Inflight Magazine (Batik Air)


Valentino Luis & Inflight Magazine
Batik Air
My 10 Favorite Covers


B
ergabung menjadi penulis & fotografer sejak tahun 2014, awalnya saya belum tahu kalau Batik Air itu sister company-nya Lion Air. Setelah beberapa artikel saya terbit di LionMag (inflight magazine Lion Air), saya ditawari oleh tim redaksional Bentang Media Nusantara, perusahaan yang mempublikasi majalah-majalah Lion Group, untuk menulis tambah lagi artikel agar tidak hanya muncul di LionMag tapi juga di Batik. Otomatis saya harus menyiapkan lebih dari dua artikel. Tapi saya senang sekali waktu itu. Apalagi diberitahu bahwa konsep tulisan tidak perlu diubah, tekniknya sama dengan yang di LionMag, dan tetap menggunakan gaya tulis saya sendiri. “Pokoknya tulis dengan ciri khas kamu, tidak perlu lagi kami edit teksnya,” begitu kata Bang Risti, pengampuku. Selama ini memang semua artikel saya tidak diedit oleh tim redaksi, semua kata dan tanda baca yang muncul di majalah 100% dari saya, tanpa diubah-ubah lagi.

Artikel pertama saya untuk Batik Inflight Magazine muncul edisi bulan Maret 2014, berjudul “Menambat Hari di Split.” Kisah perjalanan ke kota Split, di Kroasia. Setelah artikel itu, menyusul artikel-artikel lain muncul regular di Batik Inflight Magazine. Bang Risti bilang bahwa untuk Batik Inflight Magazine, artikel dari saya lebih fokus untuk ceritakan destinasi-destinasi luar negeri.  Maka setelah artikel tentang Split (Kroasia), berturut-turut saya menulis tentang perjalanan ke tempat-tempat asing, seperti ke Los Glacaires (Argentina), Santorini (Yunani), Potosi (Bolivia), Siena (Italia), Lisbon (Portugal), Budapest (Hungaria), Sydney (Australia) dan seterusnya. Cukup banyak.

Namun kemudian artikel-artikel saya untuk Batik Inflight Magazine tidak melulu destinasi mancanegara, sesekali diselipkan cerita perjalanan di Indonesia, seperti ke Rinjani (NTB), Sumba (NTT), Amed (Bali), atau Buton (Sulawesi Tenggara). Tambah lagi setelah tiga tahunan lebih absen ke luar negeri dan kebanyakan assignment untuk majalah Colours Garuda Indonesia (nanti saya posting sendiri tentang Colours), jadilah artikel-artikel dalam negeri pun mendominasi.

Kalau dihitung-hitung, untuk Batik Inflight Magazine saya sudah menulis 60an artikel. Lumayan mumet ya kalau dipikirkan sekarang menulis 60an artikel, belum lagi untuk LionMag jumlahnya pun selisih sedikit. Ada cukup banyak foto saya menghiasi sampul depan Batik Inflight Magazine, jadi cover. Senang lihatnya setiap kali muncul edisi baru ada foto jadi sampul. Ada kebahagiaan tersendiri.

Dari foto-foto yang jadi sampul Batik Inflight Magazine tersebut, ada beberapa yang saya favoritkan. Bukan semata-mata karena enak dilihat oleh mata saya tapi juga karena cerita di balik pembuatan foto-foto itu. Ya, Behind the Scene (BTS) istilahnya. Setiap memandang fotonya, memori saya akan perjalanan ke sana muncul kembali dengan cepat. Itulah kekuatan media visual foto.

Berikut ini adalah 10 sampul favorit saya, My 10 Favorite Covers of Batik Air Inflight Magazine. Dimulai dari urutan 10 ya? 

10. SERENADE LOIRE VALLEY


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Januari 2015
Lokasi Pemotretan: Centre-Val de Loire, Perancis
Peta: Google Map

BTS: Rigny Usse adalah sebuah desa kecil di Centre-Val de Loire, Loire Valley, Perancis. Saya menginap di penginapan sederhana di sini setibanya semalam (tiba sudah gelap, dijemput pemilik penginapan di stasiun). Desa ini berjarak 500an meter dari Chateau d’Usse atau Kastil Usse, bangunan istana yang terkenal dengan dongeng Sleeping Beauty (Putri Tidur). Perjalanan saya ke sini adalah bagian dari menjelajahi Loire Valley, lembah yang penuh dengan kastil-kastil megah peninggalan para bangsawan serta raja-raja abad Pertengahan. Ada sekitar 300an kastil di Lembah Loire ini, waktu saya hanya satu minggu jadilah saya hanya mengunjungi kurang dari 10 kastil. Loire Valley is one of the most beautiful regions in France, for sure!

Foto ini saya potret pagi-pagi dari jendela penginapan. Saya dapat kamar di lantai dua, dengan jendela yang membentangkan pemandangan ke arah rumah-rumah dan gereja. Semua bangunan di desa ini (juga di seantero Loire Valley) didominasi oleh tembok berwarna krem dengan atap dicat abu-abu. Jarang sekali kelihatan mobil lewat dan agak sepih. Cuaca mendung pagi itu karena gerimis turun semalaman. Untungnya sekitar jam 10 pagi matahari muncul dan langit cerah, sehingga saya bisa jalan kaki mengunjungi kastil. 

Cerita tentang Loire Valley dan foto-fotonya bisa dibaca di link Batik Air (Klik di sini)

09. VALETTA NAN JELITA


Release: Batik Inflight Magazine, edisi April 2017
Lokasi Pemotretan: Valetta, Malta
Peta: Google Map

BTS: Kalau buka peta Eropa, pasti agak kesulitan menemukan lokasi negara Malta, sebab dia hanyalah sebuah negara kecil, berwujud pulau-pulau (yang juga kecil-kecil), dan terletak bagaikan  satu titik antara Pulau Sisilia (Italia) dengan Tunisia (utara Afrika). Ibukotanya adalah Valetta, kota di tepi laut penuh dengan benteng-benteng. Kota ini mencampurkan dua gaya, yakni Italia dan Arab. Kenapa Arab? Karena dulu pernah diduduki oleh bangsa Arab pada tahun 870-1050. Jadi banyak nama-nama jalan dan makanan berkarakter Arab. Kalau sudah berada di sekitar tanjung maupun teluk-teluknya, bakalan hektik sendiri bikin foto-foto karena angle-anglenya keren semua. Puyeng sendiri kita mau foto yang mana, lantaran setiap sudut di area dekat lautnya menawan sekali!

