Jalan - Jalan ke Toraja (NatGeo Traveler)

Nyawa Anyar
Toraja




“Dalam nama Yesus, bertahanlah Gonzales! Jangan lemah…jangan kalah. Bangun, Nak! Gonzales, bangunnn!!,” racau suara perempuan di samping saya mengibah histeris. Tangannya sebentar-sebentar terkatup, sebentar-sebentar dikepal. Matanya berkaca-kaca. Sementara di luar tenda panggung, suasana memanas, ratusan orang berkerumun dengan bermacam suara.

Yang disebut Gonzales itu bukanlah manusia, melainkan seekor Tedong Pudu, kerbau hitam tambun, petarung ternama dalam arena Ma’pasilaga di kampung Sesean, Toraja. Setelah bergumul lama, ia berhasil menghalau lawannya terbirit keluar dari lapangan dengan luka-luka tusukan tanduk. Orang-orang bersorak. Perempuan di samping saya terpekik senang, melompat berjingkrak. Saya hendak menjabat tangannya memberi selamat, pikir saya, Gonzales pastilah peliharaan kesayangan, aset kebanggaan keluarga mereka. Nyatanya, tiba-tiba ia berteriak lantang ke penonton lain, “Mana, bayar sini! Sudah saya bilang, Gonzales pasti menang! BAYARR!!” Pupuslah seketika simpati saya. Dia ternyata berjudi.

Saya meninggalkan arena Ma’pasilaga. Teman-teman dari Toraja DMO (Destination Management Organization) memberitahu bahwa adu kerbau bakal berlangsung hingga sore. Sehari sebelumnya kami sempat melewati tempat ini dan melihat banyak petak-petak tertutup didirikan khusus bagi tiap kerbau. “Di dalam petak itu, kerbau akan mendapatkan bermacam layanan prima seperti pijat, ramu-ramuan, dan nutrisi penambah stamina atau penghilang stress,” kata Bang Soba Palloan, pendamping kami. Di Toraja memang kerbau makluk yang amat berharga, bahkan ada kastanya. Kerbau petarung atau Tedong Pudu termasuk kelas menengah, sedangkan yang level tertinggi adalah jenis Tedong Saleko. Harga jualnya mencapai satu miliar. Mahal nian.

Senyum gadis Toraja di balik jendela rumah Tongkonan

Pertarungan alot para kerbau. Harga diri dan uang dipertaruhkan di ujung nafas hewan ini.

Gonzales, kerbau jawara hari itu, diarak keliling kampung usai menaklukkan kerbau lawan kampung sebelah.

TAPI ORANG TORAJA seolah tidak mengenal kata mahal. Angka puluhan dan ratusan juta dianggap biasa. Ritual adat disini, terutama kematian, sangat banyak menggerus isi dompet. Barangkali mereka adalah suku yang paling melek soal uang. Hampir sepekan diajak berkeliling, sangat jarang saya melihat rumah orang Toraja dalam kondisi darurat ataupun reyot. Padahal rumah mereka pun tidak dibangun sekenanya. Ada Tongkonan, rumah adat, dengan pakem-pakem menjelimet, sawah hijau membentang, dan tentu saja kerbau yang berlimpah. Jual beli kerbau tersebut jadi rantai ekonomi setempat. Berputar terus. Roda iktisad macam ini sebenarnya amat lazim di jaman pra sejarah ketika satu benda atau sejenis hewan ‘dipilih’ sebagai penentu nilai. Saya ingat tentang Moko, nekara di Alor yang dulu sangat berperan dalam perekonomian lokal hingga Belanda gusar lalu memerintahkan penduduk menguburnya dalam tanah.

Godaan khas pegunungan Toraja; sawah berundak, tanduk atap rumah, dan kabut yang lama lenyap.

Bebatuan megalith di Bori Kambuang, dibangun bagi para bangsawan masa lampau. Sekarang, sudah sulit dilakukan upacara pemasangan batu-batu besar seperti ini.

Sebenarnya Toraja bisa saja sombong dengan apa yang mereka miliki. Daerahnya subur dan bersuhu sejuk. Bukit-bukit kapur tumbuh di sela persawahan, menyenangkan untuk dilihat. Praktik dan bukti kebudayaanya sangat mudah dijumpai. Mereka tampak makmur dari hasil buminya sendiri. Sayangnya, pariwisata daerah ini bergerak lamban. Padahal nama Toraja sudah populer berpuluh tahun. “Promosi serta inovasi menjadi isu kami sekarang,” kata Bang Soba Palloan. “Toraja di tahun sembilan puluhan sama terkenalnya dengan Bali. Semoga geliatnya kembali hidup, bukan hanya nama.”

