Jalan - Jalan ke Tanjung Puting (Kalimantan Tengah)

Pada Sebuah Klotok
Tanjung Puting

Menelusuri sungai dengan kapal kayu
demi bertemu Orangutan di habitat aslinya.

Seekor Orangutan muda bergelayut di dahan pohon dekat sungai. Orangutan di Tanjung Puting hidup bebas dalam kawasan seluas 3,550 km2.

‘HORNBILL’, kapal kayu yang sudah dua malam berfungsi sebagai rumah kami, mengapung tanpa terayun sama sekali oleh riak legam sungai Sekonyer. Di Kalimantan Tengah, kapal kayu seperti ini dinamai Klotok. 


Saya telah terjaga cukup lama, semenjak semilir angin pagi menyusup kelambu peraduan. Gema suara burung-burung hutan menghela untuk beranjak keluar ke haluan terbuka.  Kabut melingkupi kanal sungai, aura magis melankoli menyaput pepohonan nan rimbun di kiri kanan. Mata saya menebar pandang ke segala arah, tapi pikiran saya seolah lumpuh.

“Viewnya misty benar ya, Val?” Mario Susilo, teman seperjalanan muncul memecah sunyi. Perlahan ia turut duduk di samping  saya. Beberapa menit larut tanpa suara. Suasana seperti ini menguarkan ketenangan yang janggal. 
Sublimatif. 
Barangkali semesta masih bersamadi. 

“Bisakah kau  bayangkan?,” saya menyelah tiba-tiba, “seandainya kamu adalah Galdikas, menjelajahi sungai serta hutan daerah ini di tahun 1970-an. Tanpa klotok senyaman Hornbil, tanpa telefon selular,  tanpa kamera digital. Masa dimana mungkin populasi buaya sama banyaknya dengan Orangutan, pepohonan lebih lebat, sungai pun tak seberapa lebar. Yang kau percayai adalah insting dan orang-orang yang bersedia menemanimu.”  

Klotok berukuran lebih kecil yang tampaknya khusus untuk tamu pasangan. Lengkap dengan kursi santai dan hammock. Kenyamanan yang menyatu dengan alam.

Menyambut hangat mentari pagi di atas Klotok sembari mendengar kisah-kisah tentang satwa
di Tanjung Puting dari Pak Bowo (bertopi)

Pengunjung memperhatikan foto-foto silsilah Orangutan di Information Centre of Camp Leakey. Di rumah ini segala informasi tentang seluk-beluk Orangutan menambah pengetahuan kita.

Lepas dari Tanjung Harapan, Sungai Sekonyer terbagi dua, dan yang kami lalui ini airnya berwarna hitam legam. Bukan karena kotor atau polusi, melainkan karena endapan dedaunan dari pohon-pohon di sekeliling sungai. Rasayanya seperti melalui sungai kematian.

Galdikas, nama yang memunculkan kekaguman tersendiri. Dia seperti nyawa Tanjung Puting, disebut terus menerus oleh pengunjung kawasan konservasi ini, termasuk pendamping perjalanan kami, Pak Bowo. “Sejak saya mengenal beliau di awal tahun 1990, rasa cinta saya pada alam kian bertambah,” terngiang kalimat pria penuh semangat itu. 

Seperti kesaksian Pak Bowo, Galdikas atau lengkapnya Dr. Birute Mary Galdikas merupakan sosok penting di balik pelestarian Orangutan dan habitat hutan hujan tropis di Taman Nasional Tanjung Puting. Dia yang pertama mendokumentasikan berbagai informasi penting tentang kehidupan Orangutan di Tanjung Puting. Catatan- catatanya menjadi bahan penelitian serta referensi. Hidupnya dicurahkan pada misi pelestarian dan pelepasliaran Orangutan Kalimantan hingga kini. Potretnya semasa muda menggendong Orangutan pernah menghiasi sampul depan majalah National Geographic internasional

“Status Taman Nasional yang sekarang disandang, serta perhatian dunia luar terhadap Tanjung Puting adalah salah satu buah komitmen beliau,” tutur Pak Bowo.

Sinar matahari perlahan menghalau kabut. Aroma kopi, nasi goreng, dan buah-buahan terendus dari meja klotok. “Sarapan siap..!,” seruh juru masak dengan mata berbinar.