Foto cover ini saya buat di atas sebuah benteng juga bagus nian karena ada kanal air yang tinggi dan taman sisa-sisa Perang Dunia. Pemandangan dari sini menghadap ke Fort Saint Angelo (lagi-lagi benteng!) di seberang teluk sempit arah timur. Fort Saint Angelo ini berada di atas tanjung. Ada 4 tanjung bertetanggaan di sana, dan setiap tanjung ada bentengnya lagi loh! Foto ini saya potret sekitar jam 16.00 sore. Cuacanya bagus, cerah dan hangat tapi ada angin sembriwingnya, adem. Langitnya tidak ada awan sama sekali waktu itu. Biru bersih.

Cerita tentang Valetta dan foto-fotonya bisa dibaca di link Batik Air (Klik Di Sini)

08. MAGI ARUNIKA MAGHILEWA


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Januari 2020
Lokasi Pemotretan: Maghilewa, Flores, NTT
Peta: Google Map

BTS: Perjalanan ke kampung tradisional di Flores ini terjadi atas undangan dari salah seorang pengusaha yang tidak lain merupakan keturunan dari suku utama di kampung ini. Maghilewa berada di selatan Gunung Inerie, Bajawa, tidak jauh dari laut Sawu. Saya diajak untuk melihat kampung ini sekaligus berbagi cerita kepada warga beberapa desa di sana tentang wisata budaya dan konsep pengembangan community based tourism karena mereka ingin mengenalkan wilayah mereka dan sedang antusias menyambut siapa saja yang datang.

Saya menginap di rumah adat, ditemani keluarga suku utama. Setiap hari saya membuat foto dan video, mengabadikan ritual yang mereka gelar serta momen-momen kebersamaan kami. Malam sebelum tidur, alarm di handphone selalu saya aktifkan agar bangun sebelum matahari terbit, supaya saya bisa memotret suasana pagi. Termasuk untuk foto cover ini, saya terbangkan drone pagi hari sekitar jam 06.00, bermanuver di langit Maghilewa. Untuk menangkap view kampung yang lengkap dengan hutan, laut, serta paduan warna pagi yang hangat sendu, posisi drone saya terbangkan ke sisi utara kampung, naik-turun sampai memperoleh komposisi yang pas. Dapat peringatan low-bat, tapi lantaran saking asyiknya, saya baru memulangkan drone ketika baterai benar-benar sekarat. Alhasil, ketika sudah di posisi hendak turun, di ketinggian sekitar 300 meter, tiba-tiba drone hilang tenaga, lalu terjun bebas. Saya langsung gelagapan menangkapnya, kena di tangan tapi terlempar ke rumput-rumput. Untunglah rumputnya tebal, dan setelah dicek, keadaan drone baik-baik saja. Huft..! Sudah panik!

Cerita tentang Maghilewa dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Di Sini)

07. DUNIA KLASIK DUBROVNIK


Release: Batik Inflight Magazine, edisi September 2015
Lokasi Pemotretan: Dubrovnik, Kroasia
Peta: Google Map

BTS: Kalian penggemar serial ‘Games of Thrones’? Nah, Dubrovnik adalah salah satu lokasi utama syuting film tersebut. Kota di pesisir ini memang rupawan. Area Stari Grad dan benteng Lovrijenac Fortress memang sangat layak jadi latar film bertema Medieval. Eit, saya ke Dubrovnik sebelum film itu dibikin, jadi saat menjelajahi Dubrovnik otak belum tercampur dengan imajinasi dalam adegan-adegan Games of Thrones. Namun, ketika film itu tayang, saya justru merasa seolah jadi salah satu kru sinematografi. Soalnya saya hafal setiap angle tempatnya. Begitulah, kalau kita pernah kunjungi suatu tempat lalu tempat itu jadi lokasi film yang digandrungi, tatkala nonton filmnya kita tidak fokus lagi pada jalan cerita  melainkan  otak kita malah sibuk membayangkan hal-hal teknis syuting, misalnya kamera shoot dari arah mana, apakah pemainnya berdiri di titik yang dulu pernah kita berdiri, bagian mana yang asli-mana yang diberi tambahan efek digital, macam-macam. Ya, demikianlah sindrom traveling.

Untuk cover Batik Inflight Magazine ini, fotonya saya jepret dari bastion kota tua Stari Grad. Kota tua Dubrovnik dikitari oleh tembok kuno dengan begitu banyak menara pandang serta balkon view, sepuas-puasnya fotografer mau jepret di mana. Saya berdiri di menara bagian timur laut, menghadap ke timur menuju ke Old Harbour dan Lazareti. Foto ini dibuat setelah makan siang, agak-agak high exposure sehingga harus kurangi level eksposur pada kamera.

Cerita tentang Dubrovnik dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Di Sini)

06. SINGGAH DI LAGUNA OELANGGA


Release: Batik Inflight Magazine, edisi September 2019
Lokasi Pemotretan: Rote, NTT
Peta: Google Map

BTS: Bermula dari kiriman foto-foto melalui Whatsapp seorang kenalan, bernazarlah saya untuk kembali ke Rote dan menjadikan Oelangga sebagai target utama kunjungan. Pulau Rote merupakan pulau terselatan di Indonesia, dan sebelumnya sudah beberapa kali saya ke sana (kebetulan kakak sulungku bertugas di Rote), namun Oelangga belum saya kenal waktu itu lantaran dulu aksesnya masih sulit, jalanan masih darurat.

Ke Oelangga, saya ditemani oleh seorang tukang ojek yang saya mintai jasanya untuk antar-jemput selama di Rote. Ternyata, dia hanya paham lokasi desa Oelangga tapi belum tahu persis di mana letak pantai Oelangga yang saya maksud. Kami tiba Oelangga tapi tidak menemukan pantai pasir putih bertebing-tebing seperti dalam foto. Hampir sejam kami hanya terpekur diam saja (karena signal internet tidak terjangkau di Oelangga), lalu dia tiba-tiba mengusulkan untuk trekking ke perbukitan di sebelah selatan. “Siapa tahu pantainya ada di belakang tebing-tebing itu,” katanya. Meskipun mood saya kendor, tapi saya bertekad untuk menemukan pantainya hari itu. Jadilah kami menyusuri bukit savana di siang yang terik berdua. Selang 30 menit berjalan, munculah sepotong bayangan pasir putih pantai Oelangga, kami berdua berlari-lari kegirangan. Kami duduk-duduk berpuas hati memandang panorama dari atas tebing, kemudian turun dan singgah ke pantai serta laguna yang elok. Foto cover Batik Inflight Magazine ini saya potret dengan bantuan drone, diterbangkan dari pantai. Angin lumayan kencang siang itu, tapi drone cukup terjaga keseimbangan. Saya menargetkan komposisi dua teluk yang dipisahkan oleh segaris pantai. Saya suka tempat ini, seperti nirwana yang spektakuler tapi damai tersembunyi.

