Jalan - Jalan ke Fatumnasi (Timor)

Fantasi
Fatumnasi


Bocah bermain di batu granit raksasa Fatukolen
Ruangan bundar selebar enam meter dengan bumbungan mengerucut itu berwarna kelam. Perabot-perabot dari kayu bertumpuk sana sini tapi sulit dikenali satu per satu. Asap dari tungku apilah penyebabnya. Sudah puluhan tahun bubuk hitamnya menempeli semua benda. Maklum, hanya ada satu pintu dan satu jendela yang memungkinkan udara keluar masuk, itupun berukuran kecil. Namun alih-alih sendu, ruangan ini justru memancarkan aura perenial, ruh penghidupan nan mistis. Lihat saja, bagaimana kekuatan melodi seruling yang ditiupkan Mateos Anin menggiring lusinan burung Merpati terbang mengebaskan sayap melintasi cahaya matahari yang remang, kemudian kawanan anjing melangkah pelan seraya mengebaskan ekornya riang. Hewan-hewan ini datang berkerumun di kaki Mateos. 

Dalam sekejab saya merasakan daya magnetis, menghubungkan apa yang saya lihat sekarang dengan legenda Der Rattenfänger, Sang Peniup Seruling dari Hameln, Jerman. Tapi tidak, yang ini bukan legenda. Ini nyata.

Seruling Bapak Mateos...dan hewan-hewan pun berkumpul di kakinya. Sooo... Magnetic and give me goosebumps.

“Suku kami, Anin Fuka, bersahabat dengan binatang. Malah jika memungkinkan, rumah ini menjadi tempat naung bagi segala jenis hewan,” pria tua bersorban merah itu bertutur khidmat. Mateos adalah generasi ke sebelas dari suku Anin Fuka, klan asli kampung Fatumnasi, sekaligus juru kunci Gunung Mutis, Timor. Ia menyambut kedatangan saya dan teman perjalananku Dicky Senda, senja kemarin seusai kami membenamkan diri di kolam Oehala, air terjun bertingkat enam. 

Air terjun Oehala. Bertingkat enam, foto diambil di tengah-tengah, masih ada tingkatan di bawahnya

Menjelang sunset di Bukit Tunua

Fatumnasi berada di ketinggian lebih dari 1000 meter dpl, tepat di pintu masuk menuju Gunung Mutis, gunung tertinggi di Timor. Saya sudah lama mendengar tentang gunung ini tapi tidak menduga bahwa di kakinya terbentang alam seindah yang pernah saya lihat di Swiss ataupun Austria. Dalam buku panduan para pelancong Lonely Planet Faumnasi dideskripsikan memiliki ‘spectacular alpine scenery.’

Dengan suhu sejuk dan tanah basah sepanjang tahun, rerumputan di lereng-lereng bukit Fatumnasi tidak pernah setinggi mata kaki serta selalu hijau bak taman golf. Berlekuk-lekuk molek diisi pohon Cemara, Kayu Putih, Ampupu, juga kelompok pohon yang hanya ada di kawasan itu saja. Setiap satu kelokan baru bakal menghidangkan pemandangan baru juga. 

Panen murbei! Bikin betah di kebun

Kembang Gladiol dimana-mana, tumbuh dengan liar

Kuda kembar yang masih belia
Kawanan sapi serta kuda merumput dan berlarian tanpa tali kekang, bebas lepas. Kembang-kembang Gladiol liar bermekaran dimana-mana. Batas antar ladang petani dipagari lintangan kayu-kayu tersusun apik. Saya tak bisa menghitung berapa kali sudah saya berhenti untuk memotret, hingga akhirnya diam tersihir oleh terbenamnya Matahari nan gemilang di bukit Tunoa.

Siapa sangka, Timor yang kerap diidentikkan dengan kering tandus itu menyimpan tempat gema ripa laiknya Eden, taman perdana manusia. Dalam bertualang, acapkali kita mengikuti pola yang telah tergeneralisir, manut pada pedoman perjalanan yang direpetisi terus menerus sehingga kemudian menjadi semacam citra klise mengenai sebuah daerah. Timor, sebagaimana kepulauan lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) memang cenderung kering dan mendapat timpaan matahari yang lebih lama. Tapi, bagaimana wajah Timor ketika musim basah, ya seperti tampilan Fatumnasi di bulan Februari hingga Mei ini. Bersiaplah tercengang!