Kami mengunjungi sejumlah situs budaya memikat. Di Bori Kalimbuang, misalnya, pilar-pilar batu megalith berdiri menjulang, ada yang tiga kali lebih tinggi dari badan saya. Keberadaan mereka disini sudah melampaui seratus tahun dan dipasangkan untuk menghormati para bangsawan yang meninggal. Karena tidak mudah mengambil dan memindahkan bebatuan macam ini lagi, sudah sulit menemukan situs serupa. Di Tampang Allo malah peti-peti diletakkan dalam gua stalaktit, tengkorak manusia bertebaran, juga patung-patung leluhur dengan tangan terulur seolah hendak bersalaman dengan saya. Yang paling gampang dijumpai dimana-mana yakni Kubur batu. Orang Toraja memilih batu besar agar seluruh anggota keluarga bisa dimakamkan bersama. Lubang-lubang ini, disebut Liang Pa’, berbentuk kotak, mengoreknya butuh waktu hingga tiga bulan dengan alat pahat seadanya. Kendati mayoritas orang Toraja sekarang menganut Kristen, tradisi memakamkan keluarga dalam Liang Pa’ tetap terus dijalankan.

Minimal tiga bulan, waktu yang dibutuhkan untuk memahat batu menjadi kuburan warga. Pekerjaan seperti ini tidak sulit didapatkan di Toraja. Para pemahat membangun pondok di samping batu, yang umumnya berada di kepungan hutan sunyi.

Wenny Kohongia melepas penat di dekat kubur batu sebuah keluarga.

Serakan tengkorak yang beberapanya hancur oleh masa, mudah dijumpai di gua-gua di seantero Toraja

“Belakangan ini ada semacam gerakan untuk kembali kepada keyakinan asli,” Bang Soba Palloan berujar pelan manakala salah satu dari peserta tur menanyakan eksistensi kepercayaan asli Toraja. “Alu Todolo namanya, bersumber dari Hindu kuno. Salah satu ajarannya yakni bahwa segala yang di bumi memiliki nyawa, bahkan kematian yang dialami manusia tidak sungguh-sungguh menghilangkan nyawa. Itulah kenapa orang Toraja tetap memperlakukan mayat laiknya manusia yang masih hidup. Diberi makan, diajak bercakap, dikenakan pakaian.”


Tidak semua mayat dikuburkan di dalam batu atau gua. Untuk bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, orang Toraja meletakkannya pada lubang pohon Tarra’. Kami melihatnya di kampung Pana’ setelah berjalan kaki cukup lama karena memilih jalur sawah. Lubang pada pohon ini dibuat seolah sama dengan rahim, begitupun getah putihnya dipandang sebagai pengganti air susu ibu. Mayat bayi kelak menyatuh dengan strukur pohon seiring tahun berlalu. Sangat menarik mengulik tiap ritus kematian di Toraja, seakan-akan kita dibawa menembusi lorong waktu yang begitu panjang, sembari belajar memahami satu per satu makna simboliknya. Bertalian dan tidak berkesudahan!

Rumah etnis khas Toraja di kampung yang penduduknya mempertahankan praktik agama asli Aluk Tadolo

Jejeran patung kayu perlambang leluhur yang ditempatkan pada tebing-tebing gua

JIKA ARSITEKTUR dan upacara kematian masih langgeng, beda halnya dengan nasib tenun ikat Toraja yang terluntah. Padahal tenun juga salah satu elemen penting dalam ritus adat Toraja. Untuk daerah dengan aura budaya yang amat kental, aneh rasanya mendapati kenyataan seperti ini. Tidak seperti di Flores atau Sumba yang tiap hari lumrah bersua penenun.

“Proses pengerjaanya yang lama membuat banyak perempuan enggan menenun. Rutinitas bersawah sudah cukup menyita waktu dan tenaga. Lagipula anak-anak perempuan sekarang tidak berminat untuk menekuninya. Sekolah-sekolah memperkenalkan kepada gadis kami pilihan karir lain, bukan kembali ke rumah dan jadi penenun,” kilah Ibu Lea, seorang penjual tenun di Sa’dan, daerah di Toraja yang sebagian warganya masih mau menenun.


Tawaran kain bikinan mesin dari luar pulau yang mengadopsi motif tradisional Toraja berharga murah telah menyeret penduduk memilih jalan praktis. Saya pernah mendengar desas-desus bahwa di pasar kota Rantepao sekalipun kebanyakan kain tenun bukanlah buatan tangan lokal, melainkan didatangkan dari pabrikan Jawa. Sayang sekali. Saya rasa, Toraja sungguh membutuhkan salah satu putri daerah yang mau mengembalikan posisi tenun ikat pada singgasana yang mulia, sebelum semua tinggal kenangan.

Nene' Panggau, pemintal benang terakhir yang diempunyai kampung Sa'dan

Tetua menggunakan Pa'karombi, alat musik tradisional dengan benang halus yang dihentakan di bibir.

Setali tiga uang dengan tenun, kopi Toraja yang melegenda pun bernasib hampir sama. Pembudidayaanya tidak sepopuler namanya. Ini agak menampar impresi awal saya tentang Toraja.