Cerita tentang Oelangga dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Di Sini)

05. NEGERI KAYA TRADISI


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Agustus 2017
Lokasi Pemotretan: Waerebo, Flores, NTT
Peta: Google Map

BTS: Foto Waerebo ini saya jepret tahun 2015, tapi tidak pernah saya munculkan. Memang saya menulis beberapa artikel tentang Waerebo tapi menggunakan foto dengan angle-angle yang lain. Barulah tahun 2017, saya sertakan saat menulis artikel untuk Batik Inflight Magazine, dan foto ini terpilih jadi covernya.

Tahun 2015 itu saya datang ke Waerebo menjelang musim hujan, dan jalan kaki mulai dari Sekolah Dasar Denge itu becek berlumpur semua. Berangkat jam 3 sore tiba di Waerebo jam 18.00, sudah diniatkan untuk bermalam. Kebetulan saya sudah kunjungi Waerebo sebelumnya yakni tahun 2012 saat tiga rumah adat baru selesai dibangun dan wisatawan belum terlalu banyak, sehingga penduduk masih hafal wajah saya ketika saya kembali tahun 2015 (saya bagikan foto mereka yang saya buat tahun 2012). Untuk foto cover ini, saya bangun pagi-pagi, kemudian mendaki lereng bukit sebelah timur ke Pondok Baca. Dari situ saya memotret suasana pagi kampung. Menarik sekali melihat matahari muncul lalu menimpah atap rumah-rumah kerucut yang menjatuhkan bayangannya ke halaman kampung. Lalu satu per satu warga keluar halaman menggelar tikar/karung bekas untuk menjemur biji kopi. 

04. DI ANTARA WADAS BASTEI


Release: Batik Inflight Magazine, edisi September 2018
Lokasi Pemotretan: Basteibrucke, Saxony, Jerman
Peta: Google Map

BTS: Idealnya kalau mau foto tempat ini adalah pagi hari pas matahari terbit karena bisa dapat warna langit kuning yang bagus, sinar matahari yang memapar tebing-tebing batu, dan kabut yang mengambang. Tapi sayangnya cuaca kurang bersahabat waktu itu, jadinya sekitar jam 10 barulah saya ke Bastei. Tempat ini bagi saya adalah destinasi wisata alam Jerman bagian timur yang menarik, hutan pinusnya berhektar-hektar dihiasi oleh bukit-bukit batu yang tinggi-tinggi. Suasananya seperti hutan dalam film Twilight.  Yang spesial lagi yakni adanya Basteibrucke, jembatan batu yang dibangun tahun 1824 di ketinggian tebing. Sangat fantastis laiknya jembatan Negeri Dongeng. Di balik batu-batunya panorama lembah dan sungai memanjakan mata. Pengelola tempat ini membuatkan tangga-tangga ke sejumlah bukit-bukit batu dengan view menakjubkan.

Untuk membuat foto cover Batik Inflight Magazine ini, saya memotret Basteibrucke dari bukit batu bernama Ferdinanstein (Batu Ferdinan), terletak di samping utara dekat restoran tebing. Ini salah satu titik paling pas (juga aman) untuk memotret jembatan batu tersebut karena posisinya cukup tinggi sehingga sejumlah komponen pendukung seperti hutan dan lembah yang jauh di belakang bisa masuk frame. Oya, kalau memotret disini perlu tripod yang steady jangan bawa tripod yang ringan karena sering angin kencang datang tiba-tiba, kalau tripod ringan bisa tertiup jatuh ke tebing (Saya mengalaminya, hiks. Untung pas kamera sedang saya pegang, kalau tidak pasti ikutan jatuh).

Cerita tentang Bastei dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Di Sini)

03. PINTA TAK PUDAR PULAU PADAR


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Juni 2016
Lokasi Pemotretan: Pulau Padar, Flores, NTT
Peta: Google Map

BTS: Foto ini saya buat bulan Oktober 2014. Awalnya dipublish di LionMag bulan Desember 2014, selang 2 tahun kemudian (2016) dipublish lagi di Batik Air dan sekaligus jadi cover. Jadi usia foto ini sudah 6 tahun lebih (2014-2020). Enam tahun lalu Pulau Padar belum banyak dikenal, belum viral dan belum jadi Instagram target seperti sekarang. Pergi kesana pun sangat sulit, karena belum termasuk rute wisata. Semua kapal hanya ke Pulau Komodo-Rinca-Kanawa. Butuh dua minggu luntang-lantung cari kapal, kemudian nasib mujur mempertemukan saya dengan seorang pemilik kapal bernama Pak Mat. Sejak itu kami jadi seperti keluarga hingga kini.

Pak Mat antusias saat tahu saya juga suka mendaki-daki bukit terutama untuk sunrise dan sunset. Beliau doyan hiking rupanya. Kami berlayar 3 hari 2 malam dengan kapalnya, singgah di banyak pulau sebelum endingnya di Pulau Padar. Kami menginap semalam di Padar, dan mendapatkan momen sunset dan sunrise seperti dambaan kami. Padar sangat sepi waktu itu, hanya kapal kami yang mampir di sana, belum ada dermaga, semua masih murni alami, tidak ada secuil pun sampah (beda sekali dengan kondisi sekarang). Untuk foto ini, saya mendaki di bukit sebelah barat sekitar jam 16.00 sore, lalu berdiri di ujung lereng bagian bawah. Tripod saya letakkan sekitar 400 meter, dan saya masuk jadi model, selfpotrait memakai remote control. Sekarang kalau lihat kondisi Pulau Padar yang sudah banyak  berubah, rasanya mau nangis. Karena dulu itu sepih dan natural, pokoknya spektakuler. Sering sedih kalau tempat-tempat yang awalnya alamiah saja sudah luar biasa, tapi berubah gara-gara pariwisata 😥😥