Gerombolan Sapi melintasi jalan

Kuda-kuda merumput dengan bebas

Warga menyusuri jalan nan rindang
Surga Yang Nyaris Dihancurkan
Yang amat kentara terlihat di Fatumnasi adalah terjaganya alam serta budaya mereka. Warga memanfaatkan sumber daya alam secara seimbang, apalagi mereka terikat oleh peraturan adat yang mengutamakan keselarasan dengan alam. Meskipun sederhana, tapi mereka dapat dibilang tidak mengalami kekurangan kebutuhan hidup. Tanaman serta ternak berkembang dengan baik.

Sebagai bagian dari kawasan Gunung Mutis, Fatumnasi kaya akan flora khas dataran tinggi, tapi uniknya pepohonan disini tumbuh dengan bentuk yang aneh. Contohnya, terdapat area bonsai dimana pohon-pohon Ampupu mengerdil dan dibaluti oleh lumut serta tanaman paku mini. Formasi batang-batangnya amat memikat. Jika datang saat kabut, serasa berada di dunia fantasi. Sedangkan hewan-hewan disini merupakan hewan endemik, misalnya Rusa Timor (Cervus timorensis), Punai Timor (Treon psittacea), Betet Timor (Apromictus jonguilaceus), dan Pergam Timor (Ducula cineracea.

Hutan Bonsai dengan pohon-pohon nan surealis

Terlepas dari panorama serta flora fauna, tanah di Fatumnasi ternyata juga menyimpan kandungan marmer berlimpah, bahkan termasuk yang terbaik di dunia. Orang awam mungkin mengira bukit-bukit batu yang bertebaran di Fatumnasi tiada bedanya dengan gelondongan batu granit, padahal mereka adalah batu marmer. Hanya saja formasi batunya terlihat seperti batuan granit raksasa. Fakta tentang marmer ini kemudian mengundang investor untuk mengeksploitasi bukit-bukit Fatumnasi, termasuk perusahaan Korea. Penambangan dibuka, dan penghancuran alam terjadi. Efek dari ekploitasi ini akhirnya dirasakan warga beberapa tahun kemudian, ditandai oleh keringnya sejumlah sumber air.

Penduduk yang cepat sadar lantas melakukan serangkaian aksi penolakan tambang tersebut. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Mama Aleta Baun (2013 Goldman Environmental Prize Winner), perempuan lokal yang gigih berjuang menyuarakan keadaan alam mereka. Syukurlah, awal tahun 2000-an suara warga didengar dan tambang-tambang pun enyah dari surga Fatumnasi.

Mendatangi Benteng & Danau
Saya dan Dicky bermalam di rumah kakek Mateos Anin. Ini satu-satunya penginapan di Fatumnasi, direkomendasikan semua orang, dan tempatnya sangat menyenangkan. Ada tiga rumah tradisional disebut Ume Khubu, seperti butiran telur, dibuat di halaman belakang untuk inap tamu. Lopo-lopo macam ini menjadi ciri khas kampung Fatumnasi. Karena ukurannya yang kecil, suhu ruangnya jadi hangat, cocok sekali dengan iklim pegunungan yang senantiasa dingin.

Ume Khubu

Kami mendapat banyak cerita tentang sejarah leluhur suku Anin Fuka beserta ritual-ritual adat. Makanan tersaji dengan keramahan yang tulus, lalu dihibur oleh permainan gambus (yang lucunya, mereka sebut itu Biola). Saya selalu terkesima oleh suasana yang magis lantaran burung-burung Merpati yang terus terbang keluar masuk rumah menembus pancaran matahari.

Gunung Mutis

Keesokannya, kami disarankan untuk masuk ke hutan lindung Gunung Mutis. Dua cucu kakek  Mateos menemani. Yang kecil, Justin, masih berumur empat tahun, tapi memaksa untuk ikut, padahal kami akan mendaki ke bukit batu yang terjal. Bukit batu tersebut dinamai Benteng, dan dipercaya menjadi tempat mula-mula leluhur suku Anin Fuka bermukim. Justin yang kecil itu akhirnya minta digendong saat tiba di kaki bukit batu.