Syahdan, orang Toraja telah mengenal tanaman kopi sejak permulaan tahun 1600 lewat pedagang Arab yang tiba di Sulawesi. Pohon-pohon kopi yang berumur ratusan tahun pernah ditemukan oleh Belanda di daerah Sa’dan. Masyarakat masa lampau menyebut kopi dengan panggilan Kaa’ yang akar terminologinya berasal dari Bahasa Arab, ‘Qahwah.’ – (karena orang Toraja tidak mengenal huruf ‘Q’ dan ‘W.’). Pembukaan lahan untuk perkebunan kopi terjadi besar-besaran tahun 1800-an di Toraja. Kontrol perniagaan yang tidak adil menimbulkan persaingan antara dua sentra utama, yakni Kerajaan Kuwu di utara dengan Kerajaan Sindreng di selatan, berbuntut pada pecahnya Perang Kopi. Setelah perang usai, industri kopi memasyurkan Toraja hingga ke negeri-negeri asing.

Krisis moneter  yang menimpah Asia tahun 2007 berimbas pada mandeknya perdagangan kopi, harga terus jatuh, memaksa para petani mengubah kebun kopi mereka menjadi ladang bercocok tanam. Hanya segelintir yang kukuh bertahan, terutama perkebunan besar semisal PT. Sulotco Jaya Abadi di Se’seang. Kami bertandang ke kebun perusahaan ini yang ternyata memakai lahan bekas perkebunan kopi milik pengusaha Belanda, Stock van Dykk, seluas 1.199,364 Ha. Menerapkan sistem bagi hasil, selain untuk diekspor, hasil panen kopi disini juga dipakai memenuhi kebutuhan produksi kopi bubuk dalam negeri, semisal Kopi Kapal Api, Good Day, Excelso. Seharian kami menyusuri kebun kopi nan luas, mampir juga ke area  khusus bagi Luwak (paradoxurus hermaphroditus). Pemanfaatan pencernaan Luwak telah diakui menghasilkan citarasa kopi istimewa. Perusahaan ini tidak menangkar Luwak dalam kandang namun membiarkannya bebas dalam kebun besar berpagar tinggi.


Saya diperkenalkan juga pada sosok pecinta kopi lokal, Pak Sulaiman Miting. Bersama anaknya, pria baya ini berupaya agar berkah kopi Toraja bisa juga dinikmati petani setempat. Ia  membuka kedai dan membeli biji kopi dengan harga tinggi dari para petani. “Ini tidak seberapa dibandingkan dengan perjuangan mereka. Pengorbanan fisik selama bekerja, permainan harga, minimnya infrastruktur sebab letak yang jauh, masih belum memberi efek ekonomi sepadan pamor kopi Toraja yang mendunia,” terang Pak Sulaiman. Minat konsumsi kopi yang meningkat akhir-akhir ini diharapnya dapat memberi napas baru para petani. Saya pun berharap demikian. Butuh nyawa baru.
Pekerja kebun kopi membersihkan ranting-ranting pengganggu.

Secangkir kopi racikan dari kantor  PT. Sulotco Jaya Abadi


DI UJUNG LEKUK perbukitan kapur Buntu Burake, tangan Yesus Kristus memberkati kota Makale. Patung ini setinggi 40 meter, diklaim sebagai patung Yesus tertinggi di dunia. Untuk berdiri di kaki patung, pengunjung musti menapaki ratusan anak tangga. Saat kami tiba, proyek pengerjaannya hampir rampung. Saya ingin sekali berada di bukit ini di waktu pagi atau saat senja, vista panorama pastilah lebih permai ketimbang datang siang hari. Pernah saya menyaksikan binar terbit Matahari di  Batutumonga, dimana gumpalan awan membuat bukit dimana kami berada seakan terapung di atas kapas. Jadi, saya ingin kembali ke bukit ini kelak  untuk menyaksikan hal serupa.

Toraja tidak hanya ingin dikenal semata budaya maupun kopinya. Tidak sedikit orang punya ambisi lain. Setelah patung Yesus, beberapa rencana pembangunan obyek modern  dipandang akan sedikit mengurangi stigma Toraja sebagai spesialis  ‘wisata kuburan.’ Untuk menyenangkan pengunjung akan ada pusat belanja, hotel bertingkat, monumen besar. Tapi pengunjung dari mana yang disasar, saya tidak tahu, sebab saya yakin apapun fasilitas masa kini yang mau ditambahkan, tetaplah budaya jadi magnet utama di Toraja. Daerah ini mengingatkan saya akan kota-kota kecil elok di Provence - daerah pegunungan selatan Perancis. Disana, orang-orang tidak menginginkan menara baja atau gedung pencakar langit,  sebab bukit-bukit kapurnya dipandang lebih agung dan memiliki pesona natural ketimbang monumen buatan manusia. Mereka memelihara rumah tua, mendirikan bangunan minim biaya tapi dihias indah serta lebih memikirkan penempatan pada lokasi yang fotogenik sehingga indah dipotret siapapun. Toraja bisa begitu, sebab alamnya permai.

Bukit kapur dengan sawah di kakinya.