PERJALANAN KE TANJUNG PUTING dimulai dua hari lalu. Klotok mengangkut kami dari dermaga Kumai pada jam 21.00 malam, setelah berkendaraan selama tiga puluh menit dari pusat kota Pangkalan Bun. Trip ini diinisiatifi oleh Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP) Tanjung Puting, didukung SwissContact Wisata, sebuah lembaga pengembangan destinasi. Rombongan kami memakai tiga klotok. Satu untuk kelompok media, dimana saya bergabung. Dua kelotok lainnya bagi peserta perwakilan bisnis wisata.

Babi hutan dengan janggut yang panjang cukup gampang dijumpai di Tanjung Puting. Mereka kerap muncul di sekitar feeding station untuk mendapatkan remah-remah makanan dari Orangutan.

Saat makan tiba, pengunjung berdatangan ke feeding station untuk melihat Orangutan keluar dari persembunyiannya. Luar biasa menyaksikan hewan ini muncul satu persatu bergelayutan dari berbagai penjuru hutan.

Jalur kayu bagi pengunjung yang tersedia di camp-camp untuk menghubungkan sungai dengan daratan yang dipisahkan oleh hutan mangrove

Usai mendapatkan tempat tidur masing-masing, Pak Bowo mengenalkan kru klotok.  Dan mungkin lantaran telah menanti kami, cerita Pak Bowo tentang Tanjung Puting langsung meledak antusias malam itu juga. Fatris, kawan saya yang juga penulis, seperti bersua narasumber yang tepat. Jadilah sesi tanya jawab antara keduanya berlangsung berlarut-larut. Saya tidak tahu pembicaraan mereka berakhir  jam berapa. Saya hendak meminta Fatris berhenti bertanya. Bukan karena saya butuh tidur, tapi karena obrolan mereka begitu menarik, sedangkan kekuatan konsentrasi saya telah menyusut. Saya tidak bisa merekam kata-kata Pak Bowo.

Di muara sungai Sekonyer klotok berhenti melaju, mesin dimatikan untuk sepenuhnya istirahat. Saya bisa melihat bahwa kiri kanan kami adalah berjejal pohon Nipah (Nypa frutican) yang mirip pohon salak. Esok paginya klotok kelompok media berangkat lebih dahulu, memisahkan diri. Ini memang direncanakan penyelenggara agar kami bisa mendapatkan momen-momen bagus.

ADA BEBERAPA PINTU MASUK Taman Nasional Tanjung Puting yang disebut Camp. Tiap camp punya feeding ground alias tempat memberi makan Orangutan. Jadi, semua Orangutan benar-benar bebas berkeliaran di area Taman Nasional seluas 3,040 km2 ini. Hanya pada jam-jam tertentu petugas akan memanggil mereka makan di feeding ground. Itupun tanpa paksaan, sebab Orangutan dibebaskan bepergian kemanapun mereka mau dan mencari makanan sendiri. Selalu ada kemungkinan untuk bersua Orangutan sepanjang sungai.

Mendekati Camp Tanjung Harapan kami bertemu Orangutan pertama, bergelayut sendirian di batang pohon. “Orangutan tidak hidup dalam kelompok, Mereka hewan semi soliter, tidak seperti kera atau simpanse. Orangutan jantan selalu memisahkan diri dan Orangutan betina biasanya hanya ditemani oleh beberapa anaknya yang masih kecil.  Mereka juga digolongkan hewan arboreal, yakni beraktifitas di atas pohon. Sedangkan gorilla dan simpanse adalah hewan terrestrial, hidup di tanah,” Pak Bowo menerangkan.

Orangutan betina yang ramah di Camp Leakey ini bernama Siswi. Dia sudah terbiasa dengan kerumunan orang.

Doyok, Orangutan jantan yang mendominasi di Camp Pondok Tanguy. Bantalan pipi yang lebar menandakan superioritasnya, meskipun dia kalah di bawah Tom.

Kami tidak mampir di Camp Tanjung Harapan maupun Camp Pondok Tanguy serta Camp Pondok Ambung. Rencananya camp-camp itu akan kami singgahi selepas dari Camp Leakey yang paling ujung. Camp Leakey adalah perhentian utama sebab disinilah pertama kali konservasi dimulai. Selain itu, ada Tom disana. “Tom adalah Orangutan jantan dominan di Tanjung Puting. Dia adalah raja, penguasa segala Orangutan disini,” Pak Bowo kembali bercerita. Kehidupan Orangutan ternyata bagaikan kerajaan. Dimana yang terkuat dan paling berwibawa akan mengusai teritori. “Jika Tom muncul, semua akan menyingkir jauh,” kata Pak Bowo sungguh-sungguh. Saya jarang bersua guide seantusias pria ini.

