Jalan - Jalan ke Cinque Terre (Italia)


Cinta Terindah
Cinque Terre

Bila lima desa di tepian pantai Italia bersekutu dalam balutan nuansa
warna-warni cerah ditimpali lereng subur penuh anggur, 
bersiaplah untuk mabuk kepayang



D
alam tempo ralletando, seorang gadis berambut panjang sebahu menyudahi permainan saksofonnya. Notasi-notasi dari lagu Caruso usai diperdengarkannya  dengan apik, disambut tepuk tangan dari para audiens. Saya duduk di sela-sela penonton, pada puing kastil di ujung tanjung kecil, sembari menikmati senja menebar semburat jingga ke penjuru desa Vernazza. 

Di hadapan saya, di bawah tanjung ini, permukaan laut Liguria beriak-riak tersaput angin Mediterania. Sedangkan pada sisi kanan, tampak menara gereja Santa Margherita d’Antiochia menjatuhkan bayanganya antara bangunan berwarna cemerlang. Sore yang  begitu menawan.

Vernazza merupakan salah satu desa  Cinque Terre. Sebutan Cinque Terre atau “The Five Lands” sebenarnya tidak merujuk ke sebuah wilayah administratif-politik, melainkan ditujukan kepada lima desa di pesisir Liguria, yang memiliki kesamaan topografi serta gaya tata ruang pemukimannya.

Kelima desa itu meliputi Monterosso, Vernazza, Corniglia, Manarola, dan Riomaggiore. Semuanya adalah desa nelayan, yang masing-masing tersembunyi di celah-celah teluk serta tanjung di bibir pantai. Tidak ada lahan datar, daerah ini berbentuk tanjakan, menyebabkan rumah-rumah dibangun tersusun pada lereng tebing. Kemolekan lima desa ini dipicu oleh kondisi alam berupa lereng tebing itu,  mengingatkan saya akan Santorini di Yunani. Bedanya, disini cat rumah didominasi oleh gradasi warna kuning dan merah, bukan warna putih. Begitupun model bangunananya, lebih menyerupai apartemen bertingkat ketimbang kotak-kotak kecil ‘dug house.’

Meski menyolok dan jadi tujuan wisata idaman, Cinque Terre tetap tampil sederhana dan bernuansa khas pedesaan. Maklum, sebagian besar penduduk bermatapencarian sebagai nelayan. Sebagiannya lagi adalah petani kebun anggur. Jangan kaget soal anggur ini, sebab kendati terletak tepat di tepi laut, Cinque Terre merupakan ladang yang cocok untuk ditanami anggur. Bahkan kondisi ini menyebabkan citarasa anggur mereka lebih kuat, katanya, akibat kadar yodium serta unsur hara tanah yang tinggi. Penduduk menanam jenis anggur lokal yang dijaga turun-temurun, misalnya Albarola, Bosco, Vermentino, juga anggur putih purbakala bernama SciachetrĂ . 

Desa Corniglia yang imut berada di tanduk bukit. Untuk mendapati posisi tengah foto ini, saya memutari lereng tebing berjalan kaki.

Jalur kereta dengan hiasan kebun anggur dan tebing. Pada musim panen anggur, biasanya bulan Oktober atau November, pengunjung Cinque Terre diperkenankan untuk ikut serta memanen dan mencicipi anggur warga

Patung Dewa Neptunus pada tebing pantai dibuat pada posisi yang kian melengkapi drama alam Cinque Terre


KARENA DATANG dari arah barat (yakni dari kota Genoa), sebelum sampai di Vernazza, saya terlebih dahulu mampir di desa Monterosso. Dia adalah desa Cinque Terre paling barat. Dimonopoli oleh lereng, menyebabkan transportasi antar desa mengandalkan moda kereta api melewati terowongan dan kapal laut. Mobilisasi dalam pusat desa umumnya dengan berjalan kaki.

Di Monterosso terdapat lebih banyak hotel, pantainya pun agak lebih luas. Pantai Monterosso berbentuk kurva, berhias pulau karang dan pasir dari butiran kecil bebatuan. Sepanjang tepian pantai berjejer café maupun restoran, selalu ramai dikunjungi. Saya menyukai bagian ujung barat dari pantai ini lantaran ada sebuah karya monumental, yakni patung Dewa Neptunus, berukuran besar, menghadap ke samudra namun seakan-akan kesakitan menahan tebing yang mau rubuh.

Usai Monterosso dan Vernazza, saya beranjak ke Corniglia. Jarak antar desa kurang dari lima kilometer, waktu tempuh dengan kereta api berkisar lima menitan. Desa Corniglia agak lain, sebab walaupun menghadap ke laut tapi tidak benar-benar di tepi pantai. Desa ini berada di ketinggian, dan akses kesana dari stasiun dengan mendaki 382 anak tangga berbentuk zig-zag yang dinamakan ‘Lardarina’. Sebenarnya ada jalan aspal, namun semua pengunjung lebih suka menapaki anak tangga ini. Pasti demi memperoleh sensasi berbeda. 