Cerita tentang Padar dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air (Klik Disini)

02. LUKISAN BESTARI LÜBECK


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Desember 2015
Lokasi Pemotretan: Lübeck, ‎Schleswig-Holstein, Jerman
Peta: Google Map

BTS: Lübeck ini kotanya tidak besar, tapi unik, terutama di kawasan Altstad Lübeck, yakni kota tua, lantaran dikelilingi oleh kanal-kanal air seperti di Belanda, dan bangunan-bangunan di sana didominasi oleh dinding bata merah. Kota ini berada di utara Jerman, berbatasan dengan Denmark dan Laut Baltik. Dibangun di atas tanah yang lembek, maka banyak bangunan tua yang tinggi-tinggi mengalami kemiringan. Jadinya, rata-rata gereja yang berumur ratusan tahun di kota ini menaranya tidak tegak. Seperti terlihat dalam foto ini.

Saya memotret di tepian timur danau kecil Mühlenteich yang begitu tenang bak kaca. Gereja di seberang danau ini adalah Dom zu Lübeck (Katedral Lübeck) yang dibangun tahun 1173 dan kedua menaranya mengalami kemiringan akibat tanah yang melempem. Refleksi bangunan pada permukaan danau amat sempurna, meskipun sebenarnya saya berharap ada seseorang mendayung kayak melintasi danau itu.

Cerita tentang Lübeck dan foto-fotonya bisa dilihat di link Batik Air berikut:KLIK

01. GOLDEN ROCK LEBIH DARI SEKADAR ESTETIKA


Release: Batik Inflight Magazine, edisi Oktober 2014
Lokasi Pemotretan: Kyaiktiyo Temple, Myanmar
Peta: Google Map

BTS: Ini foto selalu punya tempat istimewa di hati saya karena saat memotret suasana di lokasi Golden Rock sangat enigmatik, penganut Budha datang berdoa dengan khusuk, lonceng genta dibunyikan, dan matahari senja menguning membuat kuil batu tampak gemilang. Saya mengalami semacam ‘trance’ saat itu karena situasi yang meditatif meski banyak sekali orang datang ke sana. Saya menunggu dari jam 16.00 sore demi mendapatkan momen ini. Foto dibuat sekitar jam 17.30 sore. Dan saya bertahan di sana sampai jam 21.00 malam, tertegun mengamati para biksu yang bersemadi dalam redup cahaya malam bertabur bintang. Dalam hati saya sempat berbisik sendiri "Kayaknya saya pingin masuk agama Budha." 

Datang ke tempat bernama lain Kyaiktiyo Pagoda ini saya butuh perjuangan. Sebelumnya menuju Kinpun, kota terdekatnya, saya berdesakan dalam pick-up melewati jalanan berlubang. Kemudian dari Kinpun menuju Golden Rock saya menumpang truk. Benar-benar petualangan sendirian dan menyadarkan keselamatan pada kebaikan-kebaikan orang. Saya mengalami banyak hal, banyak perubahan, tapi kenangan akan tempat-tempat yang saya datangi tetap abadi dalam ingatan. Seperti pepatah mengatakan “People Change, Memories Don’t”. 

**
Follow Instagram saya DI SINI
#valentinoluis #travelwriterindonesia #traveljournalist #travelphotographyindonesia #lionmag #lionair #inflightmagazine #batikair #batikairmagazine #majalahpesawat #penulisperjalanan 

Jalan - Jalan ke Larantuka (Flores Timur) Part 4

Deru Debu
SAGU
MERETAS DENAI-DENAI SEJARAH NAN AZAMAT
YANG BERDIAM DI KAMPUNG PESISIR PULAU ADONARA



T
ugu berwujud pilar pualam putih itu hampir tiga meter tingginya. Kelihatan janggal berdiri sendirian di antara kepungan rumah-rumah nelayan sederhana. Pada permukaan pilar yang menghadap ke laut, terdapat relief sebuah jangkar berhiaskan mahkota ‘Kroon van Nederland.’ Di kaki tugu dua buah prasasti tersemat, salah satu bertuliskan demikian; Hier Rust Luitje van der Borg in Leven Luitenant Ter Zee (Di sini beristirahat Luitje van der Borg Letnan Maritim).       

“Sang letnan terbunuh saat membantu Kerajaan Adonara dalam Perang Hongi,” terang Muhammad Sarabiti, warga lokal, yang mendampingi kami siang itu. “Ketika mendengar Luitje meninggal, tunangannya rela berlayar dari Belanda kemari dan memprakarsai berdirinya tugu ini. Patah hati perempuan itu tak terbendung, sehingga usai tugu diresmikan, dia meminta supaya ujung tugu ditembak dengan meriam. Potongan pucuk  tugu lantas dibawanya ke Belanda sebagai kenangan abadi akan sang kekasih,” lanjut Muhammad Sarabiti dengan nada kalem.

Saya termangu mendengar kisahnya, betapa cinta dua manusia asing terejawantah dengan cara yang luar biasa dalam kecamuk perang lokal berabad silam.  Apalagi membaca keterangan tambahan pada plakat, saya menyadari bahwa Luitje van der Borg, pria Belanda tersebut, tewas terbunuh di usia yang masih begitu muda, 25 tahun. Mirip seperti melankolia asmara Romeo & Juliet atau Jack & Rose, sama-sama dialami muda-mudi yang sepadan usianya. Namun, bila latar cerita mereka terlalu jauh di Eropa dan dianggap fiksi, maka kisah Luitje dan tunangannya ini bisa jadi cerita paling romantis yang nyata adanya.

Bisakah dibayangkan, bagaimana tunangan Luitje mengarungi lautan berbulan-bulan pulang ke Belanda sambil membawa potongan pilar tugu itu? Dan siapa sangka romansa ini terjadi di Sagu, kampung sunyi di pesisir Adonara, pulau yang teronggok dari tabir timur Flores? Saya bahkan baru tahu sekarang!