Tapi kedatangan kami di Camp Leakey rupanya kurang beruntung. Tom tidak muncul di feeding ground. Bahkan setelah kami hujan-hujanan trekking memutari area camp pun ia tak menampakkan diri. Yang kami temui adalah Orangutan ‘awam’. Beberapa diantaranya cukup punya nama, seperti Siswi. “Tapi Siswi dan lainnya hanya rakyat jelatah,” komentar Fatris, bercanda. “Ya, memang bertemu raja itu tidak gampang,” saya menimpal.

SEPERTI RENCANA, sehabis Camp Leakey, klotok membawa kami ke Camp Pondok Ambung. Disini kami bermalam. Tapi tawaran spesialnya yakni Night trekking atau trekking malam hari ke dalam hutan. “Lebih mudah sebenarnya bertemu hewan pada malam hari ketimbang siang. Disini Orangutan sedikit, tapi binatang lain seperti Tarsius, kancil, kijang muncak, dan burung-burung lumayan banyak,” Pak Bowo menguraikan keistimewaan Pondok Ambung.

Kantong Semar (N. ampullaria) berwarna hijau ini tumbuh bergerombol di permukaan tanah dan air berenzim dalam kantungnya bisa diminum. 

Tropidolaemus subannulatus (Bornean Keeled Green Pit Viper) adalah jenis ular  berbisa khas hutan tropis Kalimantan
yang mudah dijumpai di Tanjung Puting

Satu demi satu keasyikan muncul manakala kami bersua burung yang bertengger di dahan pendek. Pak Bowo menunjukkan sejumlah sarang Tarantula dan kami pun asyik mengorek lubang tanah untuk memancing laba-laba raksasa itu keluar. Belum lagi keajaiban jamur putih yang bersinar gemerlapan bagai neon lampu. Di tengah-tengah hutan ada semacam panggung, dan Pak Bowo mengajak kami berhenti disana, berdiri melingkar bergandengan tangan lalu merasakan penyatuan dengan alam.

Kembali ke klotok, pikiran saya dipenuhi gambaran tentang segala yang telah saya lihat di Tanjung Puting. Bermimpi, hingga pagi ini angin menyapu kesadaran, menunjukkan kabut yang melingkupi kanal sungai dan bayangan Galdigas dari tahun 70-an kembali melintas.

Halimun pagi menutupi kanal sungai
Seiring hangat matahari, kabut perlahan menguap namun kesyahduan tetap menyelimuti sungai. Kedamaian laksana Firdaus.

Posting @Januari 2017 - Teks & Photo Valentino Luis
Follow INSTAGRAM / FACEBOOK

LOGISTIK

How To Go
Terbang ke airport Iskandar di Pangkalan Bun. Dua kota besar yang melayani penerbangan langsung yakni Surabaya dan Jakarta. Dari Pangkalan Bun kemudian lanjutkan ke Kumai. Disana jadi dermaga keberangkatan menuju Taman Nasional Tanjung Puting. Joinan sharing trip lebih baik untuk harga lebih murah. Bisa kontak Pak Yomie (www.orangutandays.com) atau Nina  (www.sistertour.com).

Where To Sleep
Berencana nginap di Pangkalan Bun sebelum atau sesudah ke Tanjung Puting dapat pilih bermacam penginapan. Di kota ini telah hadir sejumlah hotel bintang empat, termasuk Swissbell Hotel, Grand Kecubung, Arsela Hotel. Penginapan kelas budget pun banyak tersedia. Lebih afdol menginap di atas Klotok untuk dapatkan kesan spesial.

Where To Eat
Memakai Klotok tidak perlu pikirkan makanan karena harga sudah termasuk makan. Tapi selama di Pangkalan Bun, banyak rumah makan gampang ditemukan di pinggir jalan raya. Cobalah menu lokal seperti Soto Manggala Mama Dewi, Aloha Resto, atau Semangat 47.

Buah-buahan lokal menemani makan pagi/siang/malam di atas klotok.

Jalan - Jalan ke Ayutthaya (Thailand)

Alur Kaya
Ayutthaya
Menelisik sisa pusat sebuah kerajaan tua yang telah lenyap sembari berkontemplasi antara stupa-stupa kuil merah dan patung-patung Buddha. 