Vernazza sesaat setelah matahari terbenam. Satu demi satu lampu-lampu dinyalahkan membuat desa ini tampak kemerahan.

Suasana di jantung desa Monterosso. Rumah-rumah kotak yang jangkung memberi keteduhan.

Salah satu penginapan di Cinque Terre. Sebaiknya ke sini bawa ransel jangan bawa koper karena banyak tangganya.
Meskipun bertebing cadas namun transportasi dengan kereta api yang menembus terowongan.

Manarola menjadi desa keempat yang saya kunjungi. Dia digadang sebagai desa paling tua. Mungkin karena itulah Manorala punya dialek sendiri, Manarolese, yang cukup unik. Dialek ini juga mencetuskan nama desa, yang semestinya Magna Rota tapi berubah menjadi Manarola (dibaca Manaea). Kata ini sendiri berarti ‘Roda yang besar’ merujuk pada roda kincir angin raksasa yang dulu ada di tengah-tengah desa. Manarola diberkahi topografi berbukit yang nyaris berdempetan. Sisi selatannya menghadap laut, terbentengi oleh bebatuan granit tebal. Ornamen alam yang menimbulkan kesan dramatis, terlebih saat matahari terbit maupun terbenam. Tak ayal, jauh sebelum kamera foto ditemukan, sejumlah  lukisan terkenal jaman dulu telah mengabadikan kepermaian desa ini. Sebut saja lukisan karya Llewelyn Lloyd ‘I ponti di Manarola (Jembatan Manarola)’ dan ‘Tramonto a Manarola (Sunset di Manarola)’.

Desa terakhir dari rangkaian Cinque Terre, yakni Riomaggiore. Lanskapnya menyerupai lembah kecil, berbentuk corong yang berujung ke laut. Dengan luas 11 km2, Riomaggiore tercatat sebagai desa paling luas se-Cinque Terre. Suasana disini lebih kalem, juga lebih sejuk menghijau. Cicit burung mudah didengar, pedestariannya bagus serta bersih. Via Colombo, jalan utama Riomaggiore diisi kafe, toko souvenir, juga penginapan yang hampir seluruhnya bernuansa klasik dan tidak superlatif ukurannya. Jika memilih salah satu desa di Cinque Terre untuk menetap, rasanya Riomaggiore cocok dengan saya. Atmosfernya lebih mirip tempat retreat. 

Manarola, desa di Cinque Terre yang terlindungi bebatuan granit. Tidak ada pasir di pantainya namun tetap fotogenik.



Gereja San Giovanni Batista di Riomaggiore, tempatnya sejuk dan adem


URUSAN PELESIRAN di Cinque Terre amat identik dengan Walking Trail atau jalur jalan kaki yang menghubungkan kelima desa. Bisa dibilang 80% wisatawan yang berpelesir ke Cinque Terre akan menjajal jalur-jalur jalan kaki ini. Karena telah menjadi tradisi dan terkenal, sejumlah media asing mengukuhkan Cinque Terre sebagai Best Coastline Hiking Trail inThe World.

Jalur trekking yang digunakan tak lain adalah jalur kuno yang sudah dipakai warga di masa lalu sebelum kereta api merambah Cinque Terre. Saya bisa membayangkan, bagaimana dulu orang-orang di lima desa bersilahturahmi. Karena Cinque Terre berada dalam kawasan Taman Nasional, maka kondisi jalurnya tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Diantara jalur-jalur itu, ada tiga yang paling diminati pengunjung, yakni Reggio Trail, Sentiero Azzuro Trail, dan Via dell’Amore Trail.

Jalur yang saya sebutkan terakhir, lebih spesial, dan digemari pasangan sejoli. Ya, nama Via dell’Amore berarti ‘Jalan Cinta.’ Panjangnya cuma 1 km tapi sajian viewnya amat menawan, menghubungkan Manarola dengan Riomaggiore. Ada bumbu-bumbu legenda romantis mewarnai jalur ini. Tak heran banyak orang mengatakan bahwa perjalanan cinta terindah mereka tercipta di Cinque Terre. Kalau sudah begini, saya hanya bisa menahan rasa iri karena datang sendirian. Duh!

Salah satu rute Walking Trail  berusia ratusan tahun untuk melihat panorama dari ketinggian




***
Tulisan dan foto-foto ini dimuat di Majalah BATIK, inflight magazine of Batik Air - Februari

Publikasi di Majalah inflight BATIK (Batik Air) - Klik link di atas untuk membaca versi PDF


Jalan - Jalan ke Larantuka (Flores Timur) Part 2


Antara Teluk & Tanjung
Pantai Oa

Setitik loka di pesisir Flores Timur,
dengan serangkaian tawaran alam menawan.





G
emuruh tepukan tangan memungkasi atraksi teatrikal sekelompok remaja. Ini pementasan teater yang tak lazim; dilakukan di sebuah pantai tersembunyi dan ratusan penontonnya adalah warga yang sebagiannya adalah penduduk pesisir. Bagi saya ini hal sederhana namun impresif, lantaran teater yang kerapkali dianggap tontonan ‘berat’ itu dikonversi menjadi hiburan rakyat. 