DILIHAT SEPINTAS, Sagu hanyalah kampung kecil di tepian pantai. Bila berkendaraan kemari pun orang-orang harus siap melindasi jalan debu berbatu. Dibandingkan wilayah lain di Pulau Adonara yang telah rapi dan tersentuh aspal mulus, kampung ini malah tampak tak terurus, kisut tak diacuhkan. Padahal, pada abad Pertengahan, Sagu adalah sentra Kerajaan Adonara sekaligus bandar perniagaan laut yang ramai. Barangkali perpecahan antar kerajaan-kerajaan lokal akibat seteru bangsa-bangsa kolonial dahulu masih menyisahkan sentimen hingga masa kini.

Pilar pualam putih dengan relief mahkota raja Belanda dan jangkar.

Bagian bawah tugu yang menuliskan nama Luitje van der Borg

Terpisahkan beberapa meter saja dari tugu Luitje, Muhammad Sarabiti mempertemukan saya dengan Arifin Nueng Ape, satu dari keturunan raja Adonara. Kediaman Arifin yang berdinding papan dan beratap seng penuh korosi itu ternyata terletak dalam kompleks istana raja yang telah roboh dua dekade lalu. Saya melihat pagar batu yang mengitari area luas itu, sumur antik, juga sisa gerbang di sisi utara.

“Dulu istananya berbentuk rumah panggung dikelilingi pagar batu dengan sejumlah gerbang,” kata Arifin sembari menunjukkan foto istana yang disimpannya baik-baik. Di ruang tamu saya melihat dua meja bundar dari marmer asli berukir amat indah, warisan istana yang tersisa.

Arifin mengisahkan bahwa pusat kerajaan sebenarnya berada di atas bukit di kampung tua Adonara, kemudian dipindahkan ke Sagu demi mempermudah aktifitas dan transportasi maritim pada masa pemerintahan raja Arkiang Kamba di tahun 1700an. “Beliau juga yang mempelopori pembangunan masjid di sebelah istana ini dan Islam berkembang  jadi agama mayoritas di pesisir,” urai Arifin. Ia memamerkan koleksi keris juga peci peninggalan raja Arkiang, kemudian membawa saya melihat makam sang raja yang berada di halaman samping masjid.

“Jika sempat, usai dari sini, berkunjunglah ke kampung tua Adonara.  Dari nama kampung itulah kemudian digunakan sebagai identitas keseluruhan pulau ini. Ada sisa benteng Portugis di sana,” ujar Arifin.

Mendengar kata-kata terakhirnya mengenai keberadaan benteng Portugis, membuat saya seperti diberi kejutan tambahan. Ini jelas sebuah perjalanan meretas denai-denai sejarah nan azamat. Belum banyak yang mengisahkan tentang hal ini, dan antusiasme saya jelas terlecut.

Sisa pagar istana kerajaan Adonara di Sagu. Istana yang roboh puluhan tahun lalu belum didirikan kembali.

Muhammad Sarabiti dan Arifin Nueng Ape di halaman mesjid tertua yang dibangun ratusan tahun silam
oleh Raja Arkian Kamba

UNTUK SAMPAI ke kampung tua Adonara dari Sagu kendaraan harus memutar sekitar 10 km. Ini lantaran topografi daerahnya yang berbukit-bukit,  sedangkan bila melalui jalur laut hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit. Setelah melintasi jalan raya, lantas berbelok menelusuri jalan kecil di punggung bukit yang lebih sepi berlatar Gunung Ile Boleng di timur dan lautan di barat.

Menjelang kampung tua Adonara, vista sebelah utara jalan memaparkan sebuah ngarai berisi air. “Itu Danau Kota Kaya,” kata Tarwan Stanislaus, jurnalis yang memberi saya tumpangan kendaraan. Lantaran sedang kemarau dan mengalami sedimentasi, volume airnya menipis. Ditambah desakan pertumbuhan pemukiman di tepian batas antara danau dengan laut akan membuat debit airnya kian menyusut. “Katanya dulu bebek Australia sering bermigrasi kemari,” imbuh Tarwan. Pemandangan dari punggung bukit ke danau ini cukup memikat dan jadi perhentian yang menenangkan bagi para pelintas.

Danau Kota Kaya yang mengalami sedimentasi terus menerus ini dulunya adalah tempat singgahnya migrasi burung-burung dari Australia

Tarwan Stanislaus berdiri di batu pada lereng dengan latar kampung nelayan di ujung Danau Kota Kaya

Benteng Portugis yang saya incar ternyata langsung berada di pinggir jalan. Bahkan, saya menduga sepertinya bagian dari benteng telah digerus untuk dijadikan badan jalan. Struktur konstruksinya hampir sama dengan benteng di Lohayong - Pulau Solor, gelondong batu-batu yang terususun dan direkatkan dengan bahan calcium carbonate.

Sebuah bastion berbentuk ruangan persegi dengan beberapa lubang pengintai menyisahkan sejumlah meriam kecil. Bastion ini jika tidak dilindungi dengan segera maka  akan lenyap dalam beberapa tahun mendatang. Meriam-meriam lain berserakan di pekarangan rumah warga kampung, seolah tidak dipedulikan sama sekali. Orang-orang hanya memandangi saya dengan diam sewaktu saya mengamati detail demi detail meriam itu.

Kampung tua Adonara ini bertengger di ujung bukit, membentuk tanjung. Sebuah lokasi ideal untuk membangun benteng atau fortification yang diidam-idamkan bangsa Portugis. Saya kesulitan untuk mencari referensi terkait benteng ini karena nyaris tidak ada catatan sama sekali mengenainya, mencari di Google pun tidak ada yang membahasnya. Sayang sekali, apakah terus begini nasib peninggalan-peninggalan bersejarah di sudut negeri?

Saya membayangkan lagi Sagu yang terlantar, tugu Luitje, lalu benteng serta kampung tua Adonara. Tempat-tempat dengan nilai historis luar biasa seperti ini semestinya tidak jadi korban abadi seteru masa lalu. Tidak harus merana lalu lenyap oleh deru debu waktu. Bisakah kita memanfaatkan sisi historisnya, menyoroti estetikanya, dan mengubahnya menjadi permai untuk mendamaikan friksi-friksi masa lampau?

Jika tidak dirawat atau dipedulikan, sisa benteng Portugis ini tak lama lagi lenyap.