Patung Yesus berukuran gigantis di Bukit Buntu Burake. Diklaim sebagai patung Yesus tertinggi di dunia.

Pembicaraan tentang niat pengembangan bandar udara, rancangan sejumlah kalender festival, ide-ide kreatif selaras budaya maupun pendapat tentang obyek yang baru saja kami kunjungi menjadi topik yang terselip dalam setiap jeda perjalanan. Saya menyukai tukar pikiran semacam ini meskipun tetap menahan diri untuk tidak berbicara terlalu panjang. Saya baru menyadari saat hendak pulang, bahwa saya menyukai Toraja apa adanya. Sungguh.

Bang Soba Palloan berjanji akan membantu jika saya ingin datang lagi ke Toraja, begitupun teman-teman Toraja DMO lainnya. Saya percaya Toraja akan kembali pada kejayaannya. Wisata disini, juga hal-hal yang dikuatirkan akan menemukan arah  untuk bangkit bila ditangani dengan bijak, sebagaimana kematian bagi mereka yang tidak berarti akhir segalanya, sebagaimana Tedong Pudu di arena Ma’pasilaga yang bangun dari deteriorasi lalu menang. Tanpa perlu melucuti  citra, akan ada nafas baru, akan ada nyawa anyar.



 -------

 Seperti dimuat di majalah NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER September 2016







***

HOW TO GO
Terbang ke Makassar, lalu dengan bus ke Rantepao. Perjalanan memakan waktu 8 jam, namun jangan kuatir sebab bus ke Toraja sangat bagus dan ekslusif, laiknya naik pesawat kelas bisnis. Pilihlah bus malam, sehingga waktu bisa terpakai untuk tidur dan tiba disana pagi. Katalog wisata Toraja bisa diuduh gratis di www.visittoraja.com

Logo wisata Toraja (www.visittoraja.com)

WHERE TO SLEEP
Hotel terbaik di Rantepao yakni Heritage Hotel (www.toraja-heritage.com) di atas bukit, dekat kampung tradisional Kete Kesu. Alternatif lain yakni hotel legendaris Misiliana (www.torajamisiliana.com) di jantung kota Rantepao. Di Makale bisa bermalam di Hotel Sahid Toraja serta Hotel Puri Artha.

WHERE TO EAT

Mambo Restaurant Rantepao (Jl. DR Sam Ratulangi) adalah tempat makan yang pas dengan menu-menu lokal maupun internasional. Soal mencicipi Kopi Toraja yang terkenal itu, dapatkan di Kopi Kaa (Jl. Pongtiku – Samping Misiliana Hotel). Kualitas ekspor dan terekomendasi.


Pa'Piong Manuk, kuliner dari daging ayam berbahan daun mayana dan bumbu halus ditambahi lombok Katokkon yang pedas gurih.

Para jurnalis dan penulis (Kompas, Metro TV, CNN, Agustinus Wibowo, Fatris MF, Valentino Luis)



BACA JUGA KISAH SEBELUMNYA :
Perjalanan ke PULAU LEMBATA 

(National Geographic Traveler)

Jalan - Jalan ke Lembata (NatGeo Traveler)


Galur Pitarah
Semesta Lembata


D
i kaki bukit sabana Waijarang, kira-kira sepuluh kilometer arah barat kota Lewoleba, Vincent Halimaking memandu saya menyibak tangkai-tangkai ilalang kering yang tingginya melampaui pangkal paha. Matahari musim kemarau memaparkan bias kemuning sore pada punuk bukit, lalu perlahan merambat turun memercikan sinar silau di tiap pucuk ilalang. Tempat ini sepertinya dilingkupi kesenyapan perenial sehingga satu lengkingan burung Nazar yang melintasi lazuardi langsung serta merta membangkitkan aura enigmatik. 

Padang dan bukit sabana Waijarang, versi panorama. Di sebelah kanannya masih berbaris bukit pula.

Padang sabana Wairang, close up.

“Dulu, di sekitar perbukitan ada banyak rusa, Bang,” kata Vincent ketika kami menemukan titik yang pas untuk berpijak. “Leluhur kami, klan Paji adalah empunya sebagian besar lahan ulayat disini. Kelihaian mereka yakni berburu hewan liar, termasuk rusa. Biasanya di musim kering seperti sekarang.” Sejurus kemudian pria muda yang berprofesi sebagai guru itu bergumam lirih, “Sayang sekali, populasi rusa menghilang di akhir tahun sembilan puluhan, seiring datangnya kelompok polisi yang menembaki rusa sebagai luapan hobi. Mereka menggasak semuanya tanpa pandang usia, tanpa sisa.”

Sembari menunggui saya memotret, Vincent mengisahkan hikayat leluhurnya. Sampai kami berpindah lokasi ke tanjung berpanorama lautan yang dinamai Bukit Cinta pun ia tetap semangat bercerita.