“Apalagi narasi dalam teater diangkat dari kisah-kisah lokal seperti sejarah, mitologi, maupun situasi lingkungan setempat. Jika disandingkan dengan pariwisata - yang kini gencar berslogan ‘community based tourism’ - maka kehadiran teater yang merakyat ini merupakan paket ideal,” komentar seorang pejalan.

Saya berada di Pantai Oa, sebuah kampung kecil yang terpental di sudut selatan Flores Timur. Nama kampung ini memang terilhami oleh nama pantainya. Dan pementasan teater tadi adalah bagian dari Festival Bale Nagi yang berlokasi di sini. Bayangkan saja settingnya yang permai: pantai berpasir putih halus, lautan tenang bening berwarna pirus, pepohonan teduh, serta paparan gunung gemunung mengitari teluknya.

Pantai Oa terletak di tengah jalur pelintasan antara Maumere-Larantuka. Patokannya yakni di Wulanggitang, ke arah selatan, mengikuti ujung kaki gunung Lewotobi. Tak sulit mencapai tempat ini, meski jalur sepanjang jalan agak sepi,

“Dulu tempat ini tidak berpenghuni. Semata terisi ilalang. Pantai Oa baru ditempati awal tahun 1980-an, setelah bencana alam tahun1979 di sini jadi tempat relokasi. Puluhan keluarga diberikan lahan untuk tinggal, termasuk keluarga kami. Dari tahun itulah kami menanami kelapa-kelapa yang tumbuh rimbun sekarang,” terang Thomas Mukin, warga kampung.

Pohon-pohon rindang menjamin udara di Pantai Oa tetap sejuk meskipun panas menyengat

Teluk yang cukup besar dengan laut tenang terkitari gunung serta bukit


Saya sangat tergoda untuk bermalam di Pantai Oa. Niatnya ingin berkemah memandang gemintang serta mendengar suara ombak. Pertemuan dengan Thomas Mukin lantas mengubah nazar, tak jadi berkemah tapi diajak menginap di rumah beliau. Sungguh, keramahan yang tak bisa ditampik. Bersama saya, ada teman seperjalanan; Ambo Kerans, Risna Yuanita, Andre Kriting, NurKartika, Agung Anugrah, Jun Plue, dan Agustin. Jadilah kami berdelapan mengisi rumah Thomas dengan cerita serta candaan sepanjang malam. Thomas yang hidup sebagai nelayan mengisahkan beberapa cerita legenda terkait kampung mereka.

“Laut teluk kami ini dihuni gurita raksasa. Tidak sedikit kapal yang karam karena mencari ikan dengan cara yang keliru. Makluk bawah laut memiliki misteri kehidupan mereka sendiri, manusia tak boleh tamak,” katanya dalam remang malam, membuat saya membayangkan sekuel film Pirates of the Caribbean. 

Memasang hammock untuk tidur bersantai dibuai semilir angin

SEBELUM LELAP, kami bersepakat bangun subuh. Ini gara-gara cerita Thomas tentang Tanjung Makassar, sebuah tanjung di Pantai Oa yang konon dulunya pernah disinggahi Portugis pada abad Pertengahan. “Ada salib tua di sana, serta puing-puing benteng. Panoramanya juga bagus” ujarnya. Tak pelak uraian Thomas itu memberi kami imajinasi. “Mendaki Tanjung Makassar tidaklah sulit. Cuma lima menit,” pungkasnya. Lima menit? Terasa begitu mudah.

Sekitar jam lima pagi kami menerobos lereng bukit yang dijejali pohon-pohon lamtoro (Leucaena leucocephala), sempat kehilangan arah lantaran ada rute yang diblokade seseorang. Ternyata ‘lima menit’ waktu tempuh yang disebut Thomas tidaklah benar. Kami butuh satu jam mendaki. “Mungkin maksud beliau lima menit dari rumahnya menuju gerbang pendakian,” hibur Ambo Kerans.          

Selepas hutan lamtoro, kami berhadapan dengan lereng penuh ilalang. Langit perlahan terang dengan warna ungu kemerahan dari ufuk timur. Di jalur menuju puncak, saya melihat potongan susunan bebatuan menyerupai tembok, tak sampai satu meter tingginya, namun saya tak begitu yakin apakah itu yang dimaksud Thomas dengan puing-puing benteng Portugis.

Sukacita menyambut hangat pagi mentari

Ilalang yang tingginya mencapai pinggang

Detik-detik matahari terbit

Masing-masing tampak sibuk mengecek hasil foto pada kamera.

Lereng Tanjung Makassar yang sebelahnya ditumbuhi ilalang, sebelahnya lagi berjejal pohon lamtoro

Begitu kami mencapai titik puncak yang agak landai, matahari pagi pun memunculkan bola kuning bulatnya. Disongsong semilir angin, peluh setelah pendakian seolah luruh sejuk berbaur sukacita. Dari titik ini pandangan bisa terarah kemana-mana. Di sisi timur gunung Lewotobi tampak jangkung mengerucut. Pasir putih Pantai Oa agak tersembunyi rimbun pepohonan.

