai ABK. Jika tidak, lebih sering saya melaut sendirian dengan sampan" katanya.

Gurita ( Octopus vulgaris) yang banyak dipanen di bulan April,
dan akan hilang di bulan Mei-Juni karena dihalau kawanan hiu

MEMILIKI KAPAL, Hen Rizal kemudian membawa kami mengunjungi kawasan laut yang diidamkan. Palindo turut serta jadi awaknya. Setelah kapal beringsut menjauhi mangrove, air laut berubah warnanya menjadi biru kelam, dan dengan segera pula terumbu-terumbu karang jelas kelihatan bertebaran tanpa cacat.

Kurang dari lima belas menit, tampaklah gundukan pasir putih menyembul di tengah samudra, dan warna laut berubah lagi menjadi biru muda, lalu benderang amat menawan bak kristal pirus Swarovski. Begitu bening!

“Pulau pasir Mekko ini selalu berubah bentuknya, tergantung pasang surutnya laut. Kadang lumayan memanjang, kadang hanya timbunan kecil. Di bulan Mei sampai Juni acapkali hiu-hiu mengitari pulau pasir ini karena musimnya mereka untuk kawin, ikan-ikan lain lari semua,” cerita Palindo menanggapi saya yang terus menerus memuji bening lautnya.

Berrye, Sutikno Bolang, dan Rizal Agustin lagi-lagi melompat duluan dari kapal. “Fotoin kami, ya?” teriak mereka kegirangan begitu menjejaki pasir putih. Uh, tempat-tempat molek acapkali sangat cepat mengubah perangi lelaki dewasa menjadi anak kecil kembali.

Menilik vista dari atas pulau pasir ini, Mekko bagaikan sekerat Taman Nasional Komodo yang terlempar ke timur Flores. Bukit-bukit savana yang kering di bagian barat, serta gugus pulau-pulau kecil yang juga didominasi oleh rumput ilalang.

Keunggulan Mekko yakni ia dikitari oleh tiga gunung berapi; Ile Boleng menyembul di barat, Ile Ape menatap congkak dari selatan, dan Batutara nun di timur jauh melirik. Meskipun pulau pasir putihnya kecil, tapi kehadiran tiga gunung yang mengitarinya itu menghasilkan foto-foto berlatar variatif.  

Yacht milik pengunjung asing pun mampir di perairan Mekko yang tenang

Tebaran karang meja (Acropora latistella) dalam laut Mekko yang aman subur lantaran berada di arus yang deras

Nelayan setempat mengayuh sampannya mendekati pulau pasir, berlatar Gunung Ile Boleng

Saat surut di waktu senja, bayangan gagah Gunung Ile Boleng nampak memukau

HEN RIZAL dan Palindo juga mengajak kami mendatangi pulau-pulau kecil terdekat. Di utara pulau pasir, dua pulau berdempetan; Keroko dan Watanpeni. Kata Palindo, jika lautnya surut kedua pulau tersebut akan tersambung. Ketika kapal kami mendekat, burung-burung liar aneka rupa bertengger di pohon-pohon. Lautnya juga terisi oleh terumbu karang yang subur.

Aura kedua pulau ini amat syahdu bagaikan asilum yang tidak pernah diganggu sama sekali. Konon, pulau Watanpeni punya legenda sendiri tentang seorang bayi yang dibuang keluarganya. Orang-orang di sekitar masih mewarisi legenda itu sehingga Watanpeni dipandang angker dan tidak boleh diusik.

Saya sebenarnya penasaran dengan isi pulau ini. Saya yakin alamnya masih sangat terjaga, sebab secara tak langsung legenda itu telah berperan menghindarkan Watanpeni dari tangan-tangan usil. Begitu juga tentang dua pulau kecil di selatan; Konawe dan Ipet, yang kabarnya jadi rumah kelelawar serta dihuni hantu.

Saya anggap upaya konservasi sebenarnya telah dimengerti oleh para leluhur Mekko ratusan tahun silam, lewat legenda dan mitos angker yang diciptakan mereka. Tanpa itu, barangkali laut Mekko sudah lama kehilangan hiu, dan warna airnya mungkin tak lagi sepirus kristal Swarovski. Perjalanan ini, telah memberi permenungan. 

Melintasi selat kecil yang memisahkan Pulau Watanpeni dengan Pulau Keroko.