Sudah seminggu saya di Lembata, dan hampir tiap hari ada saja kisah-kisah menarik mengenai sejarah leluhur atau cikal bakal progeni yang dituturkan penduduk. Sering itu membuat saya tercengang, karena koleksi hikayat mereka tak hanya rapi tersimpan dalam memori, tapi mudah sekali dinarasikan ulang. Di dunia masa kini, dengan berkali-kali migrasi yang dialami manusia, kehilangan jejak kampung asal - akibat bencana, perang, maupun pencarian penghidupan - acapkali menerbitkan rasa hampa pada generasi sesudahnya, ketiadaan jawaban untuk pertanyaan ‘dari mana dan dari siapa kita berasal’, juga ketidaktahuan akan alur-alur Pohon Keluarga.

Tapi orang-orang Lembata, sungguh, berbanggalah mereka karena mengenal akarnya dengan baik. 

Tebaran koral di perairan dangkal Lewo Lein

Pemancing di Kuma Resort
“UNTUK ITULAH kenapa ada tahap Penu Koke Bale dalam ritual Pesta Kacang kampung adat kami. Selain  menyatukan semua anak cucu turunan, kesempatan ini dipakai pula oleh para tetua untuk memberi wejangan, juga mengisahkan kembali sejarah para leluhur,” tutur Bapak Mikael bersemangat.  “Anak-anak harus tahu dari mana asalnya, supaya bisa saling menghargai satu sama lain antar suku. Termasuk kemudian hari, jika bepergian jauh, mereka tetap sadar siapa mereka,” urainya lagi.

Saya menjumpai Bapak Mikael di kampung adat Lewohala, dalam kunjungan untuk menghadiri Pesta Kacang, sebuah tradisi tahunan untuk merayakan panen dari dua suku utama yang berdiam bersama di sisi selatan lereng Gunung Ile Ape. Ritual ini, kendati prosesnya sama, namun tidak dilakukan serentak untuk satu kampung, melainkan bergantian dari satu kelompok suku kemudian kelompok suku yang lain, dengan ritme serupa dan berulang.

Puluhan rumah suku di Lewohala beratap pelapah, berapitan menempati lereng, menghadap ke Teluk Jontona. Pagi-pagi atmosfer memikat hadir manakala fajar menerobos kisi rumah. Namun lebih sinematik pada jam empat hingga enam sore, saat tarian perang digelar di pekarangan kampung. Terpentaskan semata untuk ritual, bukan pameran bagi pejabat atau turis. Dua pasukan anak-anak menari berlawan-lawanan. Diiringi rancak gong, mereka mengekpresikan diri penuh penghayatan. Hentakan kaki yang lincah menerbangkan debu. Begitu Matahari menebar sorot keemasan dari balik pohon besar, semua elemen dalam tarian tak ubahnya pertunjukan kolosal. 

Tarian Perang yang dipertontonkan anak-anak saat matahari sore menyorot dari barat

Di rumah sukunya, keluarga Bapak Mikael menyimpan pusaka berupa gading Gajah yang panjangnya dua meter. Saking panjangnya, pikiran saya langsung terhubung pada sosok Manfred, Mamut berbulu dalam film Ice Age.

Di samping itu ada pula peti kayu lapuk, berukir kembang delapan arah mata angin yang ditempeli butiran kristal kecil. Dalam peti tersimpan piring-piring lebar serta mangkuk porselen, juga bermotif bunga, warna marun. Beberapa rumah suku di kampung Lewohala ini memiliki pusaka yang sama. Saya pernah ke India, dan corak pada peti maupun porselen ini amat kental dengan India. Adakah penjelasan sehubungan dengan migrasi etnis atau ekskursi niaga masa lampau, sehingga benda-benda ini bisa ada di Lembata?

“Berdasarkan kisah turun-temurun, leluhur dari suku-suku di Lewohala tidak datang dari India, melainkan dari Seram, utara Maluku. Mereka meninggalkan Seram dan berlayar mengikuti arus laut, hingga akhirnya terdampar di Teluk Jontona. Membawa serta harta benda dan hasil barter dengan pedagang yang mereka temui. Mungkin gading serta peti porselen ini adalah hasil tukar-menukar, karena adapula Nekara serta kain-kain tenun kuno yang dimiliki kami. Konon, banyak orang meninggalkan Seram waktu itu karena serangan makluk aneh, ” tutur pria tua itu mengawang.

Saya tercengang pada bagian akhir penjelasannya. Dijalari perasaan ganjil, lantaran beberapa bulan sebelum ini saya pergi ke Seram. Disana saya mendengar legenda tentang makluk buas serupa manusia berbulu lebat. Orang Boti, demikian penduduk asli menyebutnya. Peminum darah yang menyebabkan banyak warga merengsek pergi dari pulau tersebut. Bisa jadi, itulah penyebab migrasi. Jika dalil itu benar, tak disangka, di Lembata ini, yang terpisahkan ribuan kilometer jauhnya dari Seram, saya menjumpai benang merah antara legenda tua Seram dengan asal muasal para progenitor Lewohala. Oh, menyelami perjalanan leluhur selalu bagaikan diseret menembus alur novel misteri!