Sedangkan bagian barat, langsung memaparkan garis panjang Pantai Rako tanpa penghalang. Titik dimana kami berdiri sebenarnya lebih mengarah ke barat, sehingga saya yakin, pemandangan saat senja pun tak kalah memikatnya. Walau hanya terpisahkan sebuah tanjung, kondisi laut keduanya berbeda. Jika di Pantai Oa teramat tenang, di Pantai Rako ini gulungan ombaknya muncul berlapis-lapis dan tidak begitu aman untuk berenang. Namun keadaan ini menciptakan potensi sendiri, khususnya bagi pegiat selancar. Hari itu kami melihat beberapa pria berlalu sambil menjinjing papan selancar (surfing board).

Menatap ke kampung berpanorama luas

Nun jauh di timur, bayangan Gunung Lewotobi dan Pantai Oa yang tersembunyi

Bentang panjang Pantai Rako yang juga berpasir putih


KAMI BERADA di bukit Tanjung Makassar cukup lama. Salib tua peninggalan Portugis yang diceritakan Thomas tak kelihatan. Barangkali berada di kaki tanjung sebelah selatan yang sulit dilihat dari atas tebing. Setelah merasa cukup, kami pun turun kembali menuju ke rumah Thomas.

Saya masih memendam keinginan untuk berenang di Pantai Oa. Rupanya teman-teman pun tak relah meninggalkan kampung ini tanpa berenang. Kejutannya lagi, Thomas mengatakan bahwa keluarganya memiliki sebidang tanah tepat di pantai tersebut yang dapat kami pakai. Anak lelaki Thomas pun baru kembali melaut dengan hasil tangkapan berupa ikan kerapu segar. Kontan saja kami seakan memperoleh jackpot secara beruntun. Usai berenang langsung disambung dengan menyantap ikan bakar. Menantu Thomas membawakan nasi serta minuman dari rumah mereka. Hari itu benar-benar kesenangan besar!

Meninggalkan Pantai Oa sore harinya, saya terus membayangkan potensi kampung ini yang begitu menjanjikan. Alam yang elok dan penduduk yang bersahabat sudah cukup jadi modal untuk tumbuh. Pengelolaan yang bijak akan memberi dampak bagus. Tentu saja musti menempatkan warganya sebagai pelaku, bukan sebagai obyek. Saya ingin melihat keluarga Thomas terus tersenyum sebagaimana kampung mereka yang permai antara teluk dan tanjung. 

Warna biru pirus tak hanya pada lautnya, tapi juga pada cat sampannya

Sisi barat Pantai Oa dengan kapal-kapal nelayan


*
Tulisan ini dipublikasikan di inflight magazine LIONMAG (Lion Air) edisi Mei 2019 dengan perubahan seperlunya. Bisa dibaca versi PDF online majalahnyaDI SINI

PANDUAN PEJALAN:
Belum ada warung makan di sekitar Pantai Oa, jadi bila hanya berkunjung sehari, bawalah bekal makanan yang bisa dibeli & dibungkus di Boru (sebelum berbelok dari jalan raya ke selatan).

Untuk masuk ke Pantai Oa (area pantai pasir putih), dikenakan entry fee bagi kendaraan. Mohon sediakan uang ribuan. Bea masuk ini berguna untuk pemeliharaan lokasi, karena ada petugas kebersihan dan sudah termasuk penggunaan WC/ KM. Tersedia air bersih untuk bilas usai mandi di laut. Dibayar ya, agar warga desa mendapatkan sedikit dari kunjungan kita (Dikelola oleh Desa, bukan pribadi/perseorangan).

Bila minat berkemah atau bermalam di rumah warga, silahkan kontak penduduk. Jangan sungkan dan beradaptasilah dengan keadaan mereka.

Meskipun ada petugas kebersihan, tolonglah untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik. Bila sampah itu terbawa ke laut, akan rusak eksosistemnya. Mari menikmati alam dengan cara beradab.

#festivalbalenagi #balenagi #larantuka #pantaioa #pantairako

Video Pantai Oa & Tanjung Makassar

Jalan - Jalan ke Larantuka (Flores Timur) Part 1


Alun Tepian
Waibalun

Di kaki Gunung Ile Mandiri, warisan sejarah terjaga
berapit nusa mungil dan bening lautan Flores Timur.



T
ersisih beberapa kilometer dari pusat kota Larantuka, pintu sebuah kapela di Waibalun terbuka menyambut kedatangan saya. Nama kapela ini Nuestra Senhora de Esperansa, berdinding putih agak kusam berukuran rawit dan tampak sudah sangat uzur. Seorang pria paru baya datang menyalami saya, dan menerangkan ikhwal kapela. “Usianya sudah empat abad lebih,” katanya seraya menunjukkan angka 1599 pada dinding kapela yang nyaris tersembunyi di balik kotak patung kuno.