Di musim hujan, rerumputan di sekitar candi akan tergenang air karena daerah ini berada pinggiran sungai

KERETA API WARNA KREM LARIK UNGU berdesis panjang manakala hendak berhenti di stasiun. Bunyi mesinnya mulus, namun tidak bisa menyamarkan usia badan kereta yang saya tafsir sama dengan kereta api jalur Medan-Pematang Siantar. Tapi kendati telah berumur, kondisi keretanya terawat, bersih, serta nyaman. Para penjaja makanan melintas di lorong bangku penumpang tanpa terkesan mengibah  agar jualannya dibeli. Tak ada pengamen, tak ada peminta-minta, tak perlu ada tentara berlaras panjang saat pemeriksaan tiket lintas kota.

Tiba di stasiun Phra Nakhon saya melompat turun dari kereta, menyusul sekawanan Biksu berjubah oranye yang masing-masing menenteng kantung cokelat tua. Dua jam perjalanan dari Bangkok ke Ayutthaya tidak terlalu membuat badan penat. Barangkali karena rasa antusias, atau mungkin lantaran roman adem para Biksu yang mengisi separu dari ruang dimana saya menumpang tadi.

Kanal-kanal air yang masih berfungsi memantulkan bayangan kuil saat senja

Ayutthaya menjadi satu dari tempat paling penting dalam daftar perjalanan saya ke Thailand. Ketertarikan saya pada daerah yang berjarak 76 km dari Bangkok ini dipicuh oleh novel besutan Voicu Mihnea Simandan berjudul Buddha Head, bertutur tentang pencarian harta karun yang terpendam oleh puing-puing kuil suci, mimpi seorang pemuda akan sebuah kota masa lalu, dan perjuangan untuk melindungi warisan leluhur. Ketika saya mencoba mencari foto-foto Ayutthaya sebagai referensi, depiksi kepurbaan kota ini langsung menawan minatku. Apalagi setelah tahu bahwa Ayutthaya juga merupakan cikal bakal lahirnya film serial laga Mortal Kombat yang amat tersohor di era 90-an.

USAI MENDAPATKAN TEMPAT INAP, saya langsung menyewa sepeda motor, moda yang acapkali jadi andalan saat saya bertualang sendirian. Di Ayutthaya, tempat penyewaan sepeda motor langsung berada di samping stasiun kereta. Harganya 150 Bath per hari atau jika di-Rupiahkan kira-kira Rp. 55.000. Tanpa perluh SIM Internasional, cukuplah Paspor sebagai jaminan. Cara lain mengeksplor Ayutthaya yakni menyewa Tuk Tuk, kendaraan serupa Bajaj. Tuk Tuk di Ayutthaya mirip oplet empunya Mandra dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Pengunjung Wat Chaiwatthanaram naik turun tangga demi mendapatkan pemandangan bagus

Wat Chaiwatthanaram yang berstupa tinggi menjulang dan super besar

Ayutthaya atau disebut juga Ayudhya berada di tepi Sungai Chao Phraya yang mengalir hingga ke Bangkok. Kanal-kanal aliran sungainya membawa kesuburan tanah sekitar. Menurut catatan sejarah, kota ini merupakan pusat Kerajaan Siam. Sebuah kerajaan besar yang namanya melambung hingga ke Eropa selama lebih dari empat abad, mulai dari tahun 1350 sampai 1767.  Bahkan pelautnya tersebar ke Aceh, Jawa, dan Bugis lalu menetap dari generasi ke generasi. Nama Ayutthaya berasal dari Bahasa Sansekerta, bermakna ‘Kota Tak Terkalahkan,’ dan dibangun oleh Raja Siam U-Thong setelah wabah penyakit mematikan menyerang pusat kerajaan terdahulu di Lobhuri.

Kebesaran Ayutthaya diperoleh antara lain lewat penaklukan sejumlah kerajaan terdekat kemudian menjalar ke wilayah nan jauh yang lebih dulu eksis, semisal Khmer (kini Kamboja), Lavo (sekarang Laos). Daerah-daerah taklukannya tetap diberi hak otonomi untuk mengatur tata kehidupan sendiri, sehingga lebih menyerupai sekutu dengan pola “Mandala” atau dikenal dengan istilah Circle of Power, sebagaimana yang diterapkan pula oleh Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

Pada permulaan abad ke-XV, perdagangan ke dunia luar menarik minat raja Ayutthaya sehingga masuklah pengaruh Portugis dalam kerajaan, menyebabkan perdagangan lewat jalur sungai dan laut diprioritaskan. Hal yang menguntungkan namun sekaligus menyulut perpecahan antar sekutu. Ujungnya, kerajaan ini babak belur ketika diserang oleh Burma (Myanmar). Pusat kerajaan luluh lantak dan kejayaan Ayutthaya memudar secara perlahan.