Pagi menjelang di Lewohala

BILA PITARAH LEWOHALA diyakini datang dari Seram, beda lagi di Lamalera. Orang-orang yang dikenal sebagai suku cerdik pandai itu mengakui leluhur mereka adalah kaum pelaut ulung asal Luwuk, Sulawesi Selatan.

Lamalera yang kerontang terletak di pesisir selatan Lembata. Tempat ini memiliki drama tersendiri; antara mistisisme yang tersemai hingga ke sudut rumah  dengan panorama terbit-tenggelamnya sang Surya yang impulsif, antara cadasnya alam  dengan nama besar sebagai kampung para pemburu Paus.

Syahdan, ketika Majapahit meluaskan kekuasaanya hingga ke belahan timur Nusantara, banyak kerajaan dilebur untuk bersatu, termasuk Kerajaan Luwuk. Tentara-tentara setempat memperbanyak jumlah kaki tangan untuk propaganda Majapahit, diutus  menyebar ke berbagai penjuru. Salah satu kelompok tentara bahari berlayar mengarungi perairan, hingga pamungkasnya singgah ke Lamalera lalu menetap beranak pinak.

Syair penutur perjalanan nenek moyang Lamalera, Lia asausu,  selalu dinyanyikan setiap upacara kebesaran. Hingga kini termafhumi sebagai dokumen lisan tambo silsilah mereka. Konon, Mahapati Gajah Mada bahkan pernah bertandang ke Lamalera, meninggalkan sebilah keris pusaka, juga menasbihkan perburuan Paus dan mamalia laut sebagai sumber penghidupan bagi abdi-abdi yang tinggal di tanah gersang itu. Demikianlah Paus dipandang sebagai anugerah para leluhur yang dihadirkan demi menyelamatkan warga dari kelaparan, sebab potongan dagingnya sanggup bertahan sepanjang tahun dan lelehan minyaknya berkhasiat.

“Nenek moyang kami telah meletakkan dasar juga kiat bertahan hidup. Cara menghargainya adalah dengan menjaga apa yang telah diwariskan,” ujar Bapak Petrus Blikololong, seorang Ata Mola, ahli pembuat Peledang, sampan untuk berburu Paus.

Di cekungan pantai kecil Lamalera, berjejer pondok-pondok yang dibuat khusus sebagai garasi Peledang. Di sekitar sinilah denyut hayat Bapak Petrus dan para lelaki Lamalera bisa dijumpai. Saban hari mereka duduk di pantai, memperbaiki sampan atau mengerjakan kriya penopang hidup lainnya, sembari mengawasi bocah-bocah bermain air sekaligus berlatih menikam Paus dengan tongkat-tongkat kecil. Jika ada kerusakan pada Peledang, segera pula diperbaiki. 

Bapak Petrus Blikololong sedang bekerja memperbaiki bagian Peledang yang rusak

Tidak sulit mengenali kepemilikan Peledang, lantaran tiap sampan mempunyai nama sebagai simbol suku. Kerabat Bapak Petrus dari suku Blikololong dan Bataona misalnya, merupakan empunya Paledang terbanyak. Jafa Tena, Sikka Tena, Horo Tena, Sinu Sapang, Demo Sapang, dan banyak lagi namanya. Itu barulah satu suku, belum yang lain. Mereka juga menambahkan tulisan yang dikutip dari Injil pada sampan, rata-rata berbahasa Latin, seperti Tempora Mea (Nasibku dalam tangan-Mu), Ora et Labora (Berdoa dan bekerja), atau In Verbo Tuo (dalam perintah-Mu). Lengkap dengan lukisan-lukisan menawan.

Di tengah-tengah jejeran pondok bagi Peledang, berdiri sebuah Kapel berwarna biru cerah, pusat kegiatan religius sebelum musim berburu Paus dimulai. Lokasi Kapel itu, dulunya adalah altar sesajen para leluhur yang masih animis, tempat tumpukan tengkorak manusia, namun diubah kekeramatnnya begitu agama Katolik diterima penduduk.

Aroma daging Paus akan tercium manakalah kaki melangkah ke sisi timur Kapel karena disitu memang daging-daging dijemur hingga mengeras. Tulang-tulang Paus yang telah kering dijadikan hiasan, terpajang di gang-gang kecil dan halaman rumah.  Demikian besar arti Koteklama (sebutan setempat untuk Paus) bagi orang Lamalera sehingga gambar mamalia raksasa ini pun ditampilkan pada motif kain tenunan mereka.

Bapak Petrus menjelaskan bahwa sekalipun dipandang sebagai berkah, tidak berarti Paus datang dengan mudahnya untuk ‘menyerahkan diri’. Taktik dan perjuangan menjadi bagian tak terpisahkan. Nyawa adalah taruhan. Apalagi aktifitas perburuan hampir sepenuhnya dilakukan secara konvensional. “Kami terikat peraturan adat. Tabu memakai senjata lain selain apa yang sudah diwariskan turun temurun,” kata lelaki ini arif.