Konawe dan Ipet, dua pulau di sebelah selatan pulau pasir Mekko


**
PANDUAN PEJALAN
Bisa melalui beberapa dermaga di Adonara. Ke Waiwerang, dermaga utama, bisa kunjungi beberapa pantai seperti Pantai Watotena dan Ina Burak sebelum lanjut ke Mekko. Jadwal kapal ke Waiwerang dari Larantuka umumnya pagi hari berangkat jam 07.00 Wita. Tau dermaga lain yang lebih kecil seperti Tobilota, dll dengan durasi perjalanan lebih lama mengitari Adonara

Belum ada warung makan tersedia di sekitar Mekko, jadi bila berangkat dari Larantuka, silahkan membawa serta bekal makanan. Atau bila ke Adonara melalui dermaga Waiwerang, bisa beli makanan di warung-warung Waiwerang sebelum lanjut ke Mekko.

Bisa menginap di kampung Mekko karena sudah tersedia rumah singgah bagi pejalan. Listrik belum masuk kampung ini, pastikan membawa senter atau powerbank yang telah dicharged full.

#adonara #mekko #pulaupasirmekko #ileboleng #larantuka #festivalbalenagi
           
 **         

Tulisan ini dimuat di LIONMAG, inflight magazine Lion Air, edisi Juni 2019. Klik di foto berikut untuk membaca versi PDF majalahnya. TERIMA KASIH

Klik untuk membaca tulisan versi PDF sebagaimana dipublikasikan majalah LIONMAG

Jalan - Jalan ke Seram/ Ora Beach

Seram
Yang Menenteramkan

DI UTARA AMBON, SEBUAH PULAU MENUNGGU UNTUK DICUMBU



I
ded Latuconsina menepuk pundak saya, “Oke, sobat. Saya hanya bisa antar sampai di sini. Nikmati perjalananmu ke Ora. Mudah-mudahan cuaca selalu cerah dan semua berlangsung lancar.” Kami pun berjabatan tangan serta berpelukan. “Terima kasih,” kata itu saya ucapkan berulang. 

Perkenalan saya dengan Ided baru terjadi beberapa jam lalu, namun seolah-olah kami telah menempuh perjalanan sekian hari bersama. Saya nyaris saja ketinggalan kapal dari Ambon ke Seram, bila saja seseorang tidak meneriaki nahkoda dan menjulurkan lagi kayu titian agar saya bisa melompat masuk. Sesaknya penumpang ‘Cantika Torpedo’ di akhir pekan menjelang Lebaran menguapkan harapan untuk mendapatkan tempat duduk, tapi keberuntungan berlanjut manakala seorang pria menawarkan dudukan lowong di sampingnya. Dialah Ided, dan selama dua jam di atas lautan, ayah muda yang bekerja di sebuah instasi pemerintah itu membeberkan keindahan Seram serta seluk beluk pulau di utara Ambon tersebut.

Ketika kapal merapat di dermaga Amahai, Ided bersedia mencarikan saya ojek, mengekori sampai ke pusat kota Masohi, hingga mendapatkan mobil sewaan untuk perjalanan lanjutan ke Saleman, Sawai. Saya bukan pejabat, bukan juga pesohor. Dan ini pun bukan rute ringkas sederhana. Bagaimana saya tak bersyukur dengan persahabatan yang terjalin cepat dan tulus ini?

Ided Latuconsina, orang baik yang saya jumpai. 

Salah satu fantasi tentang Pulau Seram.


Mobil sewaan saya ke Saleman, sebuah sedan, berkapasitas 5-6 orang, per orang dikenai tarif Rp.100.000. Selepas kota Masohi yang datar, saya dibawa meliuk-liuk pada lekukan jalan berundak. Kiri kanan dijejali hutan rimbun, teramat subur, sehingga hampir semua pohon yang tinggi dililit tanaman sulur menjuntai. Lembah dan ngarai sempit muncul silih berganti. Aroma tetumbuhan menebar dimana-mana. Sebentar-sebentar panorama terhidang, ditimpali bayang-bayang lapisan bukit nun jauh. Saya bisa mendengar jelas kicau aneka unggas hutan, juga lengkingan serangga Garengpung menyadarkan bahwa musim hujan sesungguhnya telah berlalu.