Kapela adalah versi mini dari gereja, bisa untuk umum bisa juga milik pribadi atau kelompok. Di Flores Timur, kapela-kapela seperti Nuestra Senhora de Esperansa ini lebih dikenal dengan sebutan Tori. “Ada belasan jumlahnya. Hampir semua berusia sama, didirikan pada abad Pertengahan seiring meluasnya pengaruh agama Katolik ke Kerajaan Larantuka waktu itu. Tori-tori ini adalah milik suku-suku lokal. Nuestra Senhora de Esperansa ini empunya kami dari suku Lamakera,” lanjutnya lagi.

Saya menemukan sejumlah relik berupa patung para santo-santa Katolik warisan leluhur Lamakera. Terbuat dari kayu, sangat khas peninggalan berabad-abad lampau. Pernah saya melihat patung-patung dengan langgam seperti ini di Noemuti, sebuah kampung koloni Portugis di dekat Kefamenanu-Timor, yang juga dijaga oleh suku-suku setempat sebagai benda suci. Sudah menjadi catatan sendiri bahwa agama Katolik masuk ke Flores Timur kemudian ke Timor oleh bangsa Portugis dan keturunan mereka dari Malaka. Kelompok yang dalam buku-buku sejarah acapkali diidentifikasi sebagai orang-orang Mestizos atau kaum Mardikas tersebut membawa serta patung-patung kayu bermacam ukuran.

Waibalun dapat disebut sebagai gerbang masuk kota Larantuka dari arah barat, jika kita datang dari Maumere atau Ende. Berada di tumit gunung Ile Mandiri langsung mencium laut Sawu. Pesisirnya tenang lantaran berbentuk seperti teluk yang cukup lebar dan panjang.

Selain mendatangi tori-tori historis, saya juga menyenangi cengkerama dengan warga yang begitu mudah menjalin persahabatan. Sore hari banyak penduduk memancing di perairan mereka yang teduh. “Saya pakai bulu ayam sebagai umpannya,” kata John Kleden, warga yang gemar memancing. “Tapi saya paling senang saat Hetont, yakni berburu ikan malam hari ketika bulan purnama. Lautnya surut sehingga kami bisa berjalan jauh dengan senter untuk mencari gurita atau cumi-cumi. Seruh!,” katanya antusias di sela kicau burung-burung laut yang memecah kesyahduan Waibalun jelang terbenam matahari.

Dulu, kenang John, wilayah ini sangat ramai karena menjadi pelabuhan kapal ke berbagai kota dan pulau. Sebelum pesawat terbang menjadi moda popular kini, orang-orang naik ferry ke Kupang atau ke berbagai pulau di Nusa Tenggara Timur dari pelabuhan Waibalun. Betul, tahun 90-an hingga awal 2000 keluarga saya masih sering berangkat dari sini jika hendak ke Kupang.

Tampak depan tori Nuestra Senhora de la Esperansa, kapela milik suku Lamakera
yang menyimpan patung-patung tua abad Pertengahan.

Potret senja pelabuhan Waibalun. Para penggemar foto lansekap akan menyukai tempat ini.

Remaja Waibalun yang saban hari gemar bermain loncat-loncatan di sekitar dermaga

TAK ADA yang bisa memalingkan wajahnya dari sebuah pulau mungil yang tersedak di tepian Waibalun. Kendati sangat kecil namun letak pulau ini seolah nyaris menyentuh bibir pantai, berwujud bukit, dan sama sekali tidak tersembunyi. Ia marka identik bagi Waibalun, apalagi dihiasi oleh patung Yesus berukuran gigantis yang berdiri menggenggam tongkat seolah mengawasi semua aktifitas yang terjadi di kampung, dermaga, dan jalan raya. 

Setiap kali memandanginya, saya bertanya-tanya sendiri, apakah pulau itu bisa dikunjungi? Adakah pemiliknya? Bagaimana rasanya berdiri di kaki patung Yesus lalu menatap seantero Waibalun dari sana?

“Ya, tentu, kamu bisa kesana. Pulau Waibalun secara adat merupakan milik suku kami. Jika kamu mau, hari ini kita kesana bersama. Itu tempat bermain saya semasa kecil,” Antonius Hadjon menanggapi sukacita pertanyaan saya yang muncul tiba-tiba. Oh! Hati saya bersorak senang! Hari yang cerah dan ini seperti satu skenario sempurna yang telah diatur Tuhan,

Menumpang kapal motor, kami mencapai Pulau Waibalun dalam hitungan kurang dari sepuluh menit. Diiring desau angin, Antonius, yang saya tafsir masih berumur di bawah lima puluh tahun itu, mengisahkan kenangan masa kecilnya. “Dulu sepulang sekolah, saya dan teman-teman berenang menggunakan batang pisang untuk mencapai pulau ini,” katanya menerawang.

Kapal bersandar di dermaga kayu nan artistik yang baru selesai dibangun, menghadirkan perpektif lain Waibalun berlatar lancip gunung Ile Mandiri di sisi utara sedangkan di sisi selatannya menyebul sepasang gunung Lewotobi. Air laut di sekeliling pulau berwarna biru pirus, begitu jernih laiknya kaca. It’s a postcard picture!

Kapal mendekati pulau, tampak air laut yang bening mengajak untuk menceburkan badan.