Sisa tulang ekor Paus Biru

Peledang sedang dipasang layarnya.

Komponen utama Peledang berbahan kayu serta bambu. Termasuk layarnya pun terbuat dari anyaman daun Gebang. Besar kecilnya ukuran sampan disesuaikan dengan ukuran mangsa. Peledang pemburu Hiu Paus jelas lebih besar dari Peledang untuk menangkap mamalia kecil. Setiap bagian dari Peledang dibuat dengan fungsinya masing-masing, dan sampai sekarang konstruksinya tak ada yang berubah. Begitupun rentetan ritual yang musti dijalankan, dari awal hingga akhir perburuan. Tugas masing-masing personel sampan, sampai syarat pembagian hasil buruan.

Kenyataan ini membuat saya takzim dan merenung jauh. Sejujurnya, kedatangan saya ke Lamalera dibayangi polemik dalam hati. Terbiasa bersua makluk laut saat bersnorkeling membuat saya kontra dengan praktik perburuan Paus. Tapi di Lamalera, menghabiskan waktu beberapa hari disini akan mengubah pandangan kita, mengubah prejudis tentang barbarisme atau ketamakan, mengubah harga menjadi nilai. Tanpa diminta, tanpa dipaksa, kita akan meninggalkan Lamalera dengan pemahaman baru. Dan berpikir untuk kembali lagi kesini, semenjana apapun rupa kampung ini.

NAFAS SAYA TERSENGAL. Apa hendak dikata, saya harus tetap bergerak cepat. Bila tidak maka saya kehilangan momen Matahari terbit di kaldera Ile Ape.

Jarak tenda inap dengan tepi kaldera kelihatannya tidak jauh, namun bila menanjak seperti ini rasanya sulit dijangkau. Syukurlah, saya sampai juga, dan hanya sebentar menarik nafas, bola merah di ufuk timur memecah fajar. Saya menengadah, membiarkan seluruh kulit menyerap hangat Mentari. Kesegaran khas pegunungan menjalari, berbalur aroma belereng yang merongrong dari lubang-lubang kawah.

Retakan-retakan pada dinding gunung Ile Ape mengeluarkan asap dan belerang kuning terang

Ancala Ile Ape adalah mahkota Lembata yang dapat ditengarai dari mana saja. Gagah berdiri di jazirah dengan dua suak nan bestari: Teluk Lewoleba dan Nuhanera. Mendaki kesini sebaiknya dilakukan siang hari, karena detik-detik terbenamnya Sang Surya pun tak kalah menakjubkan. Gunung ini hanya dipisahkan sekian kilometer dari Gunung Ile Boleng di Pulau Adonara, nusa seberang utara. Jika datang ke Lembata dengan kapal laut, kesannya seolah-olah masuk ke sebuah ceruk  yang sedang diawasi oleh dua raksasa sekaligus!

Orang-orang yang berdiam di kaki gunung setinggi 1450 meter dpl ini lebih akrab menyebutnya Ile Lewotolok. Mereka percaya, penduduk asli Lembata berasal darinya.

Menuruni lereng kaldera Ile Ape. Gunung ini juga disebut Ile Lewotolok

“Dimana letak pemukiman leluhur kalian?” tanya saya sesampainya di tengah lapangan kaldera yang agak menyerupai Segara Wedi-nya Bromo. Yustan dan Vergi, dua remaja yang menemani saya mendaki saling menatap bingung. Sejurus kemudian keduanya  tersenyum berbarengan. Paham.

“Bukan di tengah kaldera ini, tapi di lereng, dekat jalur pendakian kita tadi pagi,” jawab Yustan. Ia lantas menjelaskan bahwa lubang kecil tepat di balik kaldera tak jauh dari lokasi kemah kami adalah tempat berdiamnya leluhur pemula. “Tanahnya landai dan ditumbuhi rumput seperti permadani.”  Saya menyeritkan kening. Bukankah itu ideal untuk berkemah?

“Jangan, Bang. Menginap disana tidak akan tenang malam-malam,” sambungnya pelan. Ia membaca pikiran saya dengan jitu. Lalu seperti Vincent, Bapak Mikael, dan Bapak Petrus Blikololong, kedua teruna ini pun mengisahkan cerita berplot okultis, sejarah bahaduri leluhur mereka.

Angin mendesis, iring-iringan mega mendekati puncak Ile Ape, isyarat kami harus pulang. Saya menyukai Lembata, beserta segala yang ada di bawah duli semestanya. Saya tidak peduli perkara benar atau tidak, nyata atau fiktif, bagi saya kisah-kisah okultis sebuah daerah telah menjadi semacam benteng bagi peradaban lokal menjaga alam, menghadapi ketamakan kapitalis atau arogansi pikiran kaum mantik.

Saya ingin menggali galur pitarah Lembata lebih dalam, meski tahu bahwa tidak akan sampai ke tujuan semestinya, sebab seperti para pejalan lain, saya tidak pernah puas dan tidak bakalan betul-betul paham tatkala menyibak masa lalu, bahkan di titik dimana orang mungkin berpikir bahwa saya telah memahaminya. 