Diamati secara estetis, bagi mereka yang menyukai tur dengan sepeda motor, rute begini termasuk rute ideal. Hanya saja, harus membawa bekal bensin secukupnya serta sang pengendara patutlah yang mahir memperbaiki sepeda motor, sebab sepanjang perjalanan tak sekalipun kami berpapasan dengan pos tambal ban atau penjual bensin eceran. Tak ada kampung. Padahal dari Masohi ke Saleman butuh waktu empat jam. Mungkinkah penduduk masih dihantui keyakinan akan adanya Orang Bati, monster hutan setempat yang konon menyerupai Batman tapi doyan menculik anak-anak? Cerita tentang Orang Bati saya dengar dari sopir kami. Katanya pula, nama pulau Seram muncul karena sosok Orang Bati itu. Saya pikir ketakutan demikian tetap akan terpelihara selama kabel listrik cuma menjangkau beberapa wilayah Seram. Di jaman sekarang komunitas manusia akan tumbuh bila ada dukungan infrastuktur. Kasak-kusuk tentang hantu maupun monster biasanya langgeng di daerah yang tak terkena terang listrik dan ‘keajaiban’ perangkat elektronik. Siapa melihat hantu di bawah cahaya? Batman sekalipun baru muncul kala gelap.

Kapal dari Saleman ke Ora PP - teluknya menawan dengan udara yang sejuk dan damai

Gambar ideal sebuah loka bertetirah, bukan?


KURANG LEBIH 15 km menjelang Saleman, jalan beraspal digantikan oleh alur tanah berbatu. Mobil kami tergoncang berkali-kali. Anehnya, saya antusias sebab di depan mata terhidang view pegunungan kapur, persis seperti merambah satu sisi bukit barisan Dalmatian, di Kroasia. Kata sopir, di belakang gunung itulah Ora berada.

Tiba di Saleman, saya diturunkan di pintu rumah Pak Udin, warga yang tiap hari menyeberangkan pengunjung ke Ora. Alih-alih langsung dibawa ke sampan, keluarga Pak Udin malah menjamu saya dengan makanan, meski sudah saya tampik, mengingat mereka sedang berpuasa dan belum saatnya ‘berbuka’. Ketika kemudian sampan bergerak meninggalkan Saleman bersama lambaian tangan istri dan anak Pak Udin, saya bertanya-tanya sendiri: berkat macam apa yang sedang saya dapatkan di Seram ini? Orang- orang begitu baik.

Sore jam 5 adalah waktu yang adem untuk meluncur di atas laut bening tenang. Kawanan burung melesat dari lereng yang puncaknya tersaput kabut. “Itu burung Lusiala,” kata Pak Udin. “Mereka hanya muncul saat-saat menjelang magrib.”

Saya percaya pada kejelian mata saya. Pepatah ‘Love at the first sight’ berlaku untuk relasi antara saya dengan alam. Jadi, meski terdengar agak klise, tapi ini bukan ungkapan ‘exaggeration’ bila saya menyebut panorama teluk Saleman memang permai, saya seperti diajak berpelesir ke Eden. 

Tentu saja nyebur! Air sebening ini dgn ikan dan koral, siapa menolak?

Aksi seorang tetamu bermain-main dengan kawanan ikan yang jinak

Saking beningnya, koral di bawah lautnya keliatan jelas dari tepi pantai


Pantai Ora yang berpasir putih semakin jelas terlihat. Lambaian nyiur serta ikon pantai tersebut, yakni sebuah resort dengan deretan rumah-rumah inap terapung kian mendekat. Di sanalah saya menginap. Setelah menjejaki dermaga kayunya barulah saya tersadar, bahwa segala kepenatan, rasa jemu akibat perjalanan panjang telah hilang.


Ora jauh dari kesan mewah, namun istimewa. Ia lebih menawan dari resort-resort mahal karena struktur maupun topografi alamnya memukau, mendamaikan. Tak terlihat cacat celah di sini. Koral yang membentang di pinggir pantai seakan baru selesai diciptakan Tuhan, membebaskan mata untuk mengenal setiap biota yang hidup di dalam air. Menggoda untuk lekas-lekas mencelupkan diri.

Saat senja, rona merah menyelubungi cakrawala, dan bola api bulat turun pelan-pelan ke balik bukit sebelah barat. Penggantinya adalah konstelasi bintang yang bertahan hingga dini sebelum disingkirkan oleh semburat kemuning terbit Matahari. Tamu resort akan segera melupakan mall, kantor, kesibukan urban, atau ribut gaduh massa. Orang tua mengajak anak-anak kecil mereka bersnorkeling bersama, pasangan kekasih berasyik masyuk berdua di bawah tudung pepohonan, pejalan tunggal tidur bermalasan-malasan di beranda penginapan atau menuntaskan buku yang dibawa dari rumah.