Dermaga kayu di pulau Waibalun yang dibangun dengan formasi yang artistik, menambah kesan fotogenik pulau ini.


KAMI LANTAS mendaki tangga-tangga menuju ke puncak pulau. Saya takjub manakala mendapati fakta bahwa pulau imut ini ternyata memiliki hutan yang rimbun teduh, pohonnya tinggi dan kokoh. Padahal bila dipandang dari daratan seberang sana tampak kering kerontang. Barangkali ini termasuk ilusi optik atau sight trick. 

Patung Yesus pun ternyata cukup jangkung, sekitar 13 meter, ditemani patung-patung domba putih. Saya melihat sisa-sisa lelehan lilin, pertanda tempat ini kerap didatangi orang untuk berdoa. Cicit burung riuh rendah sesekali diselingi suara kawanan monyet yang berayun di cabang-cabang pohon. “Monyet itu dulu dibawa kemari sepasang, sekarang sudah banyak. Sepertinya harus dikurangi agar populasinya tidak berlebihan,” Antonius bertutur. 

Teduhnya puncak bukit Pulau Waibalun dengan pohon hijau, tak disangka kalau dilihat dari jalan raya.

Aerial view patung Yesus Gembala Baik dengan domba-domba putih. Memotret pagi atau sore jelang terbenam matahari mungkin lebih menawan warnanya.

Jika dilihat dari bawah, cukup jangkung patungnya.

Dari kaki patung Yesus pengunjung bisa menyaksikan aktifitas nelayan

Syahdan, menurut Antonius, pulau ini dulunya lazim disebut Nuha, dan leluhur mereka suku Hadjon sempat ‘menumpang’ tinggal di sini sebelum beralih ke daratan. Sejatinya pulau ini dihuni oleh koloni ular laut yang mereka sebut Harin. Bagi suku Hadjon ular laut  atau Harin tersebut telah dianggap makluk totem. “Acapkali Harin datang ke rumah keturunan Hadjon bila ada kejadian-kejadian penting. Biasanya diantar pulang lagi kesini,” terang Antonius. Saya agak bergidik, tapi ditimpalinya dengan kalem, “Tenang saja, yang penting pengunjung pulau ini tidak melakukan hal-hal yang buruk, merusak karang, atau menebang hutan sembarangan.”

Kami berada di pulau ini cukup lama, nahkoda kapal membakar ikan tangkapan mereka untuk dinikmati bersama. Saya asyik memotret pulau ini dari udara yang hasilnya sepintas menyerupai gambar pulau di Danau Bled nan jauh di Slovenia sana.

Sementara itu, Antonius meminjam sampan kayu seukuran kano, mengayuhnya sendirian ke ujung pulau, dan tampak larut dalam kenangan masa kecilnya.  Beberapa nelayan yang melaju, mengenali Antonius lalu menyalaminya, membuat saya tersadar hari ini saya ternyata menghabiskan waktu bersama seorang bupati!

Oh, begitulah, saya lupa, saking pikiran terbuai oleh alun tenang tepian Waibalun. 

Antonius Hadjon di sela rimbun pepohonan Pulau Waibalun. "Kayu dari pohon-pohon ini kualitasnya bagus
untuk komponen kapal," ujarnya.

Sampan kecil yang kerap digunakan anak-anak Waibalun untuk memancing atau menyelam. Tampak belakang adalah gunung Ile Mandiri.
Ikan yang ditangkap nahkoda kapal kami, jenis coral reef fish yang menandakan formasi pulau dari karang.



------
*Glosarium:
Rawit : Kecil, imut, mungil

*Tulisan ini dipublikasikan di inflight magazine LIONMAG (Lion Air) edisi April 2019 dengan perubahan seperlunya. Bisa dibaca versi PDF online majalahnya - klik di sini

PANDUAN PEJALAN

Karena langsung berapitan dengan pusat kota Larantuka, Waibalun dapat didatangi kapan pun. Penginapan atau hotel bisa didapatkan di pusat kota, tapi jika mau benar-benar  mengalami suasana Waibalun, bisa bermalam di penginapan sederhana tapi cukup bersih dekat pelabuan, yakni Penginapan Budi Luhur atau Homestay milik penduduk seperti Homestay Pak Stafanus Kromen (082237590856).

Untuk mengunjungi Pulau Waibalun dengan praktis, tumpangi sampan atau kapal motor kecil di dermaga mungil di sisi timur pelabuhan Waibalun. Ongkos menyebrang dengan sampan Rp. 20.000 PP (maksimal 2 penumpang), dengan kapal Rp. 40.000 PP (harga bukan per orang tapi per kapal, jadi bisa menumpang sekitar 4-6 orang tergantung kesediaan daya muat. Jaga keselamatan ya).

Jangan buang sampah apapun di pulau! Jika temui sampah, kumpulkan dan bakar di tempat sampah (pastikan apinya padam sebelum meninggalkan pulau). Bawa bekal makanan/minuman sendiri.