Cuaca yang cerah memberi kami kesempatan untuk menatap puncak Gunung Mutis dan panorama sekitarnya dengan jelas. Menurut cucu kakek Mateos, kami beruntung, sebab jarang sekali orang bisa memperoleh pemandangan sempurna bila naik ke Benteng. Saya dan Dicky memahaminya sebagai restu alam.

Fatumnasi memang bagaikan potongan alam pegunungan Eropa yang terlempar di Timor. Kami juga mendatangi danau kecil Fatukoto dan saya tak bisa berhenti memuji manakala warna-warna senja mengambang di atas danau tersebut. Seandainya boleh menarik waktu, ingin rasanya tinggal lebih lama di Fatumnasi dan hanyut dalam fantasi alamnya. 

Rembang senja di Danau Fatukoto


Tenun Timor Berwarna Cerah

GETTING THERE
Penerbangan dari kota-kota besar Indonesia ke Kupang dilayani oleh Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, Sriwijaya Air, Susi Air, Nam Air, dan TransNusa.
Kemudian lanjut berkendaraan ke Fatumnasi, dengan transit di kota Soe. Lebih hemat dan lebih asyik menyewa sepeda motor lalu mengemudikan sendiri, dengan harga Rp.70.000 – 100.000/hari. Kondisi jalan dari Kupang ke Soe sangat baik dan tidak ramai, namun jalan dari Soe ke Fatumnasi masih darurat - tapi ini adalah petualangan, bukan?

SOUVENIR
Kain tenun dari Timor terkenal memiliki warna-warna mencolok dengan motif etnik kotak-kotak. Orang menyebutnya Tenun Buna. Membelinya langsung dari tangan penenun lebih memberi cerita personal ketimbang di pasar. Harga tenun berkisar Rp.50.000 hingga Rp. 1 juta tergantung ukuran kain dan kerumitan motif. 

Tulisan ini dipublikasikan di Majalah LIONMAG. Foto jadi cover majalah tersebut.






Travel Photography - Human Interest: Fokus Pada Mata

Eyes Could Say (More Than Words)

Mata adalah jendela jiwa. Demikian ungkapan yang menggambarkan bagaimana tatapan mata manusia memiliki atau menyimpan arti tersendiri. Memang, dalam kenyataan hidup, seringkali kita menggunakan isyarat melalui mata, untuk menyampaikan apa yang kita maksud, juga perasaan kita. Mata sanggup menyampaikan sesuatu tanpa harus lewat kata-kata. 

Dalam fotografi, khususnya potret manusia, baik fashion ataupun Human Interest, mata adalah titik fokus yang seringkali membuat fotografer tertarik. Apalagi bila berhadapan dengan orang yang memiliki tatapan  tajam, agak misterius. Tak ayal, dalam tayangan ajang pencarian bakat modeling yang popular, sebut saja “American Next Top Model” yang dicetuskan oleh Tyra Banks, bagian mata adalah ‘selling point’ bagi seorang calon top model. Disini, kita disadarkan bahwa kecantikan fisik tidak serta merta membuat seseorang menjadi model. Dalam beberapa kali sekual program TV itu, acapkali kita dengar para fotografer professional berkomentar, “ she is beautiful, but she is not a model.” Dan tentu saja, Tyra Banks punya istilah khusus sehubungan dengan mata, yakni “Smize” Smile With Your Eyes!!

Maka jangan heran, ada sejumlah tokoh-tokoh selebritis terkenal yang dipuja-puja berkat keindahan tatapan matanya. Misalnya Aiswarya Rai, Angelina Jolie, Eva Green, Adriana Lima, atau Penelope Cruz. Sedangan prianya ada Gerard Butler, David Gandy, Jon Kortajarena,  Matt Bomer, Sean O'Pry, Tyson Beckford,  hingga surfer Kelly Slater.

Mungkin beberapa dari kita juga pernah membaca atau mendengar bahwa tidak sedikit supermodel, aslinya orang biasa, yang ‘ditemukan’ oleh pencari bakat atau fotografer secara tak sengaja. Ingat kisah Kate Moss, Alek Wek, Naomi Campbell, dan Natalia Vodianova? Mereka ini tanpa bekal modeling apa-apa awalnya, tapi langsung memikat lensa kamera, lewat karakter wajah dan pastinya mata.

Di luar dunia fashion, siapa yang lupa dengan cover majalah National Geographic tahun 1985 yang menghadirkan tatapan tajam Sharbat Gula, seorang gadis Afganistan? Atau foto-foto kaum Tuareg di gurun Afrika, maupun etnis Rabari di India?