Temperatur udara di sini sejuk, kamar tak butuh pendingin, tak juga perlu selimut hangat. Saya memaklumi masakan yang standar, racikan bumbu seadanya. Letak mereka toh jauh dari pasar, lagipula selama ikan melimpah, tak terlalu penting menggerutu. Obati saja dengan alunan gitar yang dimainkan para pemuda malam-malam sembari menyanyikan kidung asmara khas Indonesia Timur. Suara mereka tak ada yang sumbang. Hei, ini Maluku, daerah yang penduduknya teraliri darah musikalitas tinggi!

Hammock yang saya bawah menjadikan sore lebih santai di pantai


Di balik dedaunan, kedamaian vista

Hangat mentari tropis. Surga!


KARENA KEALAMIAN Seram belum banyak terjamah, pulau ini menarik dieksplor. Terdapat Taman Nasional Manusela yang telah menjaga belasan satwa endemik semenjak 1972. Di sekitar Suleman pun ada kesempatan lain untuk mengenal kekayaan hayati pulau. Trekking ke hutan, masuk ke gua-gua, hingga mendaki ke bahu pegunungan karst.

Medan basah Sungai Salawai juga salah satu jalur baik untuk mempelajari alam.    Melintasi ruas sungai ini, selain mengenal tetumbuhan dan kejutan bertemu buaya, aktifitas warga membuat sagu pun nyaris dapat dijumpai setiap hari. Penjelajahan macam begini menyuntikan kesadaran baru untuk menghargai bumi, pun memahami cara menyambung hidup sesuai apa yang dihasilkan tanah dimana penduduk setempat tinggal.  

Kunjungan ke Seram memberi saya manfaat ganda, tak hanya menikmati indahnya alam saja, tapi menyadarkan bahwa ‘perbedaan itu sesungguhnya merupakan surga yang ada di bumi’, dan  ‘orang asing sebetulnya adalah  kerabat yang belum kita kenal,’ seperti yang diwakilkan oleh Ided Latuconsina serta Pak Udin. 

Kelompok pejalan asal Jakarta yang kemudian jadi teman - hingga kini! "Strangers are friends you don't know yet"

Senja sempurna yang datang setiap hari 


Oh, tak hanya mereka berdua saja, saya juga berkenalan dengan sekelompok pejalan asal Jakarta. Awalnya agak canggung, namun suasana akrab terjalin dengan cepat setelah terisi candaan. Bahkan saya ditawari untuk mampir ke rumah keluarga salah satu dari mereka di kota Ambon sekembalinya dari Seram.

Jadi, pulau di utara Ambon ini, cuma namanya saja yang Seram, kenyataannya ia malah menenteramkan hati. 


*

Tulisan ini dipublikasikan di LIONMAG, Inflight Magazine Lion Air – edisi September

Klik untuk membaca versi PDF - LionMag

Jalan - Jalan ke Cinque Terre (Italia)


Cinta Terindah
Cinque Terre

Bila lima desa di tepian pantai Italia bersekutu dalam balutan nuansa
warna-warni cerah ditimpali lereng subur penuh anggur, 
bersiaplah untuk mabuk kepayang



D
alam tempo ralletando, seorang gadis berambut panjang sebahu menyudahi permainan saksofonnya. Notasi-notasi dari lagu Caruso usai diperdengarkannya  dengan apik, disambut tepuk tangan dari para audiens. Saya duduk di sela-sela penonton, pada puing kastil di ujung tanjung kecil, sembari menikmati senja menebar semburat jingga ke penjuru desa Vernazza. 

Di hadapan saya, di bawah tanjung ini, permukaan laut Liguria beriak-riak tersaput angin Mediterania. Sedangkan pada sisi kanan, tampak menara gereja Santa Margherita d’Antiochia menjatuhkan bayanganya antara bangunan berwarna cemerlang. Sore yang  begitu menawan.

Vernazza merupakan salah satu desa  Cinque Terre. Sebutan Cinque Terre atau “The Five Lands” sebenarnya tidak merujuk ke sebuah wilayah administratif-politik, melainkan ditujukan kepada lima desa di pesisir Liguria, yang memiliki kesamaan topografi serta gaya tata ruang pemukimannya.