Memandangi bentang panorama ke arah Gunung Ile Boleng dari puing bastion benteng Portugis

Satu dari sejumlah meriam yang terbengkalai di kampung tua Adonara


**
Follow Instagram saya DI SINI
#valentinoluis #travelwriterindonesia #traveljournalist #travelphotographyindonesia #lionmag #lionair #inflightmagazine #adonara #kerajaanadonara #saguadonara #balenagi #festivalbalenagi 

Tulisan ini dipublikasikan di majalah pesawat LIONMAG (Lion Air) edisi bulan Februari 2020. 
Untuk membaca versi PDF online, silahkan klik foto berikut ini. TERIMA KASIH.


Jalan - Jalan ke Bali (Part 1)

Lambai Pantai
Padangbai
PESISIR TENGGARA PULAU DEWATA 
YANG MASIH MENGGENGGAM PAMORNYA SEBAGAI DESTINASI BAHARI



D
ari ketinggian restoran Helix 64 yang berbentuk sirkel, terbentang luas pemandangan Teluk Manggis hingga Candidasa. Saya, seperti seekor burung yang hinggap di sarang tinggi, menatap tanpa terhalang ke segala penjuru; laut berkilau mengayun-ayunkan jukung nelayan, kendaraan bergerak dinamis dari dua arah bagai semut, dan punuk-punuk perbukitan Karangasem begitu syahdu menyimpan kesenyapan. 

“SEBENTAR MALAM kita akan menyelam di bawah sini. Namanya Tanjung Jepun. Apakah kamu siap?” tanya Wayan Darta sembari menunjuk ke arah rusuk kanan restoran. Tepat di bawah tebing. “Tentu, sudah tidak sabar, Bli,” jawab saya sumringah bersamaan dengan tuntasnya hidangan Pan sauteéd mahi mahi di atas meja kami.

Saya telah mengontak Wayan seminggu silam agar diajak ikut menyelam. Ia pemilik dive shop di Padangbai yang sudah saya kenal lama. Dulu, ketika masih bermukim di Bali, saya kerapkali datang ke Padangbai, sekadar untuk bersnorkeling atau menumpang kapal ke Lombok. Perkenalan dengan Wayan terjadi saat seorang teman kantor bernazar ingin belajar menyelam. Kami mencari instruktur dan akhirnya bertemu Wayan.

“Syukurlah, tamu masih lancar datang menyelam bersama saya, walau sekarang banyak lokasi penyelaman di luar Bali bermunculan, khususnya di daerah kalian, Indonesia timur,” kata Wayan. Tidak dimungkiri, soal bawah laut, kawasan timur negeri punya segudang tempat penyelaman yang kaya dan alami. Namun, Bali yang telah puluhan tahun makan garam soal pariwisata masih mampu menarik peminat aktivitas bahari. Kemudahan  akses, ketersediaan fasilitas,  dan profesionalisme layanan menjadi kunci menahan orang supaya tak berpaling dari Pulau Dewata ini.

Wayan memiliki beberapa kapal penyelaman. Sebagian dipakai untuk melayani tamunya, sebagian disewakan ke operator lain. “Walau kita punya aset, punya perusahaan sendiri, tapi tidak bisa menutup diri, musti berkolaborasi dengan pengusaha lain yang bergerak di bidang yang sama. Situasi saling membutuhkan itu menimbulkan rasa senasib sepenanggungan. Bersama menetapkan harga agar adil, membuat kebijakan operasional sehingga tidak ada konflik, dan kalau ada masalah kita punya pendukung untuk menghadapi situasi,” urainya bijak.

Jelang sore, saya menelusuri daerah Padangbai guna mengamati perubahannya. Kawasan penginapan masih berkonsentrasi di sisi timur pelabuhan, di mana pantainya berlabuh banyak sampan nelayan berbaur kapal penyelaman. Pengunjung dari berbagai negeri bermalam di penginapan sepanjang Jalan Silayukti dan lorong-lorong cabangnya. Daerah Padangbai tidak rata, topografinya berapit bukit lapis demi lapis sehingga ada banyak teluk dan tanjung kecil di pesisirnya. 

Bentang panorama ketinggian tersaji di Resto Helix 

Hidangan Mediterania pesanan saya di Resto Helix 64

SESUAI KESEPAKATAN, saya bergabung dengan Wayan malam hari untuk menyelam di Tanjung Jepun. Selain saya, ada juga empat wisatawan asing asal Swiss yang ikut. “Negara kami tak punya pantai, tak punya laut. Hanya gunung bersalju. Saya suka mendaki gunung tapi menyelam masuk ke dasar laut selalu memberi sensasi yang berbeda, sesuatu yang surreal,” ujar Marlon, salah satu dari mereka.

Cuaca malam itu cerah meski agak berangin. Wayan mewanti-wanti salah satu dive master bahwa kemungkinan arus laut agak kencang nanti. Semua peserta harus dijaga dan ditandemi. Kapal kemudian meluncur di bawah pijar gemintang, lantas berputar ke timur setelah mencapai ujung tanjung. Samar-samar saya menangkap bayangan atap bertingkat Pura Tanjung Sari.

Di perairan di sekitar Padangbai terdapat enam lokasi penyelaman. “Ada yang namanya Tanjung Bungsil, Blue Lagoon, Tanjung Jepun, Mimpang, Tepekong, dan Biaha,” urai Wayan. Tiga nama yang disebutkan pertama letaknya dekat dan tidak begitu dalam. Itu menjadi tujuan penyelaman kami. Sedangkan Mimpang, Tepekong, dan Biaha berada pada pulau karang berhadapan dengan Candidasa. “Arus di situ kencang dan sering muncul tiba-tiba. Tidak cocok untuk penyelam pemula,” tambahnya. Kami melewati Blue Lagoon dan langsung ke Jepun sebagai titik pertama, keduanya bersisian terpisahkan oleh sebuah tanjung mungil. Lokasi Jepun berada di kaki tebing. 

Kapal penyelam dan kapal penumpang di hadapan Blue Lagoon, sebelah kiri adalah Tanjung Jepun

Pengunjung bersnorkeling di laut Blue Lagoon. Visibilitas airnya cukup bagus.

Wayan dan para dive master mempersiapkan dan memakaikan perlengkapan penyelaman kepada kami. Seperti biasa, kami mengikuti setiap aba-aba yang diberikan Wayan, lalu melompat masuk ke dalam laut. Ini adalah pengalaman pertama saya menyelam malam hari, rasanya sangat berbeda begitu senter menyalah dalam air, sekelilingnya gelap misterius, seolah kami sedang melakukan sebuah misi rahasia.