Siap eksplor dengan skuter ini. Kompleks candi yang sangat luas akan lebih efisien dikunjungi dengan kendaraan.

Kalau mau lebih berasa lokal, naik 'Oplet mandra' ini, boleh juga

MESKI KEBERAADAAN KERAJAAN SIAM tinggal sejarah, namun budaya maupun peninggalan-peninggalannya tetap lestari. Area pusat kerajaan yang terkitari kanal serta sungai tetap menyisahkan aura masa silam yang kentara lewat kompleks candi-candi yang luar biasa indah.

Terdapat puluhan kompleks candi kuno. Berukuran besar maupun kecil, terletak saling berdekatan. Butuh waktu dua sampai tiga hari agar benar-benar bisa menikmati dengan baik, kendati tidak semuanya. Karena sejumlah lahan kosong diisi oleh kantor dan pemukiman, berkendaraan dari satu kompleks ke kompleks lainnya bersifat mutlak. Sebagian pengunjung menikmati kunjungan mereka dengan mengowes sepeda, tapi cara ini agaknya hanya cocok dilakukan pagi dan sore. Setelah jam 10 pagi, suhu udara di Ayutthaya meningkat drastis dan baru agak sejuk setelah jam 5 sore.

Ayutthaya telah diterahkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO sejak tahun 1991. Dari sekian banyak candi-candi yang bertebaran disana, terdapat setidaknya lima atau enam candi yang wajib didatangi karena keunikannya. Semua candi di Ayutthaya dibuat dari batu bata merah dan apabila disorot sinar lampu, situs-situs ini demikian fotogenik.

Patung kepala Buddha di pohon ini paling banyak diincar kamera

Salah satu puing kuil yang masih digunakan untuk berdoa

Dua wisatawan asing melintas dengan sepeda sewaan

Mula-mula saya ke Wat Mahathat yang berada paling depan.  Kompleksnya seluas Candi Prambanan belum termasuk taman di luar tembok. Jumlah candinya ada belasan dan rata-rata berposisi miring karena kondisi tanah lembek. Yang paling dicari di Wat Mahathat yaitu batung kepala Buddha di batang pohon beringan.

Di samping kompleks Wat Mahathat, berdiri kompleks Wat Burana yang terpisahkan oleh jalan beraspal. Saya melihat banyak patung-patung Buddha yang patah serta hancur. Kendati demikian stupa-stupa disini meruncing jangkung sempurna. Saya lantas beralih ke Wat Raha Si Sanphet yang punya tiga stupa raksasa berwarna putih pucat. Setelah itu dibuat terkagum-kagum oleh Wat Lokayasuttharam, dimana sebuh patung Buddha dalam posisi tidur berukuran gigantis membuat saya merasa sungguh kecil. Patung ini diakui sebagai patung Buddha tidur di tempat terbuka yang paling besar di dunia. Usianya sudah beratus-ratus tahun disana, bermandi hujan dan matahari.

Separuh dari tubuh patung Buddha yang melintang tidur. Bandingkan dengan badan saya.

Seorang ibu membawa anaknya menyentuh telapak kaki Sang Buddha

Menunggang gajah berkeliling kompleks candi yang luas, memberi sensasi tersendiri.

Sesudah melintasi jembatan, giliran kompleks Wat Chaiwatthanaram yang sungguh -sungguh menyihir saya lewat candi-candi nan besar, dengan anak tangga tinggi menjulang seumpama kuil bangsa Aztec. Lorong sempit bagaikan kubah katedral, dihiasi patung Buddha dalam rupa yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya terkenang Angkor Wat.

Selain candi-candi, Ayutthaya pun memiliki situs bersejarah berupa kampung tradisional Jepang, rentuhan biara para rahib serta gereja-gereja tua Portugis. Lebih afdol, lengkapi trip dengan menunggang gajah berkeliling Ayutthaya. Jangan tanya bagaimana rasanya duduk di punggung hewan raksasa ini sembari melintasi kanal yang dikitari puing-puing kuil yang syarat pesan. Kita seakan terserap masuk ke dalam kronik satu kerajaan yang hilang, menyusup alur-alur kekayaan Ayutthaya.


Jalan-Jalan ke Nagekeo (Part 1)

Hawa Legawa  Kawa   MERESAPI KEBERSAHAJAAN HIDUP  SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL  DI PUNDAK GUNUNG AMEGELU, NAGEKEO-FLORES P ...