Kelima desa itu meliputi Monterosso, Vernazza, Corniglia, Manarola, dan Riomaggiore. Semuanya adalah desa nelayan, yang masing-masing tersembunyi di celah-celah teluk serta tanjung di bibir pantai. Tidak ada lahan datar, daerah ini berbentuk tanjakan, menyebabkan rumah-rumah dibangun tersusun pada lereng tebing. Kemolekan lima desa ini dipicu oleh kondisi alam berupa lereng tebing itu,  mengingatkan saya akan Santorini di Yunani. Bedanya, disini cat rumah didominasi oleh gradasi warna kuning dan merah, bukan warna putih. Begitupun model bangunananya, lebih menyerupai apartemen bertingkat ketimbang kotak-kotak kecil ‘dug house.’

Meski menyolok dan jadi tujuan wisata idaman, Cinque Terre tetap tampil sederhana dan bernuansa khas pedesaan. Maklum, sebagian besar penduduk bermatapencarian sebagai nelayan. Sebagiannya lagi adalah petani kebun anggur. Jangan kaget soal anggur ini, sebab kendati terletak tepat di tepi laut, Cinque Terre merupakan ladang yang cocok untuk ditanami anggur. Bahkan kondisi ini menyebabkan citarasa anggur mereka lebih kuat, katanya, akibat kadar yodium serta unsur hara tanah yang tinggi. Penduduk menanam jenis anggur lokal yang dijaga turun-temurun, misalnya Albarola, Bosco, Vermentino, juga anggur putih purbakala bernama Sciachetrà. 

Desa Corniglia yang imut berada di tanduk bukit. Untuk mendapati posisi tengah foto ini, saya memutari lereng tebing berjalan kaki.

Jalur kereta dengan hiasan kebun anggur dan tebing. Pada musim panen anggur, biasanya bulan Oktober atau November, pengunjung Cinque Terre diperkenankan untuk ikut serta memanen dan mencicipi anggur warga

Patung Dewa Neptunus pada tebing pantai dibuat pada posisi yang kian melengkapi drama alam Cinque Terre


KARENA DATANG dari arah barat (yakni dari kota Genoa), sebelum sampai di Vernazza, saya terlebih dahulu mampir di desa Monterosso. Dia adalah desa Cinque Terre paling barat. Dimonopoli oleh lereng, menyebabkan transportasi antar desa mengandalkan moda kereta api melewati terowongan dan kapal laut. Mobilisasi dalam pusat desa umumnya dengan berjalan kaki.

Di Monterosso terdapat lebih banyak hotel, pantainya pun agak lebih luas. Pantai Monterosso berbentuk kurva, berhias pulau karang dan pasir dari butiran kecil bebatuan. Sepanjang tepian pantai berjejer café maupun restoran, selalu ramai dikunjungi. Saya menyukai bagian ujung barat dari pantai ini lantaran ada sebuah karya monumental, yakni patung Dewa Neptunus, berukuran besar, menghadap ke samudra namun seakan-akan kesakitan menahan tebing yang mau rubuh.

Usai Monterosso dan Vernazza, saya beranjak ke Corniglia. Jarak antar desa kurang dari lima kilometer, waktu tempuh dengan kereta api berkisar lima menitan. Desa Corniglia agak lain, sebab walaupun menghadap ke laut tapi tidak benar-benar di tepi pantai. Desa ini berada di ketinggian, dan akses kesana dari stasiun dengan mendaki 382 anak tangga berbentuk zig-zag yang dinamakan ‘Lardarina’. Sebenarnya ada jalan aspal, namun semua pengunjung lebih suka menapaki anak tangga ini. Pasti demi memperoleh sensasi berbeda. 

Vernazza sesaat setelah matahari terbenam. Satu demi satu lampu-lampu dinyalahkan membuat desa ini tampak kemerahan.

Suasana di jantung desa Monterosso. Rumah-rumah kotak yang jangkung memberi keteduhan.

Salah satu penginapan di Cinque Terre. Sebaiknya ke sini bawa ransel jangan bawa koper karena banyak tangganya.
Meskipun bertebing cadas namun transportasi dengan kereta api yang menembus terowongan.

Manarola menjadi desa keempat yang saya kunjungi. Dia digadang sebagai desa paling tua. Mungkin karena itulah Manorala punya dialek sendiri, Manarolese, yang cukup unik. Dialek ini juga mencetuskan nama desa, yang semestinya Magna Rota tapi berubah menjadi Manarola (dibaca Manaea). Kata ini sendiri berarti ‘Roda yang besar’ merujuk pada roda kincir angin raksasa yang dulu ada di tengah-tengah desa. Manarola diberkahi topografi berbukit yang nyaris berdempetan. Sisi selatannya menghadap laut, terbentengi oleh bebatuan granit tebal. Ornamen alam yang menimbulkan kesan dramatis, terlebih saat matahari terbit maupun terbenam. Tak ayal, jauh sebelum kamera foto ditemukan, sejumlah  lukisan terkenal jaman dulu telah mengabadikan kepermaian desa ini. Sebut saja lukisan karya Llewelyn Lloyd ‘I ponti di Manarola (Jembatan Manarola)’ dan ‘Tramonto a Manarola (Sunset di Manarola)’.