Tanjung Jepun dikenal bagi mereka yang suka mengamati hewan-hewan laut berukuran super kecil (macro) seperti Nudibranch, Frogfish, Pygmy Seahorse, Amphipod, Box fish, Jawfish. Dua teman Marlon begitu khusuk memotret makluk-makluk renit berwujud aneh-aneh itu, sedangkan saya hanya memandang dengan takjub sambil berharap ada Hiu bersirip putih muncul, katanya mudah dijumpai.

Setelah cukup lama di situ, kami naik kapal lagi lalu pindah ke Blue Lagoon di sebelahnya. Di Blue Lagoon ada tebaran koral, dan ikan-ikan lebih aktif. Saya belum juga bertemu Hiu sirip putih namun sangat senang manakala melihat Pipefish dan Octopus di sela karang. Tidak hanya kapal kami yang menyelam di situ, ada tiga kapal lain juga. Sinar senter para penyelam yang benderang hilang muncul sili berganti dalam air menciptakan efek seperti iluminasi atau atraksi cahaya. Tak ada hal lain yang saya pikirkan saat berada dalam laut, perhatian tercurah pada makluk yang dicari dan diamati.

BLUE LAGOON tidak cuma untuk menyelam. Pantai di tepiannya pun menarik lantaran berpasir putih. Saban hari selalu ada wisatawan datang mandi serta berjemur. Ukurannya yang tak seberapa luas memberi kesan privat.

Selain Blue Lagoon, pantai lain di Padangbai yang juga memiliki pasir putih yakni Pantai Bias Tugel. Tidak sampai 1 kilometer dari pelabuhan ke arah barat, melewati bukit. Dulu, akses ke pantai ini cukup menyulitkan karena harus menerobos semak. Sekarang sudah berubah, bahkan ada petugas penjaga khusus yang menyambut dan memberikan karcis sebelum masuk. 

Pura Tanjung Sari yang berada di tanjung sebelah timur pelabuhan Padangbai

Sisi barat Pantai Bias Tugel

Keesokannya, saya kembali menyambangi Wayan. Hendak pamit. Ia berdiri di pantai, menunjukkan kapalnya yang baru direnovasi. Hari ini cuaca mendung dan berangin. Tapi kata Wayan ia ingin mencoba kapalnya segera. “Tunggu saja mungkin sore atau besok. Kapalmu akan selalu aman di dermaga ini,” kata saya.

“Kapal memang aman kalau berada di dermaga, tapi bukan untuk itu kapal dibuat, melainkan untuk membelah lautan, berhadapan dengan arus dan gelombang, lalu pulang dengan cerita baru,” kata Wayan mantap sebelum melompat naik ke atas kapalnya. 

Saya menatapnya hingga lambaian tangannya hilang di ujung tanjung, kemudian giliran saya menghidupkan motor, meninggalkan Padangbai menuju tempat berikutnya di sudut Bali yang lain. Seperti kapal yang dibuat untuk berlayar, demikian kiranya saya, terlahir bukan untuk aman di satu tempat, tapi untuk terus bepergian, supaya pulang membawa cerita. 
Termasuk cerita ini. 

Fajar menyingsing dari ufuk timur perbukitan Karangasem

Jukung yang dipakai untuk mengangkut perlengkapan dive

**
Follow Instagram saya DI SINI
#valentinoluis #travelwriterindonesia #trippadangbai #traveljournalist #travelphotographyindonesia

Tulisan ini dipublikasikan di majalah pesawat LIONMAG (Lion Air) edisi bulan September 2019. Foto saya dipilih sebagai foto cover majalah. Untuk membaca versi PDF online, silahkan klik foto berikut ini. TERIMA KASIH.

Artikel LIONMAG tentang Padangbai

Jalan - Jalan ke Rote (Part 1)

Singgah di Laguna
Oelangga

PADA CELAH TEBING KARANG TEPIAN PULAU ROTE,
TELAGA BIRU BERBINAR CEMERLANG DALAM LENGANG





A
da keraguan muncul manakala mengekori langkah Deni Ndolu memanjati batu karang hitam besar bergerigi. Rasanya ada yang salah. Begitu kami menjejaki bagian batu yang agak rata, keraguan saya benar-benar jadi kenyataan. “Ini bukan lokasi seperti dalam foto yang kita lihat,” kata saya akhirnya, tak mampu menahan rasa kecewa. “Tapi di sinilah Oelangga,” balas Deni beradu suara ombak. Celakanya, saya tidak menyimpan foto-foto Oelangga untuk membandingkannya, dan kawasan ini pun tidak terjangkau signal ponsel. Apakah Deni sedang menjebak atau menipu saya?

Tapi tidak mungkin pria Rote itu berniat buruk. Beberapa hari lalu dialah yang menjemput saya dari Bandar udara D. C. Saundale kemudian mengantarkan ke Nemberala. Hari ini dia pula bersedia membawa saya dari Nemberala ke Oelangga. Bukan jarak yang dekat, rute yang kami tempuh dengan sepeda motornya melewati beberapa bukit serta lembah yang belum diaspal. Deni telah menjadi teman ngobrol yang santai. Jadi, saya tidak yakin dia punya niat buruk.  Hanya saja tempat ini, jelas bukan seperti tempat yang ingin saya tuju.

Sekitar sepuluh menit kami termangu memandangi ombak. Lalu sekonyong suara Deni memecah kecanggungan, “mungkin lokasinya nun di balik tebing-tebing itu. Lihatlah, sepertinya ada jalur bagi pejalan kaki melalui perbukitan. Ayo kita susuri.” Kalimat itu tidak hanya memberi pengharapan tapi juga mengembalikan pikiran baik terhadap Deni. Saya tak jadi jatuh ke dalam purbasangka.

KAMI MELOMPATI batu demi batu mencari jalur trekking yang tepat. Deni mengakui bahwa ia belum pernah sampai ke laguna yang saya maksud tapi menegaskan bahwa kawasan ini adalah benar Oelangga. “Tidak ada tempat lain di Rote bernama Oelangga, selain tempat ini,” katanya, seolah memberi pemahaman.

Rote merupakan pulau terselatan Indonesia. Kampung halaman musisi lawas Obbie Messakh dan sastrawan legendaris Gerson Poyk. Daratannya seluas 1,200 km2 didominasi oleh tanah berkapur, tak ada gunung vulkanik, hanya bukit-bukit bersabana ditingkahi pohon lontar. Perjalanan mengitari pulau ini di puncak musim kemarau seperti sekarang menempatkan saya pada bertala-tala sengat matahari, tempelan debu, dan terpaan angin.