Traveling memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan banyak orang. Dan bila traveling dilakukan tak cuma dalam wilayah atau negeri sendiri, pasti akan mempertemukan kita dengan lebih banyak orang lain lagi di dunia ini, dengan karakter wajah berbeda, dan dengan mata-mata indah lainnya. Well, ini juga menjadi semacam pengakuan, bahwa bagi saya pribadi, bagian paling menarik dari manusia adalah mata. Kalian juga?

Ayo motret mata!

Tips Memotret Fokus ke Mata
  • Tak ada pilihan yang lebih baik selain mendekati dan akrab dengan orang yang ditaksir untuk jadi model. Pendekatan personal sangat penting,  karena untuk mendapatkan foto yang pas, sang model/target haruslah memberikan tatapan yang intens-berdurasi cukup lama. Cari cara supaya ia mau diarahkan. 
  • Manusia dengan kelompok umur yang memiliki tatapan mata ‘soulful’ adalah orang-orang tua serta anak kecil. Basicly, pendekatan kepada kelompok umur ini tidaklah sesulit pendekatan kepada kelompok umur belasan hingga tiga puluhan tahun. Kenapa? Karena di rentang usia belasan hingga tiga puluhan tahun, umumnya orang lebih tertarik untuk dipotret ‘tampak manis-cantik-ganteng’ saja, wajah dimulus-muluskan, dst.
  • “Fierce Eyes” atau tatapan mata tajam, sedikit seperti galak atau marah atau takut, adalah ekspresi yang paling mumpuni. Tekniknya, biarkan bibir terkatup dalam bentuk normal, mintalah obyek untuk memberi tatapan seolah-olah hendak marah kea rah kamera. Lalu ubah pikiran dia supaya jangan ikut merasa marah, melainkan tersenyum-namun senyum itu dibayangkan dan dihadirkan ke mata. Ingat, slogan Tyra Banks “Smize..: Smile with your eyes.”
  • Praktikan point ke-3 di atas terlebih dahulu, supaya Anda sendiri paham apa itu Smize. Sehingga gampang mengarahkan model.
  • Ini menyangkut selera pribadi, namun untuk fotografi jenis ini saya prefer memotret orang-orang dari etnis yang matanya berwarna (misalnya biru-hijau-hazel,dll). Untuk orang Indonesia, warna mata cokelat terang adalah favorit saya.                    

    Semua foto dalam artikel ini adalah produk pribadi. Penggunaan untuk kepentingan lain serta komersil, terlebih  dahulu harus melalui izin tertulis ke email: valentinoluis45@gmail.com. 
    
    Huge thanks to people I met, and good friends, who let themselves to be photographed, especially: 
      Paolo Goncalves (Portugal) – the man with green scarf. 
      Pawel Nowakovski(Poland) – first and last photo / left side. 
      Tihomir Rangelov (Georgia) – the man who smokes cigar, last photo/ right side

Half-Underwater Photography: Bermain air setengah-setengah!

Half-Underwater Photography 

Bikin Memori Traveling Lebih Keren

Pantai Ora, Pulau Seram, Maluku. Foto ini saya buat di sebelah selatan sayap dermaga yang biasa dipakai buat nongkrong.
Memotret dalam air atau Underwater Photography adalah salah satu genre yang disenangi banyak orang. Tentu saja traveler yang suka laut dan pantai, atau mereka yang doyan nyemplung ke air, island hoppers, ingin punya foto macam ini.


Tapi, ada versi lain dari underwater photography, yakni Half-Underwater. Photo jenis ini memberikan kesan yang berbeda dan unik, karena bukan hanya bagian dalam dari air yang direkam kamera tapi bagian permukaan air/surface maupun daratan juga. Jadi, Half-Underwater  memberi porsi dua ruang: bagian bawah dan atas, medium basah dan medium kering.