Desa terakhir dari rangkaian Cinque Terre, yakni Riomaggiore. Lanskapnya menyerupai lembah kecil, berbentuk corong yang berujung ke laut. Dengan luas 11 km2, Riomaggiore tercatat sebagai desa paling luas se-Cinque Terre. Suasana disini lebih kalem, juga lebih sejuk menghijau. Cicit burung mudah didengar, pedestariannya bagus serta bersih. Via Colombo, jalan utama Riomaggiore diisi kafe, toko souvenir, juga penginapan yang hampir seluruhnya bernuansa klasik dan tidak superlatif ukurannya. Jika memilih salah satu desa di Cinque Terre untuk menetap, rasanya Riomaggiore cocok dengan saya. Atmosfernya lebih mirip tempat retreat. 

Manarola, desa di Cinque Terre yang terlindungi bebatuan granit. Tidak ada pasir di pantainya namun tetap fotogenik.



Gereja San Giovanni Batista di Riomaggiore, tempatnya sejuk dan adem


URUSAN PELESIRAN di Cinque Terre amat identik dengan Walking Trail atau jalur jalan kaki yang menghubungkan kelima desa. Bisa dibilang 80% wisatawan yang berpelesir ke Cinque Terre akan menjajal jalur-jalur jalan kaki ini. Karena telah menjadi tradisi dan terkenal, sejumlah media asing mengukuhkan Cinque Terre sebagai Best Coastline Hiking Trail inThe World.

Jalur trekking yang digunakan tak lain adalah jalur kuno yang sudah dipakai warga di masa lalu sebelum kereta api merambah Cinque Terre. Saya bisa membayangkan, bagaimana dulu orang-orang di lima desa bersilahturahmi. Karena Cinque Terre berada dalam kawasan Taman Nasional, maka kondisi jalurnya tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Diantara jalur-jalur itu, ada tiga yang paling diminati pengunjung, yakni Reggio Trail, Sentiero Azzuro Trail, dan Via dell’Amore Trail.

Jalur yang saya sebutkan terakhir, lebih spesial, dan digemari pasangan sejoli. Ya, nama Via dell’Amore berarti ‘Jalan Cinta.’ Panjangnya cuma 1 km tapi sajian viewnya amat menawan, menghubungkan Manarola dengan Riomaggiore. Ada bumbu-bumbu legenda romantis mewarnai jalur ini. Tak heran banyak orang mengatakan bahwa perjalanan cinta terindah mereka tercipta di Cinque Terre. Kalau sudah begini, saya hanya bisa menahan rasa iri karena datang sendirian. Duh!

Salah satu rute Walking Trail  berusia ratusan tahun untuk melihat panorama dari ketinggian




***
Tulisan dan foto-foto ini dimuat di Majalah BATIK, inflight magazine of Batik Air - Februari

Publikasi di Majalah inflight BATIK (Batik Air) - Klik link di atas untuk membaca versi PDF


Jalan - Jalan ke Larantuka (Flores Timur) Part 2


Antara Teluk & Tanjung
Pantai Oa

Setitik loka di pesisir Flores Timur,
dengan serangkaian tawaran alam menawan.





G
emuruh tepukan tangan memungkasi atraksi teatrikal sekelompok remaja. Ini pementasan teater yang tak lazim; dilakukan di sebuah pantai tersembunyi dan ratusan penontonnya adalah warga yang sebagiannya adalah penduduk pesisir. Bagi saya ini hal sederhana namun impresif, lantaran teater yang kerapkali dianggap tontonan ‘berat’ itu dikonversi menjadi hiburan rakyat. 

“Apalagi narasi dalam teater diangkat dari kisah-kisah lokal seperti sejarah, mitologi, maupun situasi lingkungan setempat. Jika disandingkan dengan pariwisata - yang kini gencar berslogan ‘community based tourism’ - maka kehadiran teater yang merakyat ini merupakan paket ideal,” komentar seorang pejalan.