Terakhir kali saya mengunjungi Rote sekitar enam tahun lalu. Hanya mengetahui segelintiran tempat, selain karena akses yang belum terbuka, pariwisata pun belum jadi tema yang menarik diperbincangkan waktu itu. Loka seperti Nemberala bertumbuh dengan sendirinya lantaran memiliki peminat khusus yakni para peselancar. Kini, dengan terbukanya informasi, satu demi satu bagian tersembunyi pulau ini pun bermunculan. Salah satunya Oelangga, yang saya idamkan

Setelah menemukan jalur trekking, Deni dan saya bergegas menapaki bukit karang. Siang itu sangat sunyi, hanya kami berdua. Kendati matahari amat terik dan bercucur peluh, hembusan angin membuat kulit terasa sejuk. Di sisi bukit, tebing terjal membentang sepanjang bibir laut, seakan-akan kami sedang berada di ujung dunia.

Beberapa batu karang di jalur trekking membentuk formasi-formasi unik di antara tumbuhan perdu. Jalur ini -kendati tanpa berhiaskan mercusuar atau kastil- tampak menyerupai rute-rute trekking Cap Frehel di Bretagne, propinsi pesisir utara Perancis. Saya yakin, jika menelusuri bukit ini pagi atau sore bakal lebih atraktif ketimbang siang hari.  

Jalur trekking menuju laguna


SETELAH SEKITAR 45 menit berjalan kaki, mata saya menangkap bayangan pasir putih di sudut tebing. Tidak salah lagi, itulah lokasinya! Saya yang sebelumnya berjalan di belakang Deni, spontan bergerak mendahului. Antusias ingin lekas sampai.

Berderet kepalan bebatuan besar menjadi bingkai pemandangan. Kami melompati satu demi satu batu untuk menemukan titik paling ideal guna memandangi laguna dari ketinggian. Beginilah panorama Oelangga yang saya idamkan itu: teluk-teluk kecil dan sempit saling bersisian, terisi oleh air laut bening yang tenang berwarna bak zamrud, pasir putih bersih membuatnya tambah cemerlang, dibumbui gelondong gigantis batuan. Sungguh, ini nirwana. Kalau ada film romantis atau petulangan yang membutuhkan lokasi syuting, maka Oelangga adalah lokasi tepat.

Cukup lama kami berada di ketinggian, tanpa henti berdecak kagum. Lantas, kami menuruni tebing. Tentu saja, saya ingin menyetuh air laguna itu dan berdiri di pasir putihnya. Untuk sampai ke bawah, kami melalui celah-celah tebing yang berbentuk gua. Memandang dari sudut mana pun, semuanya fotogenik, membuat saya terus menerus membidikan kamera, sementara Deni selalu mewanti-wanti, “awas terpeleset,” atau “hati-hati salah pijakan.” 

Melalui cela-cela tebing yang bergua

Sisi pantai berpasir putih dengan apitan laut biru


Laguna Oelangga sungguh-sungguh bening. Mata saya bisa menakar hingga ke dasarnya, karena dangkal. Tidak ada hentakan pada permukaan air, sangat tenang bagai telaga, padahal di luar bebatuan yang memagarinya, ombak berdebur cukup keras. Saat mencecap airnya, terasa kadar garam yang tinggi. Itu artinya jika berenang, badan akan gampang terapung.

Saya memutari laguna, mencapai satu per satu pantai-pantai mungil berpasir putihnya, menatap detail lansekap. Kembali perasaan déjà vu datang lagi. Oelangga memang persis seperti alam pesisir Cap Frehel, di Bretange, utara Perancis. Agak janggal sekaligus lucu mendapati sebuah lokasi di daerah kita sendiri yang memiliki keserupaan dengan tempat di negeri asing nan jauh. Toh saya menikmati déjà vu tersebut, membuat saya merasa at the right place at the right time, berada pada tempat yang tepat di saat yang tepat pula. 

Mendekati laguna berwarna zamrud yang tenang

Menjelang sore kami meninggalkan Oelangga. Dalam perjalananan ke pusat kota Ba’a, kami berpapasan dengan pria-pria yang mengenakan Ti’i Langga, topi khas Rote yang lebar bagai sombrero berantena. Katanya, mereka baru menyelesaikan lomba pacuan kuda. Kami juga singgah di tempat pembuatan gula lontar, mencicipi manis gula yang diproduksi secara tradisional.

Sebelum mengantar saya ke penginapan, Deni membawa saya menatap senja di Batu Termanu yang tersohor. Saya menyampaikan permintaan maaf karena sempat berpraduga buruk saat pertama tiba di Oelangga. Pria itu tersenyum, dia juga meminta maaf untuk alasan yang sama. “Tapi semuanya berakhir manis, bukan?” katanya tergelak.

Lalu keping-keping gula lontar pun bergemeretak dalam mulut saya seiring pendar terakhir matahari. Manis, semanis vista pulau ini. 

Bulat Matahari sebentar lagi menyusup ke kaki langit

Deni Ndolu duduk di kaki Batu Termanu

**
Tulisan ini dipublikasikan di inflight magazine BATIK AIR edisi September 2019. Bisa dibaca versi PDF online majalahnya DI SINI. 

PANDUAN PEJALAN
Tidak ada warung makan di sekitar Oelangga, jadi bawa bekal makanan sendiri dari pusat kota Ba’a sebelum kemari. Pastikan air minum yang cukup untuk trekking di bukit sabana. Ingat, bawa pulang sampahmu atau jika terlalu banyak barang bungkusan yang dibawa, sebaiknya dibakar (dan dimatikan apinya) sebelum meninggalkan lokasi. Tempat ini sangat menawan tapi juga sangat berisiko hancur jika sampah dibuang sembarangan. CINTAILAH ALAM. 

#pantaioelangga #valentinoluis #traveljournalistindonesia #roteisland #pulaurote
Video Oelangga 

Jalan-Jalan ke Nagekeo (Part 1)

Hawa Legawa  Kawa   MERESAPI KEBERSAHAJAAN HIDUP  SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL  DI PUNDAK GUNUNG AMEGELU, NAGEKEO-FLORES P ...