Ini nyaris jadi abovewater, kalau saja bagian bawahnya tidak menampakan isi laut. Posisi saya berdiri.
 Lokasi Pulau Sebayur, Komodo - Flores

Meskipun saya sudah lihat foto-foto half-underwater sejak beberapa tahun silam, tapi prakteknya baru saya mulai bulan Desember 2014 lalu. Gara-garanya punya Gopro Hero 4, yang pada bulan itu kebetulan baru muncul di pasaran dan saya ingin sekali bermain air dengan kamera ini. Foto half underwater saya yang pertama, saya bikin di Pulau Sebayur. Itu loh, pulau kecil di kawasan TN Komodo-Flores,  yang ada resortnya. Saya suka komposisi pulau ini karena bukit savanna kecil, lalu bungalow-bungalownya di bangun di tepi pantai, serta nilai plus berupa tebaran koral yang keren di laut depan bungalow. Ideal untuk praktek Half-Underwater. So, meskipun ini baru percobaan awal tapi berhubung lokasinya keren, hasil fotonya tidak terlalu mengecewakan.

Pulau Sebayur, Komodo - Flores. saya tidak berdiri tapi dalam posisi mengapung, di sebelah selatan dermaga kecilnya.

Travel buddy waktu trip Komodo, saya minta jadi model untuk Half Underwater Photography. Lokasi tepatnya di Pulau Kelor, sebelah utara, kelihatan kalau lautnya dangkal. Saya coba tunggu ada ikan-ikan lewat di bawah kano,
tapi tidak ada yang muncul..LOL

Setelah di Pulau Sebayur itu, setiap snorkeling selalu saya sempat-sempatkan untuk bikin Half-Underwater. Tidak musti di laut, tapi di sungai, ataupun berenang di kolam renang pun saya bikin. Foto Half-Underwater memang memberi kesenangan tersendiri, apalagi jika hasilnya benar-benar tepat, bisa fokus antara bagian atas dan bagian bawah permukaan air. 

Ini foto anak tetangga di kampung saya, di Lela, Maumere - Flores.
Pas beli ikan segar di pantai, saya minta anak ini masuk ke laut.

Selfie ini saya bikin di kolam Aston Ungasan Hotel & Convention Center, hotel gede samping GWK Jimbaran, Bali. Tepatnya di kolam bawah yang airnya bening sekali. Gopro saya selipkan di tangga besi.
So far, yang paling menyenangkan adalah waktu saya memotret Half-Underwater di Pantai Ora (Ora Beach), Pulau Seram – Maluku. Lokasinya memang sempurna, yang menyediakan semua elemen. Mulai dari air laut yang bening berisi koral, bukit kapur yang tinggi, dan bungalow yang terapung. Air lautnya juga tenang sekali sehingga lensa kamera Gopro yang mungil tidak terlalu sering kena riak air.

Foto ini saya bikin pas di samping dermaga Ora Resort, Pulau Seram, Maluku

Masih dititik yang sama, di Ora Resort. Saya hanya melangkah maju beberapa meter ke depan dari titik sebelumnya, dan memotet dua bintang sebagai foreground. 
Basically, bikin foto Half-Underwater tidaklah sulit. Bila sudah biasa memotret, pemahaman tentang angle, komposisi, dll akan membantu kita untuk menciptakan foto Half-Underwater yang bagus.

Berikut syarat-syarat dasar membuat Half-Underwater Photography:
  • Pakai kamera underwater. Jenis apapun bisa. Tapi kalau kamera yang kelas pro, pasti eksekusinya lebih gampang. Apalagi bila yang punya ‘dome’. Belum tahu ‘dome’? Itu tabung kaca separu bola yang biasa di pasang di depan kamera underwater. Eit, hold on…Saya pakai yang simple, GoPro Hero 4, versi Silver (biar bisa preview, mas Bro). Kalau bikin foto bagus tapi hanya pakai kamera simple, itu lebih membanggakan loh! Yang hebat adalah kamu, bukan kamera beserta tetek bengeknya. Saya tidak rekomen bikin Half-Underwater dengan kamera non underwater/mobile phone yang diisi dalam bungkusan plastik karena hasil foto akan blurry di permukaan air/ area atas.
  • Cari lokasi yang airnya bening. Ini supaya bagian bawah/underwater bisa kelihatan apa saja obyeknya/isinya. Yuk, traveling!
  • Atur komposisi yang tepat. Karena harus ada dua bagian yang dimunculkan, mata kita musti jeli mengatur letak obyek. Baik obyek atas permukaan air, maupun obyek bagian bawah permukaan air. Mau diposisikan dimana obyek foto?
  • Berdiri atau bergeraklah dengan stabil. Cari pijakan yang nyaman untuk kaki kita. Foto Half-Underwater yang baik tidak bisa dibikin dalam sekali jepret. Biasanya lebih dari 5 kali jepret, kita barulah dapat 1 file yang pas. Trik yang paling rekomended bila memotret Half-Underwater di laut adalah memotret saat laut surut. Kenapa? Karena batas antara obyek di permukaan air dengan bagian bawah air lebih tipis. 
  • Photography is a creative work. Be creative.