Saya berada di Pantai Oa, sebuah kampung kecil yang terpental di sudut selatan Flores Timur. Nama kampung ini memang terilhami oleh nama pantainya. Dan pementasan teater tadi adalah bagian dari Festival Bale Nagi yang berlokasi di sini. Bayangkan saja settingnya yang permai: pantai berpasir putih halus, lautan tenang bening berwarna pirus, pepohonan teduh, serta paparan gunung gemunung mengitari teluknya.

Pantai Oa terletak di tengah jalur pelintasan antara Maumere-Larantuka. Patokannya yakni di Wulanggitang, ke arah selatan, mengikuti ujung kaki gunung Lewotobi. Tak sulit mencapai tempat ini, meski jalur sepanjang jalan agak sepi,

“Dulu tempat ini tidak berpenghuni. Semata terisi ilalang. Pantai Oa baru ditempati awal tahun 1980-an, setelah bencana alam tahun1979 di sini jadi tempat relokasi. Puluhan keluarga diberikan lahan untuk tinggal, termasuk keluarga kami. Dari tahun itulah kami menanami kelapa-kelapa yang tumbuh rimbun sekarang,” terang Thomas Mukin, warga kampung.

Pohon-pohon rindang menjamin udara di Pantai Oa tetap sejuk meskipun panas menyengat

Teluk yang cukup besar dengan laut tenang terkitari gunung serta bukit


Saya sangat tergoda untuk bermalam di Pantai Oa. Niatnya ingin berkemah memandang gemintang serta mendengar suara ombak. Pertemuan dengan Thomas Mukin lantas mengubah nazar, tak jadi berkemah tapi diajak menginap di rumah beliau. Sungguh, keramahan yang tak bisa ditampik. Bersama saya, ada teman seperjalanan; Ambo Kerans, Risna Yuanita, Andre Kriting, NurKartika, Agung Anugrah, Jun Plue, dan Agustin. Jadilah kami berdelapan mengisi rumah Thomas dengan cerita serta candaan sepanjang malam. Thomas yang hidup sebagai nelayan mengisahkan beberapa cerita legenda terkait kampung mereka.

“Laut teluk kami ini dihuni gurita raksasa. Tidak sedikit kapal yang karam karena mencari ikan dengan cara yang keliru. Makluk bawah laut memiliki misteri kehidupan mereka sendiri, manusia tak boleh tamak,” katanya dalam remang malam, membuat saya membayangkan sekuel film Pirates of the Caribbean. 

Memasang hammock untuk tidur bersantai dibuai semilir angin

SEBELUM LELAP, kami bersepakat bangun subuh. Ini gara-gara cerita Thomas tentang Tanjung Makassar, sebuah tanjung di Pantai Oa yang konon dulunya pernah disinggahi Portugis pada abad Pertengahan. “Ada salib tua di sana, serta puing-puing benteng. Panoramanya juga bagus” ujarnya. Tak pelak uraian Thomas itu memberi kami imajinasi. “Mendaki Tanjung Makassar tidaklah sulit. Cuma lima menit,” pungkasnya. Lima menit? Terasa begitu mudah.

Sekitar jam lima pagi kami menerobos lereng bukit yang dijejali pohon-pohon lamtoro (Leucaena leucocephala), sempat kehilangan arah lantaran ada rute yang diblokade seseorang. Ternyata ‘lima menit’ waktu tempuh yang disebut Thomas tidaklah benar. Kami butuh satu jam mendaki. “Mungkin maksud beliau lima menit dari rumahnya menuju gerbang pendakian,” hibur Ambo Kerans.          

Selepas hutan lamtoro, kami berhadapan dengan lereng penuh ilalang. Langit perlahan terang dengan warna ungu kemerahan dari ufuk timur. Di jalur menuju puncak, saya melihat potongan susunan bebatuan menyerupai tembok, tak sampai satu meter tingginya, namun saya tak begitu yakin apakah itu yang dimaksud Thomas dengan puing-puing benteng Portugis.

Sukacita menyambut hangat pagi mentari

Ilalang yang tingginya mencapai pinggang

Detik-detik matahari terbit

Masing-masing tampak sibuk mengecek hasil foto pada kamera.

Lereng Tanjung Makassar yang sebelahnya ditumbuhi ilalang, sebelahnya lagi berjejal pohon lamtoro

Begitu kami mencapai titik puncak yang agak landai, matahari pagi pun memunculkan bola kuning bulatnya. Disongsong semilir angin, peluh setelah pendakian seolah luruh sejuk berbaur sukacita. Dari titik ini pandangan bisa terarah kemana-mana. Di sisi timur gunung Lewotobi tampak jangkung mengerucut. Pasir putih Pantai Oa agak tersembunyi rimbun pepohonan.