FESTIVAL BALE NAGI yang dihelat bulan April bisa menjadi momen untuk menikmati Waibalun serta destinasi-destinasi menarik lainnya di Flores Timur. Berlangsung selama sebulan, Festival Bale Nagi bisa juga memberi kesempatan untuk mengenal budaya Lamaholot (budaya asli Flores Timur). Ayo, ke Larantuka.


#festivalbalenagi #balenagi #larantuka #waibalun #pulauwaibalun


Jalan - Jalan ke Mollo, TTS (Timor)


Tambo Janabijana
Mollo




R
umput-rumput desa Taiftob di pegunungan Mollo masih kuyup berembun ketika saya mengekori langkah Fun Oematan menuruni lereng bukit di belakang rumahnya. Bocah itu berjalan tanpa banyak bicara, sedangkan ayahnya, Willi Oematan, asyik berkisah tentang mendiang kakek-neneknya yang legendaris. Selain kami bertiga, Dicky Senda, yang juga warga desa Taiftob pun turut serta. Kami sedang mencari ‘harta karun.’

“Saya dapat!!,” tiba-tiba Fun berteriak sembari menunjuk ke bawah belukar. Mata kami terarah dengan segera. Oh! Harta pertama kami, Favolus tenuiculus, sekumpulan jamur putih dengan topi melebar yang termasuk dalam jenis Polypores tak beracun. Diserahkannya jamur itu ke tangan saya. “Dalam bahasa Dawan jamur disebut Pu’u. Yang ini namanya Pu’u Paku,” urai Willi Oematan.

Kami memang sedang berburu jamur, inilah harta karun pegunungan Mollo yang menyembul di musim penghujan. 

Favolus tenuiculus hampir sama dengan jamur tiram ini cepat sekali berubah warna dari merah mudah menjadi putih pucat

Fun Oematan bersukacita memamerkan jamur temuannya



Perkenalan saya dengan jamur di pegunungan Mollo terjadi sehari sebelumnya, saat Dicky membawa saya ke hutan pinus Fatukoto. Di dekat telaga yang bermandi kabut, kami bersua pria-pria penggembala yang menelusuri hutan itu mencari jamur. “Pu’u Ajaob,” kata mereka menerangkan nama jamur yang muncul di hutan pinus tersebut, satu varian Tricholoma dengan tongkol pendek - mungkin sama jenisnya dengan Jamur Matsutake yang tersohor di Jepang karena sama-sama tumbuh di hutan pinus yang sejuk. Setelah pertemuan itu, saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang jamur-jamur di daerah ini. Selain Pu’u Paku dan Pu’u Ajaob, ada pula Pu’u Maon Ana yang tumbuh di sekitar pohon kemiri dan Pu’u Atef yang muncul di padang pohon kayu putih. 

Hasil perburuan kami nikmati saat makan siang. “Saya ingin menulis cerita tentang jamur pegunungan Mollo,” Dicky berujar. “Boleh juga. Barangkali ada dongeng lokal terkait Pu’u-Pu’u ini,” balas saya. Dicky adalah penulis yang dalam buku-bukunya gemar mengangkat tema-tema lokal berbalut mitos maupun tambo. Beruntunglah dia tinggal di pegunungan Mollo. Orang-orang di sana memandang tiap elemen alam pegunungan mereka secara metafor.  Saya yakin, penulis aliran seperti dia tidak akan kehabisan materi cerita.

Membersihkan jamur yang kami dapatkan: Pu'u paku, Pu'u Ajaob, Pu'u Maon Ana

Rasa jamur hasil buruan kami tak kalah dengan di restoran, diolah Mama Fun tanpa perlu banyak bumbu


TIDAK ADA yang jauh berubah di Mollo. Akses jalan masih sederhana dan suasana hening masih menyelimuti hari, sebagaimana kunjungan pertama saya lima tahun lalu.  Jika kedatangan sebelumnya saya banyak menghabiskan waktu di Fatumnasi, kali ini saya lebih betah di kampung Dicky, Taiftob. Dicky mendirikan ‘Lakoat Kujawas,’ sebuah komunitas sosial pendidikan yang salah satu misinya yakni menggali ulang cerita-cerita rakyat setempat. Mollo tak ubahnya janabijana ideal bagi kisah-kisah mitologi, sebuah negeri di balik kabut yang menyimpan babad-babad keramat.

Suatu hari yang dibayangi gerimis, saya pergi ke kaki Fatu Nausus, gunung marmer yang kelihatan jelas dari penjuru Mollo. Hutan pohon Ampupu dan pinus saling bersisian di sela-selanya memberi panorama segar yang tidak butuh didandani monumen apa-apa. Di musim penghujan seperti sekarang ini, tiap dimensi alamnya tampak sentimentil.

Sebuah komplek penginapan etnik membuka gerbangnya untuk saya masuki. Rumah-rumah bundar beratap alang-alang berjejer dengan kebun sayuran dan murbei liar di buritan. Tidak ada suara ingar-bingar, hanya anjing penjaga yang menyalaki burung-burung Ara Timor (Timor Figbird) yang nakal.  Entah kenapa saya menyukai kesan ugahari dan agak telantar dari tempat ini.