Underwater di Pulau Arborek, Raja Ampat. Ikan-ikan disini jumlahnya tidak bisa dihitung, hidup bebas karena ada larangan memancing. Sangat gampang untuk memotret Half Underwater Photography


Half-Underwater Photography pun bisa dibikin fake atau boongan. Lalu, bagaimana mengetahui itu benar hasil 1 file, bukan hasil montage atau merger dari  2 file?
Umumnya photographer yang sudah memotret bertahun-tahun sudah tahu mana fake, mana tidak, semulus apapun foto itu diolah. Untuk Half-Underwater:
  • Zoom di bagian line/garis yang memisahkan bagian atas dan bagian bawah. Perhatikan area di sekitar garis tersebut, apakah natural atau tidak. Kita akan tahu.
  • Untuk obyek yang mengisi dua bagian sekaligus, baik bagian bawah air dan bagian atas air, misalnya manusia yang kakinya di dalam air sedangkan kepalanya di atas permukaan air, maka 90% bagian yang berada di bawah air harus lebih besar/membesar. Ini efek normal yang ‘sudah semestinya’ bila obyek tepat di depan kamera atau berjarak dekat.
Salam Traveling!
VALENTINO LUIS

Ayo, Trip ke Yunani (Santorini & Athena) Bareng Saya Bulan Mei 2014




REVISI PROMO TRIP KE
SANTORINI & ATHENA
(22 Mei-01 Juni 2014)
Bareng Valentino Luis

Tingginya minat orang Indonesia untuke berpelesir ke tempat-tempat indah dunia tak terbantahkan mengalami peningkatan yang signifikan. Semakin tahun jumlahnya semakin banyak. Apalagi disokong oleh pemberitaan media (tv, internet), buku dan majalah (majalah-majalah traveling sudah semakin menjamur di Indonesia), serta pastinya flight yang kian ringan mematok harga. 
Tahun ini Media Travelindo, sebuah tour operator company yang punya link dengan sejumlah media Tanah Air dan sudah sukses melakukan banyak trip dalam negeri dan luar negeri, menggandeng saya sebagai penulis buku PESONA YUNANI untuk mengadakan trip ke Santorini dan Athena. Saya disini berperan sebagai program designer, pendamping, serta photo hunting companion. 
Trip ke Yunani, yakni ke Santorini dan Athena ini akan diselenggarakan pada:
 
22 Mei - 01 Juni 2014
Durasi 11 Hari/09 Malam
Harga Total 

3100 USD/orang

all inclusive!

TIKET PESAWAT PP Jakarta-Athena-Jakarta
AKOMODASI hotel selama trip berlangsung
TRANSPORTASI, ferry PP Santorini, private bus untuk tour keliling,
MAKAN tiga kali sehari (sarapan di hotel, Lunch dan Dinner di restoran)

VISA. Biar tidak repot, kami bantu untuk pengurusan visa. Bersama lebih baik.
ENTRY TICKET. Masuk museum, situs bersejarah, dan menjajal wahana Cable CarTAXES. Pajak termasuk airport tax,
GUIDING

 
UNTUK INFORMASI DETAIL,
silahkan hubungi:
+62 21 5142 0137
+62 859 2110 0878
+62 852 4577 3365
mediatravelindo_ydm@yahoo.com


Travelers juga bisa kontak saya melalui email pribadi:
atau inbox ke Facebook:
Valentino Luis


Berikut ini adalah sejumlah foto tentang Santorini dan Athena, jepretan saya sendiri. Selamat berlibur dan saya tunggu keikutsertaan kalian di trip ini.

Terima Kasih.





















 











Jalan-Jalan ke Nagekeo (Part 1)

Hawa Legawa  Kawa   MERESAPI KEBERSAHAJAAN HIDUP  SEBUAH KAMPUNG TRADISIONAL  DI PUNDAK GUNUNG AMEGELU, NAGEKEO-FLORES P ...