Senja di Pantai Waijarang, Gunung Ile Boleng (Adonara) terlihat dari kejauhan

Pondok tinggi di salah satu kebun warga, di belakang adalah bayangan Gunung Ile Ape


SELUK BELUK
Pai tite tai teti Lembata!

Dianugerahi alam yang menawan, dari gunung hingga dasar laut, Lembata mulai membuka tangannya untuk merangkul orang-orang yang datang hendak mengenal. Pulau di barisan timur NTT ini sangat ideal bagi mereka yang mendambah petualangan penuh. Mari, rasakanlah antusiasme dan keterbukaan warga.

AKSES MASUK
Melalui jalur udara, dengan terlebih dahulu transit di Kupang. Maskapai yang setiap hari beroperasi yakni Trans Nusa dan Susi Air. Sedangkan jalur laut dilayani oleh sejumlah armada, seperti Pelni KM Bukit Siguntang (0383 41521/41031) rute Makassar-Maumere-Lewoleba, Fery cepat Cantika Ekspres rute Kupang-Lewoleba setiap Rabu. Bisa juga dari Larantuka (Flores Timur) setiap hari, pagi dan siang, oleh KM Lewoleba Karya, KM Sinar Mutiara, Kapal cepat Fantasi Express, dan Ina Maria Ekspress.

WAKTU BERKUNJUNG
Masalah pelik di Lembata adalah infrastruktur jalan yang sebagian besar masih jelek. “Jalanan baru dibuka tapi pengerjaan yang buruk membuatnya cepat rusak dalam hitungan tahun,” keluh Sang Luge, pemuda lokal yang giat mempromosikan Lembata. Mungkin sebagian pejalan malah menyukai kondisi ini karena memang akan ada drama tersendiri saat melintasi jalan buruk namun kiri-kanan digoda oleh panorama memukau. Bagi yang ingin nyaman, hindari berkunjung di musim hujan, sebab jalanan akan berkubang dan licin berlumpur dimana-mana. Sekitar bulan Mei hingga November adalah waktu yang pas.  Pecinta lansekap, paling baik datang bulan Juni disaat rerumputan dan pohon dalam kondisi transisi warna. Ritual-ritual adat seperti Pesta Kacang dilakukan di bulan Oktober.

BERBAGI & BERTEMU KOMUNITAS ORANG MUDA
Tak ada salahnya membagi waktu untuk bertemu atau melakukan perjalanan bersama dengan komunitas orang muda Lembata. Satu dua komunitas mulai tumbuh dan mendambah kontak dengan pihak luar untuk berbagi ide dan pengalaman. Tebar semangat kreatif mereka untuk bergiat di sejumlah bidang yang Anda geluti, misalnya fotografi, film, pendidikan, atau kesehatan. Salah satu kelompok anak muda lokal, Pelangi Adventure adalah komunitas pecinta alam yang bersemangat mengenalkan alam, pantai, dan budaya Lembata. Begitupun taman baca sekaligus warung kopi Taman Daun yang bisa jadi oase untuk menimbah sejarah maupun cerita-cerita lokal.

WISATA BAWAH LAUT
Perairan Lembata kaya akan biota bawah laut. Berada pada kaki Laut Banda menjadikannya muara untuk ikan-ikan berbagai ukuran. Lembata juga berada pada jalur migrasi mamalia laut seperti Paus, Hiu, dan Lumba-Lumba. Bukan pemandangan asing lagi jika bersua hewan-hewan ini disana. Budaya penangkapan ikan yang masih alami menjaga kelestarian koral di sepanjang garis pantai, bahkan langsung di pinggir jalan raya! Temukan dan buktikan sendiri di sepanjang bibir Teluk Jontona, dari kaki Gunung Ile Ape sebelah selatan hingga ke Liwo Lein. Di seberangnya, lokasi yang sering direkomendasikan yakni Nuhanera. Dapat mengekslorasi bawah laut sekitar Kuma Resort.

EKSPEDISI ERUPSI BATUTARA
Di nusa imut bernama Pulau Komba, antara Lembata dan Solor, menyembul sebuah gunung berapi,  Batutara. Gunung ini sedang aktif, dan keistimewaan yang dipertontonkannnya adalah semburan lava menuju lautan. Terjadi setiap hari tanpa henti, tiap dua puluhan menit. Paling menakjubkan bila menyaksikannya malam hari disaat bunyi gemuruh, disambut letusan awan, kemudian diikuti pijar lahar tak ubahnya kembang api.

Dimuat di National Geographic Traveler – edisi Maret 2016 (dengan perubahan seperluhnya dari editorial NatGeo)








Jalan-Jalan ke Nagekeo (Part 1)

Hawa Legawa  Kawa   MERESAPI KEBERSAHAJAAN HIDUP  SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL  DI PUNDAK GUNUNG AMEGELU, NAGEKEO-FLORES P ...