Di depan mata saya gunung marmer Fatu Nausus terpapar nyata.  Tampuknya lancip cadas,  badannya putih pucat dan sebagian dikerubuni tumbuhan hijau bak gundukan sarang raksasa tawon hijau Agapostemon. Fatu Nausus melambangkan payudara, pemberi kehidupan. Itulah sebabnya batu ini dipandang keramat, tempat dilaksanakan ritual-ritual adat. Dicky pernah berujar bahwa bagi orang-orang Dawan di Mollo, setiap unsur-unsur alam menggambarkan anggota tubuh manusia; hutan serta pepohonan adalah rambut, sungai dan air adalah darah, tanah adalah daging, bebatuan adalah tulang. Oleh karenanya pemanfataan sumber daya alam musti dibarengi dengan kesadaran kosmologis. 

“Perhatikan Bukit Anjaf yang berada di tengah-tengah ini. Jika mujur, matamu bisa menangkap kelebat sosok kera putih, hewan sakral Fatu Nausus,” bisik pelan Nando, lelaki paru baya yang menemani saya hari itu. Gerimis membuat saya tertegun di bawah atap pondok, tapi mata saya terus menatap ke arah yang ditunjuk Nando. Setahu saya, pulau Timor identik dengan buaya sebagai totem etnik, kita bisa menemukan gambar buaya dimana saja dengan beragam kisahnya. Barulah di Fatu Nausus ini saya dikenalkan kera putih sebagai makluk sakral lainnya.

“Kera putih itu jelmaan leluhur, penjaga pegunungan Mollo. Bila alam tempat tinggalnya diusik, kemelaratan akan muncul,” ujar Nando lagi. Dia menunjuk sisi bukit yang terpotong, bekas penambangan marmer bertahun-tahun lampau. “Itu contohnya. Bukit-bukit di Mollo adalah bukit marmer, katanya salah satu marmer terbaik di dunia. Investor asing datang, lalu bukit-bukit dibela, marmer diangkut. Bencana kekeringan melanda pegunungan Mollo, karena mata air mengering. Beruntunglah kemudian warga sadar dan melakukan aksi penolakan tambang tanpa mempedulikan intimidasi,” lanjutnya. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Mama Aleta Baun (2013 Goldman Environmental Prize Winner), perempuan lokal yang gigih berjuang menyuarakan keadaan alam mereka. Saya melihat potongan-potongan batu marmer tersisa di kaki Fatu Nausus, jadi saksi tentang eksploitasi alam juga perlawanan orang Mollo.

Hingga gerimis usai berganti pelangi, sosok kera putih itu tidak jua nampak. Namun mitologinya yang berkesinambungan dengan peristiwa nyata di pegunungan ini merupakan narasi pembelajaran berhikmah. 

Rumah-rumah bundar beratap ilalang di dekat Fatu Nausus tampak sederhana namun selaras alam

Anjaf, bukit marmer yang berada di tengah-tengah ini pernah mengalami ekploitasi perusahan asing, kini kembali senyap



KETERIKATAN orang Mollo dengan batu-batu sangat kuat. Tiap klan-klan keluarga memiliki batu sakral. Untuk memulai hal-hal penting dalam hidup keluarga, batu-batu tersebut dikunjungi dan diupacarai. 

Batu-batu juga menjadi penjuru sebuah kampung, tengara persekutuan. Di Taiftob sendiri ada Fatu Napi, batu yang tebingnya berwarna merah, dijadikan sebagai penanda desa. “Dulu banyak kijang yang muncul secara ajaib di kaki bukit batu itu,” begitu Dicky dan Willi Oematan mengamini kisah yang sama tentang Fatu Napi. Saya mengenang kalimat Andy Goldsworthy, environmentalis asal Inggris, katanya, “Sebongkah batu mendarah daging dengan kenangan-kenangan geologis dan historis.” Di pegunungan Mollo ungkapan itu sangat kentara dihidupi oleh penduduknya. Pernah ketika saya di Fatumnasi sebelumnya, Mateos Anin, juru kunci Gunung Mutis, sempat pula berucap, “Batu adalah identitas kami. Jika batu-batu lenyap, kami tak tahu menyebut diri kami siapa.”

Ya, tanpa batu-batu, tambo janabijana Mollo tak akan ada. Tak ada burung-burung Ara, tak ada pinus, tak ada kayu putih, tak ada jamur.  


Dicky dengan kain tenun khas Mollo. "Merah adalah warna khas senantiasa ada di kain tenun kami," katanya.



--------------------------------------------------------------------
* Glossarium: 
Janabijana : negeri, tanah air.

**
Tulisan ini pernah dimuat di inflight magazine BATIK AIR edisi Februari 2019, dengan perubahan seperluhnya. Silahkan baca versi PDF majalahnya DI SINI.

Video Mollo

Jalan-Jalan ke Nagekeo (Part 1)

Hawa Legawa  Kawa   MERESAPI KEBERSAHAJAAN HIDUP  SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL  DI PUNDAK GUNUNG AMEGELU, NAGEKEO-FLORES P ...