Sedangkan bagian barat, langsung memaparkan garis panjang Pantai Rako tanpa penghalang. Titik dimana kami berdiri sebenarnya lebih mengarah ke barat, sehingga saya yakin, pemandangan saat senja pun tak kalah memikatnya. Walau hanya terpisahkan sebuah tanjung, kondisi laut keduanya berbeda. Jika di Pantai Oa teramat tenang, di Pantai Rako ini gulungan ombaknya muncul berlapis-lapis dan tidak begitu aman untuk berenang. Namun keadaan ini menciptakan potensi sendiri, khususnya bagi pegiat selancar. Hari itu kami melihat beberapa pria berlalu sambil menjinjing papan selancar (surfing board).

Menatap ke kampung berpanorama luas

Nun jauh di timur, bayangan Gunung Lewotobi dan Pantai Oa yang tersembunyi

Bentang panjang Pantai Rako yang juga berpasir putih


KAMI BERADA di bukit Tanjung Makassar cukup lama. Salib tua peninggalan Portugis yang diceritakan Thomas tak kelihatan. Barangkali berada di kaki tanjung sebelah selatan yang sulit dilihat dari atas tebing. Setelah merasa cukup, kami pun turun kembali menuju ke rumah Thomas.

Saya masih memendam keinginan untuk berenang di Pantai Oa. Rupanya teman-teman pun tak relah meninggalkan kampung ini tanpa berenang. Kejutannya lagi, Thomas mengatakan bahwa keluarganya memiliki sebidang tanah tepat di pantai tersebut yang dapat kami pakai. Anak lelaki Thomas pun baru kembali melaut dengan hasil tangkapan berupa ikan kerapu segar. Kontan saja kami seakan memperoleh jackpot secara beruntun. Usai berenang langsung disambung dengan menyantap ikan bakar. Menantu Thomas membawakan nasi serta minuman dari rumah mereka. Hari itu benar-benar kesenangan besar!

Meninggalkan Pantai Oa sore harinya, saya terus membayangkan potensi kampung ini yang begitu menjanjikan. Alam yang elok dan penduduk yang bersahabat sudah cukup jadi modal untuk tumbuh. Pengelolaan yang bijak akan memberi dampak bagus. Tentu saja musti menempatkan warganya sebagai pelaku, bukan sebagai obyek. Saya ingin melihat keluarga Thomas terus tersenyum sebagaimana kampung mereka yang permai antara teluk dan tanjung. 

Warna biru pirus tak hanya pada lautnya, tapi juga pada cat sampannya

Sisi barat Pantai Oa dengan kapal-kapal nelayan


*
Tulisan ini dipublikasikan di inflight magazine LIONMAG (Lion Air) edisi Mei 2019 dengan perubahan seperlunya. Bisa dibaca versi PDF online majalahnyaDI SINI

PANDUAN PEJALAN:
Belum ada warung makan di sekitar Pantai Oa, jadi bila hanya berkunjung sehari, bawalah bekal makanan yang bisa dibeli & dibungkus di Boru (sebelum berbelok dari jalan raya ke selatan).

Untuk masuk ke Pantai Oa (area pantai pasir putih), dikenakan entry fee bagi kendaraan. Mohon sediakan uang ribuan. Bea masuk ini berguna untuk pemeliharaan lokasi, karena ada petugas kebersihan dan sudah termasuk penggunaan WC/ KM. Tersedia air bersih untuk bilas usai mandi di laut. Dibayar ya, agar warga desa mendapatkan sedikit dari kunjungan kita (Dikelola oleh Desa, bukan pribadi/perseorangan).

Bila minat berkemah atau bermalam di rumah warga, silahkan kontak penduduk. Jangan sungkan dan beradaptasilah dengan keadaan mereka.

Meskipun ada petugas kebersihan, tolonglah untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik. Bila sampah itu terbawa ke laut, akan rusak eksosistemnya. Mari menikmati alam dengan cara beradab.

#festivalbalenagi #balenagi #larantuka #pantaioa #pantairako

Video Pantai Oa & Tanjung Makassar

Jalan-Jalan ke Nagekeo (Part 1)

Hawa Legawa  Kawa   MERESAPI KEBERSAHAJAAN HIDUP  SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL  DI PUNDAK GUNUNG AMEGELU, NAGEKEO-FLORES P ...